Hardiknas UMM, Buat Terobosan Siap Dirikan Direktorat Saintek

Hari pendidikan nasional (Hardiknas) menjadi momentum yang tepat untuk bersyukur dan menghadirkan energi positif dalam setiap langkah pengabdian, baik untuk persyarikatan Muhammadiyah maupun bangsa Indonesia secara luas. Hal itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. dalam upacara peringatan Hardiknas, 2 Mei lalu di Helipad UMM. Ribuan sivitas akademika turut memeriahkan upacara peringatan tersebut. Momen ini tidak hanya menjadi sarana refleksi atas pentingnya pendidikan nasional, tetapi juga menjadi ajang apresiasi terhadap sivitas akademika UMM yang berprestasi. Dalam upacara tersebut diumumkan beberapa penghargaan penting, termasuk mahasiswa berprestasi dari fakultas hukum, psikologi, dan teknik, serta pegawai dan dosen yang telah mengabdi lama di Kampus Putih. “Marilah selalu kita panjatkan puji syukur dan ingat Allah agar pada setiap momen penting di dalam kehidupan pribadi maupun kebangsaan kita mampu mengumpulkan energi positif yang akan membawa kita untuk bekerja dan terus berkhidmat di persyarikatan Muhammadiyah untuk kepentingan bangsa Indonesia,” ucapnya. Nazaruddin juga menekankan komitmen universitas dalam menghadapi tantangan global melalui transformasi dan penguatan potensi internal kampus. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan pelatihan dasar teknologi digital untuk seluruh program studi, termasuk pengenalan bahasa pemrograman Python yang menjadikan UMM sebagai pelopor dalam integrasi teknologi di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa UMM terus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, metaverse, dan data analitik agar lulusannya lebih siap menghadapi masa depan. Ia juga menegaskan pentingnya kesinambungan dalam kepemimpinan kampus agar visi dan misi pengembangan tidak terputus. Ia juga mengungkapkan pendirian Direktorat Saintek UMM, yang akan fokus pada riset terapan di bidang pangan, energi terbarukan, pengembangan layanan kesehatan, dan lingkungan. “Konsep kelembagaan ini sebenarnya sudah dikenal lama, Saintek sebagai inti dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora sebagai plasmanya. Kita semua sudah berhasil dalam banyak bidang, tetapi jika kita meningkatkan kolaborasi, kerjasama, saling pengertian di antara kita semua, insya Allah potensi UMM akan menjadi lebih mengedepan,” ujarnya. Upacara Hari Pendidikan Nasional ini menjadi simbol semangat UMM dalam terus memperkuat dedikasinya di dunia pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan semangat untuk menjadi universitas yang unggul di tingkat nasional maupun internasional. (vin/wil)

