Segera Dibuka, Vokasi Manajemen Perhotelan dan Pariwisata

Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Universitas Muhammadiyah Malang(UMM)segera membuka program studi(Prodi)baru, yaitu Manajemen Perhotelan dan Pariwisata. Pada Prodi ini mahasiswa akan dilengkapi dengan keterampilan terkait pariwisata dan perhotelan,magang di beberapa perusahaan BUMN baik dalam sisi wisata maupun dalam sisi perhotelan. “Kurikulum Prodi Manajemen Perhotelan dan Pariwisata dirancang khusus untuk menyiapkan lulusan Prodi ini dalam bersaing di dunia kerja,dilengkapi dengan berbagai macam pelatihan dalam bidang pariwisata dan perhotelan,” demikian disampaikan Dr. Tulus Winarsunu, M.Si., Direktur Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan UMM dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) secara daring pada Kamis,18 Juni 2020. Prodi Manajemen Perhotelan dan Pariwisata dirancang khusus untuk menyiapkan lulusannya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan praktis di bidang pariwisata dan perhotelan,serta mereka mampu membuat perencanaan strategis dalam pengembangan pariwisata dan perhotelan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki,”sambung Tulus. Indonesia memiliki kekayaan wisata alam yang sangat potensial,sehingga bisnis pariwisata dan perhotelan akan sangat menjanjikan di masa yang akan datang. Pemerintah Indonesia pun tengah mengembangkan destinasi wisata di berbagai daerah,hal inilah yang akan mendorong meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia di berbagai bidang pariwisata dan perhotelan. Hadir dalam FGD tersebut, Staf Ahli  Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia(Kemdikbud RI)Ananto Kusuma Seta, Ph.D.serta Sekretaris Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia Jawa Timur (BPD PHRI Jatim) Sugito Adhi. Hadir pula sejumlah perwakilan stakeholder yang telah bekerjama dalam pendirian Prodi ini, yakni dari Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya diwakili oleh Ibu Trety Kusumawardani, Hotel Novotel Samator diwakili oleh Ibu Luciana Tania, Hotel Rayz diwakili oleh Bapak Richard Turpyn dan Tim asosisasi ASITA Malang diwakili oleh Bapak Muhammad Ansyori. Prodi baru ini menyusul jelang didirikannya Prodi vokasi lain, di antaranya Prodi Asian Halal Culinary, Prodi Baking and Pastry, Prodi Nutrasetikal dan akan menyusul lainnya. Sekolah keahlian ini akan dibangunkan gedung seluas 12,5 hektar di wilayah Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (nov/can)

Jadi Mawapres karena Gandrungi Karya Ilmiah

Kompetisi dan karya ilmiah memang seolah melekat erat dalam diri Siti Mubasiroh. Pasalnya, juara 2 ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini begitu menyukai karya ilmiah. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi ini dinobatkan sebagai juara Mawapres baru-baru ini (5/6). Hal lain yang mendorongnya untuk rajin mengikuti kompetisi berbasis karya ilmiah, menurut gadis kelahiran Jombang 21 tahun silam ini, adalah kesempatan bertemu dengan delegasi dari kampus lain yang idenya sangat beragam dan menarik. “Saya menyukai karya ilmiah. Itu yang membuat suka ikut lomba karya tulis ilmiah. Dalam kompetisi-kompetisi itu, saya bertemu dengan delegasi dari berbagai kampus yang idenya macam-macam dan menarik. Kami sharing banyak hal. Itu membawa energi positif ke saya untuk bisa terus belajar dan berkarya,” ucapnya. Beberapa kompetisi yang ia juarai di antaranya Lomba Karya Tulis Al-Quran Universitas Negeri Jakarta Tahun 2018, Lomba Karya Tulis Ilmiah 2019 di STIKI Malang, Call For Papper Indonesian Student Researcher Festival (ISRF) Tahun 2018 dan Tahun 2019, serta lomba essay  Science Education Fair (SEF) Universitas Sebelas Maret Tahun 2019. Prestasi Siti diapresiasi oleh Ketua Prodi Pendidikan Biologi, Dr. Iin Hindun, M.Kes. Dalam kacamata Dr. Iin Hindun, Siti Mubasiroh memang mahasiswa yang istimewa. Dia adalah mahasiswa yang penuh semangat dan rajin mencari informasi lomba. Membanggakannya, dalam setiap perlombaan yang dia ikuti, dia selalu menang. “Dia aktif mencari informasi lomba dan selalu berkomunikasi dengan Prodi. Prodi tentu menyambut baik dan memberikan fasilitasi pembimbingan. Dan Alhamdulillah dia selalu menang di setiap lomba tersebut. Itu ajeg dilakukan dari semester ke semester, sehingga prestasi yang diperoleh memang kumpulan dari waktu ke waktu yang tidak diperoleh secara instan,” terang Dr. Iin Hindun. Kepada Siti, Dr. Iin Hindun berpesan untuk terus memiliki motivasi berprestasi. “Untuk Siti Mubasiroh, kemengan ini semoga dapat menjaga stamina dan lebih memotivasi untuk memperoleh prestasi-prestasi berikutnya. Ini adalah awal yang baik untuk mengukir prestasi berikutnya,” tutupnya. Lantas, apa yang ia suguhkan hingga akhirnya terpilih meraih juara 2 Mawapres? Di hadapan tiga juri, ia memaparkan karya ilmiah tentang desain pembelajaran IPA menggunakan miniatur sebagai model dan disertai audio yang berisi materi pembelajaran untuk memudahkan siswa SD dalam memahami materi dan memicu minat belajar siswa. (fp/can)

