Raup Omset Puluhan Juta dari Bisnis Anggrek

DAMPAK pandemi Covid-19 sangat terasa di berbagai sektor kehidupan, terlebih bagi dunia usaha dan dunia kerja. Banyak perusahaan dan unit usaha yang terpaksa menghentikan kegiatan, mengurangi tenaga kerja dan bahkan terpaksa gulung tikar. Kebijakan work from home dan social/physical distancing yang ditujukan untuk membatasi ruang gerak masyarakat-sebagai upaya menghambat penularan COVID-19 menjadi salah satu faktor penyebab lesunya ekonomi. Kondisi ini terjadi merata hampir di seluruh Indonesia. Namun, di tengah lesunya aktivis ekonomi, justru ada berkah bagi sektor usaha tertentu. Usaha bidang budidaya tanaman hias dan anggrek adalah salah satu yang justru ketiban rezeki. Begitulah yang dituturkan oleh salah satu pengusaha anggrek di Tulungagung, Jawa Timur, Nandia Anindhita ketika dihubungi secara daring beberapa waktu lalu. Nandia Anindhita, alumni Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mampu meraup omset Rp. 35-40 juta perbulan selama masa pandemi COVID-19. Meningkat sekitar 40-50% dibandingkan sebelum pandemi terjadi. “Justru karena adanya pembatasan aktivitas di tempat umum, maka banyak orang yang mencari kesibukan di rumah. Ternyata, banyak orang yang memilih berkebun dan memelihara tanaman. Nah, anggrek menjadi pilihan banyak orang karena perawatannya relatif gampang, indah, dan kadar gengsinya lebih tinggi,” ujar perempuan kelahiran 8 Desember 1994 ini. Anin, begitu sapaan akrab perempuan pemilik orchids nursery bernama Gudang Anggrek Tulungagung ini, sukses berwirausaha anggrek sejak berstatus mahasiswa. Usahanya fokus pada jenis anggrek Dendrobium. Jenis ini menurutnya lebih mudah dirawat, bunganya indah dan bertahan cukup lama. Usaha dirintis sejak 2016, berbekal pengalaman Pemagangan Biologi, dan hingga kini omset setiap bulannya terus meningkat. Menurut penuturannya, usaha yang beralamat di Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini, adalah inspirasi yang diperoleh dari berbagai kegiatan perkuliahan dan praktikum di kampusnya, khususnya mata kuliah Kewirausahaan serta Botani. “Alhamdulillah, kuliah di Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM membuat saya tidak hanya siap menjadi guru, tetapi juga siap berwirausaha. Terlebih menjelang lulus ada sertifikasi Kewirausahaan Industri dan berbagai pilihan lainnya, yang tidak banyak diberikan oleh perguruan tinggi lain di Indonesia. Saya memang sedikit menunda waktu lulus, karena fokus ke usaha ini. Namun akhirnya 2019 lulus, dengan skripsi juga tentang anggrek,” ujar perempuan yang rajin berbagi koleksi foto anggreknya di Instagram @nandiaand, @admin_anggrek_tulungagung, dan @gudang_anggrek_tulungagung. Sisi positif lainnya dari usaha anggrek yang digeluti Nandia Anindita adalah akhirnya banyak orang yang juga ikut memperoleh tambahan penghasilan. Selain ada beberapa orang yang bekerja merawat anggrek, para reseller, jasa pengiriman, dan penjual bahan pemeliharan anggrek juga ikut untung. “Alhamdulillah, beberapa lokasi perawatan anggrek milik teman saya, kini resmi menjadi milik saya. Memang ada upaya perluasan usaha. Mohon doa Bapak/Ibu Dosen, semoga usaha ini terus barokah dan lancer,” tulisnya melalui pesan singkat. (*/can)
SAL-Experience, Formula Prodi PGSD Bikin Mahasiswa Kaya Pengalaman dan Karya

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (Prodi PGSD FKIP UMM) punya formula khusus untuk peningkatan kualitas perkuliahannya. Formula itu dinamai SAL-Experience atau Student Active Learning Experience. “Program ini dalam rangka mewujudkan belajar yang inovatif, kreatif, bermakna dan menyenangkan bagi para mahasiswa di setiap mata kuliah. Output dari program tersebut diwujudkan dalam publikasi ilmiah seperti buku ber-ISBN, jurnal nasional, HKI dan konten YouTube,” ungkap Kaprodi PGSD UMM, Dyah Worowirastri, S.Pd., M.Pd. Selain itu, program SAL-experience ini juga untuk mewujudkan program universitas yaitu Kelulusan Tepat Waktu (KTW). KTW diinisiasi dengan