Sinergi dengan Pemerintah, UMM Launching Kampus Berdampak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen penuh menjadi Kampus Berdampak yang memberikan manfaat untuk masyarakat. Komitmen ini semakin kuat dengan adanya launching #KampusBerdampak di UMM pada 2 Mei 2025 ini. Ini merupakan wujud komitmen membangun negeri yang selaras dengan program pemerintah yang juga baru diluncurkan. Selama ini, berbagai program UMM baik dari ide-ide dari dosen maupun mahasiswa telah sukses dijalankan dan berdampak bagi masyarakat. Mulai dari menciptakan robot SAR, Biofarm pakan ternak, telur UMM Chic, pengembangan desa wisata, pelatihan ecoprint, dan ribuan lainnya. Adapun launching tersebut dilanjutkan dengan kuliah umum bertajuk “Transformative Islamic Finance as Catalyst for Growth” yang berkolaborasi bersama Bank Syariah Indonesia. Turut hadir dari Durham University, Prof. Mehmet Asutay yang memaparkan tentang tranformasi finansial yang sesuai pada norma dan hukum Islam. Terkait agenda itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa Kampus Berdampak adalah gerakan yang dilakukan oleh mayoritas Perguruan Tinggi di Indonesia untuk melakukan gerakan masing-masing. Utamanya agar pendidikan lebih dekat dengan masyarakat, tidak berada di menara gading. Memberikan manfaat langsung pada masyarakat, tidak hanya memberikan teori-teori semata. “UMM juga mendirikan Direktorat Saintek yang menjadi wadah pengembangan ide serta program yang solutif bagi masyarakat. Apalagi selama ini, UMM juga telah banyak berkecimpung langsung di tengah masalah yang dihadapi masyarakat. Ini juga menjadi salah satu gerakan UMM dalam mewujudkan sustainable environment, renewable energy, serta memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,” tegasnya. Nazar juga menyambut baik kolaborasi dan kunjungan dari berbagai pihak yang telah menjadikan UMM sebagai host berbagai program. Ini merupakan suatu experience dan peluang yang baik bagi para mahasiswa untuk lebih mendapatkan wawasan yang luas dalam hal finansial dalam pandangan syariat Islam. Sebagai negara yang mayoritas Islam dan mendukung finansial inklusi, pengenalan pada sistem keuangan Islam menjadi penting untuk didalami karena merupakan bagian dari sebuah ekosistem yang ingin diwujudkan bersama-sama. Sementara itu, Prof. Mehmet menjelaskan bahwa Keuangan Islam memberikan janji. Janji itu adalah untuk keadilan dari sisi eksistensi bagi semua orang. Karena semua sumber daya yang diciptakan oleh Allah SWT adalah milik-Nya termasuk modal. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sepenuhnya menjadi milik manusia. Ini adalah dunia milik semua orang untuk mencapai falah yaitu mencapai kesejahteraan dan keberhasikan yang komprehensif. Baik dalam aspek dunia, maupun akhirat. Itulah mengapa keungan syari’ah lebih selektif pada proses. Ia juga menyoroti isu dan tantangan finansial yang terjadi di tengah masyarakat. Serta perlunya disrupsi dengan munculnya ekonomi moral Islam dengan gerakan perubahan dari Dis-Equilibrium dan dominasi menuju Mizan, Balance, maupun Ihsan melalui Islah. Ekonomi moral Islam adalah suatu pendekatan dan proses penafsiran serta penyelesaian masalah-masalah ekonomi manusia berdasarkan nilai-nilai, norma, hukum, dan lembaga yang ditentukan dalam dan berasal dari sumber-sumber Islam. Di sisi lain,  Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo mengatakan bahwa pihaknya berterima kasih kepada UMM karena sudah berkenan menjadi host dalam agenda yang merupakan bagian dari rangkaian BSI Global Islamic Finance Summit (GIFS). Ia menyebut UMM sebagai satu satunya perguruan tinggi di luar Jabodetabek yang dikunjungi oleh BSI dalam program GIFS. “Satu hal yang saya rasakan yakni semangat untuk terus maju. Tidak cukup sampai di sini saja. Tapi mampu mengembangkan berbagai hal dan program. Melalui komitmen sebagai kampus berdampak ini, saya yakin UMM bisa mendorong kualitas dan pengembangan keuangan syariah. Ini juga menjadi kesempatan bagus bagi mahasiswa dilanjutkan perjuangan untuk menjadi generasi berdampak,” katanya mengakhiri. (din/wil)

Ekosistem Bangun Ekonomi Global: “Butuh Semua Lintas Disiplin Ilmu, Tidak Terkotak-kotak”

