Peduli Sekolah Terdampak Pandemi, Mahasiswa UMM Turun Gunung

Akses internet yang belum merata di Indonesia memaksa beberapa sekolah tetap melakukan kegiatan secara luring meski di tengah pandemi. Karena hal tersebut, tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penyuluhan kesehatan secara rutin di Sekolah Dasar (SD) desa Prancak Madura. Agenda ini telah dilaksanakan sejak bulan Desember 2020 lalu. Vanieda Dwi Fitria, perwakilan tim mengungkapkan tidak banyak warga desa yang benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Hal itu terlihat saat ia dan tim melakukan survei langsung ke desa Prancak. Banyak warga yang tidak disiplin menggunakan masker dan seringkali berkerumun.  “Angka positif Covid di sini memang rendah. Mungkin hal itu yang membuat mereka kurang memperhatikan protokol kesehatan,” jelas mahasiswa kelahiran Kalimantan ini. Berangkat dari realita itu, mereka memutuskan untuk mengedukasi warga terkait protokol kesehatan, utamanya kepada anak-anak yang bersekolah secara luring. Ia mengaku program kegiatan kelompok mereka disambut baik oleh pemerintah setempat. “Kami mendapatkan bantuan berupa masker, sabun cuci tangan, dan hand sanitizer dari Dinas Kesehatan setempat,” tegas Vanieda. Anak kedua dari dua bersaudara ini menceritakan berbagai kesulitan yang dihadapi saat melakukan sosialisasi. Salah satunya adalah anak-anak yang tidak fasih berbahasa Indonesia, padahal tidak satupun anggota tim yang dapat berbicara bahasa Madura. “Anak-anak kelas tiga ke atas mungkin sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Namun tidak ada satupun siswa kelas satu dan dua yang fasih berbahasa Indonesia. Jadi kami meminta bantuan guru-guru untuk menerjemahkan,” lanjut Vanieda. Tidak hanya sampai disitu, tim PMM UMM juga memiliki keterbatasan pada akses transportasi. Setiap harinya mereka harus menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan berjalan kaki dari tempat menginap sampai ke sekolah. “Kebetulan kepala desa menyediakan tempat tinggal mengingat kami semua berasal dari luar daerah. Namun jarak dari pintu masuk desa ke sekolah sangat jauh. Kami juga tidak memiliki kendaraan untuk dipakai di sini,” pungkas mahasiswa Fakultas Hukum tersebut. (syi/wil)

Gelar Bedah Buku, PSIF UMM Bahas Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah

Pembahasan ijtihad seringkali menarik dan tiada habisnya. Begitupun juga dengan PSIF UMM yang ingin membahasnya secara mendalam melalui agenda bedah buku Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah Dar Al-Ahd Wa al-Syahadah: Elaborasi Syiar dan Pancasila. Gelaran ini diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Rabu (30/12), melalui kanal Youtube PSIF Official. Bedah buku tersebut menghadirkan dua pembicara utama. Pertama, Hasnan Bachtiar, MIMWAdv selaku penulis buku. Selain itu turut hadir pula Gonda Yumitro, MA yang akan membedah buku lebih detail serta Dr.Faridi, M.Si, selaku kepala PSIF UMM. Dalam sambutannya, Dr.Faridi, M.Si engungkapkan bahwa Muhammadiyah harus berperan aktif dalam pergeseran struktural masyarakat. Khususnya dalam tingkat global. “Tugas Muhammadiyah ke depan adalah memberi penyadaran kepada masyarakat. Utamanya mengenai pergeseran nilai-nilai kultural di masyarakat global dan hal-hal yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan.” Ujar Faridi lebih lanjut. Sementara itu, dalam pemaparannya Hasnan banyak menjelaskan latar belakang mengapa ia begitu tertarik dengan gagasan Ijtihad. Ia juga menjelaskan bahwa konsep Ijtihad dapat diaplikasikan melalui dua cara. Pertama, intertekstualitas yaitu kaitan antara teks satu dengan yang lain. Kedua adalah interkontekstualitas yang berarti mempertimbangkan sejarah terbentuknya teks dan sejarah masa kini. “Pancasila berisi terkait musyawarah dan demokrasi kerakyatan. Sementara jelas kita ketahui bahwa Islam juga banyak membahas tentang konsep musyawarah. Jadi Islam mengandung konsep-konsep ideal sebagaimana yang dikandung dalam pancasila. Bisa dikatakan bahwa keduanya saling berhubungan satu sama lain.” terang dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM tersebut. Di lain sisi, Gonda sangat mengapresiasi hadirnya buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan orang hanya membicarakan Islam, negara, atau Pancasila saja tanpa mengaitkan satu sama lain. Lain halnya dengan buku karangan Hasnan Bachtar ini yang membawa pembaharuan besar bagi bangsa dan negara melalui konsep Islam serta Pancasila. “Melalui konsep Ijtihad, saya melihat bahwa buku ini menawarkan banyak solusi terhadap berbagai permasalahan yang sekarang sedang terjadi di Indonesia. Terutama masalah radikalisme” ujar Gonda di akhir sesi. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Juara Lomba Fotografi Nasional