adanya kebiasaan budaya ilmiah di kalangan mahasiswa pada saat perkuliahan. Tercatat dari proses perkuliahan dihasilkan 10 buku ber-ISBN, 20 hak cipta dari Kemenkumham RI, 16 jurnal nasional terakreditasi sinta 1-6, serta jurnal internasional terindeks Scopus. Selain juga adanya video-video hasil karya mahasiswa untuk pembelajaran di sekolah dasar yang sudah diunggah di YouTube. “SAL-experience juga mengantarkan 15 mahasiswa Prodi PGSD FKIP UMM angkatan tahun 2017 yang mengawali menyelesaikan skripsi pada semester 4 dan pada akhir semester 5 bisa memproses ujian skripsi tahun 2020,” sambungnya. Secara tidak langsung juga, dilanjutkan Dyah, SAL-experience telah menghantarkan mahasiswa PGSD sebagai lulusan terbaik. Tercatat sejak wisuda periode I th 2017 sampai pada periode 2 tahun 2020, sebanyak 50% mahasiswa terbaik tingkat Fakultas berasal dari Prodi PGSD FKIP UMM dan 3 diantaranya tercatat sebagai mahasiswa terbaik tingkat universitas. “Artinya, proses yang diawali dalam perkuliahan mengantarkan mahasiswa berprestasi. Tidak hanya di kalangan internal tetapi juga prestasi secara nasional dan internasional,” ungkapnya Di kancah internasional, pada tahun 2018 mahasiswa Prodi PGSD mendapatkan penghargaan teacher of the year dari kerajaan Thailand pada saat magang internasional. Selain itu juga, salah satu mahasiswa PGSD sebagai salah satu pengajar di China (Th 2017-2018), Kamboja dan Vietnam (tahun 2016-2017) melalui program AIESEC UMM sebagai Professional Internship. Program ini menjadi salah satu perwujudan tagline student today, leader tomorrow. Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. (can)
Ngupination, Ngobrol Daring Besutan Lab Ilmu Pemerintahan

Sejak mewabahnya pandemi Covid-19, pola komunikasi masyarakat pun berubah. Wabah virus ini mengakselerasi pemanfaatan media daring dalam setiap kesempatan. Hal ini juga dilakukan Laboratorium Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka menyoroti praktik politik kebijakan Pemerintah beserta problematikanya melalui forum Ngupination. Yana Syafriyana Hijri, S.IP., M.IP. selaku Kepala Laboratorium Prodi Ilmu Pemerintahan UMM yang juga bertindak sebagai moderator menyampaikan bahwa forum yang disiarkan melalui channel YouTube Lab IP UMM ini digunakan sebagai wadah ilmiah mendiskusikan isu-isu aktual kebangsaan yang dikemas ringan namun tetap berbobot. Misalnya pada Selasa (8/6), Ngupination mengangkat tema ‘’Dinamika Politik dan Kebangsaan di Tengah Pandemi’’ turut menghadirkan dua pembicara yakni M. Khoirul Muaffqin (Staff Khusus Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia) dan Hasnan Bahtiar, MA (Aktivis Muda Muhammadiyah). Dalam penyampaiannya, Hasnan Bachtiar, MIMWAdv. yang merupakan akademisi UMM ini menyebut bahwa kerja keras yang dilakukan pemerintah melalui beberapa kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Jaring Pengaman Sosial sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengkomunikasikannya kepada publik. Hasnan yang merupakan Aktivis Muda Muhammadiyah ini menilai, selama ini komunikasi soal Covid-19 kurang terkoordinir dengan baik. Masih sering terjadi silang pendapat antara pejabat pemerintahan yang menandakan lemahnya koordinasi sehingga menimbulkan kebingungan buat publik. Ini berdampak pada ketidakpatuhan publik karena kesimpangsiuran informasi dan sosialisasi yang minim. “Dalam komunikasi krisis, saluran informasi yang terintegrasi atau satu pintu itu sangat penting. Maka, pemerintah perlu membereskan persoalan ini agar kebijakan Covid-19 dapat diterima publik dengan baik,” tutur Hasnan. Sementara Khoirul menerangkan, berdasarkan pengamatannya, semua lapisan masyarakat di Indonesia harus bersatu padu dalam menghadapi Covid-19. Sebagai contoh, tanpa kepatuhan masyarakat langkah pencegahan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar di beberapa daerah seperti DKI Jakarta dan Surabaya Raya terlihat tidak efektif. “Di sisi lain bantuan sosial yang diberikan pemerintah menghadapi persoalan