(Sambutan Rektor pada Halal Bihalal ORMAWA April 2025) Pendidikan karakter, pembentukan kepribadian dan sejenisnya mungkin dipandang biasa saja. Tetapi kedalaman dari sebuah proses pendidikan, salah satunya bisa di bentuk melalui cita-cita dan kemauan teman-teman mahasiswa untuk ikut berpartispasi dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Karena sebetulnya, ini adalah salah satu pintu yang paling baik untuk mencapai level pendidikan yang paling tinggi. Alam berpikir peradaban tinggi sebagai konsekuensi dari pendidikan yang berhasil itu, biasanya tidak lagi elitis, tidak lagi eksklusif tetapi inklusif. Artinya, saat individu tersebut menjalankan kesehariannya, harus tetap berjalan pada fitrah kemanusiaan. Misalnya saat tengah diamanahi menjadi jenderal, ia tidak lupa bahwa suatu saat ada masa dia sudah tidak menjabat lagi. Hal ini akan membawa ia pada suatu titik dimana saat diberi peran, maka ia akan menjalankan peran itu sebaik-baiknya, tanpa mengindahkan golongan. Jadi, Muhammadiyah itu semua tindakannya, semata-mata untuk kemajuan dan kepentingan masyarakat. Pendidikan yang dijalankan sebagai jalan upaya mewujudkan khairul ummah, seperti yang ada di Az-Zumar : 18, الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ (“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”)  Ayat ini menekankan pentingnya mendengarkan, memahami, dan mengamalkan hal yang paling baik Yang maksudnya: “Jadilah orang-orang paling baik dari konsep aslinya” Siapasih orang yang paling baik itu? Orang yang bisa sharing atau berbagi, bisa overmind atau berpikiran terbuka, punya sikap mendengar perkataan orang lain, sehingga memudahkan kita menerima sinyal atau petunjuk dari sekitar. Orang-orang yang mendapat petunjuk itulah oleh Allah tergolong kepada orang-orang yang ulul albab dan salah satu tempat untuk mempertajam orang-orang ini, adalah diskusi pendidikan. Karena itu Muhammadiyah itu berkhidmat betul di pendidikan, karena membahas apa saja, berdiskusi apa saja tidak akan banyak berdampak, sepanjang bangsa ini masih ada yang tertinggal. Jika kita berbicara tentang Indonesia, sebagai sebuah bangsa, saat ini kita berada pada posisi negara berpendapatan menengah. Artinya, kita hanya perlu sedikit lagi untuk mencapai tingkat pendapatan per-kapita antara 12.000-18.000 USD per tahun. Namun, indikator sosial seperti ini sifatnya dinamis, bisa meningkat, tetapi juga bisa menurun. Tugas kita semua adalah menjaga agar kondisi tersebut tetap stabil, dan tidak terus-menerus terjebak dalam rentang pendapatan tersebut tanpa mengalami peningkatan. Fenomena middle income trap yang berkepanjangan ini berkaitan erat dengan aspek geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi nasional, khususnya dalam hal bagaimana kita mengelola negara, atau yang dikenal dengan istilah statecraft. Poinnya yang kedua, yang unik di Indonesia itu sudah hampir 10 tahun lebih inflansinya terkendali, Meski banyak orang mengatakan harga barang-barang mahal, namun itu bukan karena inflansinya yang tinggi, tapi daya belinya yang turun. Jadi jika 250 juta penduduk, apakah semua berada di kisaran penghasilan yang sama? Tentu tidak. Dari sisi ketenagakerjaan, mayoritas tenaga kerja di Indonesia masih merupakan lulusan SD, disusul oleh lulusan SMP, dan sebagian besar bekerja di sektor informal. Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih didominasi oleh sektor informal, sedangkan ukuran-ukuran ekonomi nasional yang digunakan bersifat formal. Karena itu, ketika kita berbicara mengenai PHK, perlu dipahami bahwa yang mengalami PHK adalah mereka yang bekerja di sektor formal—yakni di industri atau institusi yang memiliki struktur kerja jelas. Sementara mereka yang bekerja di sektor informal jarang mengalami PHK karena bekerja secara mandiri. Oleh sebab itu, yang perlu menjadi perhatian utama adalah bagaimana memperkuat dan memperluas sektor formal agar mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dengan sistem upah yang layak. Pada tahun 1998 hingga awal 2000-an, banyak orang meyakini bahwa kemajuan teknologi yang pesat akan mengancam lapangan kerja manusia. Namun, setelah terjadinya perang dagang global, pandangan itu mulai berubah. Kini justru disadari bahwa sunset industry, yakni industri yang dianggap menurun atau sudah tidak diminati karena hanya berbasis teknologi menengah, perlu dihidupkan kembali sebagai katup penyelamat untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja. Upaya ini penting agar Indonesia tidak terus terjebak pada posisi negara berpendapatan menengah dan bisa naik menjadi negara berpendapatan menengah ke atas. Namun, kenyataannya, gelombang PHK justru menyebabkan berkurangnya kelompok kelas menengah, yang berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Ketika daya beli menurun, pertumbuhan ekonomi juga ikut terhambat, sebab fondasi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik. Untuknya, seluruh pemimpin di Indonesia, saat menyampikan pidato, harus berisi tentang hal-hal yang membuat masyarakat optimis. Maka kesimpulan sederhananya dalam fenomena trade world itu yang sangat penting adalah bagaimana negara itu memperbaiki diri, melakukan konsolidasi. Konsolidasi internal dilakukan supaya kita menjadi negara yang kuat, tidak “berkelahi” sendiri di dalam negeri. Dengan konsolidasi, kitab isa melihat lebih dalam, bahwa sesungguhnya persoalan-persoalan yang kita hadapi sederhana. Tema “Ekosistem Bangun Ekonomi Global” yang diangkat teman-teman ini cukup menarik, karena sekarang semua lintas disiplin ilmu.  Sosial harus bisa bicara teknologi, yang eksakta juga harus paham teknologi, maka kajian multi disiplin ini harus ditingkatkan. Kita telah kehilangan hampir 20 tahun di Indonesia tentang hal ini, karena semua hal tersebut dikotak-kotakkan secara parsial. Ini sangat disayangkan, karena menghambat lahirnya break true terobosan-terobosan baru dibidang  Iptek. Mudah-mudahan pertemuan kita memberi energi dan gairah baru, juga teriring doa agar kita semua tidak terjangkit dalam lelap dalam dan tidur di tengah hirup pikuk. Kurang lebihnya mohon maaf. Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuhu  

