Pradana Boy Paparkan Kisah Rumi di Salat Idul Fitri UMM

Mengakhiri agenda bulan suci Ramadan 1442 Hijriyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar salat idulfitri berjamaah. Salat tersebut digelar di daerah kampus pada Kamis (13/5) lalu. Adapun yang menjadi penceramah pada kesempatan tersebut yaitu Pradana Boy ZTF, S.Ag., MA., PhD. Ia adalah asisten rektor bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyaan UMM. Sebelum menjalankan salat, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM menyampaikan permohonan maaf serta mengajak para jamaah untuk saling memaafkan. Menghilangkan rasa dengki dan dendam yang dipendam lalu membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Ia berharap, dengan begitu Ramadan yang sudah dijalani bisa berujung pada kesucian lahir dan batin. Usai salat, Boy yang didapuk menjadi khatib memulai paparannya dengan menceritakan kisah salah satu sufi terkenal, yakni Jalaluddin Rumi. Ia mengisahkan dialog antara sufi tersebut dengan salah satu penguasa yang ada di zaman itu. Sang penguasa berkata bahwa dulu orang kafir bersujud dan menyembah berhala. Kini kita juga melakukan hal yang sama, bersujud dan menghamba pada berhala-berhala yang ada dalam dirinya. Baik itu ketamakan, dendam, bahkan juga hasrat nafsu. “Kemudian ia bertanya bahwa masih pantaskah kita mengaku sebagai muslim?,” kisah Boy. Kemudian Rumi menjawab dengan menyampaikan bahwa hal semacam itu bisa terlintas di pikiran sang penguasa karena mata hatinya telah dibukakan oleh yang Maha Agung. Sehingga ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang keji. Rumi juga mengatakan bahwa air asin akan terasa asin jika lidah tersebut pernah merasakan manis. Begitupun dengan hal lain, sesuatu akan menjadi jelas setelah kita melihat hal yang sebaliknya. Jika dihubungkan dengan Ramadan, kisah tersebut memiliki relevansi pandangan terkait kesadaran. Kemudian Boy menjelaskan bahwa dari kisah tersebut dapat diambil sebuah kesadaran. Yakni kesadaran penguasa akan berhala dalam diri manusia. Kesadaran tersebut menjadi sebuah kesadaran simbolik akan kerentanan jiwa manusia untuk jatuh ke dalam fatamorgana kehidupan dunia. Lebih jauh juga untuk melihat dan memilah berhala apa saja yang ada dalam diri. Mulai dari kecemburuan, susah bersyukur hingga ketidakpuasan atas hasrat dunia. Ia juga menuturkan bahwa semua berhala yang ada dalam diri bertumpu pada satu sikap, yakni permintaan berlebih pada hal-hal berbau duniawi. Meski begitu, Boy juga menerangkan bahwa berdasarkan ayat yang ada dalam kitab suci, cinta terhadap hal yang berbau duniawi tidaklah salah. Karena hal-hal tersebut sudah disiapkan oleh Allah sebagai perhiasan untuk kehidupan manusia. Sebagaimana yang tercantum ada surat Ali Imron ayat 14. “Namun, jangan sampai kita terperdaya hingga akhirnya menjadi sebuah penuhanan dan penghambaan akan hawa nafsu,” tegasnya. Di samping itu, Boy melanjutkan bahwa puasa Ramadan juga menjadi awal tumbuhnya kesadaran bahwa ada sebagian manusia lain yang menjalani kehidupan pahit. Salah satunya yakni mereka yang harus menahan lapar yang luar biasa. “Manusia yang tak pernah merasakan kepahitan hidup, tentu sulit mencerna apa rasa lapar itu,” tuturnya. Maka Ramadan telah melatih kita untuk bisa berempati dengan keadaan orang lain. Keadaan di mana kita bisa merasakan situasi orang lain meski tidak berada di situasi tersebut. Sehingga bisa memupuk solidaritas dalam kehidupan bersama. Terakhir, Boy juga menuturkan bahwa puasa mengajak manusia untuk melakukan refleksi, baik refleksi ke dalam maupun ke luar. “Refleksi ke dalam dengan menyadari dan menghalau berhala-berhala dalam diri kita masing masing. Refleksi ke luar yakni dengan melatih kita untuk terampil menggunakan mata hati. Baik mata hati individu maupun sosial,” pungkasnya. (wil)

