Didukung Gubernur Jatim, UMM Gelar Vaksinasi Massal dalam Waktu Dekat

Program akselerasi vaksinasi terus dilakukan oleh pemerintah, mulai dari tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Hal serupa juga akan segera dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Didukung oleh Pemprov Jawa Timur (Jatim), Kampus Putih akan melaksanakan vaksinasi massal keluarga besar dalam beberapa hari ke depan. Adapun koordinasi yang dilakukan pada Selasa (28/7) lalu tersebut dihadiri oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan rektor serta wakil rektor UMM. Khofifah, panggilan akrab Gubernur Jatim berpesan agar UMM bisa segera menyiapkan tim teknis pelaksanaan vaksinasi ini. Dengan begitu, agenda tersebut bisa segera dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Pihak Pemprov juga akan membantu dalam penyaluran serta berbagai kebutuhan lainnya. “Nanti, vaksin akan disalurkan melalui pemerintah kota maupun kabupaten setempat. Tapi tetap ada label peruntukan bagi UMM. Kalau memungkinkan, vaksinasi ini bisa segera digelar dalam beberapa hari ke depan,” tutur Khofifah. Adapun pemberian vaksin diutamakan pada sivitas akademika Kampus Putih terlebih dahulu, kemudian akan menyasar pada keluarga lalu alumni. Disampaikan Dr. Ir. Wahid Wahyudi, MT., harapannya gelaran ini mampu memberikan vaksin sekitar 2500-3000 dalam satu hari. “Jika berkaca pada vaksinasi yang dilangsungkan sebelumnya, kemungkinan jumlah yang diberikan mampu mencapai 3000 vaksin sehari,” harap Kepala Dinas Pendidikan Jatim tersebut. Menanggapi hal tersebut, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM mengaku siap dan akan segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Ia mengungkapkan bahwa UMM sudah memiliki tim khusus untuk Covid-19 sehingga akan lebih mudah dalam menentukan titik sasaran. “Nanti tim ini akan memilih titik-titik sasaran strategis agar akselerasi vaksinasi dapat berjalan lancar. Apalagi dengan dukungan fasilitas yang tersedia di UMM,” tegas Fauzan. Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada pilihan lain selain membantu pemerintah dalam percepatan agar bisa menciptakan herd immunity seperti yang diharapkan. Fauzan menilai bahwa usaha ini diharapkan bisa menjadi ladang pahala dan ibadah bagi semua pihak yang mengusahakannya. “Kami siap dan akan segera berkoordinasi agar gelaran ini bisa dilaksanakan hanya dalam hitungan hari ke depan,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 UMM, dr. Thontowi Djauhari, M.Kes juga sempat melaporkan perkembangan fasilitas dan pasien di Rrumah Sakit (RS) Covid UMM. Ia mengatakan kini ada 72 pasien yang sedang dirawat dengan enam ruang isolasi serta satu ruang operasi bagi ibu hamil yang terjangkit Covid-19. “Sebelumnya, ruangan ini adalah ICU namun sengaja kami ubah untuk keperluan operasi kelahiran bagi ibu hamil,” terangnya. Tomy, panggilan akrabnya juga melaporkan bahwa sejak pandemi menyerang, sudah ada sebanyak 1787 pasien yang dirawat di RS UMM. Adapun pada Juli tahun ini, ada sekitar 190 pasien yang sedang dirawat. Meski kini angka penularan semakin menurun dan stabil, Tomy masih khawatir dengan persediaan oksigen yang belakangan cukup sulit didapatkan. “Semoga gelaran vaksinasi ini nantinya bisa kembali menekan angka penularan Covid-19 yang ada di tengah masyarakat dengan signifikan,” tutup Tomy di akhir laporannya. (wil)

Dosen UMM Raih Penghargaan Social Impact Award di Gelaran Nasional

