Berkebun di Rumah, Langkah Mudah Tingkatkan Kemandirian Pangan

Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) berkolaborasi dengan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajak seluruh masyarakat untuk memulai dan mengembangkan hobi berkebun di rumah. Hal ini dilakukan dengan mengadakan Seminar Agro Online Pendampingan Pangan dari Rumah (Pangandaru) bertemakan “Langkah Mudah Menuju Masyarakat Mandiri Pangan”. Menghadirkan Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM Prof. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si. di hari pertama (18/05). Peserta seminar melalui aplikasi zoom dan youtube mencapai 300 orang. Prof. Jabal menjelaskan bahwa menguatkan ketahanan pangan di saat adanya pandemi Covi-19 sangatlah penting untuk menjadi salah satu topik pembahasan. Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri, serta meningkatkan produktifitas masyarakat di rumah. Hal ini dapat dilakukan dengan berkebun dengan sistem aquaponik dan hidroponik yang dapat dilakukan di rumah dengan halaman atau ruang terbatas. “Harapannya masyarakat dapat bergotong royong untuk memenuhi ketersediaan komoditas pangan secara domestik atau dari tingkat rumah tangga, desa, kecamatan, dan kota. Selain mengusir rasa bosan, bertanam merupakan salah satu langkah mudah untuk berdonasi oksigen,” jelas Prof. Jabal. Rindya Fery Indrawan, S.Pi selaku Ketua Maharesigana menjelaskan bahwa kajian Agro Online Pagandaru khusus membahas ketahanan pangan selama tiga hari berturut-turut 18-20 Mei dengan pemateri yang berbeda. Hari pertama membahas terkait langkah-langkah meningkatkan kemandirian pangan, disusul dengan hari kedua dan ketiga dengan tema yang lebih khusus mebahas ketahanan pangan dengan perspektif pertanian dan perikanan. “Kondisi krisis dengan adanya pandemi Covid-19 memaksa kita untuk terus berinovasi dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kita harus beradaptasi dengan kondisi The New Normal,” jelas mahasiswa Magister Agrobisnis UMM tersebut. Selain adanya diskusi Agro Online Pangandaru, Maharesigana juga mengadakan live streaming Cabin Talk melalui aplikasi instagram. Kegiatan dilakukan setiap hari Senin dan Jumat dengan tema dan pemateri berbeda. Selain itu, Maharesigana juga mengadakan open donation dan pembagian sembako, pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), serta penyemprotan disenfektan di tempat-tempat umum. (*/can)
Kisah Alumni UMM Jalani Ramadan di Amerika

Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kasmawati Ahmad, untuk bisa menjalani Ramadhan di Amerika. Terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19. Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini mengaku menjalani Ramadhan dengan tidak mudah. Peraih beasiswa LPDP Indonesia Timur untuk studi Master Business Administration di Clark University ini mengaku rindu momen Ramadan yang tidak bisa ia dapatkan saat berada di Negeri Paman Sam, di antaranya salat tarawih berjamaah dan tradisi membangunkan sahur. “Ingat banget, kalau di Indonesia, semua masjid pasti sudah penuh dengan jamaah. Di Masjid ramai dan kadang ketemu kerabat yang sudah lama tidak ketemu. Di saat sahur, bisa kedengaran suara anak-anak sambil nyanyi atau teriak-teriak “sahur-sahur”. Di sini, cuma suara alarm HP aja atau teman yang bangunin. Nggak ada suara adzan. Sedih banget sebenarnya,” kata perempuan asal Pulau Buru, Maluku itu. Kasma lantas bercerita, semula ia sempat khawatir menjalani Ramadan di Amerika dengan lama waktu puasa selama 16 jam, sementara di Indonesia hanya 13 jam. Namun berkat teman-temannya dari berbagai negara sesama muslim, ia bisa menikmati Ramadan di tanah rantau. “Alhamdulillah, saya sangat menikmati suasana ramadan di Amerika walaupun saya sempat khawatir dengan perbedaan waktu dan lingkungan di sini. Kebetulan saya tinggal dengan kawan-kawan muslim dari empat negara yang berbeda apalagi di sini muslim community-nya sangat kuat sehingga masalah perbedaan suasana bisa sedikit ringan untuk saya hadapi,” paparnya. Meski begitu, Kasma -demikian ia akrab disapa, tetap bisa melalui Ramadan dengan indah bersama empat teman kosnya yang juga muslim. Mereka berasal dari Arab Saudi, Pakistan, India dan Algeria. Setiap harinya, mereka sepakat untuk memasak makanan khas dari negara masing-masing. Lidah Indonesianya tak bisa dibohongi. Kasma pun lebih memilih memasak kolak, gorengan dan sambal karena mudah dan praktis. Sementara teman-temannya yang lain membuat sup, roti dan pasta dengan rasa yang bervariasi. “Makanan di atas meja saat buka puasa jadi sangat bervariasi,” tutur perempuan yang pernah aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini. Sementara untuk mengobati rasa rindu terhadap jajanan buka puasa di Indonesia, Kasma memilih untuk membuatnya sendiri. “Saya masih belajar untuk mencoba memasak beberapa jajanan yang bisa mengobati rasa rindu rumah,” katanya. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Amerika, Kasma yang tinggal di Worcester, Massachusetts mengaku tidak mengalami kesulitan. Ia dapat dengan mudah menemukan supermarket yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari. Dekat apartemennya, ada lima supermarket asia yang menyediakan bahan-bahan masakan merek Indonesia. “Bahkan di sini, saya bisa gampang dapat ikan segar tiap hari jumat di salah satu Asian Market. Jaraknya hanya 8 menit jalan kaki dari apartemen saya. Saya biasanya belanja seminggu sekali langsung ke supermarket,” tuturnya. Saat berkunjung ke supermarket, ia pun tidak khawatir sebab beberapa supermarket sudah menyediakan sarung tangan untuk tiap pengunjung. Lokasi supermarket pun sudah disterilisasi dan patuh pada aturan physical distancing. Sebelum mengambil studi Master di Amerika, Kasma lebih dulu bertandang ke Amerika untuk membawa konsep kewirausahaan sosial. Kasma terpilih mewakili provinsinya, Maluku, dalam ajang Young Southeast Asian Leader Initiatif (YSEALI) pada tahun 2019 selama lima pekan. (can)
Alumnus UMM Bagi Pengalaman Hampir Mati Saat Meliput Gempa Nepal

Menjadi jurnalis televisi adalah impian David Bahtiyar Rizal, alumni Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2007, sejak kecil. Konon, jika anak kecil sebelum berangkat sekolah nonton kartun dulu, hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh reporter dan produser Liputan 6 SCTV ini. ‘Sarapan’nya setiap pagi sebelum berangkat sekolah adalah nonton berita di TV. Sejak kecil orang tua David memang ingin sekali David bisa menjadi news presenter seperti Bayu Setiono, news presenter favorit ibu David. Kisah impian David ini terungkap saat Alumni Sharing Session bertajuk ‘The Perks of Being Broadcaster’ yang diadakan Prodi Ilmu Komunikasi pada Selasa,12 Mei 2020 lalu. Karir David sebagai reporter SCTV dimulai dari SCTV Goes To Campus yang ia ikuti saat semester 8. Tapi sayang, saat itu ia hanya mendapat posisi juara dua. Kecewa, pasti. Sebab yang bisa menjadi lolos ke Jakarta dan menjadi presenter adalah yang juara pertama. “Tapi ternyata waktu itu juara pertama mengundurkan diri karena setelah lulus kuliah dia mau nikah. Akhirnya mas Jeremy Teti kontak saya dan meminta saya untuk siap ke Jakarta. Saat itu saya lagi skripsi, akhirnya yang awalnya santai-santai, jadi ngebut mengerjakan. Alhamdulillah,lulus sih,”ungkapnya sambil tertawa. David Rizal terkenal sebagai jurnalis bencana. Namanya selalu menjadi pilihan pertama di redaksi ketika ada peristiwa bencana. Bahkan saat ada gempa Ia mengaku semua bencana besar sudah pernah ia liput, mulai dari gempa dan tsunami di Palu, jatuhnya pesawat Lion Air, gempa di Pidi Jaya, dll. Bahkan ketika ia harus meliput gempa di Nepal tahun 2015, ia hampir kehilangan nyawa. Dia menginap di sebuah hotel yang hampir rubuh ketika terjadi gempa susulan. Efek trauma terhadap getaran gempa masih ia rasakan hinggasekarang. Namun baginya itu adalah resiko profesi. Dalam meliput berita bencana juga ada beberapa patokan yang ia pegang teguh, yang pertama adalah humanisme. Misalnya saat memberitakan covid-19, ada beberapa do and don’t yang menjadi patokan. Salah satunya adalah tidak