Dirikan Pesantren Elit yang Peduli Wong Alit

Dua buah kompleks pendidikan mewah hadir di salah satu ujung jalan desa. Bangunan berkonsep modern dengan rindang pepohonan tampak berdiri kokoh. Semangat milenial dan futuristik dengan nuansa Islam hadir di sana. Tazkia Internasional Islamic Boarding School (IIBS). Siapa sangka, pondok pesantren yang memiliki 810 orang siswa ini tumbuh dari mimpi seorang anak muda untuk mendirikan sebuah miniatur lembaga pendidikan yang sederhana. Ia adalah Muhammad Ali Wahyudi, alumni Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Saya itu cita-citanya ingin membuat miniatur lembaga pendidikan. Kalau seperti UMM itu terlalu besar, ya ingin saya kecilin. Kalau kampus buat mahasiswa, ya saya nanti bikin buat santri,” ujar pria kelahiran Pamekasan tersebut mengulik ke belakang. Semasa kuliah Ali mengaku tidak terlalu menonjol di dunia akademik. Namun semangatnya untuk meningkatkan soft skill termasuk jiwa entrepreunership menyala-nyala. Selain suka berdagang, ia juga rajin mengasah keterampilan dengan berbagai kegiatan lain. Mulai dari ngaji ke kiyai-kiyai salaf, ikut seminar nasional hingga berjualan. “Saya pernah menunda bayar SPP demi ikut seminar motivator-motivator nasional, seperti Tung Desem Waringin, Mario Teguh, Bob Sadino, Helmi Yahya, Reza M. Syarief, Purdie E. Chandra dan pakar pendidikan Prof. Dr. Arief Rachman (Pendiri Lab School Jakarta). Ilmu itu sedikit banyak berpengaruh kepada jiwa pendidikan dan entrepreuner saya,” ujarnya. Selain berdagang, Ali juga aktif mengajar mulai duduk di masa kuliah. Baginya, berkontribusi bagi dunia pendidikan adalah panggilan jiwa. Ia pun secara langsung terjun di Madrasah Pesantren Wahid Hasyim Malang, Pondok Pesantren Ar Rohmah Malang, lalu Al-Izzah IIBS Batu. “Setelah hampir 13 tahun lebih ikut orang, lalu timbul keinginan untuk belajar mandiri karena saya punya prinsip lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, dari pada menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Karena memperbesar kolam itu jauh lebih gampang dan lebih cepat dari pada menunggu besarnya ikan,” ujarnya. Tahun 2005 Ali memutuskan mimpi mulianya dengan membantu pendidikan anak yatim. Lalu berdirilah panti asuhan Permata Mulia. Isinya anak-anak yatim yang dibiayai sekolah dan kuliahnya. Namun sayang, dengan kemampuan financial pribadi, Ali hanya mampu membiayai 6 orang anak. “Sehingga terbesit pikiran, kalau ini dibagusin, dirapikan, dimanajemen, saya bisa pakai subsidi silang. Dan ini saya wujudkan di Tazkia. Sejak awal berdiri, sampai saat ini dan mudah-mudahan bisa naik lagi, 10% dari penerimaan santri Tazkia itu untuk yatim dan dhuafa. Makanya saya kasih tagline Tazkia, pesantren elit yang peduli wong alit,” katanya. Ali sadar, dirinya hanya seorang guru di pesantren dengan latar belakang akademik yang biasa-biasa saja. Namun pengalaman selama 13 tahun di dunia pendidikan ia yakini dapat menjadi bekal istimewa yang mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana mendirikan sebuah lembaga pendidikan. “Karenanya saya harus lebih dulu menjadi resources integrator atau bahasa saya tukang jahit yang baik, yang mampu mengikat dan menyulam kompetensi-kompetensi orang sehingga menjadi kekuatan umat yang besar,” kata pria yang juga menyelesaikan pendidikan S2 Kebijakan Pengembangan Pendidikan di UMM ini. Meneruskan langkah, Ali lalu mencari orang-orang yang mau dan mampu berlayar bersama. Pertama para ustadz dan kiai yang ikhlas. Lalu orang-orang kaya yang peduli (Aghnia Sholih) terhadap pendidikan dan terakhir adalah orang-orang pintar yang punya kemampuan leadership dan manajemen yang baik. “Dan gabungan orang alim, orang kaya, orang pintar itulah yang saya jahit dengan ilmu yang namanya resources integrator. Jadi dari awal saya sudah memahami saya tidak bisa sendirian. Kalau saya hanya sendirian, punya experience tapi gak punya keilmuan yang baik, ilmu agama yang baik dan tidak punya uang maka bayangan saya, paling banter saya bikin proposal. Makanya saya selalu bilang Tazkia itu sukses berjamaah,” jelasnya. Hadirnya Tazkia IIBS diharapkan dapat menjawab kebutuhan umat karena Ali mengaku, seringkali saat tengah berkunjung ke luar kota atau bahkan luar negeri, banyak ia dapati kerinduan orang tua masa kini terhadap suasana pesantren. Mereka ingin anaknya merasakan pengalaman belajar di pesantren. Namun