Hardiknas, Guru Besar UMM: Guru Harus Terus Belajar

PERUBAHAN zaman menuntut para pendidik untuk dapat melakukan penyesuaian terhadap peserta didik. Terlebih, kemunculan teknologi membuat para pendidik harus beradu peran dengan teknologi yang semakin hari, semakin tak terkendali laju kemajuannya. Kuncinya, disebut guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., pendidik harus terus melakukan penyesuaian diri. “Yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa yang pertama adalah meningkatkan kualitas gurunya. Kalau gurunya baik, maka sesungguhnya akan menjadi baik pendidikan itu. Pak Malik Fadjar bilang, guru itu cermin dari pendidikan. Bagaimana kemudian kondisi pendidikan? Yakni tercermin di pendidik. Bagaimana pun, guru yang utama,” kata In’am yang disiarkan di platform Instagram dan Youtube UMM. Dalam bincang santai dalam jaringan (daring) yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei, In’am juga menyitir ucapan Ali bin Abi Thalib yang menyatakan bahwa “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Hal ini, menurut In’am sebagai isyarat, tak hanya para orang tua tapi juga pendidik, untuk melakukan penyesuaian diri. “Yang namanya guru, yang namanya dosen, ya harus selalu belajar. Memang kita sadari bahwa tidak semua pendidik, baik guru ataupun dosen, mampu menyesuaikan diri dengan segala perkembangan yang ada. Meski tidak banyak yang begitu. Tetapi hemat saya, guru harus terus belajar dan menyesuaikan diri dengan karakter peserta didik di zaman sekarang,” ungkapnya disaksikan ratusan sivitas akademika UMM. Guru juga harus menyadari bahwa perlu adanya peningkatan profesionalisme secara terus menerus. Bisa melalui institusi, boleh juga secara mandiri. Bukan berarti, ditegaskan Guru Besar Ilmu Pendidikan Matematika ini, jika sudah tersertifikasi lantas guru berhenti belajar. Tidak. “Karena belajar itu sedari buian hingga ke liang lahat. Dan ingat, mencari ilmu itu wajib hukumnya,” tegas In’am yang siaran di ruangannya. Bincang santai yang dipandu Dosen Ilmu Komunikasi UMM Arum Martikasari juga bertanya bagaimana seharusnya orangtua berperan sebagai pendidik di tengah pandemi Covid-19. Menurut In’am, orang tua juga harus banyak belajar mendidik anak-anaknya sendiri. Belajar mendidik itu tidak harus menjadi guru, para calon-calon orang tua juga harus banyak belajar untuk menjadi pendidik. “Kalau kita tidak bisa, nanti jika menemui masalah pada anak, kita tidak bisa membantu menyelesaikannya,” ungkapnya. Terakhir pesan In’a,m, mengajar harus diniati ibadah. Kedua, bahwa saat mengajar, kita menghadapi banyak karakter, ada kemajemukan dari peserta didik. Karena peran sebagai guru lah kita harusnya bersyukur, karena bisa belajar dari banyak karakter orang. “Dengan banyaknya karakter itu, kita bisa terpacu untuk belajar bagaimana meningkatkan kualitas mereka dengan kompetensi yang berbeda-beda,” tandas In’am. (can)