Dosen UMM Jelaskan Makna Perayaan Hari Idulfitri

Hari raya idulfitri merupakan salah satu hari raya besar yang diselenggarakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Idulfitri juga menandai selesainya kewajiban umat muslim untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Namun dalam penyelenggaraannya, kadang sebagian orang hanya menganggap hari raya idulfitri sebagai suatu selebrasi. Ditanya terkait realita tersebut, Dosen Fakultas Agama Islam UMM, Muhammad Arif Zuhri, Lc., M.HI, mengatakan bahwa secara garis besar Idulfitri dapat dimaknai dengan dua hal yaitu, makna lahir dan makna batin. Makna lahir bisa di lihat dari kata idulfitri yang berarti hari raya dan kembali berbuka atau ke rutinitas sebelum puasa. Dengan kata lain yakni kondisi di mana umat muslim diperbolehkan untuk makan dan minum. Jadi menyelenggarakan idulfitri sebagai selebrasi atas berakhirnya bulan ramadhan serta wujud dari rasa senang karena kita diperbolehkan makan dan minum kembali itu sebenarnya tidak apa-apa. “Namun kalau hanya dipahami sebatas itu saja, menurut saya sangat kurang tepat,” ujar dosen kelahiran Riau tersebut. Oleh karenanya, tidak hanya aspek lahirnya saja yang dimaknai, tapi juga dari segi batinnya juga. Ketua komisi dakwah MUI Dau ini berkata bahwa makna batin perayaan idulfitri dapat tercermin dalam tindakan dan perilaku seseorang yang semakin dekat dengan Tuhan. Selain itu juga semakin baik amal ibadahnya setelah bulan ramadhan usai. “Idulfitri juga dimaknai dengan kembali menjadi suci. Jadi saat seseorang dengan sungguh-sungguh menjalankan bulan ramadan dengan penuh ketaqwaan dan keimanan, maka idulfitri adalah saat di mana ia kembali menjadi suci,” ucap Arif. Ia melanjutkan bahwa makna batin idulfitri juga tercermin dari kepedulian seseorang kepada sesamanya. Hal ini ditandai dengan ditunaikannya zakat fitrah. Dalam merayakan idulfitri seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga membantu sesamanya yang kurang beruntung. “Jadi dalam memaknai hari raya idulfitri tidak hanya sebatas memakai pakaian baru, pergi kesana kemari untuk bersilaturahmi, maupun makan makanan yang enak. Lebih dari itu memaknai idulfitri berarti meningkatkan kualitas keimanan lebih dari bulan ramadhan dan semakin peka dalam tolong menolong sesama,” pungkasnya. (syi/wil)

Rajin Ikuti Program Internasional, Pengajar BIPA UMM Jadi Duta Bahasa Indonesia

Tidak hanya aktif di dunia pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga aktif dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia ke luar negeri. Seperti yang dilakukan oleh Sri Ayu Rahmadhani yang memperkenalkan Bahasa Indonesia. Ia mengenalkannya ke penduduk Filipina dan Vietnam melalui program Duta Bahasa Negara dua tahun belakangan. Program tersebut di usung oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dari berbagai universitas. Rini sapaan akrabnya, bercerita bahwa dirinya telah menyukai pelajaran bahasa sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun impian untuk belajar bahasa secara formal kandas karena tidak disetujui oleh orang tuanya. Meskipun tidak bisa mengambil peminatan Bahasa ketika SMA dan kuliah, Rani tetap belajar Bahasa asing melalui lembaga non-formal dan kegiatan internasional di UMM. “Meskipun saya tidak bisa menempun pendidikan formal untuk belajar berbagai bahasa, namun pendidikan non formal seperti Kursus Bahasa Asing (KBA), Belajar di Mandarin Corner UMM, pelatihan dari badan bahasa Jakarta, dan juga belajar dari mahasiswa Vietnam di UMM. Semuanya sangat membatu saya memahami berbagai bahasa,” ungkap pengajar BIPA UMM tersebut. Keaktifan Rini di BIPA UMM membuatnya terdorong untuk mengikuti program Duta Bahasa Negara. Setelah tiga kali mengalami penolakan, pada tahun 2019 Rani terpilih sebagai Duta Bahasa Negara di Filipina.  Berbagai kisah menarik dialaminya selama mengajar bahasa Indonesia di Filipina. “Saya datang di saat banyak gempa mengguncang Filipina. Setiap harinya selalu ada gempa dan skalanya sangat besar. Selain itu sangat berbahaya sekali bagi orang muslim untuk berkeliaran tanpa pengawalan, karena bisa saja dikira teroris. Selain dua hal tersebut, saya sangat senang mengajar bahasa Indonesia ke masyarakat Filipina karena mereka sangat antusias,” ujar pengajar asal Makassar itu. Setelah setahun di Filipina, tahun 2020 Rini kembali menjadi Duta Bahasa Negara namun di Vietnam. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Rini harus mengajar secara daring karena pandemi. Pada awal mengajar, ia sangat kesulitan untuk menyampaikan materi. Hal itu terjadi karena banyak masyarakat Vietnam tidak bisa berbahasa Inggris, sementara kemampuan bahasa Vietnam Rani masih dasar. “Untuk menanggulangi kendala itu, dalam menjelaskan arti dari sebuah kata saya menggunakan gambar-gambar. Lalu saya juga mengasah kemampuan bahasa Vietnam saya dengan belajar pada teman-teman Vietnam yang ada di UMM. Kadang saya juga minta bantuan teman untuk menerjemahkan materi ke bahasa Vietnam,” katanya menjelaskan. Pada akhir April 2021 lalu, Rini telah menyelesaikan program Duta Bahasa Negara di Vietnam. Rini berharap dengan adanya program Duta Bahasa Negara ini dapat mengenalkan kebudayaan Indonesia ke luar negeri. “Saya juga ingin agar bahasa Indonesia semakin dikenal dan diminati oleh masyarakat luar negeri,” pungkasnya. (*wil)