Berawal dari kecintaanya pada dunia fotografi, Khadijah Nurul Fitri, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara satu dalam lomba fotografi tingkat nasional pada perlombaan MAZRABI 2020. Perlombaan ini diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia pada tanggal 14-20 Desember yang lalu. Dalam perlombaan ini panitia mengambil tema “Pahlawan di Masa Pandemi”. Setelah tiga hari berkeliling Jombang untuk mengambil foto, Nurul akhirnya ia memutuskan untuk memotret para driver ojek online. Meski sepele, tapi Nurul menganggap peran para driver ojek online di masa pandemi sangat besar. Mereka membantu masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan tanpa harus keluar rumah serta berinteraksi dengan banyak orang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini juga bercerita bahwa dirinya mulai tertarik dan menekuni hobi fotografi sejak setahun yang lalu. Dia belajar semua teknis fotografi secara otodidak melalui internet. Namun karena masih pemula, ia banyak mengalami kendala teknis dalam persiapan lomba. “Saya memotret street photography selama tiga hari. Setelah selesai memotret, biasanya saya meminta pendapat senior-senior di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang saya ikuti secara daring. Mereka banyak memberi saya saran mengenai masalah teknis yang sering saya hadapi. Salah satunya pengaturan iso yang tepat dan angle dalam fotografi” ujar mahasiswa kelahiran Jombang ini. Nurul mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak menyangkan akan dapat meraih juara satu dalam kompetisi itu. Pasalnya peserta lain memiliki teknik dan kualitas foto yang lebih bangus ketimbang dirinya. Perlombaan ini juga merupakan lomba fotografi tingkat nasional yang pertama kali ia ikuti. “Saya sama sekali tidak menduga bisa memenangkan perlombaan ini. Saya juga sangat bersyukur karena dapat mengharumkan nama prodi dan kampus serta membuat orang tua saya bangga. Kedepannya saya akan terus melatih skill fotografi saya dan kembali mencetak karya-karya lainnya”  ujar Nurul di akhir wawancara. (syi/wil)

Segera Dibuka Prodi Cyber Security dan Digital Forensic

ISU keamanan dunia siber telah menjadi prioritas seluruh negara di dunia semenjak teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan. Berbanding lurus dengan tingginya tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, tingkat resiko dan ancaman penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi juga semakin tinggi dan kompleks. Hal inilah yang mendorong meningkatnya kebutuhan SDM di dalam dunia keamanan siber dan digital forensik. Menjawab tantangan ini, Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) segera membuka Program Studi (Prodi) Diploma 4 (D4) Studi Baru Cyber Security dan Digital Forensic. “Mahasiswa Prodi ini akan dibekali dengan pengetahuan, keterampilan serta kemampuan untuk melakukan serangkaian proses manajemen resiko sebagai bentuk mitigasi keamanan informasi,” terang Direktur Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan UMM dalam FGD pendirian prodi ini (1/7). Mahasiswa juga dibekali dengan keahlian memeriksa secara mendalam barang buktu elekronik dan digital yang berasal dari sistem jaringan dalam rangka mendapatkan data investigasi untuk dianalisa secara komprehensif. Praktik ini dilakukan sebagai bukti digital yang dapat digunakan untuk memecahkan kasus cybercrime. “Prodi ini juga akan bekerjasama dengan perusahaan network security baik dalam maupun luar negeri untuk melibatkan mahasiswa secara langsung di dunia kerja,” sambung Tulus. Kompetensi yang ditawarkan di antaranya mampu mengindentifikasi, menganalisa dan mengevaluasi berbagai penerapan aplikasi keamanan siber dan digital forensik terhadap ancaman yang teridenfikasi dan tidak teridentifikasi. “Selain itu, mahasiswa juga mampu menyusun security requirement untuk melindungi proses bisnis di dalam suatu organisasi yang ditangani secara memadai di dalam seluruh aspek dari enterprise architecture,” kata Tulus dalam diskusi yang dihadiri Wakil Rektor I dan IV UMM. Turut hadir Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) Ananto Kusuma Seta, Ph.D. yang menerangkan bahwa mahasiswa lulusan Prodi ini saat ini tengah banyak dibutuhkan oleh dunia industri swasta maupun di pemerintahan. “Beberapa prospek Prodi ini yakni Cyber Risk Specialist, Arsitek Keamanan Siber, Cyber Incident Investigation, Cybersecurity Governance Officer, Penetration Tester, dan lainnya,” ujar Ananto. Pembicara FGD yang juga hadir lainnya, yakni dari Asosiasi IHP (Indonesia Honeynet Project): Dr. Charles Lim, B.Sc., M.Sc; Ditjen DIKSI (Vokasi dan Profesi) Kemendikbud: Sawitri; DUDI, (Pre-Sales Manager HPE Aruba Indonesia): Denny; Deputi 4 Bidang Pemantauan dan Pengendalian BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) : Mayjen TNI (Mar) Dr. Suharyanto, S.E., M.M. (can)