Dosen UMM: Pendidikan Karakter Solusi Maraknya Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual kini menjadi salah satu isu paling mendesak dalam dunia pendidikan. Mirisnya, tindakan ini tidak hanya terjadi antarsesama pelajar, tetapi juga dilakukan oleh oknum pendidik sosok yang seharusnya menjadi teladan. Dr. Ariana Restian, M.Pd. dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkapkan bahwa maraknya kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya yaitu relasi kuasa yang tidak seimbang, seperti antara guru dan murid atau senior dan junior, menjadi salah satu pemicu utama. Ditambah lagi kurangnya literasi seksual dan kesadaran gender membuat batasan pribadi kerap dilanggar. Selain itu melekatnya budaya patriarki dan victim blaming yang menjadikan korban enggan berbicara fakta bahwa ia adalah korban kekerasan seksual. Sehingga, tidak ada ruang aman untuk menjadi sandaran berlindung. Ariana mengatakan, keamanan dalam menimba ilmu di dalam lingkungan pendidikan perlu menjadi fokus utama yang perlu dijadikan poin penting dan harus ditegakkan. Misalnya seperti yang dilakukan UMM yang berkomitmen menegakkan keamanan untuk menjadi ruang aman untuk berlindung dari kekerasan seksual. Misalnya pendidikan nilai gender yang sudah terintegrasi dalam mata kuliah AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan), menyediakan ruang pelaporan yang aman dan rahasia, serta jaminan pendampingan bagi korban berkoordinasi dengan UPT Bimbingan Konseling UMM. Bahkan juga membentuk satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual. “Langkah-langkah seperti ini mungkin bisa diadopsi dan dilakukan di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya,” katanya. Selanjutnya, masyarakat dilingkungan pendidikan diharapkan memiliki kesadaran kolektif untuk merespons kekerasan dengan cepat, tegas, dan berpihak kepada korban. Budaya saling menjaga sangat perlu ditanamkan, dan menghapus kebiasaan menghakimi yang kerap menyudutkan korban. Selain itu juga menyediakan akses terhadap layanan pendampingan baik hukum, psikologis, maupun konseling. Arina melanjutkan, di balik maraknya kasus kekerasan dan ketimpangan relasi sosial, budaya patriarki masih membayangi kehidupan sehari-hari. Ketimpangan kuasa menjadikan alasan utama suara korban semakin sulit terdengar. Apalagi melihat bahwa sosialisasi terkait kekerasan seksual yang selama ini dilakukan belum menggugah empati masyarakat dan belum menanamkan nilai-nilai yang hidup dalam hati. Dia meyakini, perubahan harus dimulai dari pendidikan karakter yang mengajarkan empati, keberanian untuk berbicara, dan kesadaran diri akan hak serta batas tubuh sendiri. Tak kalah penting, ia menekankan perlunya pendidikan seksual yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Bukan hanya sekadar informasi biologis, tapi pengetahuan tentang fungsi tubuh, batas aman dalam interaksi dengan orang lain serta bagaimana membangun relasi yang sehat dan saling menghormati sesama. “Harapan kami, agar kampus-kampus bisa menjadi pelopor kampus merdeka yang aman, inklusif, dan beradab. Hal serupa juga dilakukan oleh UMM. Kampus bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi tempat tumbuhnya manusia yang utuh yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, berkemajuan dan luhur dalam adab. Kami berharap adanya sinergi antara kebijakan, sistem pendukung, dan budaya kampus yang menolak segala bentuk kekerasan,” tutupnya. (nam/wil)

Dosen UMM ini teliti Optimasi Pendidikan di Australia

Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Adi Slamet Kusumawardana, M.Si., tengah menempuh pendidikan doktoral di The University of Queensland, Australia. Studi ini ia jalani sejak Oktober 2024 dengan target penyelesaian dalam empat tahun, setelah berhasil meraih Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. “Keputusan saya memilih Australia, khususnya kota Brisbane, didasarkan pada kualitas akademik dan kesesuaian bidang riset. University of Queensland merupakan salah satu dari lima kampus terbaik di Australia, dan memiliki perhatian riset yang kuat pada bidang riset operasi, sesuai dengan keilmuan saya,” ucap Adi. Selain faktor akademik, ia juga ingin membangun jejaring internasional untuk memperluas kontribusi akademiknya di masa depan. Tentu saja perjalanan memperoleh beasiswa tidaklah mudah. Adi memulai dari persiapan sertifikat IELTS, memilih kampus yang tepat, hingga akhirnya memperoleh Letter of Offer (LoE). Setelah itu, ia mendaftarkan diri ke program beasiswa BPI dan dinyatakan lolos pada tahap kedua seleksi di akhir 2023. “Saat ini saya tengah fokus pada penelitian bertema optimasi penjadwalan di institusi pendidikan. Topik ini memiliki kompleksitas tinggi karena melibatkan banyak kepentingan, seperti peserta didik, pengajar, hingga kebutuhan kurikulum, sementara keterbatasan ruang dan waktu menjadi tantangan yang nyata. Optimasi ini tidak hanya penting untuk universitas, tetapi juga sangat relevan diterapkan di tingkat sekolah menengah,” katanya. Namun, pengalaman studi di luar negeri tidak sepenuhnya mudah. Meskipun sempat berkunjung ke Australia pada 2020, Adi tetap mengalami tantangan adaptasi, terutama dalam lingkungan multikultural dan sebagai minoritas muslim. Ia mengungkapkan sulit menemukan tempat salat dan makanan halal membuatnya lebih sadar akan pentingnya adaptasi dan rasa syukur. Ia juga menyadari bahwa standar akademik di Australia jauh lebih tinggi, terutama dalam kemampuan menulis ilmiah, analisis data, dan pemrograman matematis, yang menuntut mahasiswa S3 untuk menguasainya sejak awal studi. Kehidupan sosial dan sistem pendidikan di Australia turut meninggalkan kesan mendalam baginya. Ia mengagumi kemudahan akses fasilitas publik seperti taman, perpustakaan di hampir setiap distrik, serta perhatian serius terhadap kesehatan mental mahasiswa. Fasilitas ini mendukung keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi. Ke depan, Adi berharap studinya tidak hanya bermanfaat untuk pengembangan pribadi, tetapi juga berkontribusi nyata bagi UMM, baik dalam bentuk kerja sama riset, pertukaran akademik, maupun membangun jaringan internasional. “Saya ingin menjadi jembatan penghubung antara UMM dan institusi luar negeri, termasuk The University of Queensland. Studi ini bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang membangun kontribusi yang lebih luas untuk institusi dan bangsa,” ujar Adi. (vin/wil)