Pentingnya Materi Energi Baru Terbarukan Masuk Kurikulum Sekolah

AGAR pengetahuan tentang Energi Baru Terbarukan (EBT) terdiseminasikan ke masyarakat dengan baik, tidak cukup dikampanyekan tanpa aksi konkrit. Demikian ditekankan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si. bahwa perlunya memasukkan materi energi terbarukan ke kurikulum sekolah. Hal itu disampaikan Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Matematika UMM ini dalam webinar Saintek Unimuda Sorong, Rabu (17/6) siang via Zoom. “Isu energi terbarukan memang belum digencarkan secara maksimal oleh Indonesia. Padahal, di beberapa negara maju, energi terbarukan bahkan masuk dalam kurikulum,” sebut Prof. Yus. Ketertarikan Prof. Yus dalam isu energi terbarukan mendorongnya melakukan riset di tahun 2014. Risetnya ini telah membuahkan puluhan media pembelajaran Solar Cell. Hingga saat ini sejumlah sekolah negeri di Kota Malang dan beberapa sekolah di luar Kota Malang sudah memanfaatkan temuan dosen FKIP UMM ini. “Kalau di Kota Malang media pembelajaran ini sudah dikerjasamakan dengan SMP Sabilillah, SMPN 14, SMPN 21 dan SMPN 24. Dan sebagian lagi digunakan juga di beberapa sekolah di luar kota seperti di Jogjakarta dan Semarang,” urai Prof. Yus, dalam webinar bertajuk “Edukasi Energi Terbarukan di Era New Normal” yang juga turut menghadirkan dosen Teknik Sipil Fakultas Sains dan Teknologi Unimuda Sorong Ir. Eko Tavip Maryanto, M.T. Webinar diikuti berbagai lapisan masyarakat, mulai mahasiswa hingga pengajar. Media pembelajaran Solar Cell adalah sebuah prototype Solar Cell. Alat ini bisa menjelaskan bagaimana cara kerja Solar Cell dalam menangkap energi matahari. Hingga energi itu bisa dimanfaatkan lebih untuk berbagai kebutuhan. Yang dibuatnya ini adalah perangkat yang dilengkapi dinamo dan lampu. Jadi siswa-siswi dapat langsung mempraktikkan sendiri bagaimana Solar Cell bekerja. “Jadi saat pelajaran soal energi, mereka bisa langsung memakai media pembelajaran Solar Cell ini sebagai media pembelajaran,” terangnya. Beberapa tahun terakhir, Prof. Yus memang tengah getol pada kajian pendidikan berbasis energi terbarukan. Semua berawal dari tantangan penelitian terkait isu energi dari kampus. Ia menggagas riset optimalisasi energi surya sebagai bagian dari energi terbarukan. Ia kemudian membuat kurikulum energi terbarukan dan prototype solar cell sebagai media pembelajaran berkelanjutan di sekolah. Ia berpikir generasi pelajar inilah yang harus ditanamkan pemikiran bahwa energi terbarukan adalah masa depan. Dan media pembelajaran Solar Cell, sambung Prof. Yus, adalah salah satu cara paling efektif dalam menerapkan energi terbarukan dalam dunia pendidikan. Sebab masyarakat Indonesia sejauh ini masih cenderung terpaku pada energi yang umum digunakan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), gas dan batu bara. “Padahal, energi tersebut suatu saat dipastikan akan habis, karena jumlahnya yang terbatas. Sedang manusia menggunakan energi tersebut secara terus menerus,” sambungnya menjelaskan. Sebenarnya banyak energi terbarukan di sekitar manusia yang sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Seperti halnya sinar matahari, angin hingga gelombang dan arus air. “Waktu ke Jepang (saat melakukan riset,red) saya diledek, karena saya berasal dari negara tropis yang melimpah akan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Tapi kenapa tidak memanfaatkan itu sebagai energi terbarukan,” papar Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM ini. Untuk tahun 2020, ia berencana menggagas kelas mandiri energi. Ia akan mengajak sekolah untuk memiliki satu ruang kelas khusus yang memiliki energi mandiri. Kelas tersebut nantinya akan digunakan sekaligus untuk pembelajaran energi terbarukan. “Satu kelas saja yang memiliki energi mandiri, tapi itu bisa digunakan sepanjang tahun, tidak seperti listrik PLN yang masih iuran setiap bulannya,” papar suami dari Meinarni Susilowati. Estimasi pendirian untuk kelas mandiri energi adalah sekitar Rp. 10 juta. Dana tersebut hanya dikeluarkan pada awal instalasi solar cell, dan dapat digunakan sepanjang tahun. Mungkin beberapa kali membutuhkan biaya perawatan, atau pergantian accu sekitar dua tahun sekali. “Kalau kita hitung-hitungan, menggunakan solar cell ini hanya besar biaya di awal. Kita gagas digunakan di kelas karena penggunaan listrik optimalnya siang. Jadi cocok dengan energi solar cell ini, yang optimal di siang hari,” tukasnya. (can)