Menilik Perjalanan Alumni UMM Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam

Menjadi anggota DPRD Jawa Timur termuda di usia 28 tahun pada 2009 lalu, menjadi langkah awalnya terjun ke dunia politik. Atas restu keluarga, Baddrut Tamam, alumni Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bertekad menjadi lebih bermanfaat untuk orang banyak. “Pada 2009 saya terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi termuda. Waktu itu masih berusia 28 tahun. Ini medan pengabdian saya untuk mencatat perubahan, memberikan yang terbaik, memperjuangkan rakyat,” ujarnya. Berguna bagi orang lain memang telah lama menjadi fokus hidupnya. Bahkan hal ini pula yang menjadi alasan putera dari Alm. KH. Jazuli Maliji memilih Fakultas Psikologi saat kuliah. “Saya tertarik dengan Psikologi karena ini berbicara orang dengan chemistry yang ada di dalamnya, karena manusia itu penuh dengan misteri. Dan belajar tentang manusia itu perlu kesabaran dan ketekunan yang luar biasa. Tujuan berikutnya untuk bisa memiliki teman dan saudara yang sebanyak-banyaknya,” katanya. Tidak asal pilih, angkatan 1998 ini mengaku, ada beberapa pertimbangan mengapa pilihannya jatuh pada UMM. ”Saya melihat UMM karena pertama akreditasinya. Yang kedua beberapa dosen yang saya lihat di brosur. Gedungnya juga asyik. Dari tiga pertimbangan itu saya memilih Fakultas Psikologi UMM. Dan hingga saat ini pelajaran psikologi kepribadian paling berkesan untuk saya,” kenangnya. Sejak kuliah, buku, diskusi, dan organisasi menjadi teman terbaik Baddrut. Bahkan, lantaran suka membaca, hampir seluruh uang jajan kiriman dari orang tua, dihabiskannya untuk membeli buku. Sementara itu, biaya hidup sehari-hari ia dapatkan dari berjualan kerupuk. “Kiriman uang dari orang tua, hampir semua saya belikan buku. Untuk kebutuhan makan saya jualan kerupuk. Kulak-an kerupuk dari Madura terus dikemas, dijual ke beberapa pasar di Malang. Sistemnya titip, berapa lakunya baru dibayar. Lalu berikutnya saya jual kerupuk yang sudah digoreng. Hasilnya lebih dari cukup,” kenangnya. Baddrut remaja juga suka menulis. Karya opininya kerap dimuat media cetak. Nikmat hasil menulis ini juga ikut dirasakan teman-temannya. “Kalau menulis opini ke media, dapat dari kampus 50.000. Makan waktu itu masih 2.500. Sehingga kalau nulis dapat 50.000, bisa traktir 4 orang teman hingga 5 kali makan. Mereka senang sekali,” katanya. Selain suka menulis, pria kelahiran Pamekasan 2 Desember 1978 ini juga aktif dalam kajian Islam dan psikologi Phenomenon, Senat Mahasiswa Fakultas, serta organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Terus memenuhi keseharian dengan berbagai kegiatan positif hingga lulus kuliah, karir Baddrut di organisasi juga terus menanjak. Pada 2008, ia dipercaya sebagai Ketua PMII Jawa Timur yang mencakup 3 provinsi, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Sembari itu, ia kerap diajak menjadi konsultan politik. Turut serta mendampingi beberapa pejabat, menyusun pemikiran-pemikiran untuk pemerintah provinsi dan kabupaten. Sepak terjangnya semakin diperhitungkan. Ia lalu diminta mencalonkan diri ke DPRD Jawa Timur dan pada 2009 terpilih menjadi anggota DPRD Jatim 2009-2014, berlanjut pada periode 2014-2019. Keinginannya untuk membawa masyarakat menjadi lebih baik, menggerakkan hatinya untuk selalu berkontribusi bagi rakyat. “2014 saya terpilih kembali menjadi anggota DPRD Provinsi. Baru setelah itu 2018 oleh mayoritas masyarakat dipilih menjadi bupati di Kabupaten Pamekasan,” kata Baddrut. Tidak main-main, sebelum 100 hari masa kerjanya, Baddrut menerima penghargaan dari MURI karena mampu membuat Mall Pelayanan Publik tercepat di Indonesia. “Ini bagian dari ikhtiar untuk memberikan service excellent dan cepat kepada masyarakat,” katanya. Kedepannya Baddrut bercita-cita, kelak ia ingin menjadi Presiden, mengulang sejarah kejayaan Aria Wiraraja, pendiri Kerajaan Majapahit yang juga berasal dari pulau garam. “Aria Wiraraja itu orang Madura yang tidak hanya menyatukan Indonesia, namun juga Nusantara,” pungkasnya. (sil/can)