boleh mengeksploitasi kesedihan. Cukup men-twist anglenya menjadi human interest yang menimbulkan empati tanpa mengeksplotasi kesedihan korban. Dalam sesi ini sejumlah peserta sharing session juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung. Adinda, salah satu peserta, menanyakan bagaimana tips untuk menghindari filler word saat berbicara di depan publik. Menurut David, penguasaanknowledge sebelum berbicara sangat penting untuk menghindari filler word. Olivia Anisa, peserta yang lain juga menanyakan bagaimana ritme kegiatan jurnalis televisi. “Saya memulai aktivitas sejak jam 3 pagi karena jadwal saya siaran pagi sampai jam 5 sore. Tidak hanya sekedar siaran namun juga melakukan aktivitas dubbing, motong video liputan, dll. Capek sih tapi asyik sekali apalagi kalau sudah turun lapangan. Hal yang menyenangkan bagi jurnalis adalah saat liputan di lapangan, bisa bertemu banyak orang dan hal-hal baru,”tutur pria asal Bondowoso ini. Banyak pengalaman menarik yang terjadi saat ia menjadi news presenter. Tak hanya pengalaman serius saja tapi juga pengalaman konyol. Yang paling ia ingat adalah saat tiba-tiba ngeblank lupa nama sendiri. “Itu gara-gara saya datang lima menit sebelum on air, waduh tak terlupakan,”imbuhnya. (wnd/can)
Srikandi FKIP UMM Tebar Inspirasi Penilaian Peserta Didik Berbasis Daring

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Webinar Nasional yang dikemas Ngobrol Bergizi Bareng Srikandi bertema “Asesmen ramah saat belajar di/dari rumah”, Jumat (15/5/2020). Acara ini diikuti oleh kurang lebih 550 peserta dari seluruh Indonesia, dari Papua hingga Aceh. Peserta berlatar belakang guru, orang tua, dosen, pemerhati pendidikan, dan mahasiswa. Acara berlangsung selama 4 jam. Acara dibuka dengan pengantar dari Poncojari Wahyono, anggota BSNP sekaligus juga Dekan FKIP UMM. Poncojari Wahyono mengungkapkan bahwa pemilihan tema webinar ini didasarkan pada banyaknya permintaan dari khalayak akan perlunya diskusi dan pencerahan terkait bagaimana asesmen atau penilaian yang ideal dalam pembelajaran daring. Masalahnya, seringkali guru dan sekolah tidak memiliki pilihan yang tepat bagaimana menilai peserta didik karena mereka tidak siap dan kurang memiliki pengalaman. Pandemi Covid-19 menuntut guru melakukan penilaian yang benar, otentik, dan valid, namun tetap menghargai usaha peseta didik dan berbagai kendala yang dihadapi para orang tua dan siswa. “FKIP UMM memiliki pakar-pakar asesmen otentik, bahkan mereka sudah berpengalaman internasional. Kebetulan kebanyakan adalah perempuan, maka kami menyebutnya sebagai para srikandi asesmen” ujar Poncojari Wahyono. Empat srikandi ahli asesmen atau penilaian bergelar doktor dari FKIP UMM bergantian memaparkan inspirasi dan solusi mereka. Keempat srikandi tersebut adalah Endang Poerwanti dengan paparan berjudul Asesmen mendasar Untuk level sekolah dasar, Ribut Wahyu Erliyanti dengan paparan berjudul Ragam Asesmen ramah dalam Pembelajaran Bahasa dan Sosial di Rumah, Fardini Sabilah menyajikan paparan berjudul Asesment Pembelajaran Bahasa Inggris: Mudah Guys!; dan Trisakti Handayani menyajikan paparan berjudul Bedah Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dan Asesmen di Rumah. Salah satu pembicara, Endang Poerwanti dalam paparannya menegaskan bahwa seharusnya penilaian yang dilakukan guru tidak lupa dari satu kaidah bahwa saat ini adalah kondisi darurat atau pandemi. Kondisi ini pun mungkin baru saja dialami dunia pendidikan modern, khususnya di Indonesia. Oleh karenanya, guru tidak boleh terlalu kaku. “Ada banyak teknik, pilihan cara, dan pendekatan penilaian yang dapat dilakukan guru. Teknologi sudah sangat membantu. Tetapi ingat, jangan sampai malah menyusahkan peserta didik dan orang tuanya. Atau malah karena terlalu susah, atau melenceng dari kaidah, maka melenceng. Misalnya, malah orang tuanya yang mengerjakan tugas. Kenyataannya banyak orang tua yang saat ini mengeluh dan protes. Tagihan atau tugas yang diberikan guru tidak logis, tugas diberikan tiap hari, waktu mengerjakan singkat, dan