sayang, si anak sudah tidak compatible dengan pesantren dimana mereka harus masak sendiri, harus mencuci sendiri dan lain-lain. “Muslim urban yang bagus di kota, mereka itu ingin menyekolahkan anaknya ke pesantren, khususnya pesantren salaf karena pesantren itu adalah miniatur kehidupan yang sesungguhnya. Namun ternyata gak mampu. Mereka lalu memilih sekolah internasional tanpa dilihat background agamanya. Harapan kami Tazkia itu mampu memadukan, blanded antara tradisi pesantren salaf misalnya, makanya ada kitabnya dengan pendidikan standard internasional,” kata Ali. Saat ini, santri Tazkia IIBS sudah inden sampai 5 tahun ke depan dengan jumlah santri kurang lebih 1800an dan semuanya berbayar. Itu artinya, ke depan akan ada 180 yatim duafa nanti yang akan sekolah di Tazkia. Semangat ini ingin terus Ali besarkan. “Harapan jangka pendeknya, kami ingin Tazkia itu lebih banyak cabangnya sehingga lebih banyak orang yang menikmati, dan jumlah anak yatim maupun yatim sosial jadi lebih banyak lagi yang sekolah di Tazkia,” pungkasnya. (sil/can)
Cegah Kecemasan Berlebih Covid-19, BK UMM Buka Layanan Konseling Gratis

Upaya percepatan penanggulangan persebaran virus Corona (Covid-19) nyatanya tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah. Berbagai macam cara dapat diambil berbagai lapisan masyarakat untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam rangka membantu tugas pemerintah. Seperti yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perguruan Tinggi berjuluk Kampus Putih ini, lewat Unit Pelayanan Teknis (UPT) Bimbingan Konseling Fakultas Psikologi memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat yang memiliki kecemasan berlebih akibat Covid-19. Kepala UPT. Bimbingan dan Konseling UMM, Hudaniah, S.Psi., M.Si. menjelaskan kehadiran pelayanan konseling ini bermula saat pihaknya melihat keberagamanrespon dari sivitas akademika UMM terhadap persebaran Covid-19. Keadaan sebenarnya dalam internal terutama di mahasiswa beragam, ada yang santai meresponnya, ada mahasiswa yang cemas karena orangtuanya juga ikut cemas dan menyuruh anaknya segera pulang. “Perguruan tinggi yang tidak luput dari kecemasan saat mahasiswa yang seharusnya ikut kuliah online malah nongkrong di warung kopi,” ucap Hudaniah. Melihat kondisi tersebut UPT. BK UMM memutuskan membuka layanan dalam upaya menekan kecemasan dengan memberikan pelayanan konseling. Hudaniah melanjutkan, jika biasanya pelayanan dilakukan secara tatap muka atau pertemuan langsung. Konseling Covid-19 diberikan secara online dengan memanfaatkan platform berbagai media sosial yang ada. Tidak hanya untuk internal Kampus Putih. Layanan ini juga dibuka untuk seluruh masyarakat. “Karena online itu bisa menjangkau lebih luas yah, terus kemarin ada beberapa tanya kalau dari luar UMM boleh tidak menggunakan layanan ini? Ya tentu. Ini juga sebagai bentuk kepedulian sosial kami untuk masyarakat dan negara ini,” imbuh Hudaniah. Dalam konseling Covid-19 ini, BK UMM menerjunkan 4 tenaga ahli yang siap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hudaniah menjelaskan, ada kemungkinan jumlah tersebut akan ditambah tergantung respon masyarakat seperti apa nantinya. Sehingga layanan konseling Covid-19 yang resmi dibuka sejak Maret lalu ini dapat memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat. (*/can)
Dukung Praktikum dari Rumah, Laboratorium Prodi Teknik Informatika kembangkan iLab

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia mengharuskan Perguruan Tinggi untuk mengimplementasikan model pembelajaran daring sejak 16 Maret 2020 sampai dengan hari ini. Tidak terkecuali Prodi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga mengikuti kebijakan pemerintah tersebut. Dari keseluruhan aktivitas pembelajaran daring yang dilaksanakan, tantangan terberat terletak pada pelaksanaan praktikum sebagai pelengkap proses belajar mengajar. Total mata kuliah berpraktikum yang diselenggarakan di Prodi Teknik Informatika UMM pada semester ini ialah 14 mata praktikum dengan peserta 2764 orang praktikan, yang terdiri atas mata kuliah wajib dan mata kuliah peminatan atau keahlian. Jumlah yang cukup besar tersebut tentunya menimbulkan permasalahan tersendiri ketika dilaksanakan secara daring. Kegiatan asistensi dan presentasi proyek yang selama ini dilakukan secara tatap muka perlu ditransformasi ke bentuk