Menengok Diana, Dosen UMM yang Teliti Otot Lansia di Korea

Di balik tingginya antrian lansia di rumah sakit dan banyaknya obat yang harus mereka konsumsi, Diani Fatmawati melihat sebuah tantangan ilmiah: bisakah sel otot yang menua diperbaiki tanpa efek samping berbahaya? Pertanyaan ini membawa dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menempuh perjalanan tak mudah mengejar gelar S3 di Department of Genetic Engineering, Kyung Hee University, Korea Selatan. Adapun ia menimba ilmu di sana dengan beasiswa HEAT (Higher Education for ASEAN Talents), sebuah program beasiswa dari pemerintah Korea Selatan untuk para dosen di kawasan ASEAN. Sebagai muslimah berhijab, adaptasi di negeri ginseng penuh tantangan, tetapi tekadnya untuk berkontribusi di bidang kesehatan membuatnya pantang menyerah. Diani memilih Kyung Hee University karena fasilitas laboratorium molekuler yang memadai. Lokasinya di Yongin, tidak seperti Seoul yang sangat metropolitan juga menjadi pertimbangan. “Area di sini enak banget, tidak terlalu ramai, cocok untuk fokus belajar,” ujarnya. Adaptasi di negeri ginseng ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Diani mengaku dibantu oleh persiapan matang sebelum berangkat, termasuk diskusi dengan rekan yang pernah studi di Korea. “Alhamdulillah, saya tidak pernah mengalami diskriminasi sebagai muslimah berhijab. Orang-orang di sini justru ramah, meski mereka cenderung lebih cuek dalam urusan pribadi,” ceritanya. Salah satu hal yang menarik perhatian Diani adalah sistem pembelajaran multidisipliner di kampusnya. Teman-temannya ada yang dari teknik sipil, tapi meneliti genom bakteri. Ini menjadi sangat menantang sekaligus membuka wawasan. Di lab, ia tidak menemui senioritas yang kerap dikhawatirkan banyak orang. Justru, para senior lebih berperan sebagai mentor. Mereka mengarahkan dengan tegas bahwa sebagai mahasiswa doktoral, harus bisa berbagai hal. Semua diajari dengan detail. Salah satu yang menurutnya sulit di Korea adalah menemukan makanan halal. Penelitian Diani berpusat pada pengembangan terapi sel otot menggunakan bahan alami, menghindari senyawa sintetik yang berisiko memicu efek samping. “Kami memanfaatkan stem cell (sel punca) untuk mempercepat proliferasi dan diferensiasi sel otot, khususnya pada lansia yang mengalami sarkopenia atau penurunan massa otot akibat penuaan,” jelasnya. Inspirasi ini berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi lansia di Indonesia. Melihat lansia harus antri berobat, minum banyak obat, lalu kembali lagi bulan depan. Ia ingin berkontribusi agar mereka punya kualitas hidup lebih baik. Ia berharap, penelitiannya tidak hanya bermanfaat secara nasional, tetapi juga diakui di kancah internasional. Sebagai dosen Muhammadiyah, Diani menekankan pentingnya memegang nilai-nilai Islam dalam menuntut ilmu. Jika semua diniatkan karena Allah, maka segala kesulitan akan dipermudah. Bonusnya, kita bisa dapat pengalaman luar biasa seperti melihat cherry blossom, merasakan salju, atau bertemu orang-orang hebat. Dengan semangat pantang menyerah, Diani membuktikan bahwa ilmu dan niat tulus bisa membawa seseorang melampaui batas, baik geografis maupun akademis. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjuangan, ada harapan untuk memberi manfaat lebih besar bagi sesama. (bil/wil)

