Tekan Angka Kekerasan Anak, Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi Track Child

Sejak tahun 2017 angka kekerasan pada anak telah menyentuh lebih dari 50 kasus. Baik itu penculikan, seksualitas, hingga perdagangan. Meski sudah berada dalam pengawasan orang tua dan pendidik, kekerasan pada anak-anak masih sering terjadi. Melihat fenomena tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif menciptakan Alat Pelacak yang mereka beri nama Track Child. Alat itu diharapkan bisa menjadi solusi dalam pengawasan anak. Dicky Marcellio Akbar selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa alat pelacak ini berbentuk persegi panjang dan dipasangkan pada ikat pinggang anak. Alat tersebut akan disambungkan dengan aplikasi Track Child, sehingga orang tua dapat mengetahui lokasi anak. Pada alat tersebut juga terdapat dua tombol yaitu warna hijau dan kuning. Tombol hijau akan memberikan sinyal bahwa anak telah pulang dan aman, sedangkan kuning memberikan sinyal bahwa mereka sedang berada dalam masalah. “Jika anak belum memberikan sinyal atau bahkan pelacak terlepas, alat itu akan memberikan sinyal bahaya otomatis pada aplikasi Track Child,” jelasnya. Mahasiswa Teknik Elektro ini menambahkan bahwa alat pelacak ini memiliki sebuah magnet yang akan membantu dalam pemasangan ke ikat pinggang anak. Alat navigasi ini juga memiliki fitur GPS yang dapat memberikan lokasi alat dengan lebih akurat. Adapula security system yang menghalangi oknum lain saat ingin mengakses alat serta aplikasi terkait. “Kami juga telah menanamkan baterai dengan kapasitas 2.000 mAh yang bisa direcharge kembali,” imbuhnya. Ide dari tim yang beranggotakan Dicky Marcellino Akbar, Revaldo Yuanda, Kholil Maharno, Rega Suharsyah Khumaini, serta  Atika Nur Azzahra ini berhasil lolos tahap pendanaan Program Kreatifitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). Mereka juga telah selesai merancang  dan akan segera merealisasikan teknologi ini. “Semua rancangannya sudah rampung dan dibuat. Kami akan segera melakukan uji coba dengan keadaan yang sebenarnya,” jelasnya melanjutkan. Terakhir, Dicky berharap agar alat pelacak dan aplikasi Track Child ini bisa didukung oleh pihak pemerintah. Jika tidak memungkinkan, ia bersama tim akan terus berusaha mengembangkan dan juga memasarkannya kepada masyarakat luas. “Tujuan dari PKM adalah agar dapat mengurangi serta mencegah kekerasan pada anak. Selain itu, menurut kami pengawasan yang dilakukan oleh orang tua lebih aman jika menggunakan alat dan aplikasi ini,” tutupnya. (haq/wil)

UMM Langsungkan KMMI, Program Peningkatan Skill Industri Mahasiswa

Dalam rangka mendekatkan dunia pendidikan dan industri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud-RI) bersama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) pada bidang pertanian dan peternakan. Program ini digelar selama dua bulan mulai tanggal 2 Agustus sampai 31 September 2021 nanti. Perwakilan dari Dirjen Belmawa, Sukino S.Pd, M.A.P., mengakatan bahwa KMMI merupakan program rintisan untuk meningkatkan softskill dan kemampuan mahasiswa. Utamanya pada bidang serta peminatan yang mereka disukai. Program ini juga mendukung kebijakan belajar kampus merdeka yang telah canangkan oleh Kemendikbud sebelumnya. “KMMI berfungsi untuk melengkapi sistem pembelajaran di kelas. Kami berharap mahasiswa dapat memperoleh kemampuan aktual dan komprehensif yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Pemilihan UMM sebagai pengelola KMMI juga didasarkan pada keseriusan Kampus Putih dalam meningkatkan karakter  dan pretasi mahasiswanya. Tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di level Internasional,” ujar Sukino. Disisi lain Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, mengungkapkan bahwa pelaksanaan program KMMI ini akan memiliki banyak keuntungan bagi mahasiswa. Salah satunya adalah kemudahan untuk dapat belajar dari manapun. Mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dapat bergabung dengan program ini dan memperoleh kemampuan baru yang bermanfaat. “Program ini juga membuka peluang bagi para mahasiswa untuk mempelajari jurusan lain yang ia minati. Selain itu KMMI akan menjadi modal penerapan dari program unggulan UMM. Sekaligus menjadi salah satu percepatan perguruan tinggi dalam memberikan kepastian pekerjaan sesuai passion,” ungkap Syamsul. KMMI yang digelar oleh Kemendikbud dan UMM telah menjaring sebanyak 2.500 mahasiswa dari seluruh Indonesia. dalam pembahasannya, ketua KMMI UMM, Dr. Ir. Abdul Malik, M.P., IPU., mengatakan bahwa KMMI UMM memiliki lima course. Course tersebut terdiri dari Manajemen Kandang Sistem Closed House, Teknologi Pakan dan Formulasi Rasum, Manajemen Breeding dan Hatchery, Manajemen Kesehatan Unggas, serta Manajemen Bisnis Ayam Ras. “Masing-masing course akan membina 400 mahasiswa. Jadi 2500 mahasiswa akan dibagi menjadi 50 kelas dan masing-masing kelas akan diisi oleh 40 mahasiswa. Adapun program ini diikuti oleh 165 perguruan tinggi PTS dan PTN di Indonesia. Kami juga didukung oleh 12 mitra yang berpengalaman yaitu, PT. Jatinom Indah Agri, PT. Charoen Pokphand, PT Sanbe, PT. Mensana, PT. Jatinom Indah Farm. Adapula  PT. Anugrah Jaya Sedaya, PT. Sembada Karya Mandiri, PT Jatinom Unggas Jaya, PT BIGMAN, PT. Vaksindo Satwa Nusantara. Kemudian, dua nama terakhir yakni CV Cahaya Gemilang, dan PT Lestari Agroniaga,” pungkasnya. (syi/wil)