klasik yaitu keakuratan data,” ungkap Khoirul. Di banyak daerah, sambungnya, penerima manfaat tidak tepat sasaran tentu saja sangat berpotensi menimbulkan gejolak sosial. Untuk menyelesaikan ini maka sinergitas antara level pemerintahan dan masyarakat sangat dibutuhkan. “Berkaca pada beberapa negara yang berhasil dalam penanganan Covid-19, kepatuhan publik pada protokol kesehatan terjadi karena kuatnya kepercayaan pada pemerintah. Itulah yang saat ini sedang dilakukan pemerintah,” jelas Khoirul. Hal ini, dilanjutkan Khoirul, mengingat keterbatasan anggaran dan konstruksi sosial, budaya dan demografi Indonesia yang kompleks. “Namun pemerintah tetap melakukan hal yang terbaik misalnya melalui New Normal Life agar kehidupan ekonomi tetap hidup dengan tetap memberlakukan protokol Covid-19,” imbuh Khoirul. (can)
Mahasiswa Salurkan Bantuan kepada Warga Sumatera Utara

Jelang diberlakukannya New Normal, seluruh daerah kini mulai bergegas menyiapkan wilayahnya. Misalnya Provinsi Sumatera Utara yang akan mulai memberlakukan New Normal mulai 1 Juli mendatang. Salah satunya yang dilakukan oleh perangkat Desa PIR ADB Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang melakukan kegiatan sosialisasi, sterilisasi, serta penyaluran bantuan Covid-19 dari Pemerintah Kabupaten Langkat kepada warga setempat selama dua hari beturut-turut (8-9/6) kemarin. Muhammad Fitrah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah mengikuti program Pengabdian Masyarakat Bhaktimu Negeri turut melakukan sosialisasi bersama pemuda setempat. Mereka bergerak melakukan sosialisasi kepada warga dengan turun langsung ke dusun-dusun. Juga dilakukannya penempelan kembali beberapa poster tentang upaya pencegahan penyebaran Covid-19 serta pembagian hand sanitizer kepada warga untuk bersiap menghadapi era New Normal ke depan. Kemudian, dilakukan pula strerilisasi kembali dengan penyemprotan disinfektan di tiap-tiap fasilitas publik, seperti Masjid, Gereja, Kantor KUD (Koperasi Unit Desa), Pabrik, Kantor dan Balai Desa, dan tempat-tempat umum lainnya. Kegiatan ini diakhiri dengan melakukan Penyaluran Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Langkat berupa sembako kepada warga Desa PIR ADB pada tanggal 9 Juni di hari Selasa. Muhammad Fitrah mengutarakan betapa pentingnya kolaborasi untuk bersama menghadapi Covid-19. Menurut Ilham Bhakti selaku Kepala Desa PIR ADB Besitang, upaya penanganan dan penanggulan Covid-19 serta mempersiapkan menuju era New Normal ini sangat memerlukan sinergitas dari seluruh pihak. “Kami sangat senang dan apresiasi terhadap support dan andil saudara Muhammad Fitrah (mahasiswa UMM) serta pemuda setempat dalam rangka mempersiapkan Desa PIR ini menuju New Normal nantinya,” tutur mahasiswa angkatan 2017 ini saat dihubungi via WhatsApp Kamis (11/6) . Sementara itu, Drs. Moh. Jufri, ST., MT. sebagai Dosen Pembimbing Lapang PMM Bhaktimu Negeri secara terpisah sangat mendukung kegiatan yang dilakukan mahasiswa bimbingannya yang ikut andil dan bisa berkolaborasi dengan masyarakat Desa PIR ADB Besitang mempersiapkan diberlakukannya New Normal. Persiapan menjelang New Normal diperlukan peran serta semua lapisan termasuk sumbangsih pemikiran dari putra daerah seperti saudara Fitrah,” tandas dosen Fakultas Teknik ini. (*/can)
Belajar Gigih dari Juara 1 Mawapres UMM

Dulu, mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini pernah lima kali gagal dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru di satu sekolah kedinasan, dan empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Bukan, bukan karena ia tak pintar. Semasa duduk di SMAN 1 Purwosari, gadis cantik kelahiran Pasuruan ini seringkali mendapat gelar juara paralel di kelasnya. Beberapa gurunya pun sempat kaget mengapa anak pertama dari dua bersaudara ini selalu gagal tes masuk PTN. “Saya menduga saat itu mungkin saya terlalu ambisius dan bersemangat dengan mindset kampus negeri, sehingga saya stress dan bisa jadi itu menjadi penyebab kegagalan