Angkat isu perkembangan teknologi dan Hak Asasi Manunia (HAM) dalam hukum, Sholahuddin Al-Fatih, S.H., M.H. dapatkan penghargaan Social Impact Award. Penghargaan ini dikeluarkan oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) pada acara Seminar Nasional Artificial Intelligence dalam Bidang Hukum di Era Teknologi Informasi pada Kamis (22/07). Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut bercerita bahwa pada projek tulisannya ini, ia mengulas tentang perilaku masyarakat Indonesia dalam bersosial media. Fatih melanjutkan meskipun perkembangan teknologi sangat pesat, namun mayarakat tidak memiliki literasi yang baik dalam menyikapi teknologi tersebut. “Meskipun berpendapat dalam ranah sosial media merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) namun jika tidak dikontrol dengan baik, hal tersebut akan memunculkan dampak-dampak negatif. Dampak tersebut dapat berupa penyebaran berita bohong, penipuan, hacking, serta pencemaran nama baik,” ungkap Fatih menerangkan. Untuk menghindari dampak-dampak buruk tersebut, dosen kelahiran Gresik ini memberi beberapa solusi. Menurutnya, tiap orang harus memiliki batasan moral dan kontrol yang baik. Jadi, kebebasan berpendapat di sosial media bisa diwujudkan secara bertanggungjawab. Selain kesadaran Individu, pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi dampak negatif yang timbul dari dunia maya. “Bisa saja pemerintah melakukan pembatasan kepemilikan gadget berdasarkan kelompok usia untuk melindungi anak dibawah umur. Pemerintah juga bisa melakukan pembatasan penggunaan akun media sosial dengan batasan usia minimal 17 tahun. Lalu adapula pemblokiran akun yang bermuatan SARA. Cara terakhir yakni dengan mengkampanyekan konten positif,” ungkap Fatih. Selain Fatih, salah satu Instruktur Laboratorium FH UMM, Ilham Dwi Rafiqi juga mendapat penghargaan sebagai Best Presenter. Terakhir, Fatih berharap masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam  berkomentar ataupun memposting sesuatu di dunia maya, terutama di media sosial. “Semoga masyarakat bisa terus membenahi diri dan menjadi lebih santun dalam berinteraksi secara virtual. Sehingga tidak ada lagi konten-konten hoaks, hate speech, penipuan dan hal buruk lainnya di dunia maya,” tandasnya. (syi/wil)

Milad ke-14, PGSD UMM Launching 14 Buku Karya Mahasiswa dan Dosen

Berdiri sejak 2007, Program studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan agenda miladnya yang ke-14. Diramu dengan konsep talkshow, agenda ini dilangsungkan pada Sabtu (24/7) lalu melalui Zoom dan kanal Youtube. Tidak hanya itu, adapula launching 14 buku hasil kolaborasi mahasiswa dan dosen yang ada di Prodi terkait. Rangkaian panjang agenda milad PGSD diawali dengan penulisan karya buku oleh seluruh mahasiswa aktif PGSD angkatan 2018, 2019, dan 2020. Hingga berakhir pada agenda puncak yakni launching buku dan talkshow bertema “Generasi Emas Produktivitas Pemimpin Masa Depan”. Uniknya, gelaran itu juga menjadi pembuka acara menarik lainnya, yakni  Paksi Fest 2021. Mengawali talkshow, Belinda Dewi Regina, S.Pd, M.Pd. mengungkapkan bahwa gelaran ini menjadi pengingat agar PGSD terus berinovasi agar mampu melahirkan pendidik-pendidik yang inovatif. Ia juga berharap agar prodi ini bisa semakin unggul dan terdepan dalam memberikan manfaat. “Tentu kami ingin memberikan yang terbaik agar para peserta didik nantinya bisa mendapat pengajaran yang baik,” tutur Belinda dalam sambutan. Pada kesempatan yang sama, Arina Restian, S.Pd, M.Pd selaku Kaprodi PGSD UMM menuturkan bahwa milad ini berangkat dari spirit kampus merdeka. Terbukti dengan lahirnya 14 karya buku ber-ISBN dari para mahasiswa dan tenaga pengajar yang ada. “Untuk memperingati milad yang ke-14 kami juga sengaja melaunching buku yang berjumlah 14 pula. Adapun isinya berfokus pada tema tema pembelajaran,” imbuh Arina menjelaskan. Beberapa judul buku yang sudah disusun antara lain Menuju Pendidik Profesional dalam Proses Pembelajaran di  Sekolah Dasar, Pendidik Berkarakter