Ajak Masyarakat Cegah Korupsi, Dosen UMM Terbitkan Buku Pidana Mati

Kasus korupsi di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Hal itu membuat banyak kalangan merasa resah dan prihatin, salah satunya Tinuk Dwi Cahyani, SH., S.HI., M.Hum. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu akhirnya berinisiatif untuk menulis buku yang diberi judul “Pidana Mati Korupsi”. Adapun buku tersebut telah diterbitkan pada April tahun 2021 lalu. Saat ditemui, Tinuk menjelaskan bahwa ide tulisan ini berawal dari banyaknya warga dan rekan yang resah akan korupsi. Apalagi maraknya beberapa oknum yang tega mengambil anggaran bantuan yang seharusnya disalurkan di masa pandemi seperti saat ini. Sempat pula keluar isu ke masyarakat terkait hukuman mati bagi para pelanggarnya. Pun hal itu juga diamini oleh Presiden Joko Widodo. Ia menambahkan bahwa koruptor yang terjaring saat ini sebenarnya telah memenuhi unsur yang ada pada pasal Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang bisa dijatuhi hukuman mati. Lebih lanjut, Tinuk juga menjelaskan alasan kenapa para koruptor sampai saat ini belum mendapatkan hukuman tersebut. Padahal jika dilihat, ada segelintir pelaku terorisme dan narkotika yang divonis hukuman mati. Dalam bukunya, ia juga menjelaskan kenapa para koruptor hingga sekarang belum pernah mendapat hukuman mati. Sedangkan terorisme dan narkotika pernah dapat mendapat vonis tersebut. Padahal kasus korupsi yang dilakukan sudah memenuhi unsur pidana yang ada. “Ide tulisan ini berawal dari keresahan saya dan masyarakat terkait belum adanya koruptor yang dihukum mati. Maka dari itu saya ingin menuliskan apakah bisa koruptor dijatuhkan pidana mati seperti kasus terorisme maupun Narkotika,” ungkapnya. Dosen Fakultas Hukum UMM ini juga menjelaskan inti dari buku yang membahas tentang pidana mati dari hukum positif di Indonesia dengan Hukum Jinayah Islam. Membandingkan antara kedua hukum tersebut untuk membantu menemukan jawaban. Selain itu juga menjelaskan bagaimana bisa koruptor dijatuhi hukuman tersebut. Tinuk kembali menuturkan bahwa buku ini juga membahas aturan yuridis dan juga uraian pasal dan urutan serta konsep jatuhnya pidana mati. Sekaligus memberikan peringatan bagi penegak hukum untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Terakhir, Tinuk berharap buku ini bisa menjadi pengingat bagi penegak hukum untuk lebih tegas dalam menjalankan tugasnya. Begitu pula untuk masyarakat agar bisa mengawasi dan mengontrol apa yang dilakukan oleh pejabat negara. “Saya ingin buku ini tidak hanya menjadi bacaan saja, tapi juga menjadi pengingat untuk menumpas kasus korupsi yang menggerogoti negara kita” pungkasnya menerangkan.  (haq/wil)