tidak sesuai level umur peserta didik”, ujar dosen senior Prodi PGSD UMM itu. Senada dengan itu, Trisakti Handayani yang merupakan Kaprodi PPG UMM menuturkan bahwa orang tua di masa pandemi ini memiliki peran strategis dalam menjamin kesuksesan pembelajaran daring yang melibatkan anaknya. Orang tua haruslah tanggap dan peka serta selalu aktif melakukan komunikasi dengan guru. Tidak hanya menjadi penyedia teknologi pendukung pembelajaran, mereka akan menjadi pengganti guru di rumah. “Peran edukator harus benar-benar dilakukan orang tua. Dalam hal ini, yang saya maksud sebagai orang tua bukan hanya salah satu, tapi semuanya. Bukan hanya ibu, tapi juga ayah. Semua harus kompak, terlibat dan konstruktif. Jangan sampai ketidakpedulian orang tua, atau keselahan mereka dalam berperan malah akan membebani dan semakin membuat stress anak.” tutur Trisakti. Sementara itu, Fardini Sabilah yang juga dosen senior dari Prodi Bahasa Inggris UMM dan Ribut Wahyu Erliyanti dosen senior Prodi Bahasa Indonesia UMM banyak membagikan tips dan contoh riil dalam bidang pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Berbagai contoh bentuk penilaian diuraikan secara mendalam sehingga diharapkan memberikan banyak alternatif bagi guru-guru yang membutuhkan. (*/can)
Belajar Asyik di Rumah dengan Formula BERLIAN Dosen UMM

Di masa pandemi Covid-19, orang tua menjadi punya kesempatan lebih untuk belajar dan bermain bersama anak. Selain tentunya menjadi kesempatan bagi para orang tua untuk mempererat hubungan anggota keluarga, terlebih antara orang tua dan anak. Ketimbang anak-anak selalu sibuk dengan gawainya, ada alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. Salah satunya yakni menerapkan permainan tradisional bersama keluarga. Disebut Dr. Iswinarti, M.Si. Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), permainan tradisional memiliki nilai-nilai karakter baik di antaranya performance character seperti kemampuan menyelesaikan masalah, pantang menyerah, mengatur strategi, berkompetisi, berkomunikasi, dorongan berprestasi, pengendalian diri, ketelitian, konsentrasi, serta kepemimpinan. Iswinarti menambahkan penelitian tentang pengaruh teknologi digital seperti video game dan komputer terhadap perkembangan anak telah menunjukkan hasil yang konsisten. Penggunaan internet dalam bermain game atau game online secara potensial akan menimbulkan bahaya kesehatan fisik dan mental. Agresivitas merupakan salah satu efek yang berarti dari bermain video game tersebut. “Sementara, dalam permainan tradisional, terdapat juga moral character yang sangat dibutuhkan untuk hubungan terbaik. Yakni nilai kejujuran atau sportivitas, nilai empati, tanggung jawab, hubungan sosial, kerjasama, serta keadilan,” demikian disampaikan Iswinarti dalam webinar Lembaga Kebudayaan LK UMM dengan tema “Pembelajaran Daring Berbasis Budaya pada Siswa TK dan SD dalam Situasi Pandemi Covid-19”. Pada sebuah penelitiannya Iswinarti mengemukakan metode BERLIAN, yaitu Bermain, ExpeRiential, LearnIng, Anak. Metode ini berfungsi membantu anak menemukan makna dari pengalaman ketika mereka bermain permainan tradisional. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan ini menunjukkan bahwa anak-anak yang bermain permainan tradisional disertai metode BERLIAN lebih mengalami peningkatan kompetensi sosial. Adapun langkah-langkah permainan tradisional dengan metode BERLIAN yakni menentukan nilai yang terkandung; mengajari aturan main; simulasi cara bermain; melakukan evaluasi terhadap cara bermain, dan; melakukan permainan dan refleksi terhadap pengalaman anak saat bermain. Di antara permaian tradisional terbaik menurut Iswinarti yakni Congklak Lidi, Dakon, Bekelan, Engklek, dan Lompat Tali. Dalam webinar yang diselenggarakan Kamis (14/05), dalam mensosialisasikan permainan tradisional dibutuhkan peran serta banyak pihak, termasuk sekolah dalam hal ini guru. “Jadi orang tua bakal melaporkan kepada sekolah bahwa mereka sudah bermain. Upaya ini sebagai bentuk aplikasi mata pelajaran tertentu yang berkesesuaian dengan permainan tradisional,” ungkapnya di webinar yang diikuti ratusan peserta ini. (can)