Frasa Tidak Sengaja Kasus Novel Baswedan

MASYARAKAT Indonesia sedang ramai membicarakan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap terdakwa kasus penyiraman air keras ke Novel Baswedan. Menurut JPU, penyerang tidak sengaja menyiram air keras ke mata Novel. Frasa “tidak sengaja” kemudian menjadi trending di media sosial. Menyikapi isu ini, Pakar Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Tongat, SH., MHum. menyampaikan, bahwa unsur tidak sengaja dalam kontruksi suatu tindak pidana termasuk dalam tindak pidana penganiayaan terhadap Novel Baswedan harus dilihat secara cermat. Mengingat, unsur ketidaksengajaan (tidak sengaja) sebagai bagian dari kesalahan akan sangat menentukan berat ringannya pidana kepada seorang pelaku tindak pidana. “Sebagai bagian dari kesalahan, unsur tidak sengaja dalam hukum pidana perlu melihat secara obyektif. Mengingat, dalam konteks hukum pidana sekarang dianut konsep kesalahan secara normatif. Karena itu untuk menentukan apakah seseorang bisa dianggap lalai atau tidak sengaja melakukan suatu tindak pidana, harus dilihat bagaimana penilaian secara obyektif terhadap hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya. Penilaian secara obyektif tersebut maksudnya adalah penilaian dari luar diri si pelaku. Tidak sekedar dilihat hubungan batin antara pelaku dan perbuatannya. Intinya, ada tidaknya ketidaksengajaan itu tidak didasarkan pada pengakuan sunyektif pelaku. Sebab, orang punya kecenderungan berbohong. Sehingga akan sulit, jika pembuktian atas kesalahan itu ditumpukan pada pengakuan subyektif pelaku. Dalam konteks kasus Novel ini  silakan diuji, apakah mungkin orang yg bersengaja datang ke suatu tempat naik sepeda motor dengan rencana matang untuk menyiramkan air keras pada seseorang, lantas perbuatannya itu dianggap “tidak sengaja menyiram  korban,” ujar Dr. Tongat dalam acara Alumni Bicara yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponogoro (Undip) baru-baru ini (26/6). Tongat lantas memberikan analisis secara hukum, mengapa penyerang Novel dituntut rendah. Tongat yang merupakan Dekan Fakultas Hukum UMM ini memantik pendiskusian dengan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut: Sejak kapan “mata” menjadi objek tersendiri dalam penganiayaan? Benarkah unsur “tidak sengaja” dapat melekat pada unsur perbuatan dalam konteks tindak pidana penganiayaan? Dan, rumus mana yang digunakan sehingga muncul tuntuan 1 (satu) tahun? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan itu, Tongat lantas menguraikan tentang bagaimana konstruksi hukum tentang tindak pidana penganiayaan untuk menunjukkan apa sebenarnya yang menjadi obyek tindak pidana penganiayaan dan menunjukkan, bahwa dalam konteks tindak pidana penganiayaan yang didakwakan kepada penyerang Novel, tidak satupun yang memuat unsur ketidaksengajaan pada aspek perbuatannya. “Konstruksi hukum penganiayaan, dijelaskan yakni suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain, akibat mana semata-mata merupakan satu-satunya tujuan si pelaku”. Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan tindak pidana penganiayaan yang dimaksud dalam Pasal 351-358 KUHP, termasuk yang didakwakan kepada pelaku penyerang Novel. Jadi dalam berbagai tindak pidana penganiayaan itu, tidak ada yang unsur perbuatannya dilakukan tanpa sengaja. Unsur ketidaksengajaan dalam pasal-pasal tersebut hanya mungkin melekat pada aspek akibat, bukan pada aspek perbuata,” demikian disampaikan Tongat dalam diskusi online yang diadakan via Zoom. Lebih dalam, Tongat menyatakan, bahwa objek tindak pidana penganiayaan adalah tubuh. Selanjutnya, dijelaskan, bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tubuh merupakan keseluruhan jasad manusia dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sementara mata, merupakan bagian dari tubuh itu sendiri. “Dalam tindak pidana penganiayaan, mata bukan objek tersendiri yang terpisah dari tubuh,” tegasnya. Ia kembali mengajukan pertanyaan kepada hadirin, benarkah unsur ketidaksengajaan dapat melekat pada konteks tindak pidana penganiayaan? Terkait tuntutan satu tahun penjara kepada pelaku, Tongat mempertanyakan rumus yang digunakan oleh JPU. Pertanyaan itu berangkat dari beberapa logika sebagai berikt. Pertama, semua pasal yang didakwakan kepada pelaku adalah delik dolus. “Argumentasi yang menyatakan “terdakwa tidak sengaja” menyiram air keras ke mata (tidak sengaja melukai mata), hanya mungkin ada jika perbuatan dalam penganiayaan berunsur kealpaan,” demikian disebut Tongat. Kedua, dalam yurisprudensi juga sudah demikian terang, sambung Tongat, penyiraman air keras itu kualifikasinya adalah penganiayaan berat. Ia lantas berkaca pada sejumlah kasus penyiraman air keras. Misalnya kasus Lamaji yang dituntut 15 tahun penjara karena menyiram air keras ke pemandu karaoke dan beberapa yurisprudensi sejenis. Ia berkesimpulan, penegak hukum telah mereduksi konstruksi tindak pidana penganiayaan, sehingga melahirkan penafsiran yang tidak tepat dan tidak valid. Dalam tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Pasal 351-358 KUHP, termasuk pasal yang didakwakan kepada terdakwa penyerang Novel, tidak ada aspek “perbuatan” yang berunsur kealpaan. Unsur kealpaan dalam tindak pidana tersebut hanya mungkin melekat pada unsur “akibat”. Jika JPU tetap pada argumentasinya, bahwa Terdakwa TIDAK SENGAJA menyiram air keras ke mata Novel Baswedan, maka Terdakwa harus dibebaskan atas dakwaan Pasal 353 (2) KUHP. (can)

