UMM Kembangkan Jiwa Bisnis Mahasiswa Melalui Pameran Kewirausahaan

HINGGA saat ini, pengangguran masih menjadi permasalahan di Indonesia. Dunia kerja belum bisa menampung seluruh lulusan perguruang tinggi. Akibatnya, masih banyak mahasiswa yang lulus tanpa memiliki pekerjaan tetap. Merespon hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) menggelar pameran kewirausahaan ke-7 bagi mahasiswa dan alumni UMM (21/12). Kepala Urusan PKMA, Dr Fien Zukfikaijah MM menjelaskan, jumlah pengangguran di Indonesia yang semakin meningkat menjadikan setiap orang harus berkompetisi untuk mendapat pekerjaan. Fien menyebutkan, paling tidak, pada 2016 sebanyak 7 juta pengangguran atau 5,5 persen masyarakat Indonesia yang menganggur. Jika setiap mahasiswa membuka usaha dengan memperkerjakan satu orang, maka paling tidak sudah mengurangi angka pengangguran. “Jika satu orang itu yang dibekerjakan itu memiliki keluarga, maka paling tidak satu usaha mahasiswa itu dapat menolong 1 keluarga,” jelas Fien rinci. Tujuan utama diadakannya pameran ini adalah untuk mewadahi mahasiswa yang minat di bidang kewirausahaan dan juga alumni yang sudah memiliki usaha. Pada pameran kewirusahaan yang ke 7 itu, ada 30 stand yang berdiri dengan berbagai macam usaha dari kuliner, jasa, konveksi dan sebagainya. Fien menjelaskan, pameran kewirausahaan adalah kegiatan yang rutin digelar setahun dua kali. Dengan adanya pameran ini, UMM berusaha memfasilitasi mahasiswa dan alumni dalam mengembangkan usahanya. “Setiap akhir bulan Juni dan Desember kami rutin menggelar pameran ini dengan membuka peluang pendaftaran yang lama. Guna menarik minat mahasiswa dan alumni yang mendaftar, PKMA juga menggratiskan seluruh biaya administrasinya,” jelas Fien. Menurut data PKMA, bahkan hingga saat ini ada mahasiswa UMM yang memiliki usaha dengan omzet 30 juta per bulan. Fien menjelaskan, sampai tahun 2016 ada 380 usaha yang dimiliki mahasiswa dan alumni UMM. “Jumlah itu hanya yang terdata saja, masih banyak usaha mahasiswa dan alumni yang belum terdata oleh PKMA,” jelas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM itu. Fien mengungkapkan, pameran kewirausahaan ini tidak hanya berhenti di pameran saja. Namun PKMA akan menindaklanjuti dengan mengikutsertakan usaha yang dimiliki mahasiswa ke tingkatan nasional atau yang lebih tinggi lagi. “Pemerintah menyediakan banyak kompetisi wirausaha hingga saat ini, dan ini merupakan peluang yang sangat bagus buat wirausahawan muda UMM untuk berkompetisi,” ungkap Fien saat pameran berlangsung. Kedepannya, PKMA memiliki targetan untuk menciptakan mahasiswa yang memiliki usaha minimal 2,5 persen. Begitu pula dengan alumni, Fien mengharapkan, jumlah alumni yang memiliki usaha minimal 2,5 persen. “Dengan targetan itu, paling tidak UMM bisa mengurangi angka pengangguran di Indonesia,” jelasnya lebih lanjut. Rektor UMM, Fauzan menyebutkan, pameran kewirausahaaan ini kedepannya akan di gelar dengan skala yang lebih besar dan jangka waktu pamerannya juga lebih lama. “Teruslah berinovasi dan jadikan usaha kalian bagian dari kehidupan mahasiswa,” pesan Fauzan. (jal/han)