UMM Masuk Deretan Kampus Terbaik Asia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih rekognisi dengan menjadi kampus swasta terbaik di Jawa Timur versi Times Higher Education (THE) kategori Asia University Ranking 2025. Dalam perinagkat yang dirilis pada 2025 itu, Kampus Putih juga menduduki peringkat 17 untuk kampus negeri dan swasta se-Indonesia. Adapun raihan ini menarik karena pada tahun sebelumnya, UMM tidak masuk ke dalam list Asia University Ranking dan berbenah untuk mendapatkan hasil terbaik. Terkait raihan ini, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik mengapresasi berbagia upaya yang dilakukan oleh sivitas akademika Kampus Putih dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan serta layanan. Keseimbangan antara proses pendidikan, penelitian, serta pengabdian juga tidak kalah penting menyokong UMM menjadi salah satu kampus terbaik di Indonesia. Adapun THE menilai berbagai aspek yang krusial bagi aktivitas kampusdi berbagia belahan dunia, seperti penelitian, proses pengajaran, serta efeknya. Bahkan juga melihat dan meninjau data terkait rasio staf dan mahasiswa di setiap universitas, proporsi mahasiswa internasional, gender, dan lain sebagainya. Adapun pada tahun 2025 ini, THE telah merilis dan mengurutkan ranking sebanyak 853 univesitas di 35 negara. menilai dan mempertimbangkan peneltiain, pengajaran, proses transfer ilmu, hingga bagaimana aktivitas internasionalnya. Nazar menjelaskan bahwa rekognisi regional, nasional, maupun internasional merupakan hal strategis agar masyarakat bisa tahu kualitas dari sebuah universitas. Namun yang tak kalah penting adalah bagaimana sebuah kampus bisa benar-benar memberikan yang terbaik, mulai dari kualitas pendidikan hingga nanti ketika mahasiswa lulus. Kampus harus membuktikan bahwa rekognisi dan prestasi yang dicapai memang benar-benar sesuai dengan kenyataan. “Semoga hasil ini bisa menjadi bahan bakar bagi sivitas akademika UMM untuk meningkatkan berbagai aspek demi memajukan pendidikan. Pada akhirnya ini juga menjadi upaya UMM untuk membantu Indonesia memaksimalkan potensi anak bangsa dalam meraih Indonesia Emas 2045,” ucapnya mengakhiri. (wil)

Ana, Dosen Romania Jelaskan Isu Kontemporer Eropa-Indonesia di UMM

Masuk dalam daftar jajaran Perguruan Tinggi terekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar kuliah tamu sebagai mitra program Erasmus+ Teaching Mobility. Terbaru, kampus putih kedatangan Ana-Gabriela Patea, Ph.D Associate Profeesor of Babes-Bolyai University yang berkesempatan mengajar langsung mahasiswa program studi Hubungan Internasional (HI) pada 22 April lalu. Dalam materinya, Ana memaparkan topik mengenai isu-isu keamanan dan kerjasama kontemporer antara Uni Eropa dan Indonesia. Meski topik yang dipilih tergolong kompleks, namun perkuliahan dikemas fresh and fun secara interaktif dengan diskusi ringan. Wanita asal Romania ini mengawali diskusi dengan pertanyaan dasar tentang ‘Bagaimana hubungan antara Uni Eropa (UE) dan Indonesia?’ dan ‘Kesempatan yang terlewatkan?’ Poin dasar dibalik hubungan diplomasi antara negara-negara Eropa dan Indonesia tak terlepas dari historis keduanya sejak tahun 1949. Hubungan keduanya juga difasilitasi dengan bergabungnya Indonesia dalam keanggotaan Association of South East Asian Nation (ASEAN). “Sejak saat itu, hubungan Indonesia dan UE berkembang pesat. Hubungan tersebut meliputi kerjasama bidang politik dan keamanan, sosial budaya, serta ekonomi dan perdagangan,” ia menambahkan. Selain itu ia juga menjelaskan konsep ‘Natural Partners’ yakni mereka yang memegang nilai-nilai yang sama dan memiliki kepentingan yang sama dalam urusan global. Lantas apakah hubungan UE-Indonesia bisa disebut sebagai ‘Natural Partners’? Sedangkan, dalam operasionalisasinya terdapat beberapa kontinum kesamaan kepentingan, nilai, dan tujuan bisa dilihat dari berbagai perspektif. Yaitu dukungan terhadap demokrasi, dampak globalisasi, toleransi terhadap orang asing dan etnis minor, serta sikap terhadap lingkungan, pekerjaan, politik dan sebagainya. Untuk itu, UE-Indonesia memiliki keselarasan sikap dalam menanggapi isu-isu global untuk periode 2004-2024. Menganalisis kondisi saat ini, ia melanjutkan dengan mengidentifikasi beberapa isu dan dilema yang terjadi antara UE-Indonesia. Belakangan, sikap Indonesia yang memilih untuk menjalin keanggotaan dalam kelompok negara berkembang Brazil, Russia, India, China, and South Africa (BRICS) menjadi salah satu tolok ukur perbedaan kepentingan antara UE-Indonesia. Terakhir, Ana menyimpulkan hubungan UE-Indonesia lebih kepada sebagai mitra strategis, tidak adanya realitas dari segi politik.  “Di samping itu, posisi konvergen terlihat dari perubahan iklim, kerjasama maritime, dan kontraterorisme,” lanjut Ana menutup diskusi. Adapun agenda tersebut merupakan langkah dan upaya perwujudan cita-cita UMM untuk memfasilitasi para tenaga pendidik luar untuk mengajar dan mendapatkan experience baik akademik maupun dari segi cultural. Tak hanya bagi tenaga pendidik, Dosen HI UMM Azza Bimantara M.A menyebut forum ini juga bermanfaat besar bagi para mahasiswa. “Ini juga untuk memberikan exposure kepada mahasiswa bahwa hubungan internasional memerlukan mahasiswa berwawasan dan berpengetahuan luas” ujar Azza. Selain itu, forum tersebut juga memiliki benefit besar lainnya dalam medukung mahasiswa untuk bisa mengenal sisi lain dunia yang merupakan objek pembelajaran mereka. Tentang bagaimana hubungan diplomasi di berbagai negara bekerja, termasuk di Eropa. Ia juga menyebut metode seperti ini adalah salah satu metode paling ideal untuk memperkenalkan eropa, yaitu dengan mendatangkan langsung dosen atau pengajar dari negara atau benua tersebut. (din/wil)

