Magang Kelas Udang UMM Lahirkan Profesional dan Wirausahawan

Beragam kelas profesioanl telah disediakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bagi para mahasiswa. Tidak terkecuali kelas profesional udang yang ada di Program Studi (Prodi) Akuakultur, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Kelas tersebut melepas para pesertanya untuk terjun langsung di dunia industri pada Rabu (25/8) lalu di Pantai Blado, Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Adapun Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd juga turut hadir mendampingi dengan memberikan dorongan moril kepada para peserta. Ganjar Adhywirawan Sutarjo, M.P. selaku ketua Prodi Akuakultur menjelaskan bahwa kelas profesional ini pada dasarnya terdiri dari dua tahapan. Tahapan pertama yakni penyampaian materi yang diberikan di kelas secara tatap maya. Setelah dua bulan mengikutinya, para peserta baru bisa dilepas dan ditempatkan di lokasi magang yang telah disediakan. “Pada tahapan kedua ini, mereka akan ditempa dan diberi pemahaman di tempat magang yakni di lokasi para mitra yang dimiliki oleh UMM. Hingga nanti di akhir akkan mendapatkan sertifikat kompetensi,” terangnya. Ganjar, panggilan akrabnya juga mengatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti kelas profesional ini akan ditempatkan di 16 mitra yang tersebar di berbabagai daerah. Mereka diharapkan dapat mengikuti satu siklus budidaya produksi udang. Dengan begitu, akan banyak ilmu yang diserap, tidak hanya secara teori namun juga praktik langsung di lapangan. Dijelaskan lebih lanjut, nantinya akan ada monitoring untuk melihat perkembangan kelas udang tersebut. Selain itu juga melakukan evaluasi menyeluruh agar ada peningkatan mutu dalam pelaksanaannya. “Proses evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pihak UMM, tapi juga diselenggarakan bersama-sama dengan para mitra yang telah dimiliki,” imbuhnya. Terpisah, Dr. Ir. David Hermawan, MP. IPM. Selaku Dekan FPP UMM menilai kegiatan ini dapat menjadi pemacu mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Hal itu mengingat seluruh aktivitas tersebut dapat dikonversikan dengan mata kuliah yang relevan. Di antaranya aquapreneurship, penyuluhan dan komunikasi perikanan, KKN, serta PKL. Bahkan akan dipertimbangan untuk dijadikan skripsi. ”Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresisasi dan penerapan Merdeka Belajar Kampus Merdeka di UMM,” tuturnya. Terakhir, Fauzan mengapresiasi aktivitas kelas profesional udang ini. Ia berharap akan ada peningkatan dalam aspek dan kompetensi budidaya udang. Dengan begitu, para mahasiswa bisa menapaki karir di bidang udang atau bahkan mampu menjadi wirausaha di bidang tersebut. “Ini saatnya peserta Kelas Profesional Udang untuk senantiasa mengasah segala kecakapan, keterampilan, dan juga sikap kerja di dunia nyata”, tutupnya menjelaskan. (wil)
Sintia Rahmah, Mahasiswa UMM yang Miliki 17 Medali Taekwondo

Berawal dari keisengannya, kini Sintia Rahmah, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses raih belasan medali kejuaraan olahraga taekwondo. Sintia, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia telah mendalami taekwondo sejak kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Pada saat itu, seni bela diri asal Korea ini sangat terkenal dan menjadi ektrakulikuler di sekolahnya. “Saya dasarnya memang anak yang aktif dan suka sengan bidang olahraga. Sebelum ikut taekwondo, saya sempat ikut sepak bola. Namun ketika seni bela diri taekwondo makin terkenal, semua orang ingin