online. Guna mengatasi permasalah tersebut, Laboratorium Prodi Teknik Informatika mengembangkan aplikasi iLab yang memfasilitasi kegiatan praktikum secara daring. iLab menghubungkan antara praktikan/mahasiswa, asisten laboratorium dan instruktur yang selama ini berinteraksi secara langsung dalam kegiatan praktikum. Pada sisi praktikan tersedia beragam fitur seperti penugasan, ujian, presensi, jadwal dan laporan nilai. Instruktur dan asisten yang juga terlibat dalam setiap kegiatan praktikum disediakan beragam fitur unggulan seperti membuat kelas praktikum, upload modul/diktat, penugasan/project, menyusun rubrik penilaian praktikum, rekap kehadiran dan pelanggaran praktikan, serta penilaian hasil kegiatan praktik. Diharapkan dengan beragam fitur yang tersedia pada iLab, prosedur kegiatan praktikum dapat tetap dilakukan tanpa harus berada di laboratorium sehingga menjaga physical distancing yang saat ini diwajibkan guna menghambat penyebaran Covid-19. Agus Eko Minarno, Kepala Laboratorium Prodi Teknik Informatika menjelaskan bahwa iLab merupakan hasil karya mahasiswa yang tergabung dalam Infotech. “Infotech merupakan wadah para asisten laboratorium, yang salah satu program kerjanya ialah membangun platform teknologi yang mendukung proses praktikum, hasilnya berupa iLab. iLab menjadi salah satu tumpuan aktivitas praktikum di situasi pandemi seperti ini, sehingga akan terus dikembangkan dan disempurnakan,” tambah Agus. Ilham dan Galang perwakilan mahasiswa dan asisten yang diwawancarai secara online menjelaskan iLab sangat membantu mahasiswa dalam mengikuti praktikum. Ilham menambahkan kendala umumnya ialah bagaimana berkolaborasi dengan mahasiswa atau praktikan yang lain, karena beberapa modul praktikum diselesaikan secara berkelompok. “Untuk kolaborasi biasanya kami sudah terbiasa menggunakan version control system (VCS) seperti github atau gitlab, sehingga seluruh update dalam project praktikum yang kami lakukan secara berkelompok bisa otomatis sinkron meskipun kami mengerjakan di rumah atau kos masing-masing,” terang Ilham. Galang menambahkan proses utama dilaksanakan di iLab, sedangkan proses yang lain mahasiswa dapat memanfaatkan beragam tools. “Sebagian untuk proses kolaborasi para praktikan menggunakan github, sedangkan untuk demo/presentasi tugas mereka bisa menggunakan video dan lain-lain. Kami selaku asisten telah menjelaskan SOP praktikum daring di awal sebelum diterapkan,” tandas Galang. (*/can)
UMM Berdayakan UKM Produksi Masker

Langkanya masker di pasaran menggerakkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar tetap bergeliat di tengah wabah Covid-19. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sendiri mulai menganjurkan penggunaan masker, tidak hanya bagi yang sakit tapi juga mereka yang sehat. Kebutuhan masker pun meningkat. Fachrudin selaku pendamping UKM binaan UMM menyatakan, selain akan disalurkan secara gratis ke berbagai fasilitas kesehatan yang membutuhkan, masker berbahan kain katun ini juga diproduksi untuk komersil. Awalnya, produksi masker kain ini hanya untuk kalangan sendiri, yakni UMM. Hanya saja, banyaknya permintaan dari berbagai pihak mendorong UMM untuk memproduksi masker kain ini secara masal. Kelebihannya, masker kain ini terdiri dari 3 lapis. Dua lapis kain katun, dan selapis tisu serat. Uniknya, tisu serat sebagai pelapis bagian dalam ini bisa diganti setiap waktu dan diklaim mendekati standar kesehatan. “Makenya juga nggak ribet dan bisa menutup bagian mulut dan hidung dengan sempurna,” ungkap Fachruddin, Minggu (5/4), saat diwawancarai via WhatsApp. Sejak ada himbauan dari pemerintah untuk menggunakan masker kain, pesanan semakin banyak berdatangan. Tidak hanya unsur pemerintahan, melainkan juga dari swasta. Di antaranya dari Sidoarjo, Jember, Kediri, dan Surabaya. Selain masker, penjahit konveksi rumahan binaan UMM juga diberdayakan untuk memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), kerjasama UMM dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dibantu sejumlah penjahit, UKM binaan UMM dalam sehari bisa menghasilkan 50-100 APD. Saat ini, mereka sedang mengebut pengerjaan 1000 APD. (can)
Prodi Teknik Industri UMM Raih Akreditasi Internasional