Dosen UMM Sebut Manusia yang Gagap AI akan Tertinggal

Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Di tangan siapa pun yang mampu mengakses dan memanfaatkannya, AI telah menjelma menjadi asisten pribadi yang pintar, bahkan mampu menandingi peran manusia dalam menyelesaikan berbagai tugas. Namun, seiring pesatnya pertumbuhan teknologi ini, muncul tantangan besar untuk bagaimana kita bisa bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan AI. Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom., M.Cs., dosen Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menguraikan fondasi-fondasi penting yang perlu dipahami publik dalam menyikapi dan mengembangkan AI. Menurutnya, AI bekerja berdasarkan pelatihan intensif yang dilakukan oleh manusia, memungkinkan sistem komputer meniru proses berpikir, menyimpulkan, mengambil keputusan, hingga mendengarkan (listening). “AI itu hasil dari pelatihan. Secara sederhana, komputer belajar melakukan penalaran seperti manusia berdasarkan ilmu yang kita tanamkan,” kata Galih. Galih menjelaskan bahwa ada beberapa tipe pembelajaran dalam pengembangan AI, mulai dari supervised (pembimbingan penuh), unsupervised (belajar mandiri), semi-supervised, hingga reinforcement learning. Dari perjalanan tersebut, muncullah apa yang kini dikenal sebagai Generative AI—sebuah sistem AI yang bukan hanya mampu memahami konteks, tapi juga menciptakan konten baru berdasarkan data yang telah diserapnya. “Model generatif ini menarik karena dia tak hanya memberikan respon berbasis data, tapi juga mampu menghasilkan solusi abstraktif dan ekstraktif,” kata Galih. Misalnya, saat meminta meringkas atau menerjemahkan, dia tidak hanya mengulang data yang pernah dia pelajari, tapi meramu informasi dari berbagai sumber untuk menghasilkan jawaban baru. Model ini kemudian berkembang menjadi Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT, LLAMA (Meta), Gemini (Google), hingga Grok (X), yang kini semakin akrab di tengah masyarakat luas. Menurut Galih, saat ini hampir setiap lini kehidupan dapat difasilitasi oleh AI. Mulai dari mahasiswa, dosen, hingga ibu rumah tangga. Bahkan, tak jarang AI dijadikan teman curhat digital. Namun, peran AI tidak serta-merta menggantikan manusia, melainkan memperkuat kapabilitas setiap individu. Tantangannya adalah bukan soal siapa yang bisa menggunakan AI, tapi siapa yang tahu cara memanfaatkannya dengan benar. Mereka yang tidak bisa menggunakan atau memahami AI akan tertinggal dalam perkembangan zaman. Bagi yang ingin lebih dari sekadar pengguna, Galih menekankan pentingnya penguasaan ilmu dasar komputer, mulai dari matematika, pemrograman, pembelajaran mesin (machine learning), hingga deep learning. Pengetahuan ini akan menjadi fondasi untuk membangun AI dari nol atau mengembangkan model yang telah ada. “Kalau ingin membuat AI, bukan hanya pakai, maka paling tidak harus menguasai dasar-dasarnya, mulai dari konsep dasar matematika, programming, machine learning, lalu naik ke deep learning,” kata Galih. Meski AI sangat membantu, ia menekankan pentingnya prinsip Responsible AI, yaitu menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Penggunaan AI untuk manipulasi, penyebaran hoaks, atau pelanggaran hak cipta menjadi ancaman yang harus disikapi serius. Setiap alat yang dimaksudkan adalah seperti pisau bermata dua. Bisa sangat bermanfaat, tapi juga bisa berbahaya kalau salah pakai. Maka, penting untuk memahami batasan-batasan etis dalam menggunakan AI. Beberapa platform besar seperti Google dan Instagram kini mulai menerapkan penandaan (tagging) untuk membedakan konten asli dan konten hasil AI, sebuah langkah awal dalam membangun kesadaran digital masyarakat. Ia mengingatkan bahwa AI adalah alat, bukan ancaman. Namun, mereka yang tak mampu beradaptasi akan tertinggal. “Manusia itu tidak dikalahkan oleh AI. Tapi manusia bisa dikalahkan oleh manusia lain yang menggunakan AI. Kalau Indonesia ingin bersaing dengan bangsa lain, maka kita harus cakap memanfaatkan AI untuk kemajuan kolektif,” ucap Galih. (vin/wil)