Hobi Sibukkan Diri, Ukir Karir Sejak Dini

Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak. Pepatah ini hidup dalam keseharian Lailatul Fauziyah, gadis kelahiran Malang yang saat ini bekerja sebagai Assistant Engineer PT PLN (Persero) UP3 Parepare, Sulawesi Selatan. Alumni Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2014 ini, sejak masih kuliah memang tak bisa diam. Berbagai kegiatan ia ikuti, baik intra maupun ekstra kampus. Baginya, menyibukkan diri adalah sebuah hobi. “Yang paling menyenangkan adalah berkesempatan menjadi Asisten Laboratorium Teknik Elektro yang sangat memfasilitasi simulasi diri dalam berbagai posisi. Saya berlatih memperoleh dan menyalurkan pemahaman, menjadi anggota dan pelaksana yang sigap dan tanggap, menjadi pengatur serta koordinator yang kritis, serta yang tak kalah penting adalah berusaha mengatur waktu dan keseimbangan seefektif mungkin dalam intensitas kesibukan yang bergelombang,” ujarnya bersemangat. Selain sibuk di kampus, Lafa panggilan akrabnya, juga terus menempa diri di luar. Setiap waktu liburan antar semester berlangsung, ia tak lantas berleha-leha. Berbagai pekerjaan dilakoni. Semangatnya untuk terus produktif mendulang banyak pengalaman yang secara tidak langsung mendukung disiplin ilmunya. “Saya bekerja di banyak pabrik. Mulai dari pabrik sosis, frozen food hingga pabrik sandal untuk beberapa bulan saja. Kadang di bagian produksi, kalo bagus dapat admin. Plusnya lumayan dapat pemahaman permukaan proses bisnis, dan kalau ada tugas-tugas besar, biasanya saya ambil inspirasi dari tema-tema proses di pabrik itu. Misalkan menggambar Teknik Elektro, itu menentukan instalasi suatu gedung. Nah karena saya tau proses detail produksinya dan beberapa tentang mesinnya, ngerjakan tugas yang rumit jadi lebih asik. Kemudian masih banyak lagi inspirasi aktual untuk otomatisasi seperti di Mata Kuliah Peralatan Pengaturan (Sistem Kontrol) dan yang populer diteknik yaitu PLC (Programmable Logic Controller),” urainya. Lebih dalam Lafa mengaku semangatnya untuk terus berkarya tidak lepas dari didikan UMM yang membentuk mahasiswa untuk belajar mandiri dan terjun ke masyarakat. Hal ini menjadi pemantik, bagi ia pribadi dan kawan-kawan untuk tidak berhenti mengembangkan diri. Mengenal dan mempelajari bidang keilmuan tidak hanya dari aspek akademik. “Keikhlasan dosen menjadi lecutan tersendiri untuk membentuk pribadi anak-anak bimbingannya menjadi sosok yang teguh dan berbudi. Kampus serasa tempat penuh berkah untuk menimba ilmu. Banyak pencapaian indah berawal dari sini. Kepercayaan yang diberikan untuk berkompetisi dan meneliti juga jadi akses untuk berhak merasakan pengalaman, mencoba, belajar dari kegagalan, terus mencoba, hingga euforia keberhasilan dan kepuasan hati serta rasa syukur terasa dari setiap proses,” tandasnya. Mengajak anak-anak muda untuk terus produktif, putri M. Zahri (alm) dan Lilik Fatimah ini berpesan agar apapun tantangan yang dihadapi, dimanapun tempatnya, lakukan yang terbaik dengan tetap menjadi diri sendiri. Karena ini menjadi tolak ukur kualitas pribadi yang sesungguhnya. “Be Productive and Professional everywhere, to be the Quality Generation,” pungkasnya. (sil/can)

Misi Peradaban Perguruan Tinggi Muhammadiyah Menurut Rektor UMM

Perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi bagian tak terpisahkan dari interaksi dunia pada umumnya, dan interaksi bangsa pada khususnya. Demikian disampaikan Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam kajian Syiar Ramadhan Daring 1441 Hijriyah bagi sivitas akademika, Jumat (1/5), melalui saluran video streaming Youtube. Perguruan tinggi sebagai pusat peradaban, menurutnya merupakan suatu keharusan. Karena memang, perguruan tinggi merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang terdidik, orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, serta para intelektual. Namun harapan besarnya tidak hanya sekedar mereka memiliki ilmu pengetahuan, tetapi karena yang hendak dijangkau atau yang dinginkan adalah juga keluhuran budi. Mengutip pernyataan Presiden Republik Indonesia ke-3 BJ. Habibie, bahwa iman dan taqwa (Imtaq) harus menjadi ruh sekaligus menjadi sumber inspirasi dalam mengejawantahkan perilaku. Maka, seluruh warga perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, di dalam misi menjalankan kehidupannya tidak bisa meninggalkan apa yang disebut Imtaq itu. Itulah misi peradaban perguruan tinggi. Peradaban tidak mungkin bisa dibangun hanya dengan berpikir cara-cara parsialitas apalagi ekslusif. Maka, disebut Rektor Fauzan, kita harus menunjukkan bahwa pergerakan dalam mengemban pendidikan tinggi Muhammadiyah harus dijalankan ke arah yang bersifat inklusif. “Sebagai kaum terdidik, sebagai kaum intelektual, kita harus membawa pergerakan Muhammadiyah ke arah pergerakan yang inklusif,” katanya. Apalagi, perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai salah satu amal usaha yang mengemban misi dakwah tentu inklusifitas menjadi suatu keharusan. Dan kitalah sebenarnya yang harus mampu membangun komunikasi dengan semua lapisan, dengan semua masyarakat tanpa melihat ras ataupun golongan. Karena pada hakikatnya, sesuai semboyan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Muhammadiyah melalui perguruan tinggi, atau melalui UMM ini, menjadi satu amal yang menjadi rahmatan lil ‘alamin. “Kita memang tidak bisa berjuang sendiri. Untuk bisa menciptakan semboyan itu tidak mudah. Tapi saya berkeyakinan dan selalu optimis, ketika kita bisa merangkul semua pihak, Insya Allah Universitas Muhammadiyah Malang akan dirasakan kehadirannya. Dibuktikan melalui karya nyata,” tandasnya. (can)