Langkah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggenjot rekognisi internasional semakin agresif. Hal ini ditunjukan dengan Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik yang baru saja memperoleh akreditasi bertaraf internasional dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE). Dalam akreditasi ini, Prodi Teknik Industri UMM memperoleh status Provisionally Accredited. Status ini diperuntukkan bagi Prodi yang belum meluluskan lulusan dengan kurikulum yang diminta IABEE. Prodi Teknik Industri UMM yang memulai kurikulum berbasis IABEE tahun 2017 dan divisitasi akhir 2019 tercatat belum meluluskan lulusan karena baru 2 tahun berjalan. Berikutnya jika sudah meluluskan lulusan dengan standar kurikulum yang diminta IABEE, maka akan divisitasi yang nantinya akan berstatus menjadi General Accreditation. “Jadi akreditasi ini masih awal. Akan ada akreditasi tahap selanjutnya, karena memang IABEE punya prinsip sustainable dan continuous improvement. Perbaikan dan monitoring secara terus-menerus,” kata Ketua Prodi Teknik Industri UMM Ilyas Masudin, ST., MLogSCM., Ph.D., Jumat (3/4). IABBE sendiri merupakan sebuah organisasi independen nirlaba yang didirikan sebagai bagian dari lembaga Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk menumbuhkembangkan budaya mutu dalam pengelolaan pendidikan tinggi di bidang teknik dan computing. IABEE diakui di Indonesia oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai badan yang bertanggungjawab terhadap akreditasi program-program studi yang memberikan gelar sarjana akademik di bidang teknik dan computing. Jika Akreditasi Nasional oleh BAN-PT/LAM-PT bersifat wajib bagi program studi sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia, sedangkan akreditasi bertaraf internasional oleh IABEE bersifat pilihan. “Kelayakan suatu program studi untuk mengajukan proses evaluasi guna memperoleh akreditasi IABEE ditentukan, salah satunya, oleh status Akreditasi Nasionalnya,” ungkap Ilyas. IABEE dibentuk dengan pembinaan oleh JABEE (Japan Accreditation Board for Engineering Education), yang telah berstatus sebagai penandatangan Washington Accord, yakni perjanjian multilateral yang mengatur kesetaraan berbagai lembaga akreditasi mandiri dari mancanegara untuk program-program studi bidang keteknikan. Saat ini, Washington Accord beranggotakan 20 negara signatory, seperti Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, Rusia, Jepang, China, India, Turki, Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia. Proses akreditasi dimulai setiap awal tahun setelah program studi mengisi registrasi secara online. Proses evaluasi diimplementasikan melalui pemeriksaan dokumen Laporan Evaluasi Diri (Self Evaluation Report) dengan memastikan proses berbasis capaian pembelajaran (outcome based) pada Common Criteria telah dilaksanakan pada kurikulum yang berlaku pada calon lulusan tahun tersebut. Selanjutnya kajian Visitasi (on-site review) dilakukan untuk klarifikasi dokumen, proses pembelajaran, fasilitas, staf, mahasiswa, lulusan dan pemangku kepentingan. Proses akreditasi berakhir setelah IABEE menyampaikan hasil diakhir tahun. Hasil akreditasi berlaku selama-lamanya 3 tahun dan harus diperpanjang setahun sebelumnya. Diwawancarai terpisah, Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyatakan akreditasi ini merupakan salah satu capaian internasionalisasi Kampus Putih di bidang akademik. “Kita ingin mendapatkan rekognisi dari sejumlah lembaga akreditasi dan sertifikasi internasional. Sertifikasi sudah diperoleh oleh tiga prodi yakni Prodi Peternakan, Prodi Pendidikan Biologi, dan Prodi Manajemen,” ujar Syamsul. Ketiga prodi ini telah mendapatkan sertifikasi dari ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN QA). Disebut Syamsul, masih ada dua prodi yang bersiap mendapat akreditasi AUN QA yaitu Prodi Ilmu komunilasi dan Prodi Psikologi. “Setelah akreditasi internasional oleh Prodi Teknik Industri, kita akan kembangkan ke prodi-prodi lain. Tentu selain dari IABEE yang diperuntukkan bagi Prodi non-teknik,” tandas Syamsul. (can)
Drone Canggih UMM Bantu Semprot Disinfektan di Pasuruan