Puluhan Warga Sukun Terima Sembako Relawan UMM

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menyalurkan sembako sebanyak 30 paket kepada mahasiswa dan masyarakat umum terdampak Covid-19. Kali ini paket sembako dikhususkan untuk para pencari nafkah harian di Wilayah Mergan, yaitu Desa Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang (12-13/05). Proses penentuan target penerima bantuan hingga penyaluran sembako dilakukan langsung oleh Relawan Muhammadiyah. Muhammad Fazar Ridhani selaku Koordinator Program Pembagian Sembako menjelaskan,ada sekitar 30 Kartu Keluarga (KK) terpilih yang menjadi penerima bantuan. Calon penerima bantuan sembako dipilih berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Salah satu syarat penerima bantuan yaitu masyarakat yang termasuk dalam katagori pencari nafkah harian. Artinya, masyarat tersebut tidak mendapat pemasukan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan jika tidak bekerja di hari yang sama. “Total kami telah membagikan 150 paket sembako kepada mahasiswa yang terisolasi dan masyarakat umum pencari nafkah harian. Hingga saat ini kami masih terus mengusahakan ketersediaan paket sembako,” jelas Fazar, mahasiswa FEB UMM tersebut, Kamis (14/5). Sementara itu, Djumadi selaku kepala RT 1 RW 7 menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah tersebut bekerja sebagai pemulung dan pedagang. Namun sejak adanya bencana pandemi Covid-19, masyarakat kesulitan untuk mencari nafkah mengingat sebagian besar masyarakat melakukan lockdown mandiri dan terbatasnya ruang gerak. “Masyarakat saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di pinggir jalan, berharap mendapat bantuan dari para relawan. Tidak banyak yang dapat kami lakukan untuk membantu masyarakat. Berbagai bantuan telah kami ajukan ke beberapa instansi, namun belum ada yang kejelasan. Terimakasih kepada teman-teman Maharesigana sudah memperhatikan kami dan berbagi,” pungkas penggagas rumah pintar tersebut. Selain program membagikan sembako, sejak 22 Maret juga Maharesigana sudah melakukan kegiatan lainnya. Di antaranya penyemprotan disinfektan di 58 titik di Malang Raya. Mereka juga memproduksi 2020 face shield, 310 liter hand sanitizer, 110 liter diinfektan. Sementara, relawan yang telah terlibat sebanyak 235 orang. Serta sudah melayani 1,2 juta lebih orang di Call Center Covid-19. (*/can)
Mahasiswa KKN UMM Peduli Masyarakat Rentan Kota Malang

KETERBATASAN yang diakibatkan pandemi Covid-19 justru memperkuat kohesi sosial antar elemen masyarakat. Yang mampu membantu yang tidak mampu. Yang kuat membantu yang lemah. Demikian juga inisiasi yang dilakukan mahasiswa Kelompok Kerja Nyata (KKN) 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang membagikan ratusan bungkus makanan kepada masyakarat rentan di Kota Malang, Selasa (12/5). Meskipun program KKN-nya telah usai, mereka tidak ingin kebermanfaatannya juga berhenti. Melalui program Operasi Makan Gratis (OMG), kelompok mahasiswa yang sebelumnya ditempatkan di Jatiguwi, Sumberpucung, Kabupaten Malang ini rela menyisihkan sisa uang kegiatan program. Dilaksanakan di 4 titik, antara lain di Jalan Ijen, Jalan Veteran, Alun-alun Kota Malang, serta Alun-alun Tugu Malang. Caprycornis Yearis S., mahasiswa Program Studi Teknik Mesin selaku humas KKN 10 Jatiguwi dan juga relawan Satgas COVID-19 ACT MRI Malang ini mengungkapkan bahwa ia sangat mengapresiasi teman-temannya yang telah ikut ambil peran serta mendukung dalam menghadapi pandemi. “Kita harus saling berbagi, bekerjasama dan menguatkan satu sama lain di tengah situasi yang tidak menentu ini,” ungkapnya. Diantara masyarakat yang menjadi target OMG adalah pekerja non formal, ojek online, tukang ojek, dan petugas kebersihan. Program ini dilaksanakan dengan membagikan 100 porsi makan untuk buka puasa. “Dengan aksi ini, diharapkan akan memunculkan inisiatif lain yang akan banyak membantu masyarakat yang terkena dampak dari Covid-19. Sehingga semakin