FIKES Gelar Pelatihan NVivo dan AI

Dalam rangka meningkatkan kemampuan akademis para dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan “Workshop Nvivo 12 Plus dan Artificial Intelegence (AI)”. Kegiatan ini diikuti sekitar 15 peserta yang terdiri atas pengelola jurnal di setiap program studi (Prodi). Acara yang diselenggarakan di aula kampus II UMM berlangsung dari tanggal 15-17 Juni 2020. “Tujuan kegiatan kali ini untuk meyakinkan para dosen bahwa kemampuan dalam menghasilkan karya ilmiah itu harus ditingkatkan, walaupun dalam keadaan sedang pandemi. Kami berharap workshop ini bisa membuat para dosen menjadi produktif,” ujar Dekan FIKES UMM  Faqih Ruhyanudin, M.Kep, Sp.Kep. MB, pagi tadi. Menurut Faqih Ruhyanudin dalam sambutannya mengatakan workshop ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademis para dosen FIKES UMM dalam bidang karya ilmiah, karena saat ini masa pandemi Covid-19 dosen harus mampu menghasilkan karya ilmiah dalam bentuk jurnal, apalagi dengan adanya Nvivo 12 diyakini bisa membantu para dosen untuk menghasilkan jurnal nasional dan internasional. Bahkan, lanjut Faqih Ruhyanudin para dosen bisa mempublikasikan pada jurnal nasional dan internasional terindeks. Jika indikator tidak tercapai maka bisa merugikan FIKES dan bahkan UMM sendiri. Oleh sebab itu para dosen dari 3 prodi FIKES harus dapat menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan pada jurnal nasional maupun jurnal internasional yang tidak terindeks. Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan Edy Purwantoro, mengungkapkan membuat karya ilmiah diharuskan ada sumber referensi, jadi untuk dosen sendiri tidak perlu bingung mencari referensi karena fakultas sudah menyediakan. Edy Purwantoro memberikan arahan kepada para peserta workshop agar dapat meningkatkan produktivitas, dan kualitas para dosen dalam hal membuat publikasi dalam jurnal ilmiah dengan menerapkan meta analisisnya. Itu sebabnya dosen FIKES UMM peserta workshop ini agar betul-betul dapat menstimulasi, memotivasi dan memfasilitasi dosen lainnya dalam menghasilkan karya ilmiah dan dapat dipublikasikan oleh jurnal yang dituju. Bukan itu saja, tambah Edy Purwantoro, agenda ini juga diharapkan dapat terjalin komunikasi antar dosen pembimbing ketika membuat karya ilmiah khususnya di lingkup FIKES UMM. “Kami berharap sama seperti tujuan awal kami, dengan diadakannya acara ini membuat dosen menjadi produktif, kami ingin para dosen juga bisa membimbing mahasiswa membuahkan hasil karya ilmiah. Jika semua sudah mencapai target, ke depan kami akan adakan workshop penguatan lagi. Workshop ini menjawab permasalahan para dosen yang tidak kunjung produktif menghasilkan karya ilmiah di tengah pandemi,” akunya. (fikes/can)