Setelah Drone Motodoro SRI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penyemprotan disinfektan di sejumlah wilayah, kali ini giliran Kota Pasuruan, Kamis (2/4). Penyemprotan ini dilakukan memutari kota di wilayah Kota Pasuruan. Kerjasama UMM dengan Kodim 0819 Pasuruan ini didukung oleh anggota Gugus Tugas Covid-19 dari Pemerintah Kota Pasuruan, BNPB Kota Pasuruan, serta Polresta Pasuruan. Hingga saat ini tercatat belum ada kasus positif Corona di Kota Pasuruan. Meskipun begitu, bagi Kota Pasuruan, antisipasi dan waspada guna menekan persebaran wabah Covid-10 selalu yang utama. Karena itu, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Kota Pasuruan menggandeng drone UMM yang merupakan rancangan dosen FPP UMM Dr. Ir. Wahono, MT. untuk bekerjasama melakukan penyemprotan. Sasaran penyemprotan wilayah yakni sepanjang Jalan Protokol Kota Pasuruan meliputi Kecamatan Purworejo, Panggungrejo, Pohjentrek, Bugul Kidul, serta Gading Rejo. Turut hadir Raharto Teno Prasetyo ST (Plt. Walikota Pasuruan), Ismail Marzuki Hasani (Ketua DPRD Kota Pasuruan), AKBP Doni Alexsander SIK MH (Kapolres Kota Pasuruan), Letkol Arh Burhan Fajari Arfian S.sos (Dandim 0819 Pasuruan). Komandan Kodim Pasuruan Letkol Arh. Burhan Fajari Arfian, S.Sos. secara khusus mengapresiasi bantuan UMM dalam pencegahan penyebaran wabah Covid-19 ini. “Saya ucapkan sangat-sangat terimakasih atas sumbangsih dan partisipasi dari pihak UMM. Upaya yang kita lakukan setiap hari melalui mobil damkar belum maksimal, memakai drone ini jadi bisa menjangkau semua sisi,” kata Burhan Fajari. Sementara, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pasuruan, Bahrul Ulum menilai drone yang diperbantukan dalam penyemprotan ini sangat smart. “Saya kita kegiatan penyemprotan melalui drone UMM sangat membantu dalam rangka mempertahankan status waspada. Mudah-mudahan, dengan upaya pencegahan ini, di Kota Pasuruan tidak ada warganya yang positif Covid-19 apalagi menularkannnya,” ujar Bahrul. Selain itu, disampaikan Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM Dr. Ir. David Hermawan, M.P., IPM., Drone ini ini sedianya digunakan di bidang pertanian, yakni guna penyemprotan hama di daerah persawahan atau ladang. Namun di tengah wabah Covid-19, drone senilai kisaran Rp 250 juta perunitnya ini diturunkan untuk melakukan spraying disinfektan. UMM selalu terbuka jika diminta bantuan oleh daerah lainnya. Selain Drone Motodoro Spraying Robot Indonesia (SRI) untuk aplikasi pupuk dan pestisida, Kampus Putih juga punya drone canggih lainnya. Yakni Motodoro MX berjenis Flying Wing dengan kemampuan yang lebih efisien karena sekali terbang bisa memetakan lahan sekitar 700 hektar. Yang ketiga adalah Farm Mapper yang memiliki kemampuan terbang serta landing vertikal dengan daya jangkau 400-500 hektar. Kegiatan ini masih akan terus dilakukan oleh UMM dan bekerjasama dengan berbagai Forkompimda di daerah-daerah. Tidak hanya di Jawa Timur, beberapa waktu lalu drone UMM juga diminta Pemerintah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Bentuk pengabdian ini dilakukan UMM untuk bergerak aktif memberikan manfaat untuk semua. Sekaligus sebagai bentuk realisasi tagline, “UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. (kris/can)
Kesibukan Saat Mahasiswa Jadi Cermin Karir Masa Depan

Benang merah antara aktivitas mahasiswa saat berada di kampus dengan karir masa depan yang bersangkutan ternyata benar adanya. Kesibukan saat menjadi mahasiswa, secara tidak langsung mengasah bakat dan minat yang dimiliki sebagai penunjang pekerjaan di masa yang akan datang. Pengalaman ini dibuktikan oleh Dr. Mariman Darto, SE, M.Si, alumni Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Kajian Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Lembaga Administrasi Negara (Puslatbang KDOD LAN) ini mengaku kegemarannya menulis saat mahasiswa menjadi jalan pengantar sukses karirnya. “Ternyata ada hubungan antara mimpi seseorang dengan apa yang dilakukan saat di kampus,” ujarnya. Berangkat dari keluarga yang sederhana, Mariman mulai menginjakkan kaki di Kampus Putih pada 1994. Tidak ingin mengecewakan perjuangan sang ibu yang menegakkan punggung demi membiayai studinya, Mariman bertekad menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Meski demikian, kegiatan lain di luar akademik juga ia lakoni. Baginya, belajar bisa dimana saja. Menjadi seorang aktivis, membuatnya terlibat banyak kegiatan. Belum lagi kegemarannya untuk membaca buku dan menulis berbagai karya. “Sejak awal saya hobi membaca dan menulis. Saya awali dari Bestari. Ada Bapak Malik Fadjar, Pak Muhadjir yang mengajarkan saya menulis. Itu menjadi kegemaran, menjadi pembiasaan,” ujarnya yang mengaku pada kala itu, buku menjadi media utama untuk megetahui apa yang sedang