ICoN-BEAT, Konferensi Internasional FPP UMM Bahas Bioenergi dan Lingkungan

Berbagai konferensi internasional terus diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Salah satunya adalah gelaran International Conference on Bioenergy and Environmentally Sustainable Agriculture Technology (IcoN-BEAT). Agenda tahunan yang digelar oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM ini dilangsungkan secara daring pada Rabu (28/7) lalu. Diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar negeri, ICon BEAT turut mengundang pemateri dari berbagai negara. Ada Prof. Hiroyuki Sakakibara dari Jepang, Assoc. Prof Juris Burlakovs dari Estonia dan Assoc. Prof Zane Vincevica Gaile yang berasal dari Latvia. Adapula tiga pemateri lain dari Indonesia yang turut memberikan paparannya yakni Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Prof. Didiek Hadjar Goenadi serta Henik Sukorini, Ph.D. Ditambah lagi dengan kegiatan workshop pada hari kedua. Dr. Ir. Damat, M.P. selaku ketua panitia mengatakan bahwa gelaran ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta terkait pertanian dan kelestarian lingkungan. Di samping itu juga meningkatkan publikasi  para dosen di jurnal yang terindeks Scopus. Menurut Damat, publikasi-publikasi ilmiah tentu diperlukan oleh dosen serta perguruan tinggi. “Gelaran IcoN-BEAT ini juga menjadi upaya kami dalam membangun kerja sama internasional. Kali ini kami bekerja sama dengan Jordan Journal dari Jordania dan Sarhad Journal dari pakistan untuk memberikan materi di workshop yang dilaksanakan pada hari kedua,” tambahnya. Sementara itu, keenam pembicara menyampaikan pilihan topik yang menarik. Sebut saja Dadan, Direktur Energi Terbarukan dan Konservasi Energi yang membuka materi dengan memaparkan pentingnya peran bioenergi. Menurutnya, energi tersebut punya peran dalam mendukung transformasi energi ke depannya. Hal tersebut diperkuat oleh Didiek yang terus mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh terkait kelestarian alam. Peneliti Lembaga penelitian Bioteknologi dan Bioindsutri indonesia itu juga mengajak untuk memelihara stok karbon organik tanah yang ada. Kemudian Zane dari Department of Environment Science, University of Latvia juga mengingatkan bahwa penghancuran lahan gambut akan memberikan dampak buruk untuk masa depan. Salah satunya adalah menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan global. Di samping itu, Juris Burlakov menilai perlu adanya peningkatan efisiensi sumber daya dan pendauran ulang. “Deratan usaha ini merupakan upaya untuk mengurangi konsumsi bahan baku utama sekaligus untuk melestarikan lingkungan,” imbuhnya. Hal senada juga dijelaskan oleh Hiroyuki Sakakibara. Menurutnya, lingkungan yang baik akan berdampak pada kualitas organisme, termasuk di dalamnya adalah tanaman. Tanah yang penuh dengan nutrisi akan mendukung tanaman agar mampu melakukan biosintesis senyawa bioaktif. Salah satunya adalah senyawa flavonoid yang dapat melindungi tanaman dari kerusakan akibat paparan sinar UV. “Sehingga besar harapannya, para petani dapat menghasilkan produksi tanaman apapun dengan kualitas yang maksimal,” tuturnya melanjutkan. Terakhir, Henik menutup konferensi tersebut dengan menyampaikan bahwa agrikutur merupakan salah satu sektor yang strategis. Hal itu tidak lepas dari perannya yang memberikan sumbangan terbesar kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karenanya, Henik mengatakan bahwa pengembangan kelestarian lahan dan menjaganya dari kerusakan lingkungan adalah sebuah tantangan besar. Semua usaha tersebut bertujuan untuk menjaga kesuburan tanah yang nantinya bisa memberikan dampak positif bagi pertumbuhan tanaman. (wil)