Rencana Mendikdasmen RI Hidupkan Lagi Penjurusan, Begini Kata Pakar UMM

Hal menarik muncul darj pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Indonesia Prof. Abdul Mu’ti terkait menghidupkan kembqli metode penjurusan untuk SMA sederajat. Sebelumnya, metode ini resmi dihapus dan diubah menjadi Kurikulum Merdeka oleh nadiem (Mendikdasmen periode 2019-2024). Alhasil, isu tersebut mendapatkan berbagai tanggapan dari kekhawatiran dan keraguan masyarakat terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Melihat kekhawatiran tersebut, Wakil Rektor I (Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Teknologi Digital) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Akhsanul In’am, Ph.D menyebut perubahan kebijakan ini merupakan hal umum terjadi dalam sistem pemerintahan. Teerkait kebijakan “Merdeka Belajar”, Ia menjelaskan beberapa celah yang menjadi evaluasi bersama baik pemerintah maupun masyarakat. Ia juga menyebut kurikulum ini memiliki beberapa kekurangan yang berdampak negatif bagi guru maupun siswa. Di antaranya yakni kualitas belajar siswa yang tidak fokus, peningkatan kualitas guru yang tidak terlaksana secara baik, serta hasil evaluasi siswa yang tidak tertulis sehingga muncul ketidakpuasan hasil. Padahal semestinya, siswa memiliki hak untuk fokus dalam belajar dan mendapatkan feedback yang mendukung proses belajar mereka. Sementara itu, pernyataan Menteri Dikdasmen mengenai menghidupkan kembali penjurusan adalah salah satu solusi. Menurutnya, prinsip kecenderungan siswa untuk suka dan menekuni salah satu mata pelajaran baik ilmu sosial maupun sains itu nyata terjadi. Untuk itu, peran pemerintah dan guru untuk menfasilitasi secara adil sesuai kebutuhan pendidikan lanjut dan masa depan para siswa sangat krusial. Kemampuan, peranan, dan sosok guru penting dilibatkan dan sudah menjadi tugas seorang guru untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa. “Rencana perubahan kebijakan ini sah-sah saja diterapkan. Sebab, tidak ada perubahan signifikan terkait sistem, namun lebih kepada perubahan model pembelajaran. Selain itu, ketersediaan tenaga pengajar atau guru sesuai kepakaran ilmu juga sudah terjamin. Seperti guru fisika, biologi, matematika, sosiologi, bahasa, dan sebagainya,” jelasnya. Secara keseluruhan, rencana kebijakan ini sangat baik untuk pendidikan tanah air agar lebih fokus dan terarah. Selain untuk mendukung fokus keilmuan siswa, hal ini juga memudahkan siswa untuk memilih jurusan di dunia perkuliahan dengan tepat sesuai minat dan keterampilan yang didapatkan di bangku sekolah. Apalagi mengingat transformasi digital saat ini yang menuntut guru untuk mampu memberikan pelajaran melalui pendekatan Heutagogy (mandiri), Peeragogy (kolaborasi/kelompok), dan Cybergogy (internet). Meski begitu, In’am menegaskan perlu adanya perhitungan yang matang dari pemerintah sebelum merumuskan kebijakan kurikulum tersebut. Selain itu, sosialisasi kepada masysrakat terutama para orang tua terkait isu-isu superioritas penjurusan tertentu juga harus diperhatikan. Langkah ini bertujuan untuk menghilangkan kecemburuan sosial dan kesalahpahaman orang tua siswa terhadap fasilitas laboratorium di masing-masing penjurusan. “Langkah ini juga penting untuk mewujudkan kesepahaman terkait fungsi dan tujuan kurikulum penjurusan itu sendiri. Peran guru sebagai pendamping utama siswa untuk terus inovatif dan kreatif terkait pembelajaran dan manajemen sekolah yang baik adalah kunci kebijakan yang optimal,” tuturnya. (din/wil)