DPPM UMM Dampingi Pengembangan Desa Wisata di Lembah Bidadari

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali lakukan pendampingan dan pengembangan desa wisata. Kegiatan ini berangkat dari kerja sama yang dilakukan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) dengan PT. Astra Internasional Tbk. Adapun tim ini terdiri dari Drs. Wiyono, MM., Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., dan Muhammad Afif Setiawan. ST. Mereka akan mendampingi perancangan desa wisata  di Lembah Bidadari, Desa Pandanrejo, Kecamatan Pagak, Malang sepanjang tahun 2020-2022. Salah satu program yang sudah dilaksanakan adalah kompetisi masak makanan khas desa pada April lalu. Wiyono, selaku kordinator tim tidak ingin rentetan program ini hanya besar di media dan dokumen saja. Ia ingin bergerak layaknya operasi senyap yang berjalan dengan tujuan juara dalam 3-4 tahun ke depan. Nantinya ia juga ingin agar desa ini bisa mandiri dan tidak terus bergantung pada UMM. Adapun kompetisi makanan khas ini bukan bertujuan untuk mencari pemenang, tapi menemukan makanan khas dari desa wisata ini. “Ketika sudah ada, makanan itu nantinya akan menjadi makanan khas yang menjadi identitas dari desa wisata yang sama-sama kita bangun ini,” tutur dosen Manajemen UMM ini. Sementara itu, Afif Setiawan, staf DPPM juga mengatakan bahwa program ini menjadi bagian dari program besar yang dicanangkan, yakni mendampingi desa binaan dengan mengembangkan kewirausahaan dan potensi desa wisata. Mereka melihat bahwa Desa Pandanrejo memiliki potensi, salah satunya adalah banyaknya makanan khas. Utamanya makanan yang berbahan dasar pandan. Bersama dengan Astra, DPPM juga telah menyiapkan agenda yang mampu menunjang pengembangan ini. Beberapa di antaranya adalah penguatan kewirausahaan untuk Bumdes, penggalian potensi desa wisata, branding, pengembangan dan pemberdayaan UMKM. “Tentunya dalam pengembangan UMKM kami memberikan alat yang lebih modern dan memudahkan dalam produksi produk kedepannya,” ungkap Afif. Sempat terhalang akses jalan yang susah dan fasilitas yang kurang memadai, tim DPPM UMM masih bisa memberikan usaha hang maksimal. Menurut Afif, perencanaan-perencanaan yang sudah dicanangkan juga berjalan dengan baik. Terakhir, ia berharap desa wisata Pandanrejo dapat terus berkembang lebih baik serta mampu bersaing dengan desa wisata lainnya. Khususnya dalam pengembangan potensi makanan yang akan menjadi ikon dan identitas desa tersebut. (haq/wil)