Wangsaku, Layanan Uang Elektronik Ciptaan Mahasiswa UMM

Dalam rangka meminimalisir penularan virus Covid-19, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan layanan uang elektronik bernama Wangsaku. Inovasi yang mereka buat ini telah diikutsertakan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan berhasil lolos tahap pendanaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada Mei lalu. Salah satu anggota tim, Tanthowi Jauhari mengatakan ide pembuatan layanan pembayaran virtual tersebut berawal dari kegelisahan mereka akan tingginya kasus penularan Covid-19. Utamanya mereka yang berada di usia kanak-kanak. Terhitung dari bulan Januari sampai Maret 2021 ada sebanyak 120.000 kasus anak yang tertular virus tersebut. “Kami khawatir nanti saat sekolah kembali dibuka, angkanya akan semakin naik karena kontak fisik akan semakin banyak. Sehingga membentuk klaster penularan baru. Karena hal itu, kami berinovasi untuk mengganti penggunaan uang tunai dengan  uang elektronik di lingkungan sekolah,” terang mahasiswa Prodi Informatika tersebut. Antho, sapaan akrabnya menerangkan bahwa teknologi Wangsaku akan ditanamkan pada gelang sebagai media transaksinya. Gelang ini dilengkapi dengan teknologi Near Field Communication (NFC) yang akan memudahkan anak untuk membeli sesuatu tanpa harus melakukan kontak fisik. “Selain berfungsi sebagai media transaksi keuangan, gelang ini juga bisa digunakan sebagai parental controlling karena struk belanja anak akan dikirim ke orang tua,” ujar Antho. Sampai saat ini Antho dan tim telah merampungkan pembuatan aplikasi wangsaku dan akan menguji coba pada salah satu sekolah Muhammadiyah yang ada di Malang. Ia bercerita bahwa kendala tersulit dalam pembuatan Wangsaku adalah proses penyusunan database. “Kami harus menghubungkan proses layanan di kasir kantin dan aplikasi wangsaku. Hal itu cukup rumit untuk kami,” kata mahasiswa kelahiran Lombok tersebut. Dalam pembuatan Wangsaku Antho ditemani oleh Andhika Dwi Aditya, Lale Wiega Arifah Chopsah,  dan Alif Syifa Arsyila dari Prodi Informatika serta Permaisuri Fatimah Azzahra dari Prodi Akuntansi. Antho berharap dengan adanya Wangsaku akan meminimalisir kontak anak-anak dengan benda serta menurunkan proses penularan Covid di sekolah nantinya. “Saya berharap teknologi ini dapat diterima oleh banyak kalangan dan bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Wangsaku juga bisa terus dikembangkan agar dapat memberikan dampak yang lebih dari ini,” pungkasya. (syi/wil)

Gubernur Jatim Apresiasi RS Covid dan Canangkan Vaksinasi Difabel serta Nakes di UMM

Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung pada gelaran vaksinasi massal yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (2/8) lalu. Didampingi Dr. Fauzan, M.Pd selaku rektor Kampus Putih dan Drs. Sutiaji Walikota Malang, Khofifah sempat melihat perkembangan pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Covid UMM. Ia juga menyampaikan terkait pemberian vaksin khusus bagi difabel dan sumber daya manusia (SDM) kesehatan. Sebelum menuju lokasi vaksinasi, gubernur Jatim mengunjungi RS UMM terlebih dahulu. Ia menyempatkan diri untuk menyapa para pasien covid yang sedang menjalani perawatan di Instalasi Perawatan dan Infeksi RS UMM. Di samping itu juga berdialog dan melihat perkembangan para pasien yang ada. Kemudian, saat di Dome Khofifah menyampaikan apresiasi akan usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh Kampus Putih UMM. Ia menilai bahwa RS UMM merupakan rumah sakit yang inklusif dilihat dari berbagai sisi. “Saya bisa mengatakan demikian karena sejak Maret tahun lalu, saya sudah seperti manajer rumah sakit di Jawa Timur,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa hanya ada segelintir rumah sakit yang menyiapkan layanan seksio bagi pasien terkonfirmasi positif. Tidak banyak pula yang menyiapkan tempat persalinan bagi ibu hamil yang terkonfirmasi Covid-19. Pun tidak banyak yang memberikan layanan hemodialisis bagi mereka. “Namun, ketiga layanan tersebut bisa ditemui di RS Universitas Muhammadiyah Malang,” imbuhnya. Khofifah juga ingin agar rumah sakit lain bisa mengikuti jejak RS UMM, yakni menyediakan layanan-layanan persalinan bagi mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19. Menurutnya, menyiapkan layanan tersebut bukanlah hal yang sederhana.  Maka ia mengapresiasi RS UMM karena telah mengemban tanggung jawab yang luar biasa selama ini. Berikutnya, inklusivitas RS UMM juga bisa dilihat dari domisili pasien. Saat berkunjung, Khofifah sempat berdialog dengan beberapa pasien yang domisilinya bukan hanya Malang. Menurutnya, masyarakat harus memiliki harapan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang baik. “Dan salah satu pihak penyedia layanan ini adalah RS UMM yang saya kunjungi tadi,” tegasnya. Ia menyebut bahwa Malang memiliki semangat yang luar biasa untuk mendapatkan vaksin. Proses akselerasi memang sudah menjadi kebutuhan dan UMM adalah pihak yang telah berkali-kali melaksanakannya. “Saat berkoordinasi dengan Rektor UMM kemarin, kami juga berencana mengirim para nakes UMM ke berbagai sekolah untuk memberikan layanan,” lanjut Khofifah. Vaksinasi para difabel dan SDM Kesehatan juga sempat disampaikan oleh Khofifah. Jenis yang diberikan juga berbeda dengan yang lain. Bagi difabel yang berusia 18 tahun ke atas akan diberi vaksin jenis Sinovam. Sementara bagi para SDM Kesehatan akan disediakan vaksin Moderna untuk vaksinasi ketiga. “UMM juga menjadi pihak yang memulai memberikan dua vaksin jenis ini. Pun dengan Malang sebagai daerah pertama yang menggunakan Moderna bagi SDM kesehatan dan Sinovam bagi penyandang disabilitas,” tutur Khofifah. Sementara itu, Fauzan menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Jatim yang berkenan untuk hadir serta meninjau pelaksanaan vaksinasi hari ketiga di UMM. Ia menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan insiatif dari Gubernur Jatim yang bekerja sama dengan Pemkot Malang, Pemkab Malang, serta UMM. “Vaksinasi ini merupakan upaya akselerasi dalam melakukan percepatan, khususnya kepada masyarakat Malang Raya. Namun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luar Malang yang berdomisili dan berkepentingan di Malang,” ungkapnya. Terakhir, Fauzan juga berterimakasih karena Pemprov telah memberikan sumbangan berupa tempat tidur bagi RS Covid UMM. Hal itu tentu memberikan dampak positif bagi pelayanan untuk masyarakat. “RS Covid ini sebenarnya belum diresmikan, namun tuntutan kondisi memaksa kami untuk segera menggunakannya dan Alhamdulillah berjalan dengan baik,” tutupnya. (wil)