SSoroti Kesiapan Dunia Pendidikan Malang dan Batu di Era New Normal

Universitas Muhammadiyah Malang melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan kembali menggelar Webinar, Senin (15/6). Berbeda dengan webinar-webinar sebelumnya yang mengangkat tema pembelajaran daring, Webinar kali ini mengangkat tema “Pendidikan Kota Batu dan Kabupaten Malang Menghadapi New dan Next Normal”. Sejalan dengan tema tersebut, hadir sebagai pemateri Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Dr. Eny Rachyuningsih, M.Si., Sekertaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Dra. Puji Hariwati, M.Pd., dan pengamat sekaligus pemerhati pendidikan Prof. Syamsul Arifin, M.Si. Acara ini dibuka dengan pengantar Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. Dalam kesempatan itu, Poncojari Wahyono menekankan bahwa pelaksanaan pendidikan dengan scenario yang moderat melalui blended learning adalah yang paling tepat di antara skenario optimis yang dilaksanakan bulan Juli 2020 dan skenario pesimis yang dilaksanakan bulan Januari 2021. Pasalnya, pengembangan sikap dan karakter hanya dapat dilakukan secara optimal melalui tatap muka antara pengajar dan siswa. “Sentuhan-sentuhan untuk menjadi orang yang terdidik hanya akan terjadi ketika ada pertemuan tatap muka. Nah, ini masih kita cari momen-momen atau sela-sela di antara daring ini bagaimana bisa melaksanakan itu. Jika sistem ini bisa ditemukan, maka akan sangat bagus. Dan saya yakin Kota Batu maupun Kabupaten Malang sangat mungkin untuk menemukan itu,” ujar dekan FKIP yang juga menjabat sebagai anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Senada dengan itu, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menekankan bahwa pembelajaran di rumah adalah langkah darurat dan temporarif mengingat sekolah di rumah dapat memunculkan disrupsi psikologis bagi anak, lemah dalam hal pengembangan karakter anak, dan tidak menjamin terjadinya peningkatan keterampilan peserta didik. Anak perlu bertatap muka dengan guru dan teman sebayanya. Oleh sebab itu, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang ini mengajukan konsep pembalajaran berbasis komunitas. “Seharusnya tidak semua murid dirumahkan. Kita bisa menyelenggarakan pembelajaran berbasis komunitas. Caranya kita mengklasterisasi siswa berdasarkan wilayahnya dan di tempat itulah pembelajaran bisa dilaksanakan. Saya kira itu sangat dimungkinkan untuk SD. Jika itu bisa diterapkan, justru akan menjadi pemandangan yang luar biasa karena kita akan melihat pembelajaran di mana-mana seperti di mushala, di pos ronda, itu asyik menurut saya,” papar Prof. Syamsul Arifin. Pembicara selanjutnya, Dra. Puji Hariwati, M.Pd., memberikan dasar teoretis new normal. Menurut Sekertaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang ini, di masa pandemik ini terdapat tiga persoalan yakni vuca (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity), zero trust society, dan digital society. Untuk menghadapi tiga masalah tersebut, mengutip pendapat Klaus Schwab, diperlukan tiga kecakapan yakni kecakapan logika, kecakapan memahami system, dan kecekapan menyesaikan masalah kompleks melalui pendekatan pentaholix yang melibatkan berbagai pihak. “Pendekatan yang bisa digunakan untuk menghadapi masalah-masalah tersebut adalah pendekatan pentaholik antara pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media. Termasuk webinar ini adalah bentuk penerapan dari pendekatan pentaholik,” ungkapnya kepada para peserta yang tergabung via Zoom dan live streaming Youtube FKIP UMM OFFICIAL itu. Di Kabupaten Malang sendiri, persiapan new normal dilakukan dengan menerbitkan Peraturan Bupati Malang Nomor 20 tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi Corona Virus Desease 2019. Berbagai persiapan menuju new normal telah dilakukan. Khusus dalam bidang pendidikan, persiapan dilakukan dengan mengedepankan keselamatan guru, siswa, dan lingkungan sekitar sekolah serta berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. “Kita tentu mengedepankan keselamatan karena virus ini sangat berbahaya. Kita juga harus terus menyimak instruksi, dan terus berkoordinasi tindakan-tindakan apa yang memungkinkan untuk dilaksanakan. Kita akan terus berpikir keras untuk hal ini. Pada tanggal 13 Juli mestinya adalah hari pertama masuk sekolah dan seperti apa pelaksanaannya apakah akan daring atau tatap muka masih akan kita pikirkan bersama,” tutup Puji. Memperkuat apa yang disampaikan Dra. Puji Hariwati, Dr. Eny Rachyuningsih, M.Si menyatakan, pemberlakukan new normal di Kota Batu masih menunggu keputusan. Namun, secara regulasi Kota Batu sudah siap. Ada dua regulasi dalam menghadapi new normal di Kota Batu. Yang pertama adalah Peraturan Wali Kota Batu Nomor 56 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendahlian Corona Virus Disease 2019 dalam Status Darurat ke Pemulihan. Yang kedua adalah Keputusan Wali Kota Batu Terkait Tahapan Fase Transisi Darurat ke Pemulihan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Kedua peraturan tersebut akan diterjemahkan ke dalam peraturan Kepala Dinas Pendidikan mengingat peraturan tersebut masih bersifat general sementara ada berbagai tantangan dalam penerapan new normal di bidang pendidikan seperti virus covid-19 ternyata juga menyerang anak-anak, bagaimana mekanisme protokol kesehatannya, bagaimana protokol pendidikannya, bagaimana media sosialisasinya, biayanya bersumber dari mana, jumlah anak yang masuk dan berapa durasinya, dan sebagainya. “Peraturan itu harus diterjemahkan ke dalam peraturan atau keputusan kepala Dinas Pendidikan sehingga bisa dipastikan semua warga sekolah sudah siap apabila akan diberlakukan new normal. Namun, jika tentang new normal, saya yakin kita semua sepakat, bahwa itu bukan menjadi kewenangan Dinas Pendidikan. Intinya, secara regulasi, Kota Batu sudah siap untuk memasuki new normal. Hanya tentang waktu kita menunggu pihak-pihak yang berwenang,” tegas Dr. Eny Rachyuningsih, M.Si. Kegiatan webinar ini mendapatkan apresiasi dari peserta maupun pemateri. Pasalnya, melalui webinar ini, masyarakat, terutama para peserta yang merupakan aktor-aktor pendidikan dapat memahami secara utuh bagaimana kesiapan beserta upaya yang dilakukan oleh kedua wilayah tersebut dalam menghadapi new normal. (fp/can)