Lulus Skripsi di Semester 6 Berkat Studi Ekskursi di Bangkok

MESKI dalam situasi pandemi Covid-19, Program Studi Pendidikan Guru Sekoah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tetap menggelar ujian skripsi, Senin (15/6). Menariknya, ujian skripsi ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir seperti pada umumnya, tetapi juga diikuti oleh mahasiswa yang baru berada di semester 6. Adalah Senja Richmasari, mahasiswa istimewa yang berhasil merampungkan skripsi berjudul “Pengembangan Media Interaktif The Math CAPPYFAM (Cartoon Happy Family) dengan Menggunakan Aplikasi Adobe Flash pada Materi Keliling dan Luas Bangun Datar Kelas 4 Sekolah Dasar” pada semester 6 berkat kegiatan Studi Ekskursi Luar Negeri (SE LN) di Bangkok, Thailand. Pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2019, Senja mengikuti SE LN di Bangkok. Pelaksanaan SE LN pada tanggal yang sudah ditentukan ini merupakan rangkaian dari proses seleksi tingkat Prodi PGSD UMM. Setiap mahasiswa yang akan mengikuti SE LN akan mendapat pembimbing skripsi terlebih dahulu. Sehingga pada saat pelaksanaan di Bangkok, mahasiswa sekaligus mengambil data penelitian skripsi di Sekolah Indonesia Bangkok. “Setelah menyelesaikan kegiatan tersebut, saya menyusun laporan SE LN yang juga merupakan hasil penelitian dari skripsi saya. Oleh karenanya, tahapan akhir SE LN yang mengantarkan terselesaikannya skripsi saya di semester 6 ini,” terang mahasiswa asal Sidoarjo ini. SE LN merupakan bagian dari program inovatif SAL-Experience (Student Active Learning Experience) yang dikembangkan Prodi PGSD UMM.  Program ini dibuat dalam rangka mewujudkan belajar yang inovatif, kreatif, bermakna, dan menyenangkan bagi para mahasiswa di setiap mata kuliah. Selain itu, program SAL-experience ini juga untuk mewujudkan program universitas yaitu KTW (Kelulusan Tepat Waktu). “Universitas memiliki program Kelulusan Tepat Waktu (KTW). Program ini kemudian diterjemahkan ke dalam program SAL-Experince ini yang berfokus pada optimalisasi proses dan output perkuliahan. Dengan kata lain, Program KTW ini diinisiasi dengan adanya kebiasaan budaya ilmiah di kalangan mahasiswa pada saat perkuliahan,” ungkap Kaprodi PGSD UMM, Dyah Worowirastri, S.Pd.,M.Pd. Banyak manfaat yang diperoleh Senja dari program SE LN. Seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, Senja tidak hanya menyelesaikan program SE LN, tetapi juga mendapatkan pengalaman internasional dan menjadi lulusan pertama pada angkatan 2017. “Program SE-LN, memberikan berbagai pengalaman di kancah internasional. Saya mendapat kesempatan untuk mengajar, meneliti di sekolah Indonesia Bangkok merupakan pengalaman yang berharga dalam hidup saya. Bimbingan skripsi dan Ujian Skripsi bisa diselesaikan dalam sekali kegiatan. Hingga mengantarkan saya untuk menjadi mahasiswa pertama angkatan 2017 yang sudah Ujian Skripsi. Kali ini saya tinggal menyelesaikan dua mata kuliah lagi di semester 7 untuk bisa lulus sarjana,” tutur  mahasiswa yang meraih IPK 3,93 ini. Dalam beberapa bulan ke depan, tak kurang dari 35 mahasiswa siap menyusul Senja untuk lulus lebih cepat berkat SAL-Experince dengan produk yang beragam seperti publikasi ilmiah, buku ber-ISBN, HKI, dan konten Youtube. Ini menjadi bukti nyata inovasi-inovasi Prodi PGSD UM mampu mendorong mahasiswa untuk terus berkarya dan mempercepat masa studinya. (fid/can)