Galakkan Program GESIT, UMM Gelar Vaksinasi

Ikut berkontribusi dalam akselerasi vaksinasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar vaksinasi massal dalam dua hari yakni pada 31 Juli-1 Agustus 2021. Adapun gelaran ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi UMM dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa beberapa hari sebelumnya. Sebanyak 5.000 vaksin disiapkan untuk disebarkan kepada sivitas akademika dan keluarga besar UMM serta masyarakat umum. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa UMM telah lama berkontribusi dalam situasi pandemi lewat program GESIT. Melalui gerakan ini, Kampus Putih terus mengkampanyekan terkait vaksinasi dan protokol kesehatan, berempati serta peduli pada masyarakat, dan bersinergi dengan berbagai pihak dalam mengatasi pandemi Covid-19. Di samping itu, gerakan GESIT ini juga diimplementasikan melalui inisiatif-inisiatif UMM dalam meringankan beban masyarakat, utamanya mereka yang terdampak langsung. Selain itu juga menekankan pentingnya menjaga diri demi mewujudkan Indonesia bebas dari Covid. Fauzan juga mengatakan UMM telah lama merespon serangan pandemi dengan membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menanganinya. Salah satunya adalah Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) yang terus membantu dalam segala aspek di masa pandemi “Kami juga sempat bekerja sama dengan Kodim dan Pemda untuk melaksanakan vaksinasi massal beberapa minggu lalu. Tentu ini adalah bentuk ikhtiar dan pengabdian kami demi kebaikan bersama,” tegasnya. Sementara itu, Zakarija Achmat, S.Psi. M.Si., selaku koordinator lapangan vaksinasi menjelaskan ada sebanyak 5.000 dosis yang akan diberikan dalam dua hari pelaksanaan. Adapun mereka menargetkan keluarga besar sivitas akademika dan masyarakat umum yang belum divaksin. “Ibu Khofifah, Gubernur Jawa Timur juga akan hadir pada hari kedua untuk memantau jalannya agenda ini. Gelaran ini juga tidak lepas dari dukungan Pemprov Jatim yang terus mendorong gerakan sadar vaksinasi Covid-19,” lanjutnya. Zakarija, panggilan akrabnya mengatakan bahwa acara ini memiliki konsep yang berbeda dibandingkan vaksinasi di tempat lain. Sebut saja penampilan band dari alumni dan mahasiswa yang akan menghibur para nakes serta peserta. Uniknya, mereka akan mengenakan alat pelindung diri (APD) dan hazmat level 2 dan 3. “Meski begitu, kami pastikan tidak akan membuat kerumunan dan menerapkan prokes dengan ketat,” tegas Zakarija. Terakhir, ia juga sempat membahas mengenai program UMM GESIT yang sudah digalakkan sejak awal pandemi. Dijelaskan oleh Zakarija, GESIT ini merupakan singkatan dari Gencar kampanyekan vaksinasi, Empati pada masyarakat, Sinergi dengan berbagai pihak, Insiatif, serta Terapkan prokes dengan ketat. “Harapannya vaksinasi yang dilaksanakan oleh UMM ini mampu berkontirbusi dan menekan angka penularan Covid-19 di masyarakat luas,” tutupnya menerangkan. (wil)

Undang Dubes RI untuk Slowakia, FEB UMM Bahas Ekspor Impor

Bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)  Manajemen , FEB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan Mahapreneur 8 pada Jumat (16/7). Agenda ini merupakan acara tahunan yang membahas terkait bisnis dan usaha. Adapun kali ini Mahapreneur 8 mengusung tema “Create Export Opportunities in the World of Virtual Business” dengan mengundang dua pemateri utama. Keduanya adalah Adiyatwidi Adiwoso Aswadi,MA  selaku Duta besar RI untuk Bratislava, Slowakia serta Fernanda Reza Muhammad selaku Wakil Ketua Indoensia Japan Business Network (IJB-Net). Ada sekitar 8.000 peserta yang berasal dari SMA dan perguruan tinggi se-Indonesia. Membuka Mahapreneur, Dekan FEB UMM Dr. Idah Zuhroh, MM. menyampaikan bahwa potensi ekspor Indonesia sangatlah besar. Apalagi dalma upaya meningkatkan devisa  negara. Maka dari itu, menurut Idah, gelaran ini dapat memberikan pandangan akademis kepada mahasiswa terkait peluang ekspor yang diimbangi dengan perkembangan teknologi informasi. “Semoga Mahapreneur 8 ini bsia memberikan wawasan dan ilmu baru terkait ekspor dan impor bagi para peserta,” harapnya. Sementara itu, Wike, panggilan akrabnya mengawali materi dengan mengenalkan negara slowakia kepada para peserta. Ia menjelaskan bahwa negara ini merupakan negara landlock dengan total populasi 5,4 juta jiwa. Menurut economic intelligence yang dilakukan oleh KBRI Bratislava, ada lima produk yang memiliki potensi bagus untuk masuk ke pasar slowakia. “Beberapa di antaranya adalah food & beverages, karpet, timah, aksesoris kendaraan, dan minyak sawit,” jelas Dubes kelahiran Jakarta tersebut. Ia juga menuturkan bahwa impor utama Indonesia dari Slowakia berada di sektor elektronik dan otomatif. Dilanjutkan olehnya, hubungan ekonomi Indonesia-Slowakia tidak mengendur meski berada di masa pandemi Covid-19. Hal itu terjadi karena adanya adaptasi yang dilakukan oleh kedua negara dengan memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan bisnis. Pada kesempatan yang sama, Reza menjelaskan bahwa Indonesia menjadi negara importir terbesar ke-10 di Jepang pada 2017. Adapun nilai totalnya berada di angka 22,3 milyar USD dari total 753,7 Milyar USD yang ada. Lebih lanjut, Pria yang juga menjadi tenaga teknis Ekspor Center Surabaya itu juga menyampaikan bahwa masyarakat Jepang kini sudah aware dengan makanan- serta minuman halal. Hal ini memberikan peluang bisnis yang besar bagi UMKM yang ada di Indonesa untuk memasarkan produknya di Jepang. “Peluang-peluang inilah yang harus dimanfaatkan dengan baik sehingga dapat membantu perkenomian negara,” tegasnya mengakhiri. (wil)