berkembang di dunia. Ada tiga tempat yang menjadi favoritnya di kampus, yaitu ruang kelas, perpustakaan dan masjid. Ia juga menghabiskan banyak waktu untuk beroganisasi, seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK). “Buku, kuliah, perpustakaan dan menulis bagi saya adalah dunia yang tak terpisahkan. Waktu itu skripsi saya juga berbeda dengan teman-teman yang lain. Mereka ambil case di perusahaan, saya sendiri justru mendiskusikan tentang pemikiran Habibie, Habibie Knowledge. Jadi ada faktor yang harus kita lihat bahwa teknologi dan SDM yang akan menjadikan Indonesia leading di Asia dan Asia Pasific,” urainya. Usai skripsi ia pun menjajal peruntungan. Setelah temui tokoh-tokoh penting saat itu, seperti Adi Sasono dengan hanya membawa skripsi. Tak disangka, Mariman yang lulus pada bulan Juni, per 1 Agustus di tahun yang sama sudah diminta bekerja di Center for Information and Development Studies (CIDES). “Sejak saat itulah kemudian saya menulis di Kompas, Republika dan semua koran di Jakarta,” jelasnya. Mimpi terus berlanjut. Pada tahun 1999 ia melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. Setelah 10 tahun lamanya di CIDES, ia berhasil menerbitkan 23 judul buku yang membuatnya fokus pada pengembangan intelektual. Kemudian pada tahun 2005 ia masuk ke Lembaga Adiministrasi Negara (LAN). Pada 2011 ia diangkat sebagai Kepala Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur di Samarinda. Dan mulai 2014, melalui open bidding, Mariman diamanahi sebagai Kepala Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Kajian Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Lembaga Administrasi Negara (Puslatbang KDOD LAN). “Jadi proses mambangun mimpi itu memang saling terkait. Kalau saya buat diagram, ada linearitas antara apa yang menjadi habit saya di kampus lalu bagaimana saya bekerja, hingga sekarang jadi peneliti,” pungkasnya. (sil/can)
Desain APD RS UMM Akan Diproduksi Pemprov Jatim

Upaya menghentikan penyebaran Covid-19 tidak bisa dilakukan satu pihak. Butuh urun tangan seluruh elemen masyarakat. Termasuk kontribusi yang diharapkan dari perguruan tinggi, diantaranya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam hal sumbangsih penyediaan inovasi teknologi. Pemerintah pun mengapresiasi Kampus Putih. Misalnya baru-baru ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) telah mengkoordinasikan upaya pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas medis yang menangani Covid-19. Yakni dengan mempertemukan suplier bahan baku dengan Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) yang memproduksi baju APD. Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jatim dalam sebuah kesempatan (28/3) mengatakan, Pemprov Jatim sangat hati-hati dalam upaya pengadaan APD untuk petugas medis ini. Karena harus sesuai standar keamanan bagi pemakainya. “Kami juga secara sangat hati-hati, karena ini keperluan medis maka tidak bisa asal ada,” ujar Emil. Pemprov Jatim, kata Emil juga telah meminta blue print baju pelindung diri Coverall dari RS UMM untuk diproduksi lebih banyak. “Kami sudah kontak dengan RS UMM di sana sudah membuat APD menggunakan dua bahan Parasut Ripstop T190 atau Poly Propylene Spun Bonded. Pakaian ini sudah bisa memberikan pakaian kedap dari cairan,” kata Emil. Bakorwil sekarang tengah berkoordinasi dengan UMM untuk memproduksi sesuai standar, karena setelah dijahit harus disemprot disinfektan. Hingga berita ini dirilis, beberapa pihak juga tertarik untuk memproduksi masal. Misalnya penjajakan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Contoh dan blueprint desain APD RS UMM sudah diterima pihak Pemprov Jawa Tengah. Sementara itu, dr Thontowi Djauhari Ketua Satgas Penanganan Covid-19 RS UMM membenarkan kalau Bakorwil Malang telah mengambil blue print desain APD Cover All itu. Thontowi optimis pemerintah Provinsi Jatim bisa menggerakkan UMKM untuk memproduksinya lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan tenaga medis. “Saya percaya Tim Pemprov bisa menggerakkan UMKM untuk memproduksi,” katanya. Menurut Thontowi, kebutuhan APD di RS UMM sudah mencukupi. Sementara sekarang tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi apabila ada lonjakan pasien COVID-19 sebulan ke depan. Dia juga menghitung kebutuhan APD untuk menangani COVID-19 paling tidak sekali menangani pasien ditaksir membutuhkan 18 