Menuju Bidang Studi PPKn SD, Pentingnya Psikologi Pendidikan SD, serta Pendidik Multitasking Bidang Matematika SD. Adapula buku-buku yang membahas terkait pendidikan abad 21, memiliki skill komunikasi, kolaborasi, kritis dan kreatif. Pun dengan literatur yang berisi terkait seni budaya bahkan juga pembelajaran yang kreatif dan inovatif internasional. Kemudian, agenda dilanjutkan dengan talkshow yang mengundang Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si selaku Wakil Rektor I UMM yang dimoderatori Dr. Siti Fatimah Soenaryo, M.Pd. Pada kesempatan itu ia memaparkan mengenai kebijakan kampus merdeka serta merdeka belajar yang ada di universitas. Disampaikan Syamsul, para mahasiswa kini memiliki kebebasan dalam menentukan pendidikannya. Mereka bisa mengambil mata kuliah di jurusan bahkan universitas lain. Mahasiswa juga bisa mengambil magang yang bersertifikat untuk menunjang masa depannya. “Harapannya, kreativitas dan inovasi mahasiswa dapat terwadahi melalu kebijakan merdeka belajar yang sudah terlaksana,” tegas Syamsul di akhir paparan. (*/wil)

Mantapkan Hubungan Indonesia-Vietnam, BIPA UMM Gelar Simposium

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut aktif dalam membangun kerja sama bilateral Indonesia dengan negara lain. Salah satunya melalui aspek bahasa. Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM mengambil peran dengan menggelar simposium hubungan bilateral Indonesia-Vietnam melalui pembelajaran BIPA pada Jumat (23/7) lalu. Turut hadir H.E. Denny Abdi, duta besar Indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam dan Musa Derek Sairwona selaku acting konsulat jenderal Ho Chi Minh City Vietnam. Adapun gelaran ini dilangsungkan secara daring melalu Zoom dan kanal Youtube BIPA UMM. Membuka acara, Dr. Sidik Sunaryo, S.H., M.Si., M.Hum. selaku Wakil Rekotr IV UMM menuturkan bahwa simposium ini merupakan bagian dari rangkaian panjang internasionalisasi Kampus Putih. Usaha itu semakin dikuatkan dengan tujuan pada Milad UMM yang akan memantapkan diri sebagai kampus keals dunia dengan spirit solidaritas internasional. “Kerja sama ini tentu tidak melulu hanya pada kegiatan rutin saja. Tapi juga mampu mendekatkan perasaan emosional antara warga kedua negara,” terangnya. Sidik, panggilan akrabnya berharap gelaran ini bisa melahirkan ide cerdas nan maju. Hingga akhirnya bisa memunculkan empati dan kebersamaan antara kedua negara. Terutama untuk mendorong lahrinya upaya-upaya dalam menghadapi situasi yang tidak mudah seperti saat ini. Pada kesempatan yang sama, Duta Besar indonesia untuk Republik Sosialis Vietnam, H.E Denny Abdi memulai sambutannya dengan menceritakan persamaan-persamaan kedua negara. Mulai tanggal kemerdekaan yang berdekatan hingga konsep pembangunan yang cukup mirip. “Maka tidak heran kalau founding fathers kedua negara cukup dekat, antara Soekarno dan Ho Chi Minh. Hal itu karena keduanya memiliki semangat yang sama,” tegasnya. Selain kedekatan dalma bidang ekonomi, Indonesia dan Vietnam juga memiliki hubungan yang baik dalam aspek politik, sosial bahkan juga budaya. Maka Denny mengatakan bahwa program BIPA ini menjadi agenda andalan bagi KBRI maupun KJRI Ho Chi Minh City. Menurutnya, sambutan masyarakat Vietnam untuk belajar bahasa Indonesia terlihat cukup tinggi. Namun, ia juga ingin agar warga Indonesia melakukan hal yang sama, mempelajari bahasa Vietnam agar terjadi pendekatan dua arah. Lebih lanjut, Denny mengatakan kedekatan yang dibangun tidak akan berhenti pada aspek bahasa saja. Namun berlanjut dengan melakukan kerja sama di berbagai aspek. “Vietnam bisa menjadi mitra strategis Indonesia karena bisa menjadi engine of growth di ASEAN. Selain itu, kedua negara nantinya juga bisa berkontribusi