mencoba cabang olahraga tersebut. Bahkan kakak dan adik saya juga mendaftar taekwondo di sekolah masing-masing,” ujar mahasiswa asal Kalimantan Tengah tersebut. Sejak saat itu, Sintia mulai menekuni taekwondo dengan serius. Ia mulai mengikuti berbagai perlombaan taekwondo baik di tingkat provinsi, nasional, sampai ke internasional. Apalagi saat ia menjadi mahasiswa di UMM. Berbagai info perlombaan yang melimpah dari UMM membuatnya terus menerus mengikuti kejuaraan satu persatu. Ia pun seringkali memenangkannya baik secara tim maupun individu. Sebut saja Bandung International E-Poomsae Tournament dan Online Indonesia International Biho President Cup yang ia raih pada tahun ini. Mahasiswa Fakultas Hukum ini juga sempat menceritakan pengalaman cederanya ketika mengikuti pertandingan. Saat itu pertandingan pertamanya sebagai seorang mahasiswa. Ia harus mengalami patah tulang di bagian hidung. Sintia harus menerima selama beberapa minggu agar bisa kembali beraktivitas seperti biasa. “Saat pertandingan saya bertemu dengan lawan yang lebih tinggi. Alhasil saya terkena pukulan di bagian hidung. Saat itu tulang hidung saya bengkok dan perlu perawatan dokter selama tiga minggu. Sampai sekarang pun hidung saya masih sensitif jika terkena sesuatu. Namun pengalaman tersebut tidak membuat saya berhenti dari taekwondo. Bagi saya cedera adalah salah satu konsekuensi dari seorang atlit,” kata anak kedua dari tiga bersaudara tersebut. Sampai saat ini, Sintia telah memperoleh 17 medali dari berbagai kompetisi. Mulai dari medari perunggu perak, dan emas pada tingkat provinsi sampai tingkat Internasioanal. Terbaru Sintia berhasil memperoleh medali emas di kejuaraan Bandung Internasional E-Poomsae Tournament 2021. Terakhir, Sintia mengatakan bahwa dukungan orang tua sangat berarti baginya. Menurutnya, dukungan mereka berdua membuatnya lebih bersemangat dalam menekuni hobi dan hal yang disukai. “Saya akan berusaha sebaik mungkin agar bisa berkembang dan memperoleh medali di kejuaraa-kejuaraan selanjutnya. Tentu dengan doa dan dukungan ayah dan ibu, sehingga akan memudahkan jalan yang saya tempuh,” pungkasnya. (syi/wil)
Prodi Pendidikan Biologi UMM Resmikan Sekolah Unggul Budidaya dan Pemasaran Anggrek

Berbagai program pendukung Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya adalah Program Center of Exellence (CoE) Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Kali ini Prodi Pendidikan Biologi UMM sukses meresmikan Sekolah Unggul Budidaya dan Pemasaran Anggrek pada Rabu (17/08) lalu. Adapun Sekolah Unggul tersebut bertujuan untuk membentuk skill entrepreneur mahasiswa yang berbasiskan budidaya dan pemasaran anggrek. Dr. Iin Hindun, M.Kes., selaku Kepala Prodi Pendidikan Biologi UMM dalam sambutannya menyatakan bahwa kurikulum pada program ini mendorong mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreuner. Mereka yang mengkuti program ini akan menggenapi rekognisi mencapai 20 SKS pada semester V atau VII. Program magang kerja melalui CoE MBKM ini juga bertujuan untuk mewujudkan cita-cita kampus, yaitu mendorong mahasiswa lulus tepat waktu. “Sebagaimana cita-cita Kampus, mahasiswa diharapkan memperoleh kelulusan tepat waktu. Bahkan kalau bisa lulusnya lebih cepat dan nantinya juga bisa mendapatkan pekerjaan dengan waktu yang relatif singkat,” terangnya. Pada pelaksanaannya, prodi Pendidikan biologi bekerjasama dengan berbagai institusi. Sebut saja Dede Anggrek dan Mitra Flora. Keduanya diharapkan bisa membantu dalam menyiapkan kerangka pengembangan sekolah unggulan