banyak masyarakat yang terbantu,” kata Yearis via WhatsApp. Pentingnya memiliki rasa kemanusian yang tinggi saat menghadapi pandemi Covid-19 memang sangat dibutuhkan. Karena, menurut Yearis, tidak hanya para tenaga kesehatan yang membutuhkan, masyarakat yang juga terkena pemutusan hubungan kerja yang tidak memiliki penghasilan lagi, serta para pekerja yang kehidupanya bergantung pada pendapatan harian,” ungkap mahasiswi asal Donomulyo, Malang. Kelompok mahasiswa ini tidak bergerak sendiri. Mereka juga berkolaborasi dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Malang dalam aksinya. Salah satu penerima manfaat mengaku pendapatan hariannya jauh berkurang sejak pandemi. “Sepi banget, mas. Nggak kayak biasanya. Pemasukan jadi sedikit padahal kebutuhan di rumah harus tetap terpenuhi,” pungkas Sutrisno, tukang becak yang mangkal di sekitar Alun-alun Tugu Malang. (can)
Belajar Jadi Kreator Konten dari Alumni UMM

Semakin banyak saja alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses dengan skill kekinian. Muhammad Rizky alias Rizky Boncel, misalnya. Alumni Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi ini sukses dengan kemampuannya menjadi content creator dan public speaking sehingga dikenal luas di kalangan anak muda sekarang. Profil Boncel dikupas dalam serial Communication Talk Prodi Komunikasi UMM, melalui bincang online Alumni Sharing Session, Sabtu (9/05/2020). Dipandu host Fuad Nasvian, Boncel membagikan tips suksesnya untuk para calon mahasiswa, mahasiswa dan alumni yang mengikuti acara bertajuk “Entertainer adalah Jalan Ninjaku” ini. Wajah Boncel tak asing di mata milenial yang menggemari sinetron komedi OK Jek di NET tv, maupun program Redaksiana, Tau Gak Sih dan CCTV di Trans 7. Dia juga sempat membintangi beberapa FTV di SCTV, kuis Komunikata GlobalTV serta membawakan Mboisson di JTV. Rambut lurus berponi dengan suara dan celotehan yang khas, menjadikannya mudah dikenali. “Lebih tepatnya saya ini adalah warga sipil yang menjadi content creator,” katanya memulai diskusi. Sejak SMA, Boncel menyukai public speaking melalui berbagai kegiatan sebagai MC. Penampilannya yang kocak membuatnya mulai percaya diri tampil di depan kamera. Dia mencoba membuat cerita sendiri untuk konten-konten yang diunggah di channel Youtube. Beberapa webseries yang sudah tayang antara lain “Yakin Nikah” (JBL Indonesia), “Filosofi Kopi” (Visinema), “Cikur” (Bank Indonesia) dan “Berpayung Rindu” (Unda Undi). Boncel juga membintangi beberapa film pendek. Antara lain, “9 Sisi Gusdur”, “Generasi Micin”, “Kartolo Numpak Terang Bulan”. “Karena pandemik Corona, banyak jadwal syuting break. Makanya sekarang lebih banyak membuat konten untuk Instagram saja,” kata Alumni UMM angkatan 2012 ini. Berbagai tips menjadi kreator konten dibagikan Boncel. Salah satunya harus konsisten. “Harus selalu punya ide, harus konsisten produktif, cari yang unik dan positif. Jangan ogah-ogahan,” tuturnya. Dia menyesalkan banyak kreator konten yang nakal demi menarik perhatian. “Banyak oknum Youtuber yang membuat konten sampah, prank yang merugikan orang adalah contoh konten yang tidak mengedepankan value manfaat dari konten,” kilahnya. Agar tetap bisa membuat konten positif, Boncel berharap para pemula untuk memulainya dengan menentukan branding diri untuk menunjukkan personal brandingnya. Selain itu, perlu menentukan segmentasi yang tepat. Kemampuan melakukan riset juga diperlukan agar ide kreatif selalu ditemukan dengan tepat. “Selanjutnya adalah kolaborasikan ide-ide tersebut untuk dieksekusi dalam bentuk grafis, visual atau apapun,” kata Boncel. Meski menyenangkan, Boncel juga menghadapi pengalaman yang membuatnya sempat stress. Awal karirnya ketika masih menjadi mahasiswa dia menulis buku humor dengan judul “Susilo Boncell Yudhoyono”. Tak ayal judul itu menuai protes karena diasosiasikan dengan nama presiden yang sedang berkuasa waktu itu, Susilo Bambang Yudoyono. Tak kehabisan akal, judul bukupun diubah lebih menarik menjadi “Susilo Boncell Jombloyono” yang membuat namanya semakin