Menko PMK di Kajian Daring UMM: Bangun Empati Sosial di Tengah Wabah

Dalam kajian dalam jaringan (daring) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Rabu (29/4), secara khusus mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya civitas akademika Kampus Putih untuk membangun empati sosial di tengah mewabahnya Covid-19. Karena solidaritas saja tidak cukup. “Harus ada empati sosial berskala nasional. Mereka yang tidak terkena Covid-19, diminta untuk membayangkan bagaimana kalau mereka berada di posisi yang terjangkit. Sehingga tidak muncul sikap antipati, menolak pemakaman, menganggap yang terjangkit sebagai ancaman,” kata Muhadjir di channel youtube UMM1964, agenda yang merupakan rangkaian gelaran Syiar Ramadhan Daring UMM 2020 ini. Karena, sambung Rektor UMM periode 2000-2016 ini, kalau tidak ada empati mereka yang sembuh pun akan menanggung beban masalah sosial, terutama kesehatan mentalnya terganggu. “Padahal mereka sangat butuh pengakuan, butuh untuk segera kembali bersama-sama ke tengah masyarakat,” ungkap Muhadjir yang berada di Jakarta. Kajian ini ditonton oleh civitas akademika UMM dan masyarakat umum. Selain juga memaparkan upaya pemerintah untuk menanggulangi efek wabah Covid-19, Muhadjir lantas berpesan untuk betul-betul mematuhi protokol Covid-19. Salah satu di antaranya mencuci tangan. “Sebetulnya kita yang rajin shalat sudah cukup mematuhi protokol ini. Makannya, saya rasa, di Indonesia tidak terjadi wabah besar-besaran karena sebagian besar dari penduduk Indonesia mendirikan shalat,” ujar Muhadjir. Protokol berikutnya, memakai masker dan menjaga jarak. Muhadjir kemudian mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang tidak menganjurkan mengadakan shalat berjamaah di masjid. “Di tengah wabah seperti ini, sebaiknya shalat di rumah saja. Insya Allah lebih berpahala. Ketimbang mereka yang ngeyel tetap melaksanakannya, justru memungkinkan virus Covid-19 untuk menulari kepada lainnya,” sebut Muhadjir. Yang tidak kalah penting adalah hindari kerumunan. Muhadjir menyebut, bahwa pusat penyebaran Covid-19 sebagian besar adalah tempat ibadah. Karena intensitas penularan salah satunya adalah bagaimana tata cara kita beragama. “Covid-19 ini tingkat mutasinya tinggi. Kalau dia gagal menyerang lapisan masyarakat tertentu atau etnis tertentu, dia akan segera beralih bentuk melakukan mutasi lainnya,” tuturnya. Sementara itu, Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si yang membuka Kajian daring UMM ini mengatakan, lembaga pendidikan seperti UMM yang memiliki infrastruktur penelitian, fokusnya tengah dicurahkan untuk berpartisipasi dalam mempercepat penanganan Covid-19. Di samping tetap melakukan kegiatan charity untuk kemanusiaan, sambung Syamsul, kita juga senantiasa untuk terus berdoa. (can)