Coverall. Hal itu sesuai perhitungan mulai dari UGD, Poli, ruangan dikali tiga sift. “Maka dari itu, minimal Rumah Sakit itu sedia 1.000 Coverall. Karena perang kita dua bulan lagi. Untuk APD biasa minimal punya 4.000. Kalau pakai yang mahal semua bisa kolabs Rumah Sakit,” katanya. Menurut Thontowi, pakaian Coverall yang diproduksi RS UMM di kisaran harga Rp 200 ribu per potong. Hal itu sudah sesuai standar keamanan medis. “Kalau tidak menangani pasien COVID-19 bisa pakai APD yang biasa Rp50 ribuan,” katanya. Sebelumnya, UMM dengan melibatkan mahasiswa membuat alat Safety Chamber atau bilik keselamatan untuk menunjang kerja dokter agar tetap aman. Alat berbentuk kotak transparan ini digadang mampu meminimalisir penularan. Cara penggunaannya, pasien tinggal masuk ke pelindung yang terbuat dari bahan mika ini untuk diketahui gejala yang dirasakan. Tenaga medis yang bertugas tentunya akan lebih aman karena dipisahkan ruang dari pasien. Meski masih dalam tahap penyempurnaan, sambung Thontowi, ke depan alat ini akan dilengkapi dengan sejumlah fitur lain untuk lebih meminimalisir peluang penularan. Seperti penambahan alat bantu bernapas, sehingga pasien tetap merasa nyaman saat dilakukan pemeriksaan di dalam Safety Chamber. Serta, akan diminimalisir dari penggunaan lem agar terhindar kebocoran. Dilanjutkan Thontowi, alat inovasi kesehatan prakarsa UMM di tengah pandemi global Covid-19 ini rencananya akan diproduksi masal untuk membantu rumah sakit rujukan pasien Covid-19 dan para tenaga kesehatan. “Perawatannya mudah, tinggal dibersihkan dengan alkohol. Atau cukup menggunakan sabun deterjen. Karena deterjen lebih efektif membersihkan,” ungkap Thontowi. Terakhir Thontowi berharap, ada pihak yang bersedia membantu mengembangkan dan mendanai projek inovasi kesehatan ini. “Ke depan, jika ada stakeholder yang berminat mendanai alat ini semoga bisa diproduksi secara masal. Tentu UMM melalui RSU UMM akan secara senang hati membuka pintu kerjasama agar inovasi ini juga bisa dipakai di banyak rumah sakit,” tandasnya. Tak sampai di situ, UMM juga punya produk unggulan lain yang berfungsi menaikan imun tubuh serta mencegah radikal bebas. Misalnya produk yang dibuat dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM, Prof. Dr. Elfi Anis Saati, yang tengah mengembangkan minuman sehat berantioksidan berbahan baku sari bunga mawar merah. (can)
Wakil Gubernur Provinsi di Thailand Apresiasi Kiprah Pendidikan UMM

Kiprah internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak diragukan lagi. Di bidang pendidikan saja, universitas berjuluk Kampus Putih ini punya cukup andil memajukan pendidikan, tak hanya di Indonesia, melainkan juga di tingkat ASEAN. Seperti kiprah yang dilakukannya untuk memajukan pendidikan di Thailand. Apresiasi pun datang dari berbagai pihak. Seperti dari pejabat negara terkait. Seperti saat Tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berkesempatan bertemu dengan Wakil Gubernur Provinsi Narrathiwa dan pimpinan Perguruan Tinggi Attarkiah Islamic Institute dalam sebuah jamuan makan malam (14/2). Dihadiri oleh Dekan, Wakil Dekan, dan seluruh Ketua Program Studi FKIP, serta Redaktur Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia (JPBI) dan PIC Internasionalisasi UMM. Wakil Gubernur Narrathiwat, Fatimah, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia dan UMM dalam sambutannya. “Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia, khususnya Universitas Muhammmadiyah Malang yang telah berkontribusi di dalam memajukan pendidikan bagi warga muslim yang mayoritas di Narrathiwat,” ucap Fatimah sembari menyebut nama beberapa alumni UMM di Narrathiwat. Provinsi Narrathiwat terletak di Thailand Selatan yang memiliki mayoritas penduduk 89% beragama Muslim. Banyak praktisi pendidikan di sana merupakan alumni dari Muhammadiyah, termasuk dari UMM. Melihat besarnya sumbangsih ilmu yang diberikan para alumni UMM membuat Fatimah begitu antusias atas kunjungan tersebut. Fatimah juga menyampaikan keinginannya untuk dapat berkunjung ke UMM. “Orang orang Islam di Narrathiwat ini perlu mempertahankan budaya dan mengembangkannya, melalui pendidikan maka generasi muslim yang akan datang akan bertahan,” ungkap Fatimah. Pertemuan tim FKIP UMM dengan Fatimah merupakan rangkain perjalanan muhibah Dekanat FKIP. Perjalanan tersebut untuk mendukung program Mendikbud dan Rektor