berbasis budaya dan pemasaran anggrek ini. “Adalah sebuah keuntungan bagi prodi karena bisa menggaet dua mitra yang sangat tepat dalam pelaksanaan sekolah unggul ini,” tuturnya. Dilanjutkan Iin, ada tiga pilar yang dilakukan demi mewujudkan cita-cita sekolah unggul ini. Pertama magang kerja yang sebenarnya sudah lama berjalan. Kemudian dikembangkan lagi melalui CoE MBKM. Pilar kedua yakni desa wisata anggrek yang menjadi impelentasi dari tridharma univesitas serta sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Terakhir yakni sekolah unggulan itu sendiri. Terakhir, Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM menyampaikan bahwa prodi-prodi lain yang ada di UMM perlu memberikan terobosan baru dengan membuka diri dan bekerja sama dengan banyak pihak. Hal itu akan membuka beragam peluang seperti apa yang dilakukan oleh prodi Pendidikan Biologi. “Saya berharap semua dosen nantinya bisa terlibat dalam dinamika pengembangan kapasitas pribadi maupun institusi. Khususnya untuk mendukung perwujudan peran cerdas dalam memberikan kontribusi akan berbagai permasalahan bangsa. Apalagi di aspek pekerjaan, pendidikan dan kewirausahaan,” ungkap Fauzan menutup. (haq/wil)
Mahasiswa UMM Ini Lulus tanpa Skripsi berkat Publikasi Jurnal

Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa tersebut cocok disematkan untuk tiga mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). M. Fitrah Ashary Bangun, Andhika Rahmat, dan Igo Ilham Hilabi mampu lulus kuliah tanpa skripsi berkat publikasi ilmiah yang mereka rampungkan bulan lalu. Hal itu dapat terlaksana berkat kebijakan Prodi yang memperbolehkan mahasiswa untuk mengganti skripsi dengan publikasi jurnal bereputasi. Salah satu dosen pembimbing, Dr. R. Iqbal Robbie, S.E., M.M, mengatakan bahwa memperbanyak pilihan tugas akhir sudah dilakukan Prodi Manajemen sejak beberapa tahun lalu. Dalam proses pengajuan, tugas akhir jurnal hampir sama dengan skripsi yaitu mahasiswa harus mengajukan Surat Keputusan (SK) pembimbing, melakukan bimbingan dengan dosen dalam proses pengerjaan jurnal, dan terakhir melakukan verifikasi ketika jurnal telah diterbitkan. “Perbedaan paling mencolok dari jurnal dan skripsi ada di bagian publikasi. Jurnal mengharuskan naskah penelitian mahasiswa untuk dipublish minimal pada jurnal akreditasi nasional peringkat (Sinta) dua dan jurnal internasional bereputasi. Dibanding skripsi, jurnal lebih ringkas dalam proses penulisan,” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Lebih lanjut, Iqbal mengatakan bahwa ada tiga mahasiswa yang jurnalnya terverifikasi dan berhasil lulus tanpa skripsi dalam satu semester ini. Mereka mampu mempublish karyanya pad jurnal Shinta 2. Uniknya ketiga mahasiswa ini telah mempersiapkan jurnal jauh-jauh hari sebelum mereka memperoleh SK pembimbing. Hal tersebut mempersingkat proses pengerjaan yang mereka lakukan. “Keberadaan TA jurnal ini sangat bagus karena penelitian mahasiswa dapat teruji dengan baik. Oleh karenanya, kami mendorong mahasiswa untuk memproduksi jurnal sebelum menginjak semester akhir,” kata dosen kelahiran Pamekasan tersebut. Disisi lain, Andhika salah satu mahasiswa yang lulus tanpa skripsi mengatakan bahwa pegerjaan jurnal ini tergolong singkat. Penulisannya sendiri hanya memakan waktu dua minggu. Sementara proses publikasi dan verifikasi jurnal memakan waktu tiga bulan. “Saya tertarik mencoba tugas akhir jurnal karena konkret dan kritis dalam proses pengerjaan maupun hasilnya. Selain itu saya sudah mempelajari kasus untuk jurnal saya sejak menjadi mahasiswa baru. Hal tersebut memudahkan saya dalam proses pengerjaan TA,” ungkap mahasiswa asal Ternate tersebut. Kedepannya, Andhika berharap kampus bisa mendorong mahasiswa untuk berani berkarya melalui TA jurnal. Di sisi lain para mahasiswa juga diharapkan bisa mengerti bahwa menulis jurnal itu sangat menarik. “Jika kedua hal tersebut dapat tercipta, maka akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Baik dalam penyelesaian tugas akhir kuliah maupun akreditasi jurusan,” pungkasnya. (syi/wil)