Sukses Kembangkan Padi 400 Bulir Per Batang

KETAHANAN pangan keluarga di masa pandemi COVID-19 menjadi perhatian khusus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen dan mahasiswa berkolaborasi mengembangkan produk unggulan untuk menjawab tantangan ini. Salah satunya dengan mengembangkan padi unggulan dengan 400 bulir padi per batang. Lazimnya, satu batang pohon padi hanya 125-200 bulir saja. Namun, melalui teknologi yang dikembangkan tim Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), satu batang bisa sampai 400 bulir padi. Uji perdana sukses. UMM memberi nama varietas padinya dengan UM2-400. Padi varietas baru dengan kode UM2-400 ini merupakan silangan dari beberapa padi varietas lokal di Jawa Timur. UM2-400 adalah varietas lokal yang dikembangkan FPP dengan menggunakan teknologi khusus. Pengembangan ini dipelopori Dr. Ir. David Hermawan, Dr. Ir. Wahono, dan mahasiswa. April lalu sudah panen perdana. “Mulai dari pembibitan benih x, pengolahan tanah seperti pupuk yang digunakan juga organik. Kemudian, supporting karena tidak pakai pestisida, penyemprotannya memakai teknologi drone,” jelas David Hermawan yang merupakan Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan UMM. Namun, David memilih tidak menjawab jika ditanya terkait dengan jenis varietas beras yang disilangkan. Namun, dia menyebut bibit hasil dari kawin silang 4 varietas padi. “Kalau jenis apa sama apa, rahasia dong,” ungkapnya di sela-sela wawancara. Dia juga mengatakan bahwa bibit yang mereka kembangkan adalah bibit unggul yang tahan hama. Selain itu, batangnya juga kuat dan tahan angin. “Kan sering tuh, banyak gagal panen karena padi yang ambruk. Jadi, kami coba kembangkan kearah itu. Selain itu, bulir yang kami kembangkan rata-rata di atas 400. Jumlah ini lebih banyak dari varietas padi lainnya yang hanya 125-200 bulir per batang. Kini kami mengembangkan 600 bulir juga 700 bulir,” ujar dia. David juga membeberkan, untuk menghasilkan beras kualitas bagus, tak hanya diperlukan pembibitan yang baik. Juga diperlukan pula pengolahan lahan dan pupuk yang bagus. “Kami memakai pupuk cair, juga pupuk kandang yang dibuat oleh para mahasiswa yang praktikum,” sebutnya. Beras varietas unggul yang dikembangkan FPP itu ditanam di areal persawahan milik UMM yang ada di daerah Tegalgondo, Kabupaten Malang. Dia menjelaskan, kelebihan dari varietas ini adalah produksinya yang dapat lebih banyak dari produksi pada umumnya. Sementara untuk masa panen sama: sekitar 105 hari. “Ini bisa sampai 2-3 kali produksi dari jenis biasa. Kalau nasional kan biasanya standar 5.1 ton per hektare, kalau pakai varietas ini bisa 12 ton per hektare, dengan biaya produksi lebih murah, Rp 15 juta per hektare, kalau pertanian konvensional rata-rata Rp 20 jutaan per hektare,” jelasnya. Sehingga dia berharap nantinya varietas ini bisa menunjang swasembada pangan. “Jadi kalau pemerintah mau, tidak perlu impor beras dan mengurangi devisa negara. Jadi, kita bisa menghasilkan produk produktivitas tinggi dan sehat karena tidak menggunakan pupuk kimia,” ungkapnya. Menurut pengamatannya, apabila varietas ini dipakai di Malang Raya saja, maka kebutuhan akan beras akan tercukupi, bahkan lebih. “Kalau dari pengamatan saya, kita punya sekitar 70.000 hektare. Kalau misal 70.000 hektare kali rata-rata 10 ton saja, berarti ada 700.000 ton lebih. Saya kira sebenarnya sangat cukup memenuhi kebutuhan pangan se Malang Raya,” ujar dosen yang juga ketua pokja ketahanan pangan Kabupaten Malang itu. (*/can)