Lebaran Sivitas Akademika UMM di Mancanegara

Ramadan tahun ini agaknya sedikit berbeda bagi beberapa sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Khususnya mereka yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.  Berbagai cerita menarik telah mereka alami, mulai dari sulitnya menemukan makanan halal untuk sahur hingga rela menempuh jarak yang cukup jauh agar bisa bersua dan berbuka bersama kawan-kawan satu negara. Begitupun dengan suasana lebaran yang tidak semeriah di tanah air. Seruan takbir tidak akan ditemui dengan mudah, pun dengan makanan khas Indonesia yang biasa tersaji. Meski begitu, mereka tetap semangat dan bahagia bisa menemui Ramadan di Portugal, Taiwan, Polandia bahkan Australia. Septifa Leiliano Ceria misalnya, alumni Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM yang kini menempuh pendidikan di Australian National University. Ia mengaku cukup kesulitan untuk mengunjungi masjid karena harus ada proses pendaftaran pengunjung. Hal itu tidak lepas dari kebijakan protokol kesehatan yang masih berlaku di Canberra. “Suasana Bulan Suci dan lebaran tentu tidak semeriah di Indonesia. Namun Alhamdulillah masih ada kegiatan-kegiatan yang bisa mengobati rasa rindu dengan tanah air,” ungkap Ano. Salah satu agenda yang ia maksud adalah bazar dan festival kuliner makanan halal. Orang-orang muslim bisa dengan mudah mencicipi makanan dari berbagai negara. Ada makanan khas Turki, India, bahkan juga Pakistan. “Meski begitu makanan Indonesia  masih menjadi nomor satu di hati saya, terutama soto. Rasanya seperti di rumah, apalagi kalau bertemu dengan teman-teman dari Indonesia di pengajian,” terangnya. Selain itu, perempuan yang memiliki hobi hiking itu juga sempat menjadi volunter guru mengaji bagi anak-anak di sana. Ia merasa bahwa UMM memberikan banyak manfaat, utamanya kegiatan internasional yang disediakan di International Relation Office (IRO) maupun Bahasa Indonesia untuk penutur Asing (BIPA). Program-program itulah yang membuatnya terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari belahan dunia lain. Salah satunya yang kini sedang ia rasakan di Australia. Sementara itu, adapula Adjar Yusrandi Akbar, salah satu pengajar UMM yang sedang menuntut ilmu di Taiwan. Berbeda dengan Ano, Adjar mengaku cukup mudah melakukan ibadah di sana. Apalagi sudah ada musala yang disediakan untuk mahasiswa muslim. Selain itu jumlah penganut Islam di Asia University yang cukup banyak, memudahkannya dalam menjalankan ibadah puasa. Adjar kembali menuturkan bahwa ia dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Asia University Moslem Association menggelar salat idul fitri di kawasan kampus, tepatnya di lapangan voli. Tidak hanya hanya itu, adapula ramah tamah yang menyediakan makanan halal bagi para muslim. “Alhamdulillah saya masih bisa merasakan suasana idul fitri dengan nyaman meskipun jauh dari kampung halaman,” ucap Adjar. Adjar juga mengaku turut aktif memeriahkan agenda Ramadan dan lebaran di universitasnya. Tidak hanya mengikuti kajian, ia juga beberapa kali sempat mengisi kultum dan memasak untuk berbuka. “Mungkin karena terbiasa terjun aktif di Kegiatan Ramadan UMM seperti Baitul Arqam dan Safari Ramadan. Jadinya saya merasa senang ketika bisa memeriahkan agenda yang ada di Asia University Taiwan ini,” ungkapnya lebih lanjut. Terbang ke Polandia, ada Firdaus Faraj Ba-Gharib, mahasiswa akuntansi UMM yang menjalani pertukaran pelajar di SGH Warsaw School of Economics. Ia merupakan salah satu mahasiswa yang diberangkatkan oleh UMM melalui beasiswa Erasmus. Faraj mengaku cukup kesulitan dalam menjalani puasa di sana karena durasinya yang cukup lama, yakni 17-18 jam. Belum lagi jarak berbuka, salat tarawih, dan sahur yang berdekatan. “Oh iya, saya adalah satu-satunya muslim yang ada di kampus ini. Jadi hampir tidak ada suasana Ramadan dan lebaran yang saya temui,” jelasnya. Maka dari itu, Faraj, panggilan akrabnya beberapa berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk ikut dalam berbagai kegiatan. Ia juga seringkali menjadi volunter dalam membagikan makanan berbuka gratis kepada teman-teman yang ada di Polandia. Ia dan beberapa temannya di Warsaw juga akhirnya bisa melaksanakan salat id di salah satu flat milik temannya. Faraj merasa sangat beruntung menjadi bagian dari UMM. Banyak bekal yang UMM beri sehingga memudahkannya menjalani pertukaran mahasiswa di Polandia. “Banyaknya program dan organisasi yang UMM sediakan memberikan saya begitu banyak dampak positif. Salah satunya dalam bersosialisasi. Jadi saya bisa dengan mudah beradaptasi dan bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa asli sini maupun dari negara lain. Saya juga bangga bisa menjadi representasi dari UMM dan Islam di kampus ini,” cerita Faraj. Hal senada juga diungkapkan oleh Muhammad Ilham, mahasiswa Bahasa Inggris UMM yang sama-sama menjalani pertukaran mahasiswa di Braga, Portugal. Menurutnya, beragam kegiatan yang ia ikuti selama menjadi mahasiswa UMM sangatlah berguna ketika dia di Universidade do Minho. Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) UMM misalnya, yang membiasakannya untuk mengatur waktu dan prioritas. Utamanya dalam menjalani ibadah puasa dan salat Idul Fitri. Ia merasa bahwa banyak jasa yang sudah UMM berikan sehingga mampu mengantarnya merasakan atmosfer belajar di luar negeri. Apalagi UMM mewajibkan mahasiswa-mahasiswanya untuk mengikuti mata kuliah English for Specific Purpose (ESP) yang mana memudahkannya untuk belajar bahasa Inggris. “Alhamdulillah saya bersyukur menjadi bagian dari UMM. Berbagai program dan dukungan selalu disediakan untuk memaksimalkan potensi mahasiswanya,” terang Ilham. Adapun ia melaksanakan salat id di salah satu kediaman mahasiswa Indonesia bersama dengan warga tanah air lainnya. Adapula segelintir mahasiswa dari Timor Leste yang diundang sebagai bentuk silaturahmi. Kemudian mengunjungi KBRI yang berlokasi di kota Porto, bertemu dan menjalin persaudaraan dengan warga Indonesia lainnya. “Perasaan rindu akan keluarga di rumah memang sangat terasa. Namun kalau tidak begini, tidak akan ada cerita berbeda terkait Idul Fitri di negara lain,” pungkasnya menerangkan. Tidak jauh berbeda, Dion Maulana Prasetya, Dosen Hubungan Internasional UMM juga merindukan tanah air. Apalagi setahun belakangan, Turki menjalankan protokol kesehatan yang cukup ketat. Kadang juga menerapkan lockdown di beberapa tempat untuk menekan angka penularan. “Sangat rindu tentunya dengan orangtua di Indonesia. Tak lupa para saudara dan teman yang biasanya menemani menghabiskan waktu saat hari raya Idul Fitri,” jelasnya. Pria yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Ankara Yıldırım Beyazıt Üniversitesi ini kembali menceritakan bahwa etos kerja yang selama ini ia dapat di UMM memberikan kemudahan. Utamanya ketika tugas dan kegiatan kampusnya menumpuk. Mental yang ia miliki juga membantunya dalam menghadapi berbagai permasalahan, khususnya kebosanan saat harus menjaga diri di tempat ia tinggal. Pengalaman menarik lainnya datang dari Salim Toshboyev, salah satu alumni program BIPA UMM asal Uzbekistan. Ia merasakan beberapa perbedaan dalam menjalani puasa dan lebaran di kedua negara. Menurutnya, suasana Ramadan di Indonesia lebih terasa beserta pernak-pernik yang menghiasi. Begitupun dengan budaya mudik yang tidak