Aktif di IRO UMM Antarkan Alif Berkarya di Negeri Seribu Pagoda

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mencetak lulusan andal. Tidak hanya di level nasional tapi juga internasional. Salah satunya adalah Alif Galuh Permata Dhesa. Alumni Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) UMM ini kini bekerja di salah satu perusahaan Multinational di Bangkok, Thailand. Alif, sapaan akrabnya menceritakan awalnya tidak ada niatan sama sekali untuk bekerja di Thailand. Keinginannya untuk mencari pengalaman di multi-nasional company, membuatnya memberanikan diri untuk mendaftar di TDCX. Salah satu perusahaan yang mempunyai banyak kantor cabang di Asia dan Eropa. Akhirnya Alif mencoba peruntungan di berbagai posisi yang ada di cabang Malaysia dan Thailand. Tanpa diduga, ia akhirnya diterima pada 2019 lalu dan masih merantau di negeri Gajah Putih tersebut. Alif bercerita bahwa keberhasilannya terbang dan beradaptasi di Thailand sedikit banyak karena ilmu yang ia dapat sewaktu berkuliah di UMM. Ia mengaku sangat aktif di berbagai lembaga dan aktivitas internasional. Sebut saja saat ia sering mengikuti acara International Relations Office (IRO) UMM. Hal itu membuatnya sering bersinggungan dengan mahasiswa asing. Bahkan tidak jarang ia berkomunikasi dengan para duta besar. “Pengalaman dan ilmu inilah yang membuat saya cepat beradaptasi di tengah lingkungan warga Thailand. Di kegiatan dan lembaga internasional UMM, saya juga bisa mempraktekkan bahasa inggris sehingga bisa lebih lancar dalam mengobrol,” tambahnya. Selama dua tahun lebih menetap di Negeri Seribu Pagoda, Alif menceritakan berbagai hal unik menarik. Salah satunya kapal atau perahu yang masih menjadi alat transportasi umum. Adapun kapal-kapal ini kebanyakan beroperasi di Sungai Chao Praya. Suangai yang masih menjadi salah satu lokasi pusat aktivitas masyarakat, baik itu ekonomi dan wisata bagi turis asing maupun domestik. Perempuan asal Mojokerto ini kembali menceritakan bahwa makanan Thailand memiliki ciri khas tersendiri. Rasa asam dan pedas menjadi cita rasa khas kuliner yang ada di sana. Selain itu di setiap makanan selalu ada daun ketumbar dan jeruk nipis. “Jadi selain asam dan pedas, makanan di sini biasanya disajikan dengan daun ketumbar serta jeruk nipis sebagai garnish. Bahkan bisa ditemukan di nasi goreng asli Thailand,” ungkapnya. Selain itu yang membuat Alif tertarik adalah Festival Songkran. Perayaan tiap tahun yang mengahruskan pesertanya untuk membasahkan diri, aktivitas ini sebagai bentuk penyucian diri dari segala keburukan. Menariknya, hampir seluruh lapisan masyarakat turut serta dalam perang air ini. Tak ketinggalan para wisatawan yang juga diperbolehkan untuk mengikutinya. “Festival ini juga sekaligus sebagai perayaan tahun baru Thailand. Biasanya akan sangat ramai, terutama di kota-kota besar Thailand,” tambahnya. Menurutnya, kultur Thailand dan Indonesia tidak jauh berbeda. Mulai dari sikap sopan santun dan juga situasi sosialnya. Sedangkan perbedaan yang paling mencolok adalah banyak candi atau kuil yang ada di Thailand. Hal itu tidak lepas dari mayoritas penduduknya yang menganut agama Budha. (haq/wil)