UMM Beri Kompensasi Uang Kuliah saat Pandemi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan bantuan biaya pendidikan terdampak Covid-19 bagi mahasiswa aktif. Besaran bantuan biaya pendidikan ini sebesar satu juta rupiah. Kebijakan ini tercantum dalam Surat Keputusan Rektor Nomor: 16/SK/UMM/IV/2020. Untuk mahasiswa aktif semester 2, 4, 6, 8, 10 di Semester Genap 2019/2020 dilakukan pemotongan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) sebesar Rp. 500.000,-. Dikarenakan Heregistrasi sudah berlangsung maka pemotongan dilakukan di awal semester ganjil 2020/2021. Untuk mahasiswa aktif semester 1, 3, 5, 7, 9, 11 di Semester Ganjil 2020/2021 dilakukan pemotongan SPP sebesar Rp. 500.000,-. Untuk mahasiswa semester lanjut, atau yang tinggal wisuda dilakukan pemotongan biaya wisuda sebesar Rp. 500.000,-. Sementara untuk mahasiswa semester 1 angkatan 2020 Semester Ganjil 2020/2021 dilakukan pemotongan SPP di awal heregistrasi sebesar Rp. 500.000,-. “Kita semua memahami kondisi ini. Semoga wabah ini cepat berlalu. Potongan untuk mahasiswa ini sebagai salah satu dukungan untuk meringankan mahasiswa,” ungkap Fauzan. (can)

Di Tengah Pandemi, Syiar Ramadhan UMM Dilakukan Daring

Pandemi Covid-19 belum juga usai hingga memasuki bulan Suci Ramadhan tahun ini. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan kebijakan social dan physical distancing untuk menekan penyebaran virus. Hal ini tentu berdampak pada berubahnya pola Interaksi antara manusia. Dari yang tadinya tatap muka, menjadi perjumpaan yang segalanya serba dalam jaringan (daring). Termasuk berubahnya format syiar-syiar Ramadhan yang bisanya digaungkan untuk memeriahkan dakwah di tengah masyarakat. Hal ini juga yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada gelaran tahunan Syiar Ramadhan in Campus 1441 Hijriyah tahun ini. Dalam kondisi mewabahnya Pandemik Covid-19 ini, UMM mensiasati beragam kegiatan tatap muka, menjadi bersifat daring. Di samping itu, UMM ikut berperan mengurangi dampak Covid-19 yang dialami mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus melaui kegiatan “UMM Peduli, UMM Berbagi” berupa pembagian sembako yang dilakukan secara berkala. Kegiatan yang dilakukan berupa kajian-kajian Ramadhan, yang disiarkan langsung melalui streaming Youtube di channel umm1964 dapat diakses oleh semua orang. Misalnya sebagai kajian pembuka, dimulai oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dengan tema “Ramadhan di Tengah Bencana Global sebagai Momentum Instropeksi Kehidupan Beragama dan Bermasyarakat. Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. turut memberi ucapan selamat puasa. Dalam sambutannya Fauzan mengajak kepada umat Islam untuk memaknai puasa Ramadan secara substantif. Ia menguraikan bahwa, ramadan yang datang setahun sekali tidak boleh hanya lewat begitu saja dan hanya dirasakan secara seremonial. Melainkan bulan suci ramadan harus dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan. “Derajat ketaqwaan juga seharusnya mampu diimplementasikan dalam kehidupan,” tutur Fauzan di kediamannya, Kamis (23/4). Fauzan lantas berpesan, khususnya kepada civitas akademika UMM, “Kampus Putih” yang mengemban amanah dakwah sudah seyogyanya bukan hanya mengurusi pendidikan semata. Melainkan keberadaannya juga sebagai role model pendidikan atau uswah khasanah. Ditekankan kepada civitas akademik, bahwa dalam setiap mengerjakan sesuatu tidak boleh lepas dari kontrol keimanan. “Jangan sampai kita ini berpuasa tapi sama sekali tidak mengubah esensi kehidupan kita,” tambahnya. Haedar Nashir sendiri berpesan, sebagai orang yang beriman harus menghadapi segala musibah dengan spirit iman yang kokoh. Sebagai agama wahyu, Islam memberikan jawaban atas segala persoalan yang datang. Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan nilai keimanan. Ada beberapa esensi keimanan bagi seorang muslim dalam menghadapi musibah. Diantaranya, orang beriman semakin yakin terhadap kekuasaan Allah. Segala sesuatu tidak pernah lepas dari sunatullah. Di sisi lain, pembagian paket sembako dilakukan terdiri dari 3 cluster. Cluster 1 (0-4 KM) yakni wilayah Karangploso, Dau, Mulyoagung dan Tlogomas. Cluster 2 (4-10 KM) yakni Dinoyo, Mojolangu, dan Merjosari. Sementara cluster 3 (10 KM ke atas) diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat wilayah Blimbing, Sumbersari, Batu, dan daerah terjauh dari UMM. “Proses distribusi sembako dilakukan dengan standar protokol kesehatan,” ungkap Pulung, penanggungjawab Syiar Ramadhan in Campus 2020. Kegiatan I’tikaf Ramadhan dan pembagian zakat yang biasanya diadakan di Masjid AR. Fachruddin Kampus II UMM atau kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah banyak, akan tetap diselenggarakan dengan memperhatikan standar protokol kesehatan. “Sementara untuk kegiatan shalat Idul Fitri masih menunggu keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, apakah UMM akan tetap selenggarakan shalat Idul Fitri secara umum,” terang dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM ini. (can)