Pusbang Biotek UMM Kenalkan Bioteknologi Terapan pada Siswa SMA

PENYEBARAN dan pengenalan disiplin keilmuan pada berbagai bidang diperlukan guna mengenalkan suatu disiplin ilmu pada masyarakat luas. Untuk itulah, Pusat Pengembangan Bioteknologi (Pusbang Biotek) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengenalkan tentang ilmu bioteknologi pada 150 siswa SMA Islam Krian Sidoarjo (20/12). Sebelum terjun melakukan praktik, para siswa diberikan materi oleh staf ahli bioteknologi. Dr. Ir. Syarief Husen, MP selaku kepala Pusbang Biotek menjelaskan, akan ada praktik langsung yang dibimbing oleh staf ahli dalam bidang bioteknologi terapan. Menurut Syarief, bioteknologi terapan sudah banyak jenisnya. Dalam pelatihan ini siswa diberikan 4 materi. Yaitu materi tentang budidaya  jamur, kultur jaringan, perikanan dan pertanian organik. “Staf ahli pusbang biotek sudah sangat banyak yang kompeten di  4 bidang tersebut, jadi siswa langsung dipandu oleh para ahli di bidang tersebut,” jelas Syarief. Secara garis besar, ilmu yang diajarkan adalah pemanfaatan mikroorganisme untuk menghasilkan produk dalam bentuk barang atau jasa. Contoh diantaranya adalah dengan jamur, bahan organik dan kultur in vitro. “Kultur in vitro adalah suatu cara membuat bibit secara lengkap dengan menggunakan sebuah media tanam, “ jelas Syarief. Syarief menyatakan, setelah diberikan materi, siswa akan diajak terjun langsung ke laboratorium yang dimiliki Pusbang Biotek UMM.  “Di laboratorium siswa akan mempraktikkan, memperagakan serta memproduksi materi yang telah diberikan,” jelas Syarief. Dalam budidaya jamur misal, siswa akan diajari mulai dari pembibitan hingga varian jamur serta  membuat buglog atau media jamur. Bahkan  laboratorium yang dimiliki Pusbang Biotek  UMM sudah memiliki peralatan yang lengkap untuk menunjang praktik dari siswa nantinya. “Jadi dari segi materi dan laburatorium sudah mendukung untuk memberikan pengajaran tentang bioteknologi terapan pada siswa SMA,” ungkap Dosen FPP UMM itu. Usaha untuk menyebarkan ilmu tentang bioteknologi terapan  ini sudah dilakukan Pusbang Biotek UMM beberapa kali dengan sekolah-sekolah lainnya. “Tujuan  kami adalah untuk mengenalkan ke adik-adik siswa SMA tentang bioteknologi terapan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap dosen Prodi Agroteknologi itu. Perwakilan SMA Islam Krian Sidoarjo, Hasan Wahyudi menyatakan, dengan adanya pelatihan bioteknologi terapan dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman siswa dalam bidang tersebut. “Dengan materi dan praktik yang diberikan ahli dari UMM, siswa dapat mendapatkan hal baru setelah pelatihan ini,” harap Hasan.(jal/han)

Fakultas Teknik Pamerkan 19 Produk Industri Mahasiswa

SEDIKITNYA 19 produk karya mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saling unjuk gigi memamerkan keunggulan produk masing-masing dalam pameran produk LaboratoriumTeknik Industri yang digelar di pelataran Kantin Teknik Gedung Kuliah Bersama (GKB) III, Selasa (20/12). Pameran yang berangkat dari mata Kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) ini merupakan mata kuliah wajib yang diambil di semester 5 dan mengharuskan mahasiswa membuat produk industri. Seperti Alat Bantu Pengangkut Kopi buatan Febrian Roby Wijaya beserta kelima kawan kelompoknya. Febrian menjelaskan, selain dilengkapi rem sebagai penunjang keselamatan pada saat membawa beban berat pada kondisi jalan menurun. Kelebihan alat yang dibuat keloimpoknya ini juga mampu menampung berat hingga 100 kilogram. “Selain itu, alat kami juga dibuat menggunakan bahan yang ringan kuat, dan tahan karat. Juga, di desain secara ergonomis sesuai data antropometri (studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia, Red.) petani kopi,” kata Febrian saat diminta menerangkan keunggulan alatnya. Produk inovasi mahasiswa teknik industri angkatan 2014 lainnya ini berupa Meja Tas Laptop. Yakni perpaduan tas laptop dengan meja portabel yang memungkinkan pemiliknya untuk dibawa kemana-mana. Temuan menarik lainnya berupa Alat Pemilah Ukuran Lele karya Gusti Dermawan beserta ke empat teman satu kelompoknya. Ditemui di kantornya, Ir. Muhammad Lukman, MT., dosen pengampu mata kuliah P3 ini menerangkan bahwa setiap produk yang dibuat harus melewati sejumlah tahapan sampai layak disebut produk layak dipasarkan. Pertama, dijelaskan Lukman, setiap rancangan produk teknik industri juga harus berdasarkan customer need atau disesuikan kebutuah konsumen. Selain itu, rancangan produk harus memiliki dimensi kualitas. “Yang dinilai dari dimensi kualitas itu diantaranya segi  performance, fitur, service ability-nya serta  beberapa variabel kualitas lainnya. Ketiga, produk itu harus dikenalkan kepada masyarakat dengan kita launching seperti pameran yang sedang kita adakan ini,” paparnya. Diakui Lukman, kualitas karya mahasiswanya belum sampai tingkatan kualitas yang dibutuhkan industri. karena baru berupa prototype, Lukman mendorong mahasiswanya untuk terus mengembangkan produk yang telah dibuat. “Satu karena terbentur biaya, kedua karena terbentur pengalaman. Sehingga kami mengharapkan, produk yang dibuat angkatan 2014 ini dapat dikembangkan angkatan selanjutnya,” tandas Lukman. (can/han)