UMMTalks Kaji Peran Petani Muda Jawab Tantangan Presiden

Ajakan untuk menjadi petani akhir-akhir ini santer digaungkan, bahkan oleh Presiden RI Joko Widodo. Hal itu tak lepas dari kurangnya regenerasi petani di kalangan anak muda. Fenomena tersebut menginspirasi UMMTalks untuk membahasnya lebih dalam. Mengangkat tema “Petani Muda Jawab Tantangan Presiden”, program ini hadirkan Dosen Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ir. Wahono, MT. serta Founder Everfresh Indoagro Dimas Agung Mahendra. Adapun program ini disiarkan melalui live Youtube pada Sabtu (14/8) lalu. Mengawali program, Wahono menjelaskan bahwa saat ini petani telah berusia sekitar 45 tahun ke atas. Dalam 15 tahun ke depan, mereka akan mencapai usia 60 tahun. Kebanyakan dari mereka juga tidak memiliki pengganti karena kurangnya minat anak muda. Ia menilai ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Salah satunya adalah munculnya persepsi kebanyakan orang yang menganggap bahwa petani adalah pekerjaan tradisional. Pun dari segi ekonomi dengan banyaknya orang yang menganggap petani adalah pekerjaan yang kurang menguntungkan. Menurutnya, langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mengajak para pemuda adalah dengan motivasi. Ia menyebut berkuliah di pertanian dan menjadi petani dapat mengantarkan pada surga dan kaya di dunia. Jika diolah dengan baik, pertanian bisa memberikan keuntungan yang besar. Selain itu jika menanam dengan niat sedekah dan doa, hasil pertanian tersebut juga akan bermanfaat bagi masyarakat sehingga dapat memberikan pundi-pundi pahala. “Jadi petani adalah salah satu cara sukses dunia dan akhirat. Mendapat keuntungan yang besar sekaligus pahala yang berlimpah saat bertani,” jelasnya. Pada kesempatan yang sama, Dimas Agung menyebutkan beberapa alasan mengapa sebagian besar anak muda tidak ingin menjadi petani. Satu di antaranya adalah risiko besar yang mengintai saat masa panen tiba. Di samping itu, para kebanyakan petani masih bergantung pada pengepul sehingga memunculkan ketakutan hasil panen yang sulit untuk terjual. Melihat akan hal itu, Alumni Agribisnis UMM itu berinisiatif mendirikan Everfresh Indoagro. Usaha tersebut muncul berangkat dari kurangnya market yang khusus menyediakan sayuran. Maka dari itu, ia bertekad membangun market sayuran sehingga para petani tidak bingung menjual hasil panennya. “Semoga langkah kecil saya bersama Everfresh Indoagro ini bisa memicu anak-anak muda untuk berkecimpung di dunia pertanian. Hingga nantinya dapat menggantikan generasi sebelumnya dalam mengembangkan pertanian ke arah yang lebih baik,” pungkasnya menerangkan. (haq/wil)
RBC Institute UMM Soroti Digitalisasi Pendidikan Jarak Jauh

Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute A. Malik Fadjar menyelenggarakan Bincang Pendidikan bertajuk “Transformasi dan Digitalisasi Budaya Belajar Jarak Jauh” pada Kamis (19/8) lalu. Di antara narasumber yang hadir yaitu Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si (Anggota Komisi X DPR RI) dan Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed (Dosen FKIP UMM). Turut hadir pula Nashir Effendi selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Mengawali diskusi, Prof. Zainuddin Maliki mengakui bahwa pendidikan jarak jauh yang saat ini berjalan lebih dari dua tahun belum menghasilkan pembelajaran yang memuaskan. Proses pembelajaran yang diharapkan juga belum