saya. Buktinya ketika saya mengikuti seleksi penerimaan maba di UMM saya lolos karena saya tidak terbebani,” ungkap Chano Paramita. Chano juga mengaku, karena merasa terbebani dan terlalu ambisius ini, ia juga tidak beruntung ketika ujian nasional, nilainya tidak terlalu memuaskan. Namun, menjadi mahasiswa UMM berhasil membuat pola pikirnya berkembang luas. Menurutnya, yang paling penting, dimana pun ia belajar, berhasil tidaknya seseorang dalam belajar tergantung pada kesungguhan dan kerja keras. Ia bersyukur pola didik orang tua yang tak pernah mematok prestasi berdasar angka, membuatnya lebih leluasa berkreasi. Siapa sangka jika perjuangan menjadi mahasiswa “tak biasa” di UMM diganjar dengan prestasi sebagai juara 1 Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) tingkat universitas, mengalahkan sejumlah delegasi dari fakultas lain, termasuk sahabatnya sendiri yang menduduki peringkat terbaik kedua. Meraih gelar sebagai peringkat pertama mahasiswa berprestasi tingkat Universitas Muhammadiyah Malang, tak pernah terbayangkan dalam benak Chano. Jangankan menjadi juara, dicalonkan sebagai kandidat tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Tetapi, terpilih dalam seleksi Mawapres tentu bukanlah proses instan, sim salabim sekali jadi. Penilaian dalam seleksi mawapres meliputi penilaian tiga aspek, kemampuan bahasa asing, prestasi dan kemampuan karya ilmiah. “Sebenarnya seleksi ini cukup berat bagi saya karena bersamaan dengan beberapa amanah saya sebagai kadiv diskusi dan prestasi di UKM FDI dan kesibukan praktikum di prodi. Namun mbak Dita (mawapres 2019 yang juga seniornya di UKM FDI) meyakinkan saya,” ungkapnya. Dalam seleksi Mawapres yang diadakan secara daring pada 5 Juni 2020 lalu, Chano diminta mempresentasikan karyanya dalam bahasa asing. Salah satu nilai plus dalam presentasinya, menurut salah satu juri, Rahmawati Khadijah Maro, M. PEd, terletak dalam kemampuan menyampaikan social project yang ia miliki. Selain itu prestasi yang dimiliki Chano memang paling unggul jika dibandingkan kandidat lain. Total ada 11 penghargaan tingkat nasional yang ia kantongi selama tiga tahun menjadi mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UMM. Terbaru, ia berhasil meraih penghargaan juara 1 Content Campaign dan Competition yang diadakan oleh UK Petra. Chano juga tercatat memiliki tiga social project. Salah satu social project yang ia presentasikan di hadapan penyeleksi Mawapres Universitas adalah social project “PRAMU REMPAH”. Pramu Rempah adalah platform pemberdayaan untuk masyarakat agar terus menanam dan mempromosikan tanaman rempah dan tidak menjualnya ke tengkulak. “Sebab jika dijual ke tengkulak, masyarakat yang rugi. Akhirnya saya dan tim mencoba mengelola simplisia rempah ini menjadi minuman yang ready to drink dan kami bantu promosinya. Saya menerapkan ilmu integrated marketing communication yang saya pelajari di Prodi Ilmu Komunikasi. Saat ini produk Pramu Rempah masih dalam uji coba laboratorium,” jelas Chano. Kesukaannya belajar banyak hal memang membuat Chano lebih adaptif dalam belajar. Meski kuliahnya di bidang Ilmu Komunikasi, namun ia tetap membuka diri untuk belajar ilmu-ilmu yang lain. Prinsip didikan orang tuanya memang mempengaruhi pola belajarnya. “Ortu saya selalu berpesan bahwa saya disekolahkan itu bukan sekedar untuk bekerja dapat uang banyak dan hal-hal yang bersifat pragmatis lainnya, namun saya belajar itu agar berkah dan bermanfaat untuk banyak orang. Ini yang selalu menjadi pedoman saya,” imbuhnya. Harapan kedepannya, Chano ingin bisa menembus publikasi jurnal internasional dan menulis artikel di media massa. Ketika ditanya apakah ia akan mengkonversikan prestasi nasional dalam bidang kepenulisan sebagai TA Karya pengganti skripsi, Chano mengaku ingin membuat dua-duanya. “Saya ingin TA Karya sekaligus membuat skripsi, biar bisa merasakan semua. Karena S1 itu menurut saya fundamental,” tuturnya. (wnd/can)
Bagaimana Seharusnya Engineer Berkontribusi Selama Covid-19?

Terbatasnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas medis menggugah simpati dan empati banyak pihak,termasuk dari kalangan akademisi untuk mencipkan inovasi baru.Program Studi Teknik Mesin UMM melalui webinar Inspirasi Teknologi Rekayasa Melalui Zoom (Intermezo) mendatangkan langsung dua narasumber yang pakar untuk mengupas tuntas bagaimana cara menciptakan APD yang compatable. Para calon inovator yang mengikuti Intermezo kali ini (22/5) berasal dari kalangan dosen, mahasiswa dari semua Jurusan dari lingkungan fakultas UMM, Poltek Negeri Malang, Poltek Madiun, IAIN Jember dan calon mahasiswa baru. Sebagai narasumber pertama Assist. Prof. Wahyu Caesarendra, ST., Meng, PhD, penemu Tangan abionk, Adaptor untuk APD dan temuan lainnya memaparkan bahwa para engineer harus memiliki 3 kemampuaan skill yakni innovation dan Entrepreneurship; Flugal Innovation dan Flugal Engineering, dan; Product Design Engineering. Inovation dan enterpreneurship, yakni engineer mampu menghasilkan sesuatu yang baru berdasarkan ide yang didapatkan. “Namun, dalam prosesnya tidak mudah, karena perlu mempertimbangkan banyak aspek sehingga didapatkan produk yg ideal. Oleh karena itu engineer perlu dibekali oleh kemampuan entrepreneurship,” ungkap Wahyu. Kedua, flugal engineering. Skill ini diperlukan seorang engineer karena dalam membuat produk salah satu pertimbangannya adalah biaya. Melalui flugal engineering, kompleksitas produksi dapat dikurangi sehingga dapat menekan biaya tersebut. Simplifikasi ini juga ditunjang oleh pengetahuan alam yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Product Design Engineering (PDE). PDE adalah pengembangan dan penyempurnaan produk yang sudah ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan danlebih sustainable. Sehingga lebih bisa diterima di masyarakat baik dari aspek fisik, ergonomi, biologis, dan lainnya. Tidak kalah menariknya pemateri Ir, Sudarman, MT., dengan segudang pengalamannya sebagai engineering memaparkan tahapan-tahapan desain yang harus dimiliki oleh seorang inovator teknologi sehingga produk yang dihasilkan fleksibel bisa digunakan di segala kondisi. Bahkan beliau memaparkan data-data lengkap dari 800 ribu sarjana Teknik termasuk sarjana computer dan pertanian/peternakan yang praktek keinsinyuran hanya sekitar 10 ribu orang. Lebih lanjut sudarman memaparkan bahwa profesi insinyur merupakan salah satu profesi penting yang akan selalu dibutuhkan untuk membangun dan mengembangkan negara.Ada beberapa faktormengapa profesi insinyur kurang karena ketidakmengertian bahwa ainsinyur diperlukandan secara literasi masih sangat kurang. Ada beberapa Point penting yang disampaikan bahwa sebagai engineering harus cepat beradaptasi dengan kondisi pandemi. Kedua, produk yang dikembangkan harus bisa dipergunakan semua orang. Ketiga, sebagai engineering bisa menata ulang paska pandemik yaitu era baru yang bisa mengubah pola hidup kita. Keempat, perlu memikirkan inovasi pasca pandemi. Terakhir,harus memiliki fungsional skill yang mumpuni sehingga menjadi seorang master di bidangnya. Sebagai pengampu mata kuliah Konsep Desain, Sudarman bersama dosen dan mahasiswa Teknik Mesin UMM mewujudkan hasil desain dan inovasinya berupa APD misalnya helm pelindung tenaga medis, masker, wastafel anti-Covid-19, box pelindung tenaga medis (safety chamber) dan lain-lain. (can)
Kisah Dosen Jadi Penyintas Covid-19 Akibat Pasien Bohong