Buat Inovasi APD Bagi Relawan Kalimantan Selatan

EDDY WIBOWO, Koordinator Kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Pandulangan, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan menyampaikan di tengah keprihatinan dan upaya pencegahan penularan pandemi COVID-19, pihaknya pun ikut berkontribusi. Mahasiswa angkatan 2017 ini mengatakan, kontribusi tersebut dilakukan dengan berinovasi untuk pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) berupa face shield atau pelindung wajah, yang peruntukannya untuk para relawan COVID-19. “Untuk alat dan bahan pembuatan face shield ini sangat sederhana, hanya membutuhkan busa, karet, plastik mica dan alat seperti guting, lem tembak, serta penggaris dan cutter,” katanya, Senin (15/6) siang. Dijelaskan dia, proses pembuatan APD ini diawasi dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Mohammad Jufri, diharapkan melalui kontribusi lewat memproduksi APD ini dapat membantu relawan COVID-19 di Desa Pandulangan, yang bertugas di garda depan menangani pencegahan kasus COVID-19. Produksi APD ini juga dilatar belakangi membantu perjuangan tenaga medis serta relawan COVID-19 di Indonesia dalam merawat pasien positif virus Corona, maupun menangani pasien yang telah memiliki gejalanya, semakin terasa berat dengan kurangnya Alat Pelindung Diri (APD). Salah satu APD yang vital adalah pelindung wajah atau face shield, dan dengan melihat kondisi tersebut, muncul inisiatif dari mahasiswa PMM di Desa Pandulangan, untuk membuat face shield, yang dapat membantu para relawan COVID-19 di desa. “Di tengah merebaknya virus Corona, alat ini sangat disarankan untuk orang-orang yang kerap melakukan interaksi dengan masyarakat luas apalagi bagi mereka yang bertugas memberikan layanan publik,” katanya. Menurut dia, tak hanya Tenaga Kesehatan(Nakes) serta petugas yang melayani masyarakat umum, orang-orang yang dalam aktivitasnya berkecimpung dengan banyak manusia juga perlu menggunakan pelindung muka, termasuk para relawan COVID-19 karena sangat rentan terpapar virus. Lonjakan jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Kalimantan Selatan(Kalsel) akhir-akhir ini meningkat tajam, Kalsel termasuk dalam tiga provinsi dengan penambahan pasien positif Covid-19 paling signifikan dalam sepekan terakhir, selain Jawa Timur, dan Sumatera Selatan. Adapun dari total pasien positif COVID-19 di Kalimantan Selatan, sebanyak 68 persen atau masih mayoritas berasal dari Cluster Gowa, atau dari jemaah yang pulang dari mengikuti kegiatan Ijtima Ulama di Gowa, Sulawasi Selatan. (*/can)

Rempah Empire, Kembalikan Kejayaan Rempah Indonesia

Rempah adalah komoditas yang seksi, yang mampu membuai banyak negara lain terpikat datang ke Indonesia dan menjadikannya komoditas tinggi di pasar dunia. Sebuah potensi melimpah di Indonesia yang sayangnya banyak dari masyarakat kita belum sadar betapa kayanya kita sebenarnya. Sebuah pekerjaan rumah besar terutama untuk generasi muda agar lebih mengenal rempah dan memanfaatkannya secara maksimal. Berawal dari keprihatinan inilah maka dua orang dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni Novin Farid Styo Wibowo, M.Si dan Eka Khadarpa Utama Dewayani, MM. berkolaborasi dengan alumni (Wahyu Pratomo) dan beberapa mahasiswa membuat bisnis kuliner berbahan dasar rempah rempah khas Indonesia dengan nama Rempah Empire. “Nama Rempah Empire sebenarnya agar lebih mudah dikenal, sih. Karena terlebih dahulu kita sudah sering dengar istilah Sunda Empire yang katanya ingin mengembalikan tatanan dunia. Rempah Empire cita-citanya ingin mengembalikan harkat rempah Indonesia menjadi komoditas yang dihargai dan dihormati oleh bangsanya sendiri,” sebut Novin, Senin (15/6). Konsep Rempah Empire menggabungkan konsep kedai minuman rempah, makanan tradisional, alam, edukasi dan budaya. Berada di lahan 3000 m2, Rempah Empire tidak hanya kedai, namun juga terdapat lahan kebun dengan tanaman aneka rempah, “empon-empon” dan sayur organik dimana sebagian besar minuman rempah dan produk makanan diambil dari kebun langsung “raw material”. Selain lahan kebun juga disediakan ruang untuk kegiatan komunitas, outbound dan panggung budaya. Beberapa produk minuman rempah diberi nama-nama unik seperti Rempon (Rempah Empon-Empon) yang merupakan gabungan berbagai rempah dan empon-empon untuk imunitas tubuh, kemudian Ande-ande Lumut yang berbahan dasar lemon, jahe, daun mint, sereh, cengkeh, madu dan lain-lain untuk recharge tubuh dan detoksifikasi. Produk minuman lain juga mempunyai nama yang unik, seperti Brama Kumbara, Mantili, Ayu Mandira, Jaka Sembung dan sebagainya. Semua resep minuman ini sudah melalui tahap percobaan berkali-kali hingga menemukan padu padan racikan yang pas. Jika di bisnis kopi dikenal istilah Barista sebagai peracik kopi, maka untuk rempah dikenal istilah Acaraki sebagai peracik rempah/jamu. “Secara bisnis kami coba mencari ceruk pasar (market nicher, red.) spesifik dan akhirnya kami memutuskan minuman rempah ini. Karena belakangan ini semua fokus di bisnis kopi, nampaknya pasar mulai jenuh dan mencari sensasi minuman lain yang menarik. Minuman rempah ini tidak hanya bergerak di rasa, bau dan warna namun lebih dari itu, ada proses storytelling dan edukasi dari setiap produk minuman yang disajikan, sehingga membuat nilainya jauh lebih tinggi dari produknya itu sendiri,” sambung Eka Khadarpa. Rempah Empire yang berada di Beji, Kota Batu mulai buka sejak pertengahan April lalu, sempat berhenti karena peraturan pemerintah akibat wabah covid 19. Saat ini Rempah Empire kembali buka dengan menerapkan protokol kesehatan. Pembukaan Rempah Empire Sabtu (13/6) lalu, terasa istimewa dikarenakan dikunjungi tamu kehormatan dari rombongan Keraton Solo dipimpin Kanjeng Pangeran Edi Wirabumi dan istri. Rombongan dan pangeran kemudian mencoba beberapa menu minuman rempah dan memberikan apresiasi yang tinggi atas produk minuman rempah ini. Selain itu, beberapa kalangan dari Pemerintahan kota Malang dan Batu, komunitas, konservator, budayawan, mahasiswa dan beberapa influencer juga turut hadir dan menikmati berbagai minuman rempah di Rempah Empire. “Kami berharap Rempah Empire ini menjadi wadah bagi siapa saja yang ingin belajar rempah, termasuk wadah bagi inkubasi mahasiswa UMM yang ingin belajar bisnis dengan praktek yang lebih riil di sektor kuliner dan edukasi rempah,” tandas Novin. (*/can)