terlaksana dengan baik. Ia menilai pendidikan jarak jauh yang ada berlangsung kurang efektif. Salah satu faktornya adalah aspek teknologi. Menurutnya, teknologi digital belum bisa dikuasai dan dimanfaatkan dengan maksimal. Utamanya oleh para pengajar dan pendidik. “Fenomena tersebut harus menjadi evaluasi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Para tenaga pendidik juga diharapkan mampu menempa diri dan menerapkan serta mengemas pembelajaran dengan menarik. Yakni dengan menggunakan metode Somatis, Auditori, Visual, Intelektual (SAVI),” lanjut pria yang pernah menjabat sebagai Dewan Pendidikan Pemprov Jatim ini. Pada kesempatan yang sama, Rina Wahyu Setyaningrum yang didapuk sebagai pemateri kedua menyoroti terkait adanya perbedaan yang signifikan antara pembelajaran daring dan luring. Ketika daring, sebagian besar anak-anak sering merasa sendiri karena tidak memiliki orang yang bisa menjadi konsultan secara langsung. “Padahal saat pembelajaran luring, tidak jarang siswa mengalami kesulitan dan diatasi oleh para guru secara langsung. Sedangkan ketika di rumah, siswa harus mempersiapkan semuanya sendiri,” tuturnya menjelaskan. Kendati demikian, Rina, panggilan akrabnya mengatakan ada beberapa hal positif yang didapat oleh siswa dalam pembelajaran daring. Misalnya saja mengerjakan tugas bersama teman sebayanya. Ia juga mengungkapkan bahwa pendidikan karakter dapat disinergikan selama pendidikan jarak jauh. Rina mencotohkan salah satu sekolah di Surabaya yang mengaplikasikannya melalui rutinitas pagi hari. “Saat sebelum pembelajaran daring berlangsung, peserta didik diminta melakukan hafalan ayat-ayat pendek Al-Quran, memahami maknanya, serta menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Selain itu, nilai integritas dan kemandirian juga bisa dilakukan bersama orang tua di rumah sesuai dengan petunjuk guru dengan melaporkan hasil kegiatan melalui bukti foto,” imbuhnya. Hal senada juga disampaikan oleh Nashir Effendi. Ia menilai diskusi yang dilakukan di ruang digital jauh lebih interaktif. Misalnya saja pembelajaran melalui Google Classroom yang mendorong para siswa pendiam untuk mengajukan pertanyaan saat kurang memahami materi. Di akhir pemaparannya, ia mengatakan bahwa perubahan paradigma proses pembelajaran di dalam kelas adalah langkah strategis dalam menghadapi era digital. Tujuannya adalah untuk menciptakan proses yang penuh dengan pengalaman menarik. Selain itu juga dapat memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkolaborasi dengan para guru dan temannya. (*/wil)
Membanggakan, Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Sukses Raih Akreditasi Unggul

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus meningkatkan kualitas diri. Terbaru, Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Kampus Putih berhasil meraih akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Adapun sertifikat akreditasi tersebut telah berlaku sejak Rabu (18/8) lalu. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., mengatakan bahwa keberhasilan meraih akreditasi unggul ini turut menaikkan reputasi FISIP UMM di mata masyarakat. Hal ini juga meningkatkan minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di fakultas ini. “Dengan akreditasi Unggul, tentu kepercayaan masyarakat terhadap prodi Ilmu Pemerintahan semakin baik. Ini adalah langkah penting untuk memberikan jaminan kualitas pendidikan bagi mereka,” ungkapnya. Lebih lanjut, Rinikso mengatakan bahwa akreditasi unggul merupakan jaminan mutu dalam bidang akademik maupun