UMM Salurkan Ribuan Paket Sembako

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (22/4), membagikan lebih kurang 2000 paket sembako kepada masyarakat di lingkungan Kampus I, II dan III UMM. Koordinator pengadaan dan pendistribusian sembako, Hasim, A.Md. menyatakan UMM secara aktif turut serta membantu masyarakat untuk menanggulangi dampak pandemik Covid-19. Di tahap pertama, pembagian paket sembako dilakukan di Auditorium BAU dengan protokol kesehatan yang sesuai standar Pemerintah. “Sebagai bentuk tanggungjawab sosial kita di bawah naungan Muhammadiyah, kegiatan ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat terdampak Covid-19,” jelas Hasim. Sasaran dibagikannya paket sembako ini antara lain ke juru parkir, petugas cleaning service, pensiunan UMM yang membutuhkan, sopir mikrolet, terlebih warga dan mahasiswa yang tinggal di sekitar lingkungan UMM yang membutuhkan. “Hari ini kami membagikan 600 paket ke perwakilan kelompok penerima manfaat. Selebihnya akan dibagi ke sejumlah lokasi seperti ke Tlogomas, Tegalgondo, Mulyoagung, Sumber Sari dan sejumlah wilayah lainnya di sekitar ketiga Kampus UMM,” kata Hasim. Senada dengan Hasim, penanggungjawab pendistribusian paket sembako Rahmat Pulung Sudibyo, S.P., MP. menyampaikan bahwa total sembako akan didistribusikan dalam empat kloter selama bulan Ramadan. Model pendistribusian ini dibuat mengacu pada skema protokol kesehatan. “Pembagian sembako ini dibagi menjadi empat kloter bertujuan untuk menghindari kerumunan atau penumpukan warga penerima paket sembako,” imbuh Pulung. Tak hanya membagikan pada warga, UMM Peduli juga telah menyiapkan skema pembagian paket sembako untuk mahasiswa UMM yang masih tinggal di Malang. “Paket sembako ini tidak hanya akan didistribusikan kepada warga terdampak pandemik, namun juga pada mahasiswa UMM yang masih bertahan di Malang,” tambah Pulung. Penyaluran paket sembako kloter pertama tersebut diberikan kepada cleaning service yang merupakan pekerja harian di lingkungan UMM. Salah satu penerima penyaluran paket sembako, Humairah Luthfiah menyatakan bahwa kegiatan ini sangat membantunya di tengah perekonomian yang sedang tidak stabil akibat pandemik ini. “Secara pribadi saya sangat bersyukur dengan program UMM Peduli ini. Sangat membantu perekonomian saya sebagai salah satu orang yang terdampak ini,” jelasnya. (nis/can)