Mahasiswa UMM Menangi Lomba Ideation Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi tingkat nasional. Kali ini giliran tim dari mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berhasil meraih juara 1 lomba Ideation dengan tema “Women Preneur for a Better Indonesia”. Kompetisi yang digelar sejak Maret-April itu merupakan bagian dari perhelatan Epicentrum Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung. Adapun tim Jamet UMM digawangi oleh Rosihan Anwar Al-Afghoni, Dizar Cahya Afriana, dan Ramadhan Permana Agung. Ketiganya ikut serta dalam agenda tersebut secara daring. Dizar Cahya, salah satu anggota tim menjelaskan bahwa sebutan Jamet Group berawal dari kebingungan menentukan nama. Akhirnya, tercetuslah identitas tersebut yang mereka gunakan hingga saat ini. Menurutnya, selama ini istilah Jamet yang merupakan singkatan dari Jawa Metal dipandang sebagai hal yang norak. “Maka dari itu kami ingin mengubah pandangan orang bahwa tidak semua Jamet seperti yang dibayangkan.Alasan lain mengapa kami memilih sebutan tersebut adalah karena kami berasal dari dari Jawa Timur,” ungkapnya. Sesuai dengan tema perlombaan “Women Preneur for A Better Indonesia”, mereka akhirnya mendapatkan sosok perempuan Tangguh dalam diri Uswatun Hasanah. Perempuan yang berasal dari daerah Lereng Gunung Arjuna, lebih tepatnya Desa Bocek,  Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu adalah pemilik UMKM Briliant Batik. Menurut mereka, Uswatun memilik tekad yang kuat dalam memperkenalkan batik khas Desa Bocek. “Berangkat dari hal itu, kami berinisiatif merancang program yang dapat mengembangkan UMKM ini, sekaligus sebagai usaha membangun branding batik motif Parang Lombok ini. Apalagi mengingat pemasukan menurun seiring pandemic yang tidak berakhir,” terangnya. Dizar kembali mnejelaskan bahwa ada tujuh program yang dicanangkan untuk mengembangkan Briliant Batik. Ketujuh hal tersebut dirangkum apik dalam proposal yang diajukan dalam perlombaan. Pertama, Discovery Parang Lombok yang menjadi program awal dalam memperkenalkan motif batik Parang Lombok. Selanjutnya adalah Story Behind Briliant Batik sebagai pondasi membangun branding. Adapula Empowered, yang memberikan kampanye bahwa perempuan harus lebih berani berkarya. Ada juga Fashion Talk, Go E-Commerce, Call To Action dan Spread News. Sempat terhalang manajemen waktu, mereka akhirnya bisa menyelesaikannya dengan baik meski sering bertabrakan dengan padatnya jadwal kuliah. Ia menambahkan bahwa sebelum memenangi kejuaran tersebut, mereka juga harus melewati babak lima besar. Pada tahap itu ketiganya mengajukan dua model konten, yakni video program dan katalog foto. Terakhir, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2018 ini berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi Kembali di masa depan. Selain itu juga agar bisa meneruskan usaha pengembangan branding yang sudah dirancang. “Semoga ketujuh program tersebut dapat mengembangkan UMKM milik ibu Uswatun Hasanah,” pungkasnya menjelaskan (*wil)