dalam aspek peace and security. Jadi, bahasa bisa digunakan sebagai perekat keduanyam,” tutupnya. Sementara itu, Nguyen Thanh Tuan, Ph.D yang didapuk menjadi pembicara utama menjelaskan tentang prospek Bahasa Indonesia di Kota Ho Chi Minh. Dimulai dengan menerangkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bagi masyarakatnya untuk menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris. Salah satunya adalah bahasa Indonesia. “Bahkan beberapa tahun belakangan, Bahasa Indonesia telah masuk beberapa universitas. Sebut saja Universitas Nasional Vietnam serta Universitas Terbuka,” tuturnya. Ia juga sempat menganalisis pengembangan Bahasa Indonesia di Vietnam dengan menggunakan SWOT. Hal pertama yang ia paparkan adalah kekuatan bahasa Indonesia. Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara membuat animo masyarakat meningkat. Selain itu, bantuan fasilitas dari KJRI juga mempermudah pembelajaran bahasa serta budaya Indonesia. Ditambah lagi dengan bantuan pengajar yang dikirimkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI serta beberapa universitas di Indonesia. Meski begitu, ia juga mengungkapkan kelemahannya yakni tenaga pengajar yang relatif sedikit. Apalagi bahan ajar yang terbatas membuat pembelajaran bahasa ini cukup sulit. Namun, ia yakin ada peluang yang cukup bagus bagi bahasa Indonesia. Hal itu tidak lepas dari banyak beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Indonesia untuk warga Vietnam. Pun dengan kesempatan mereka yangbisa bekerja di perusahaan asing. “Tapi masih ada segelintir tantangan bagi pengembangannya. Banyaknya perusahaan yang tidak tahu jika ada warga vietnam yang bisa Bahasa Indonesia. Banyak pula orang Vietnam yang berpikir ulang alasan belajar  bahasa ini,” tutur wakil dekan Faculty of Oriental Studies di University of Social Sciences & Humanities Vietnam itu. Selain Nguyen Thanh Tuan, Dr. Arif Budi Wurianto sebagai Kepala UPT BIPA UMM dan Faizin, M.Pd selaku Kepala Divisi Internasionalisasi BIPA UMM juga dipercaya memberikan pemaparan. Arif menjelaskan mengenai BIPA di Vietnam, sarana peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara. Sementara Faizin memaparkan terkait aktualisasi teknologi dalam pengembangan keBIPA-an. (wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Masker Khusus bagi Tuna Rungu

Penggunaan masker di setiap aktivitas menjadi sebuah keharusan dalam situasi pendemi seperti saat ini. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sayangnya, penggunaan masker ini menyulitkan para disabilitas tuna rungu dalam berkomunikasi. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi masker transparan sebagai solusinya. Habibah Latifus Syaidah, salah satu anggota tim menjelaskan bahwa masker kain tembus pandang ini terdiri dari dua lapis masker. Lapis luar pertama Nampak seperti masker biasa yang berisikan filter penyaring. Filter tersebut diharuskan untuk diganti tiga hari sekali. Sementara lapis kedua yang berada di dalam merupakan masker transparan. Sehingga orang dapat melihat ekspresi dan gerak bibir dari para tuna rungu dan memudahkan dalam berkomunikasi. Di samping itu mereka juga memanfaatkan limbah sedotan sebagai bahan dasar strap masker (pengait masker). Menurut Habibah, pemilihan bahan dasar berbahan limbah ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastic yang sering ditemui. “Ini menjadi salah satu upaya kita bersama agar terus menjaga lingkungan dan mengurangi penggunaan sampah plastik” ujarnya. Adapun ide masker ini berawal dari mata kuliah kewirausahaan yang mereka jalani di UMM. Saat itu, Habibah dan timnya membuat model usaha penjualan masker dengan desain yang unik. Keunikan itulah yang menjadi potensi dari model usaha yang mereka