Tawarkan Geodiplomasi sebagai Internasionalisasi Bahasa

LEMBAGA Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tawarkan manajeman kelembagaan dan geodiplomasi dalam perwujudan internasionalisasi bahasa. Hal tersebut diulas dalam seminar Daring yang diselenggarakan UPT BIPA UMM pada Jumat (26/6) dengan tajuk “Penguatan Diplomasi Bahasa dan Kebudayaan melalui Pemberdayaan Pengelolaan Kelembagan BIPA”. Dalam seminar tersebut turut hadir sebagai pemateri Philippe Grange, Atase Kerjasama Linguistik Institut Francais Indonesia. Philippe menyampaikan bahwa citra Indonesia di Prancis tidak semua bagus. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai kesaksian orang Prancis yang masih beranggapan bahwa Indonesia itu mencekam dan masih tertinggal. Citra tersebut hadir ditengarai beberapa karya yang ditulis dan beredar di Eropa Barat menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal, seperti cerita perjalanan yang ditulis dalam buku Autour Du Monde yang menceritakan bahwa di Jawa buaya dapat memakan perahu serta negara yang banyak memiliki binatang buas. Oleh sebab itu, Philipe juga mengajak masyarakat Indonesia untuk memikirkan strategi jitu untuk mencitrakan ekostisme dan keindahan Indonesia dimata dunia. Bahkan Phillipe mengilustrasikan kenapa K-Pop dapat membius dunia. “Apakah kita, Indonesia, tidak bisa membuat sesuatu yang bagus seperti I-Pop misalnya,” ungkapnya. Uraian tersebut terlontar secara emosianal dengan kata “Kita” karena Philipe merasa dirinya sebagai orang Indonesia dan mencintai Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak warga negara Prancis yang mengenal Indonesia. Bahkan mereka lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia. Hal itu juga menjadi bukti nyata bahwa pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian dan lembaga BIPA mengupayakan strategi jitu untuk dapat meningkatkan citra Indonesia di mata dunia. Tidak hanya itu dalam seminar tersebut juga dibahas bagaimana bentuk diplomasi yang efektif untuk meningkatkan minat pemelajar asing untuk belajar bahasa Indonesia. Dalam hal ini Nurul Sofia sebagai kasubid Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri juga membeberkan bebarapa langkah diplomasi budaya yang pernah dilakukan ketika menjadi Pensosbud di KBRI Sofia Bulgaria. Kegiatan diplomasi budaya dapat dijadikan langkah produktif dalam diplomasi, dikarenakan lebih cair serta memiliki peluang untuk membuka kerjasama di bidang lainnya. Mengadakan kegiatan seperti pameran busana, pertunjukan budaya serta pemberian beasiswa memiliki dampak yang luar biasa terhadap citra Indonesia di mata dunia. Mengakomodir hal tersebut Kepala Divisi Internasionalisasi Program Faizin membebrkan fakta bahwa sudah selayaknya lembaga BIPA memiliki manajemen ke-BIPA-an untuk mengukur serta mengevaluasi berbagai kegiatan yang dilakukan. Selama ini, BIPA lebih cenderung membahas spesifikasi terhadap proses pembelajaran sedangkan dalam pelaksanaan proses tersebut sangat dibutuhkan manajemen sebagai alokasi ukuran keberhasilan serta mengembangkan BIPA itu sendiri. Dalam hal ini Faizin menawarkan lima hal yang harus dilakukan dalam pelaksanaan proses ke-BIPA-an meliputi perancangan, struktur serta pembagian tugas, komunikasi, pengawasan, dan pemecahan masalah. Dalam hal komunikasi, Faizin juga membeberkan perlunya penentuan strategi yang harus digunakan untuk sarana komunikasi atau promosi terhadap pihak luar. “Kita perlu memilih strategi dalam hal ini apakah kita akan menggunakan geodiplomasi atau geostrategi dalam rangka mencapai citra positif Indonesia” ujar Faizin. Geo sebagai wujud takaran bahwa ada sesuatu yang dilihat yakni dari aspek geografi untuk mengukur serta melihat iklim sosial negara tersebut. Dengan demikian diplomasi yang kita lakukan memiliki ukuran serta kejelasan capaian yang valid karena direkayasa dengan strategi yang baik pula. (fai/can)