Lebih Dekat dengan Mobil Terbang UMM, Mobil Edukasi Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menambah amunisi mobil andalannya. Setelah kedatangan mobil Kamis Membaca (KaCa) dan mobil Bioskop Keliling (Bioling), kini UMM menambah mobil baru yaitu mobil Bakti Terhadap Bangsa (Terbang). Mobil ini merupakan salah satu dukungan dari pihak  Perpustakaan Nasional kepada UMM karena telah mengelola perpustakaan dengan baik. Keberadaan mobil Terbang ini akan melengkapi dan mendukung mobil KaCa dan Bioling yang sebelumnya telah mengaspal ke berbagai daerah. Kunjungan pertama mobil Terbang UMM adalah ke penyintas gempa di Malang Selatan pada Kamis (6/5) kemarin. Agenda itu juga sekaligus menjadi ajang launching dari mobil tersebut. Ditemui di kantornya, penanggung jawab mobil Terbang M. Isnaini, M.Pd., mengatakan bahwa mobil ini lebih fokus dan diarahkan kepada komunitas serta orang-orang dewasa. Referensi buku juga akan disesuaikan dengan target komunitas yang akan di kunjungi. Hrapannya mereka akan mendapatkan ide dan pengetahuan baru. “Selain memberikan buku bacaan, kedepannya kami juga akan memberikan pelatihan-pelatihan bagi masyarakat yang dikunjungi. Selain itu juga menggelar agenda yang sesuai dengan komunitas yang dikunjungi,” tutur Isnaini melanjutkan. Salah satu edukasi yang diberikan adalah terkait pembangunan rumah anti gempa yang disampaikan di Desa Sumbertangkil. “Saat ke penyintas gempa kemarin, mobil KaCa berfokus menghibur anak-anak, sementara mobil Terbang lebih menyasar para orang tua. Di sana kami mengajarkan bagaimana cara mengatasi gempa sejak dini seperti menjelaskan kualitas bangunan yang baik. Lalu bagaimana cara merancang pembangunan rumah ketika kondisi sudah rusak begini dengan uang yang seminimal mungkin,” terang Isnaini. Terakhir, ia berharap dengan datangnya mobil Terbang ke UMM, akan melengkapi program Berbagi untuk Negeri yang telah dilaksanakan beberapa tahun belakangan. Mobil KaCa untuk menghibur dan mengedukasi anak-anak, mobil Bioling yang menyajikan tayangan, serta mobil Terbang yang memberikan pengetahuan dan edukasi kepada komunitas dan para orang tua. “Semoga cakupan dari program Berbagi untuk Negeri ini akan semakin meluas. Di samping itu juga untuk meningkatkan kebermanfaatan UMM dalam memberikan kontirbusi nyata kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (syi/wil)

Ramadan Berbagi, Markaz Dakwah Tebar Kebaikan di Malang Selatan

Kembali memberikan bantuan sekaligus menjalankan dakwah, Markaz Dakwah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan agenda menebar kebaikan. Kali ini mereka memberikan bantuan ke beberapa daerah yang membutuhkan. Salah satunya berupa bahan sembako di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Adapun distribusi bantuan ini telah dilakukan sejak awal Ramadhan lalu. Saat ditemui, Jamal, S.HI., M.Sy. selaku ketua Markaz Dakwah FAI UMM menjelaskan bahwa kegiatan itu diawali dengan pencarian lokasi yang mendapat dampak parah. Salah satunya adalah kecamatan Donomulyo yang mengalami kerusakan di berbagai aspek. Menurutnya, kecamatan yang terletak di Malang Selatan ini juga membutuhkan bahan pokok dalam beberapa minggu kedepan. Di samping itu, bantuan sembako juga disebarkan di tiga titik, yaitu kecamatan Donomulyo, Pantai Ngliyep dan Pantai Ngantep. Tentunya daerah yang dipilih merupakan lokasi yang terdampak gempa berskala 6,8 magnitudo beberapa minggu lalu. Terdata, ada sekitar 120 Kartu Keluarga (KK) yang harus mengungsi dan juga terdampak karena gempa tersebut. “Setelah kami cari tahu beberapa kali, kami menemukan 120 keluarga yang terdampak gempa. Penyebaran distribusi di beberapa titik juga dimaksudkan agar bisa memberi manfaat yang lebih luas lagi,” jelasnya. Dia juga menambahkan bahwa program ini menjadi salah satu bentuk beramal sekaligus menjadi fasilitas bagi donatur untuk menyalurkan sembako. Terlebih lagi suasana Ramadan yang mendorong mereka untuk memberi kebaikan lebih banyak. Membantu sesama membagi kebahagiaan bersama. Lebih lanjut, dituturkan oleh Jamal, protokol kesehatan tetap dipatuhi saat proses distribusi bantuan. Apalagi mengingat masih dalam situasi pandemi Covid-19. Selain itu ia menilai bahwa kamp pengungsian juga menjadi tempat yang rawan terkait penularan Covid, sehingga penting untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan. Terakhir, Jamal juga berharap bantuan ini bisa meringankan para masyarakat Donomulyo dan titik-titik distribusi bahan pokok. Paling tidak bisa menjadi persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan. “Apalagi sebentar lagi kita akan sampai pada hari raya Idul Fitri,” pungkasnya menerangkan. (haq/wil)