dikenal. Pernah juga dia diserang melalui akun Instagramnya gara-gara menyebut nama seseorang dengan guyonan ketika menjadi MC. Caption negatif yang melekat pada predikat ke-MC-annya sempat viral dan dibahas di sebuah acara televisi. “Padahal itu hanya potongan, tidak utuh,” aku Boncel yang sempat stress dibuatnya. Boncel merasa beruntung karena masuk ke dalam komunitas yang memacu adrenalin kreativitasnya, yakni di Prodi Komunikasi UMM. “Selain dosen dan fasilitas yang keren, kesempatan berkarya, berekspresi dan berprestasi yang diberikan kampus ini selama menjadi mahasiswa memberikan impact besar pada karir saya,” aku alumni yang mengagumi dua dosennya yaitu Nurudin dan Arif Hidayatullah ini. Bukan hanya Rizki Boncel, banyak juga jebolan UMM yang sukses menjadi influencer/ conten creator. Ada Hari Obbi dan Yudistira lewat channel Youtube yang memotivasi pemuda indonesia untuk berkarya dan memanfaatkan gadget/handphone dengan baik. Kini memiliki 199 ribu subscriber. Ada juga Luluk HF, novelis yang beberapa karyanya novelnya best seller dan telah diangkat ke layar lebar. Di Instagram, Luluk sudah memilki 183 ribu follower. UMM sendiri, pada penerimaan mahasiswa barunya membuka jalur khusus Influencer/ Content Creator. Bagi Youtubers dengan subscriber minimal 5.000 dan Selebgram dengan follower minimal 10.000 akan diseleksi tanpa tes masuk. Tentu prosesnya tak sembarangan, diseleksi lebih dulu lewat mekanisme uji keterampilan. (nas/can)
Tim UMM Terima Penghargaan IDEAthon Kemenristek Berkat Ide Aplikasi Covid-19

Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (KEMENRISTEK-BRIN RI) baru-baru ini mengadakan IDEAthon Inovation Covid-19, sebuah platform crowdsourching yang memungkinkan setiap orang untuk menyumbangkan bakatnya dalam memecahkan masalah kolektif, secara lokal dan global. Mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ikut urun inovasi aplikasi penyedia informasi Covid-19, berhasil mendapat penghargaan. Tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Program Studi Informatika ini mengusung inovasi “Reengineering Website covid19.go.id ke dalam Bentuk Aplikasi Smart Client Berbasis Mobile”. Mereka yakni Muhammad Yusril Hasanuddin, Ricky Oktavian, serta dosen pengampu mata kuliah Pemograman Mobile Hariyadi, S.Kom, MT yang membuat aplikasi bernama SIMCOVID19ID, singkatan dari Sistem Informasi Manajemen Covid-19 Indonesia. Keunggulan utamanya Smart Client. “Smart-Client adalah sebuah fitur klien cerdas yang dimana klien atau pengguna memungkinkan dirinya membuka aplikasi tanpa memerlukan akses internet dan secara otomatis memperbaharui data pada aplikasi ketika perangkat terhubung dengan internet. Salah satu dari aplikasi yang menerapkan Smart Client adalah Instagram dan WhatsApp,” ungkap Muhammad Yusril Hasanuddin, Sabtu (9/5) mahasiswa pengusul aplikasi yang dibuat untuk pengguna Android dan iOS. Dijelaskan mahasiswa asal Buleleng, Bali ini bahwa sejak diluncurkan tanggal 18 Maret 2020 website informasi penanganan Covid-19, covid19.go.id, dalam pengimplementasiannya terdapat sejumlah kekurangan. Satu di antaranya, situs resmi buatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah ini sempat down atau tidak dapat diakses. “Terlebih untuk mengakses sebuah situs, memerlukan akses ke jaringan internet yang bagus,” ungkap Yusril via WA. Terdapat 5 inovasi fitur baru di aplikasi SIMCOVID19ID, yang merupakan pengembangan dari fitur yang terdapat di website covid19.go.id. Sebelum masuk ke dashboard, pengguna wajib mendaftar ke aplikasi tersebut dengan wajib mencantumkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), username aplikasi, dan password aplikasi.