TRIbute to Live, Tema 35 Tahun Komunikasi UMM

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini memasuki usia yang ke-35 tahun. Memperingati miladnya, Prodi Komunikasi dengan apik melaksanakan rangkaian acara menarik. Dibuka dengan gelaran virtual Tribute to Life pada Rabu (28/07). Acara yang disiarkan melalui channel Youtube itu didedikasikan kepada para pendahulu prodi yang telah wafat serta mengapresiasi pejuang Covid-19 yang sedang bertarung di masa pandemi ini. Ketua Prodi Komunikasi UMM, Muhammad Himawan Sutanto, S.Sos., M.Si mengatakan bahwa peringatan ulang tahun kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam suasana prihatin, pihaknya tetap ingin membangun optimisme agar mampu melewati kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat di dunia. “Di usianya yang ke-35 ini, Komunikasi UMM bertekad untuk terus berprestasi, kreatif dalam berkarya, komunikatif dalam kehidupan sosial, serta kolaboratif dalam memberi solusi kepada masyarakat,” tegas Himawan. Sementara itu, ketua panitia Milad ke-35 Komunikasi UMM, Arum Martikasari, M.Med.Kom., menerangkan bahwa kemasan acara Tribute to live ini menekankan pada semangat Tridharma Perguruan Tinggi. Di samping itu juga sebagai perwujudan dari tagline “Kreatif, Komunikatif, Kolaboratif”. Acara yang dipandu oleh sekretaris Prodi Komunikasi UMM, Widiya Yutanti, S.Sos, M.A. ini, selain menampilkan alunan musik mahasiswa, pembacaan puisi, dan testimoni para dosen, juga menampilkan testimoni dari keluarga para dosen yang telah wafat. Apresiasi diberikan kepada tiga orang dosen yang telah mendedikasikan diri dan berjasa bagi Prodi Komunikasi UMM. Ketiganya adalah alm. Prof. Dr. Hamidi, alm. Dr. Abdullah Masmuh, MS.i, dan alm. Drs. Rudi Lelono, M.Si. Agenda tersebut juga dimeriahkan dengan pemutaran tayangan para pejuang Covid-19 yang terus berusaha untuk bertahan. Beberapa mahasiswa yang terpapar virus ini memberikan testimoni serta pengalamannya  dalam menjalani isolasi mandiri dengan tetap mengikuti perkuliahan bahkan ujian skripsi secara daring. Mereka berterima kasih kepada Prodi yang terus memberikan perhatian baik berupa asupan gizi, obat-obatan, maupun motivasi. Video tersebut diakhiri dengan pelukan virtual oleh para dosen kepada siapa saja yang sedang berjuang melawan Covid-19. Adapun peringatan 35 tahun Komunikasi UMM ini akan terus berlanjut hingga Oktober 2021 nanti. Beberapa agenda yang disiapkan adalah Social Media Campaign #TRIbuteToLife, Open Donation, Commtalk Special Edition: Kawal Infodemik, berbagai kompetisi untuk mahasiswa, serta launching buku karya kolaborasi Dosen Komunikasi UMM yang membmahas ilmu komunikasi dalam situasi pandemi. “Puncaknya, nanti akan digelar peluncuran buku, penyerahan dana untuk penyintas Covid-19 serta penganugerahan kepada para pemenang lomba,” pungkas Arum. (*/wil)