Rektor Fauzan: Ramadhan Momentum Tingkatkan Ketakwaan

Sambut bulan ramadhan 1441 H, Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pengajian dengan Pembicara, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Kamis (23/4) melalui media daring. Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM dalam sambutannya mengajak kepada umat Islam untuk memaknai puasa ramadan secara substantif. Ia menguraikan bahwa, ramadan yang datang setahun sekali tidak boleh hanya lewat begitu saja dan hanya dirasakan secara seremonial. Melainkan bulan suci ramadan harus dijadikan sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan. “Kita tahu bahwa Al Qur’an menyampaikan pesan bahwa pada hakikatnya puasa ramadan yaitu mengejar sebuah derajat ketaqwaan. Derajat ketaqwaan juga harusnya mampu diimplementasikan dalam kehidupan,” tuturnya. Sehingga antara kehidupan sehari-hari seorang muslim bukan menjadi suatu yang parsial dengan keimanan yang dimiliki. Karena seharusnya sikap dan perilaku keseharian seorang muslim adalah cerminan dari keimanannya. Selain sebagai bulan untuk meningkatkan ketaqwaan, bulan ramadan oleh seorang muslim harus juga menjadi ajang untuk bermuhasabah diri. Karena kemungkinan di bulan lain, kaum muslimin kerap kali dalam menjalankan kehidupannya lepas dari kontrol iman. “Dalam kesempatan ramadan kali ini kita mencoba untuk mengendalikan diri kita, kita mencoba untuk menjadikan iman kita sebagai kontrol dalam kehidupan. Kalau itu bisa kita lakukan adalah indikator yang sangat sederhana adalah perubahan dari perilaku yang kruang baik menjadi perilaku yang baik,” urainya. Perilaku baik atau dalam bahasa agama adalah akhlakul karimah, menurut Fauzan jika muslimin mampu berakhlakul karimah maka ini adalah indikasi dari seorang muslim yang perilakunya dikontrol oleh keimanan. Khususnya kepada civitas akademika UMM, “kampus putih” yang mengemban amanah dakwah sudah seyogyanya bukan hanya mengurusi pendidikan semata. Melainkan keberadaannya juga sebagai roll model pendidikan atau uswah khasanah. Ditekankan kepada civitas akademik, bahwa dalam setiap mengerjakan sesuatu tidak boleh lepas dari kontrol keimanan. “Jangan sampai kita ini berpuasa tapi sama sekali tidak mengubah esensi kehidupan kita,” tambahnya. Sehingga puasa yang dijalankan oleh seroang muslim harusnya memberikan dampak signifikan pada perubahan baik kepada akhlak. Namun jika setelah melaksanakan puasa akan tetapi sikapnya tetap buruk, maka sama saja hanya menjalankan puasa secara lahirian, bukan merepasi dan menemukan ruh puasa itu sendiri. (SM/can)

UMM Kukuhkan Wakil Rektor Masa Jabatan 2020-2024

Hari ini, Rabu (22/4) pagi, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. mengukuhkan Wakil Rektor (Warek) baru masa jabatan 2020-2024 secara daring. Warek I diisi oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.yang membidangi Akademik dan Pengembangan Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Warek II diisi Dr. Nazaruddin Malik, M.Si yang membidangi Umum, Kepegawaian, dan Keuangan. Sementara, posisi Warek III diisi Dr. Nur Subeki, S.T., M.T. yang membidangi Kemahasiswaan dan Alumni. Warek IVdiisi Dr. SidikSunaryo, S.H., M.Si., M.Hum. yang membidangi Kelembagaan, Sumber Daya Manusia, dan Kerjasama. Rektor Fauzan usai pelantikan di ruang sidang Rektor menyampaikan, bahwa kampus ini mengembangkan misi dakwah Muhammadiyah. Sebuah misi suci yang buah karyanya dipersembahkan untuk umat dan bangsa. Oleh karena itu, sambung Fauzan, diperlukan energi yang besar, kuat dan terus berpikir ke depan, serta selalu memohon ridho Allah dalam menjalankan manajemen UMM ini. Pada kesempatan ini Rektor Fauzan jugamenyampaikan, adanya penambahan jabatan Warek IV dilakukan untuk merespons perkembangan. Ia menegaskan bahwa usulan itu dibuat karena formasi sebelumnya belummeng-cover perkembangan yang dibutuhkan dalam situasi tiga tahun terakhir. Fauzan lantas mengajak kepada para Warek UMM untuk merenungkan kembali tentang hakekat sebuah jabatan. Jabatan apapun yang tengah diemban adalah amanah, yang apabila kita menjalankannya dengan standar ilahiyah yang didasari dengan hati yang ikhlas, Insya Allah, Allah SWT akan memberikan yang terbaik bagi kerja kita semua. “Dengan niat yang tulus dan selalu husnudzon dalam menjalankan amanah ini, Insya Allah, kemajuan akan kita dapat,” demikian disampaikan Rektor Fauzan usai melantik yang disaksikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., Ketua  Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., serta civitas akademika UMM yang ikut dalam proses pelantikan melalui online meeting. Ketua Majelis Diktilitbang Muhammadiyah Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. menaruh harapan kepada para Warek baru UMM. Semoga dengan formasi baru ini, UMM dapat menghadapi tantangan dengan lebih baik, dan diselesaikan dengan baik juga. Tentu saja, kata Lincolin, kerjasama sangat diharapkan antara empat wakil rektor ini. UMM sudah sangat besar, sangat besar. “Hampir semua melihat ke UMM. Jadi, UMM harus menjadi contoh yang baik bagi seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang ada di Indonesia.  Menjadi acuan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang lain,” pungkas Lincolin di kediamannya. Di sisi lain, Ketua BPH UMM, Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan kesyukurannya, di tengah-tengah kehidupan yang mengalami perubahan besar-besaran ini, UMM tetap dapat melengkapi kepemimpinan di lingkungan UMM. “Mudah-mudahan dengan kelengkapan kepemimpinan ini, perjalanan UMM ke depan semakin pesat,” kata Malik yang tersambung via Google Meet di kediamannya di Malang. Sebagaimana diketahui, sambung Malik, bahwa UMM ini telah menempuh perjalanan panjang mengantarkan dari generasi ke generasi, mengantarkan kehidupan bermuhammadiyah dan berakademik, sesuai dengan amanat yang telah digariskan oleh Majelis Diktilitbang Muhammadiyah. Disebutkan Rektor UMM tahun 1983-2000 yang sempat menjabat Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia periode 2015-2019 ini, tradisi UMM yang memiliki Warek IV ada pada awal-awal Malik memimpin. Tapi, tambah Malik, bagaimanapun juga kelengkapan tahun ini menjadi bagian penting dalam kemajuan UMM. “Saya berharap, UMM dapat dikelola dengan baik. Meskipun universitas ini milik ormas besar Muhammadiyah, tapi dalam mengelolannya hendaknya tetap menggunakan prinsip profesional dan selalu konsisten mampu membawa misi UMM ke depan untuk menjawab seluruh tuntutan dan tantangan,” tandas Malik. (can)