Pecah Rekor Bikin 10 Buku Sekali Terbit

PROGRAM STUDI (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam waktu dekat akan merilis 10 judul buku. Yang berbeda dari proyek penulisan buku sebelumnya, pada tahun 2020 ini berhasil memecahkan rekor penerbitan buku terbanyak yakni sepuluh buku. Kesepuluh buku ini merupakan proyek tugas akhir dari mata kuliah Media dan Masyarakat yang diampu dosen Ilmu Komunikasi Nurudin, M.Si. Ceritanya, setiap mengawali perkuliahan, Nurudin selalu menawarkan kepada mahasiswa yang diajarnya untuk membuat proyek kepenulisan. Tidak melulu menerbitkan buku. Tradisi literasi ini sudah dimulainya sejak tahun 2009. “Pokoknya harus ada publikasi. Kuliah jalan, nilai didapat, publikasi kampus juga ada. Pulang tidak hanya membawa ijasah tetapi juga kenang-kenangan buku,” terang Nurudin via daring. Tahun 2020 ini, dosen yang dikenal sebagai provokator menulis ini memberikan opsi menulis buku atau kuliah biasa saja. Empat kelas yang dia ampu memilih membuat buku, sementara sisanya memilih kuliah biasa. “Karena pandemi Covid-19, yang milih kuliah biasa saya sarankan tugas UAS-nya menulis di media. Boleh media cetak, online atau paling ringan nulis di blog,” kata dosen yang telah menerbitkan puluhan buku ini. Penentuan tugas akhir apa yang diambil pun dilakukan secara demokratis. Dimusyawarahkan oleh seluruh mahasiswanya di kelas. Kemudian mereka voting, lewat Line atau langsung memutuskan di kelas. “Saat memilih buku tentu saya, kan, harus memenuhi keinginan mereka. Lagian, itu sesuatu yang sangat baru bagi mereka. Ternyata mereka antusias dan bisa menulis,” ungkap Nurudin, Senin (15/6) siang. “Ternyata setelah mereka menulis dan diterbitkan jadi kecanduan. Yang nulis buku semangat ingin nulis lagi. Yang tugas nulis di media ingin juga menulis lagi. Setidaknya data ini saya dapatkan dari komentar mereka saat saya tanya bagaimana kesan setelah membuat tulisan,” ungkap mantan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM yang baru-baru ini kembali menerbitkan buku berjudul “Agama Saya adalah Uang” ini. Menerbitkan tulisan punya tempat tersendiri bagi Nurudin. Dengan menulis lantas menerbitkanya, justru punya hasil yang konkrit yakni karya. “Kalau tidak untuk apa? paling naskah tulis itu dikumpulkan ke dosen, selesai. Kalau menerbitkan buku, kan ada manfaatnya. Lalu setelah mereka menulis di media, saya minta untuk mention akun twitter saya dan Prodi komunikasi UMM. Tugas saya me-retweetnya,” ujar Nurudin. Sejak tradisi literasi ini pertama kali digulirkan pada tahun 2009, jumlah buku yang diterbitkan beragam. “Tidak tentu karena harus saya polling dulu saat pertamakali masuk kelas. Tahun 2019 ada 10 judul buku. Ini prestasi paling banyak  jika dilihat dari jumlah judul. Tahun 2020 ada 9 judul buku. Juga artikel mahasiswa 3 kelas. Jika rata-rata per kelas 50 orang akan ada publikasi 50 judul tulisan di media,” ungkap Nurudin. Dari segi kualitas tulisan, Nurudin tak begitu mempermasalahkannya. Ia selalu mengapresiasi setiap mahasiswanya yang berani memulai memiliki karya. Dalam bentuk apapun. “Menurut saya tulisannya bagus. Tentu dengan kemampuan mereka sebagai mahasiswa. Tentu saya tidak bisa memakai tolok ukur diri saya sendiri. Produk mahasiswa dan dosen itu kan karya? Menulis buku salah satunya,” tegas Nurudin. Karya terbaik menurutnya terbitan awal, yakni tahun 2009. “Merintisnya waktu itu susah sekali. Saya serahkan ke mahasiswa untuk diterbitkan. Nggak jalan. Akhirnya saya harus naik bis waktu itu ke Yogyakarta untuk mencari penerbit. Setelah diterbitkan akhirnya bisa dilaunching. Launching itu banyak diliput media. Setelah itu, memotivasi mahasiswa menulis buku lebih mudah karena sudah ada contohnya,” lanjutnya. Lebih jauh, memotivasi mahasiswanya untuk menulis akan terus dilakukannya. “Mungkin ini yang bisa saya lakukan. Minimal memaksimalkan kemampuan diri saya karena punya keahlian menulis. Sudah saatnya saya memberikan atmosfer menulis di tempat saya bekerja. Buku memang bukan pilihan satu-satunya. Tetapi sivitas akademika dituntut untuk punya karya, buku hanya salah satu pilihan,” tandasnya. (can)