bangun hingga akhirnya mendaftarkannya ke Program Kreatifitas Mahasiswa – Kewirausahaan (PKM-K). Apalagi diperkuat dengan dorongan serta motivasi dari dosen keriwausahaan. PKM-K yang digarap oleh Habibah Alifatus Syaidah, Aulia Amanda, Briliant Ghaustin Yoly Ala, dan Annisa Firdaus Ramadhini ini berhasil lolos pendanaan dari Direkorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI) pada bulan Mei lalu. Saat ini mereka berada di tengah proses pembuatan masker dan akan dipasarkan pekan depan secara online. Harga masker yang dipatok yakni di kisaran Rp35.000-Rp40.000. harga tersebut juga sudah termasuk masker, tiga filter serta strap masker.“Proses pemasaran akan kami mulai pekan depan secara online. Menurut kami ini harga yang cukup terjangkau mengingat pembeli bisa mendapatkan satu paket lengkap masker,” imbuhnya. Terakhir, mahasiswa kelahiran Kediri ini berharap masker transparan ini bisa menjadi opsi untuk membantu komunikasi tuna rungu di tengah pandemi. Dia juga ingin agar usaha ini bisa menjadi peluang bisnis yang baru. “Komunikasi adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan. Maka dengan adanya inovasi kami ini, smeoga bisa memberikan manfaat luas kepada masyarakat, utamanya mereka para disabilitas tuna rungu,” jelasnya. (haq/wil)

Kodim 0818 Gelar Vaksinasi Massal di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu lokasi vaksinasi yang diadakan oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 0818, Malang-Batu. Proses vaksinasi tersebut digelar selama dua hari yakni pada tanggal 22-23 Juli lalu bertempat di Hall Dome UMM. Adapun pelaksanaannya dilakukan dengan menaati protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan peraturan yang ada. Pada kesempatan tersebut, Mayor CKM Hartoko selaku wakil koordinator pelaksana vaksinasi menjelaskan pasokan vaksin yang diberikan berasal dari pusat kesehatan (Puskes) TNI dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur. Adapun target vaksin yang diberikan adalah sejumlah 3000 vaksin Sinovac perhari. “Jadi kalau dua hari, target kami yakni sekitar 6000 vaksin. Kalau jumlah vaksin berlebih, akan kami alihkan ke tempat lain. Sebaliknya, jika jumlahnya kurang akan kami mintakan ke Puskes ataupun Dinkes. Adapun vaksin yang diberikan tidak dipungut biaya apapun, gratis,” tuturnya. Dijelaskan Hartoko, pemilihan UMM sebagai lokasi vaksinasi tidak lepas dari fasilitas yang baik dan memungkinkan. Ada beberapa hal yang diperhatikan, mulai dari tempat parkir, lokasi yang strategis hingga jumlah penampungan yang bisa disediakan. Menurutnya, pertimbangan itu penting agar agenda vaksinasi bisa digelar dengan prokes yang ketat sesuai ketetapan pemerintah. Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tinggi akan adanya vaksinasi. Hartoko berharap agenda ini bisa meminimalisir penularan Covid-19 yang belakangan makin naik. “Saya juga mengajak para masyarakat yang belum divaksin agar segera mendaftar dan mendapatkannya agar bisa menekan penularan Covid-19,” jelas Hartoko. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, ST. MT. mengungkapkan bahwa pemilihan Kampus Putih sebagai lokasi vaksinasi adalah hal yang tidak mengejutkan. Menurutnya, UMM memiliki tempat yang representatif untuk menyelenggarakan kegiatan terkait. “Kami juga menerjunkan tim Satgas Covid UMM, Maharesigana serta beberapa relawan dari BEM untuk turut serta membantu di lokasi,” imbuhnya. Eki, panggilan akrabnya berharap agar proses vaksinasi ini mampu membentuk ekosistem baru yang dapat berdampingan dengan virus Covid-19. Tidak hanya bagi sivitas akademika kampus saja tapi juga untuk masyarakat luas, utamanya warga sekitar UMM. “Kami juga akan terus berusaha untuk menjadi motor perubahan di setiap aspek kehidupan masyarakat,” tuturnya. Turut hadir pula Wakil Bupati Malang, Drs. Didik Gatot Subroto, S.H., M.H. pada agenda vaksinasi tersebut untuk memantau. Ia menyampaikan agar masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan meskipun sudah mendapatkan vaksin. Didik juga berterima kasih kepada para tenaga kesehatan yang selama ini telah berusaha semaksimal mungkin. “Mari sama-sama kita doakan agar para nakes diberi kesehatan sehingga mampu beraktifitas dan memberikan kontribusi serta bantuan kepada kita semua,” tutupnya. (wil)