ICon-TINE, Konferensi Internasional FT UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menjaga tradisi akademis dan keilmuannya. Salah satunya melalui gelaran International Conference on Technology, Informatics, and Engineering (ICon-TINE) 2021. Agenda yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknik (FT) ini dilangsungkan pada Rabu (28/7) lalu. Turut hadir Prof. Dr. Taufik dari California Polytechnic University State , Assoc. Prof. Dr. Eng Yasuhiro Mizutani dari Osaka University Jepang, serta Prof. Ilyas Masudin Ph.D dari Kampus Putih UMM. Membuka konferensi, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengungkapkan bahwa FT UMM memiliki berbagai kegiatan internasional, salah satunya adalah Icon-TINE. Menurutnya, konferensi ini menjadi langkah yang baik dalam menjaga tradisi akademis dan ilmu pengetahuan. “Saya turut mengapresiasi para panitia dan dekanat yang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelenggarakan agenda ini. Sekalipun masih berada di tengah pandemi,” tuturnya. Syamsul berharap Icon-TINE bisa menjadi gelaran yang mampu mengembangkan sains, utamanya dalam bidang teknik. Selain itu juga bisa menjadi forum komunikasi para akademisi terkait penelitian dan riset yang sudah dilakukan. “Dengan begitu teman-teman lain juga bisa memberikan saran, kritik serta masukan agar penelitian yang sudah terlaksana bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik,” ungkapnya. Sementara itu, Taufik menerangkan terkait “Direct Current (DC) House System for Future Homes and Off-grid Electrical System” dalam materinya.  Menurutnya, sistem DC memiliki banyak keuntungan dalam penggunaan sehari-hari. Selama ini, pengaliran listrik ke berbagai pemukiman dilakukan dengan sistem Alternating Current (AC) dari Pembangkit Listrik. Namun saat listrik disalurkan ke elektronik, listrik AC perlu dikonversi menjadi DC oleh adaptor. Menurut Taufik, proses ini kurang efisien karena membuang banyak energi. Sebaliknya, jika mengaplikasikan sistem DC, maka kita bisa langsung menyalurkan listrik tanpa mengubah serta membuang energi. Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa sistem ini akan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Utamanya energi yang didapat dari panel surya. Sistem ini juga akan memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk merasakan layanan listrik meskipun berada di pedalaman. “Jadi rumah masa depan akan memiliki sumber tenaga sendiri tanpa bergantung pada pembangkit listrik skala besar. Meski begitu, sistem ini masih perlu pengembangan lebih lanjut dengan berbagai disiplin ilmu berbeda. Salah satu yang kami kembangkan adalah dalam aspek software.” terang Taufik. Pada kesempatan yang sama, Yasuhiro membahas megenai “High Speead-High Resolution Ghost Imaging with Deep Learning”. Alih-alih menggunakan mega pixel, Ghost imaging memungkinkan kita untuk mengambil gambar menggunakan single pixel. Dengan begitu, ukuran yang tadinya cukup besar bisa ditekan menjadi lebih kecil. “Tentu aspek ini akan sangat berguna, utamanya di era industru 4.0 saat ini,” jelasnya lebih lanjut. Di samping itu, sistem ini juga memiliki kelebihan lain. Sebut saja hasil ukuran yang lebih kecil serta deteksi yang tergolong cepat. Ditambah lagi dengan sensitivitas yang cukup tinggi sehingga memudahkan dalam mengambil gambar. Adapula kelebihan lain dari sistem ini adalah fleksibilitas pada panjang gelombang. Terakhir, ada paparan dari Ilyas yang membahas mengenai “Food Cold Chain in Indonesia during the Covid-19 Pandemic: Current Situation and Mitigation”. Dijelaskan Ilyas, food cold chain adalah sistem distribusi makanan di mana produk diurus dengan temperatur yang sesuai. Mulai dari proses panen hingga proses konsumsi masyarakat. “ Sistem ini tentu membutuhkan fasilitas untuk bisa menyimpan makanan di berbagai kondisi. Salah satunya yakni  dengan suhu rendah,” tuturnya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa bisnis food cold chain memiliki potensi yang besar untuk Indonesia. Baik di sektor perikanan, peternakan, industri pangan bahkan farmasi. Meski begitu, serangan pandemi membuat bisnis food cold chain harus segera beradaptasi dan melakukan strategi baru. khususnya dalam hal teknologi. “Langkah-langkah tersebut diambil untuk meminimalisir food loss serta food waste,” pungkasnya dalam paparan. (wil)

International Conference Pascasarjana UMM Kaji Tantangan dan Peluang Era New Normal