non akademik. Dengan mengetahui jaminan mutu melalui akreditasi, calon mahasiswa akan mengerti kualitas di dalam universitas dan program studi yang akan dipilih. Meski demikian, capaian Prodi IP ini tidak boleh membuat IP UMM berpuas diri, karena tantangan dunia pendidikan semakin tinggi. “Kami mendorong seluruh prodi di FISIP agar mampu mendapatkan akreditasi Unggul. Tentu tidak mudah, namun hal itu perlu diupayakan secara maksimal dan optimal,” imbuh Rinikso. Disisi lain, Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan, M. Kamil, M.A., mengatakan dirinya sangat bersyukur atas suksesnya IP meraih akreditas Unggul. Hal ini tentu tidak lepas dari dukungan serta kerja keras berbagai pihak khususnya sivitas akademika FISIP UMM. “Pencapaian ini sangat berarti bagi kami sebagai upaya meningkatkan standar pelayanan akademik prodi. Terimakasih atas dukungan pimpinan universitas, stakeholders, kerja kolaboratif tim task force dan seluruh tim prodi atas kerja keras, kerja ikhlas dan kerja cerdasnya,” ujar Kamil. Dalam meraih akreditasi unggul tersebut, Prodi IP harus memenuhi beberapa syarat yang ditentukan oleh BAN-PT. Kamil mengatakan ada dua syarat yang ditentukan oleh BAN-PT. Pertama, prodi harus melakukan sinergi kolaboratif dengan fakultas, universitas, dan stakeholder lainnya. Kedua, prodi juga diharuskan menyusun dokumen secara komprehensif serta memperhatikan standar akreditasi. Tujuan dari standar akreditasi ini adalah untuk mengukur dan menetapkan mutu pada kelayakan institusi. “Syarat akreditasi ini terdiri dari beberapa penilaian, mulai dari elemen dasar yang berupa parameter hingga penilaian indikator kunci yang digunakan sebagai dasar dalam menetapkan mutu perguruan tinggi. Selain itu fakultas dan universitas juga harus melakukan pengelolaan kontrol mutu dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang didasarkan pada standar mutu dan kualitas program studi,” pungkas Kamil. (*/syi/wil)
Dosen UMM Ini Sukses Raih Penghargaan Kinerja Publik Terpuji

Tidak hanya para mahasiswanya yang silih berganti mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kancah nasional serta internasional. Para sivitas akademika juga senantiasa mencetak prestasi demi prestasi. Salah satu di antaranya adalah Dr. Mokh. Najih, S.H.,M.Hum. Dosen Hukum UMM ini sukses dinobatkan sebagai dosen dengan kinerja publik terpuji. Adapun penganugerahan penghargaan tersebut diberikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII pada Rabu (18/8) lalu melalui Zoom meeting. Ditanya terkait prestasi tersebut, ia mengatakan bahwa hal itu adalah hasil dari perjalanan panjang perjuangan dan pengabdiannya. Tidak hanya di aspek akademis saja, namun juga di aspek-aspek lain. Ia bercerita bahwa perjalanan panjangnya diawali dengan menjadi seorang dosen Fakultas Ilmu Hukum UMM tahun 1989. Berkat kinerja, kerja keras dan prestasi yang diraih, ia mulai menjabat di beberapa lembaga baik di dalam maupun luar kampus. “Perjalanan karir saya lumayan panjang. Sebelum menjadi Kepala Prodi, saya sempat menjabat sebagai ketua laboratorium hukum, ketua jurusan, sampai wakil dekan pada tahun 1999. Terakhir, saya juga sempat menjadi kepala Program Studi Magister Ilmu Hukum (MIH) UMM dari tahun 2015-2020,” jelas pria kelahiran Lamongan tersebut. Senantiasa berjuang untuk menebar manfaat, Najih, panggilan akrabnya kini tengah diamanahi jabatan sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia (RI). Ia mengungkapkan bahwa ada berbagai seleksi yang harus dilalui. Mulai dari tes profesi, kemampuan