Mahasiswa UMM Kampanyekan Umbi Porang Pengganti Padi

Untuk mengurangi krisis makanan akibat ledakan populasi Indonesia di masa depan, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) galakan penggunaan umbi porang sebagai pengganti nasi. Ide ini diikutsertakan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Gagasan Futuristik Kontekstual (GFK) dan lolos pada tahap pendanaan oleh Ditjen Dikti pada Mei lalu. Salah satu anggota tim, Chrisna Chandra Eka Iriawan, mengungkapkan bahwa lahan dan sumber makanan akan semakin berkurang jika populasi penduduk makin bertambah kedepannya. Maka dari itu, untuk mengatasi permasalahan lahan tersebut, tim PKM-GFK ini mencari berbagai bahan baku yang mungkin bisa menjadi alternatif pengganti padi. “Tim kami akhirnya menemukan pengganti padi yang ideal yaitu beras analog yang berasal dari umbi porang. Umbi jenis ini sangat mudah ditanam dan dilestarikan. Bahan makanan ini juga tidak memakan banyak tempat, jadi tidak akan sulit untuk dibudidayakan,” ujar mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) tersebut. Chan sapaan akrabnya, kembali bercerita bahwa hasil akhir dari PKM-GFK yang dikerjakannya adalah sebuah video sosialisasi yang diperuntukkan bagi masyarakat. Ia dan tim telah merampungkan proses syuting pada 25 Juni lalu. Mahasiswa asal Sorong Papua tersebut juga berencana merampungkan tahap editing pada awal Agustus nanti, sehingga bisa segera disosialisasikan kepada khalayak luas. “Dalam mengedukasi masyarakat terkait umbi porong, kami menggunakan sarana film fiksi. Proses syuting tidak mengalami banyak kendala karena saya pribadi telah beberapa kali membuat film dokumenter. Mungkin cuma ada masalah-masalah kecil seperti menyamakan waktu luang antara talent dan kru,” ungkap Chan. Tak sendiri, Chan menggarap film ini bersama tiga teman sejwatnya yang lain. Ada Audy Rika Putri dan Adella Putri Cahyani. Mereka juga ditemani oleh Dewi Rahma Musyarofah. Terakhir, Chan juga berharap pemanfaatan ubi porang sebagai pengganti padi ini dapat diterapkan di masa depan. Sehingga jika ledakan penduduk terjadi, kemungkinan kurangnya sumber pangan dapat ditekan. Selain itu ia juga berharap, produk video ini akan menjadi batu loncatan timnya untuk berlanjut ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). “Hal terpenting menurut saya adalah bagaimana pesan yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat bisa terlaksana melalui film fiksi ini,” tandasnya menutup. (syi/wil)

Taekwondo UMM Borong Medali di Kejuaran Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencetak prestasi di tingkat internasional. Kali ini medali datang dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo yang berhasil membawa pulang lima medali emas, lima medali perak, dan enam medali perunggu pada Kejuaraan Bandung International E-Poomsae Tournament 2021. Adapun perlombaan ini diselenggarakan oleh Pengurus Kota Taekwondo Indonesia Bandung pada 26-27 Juni lalu dan diikuti sebanyak 1.850 peserta dari 16 negara. Pelatih tim Taekwondo UMM, Muhammad Luqman Hakim mengatakan bahwa persiapan lomba cukup berat bagi para atlet taekwondo UMM. Selain karena faktor pandemi yang menyulitkan