“NIK bertujuan untuk mengambil data kependudukan yaitu nama, tanggal lahir, jenis kelamin dan tempat tinggal,” jelas mahasiswa angkatan 2018 ini. Setelah login, pengguna baru bisa mengakses fitur aplikasi. Inovasi fitur pertama yaitu fitur lihat sebaran COVID-19 per wilayah yang ditinggali user. Dikarenakan pengguna harus login untuk bisa memakai aplikasi ini, maka didapatkan data berupa tempat pengguna itu berada secara terperinci sehingga pengguna dimudahkan dalam melihat peta perseberan per tempat pengguna berada. Data persebaran Covid-19 disajikan realtime sesuai update Pemerintah di situs covid19.go.id. Inovasi fitur kedua adalah pengembangan dari fitur tanya jawab yang disediakan website covid19.go.id. Fitur ini diadakan dilatarbelakangi banyaknya pertanyaan seputar agama, pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Adapun fitur yang ketiga adalah fitur lapor hoax. Konfirmasi dari benar tidaknya hoax akan dijawab oleh admin. Inovasi fitur keempat adalah donasi. Serta fitur kelima adalah fitur pendaftaran relawan, utamanya sebagai admin konfirmasi hoax Covid-19. Karena karyanya dinyatakan lolos dan mendapat penghargaan sebagai salah satu inovasi yang bakal ditindaklanjuti, Yusril bersama timnya akan memperoleh pendanaan untuk upaya pengembangan. “Ajang IDEAthon bukan merupakan ajang kompetisi. Jadi, tidak ada pemeringkatan juara. Di sini, kami saling gotong royong untuk turut membantu penanganan Covid-19. Semoga aplikasi ini bisa segera diunduh melalui Playstore bagi Android dan Appstore bagi iOS,” tandasnya. (can)
Ketagihan Ikut Lomba, Mahasiswa UMM: Sekali Tampil, Harus Berhasil

Fadillah Ahmad Nur punya sederet pengalaman berharga mengikuti perlombaan Al Qur’an, baik di tingkat lokal maupun nasional. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini bahkan punya moto khusus saat ikut berkompetisi: Sekali tampil, harus berhasil! Adil, demikian putra dari pasangan Ir. Mahmud dan Berlian S.Pd akrab disapa, sudah banyak mendapat gelar mentereng dan ikut banyak perlombaan sejak duduk di bangku sekolah menengah. Sebutlah juara Dai Muda Sumbawa Barat, Juara Musabaqoh Makalah Ilmiah Al-Qur’an Sumbawa barat, Juara 2 Musabaqoh Syarhil Qur’an Sumbawa Barat, dan banyak prestasi lainnya. Yang terakhir, pada awal tahun 2020, Adil bersama keenam mahasiswa UMM lainnya yang tergabung di UKM MTQ menjadi delegasi Musabaqah Syahril Quran Nasional di Universitas Djuanda Bogor. Adil sendiri, berhasil membawa tim putra menjadi juara pertama dan menyisihkan 23 tim delegasi dari seluruh Indonesia. Sementara tim putri harus puas berada di juara kedua nasional. “Alhamdulillah, persiapan kami lumayan singkat, karena ketika itu setelah ujian akhir semester ganjil, kami langsung berangkat. Jadi di sela-sela itu kami meluangkan waktu untuk latihan bersama,” ungkap alumni Pesantren Al-Ikhlas Taliwang IIBS Kabupaten Sumbawa Barat yang pernah menjadi Duta Anak Kabupaten Sumbawa Barat ini saat diwawancara via WhatsApp, Selasa (5/5). Perlombaan MSQ ini terdiri dari 3 orang, 1 orang sebagai pembicara/penceramah, 1 orang sebagai Qori’ dan 1 orang sebagai sebagai Saritilawah Qur’an. Dari panitia pelaksana memberikan 3 tema pilihan, dan kami masing-masing tim yang menentukan temanya. Dalam perlombaan peserta di berikan waktu maksimal 15 menit untuk menyampaikan syarahan-nya. Selain Adil, anggota tim putra UMM yang ikut menyumbang juara yakni Muhammad Noer Jayadin dan Saeful Biantoro. Sementara tim putri ada Enda Sulistina, Egalia Novika Hidayat, serta Fira Maulida Ahsaniah. untuk diketahui, Musyabaqoh Syarhil Qur’an sendiri merupakan cabang lomba dakwah dengan mengandalkan kolaborasi dan teknik yang khas dalam penyampaiannya. “Persaingan di nasional sangat luar biasa, karena pastinya masing-masing kampus mengirimkan delegasi terbaiknya. Alhamdulillah, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kami miliki, kami bisa meraih prestasi. Semuanya berkat orang tua yang selalu support dan mendoakan, begitu pula para ustadz dan ustadzah, guru, sahabat dan teman-temen kami,” ungkap Adil. Sederet panjang pretasi yang diraih Adil, ternyata berangkat dari petuah yang senantiasa diingatnya. “Saya selalu termotivasi kata pimpinan pondok saya dulu, Buya Zul. Beliau mengatakan, siapkan hari ini untuk esokmu, namun esokmu bukan untuk dirimu, tapi untuk perjuangan. Jadi hal-hal yang saya lakukan sekarang adalah bekal persiapan untuk masa depan,” tandasnya. (can)