Bakti Sosial UMM di Wilayah Korban Gempa Tirtoyudo

Sebagai salah satu lokasi yang paling terdampak gempa, Desa Sumbertangkil Kecamatan Tirtoyudo terus berbenah. Dalam rangka melaksanakan agenda Syiar Ramadan in Campus 1442 H, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dalam agenda Bakti Sosial (Baksos) pada Kamis (06/05). Perjalanan menuju lokasi dimulai dengan pelepasan rombongan oleh Rektor UMM bertepat di Pelataran Dome UMM. Pada prosesi pelepasan, Dr. Fauzan, M.Pd. berpesan agar selalu menebar kebaikan di Desa Sumbertangkil. “Ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan tanggung jawab moral kita dalam rangka membatu masyarakat yang memerlukan bantuan. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan dapat memberikan kontribusi pada siapapun yang memerlukan,” ujar Fauzan. Diiringi Muhammadiyah University Rider (Murid), rombongan akhirnya berangkat menuju lokasi bakti sosial. Adapun rangkaian kegiatan baksos tersebut meliputi pembagian 200 paket sembako dan masker. Selain itu juga menyediakan pemeriksaan kesehatan serta konsultasi psikologis. Tidak ketinggalan pula sajian hiburan bagi anak-anak melalui Mobil KaCa dan Mobil Terbang UMM. “Terima kasih sebanyak-banyaknya atas kehadiran dan bantuan UMM kepada warga desa kami. Mudah-mudahan bantuan Bapak-Ibu dapat mengurangi beban warga yang mendapat musibah gempa bumi,” tutur Kepala Desa Sumbertangkil, Ari Joko Suyana. Di sisi lain, para orang tua juga mengikuti pemeriksaan kesehatan dan psikologis di posko yang didirikan UMM. Pemeriksaan kesehatan tersebut meliputi pemeriksaan tensi, denyut jantung, dan konsultasi kesehatan. Sementara itu, pemeriksaan psikologi meliputi asesmen awal mengenai keluhan pasca gempa. Salah satu warga desa, Siti Fatimah, mengatakan bahwa adanya pemeriksaan kesehatan ini memberikan edukasi dan informasi kepadanya dan warga desa mengenai pengetahuan kesehatan. “Saya jadi tahu bagaimana kondisi kesehatan saya. Kami juga mendapat pengetahuan mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi,” kata Siti. Di lokasi yang sama, bertempat di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Sumbertangkil, anak-anak terlihat antusias ketika menyimak dongeng yang disampaikan oleh salah satu relawan. Dongen Jojo dan Momo berhasil membaut gelak tawa di antara mereka. Anak-anak pun nampak semangat dalam mengikuti alunan nada saat menyanyikan lagu Mitigasi Gempa Bumi. Tidak cukup sampai di situ, anak-anak juga diajak bermain permainan bisik membisik dan memindahkan hulahup. Mereka terlihat asyik berlomba untuk menjadi kelompok pemenang. Permainan tersebut diakhiri dengan pemberian hadiah dan bingkisan kepada anak-anak. Hadiah yang diberikan berhasil membuat senyum mereka merekah. Anik Winarti salah satu orang tua anak berkata bahwa kegiatan ini sangat menghibur anak-anak di masa pandemi dan pasca gempa seperti ini. “Anak saya sangat senang sekali saat diberitahu akan ada kegiatan ini. Dia langsung memberi tahu teman-temannya untuk ikut datang juga karena sudah lama tidak ada menyenangkan seperti ini,” pungkasnya. (syi/adr/wil)