untuk pertemuan tatap muka, tidak banyak atlet taekwondo yang berada di Malang juga menjadi tantangan tersendiri. “Pada perlombaan ini, kami mengirimkan 16 atlet untuk berlomba. Banyak sekali kendala yang kami hadapi di fase persiapan, baik dari atlet sendiri maupun saya selaku pelatih. Bagi mereka yang berada di Malang, mungkin bisa dengan mudah berlatih bersama-sama dengan yang lain. Namun bagi atlet yang sedang di luar Malang, saya harus melatih mereka secara virtual. Padahal untuk menyelaraskan berbagai gerakan harus melihat secara langsung perkembangan atlet,” ujar mahasiswa Teknik Mesin tersebut. Kendala saat latihan juga dialami oleh Sintia Rahmah. Salah satu atlet taekwondo UMM ini mengaku bahwa waktu persiapan lomba tergolong sangat pendek yaitu tiga minggu. Selain kekurangan waktu untuk berlatih, Sintia bercerita bahwa background atlet taekwondo UMM adalah kyourugi atau pertarungan, sementara lomba tersebut adalah poomsae atau seni dalam taekwondo. Perbedaan gaya tersebut menyebabkan beban latihan menjadi lebih berat. “Perlombaan ini diadakan secara online dengan cara mengirimkan video perlombaan. Jadi dalam waktu yang singkat selain harus latihan, kami juga harus meluangkan waktu untuk mengambil video. Proses pengambilan video juga dilakukan bersama-sama, karena itu teman-teman yang di luar Malang harus kembali ke sini untuk pengambilan video,” ungkap mahasiswa peraih medali emas tersebut. Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) ini tidak menyangka bahwa timnya akan membawa pulang banyak medali. Pasalnya persaingan di lomba ini sangat ketat, tidak hanya harus bersaing dengan atlet di tingkat universitas, mereka juga harus bersaing dengan tim nasional Indonesia dan tim-tim dari luar negeri. “Saya sangat bersyukur atas capaian yang diraih oleh tim kami. Saya berpesan kepada para atlet-atlet UMM yang belum bertanding selama pandemi untuk tetap semangat dan makin giat dalam berlatih. Semoga kedepannya UKM taekwondo UMM semakin berkembang menjadi lebih baik,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ajak Warga Gampingan Olah Limbah

Rasa prihatin akan tumpukan sampah kertas yang terus menggunung, Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan warga desa Gampingan, kecamatan Pagak, Kabupaten Malang untuk mendaur ulang sampah. Adapun kegiatan ini mereka langsungkan sejak Mei lalu. Elma, salah satu anggota tim menuturkan bahwa tumpukan sampah kertas yang dibiarkan secara terus menerus akan  berakibat buruk bagi kesehatan warga. Hal ini disebabkan oleh berbagai zat berbahaya yang terkandung dalam sampah kertas-kertas tersebut. “Tumpukan sampah kertas hasil limbah pabrik dibiarkan menggunung di desa ini. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan warga karena sampah kertas mengandung zat-zat berbahaya seperti kadium (Cd) serta beberapa logam berat jenis Hg dan Cu. Jika seseorang terus menerus menghirup zat-zat tersebut, maka lama kelamaan ia akan mengalami gangguan pernafasan,” ungkap mahasiswa prodi Ilmu Keperawatan tersebut. Untuk mengurangi dampak limbah pabrik terhadap kesehatan masyarakat, Elma dan tim merancang beberapa program. Program pertama adalah mengedukasi warga desa Gampingan terhadap bahaya penumpukan sampah. Agenda edukasi ini dilaksanakan melalui sosialisasi secara luring kepada para warga sekitar. “Selain itu kami juga menanam beberapa tanaman lidah mertua untuk mengurangi polusi yang diakibatkan oleh sampah kertas,” ungkap Elma. Pada program yang terakhir, tim Elma menggalakan kepada masyarakat untuk menjual kembali limbah sampah kertas ke pabrik-pabrik pembuat kertas. Selain mengurangi limbah, dengan menjual limbah sampah juga akan menambah pendapatan warga. Proses penjualan limbah