akademik, proses wawancara hingga tes kesehatan. Menurutnya, jabatan tersebut juga mendukungnya untuk bisa dianugerahi penghargaan dari LLDIKTI ini. Najih melanjutkan, terpilihnya ia sebagai dosen dengan kinerja publik terpuji tidak lepas dari keberhasilan dan keaktifannya dalam ranah pelayanan publik. Terbukti dengan amanah yang ia emban sebagai ketua Ombudsman RI. “Bekerja di lembaga ini membuat saya sering bersinggungan dengan publik secara langsung. Terutama dalam hal pengawasan akan pelayanan-pelayanan publik yang ada di Indonesia,” ungkap Najih. Diakhir wawancara, Najih kembali berharap prestasi yang diraihnya ini bisa memberikan dampak positif. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi para dosen lain agar semakin aktif dalam mengabdi serta menebar kebaikan. “Bagi saya pribadi, prestasi ini menjadi menjadi dorongan kuat untuk kembali bekerja dengan lebih optimal bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya menutup. (syi/wil)
UMM-Kodim 0818 Langsungkan Vaksinasi Dosis Kedua

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa berkontribusi dalam upaya-upaya menebar manfaat bagi masyarakat. Satu diantaranya adalah agenda percepatan vaksinasi. Bersama Kodim 0818 Malang-Batu, keduanya kembali menggelar vaksinasi dosis kedua yang berlokasi di Hall Dome UMM. Adapun gelaran ini dilangsungkan pada Jumat (20/8) lalu. Koordinator Lapangan (Korlap) vaksinasi kedua Kodim 0818, Muh. Sholeh mengatakan bahwa agenda ini dikhususkan bagi mereka yang akan mendapatkan vaksin kedua. Sementara masyarakat yang ingin mendapatkan dosis pertama vaksin Sinovac belum bisa diberi. “Untuk sementara, kami mendahulukan masyarakat yang seharusnya mendapat vaksin kedua. Bagi mereka yang belum divaksin, nanti mungkin bisa dialihkan,” tuturnya melanjutkan. Sholeh, panggilan akrabnya melanjutkan ada beberapa warga yang salah sangka dan akhrinya harus pulang tanpa pemberian vaksin. Ia juga mengatakan banyak peserta yang tidak tahu bahwa ada kegiatan vaksiniasi dosis kedua di tanggal ini. Menurutnya, hal itu terjadi karena adanya jadwal kedatangan vaksin yang diundur. Sehingga jadwal pemberian vaksin dosis kedua juga harus diundur. Diakui olehnya, pelaksanaan vaksinasi dosis kedua kali ini relatif lebih lancar. Hal itu tidak lepas dari pengalaman dan evaluasi sebelum-sebelumnya. Di samping itu, sistem pendataan online yang digunakan juga lebih cepat ketimbang yang kemarin. Sholeh juga sempat mengungkapkan rasa senangnya karena bisa mengambil peran dalam misi kemanusian serta memberikan solusi bagi masyarakat luas. Ia berharap usaha Kodim ini bisa membantu program pemerintah dalam menyehatkan masyarakat. Dalam hal ini adalah mempercepat proses vaksinasi. “Kami telah menyiapkan sebanyak 3.000 vaksin perharinya dalam dua hari ini. Kegiatan ini juga sebagai bentuk untuk menebar manfaat kepada warga yang membutuhkan,” imbuh pria asal Nganjuk tersebut. Sementara itu, Dr. Fauzan, M.Pd. mengungkapkan bahwa tidak ada pilihan lain kecuali mempercepat vaksinasi. Hal tersebut sebagai salah satu bentuk upaya akselerasi vaksin, utamanya dosis kedua. Pihak kampus putih juga siap berkoordinasi untuk berkontribusi bersama-sama di masa pandemi. Fauzan juga mengatakan bahwa agenda ini merupakan implementasi dari salah satu program GESIT yang sudah lama UMM galakkan. Program yang dimaksud adalah gencar kampanyekan vaksinasi demi Indonesia bebas Covid. “Berbagai usaha ini dimaksudkan untuk memberikan manfaat kepada sesama. Khususnya dalam aspek kesehatan,” tegasnya menutup. (wil)