UMM, yaitu Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. FKIP UMM juga melakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Attarkiah Islamic Institute pimpinan Dr. Phaisan Thoryib dalam bidang Magang Internasional. Bukan tanpa alasan, kerjasama antara FKIP UMM dengan Attarkiah Islamic Institute sendiri sudah dirintis sejak 2015. Fasilitas akomodasi, konsumsi, bahkan seringkali gaji dan fasilitas wisata di Thailand akan diberikan Thailand bagi setiap mahasiswa UMM yang tengah melakukan magang praktek maupun KKN. Penyediaan fasilitas tersebut mendasari tim FKIP UMM melakukan kunjungan guna memperkuat hubungan dan kerjasama. Melalui perjalanan muhibah kali ini tim FKIP UMM juga mengunjungi dua perguruan tinggi di dua provinsi lainnya. Thaksin University di Songklha dan Fatoni University di Pattani, FKIP juga melakukan penandatangan MoA dengan masing-masing universitas. Dengan tujuan mendukung program Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. (can)
Dosen UMM Raih Gelar Certified Ethical Hacker Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendukung para dosen pengajar untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman. Salah satunya yang dirasakan Syaifuddin, S.Kom., M.Kom, dosen Prodi Teknik Informatika yang berhasil mendapat gelar non akademik tingkat internasional bidang ethical hacker melalui program sertifikasi Certified Ethical Hacker (CEH). Gelar tersebut didapat setelah lolos uji sertifikasi pada 27 Maret lalu. Syaifuddin mengikuti uji sertifikasi tersebut melalui lembaga training PT Siber Sekurindo Teknologi yang bekerjasama dengan EC-Council. CEH sendiri merupakan sertifikat yang diterbitkan oleh konsultan, Council of E-Commerce (EC-Council) sebagai lembaga sertifikasi di bidang cyber security. “Salah satu sertifikat, yang mengikutinya harus punya kemampuan untuk bagaimana menjadi seorang hacker sebenarnya. Tapi dalam proses sertifikasi tersebut bukan menjadi seorang hacker, tapi mempelajari cara-cara seorang hacker itu melakukan aksinya. Jadi kita diajari seperti itu,” ungkap Syaifudin saat diwawancarai, Sabtu (28/3). Sebelumnya Syaifuddin telah memiliki sertifikat Cisco Certification Network Associate (CCNA) yang didapat pada tahun 2006. Sertifikat tersebut dikeluarkan oleh Cisco System, perusahaan besar IT dalam bidang jaringan komputer. Melalui CEH, dosen sekaligus Wakil Kepala Laboratorium Prodi Teknik Informatika ini mengembangkan kepakarannya sebagai seorang security analyst. Profesi security analyst membuatnya untuk mampu menjaga keamanan semua informasi dan data yang dimiliki UMM. “Kebetulan saya diberi amanat di laboratorium Informatika, di sana terpasang sebuah sensor Honeypot kerjasama dengan Indonesia Honeynet Project (IHP) dan menemukan fakta bahwa setiap hari ada sekitar kurang lebih 1 juta serangan yang menuju ke IP public punya UMM,” terangnya. Syaifuddin menerangkan proses untuk uji sertifikasi tersebut dilakukan secara online, dikarenakan kondisi Covid-19. Pembekalan modul materi dilakukan secara online selama enam hari dan di hari ketujuh dilakukan pengujian. Melalui modul CEH tersebut, Syaifuddin memberikan referensi teori untuk mahasiswanya dalam mata kuliah Keamanan Jaringan. Dengan begini Mahasiswa mampu melakukan praktik langsung dan bukan hanya teori. Ketika masih menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Prodi Teknik Informatika UMM, Syaifuddin juga aktif mengikuti komunitas cyber baik di dalam maupun di luar Kota Malang. Maka dari itu setelah menjadi dosen pun Syaifuddin aktif memberikan kiat langsung berupa teknik-teknik yang dikemas melalui simulasi, serta memberi motivasi pada mahasiswanya, “To Beat a hacker, You have to Think Like a Hacker”. Prodi teknik Informatika juga memberi wadah bagi mahasiswa yang tertarik di bidang keamanan komputer melalui Komunitas KALIBER_UMM (Komunitas Linux dan Cyber Defence UMM). Kedepannya secara bertahap, Syaifuddin mempersiapkan untuk uji sertifikasi CHFI (Computer Hacking Forensik Investigator). Syaifuddin juga berharap nantinya UMM memiliki Vokasi Cyber Security yang dapat bekerjasama dengan EC-Council. Dengan porsi praktik yang lebih banyak diharapkan mereka memiliki keterampilan lebih yang dapat dikuasai. Karena sebagai seorang security analyst, diperlukan sertifikasi untuk menunjukkan kemampuan untuk dapat diakui sebagai profesional. (san/can)