Pengetahuannya terkait Covid-19 nyatanya tidak cukup bagi Dr. Joko Widodo, M.Si terbebas dari virus yang telah merenggut banyak nyawa ini. Meski mengaku intens berdiskusi dengan anaknya yang merupakan seorang dokter, ia tak bisa menolak agar virus tak bersarang di tubuhnya. Cerita Joko tertular Covid-19 dimulai akibat salah seorang pasien berbohong yang ditangani anaknya di sebuah rumah sakit di Malang. Joko Bukan tertular dari rekan kerjanya di UMM. Di UMM tak ada yang positif Covid-19. Pasca dinyatakan sembuh, Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini membagi kisahnya di serial podcast UMMTalk, tentang bagaimana dirinya bertarung melawan Covid-19 dan stigma negatif masyarakat. “Awalnya anak saya yang merasakan ketidakberesan di badannya. Seperti flu biasa saja. Barulah dia berkesimpulan bahwa itu gejala Covid-19. Setelah beberapa hari, saya juga merasakan gejala yang sama. Akhirnya saya dirujuk ke rumah sakit penanganan Covid-19,” ungkap Joko, Selasa (9/6) siang. Diakui dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini, gejala yang dialaminya tidak lebih berat ketimbang stigma yang diterimanya dari tetangga sekitar rumahnya. Rumahnya bahkan sampai harus dipagari dengan maksud warga agar tidak menulari masyarakat kompleks perumahan tempatnya tinggal. Padahal, selama ini Joko orang yang aktif mensosialisasikan bahaya Covid-19 di perumahannya. Ia sempat sakit hati. Tapi Joko hanya cukup berlapang dada. Ia berpikir bahwa perlakuan masyarakat terhadap dirinya hanyalah bentuk ketidaktahuan semata. Joko memang punya jiwa petarung. Ia merasa tidak boleh kalang dengan virus ini. Selalu berpikir positif dan optimis diakui Joko membuatnya cepat sembuh. Dukungan keluarga, juga energi positif dari orang-orang lingkaran pergaulannya punya kekuatan tersendiri untuk membuatnya segera sembuh. “Setelah terkena Covid-19 saya merasa hidup kembali. Justru, setelah menjadi pasien Covid-19, kok, badan saya merasa lebih bugar dari biasanya. Saya juga jadi lebih perhatian dengan kesehatan badan saya,” kata Joko. Joko lantas mengajak seluruh masyarakat untuk lebih menjaga diri dan mengindahkan segala himbauan kesehatan Pemerintah tentang Covid-19. “Cukup dengan menjaga jarak, tetap di rumah, dan rajin mencuci tangan. Yang lebih penting, jangan terjebak berita bohong,” tandas Joko. (can)
Bikin Wastafel dari Barang Bekas untuk Warga Lumajang

Di tengah kondisi pandemi Covid-19, tiap orang dituntut untuk berpikir serba kreatif. Termasuk perihal menyediakan berbagai kebutuhan pencegahan tertularnya virus korona. Seperti inisiasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Kabupaten Lumajang yang membuat wastafel dari barang bekas ember tak terpakai. Aksi ini dilakukan 2 mahasiswa yang tengah mengikuti program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Bhaktimu Negeri UMM di Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tak hanya pembuatan wastafel, mahasiswa ini juga membantu penyemprotan disinfektan di rumah warga dan edukasi seputar Covid-19. “Penyebaran virus ini memang cepat dan bahayanya memang ada, tetapi tidak untuk ditakuti. Masyarakat perlu lebih meningkatkan kewaspadaan serta kesadaran pada diri masing-masing,” ungkap peserta program PMM Kabupaten Lumajang, Raden Andika, mahasiswa Program Studi Perikanan angkatan 2017 dihubungi Selasa (9/6) siang. Warga setempat bahkan banyak mengapresiasi tentang program penyemprotan yang selama ini rumah warga belum mendapatkan penyemprotan disinfektan dari pemerintah. “Terimakasih banyak mas, selama ini rumah warga belum mendapatkan penyemprotan disinfektan dari pemerintah,” ucap Kholik selaku warga setempat. Kedepannya, Raden bersama kawan sejurusannya di UMM Mochamad Adam Fahreza ini masih akan terus melakukan kegiatan yang bisa membantu warga sekitar yang terdampak. Di antaranya dengan pemberian sembako, penempelan poster edukasi, serta akan melakukan penyemprotan disinfektan jika ada permintaan dari warga. Masyarakat Kecamatan Lumajang juga diajak untuk selalu memakai masker saat berpergian, mencuci tangan sesuai arahan WHO dan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS ini meliputi memakan makanan yang bergizi, banyak minum air putih, berolahraga, tidur dengan porsi yang cukup dan rajin mencuci tangan. Virus corona memang melumpuhkan banyak sektor termasuk ekonomi warga. Banyak warga yang mengeluh kehilangan pekerjaan, kurangnya pemasukan dan lain sebagainya. “Semoga wabah ini segera berakhir dan masyarakat bisa beraktifitas dengan normal kembali,” kata mahasiswa yang juga berasal dari Lumajang ini. Sementara itu, Drs. Moh. Jufri, ST., MT. selaku dosen pembimbing lapang sangat senang dengan kerja keras dan inisiatif mahasiswa bimbingannya yang telah mengedukasi masyarakat Lumajang, sekaligus membantu mengaplikasikannya himbauan Pemerintah yang sesuai standar protokol kesehatan Covid-19. (can)