55 Dokter Baru UMM Disumpah via Daring

Di tengah himbauan Pemerintah untuk melakukan physical distancing (pembatasan fisik), Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) tak surut untuk melakukan sumpah kepada 55 dokter baru, Senin (20/4). Uniknya, sumpah profesi dokter ini dilakukan via dalam jaringan (daring) melalui video conference. Meski dilakukan via daring, acara penting ini tetap berlangsung hikmat. Dekan FK UMM, Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD, FINASIM, mengemukakan bahwa di tengah kondisi pandemi ini, kita tetap harus menaati dan mendukung anjuran Pemerintah untuk melakukan physical distancing guna mencegah mata rantai penularan Covid-19. “Kita dari akademisi dan institusi kesehatan harus memberi contoh pada masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19 ini,” ucap dr. Meddy usai acara. Meski begitu, sumpah Dokter angkatan 42 periode III ini tetap dihadiri 3 calon dokter. Ketiganya hadir di Aula Kampus II sebagai perwakilan, sedangkan yang lain mengucap sumpah dari rumah masing-masing. Mereka menganut agama berbeda, sehingga sumpah ini juga dihadiri oleh tiga rohaniawan, yaitu Muslim, Katolik, dan Protestan. “Meskipun sumpah dokter dilakukan via daring, tetapi saat pembacaan lafal sumpah tetap terasa sakral nya. Ditambah para dokter yang disumpah ini didampingi orangtua atau kerabatnya di sebelahnya,” ungkap Umar Thalib, salah satu dokter yang disumpah asal Purwokerto, Jawa Tengah. Pasca disumpah, putra pasangan Najib Thalib dan Widad Basalamah ini lantas berharap agar dengan gelar baru ini dapat segera menjalankan amanahnya dengan baik dan bertanggungjawab. “Dan yang pasti dapat membantu tenaga medis di luar sana yang sudah bekerja keras di garda terdepan melawan pandemi ini,” ungkap Umar saat dihubungi via WhatsApp (21/4). Pada periode ini, prosentase kelulusan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter (UKMPPD) baik Computer Based Test (CBT) maupun Objective Structured Clinical Examination (OSCE) sangat membanggakan. FK UMM meluluskan 100% first taker dengan jumlah terbanyak yaitu 55 dokter. Pada kesempatan ini, Wakil Rektor I, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, turut memberikan ucapan selamat di akhir acara dari kantornya. “Mudah-mudahan para dokter baru dapat bermanfaat bagi bangsa, terutama di tengah kondisi seperti ini,” ungkap Syamsul. (ysn/can)