sampah ini tergolong sederhana yaitu dengan cara mengeringkan sampah-sampah kertas yang telah basah lalu menjualnya. “Agar masyarakat tidak terpapar zat berbahaya selama proses pengeringan, kami memberikan bantuan alat pengering sampah. Dalam sekali proses, alat ini mampu mengeringkan sebanyak sepuluh kilogram sampah kertas basah. Alat ini dirancang secara mandiri oleh tim kami,” ungkap mahasiswa asal Kalimantan Barat tersebut. Adapun program ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat (PM) yang mereka gagas. Menariknya, PKM tersebut jugatelah lolos pada tahap pendanaan Kemenristek Dikti pada Mei lalu. Tak sendiri, dalam pelaksanaannya Elma ditemani oleh tiga anggota lain yaitu Yazid Abdullah dan Ade Noval Triawan dari  Prodi Ilmu keperawatan serta Wahyudiansyah Pawallo dari Prodi Teknik Mesin. Terakhir, ia berharap program garapannya ini bisa memberikan edukasi yang lebih baik akan sampah serta agar masyarakat bisa lebih peduli dengan kesehatannya. Timnya juga ingin sampah-sampah yang berserakan bisa diubah menjadi pendapatan tambahan bagi masyarakat desa Gampingan. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ciptakan Radar Pelacak Barang untuk Keamanan Laut Indonesia

Seringkali penangkapan ikan oleh nelayan asing secara illegal ditemukan di wilayah zona laut Indonesia. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kreatifitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM – KC), membuat Radar Pelacak Barang untuk Zona Laut Ekonomi Eksklusif. Adapun rancangan PKM ini juga dikerjakan oleh Awwaludin Rasyid Al-Malik, Atha Caesarda Rafi Naufal, Zidni Ilman Nafian, Bagus Setyawan dan Rafiqa Nur Pratiwi, yang tergabung dalam satu kelompok. PKM berjudul “Implementasi Teknologi Internet of Think (IoT) Berbasis Radar Sebagai Pendeteksi Illegal Fishing di Zona Ekonomi Eksklusif” ini pun telah lolos pendanaan Direktorat Jendral Perguruuan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Awwal, selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa rancangan radar pelacak ini adalah buah dari implementasi Teknologi Internet of Think. Pembuatan radar ini juga bertujuan untuk menjaga laut Indonesia dari illegal fishing atau bahkan benda asing seperti drone yang terjadi pada awal tahun lalu. “Kejadian illegal fishing dan juga bebasnya drone asing di lautan Indonesia membuat kami berinisiatif menciptakan radar pelacak benda ini,” ujarnya. Dilanjutkan Awwal, radar pendeteksi ini sendiri dilengkapi dengan fitur yang canggih dengan pemanfaatan panel surya sebagai sumber daya listrik. Mahasiswa Teknik Mesin ini menjelaskan dengan adanya listrik dari sinar matahari, harapannya bisa melepas ketergantungan pada listrik kabel yang biasa digunakan. Radar ini juga mampu bertahan selama 4-6 hari meskipun matahari jarang menyinari. “Penggunaan listrik berbasis panel surya pada alat ini juga dirasa lebih bersahabat dengan alam,’ imbuhnya. Di samping itu, sistem radar pelacak tersebut juga dapat mendeteksi adanya barang di permukaan bahkan juga dalam lautan. Salah satunya adalah kapal beserta barang-barang yang ada di dalamnya. Menurut Awwal, hal ini tentu bisa menjadi terobosan baru untuk meningkatkan keamanan laut Indonesia. Alat yang berada pada tahap perancangan 50 persen ini diharapkan bisa membantu menjaga kemanaan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Laut Indonesia. Mahasiswa kelahiran Jombang ini juga berharap alat ini bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga pengawasan laut Indonesia bisa dilakukan dengan lebih efektif. “Tentu kami ingin agar nantinya radar pelacak ini bisa digunakan oleh pemerintah atau bahkan militer dalam usaha menjaga zona laut yang dimiliki oleh Indonesia,” tutupnya. (haq/wil)