Khasiat Pangan Sehat Lokal di Masa Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah banyak merubah pola kehidupan masyarakat. Termasuk pola masyarakat memilih bahan konsumsi untuk perbaikan gizi keluarga. Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya formulasi khusus untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terjangkit Covid-19. Salah satunya dengan pangan sehat lokal. “Kondisi saat ini menyadarkan kita sebagai bangsa agraris yang punya pangan lokal unggul dengan kekayaan hayati yang melimpah untuk memanfaatkan secara maksimal potensi yang kita punya. Semua kekuatan bangsa, keluarga dan hubungan sesama harus melakukan evaluasi segera dan adaptasi yang cepat,” ungkap Guru Besar yang juga merupakan Kepala Laboratarium Sentral UMM. Elfi melanjutkan, dalam menghadapi pandemi Covid-10 ini perlu disikapi dengan tindakan yang cerdas dan tepat, yaitu antara lain menjaga keimanan (keyakinan pertolongan Alloh, Tuhan YME), mengasah ke-ilmuan (percaya kepada orang yang ahli dibidangnya), berikutnya adalah mendukung kesejahteraan bersama. Saat menghadapi Covid-19 ini, dalam keluarga dilakukan upaya perbaikan gizi keluarga melalui pemanfaatan pekarangan, juga membangun rantai pasok pangan (suppy chain) yang baik dengan tetangga, komunitas dan jejaring yang dimiliki (petani, petambak, UKM, pengusaha lainnya). “Sikap berikutnya adalan sikap berkeadilan, yakni membantu bagaimana akses kemudahan pangan diperoleh semua lapisan masyarakat. Tidak ada penimbunan, pemerataan distribusi antar wilayah bahkan pembagian pangan setiap anggota keluarga, sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang,” kata Elfi, Senin (8/6). Tips menghadapi pandemi Covid-19 yang belum menemukan obat dan vaksinnya ini, dilanjutkan Elfi, diperlukan pertimbangan memilih dan konsumsi pangan yang cerdas, yaitu halal, thoyib dan terjangkau. Serta harus memperhatikan 7 aspek, meliputi: halal thoyib, legalitas & rekognisi: Perijinan (PIRT/MD), sertifikasi (SH, SNI dll), layak dikonsumsi aspek kesehatan: kadaluarsa, penggunaan bahan tambahan makanannya, sesuai kebutuhan (kesehatan, umur, gender), teknologi penanganan & pengolahan yang tepat/benar (karakter: larut dalam air/lemak, respon terhadap panas, cahaya dll), utamakan produk lokal, dan terakhir utamakan produk keluarga, tetangga, teman, guna mendukung kesejahteraan bersama. “Tindakan mencegah (preventif) adalah pilihan tepat dan lebih baik daripada mengobati, serta dengan mengikuti himbauan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), maka infeksi Covid-19 tidak akan terjadi,” sebut Elfi. Saran lainnya, sambung Elfi, memperbanyak mengkonsumsi pangan, makanan minuman yang dapat mencegah penyakit serta meningkatkan daya tahan/imunitas tubuh. Bahan pangan segar dan olahan yang mengandung protein (kelor), Vitamin C (jeruk),Vitamin A (buah-sayuran), Vitamin B,VitaminD, Mineral seperti Fe, Se, Zink, K, Mg membantu metabolisme tubuh, mencegah infeksi mikrobia (virus dan lainnya), Polifenol seperti pigmen flavonoid (antosianin: bunga mawar, delima, ubi jalar ungu dll), karotenoid, kurkumin (rimpang rempah), minyak atsiri (aromatik kayu putih,sirih, serai, herbal lain), Vitamin (C, A, E) sebagai antioksidan baik, potensial antimrobia bahkan antiinflamasi dan imunudolator. “Jamu tradisional (rempah-rempah), pangan fungsional dan suplemen yang mengandung bioaktif tersebut sedang banyak yang membutuhkan. Pangan sehat yang mengandung