Setelah lebih dari setahun menghadapi pandemi dan menjalani era new normal, muncul berbagai tantangan dan peluang untuk kembali membangun segala bidang. Berangkat dari hal itu, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Conference dengan topik “Under New Normal: Challenge & Opportinities”. Adapun gelaran ini diselenggarakan secara daring melalui kanal Zoom serta terbagi menjadi dua sesi yaitu pada tanggal 10 Juli untuk kluster pendidikan. Dilanjutkan dengan kluster non pendidikan pada 17 Juli lalu. Membuka acara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. selaku Wakil Rektor I memaparkan analisisnya terkait pandemi Covid-19. Menurutnya, virus ini telah membuat berbagai aspek kehidupan terganggu bahkan tidak berjalan dengan semestinya. Pandemi juga memaksa manusia untuk menjaga jarak dalam menjalankan aktivitasnya. “Tentu pandemi ini merupakan anomali yang tidak normal. Hal itu berujung pada keadaan krisis di mana-mana,” tuturnya menerangkan. Dosen kelahiran Madura ini menambahkan, pendidikan juga menjadi aspek yang tidak luput dari efek serangan pandemi. Sistem pembelajaran berubah sedemikian rupa. Harus beradaptasi dan mengubah pendidikan yang sebelumnya dilakukan secara luring menjadi daring hingga saat ini. Hal itu dilakukan agar para murid masih bisa bersekolah sekaligus menekan angka penularan Covid-19. “Untuk menyelesaikan problematika ini perlu adanya pendekatan semesta atau universal baik itu sains maupun medis. Ditambah dengan pendekatan kultural,” imbuh Syamsul. Adapun pada kluster pertama terkait pendidikan, konferensi ini menghadirkan Dr. Dennis Alonzo dari University of South Wales Australia, Prof. James Peacock dari Amerika Serikat, Dr. Abdul Harris, MA., dan Cherry Zin Oo, Ph.D, M.Ed, B.Ed salah satu dosen dari Yangon University of Educations Myanmar. Mengawali pemaparan, Dr. Dennis Alonzo mengkaji situasi pandemi yang berimbas pada pendidikan hingga mengharuskan adanya sistem baru, yakni daring. Menurutnya, ada berbagai peluang bagi instansi dan para pengajar untuk dapat memanfaatkan berbagai platform dalam pembelajaran. “Khusus untuk para pengajar, mereka harus segera ebradaptasi dan juga segera menjalankan kurikulum yang baru agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkapnya. Sementara itu, Prof. James Peacock menjelaskan bahwa Indonesia mengalami tiga fase krisis. Pertama ialah ketika G-30S PKI, yakni fase dimana terjadi krisis kepercayaan dan krisis toleransi. Selanjutnya yakni krisis pandemi Covid-19 saat ini yang melumpuhkan banyak sektor kehidupan, khususnya ekonomi dan pendidikan. Kemudian yang terakhir adalah perubahan iklim dan pemanasan global. Fase ketiga tersebut terjadi akibat proses akselerasi perubahan iklim yang ekstrem. Beberapa factor pemicunya adalah polusi udara, perusakan lingkungan dan limbah dari industri. Pemateri berikutnya, Dr. Abdul Haris, M.A. dalam pemaparannya menerangkan bagaimana manajemen yang baik untuk work from home dan learn from home. Jika diimplementasikan dengan baik maka tentu akan memudahkan dalam beradaptasi. Sedangkan Cherry Zin Oo membahas hasil risetnya pada era new normal. Menurutnya, pendidikan masa ini perlu menarik partisipan. Selain itu juga adanya masalah di aspek isu media. Adapun peluang yang muncul adalah keterbukaan askes individu pada pendidikan serta pengembangan karakter dengan memanfaatkan waktu selama pandemi. Sementara itu pada sesi kedua, konferensi tersebut menghadirkan Asst. Prof. Dr. Donludee Jaisut dari Kasertssart University Thailand, Assoc. Prof. Dr. Abdurrahman Raden Aji Haqqi dari University of Sultan Sharif Ali Islamic Brunei Darussalam, Dr. Ir. Rahayu Relawati, M.M., serta Dr. Magdalena Sztukiel dari Polandia. Berbeda dengan sesi sebelumnya, kali ini mereka membahas tema-tema di luar pendidikan. Mereka mengkaji mengenai bagaimana efek pandemi bisa melemahkan berbagai aspek kehidupan. Sleian itu juga perlu adanya persiapan matang dalam upaya memulihkan diri dari krisis. (haq/wil)