Mahasiswa Psikologi Bisa Apa Selama Pandemi?

DEKAN Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Salis Yuniardi, Ph.D. mengisi sebuah forum santai berplatform podcast baru-baru ini (10/6). Podcast bertajuk UMMTalks tersebut disiarkan secara langsung di akun Instagram resmi UMM, @ummcampus mulai pukul 13.00. Dimoderatori oleh Duta Bahasa Jawa Timur, Rima Nabila Dian Agustin, Salis memberikan pandangannya tentang apa saja hal-hal berguna yang dapat dilakukan oleh mahasiswa psikologi sebagai bentuk kontribusi di masa pandemi. Podcast tersebut masih bisa disaksikan di instagram @ummcampus. Dalam keterangannya, Salis menjelaskan bahwa kontribusi nyata yang bisa diberikan oleh mahasiswa psikologi ada tiga hal. Pertama, mahasiswa harus menyadari dirinya yang sebenarnya, yang merupakan salah satu agen perubahan. Kedua, sebagai mahasiswa psikologi, mereka harus paham bahwa psikologi bisa bermanfaat di mana pun selama ada manusia. Artinya, ranah kontribusi mahasiswa psikologi tidak terbatas. Poin terakhir, ada sebuah konsep bahwa segala sesuatu berpusat pada pikiran. Covid-19 memang terjadi dan kita harus waspada, tetapi tidak boleh cemas berlebih. Hal ini disebabkan kondisi pikiran berdampak pada imun tubuh. Mahasiswa Psikologi harus menerapkan konsep ini pada dirinya sendiri, baru kemudian mengingatkan orang sekitarnya untuk tetap waspada, tapi jangan sampai panik. Penyebaran informasi ini bisa dilakukan dalam berbagai cara, misalnya lewat video animasi, pamflet, webinar, atau media lainnya. Jika sudah menempuh dan mendapatkan keahlian melakukan konseling, mahasiswa psikologi pun boleh menjadi teman bercerita bagi lingkungan sekitarnya. Mereka bisa berkontribusi dalam psikoedukasi dan berperan memberikan pendidikan pada masyarakat, sekaligus menjadikan dirinya sebagai role model. Terlebih, generasi milenial lebih acuh terkait Covid-19 ini. Oleh karena itu, mahasiswa psikologi bisa melakukan pendekatan untuk menumbuhkan kepedulian pada diri mereka. Perubahan gaya hidup menjadi berbasis digital memungkinkan konseling dapat dilakukan secara online. Ini bisa menjadi ladang bagi mahasiswa psikologi untuk mengembangkan kemampuan sekaligus berkontribusi selama Covid-19 berlangsung. Fakultas Psikologi UMM telah bergerak melayani masyarakat lewat berbagai jalur. Jalur internal melalui perantara Bimbingan Konseling (BK) dan Pusat Layanan Psikologi (PLP). Jalur eksternal adalah kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia, Rumah Sakit UMM, dan Muhammadiyah Service Center. Salis juga memberikan tips bagi pejuang long distance relationship (LDR) di tengah pandemi. Baginya, masa LDR adalah kesempatan untuk merasakan rindu lebih dalam sekaligus menguji seberapa sehat hubungan seseorang. Hubungan selalu terkait dengan kepercayaan. Kedua belah pihak hendaknya tidak saling menuntut untuk memberikan kepercayaan, tetapi berusaha untuk dapat dipercaya oleh satu sama lain. “Kepercayaan itu berbicara tentang bagaimana saya bisa dipercaya oleh pasangan saya,” tutupnya. (fpsi/can)