prebiotik (serat, inulin) dan probiotik juga bisa andil membantu daya tahan tubuh yang mengkonsumsinya,” sambungnya. Sari minuman sehat (antioksidan tinggi) dari sari bunga mawar lokal temuan Elfi Anis Saati juga turut membantu menekan perkembangan Covid-19 ini, karena mengandung antioksidan tinggi (Saati, ARPN 2016), antimikrobia 3 bakteri (Saati dkk, MJFAS 2018), serta telah diformulasi dengan tambahan rempah-rempah (jahe, kunyit, serai, kayu manis) yang dipercaya juga membantu meningkatkan imunitas tubuh para pelanggannya. “Produk ini terus dikembangkan guna meningkatkan mutu dan variannya, dengan melaksanakan penelitian internal UMM dan terapan Kompetitif Kemenristek DIKTI secara berkelanjutan,” tandas Elfi. (can)
UMM Kampus Swasta Terbaik Jawa Timur versi 4ICU

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur versi lembaga pemeringkat 4 International College & Universitas (4ICU) tahun 2020. Sementara posisi kedua dan ketiga secara berturut-turut diraih oleh Universitas Narotama (Surabaya) dan Universitas Kristen Petra (Surabaya). Pemeringkatan universitas terbaik verisi 4ICU dilakukan menggunakan uniRank University Ranking yang sudah terdaftar sebagai Global University Ranking oleh IREG Observatory on Academic Ranking and Excellence. Penilaian didasarkan sistem algoritma 5 website yang dianggap netral dan independen yakni: Moz Domain Authority, Alexa Global Rank, SimilarWeb Global Rank, Majestic Reffering Domains, Majestic Trust Flow. Data yang digunakan untuk pemeringkatan diambil dari pekan yang sama untuk meminimalisasi fluktuasi yang ada dan memaksimalkan pembandingan. Selanjutnya, dilakukan penyaringan sebelum masuk proses komputasi untuk mendeteksi adanya outlier dalam data mentah. Untuk perguruan tinggi yang mengadopsi subdomain sebagai halaman muka website resminya, akan dilakukan investigasi dan tinjauan lebih lanjut terhadap Alexa Global Rank dan SililarWeb Global Rank. Ketika outlier terdeteksi dan data subdomain telah ditinjau dan disesuaikan, data matriks web dinormalisasi menjadi skala 0-100 dengan mempertimbangkan sifat logaritma yang digunakan beberapa website digunakan penelitian. Nilai-nilai yang muncul dalam skala tersebut kemudian dikumpulkan berdasarkan algoritma rata-rata yang menghasilkan skor akhir dan peringkat website sebuah perguruan tinggi. Menanggapi pemeringkatan ini, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengatakan, pemeringkatan tersebut merupakan apresiasi atas hasil kerja sivitas akademika UMM dalam memanfaatkan teknologi informasi di bidang pendidikan, pengajaran dan riset. “UMM terus berupaya meningkatkan kualitas dalam semua aspek yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Termasuk ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki serta kegiatan kemahasiswaan. UMM terus memperkuat kepranataan dan kelembagaan penjaminan mutu yang menjamin kepastian pelaksanaan siklus penjaminan mutu yang meliputi: Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Pengembangan (PPEPP),” ungkap Syamsul, Senin (8/6). UMM juga dipercaya sebagai pelaksana program Perguruan Tinggi Asuh (PT-Asuh). Mandat ini sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Republik Indonesia tentang Perguruan Tinggi Pelaksana Program Penjaminan Mutu. Usaha lainnya, UMM terus mengupayakan rekognisi internasional. Saat ini sudah ada beberapa program studi yang telah memperoleh sertifikasi AUN QA dan beberapa sertifikasi internasional lain. Intinya, UMM terus mengupayakan internasionalisasi. Kedua, tuntutan Dunia Usaha dan Industri (DUDI) kian meningkat. Oleh karena itu, UMM terus berusaha memperkuat aktifitas pendidikan dengan memberikan tambahan kompetensi. Misalnya, di UMM telah ada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), Dari lembaga ini, mahasiswa UMM mendapatkan sertifikasi kompetensi dalam skala tertentu. Tentu setelah melalui proses pelatihan dan uji kompetensi. (can)