Sinergi UMM-Pertamina Bikin 32 UMKM Peternak di Malang Naik Kelas

PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus menyalurkan bantuan modal usaha Program Kemitraan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mendukung UMKM naik kelas. Bantuan modal yang disalurkan adalah sebesar Rp 850 juta kepada 32 mitra UMKM di wilayah Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Program Kemitraan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri sekaligus memberikan multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah operasi Pertamina. Program ini memberikan pinjaman modal kepada UMKM, dengan menawarkan jasa administrasi yang rendah, yaitu 3% saldo menurun setiap tahun dan maksimal pinjaman selama tiga tahun sejak awal tahun peminjaman. “Pertamina bermitra dengan Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Studi Ekonomi Pembangunan untuk menyeleksi pelaku UMKM yang bergerak di bidang peternakan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dengan menjadi mitra binaan Pertamina,” ungkap Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji, Senin (22/6). Peranan lembaga akademi yang dalam hal ini adalah  prodi ekonomi pembangunan UMM untuk menjalankan program pendampingan usaha secara intensif dan melekat, mulai dari penyiapan rencana usaha, pemanfaatan modal untuk lahan dan bibit ternak, hingga pengelolaan dan pembuatan laporan keuangan. Pendampingan menyeluruh terkait manajemen bisnis usaha ternak yang terintegrasi hulu dan hilir “Kami berharap, selain dapat meningkatkan pendapatan peternak yang menjadi mitra binaan Pertamina, Program Kemitraan ini juga mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada pendanaan dari lembaga non perbankan seperti rentenir,” tambah Rustam. Hendra Kusuma, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM menyampaikan bahwa kondisi pandemi tidak boleh menjadikan para peternak untuk berhenti dan menyerah. “UMM bersama Pertamina berupaya membuat peternak mitra binaan Pertamina menjadi tahan krisis, dan menjadi UMKM yang unggul, hal ini yang menjadi target kami dengan penyuluhan oleh praktisi dari UMM agar para peternak dapat mengimplementasikan inovasi-inovasi baru dalam bidang peternakan,” ujar Hendra. Hendra menjelaskan, konsep yg dibangun di Ampelgading adalah penggemukan kambing domba dengan konsep komunal dan terintegrasi dengan sistem pemasaran. Selain pendampingan, pihak UMM juga memfasilitasi pemasarannya dengan menghubungan peternak ke pengusaha karkas (daging siap jual). Peran bidang industri UMKM sangat membantu dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan bergeraknya ekonomi daerah. Sebelumnya, di wilayah Jawa Timur sendiri, Pertamina telah menyalurkan dana sebesar Rp 29 Miliar dari Tahun 2018 hingga Mei 2020. Adapun dana tersebut disalurkan kepada lebih dari 400 mitra binaan yang terdaftar di Pertamina MOR V dalam tiga tahun terakhir. Menambahkan, Setyo Wahyu Sulistyono selaku tim pendampingan yang merupakan dosen Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, bentuk integrasi manajemen bisnis ini merupakan penguatan ekonomi sektor primer dari hulu dan hilir. Sehingga produk pertanian mampu memiliki daya saing hingga tingkat nasional yang disediakan oleh regional. “Dengan semangat local wisdom in global thinking, daya saing daerah menjadi hal yang diperhitungkan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” ujar Setyo. (*can)

RSU UMM Bagikan Faceshield untuk Pedagang Pasar

TIM Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat Satgas Covid-19 Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan aksi pembagian face shield kepada para pedagang di pasar sekitar RSU UMM, Sabtu (27/6). Aksi yang dipimpin oleh Ketua Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat, dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS, ini membagikan sebanyak 250 buah face shield di tiga pasar, yaitu Pasar Dinoyo, Pasar Landungsari, dan Pasar Karangploso. “Jelang era New Normal ini, dikhawatirkan masyarakat akan beraktivitas seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. Maka dari itu, tim kami melakukan edukasi kepada masyarakat agar dalam kegiatan sehari-harinya masyarakat tetap mengikuti protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan salah satunya menggunakan face shield juga,” ungkap dr. Viva ketika ditanya mengenai tujuan dari pemberian face shield untuk pedagang pasar. Face shield sendiri bertujuan untuk melindungi baik pedagang maupun pembeli yang ada di pasar dari droplet atau percikan air ludah, ketika bertransaksi jual-beli. Aksi bagi-bagi face shield kepada pedagang ini merupakan aksi pertama yang dilakukan oleh Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat Satgas Covid-19 RSU UMM dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan edukasi agar masyarakat tetap sehat dan mengikuti protokol kesehatan pemerintah jelang era new normal. Menurut dr. Viva sebagian besar pengunjung dari RSU UMM merupakan masyarakat dari ketiga pasar dari daerah tersebut. Dipilihnya ketiga pasar tersebut, karena dinilai beresiko terjadinya penularan. Terlebih belum banyaknya masyarakat yang sadar. Serta, harapan ke depannya, Tim Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat Satgas Covid-19 RSU UMM akan tetap melakukan kegiatan edukasi rutin untuk masyarakat dengan menggunakan media lainnya. Di Pasar Dinoyo sendiri, aksi bagi-bagi faceshield merupakan yang pertama kali dilakukan. Aksi ini pun disambut positif. “Ini merupakan yang pertama kali di sini. Sebelumnya itu hanya sosialisasi saja melalui pengeras suara (paging) yang ada di kantor, dan pernah ada yang melakukan bagi-bagi masker saja. Semoga bisa ada kegiatan seperti ini lagi, karena lebih efektif ketika menggunakan face shield juga sebenarnya, ya,” ungkap Purnomo selaku Kepala Pasar Terpadu Dinoyo. (*can)