PKMA Didik Mahasiswa Jadi Wirausaha Kreatif dan Mandiri

AGAR mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap berkompetisi menjadi wirausaha muda kreatif dan mandiri, unit Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Biro Kemahasiswaan UMM instens melakukan seminar dan workshop entrepreneurship. Salah satunya, melalui Talkshow Wirausaha Mandiri menghadirkan sejumlah pengusaha berpengalaman. Beberapa pembicara yang dihadirkan pada kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus II UMM (19/12) ini yaitu owner D Tanjung dan De Labu, Dewi Tanjung, serta penemu mesin penetas telur penyu satu-satunya di dunia atau dikenal dengan maticgator sekaligus owner CV Ulumul Bahri, Paundra Noorbaskoro. Hadir pula Regional Business Development Jatim Bank Mandiri Iswandi, Malang Area Head Bank Mandiri Theresia Pratiwi Hastari dan Kepala Biro Kemahasiswaan UMM Abdullah Masmuh. Kegiatan hasil kerjasama PKMA Mawa UMM dan Bank Mandiri ini diikuti sekitar 300 mahasiswa yang memang memiliki ketertarikan untuk menjadi wirausaha mandiri. “Talkshow ini dilakukan UMM untuk membuka akses informasi para mahasiswa ke program Wirausaha Mandiri Bank Mandiri. Semoga dengan informasi itu dan mendengarkan langsung kisah mbak Dewi dan mas Paundra sebagai pengusaha muda yang inspiratif, mahasiswa UMM tergerak untuk memacu diri sebagai wirausaha,” jelas kepala PKMA UMM, Dr Fien Zulfikariyati MM. Dewi Tanjung, wanita kelahiran Mondoroko Singosari menjadi fenomenal saat memenangkan wirausaha muda mandiri (WMM) 2010. Kisah hidupnya menjadi cerita yang menginspirasi karena keuletan dan kreatifitasnya. Sebagai anak yatim dengan ibu yang hanya buruh cuci hingga bisa menyekolahkan Dewi sampai perguruan tinggi menjadi motivasi terkuat bagi Dewi  untuk membuat ibunda bangga padanya. “Bermimpilah yang besar dan wujudkan mimpi itu dengan penuh percaya diri,” Seru Dewi kepada hadirin. Keunikan usaha Dewi tidak sekedar “menyulap” limbah dan potensi lokal di sekitarnya menjadi handicraft bertaraf internasional. Namun, dia juga tidak pelit berbagi keterampilan dan kesempatan dengan masyarakat sekitar. Kini usahanya mampu memperkerjakan 56 lebih karyawan yang sebagian besar tenaga kerja perempuan di sekitar tempat tinggalnya. “Berawal dari modal 50 ribu rupiah, kini berkat WMM saya sudah bisa ke beberapa negara untuk urusan bisnis dan bertemu dengan orang-orang hebat yang memberi  saya ilmu dan inspirasi. Dalam membangun dan mengembangkan usaha, kita harus banyak memiliki jaringan. Pengalaman saya menunjukkan 5 teman yang baik disekitarmu akan membuatmu bisa bangkit  dan berhasil,” paparnya membagi pengalaman dan tips. Sementara itu Paundra Noorbaskoro, pemenang WMM 2015 memulai kisahnya dengan menceritakan kondisi penyu di perairan Trenggalek dan daerah kelahirannya sendiri, Pacitan. Keprihatinannya akan nasib penyu yang terancam punah, serta didukung oleh ilmunya di bidang Perikanan dan Kelautan, alumni UB ini meciptakan Mesin Penetas Telur Penyu yang diberi nama Magicgator. “Magicgator merupakan satu-satunya mesin penetas telur penyu, di mana melalui mesin tersebut kami merancang kita bisa memilih jenis kelamin bayi penyu yang menetas nanti,” jelasnya membuat penasaran yang hadir. Rupanya memilih jenis kelamin penyu ini menjadi penting.  Pemanasan global membuat suhu meningkat dan itu secara alamiah membuat telur penyu yang menetas kebanyakan berjenis kelamin betina. Padahal, untuk pembuahan penyu betina memerlukan enam penyu jantan,” jelasnya lebih lanjut. Ketidakseimbangan jumlah penyu jantan dan betina ini merupakan salah satu faktor semakin menipisnya jumlah populasi penyu. Kedua success story pemenang WMM yang hadir memiliki kesamaan dalam karakter pribadi. Mereka peduli pada lingkungan sekitar, percaya diri, kemauan berkolaborasi, dan memiliki visi untuk membangun masyarakat. Baik Dewi Tanjung maupun Paundra pada akhirnya melakukan edukasi pada masyarakat, berbaur dan mendampingi warga sehingga terbentuk komunitas yang peduli terhadap kelangsungan hidup lingkungan alam dan lingkungan sosial. “Kriteria pemenang WMM selain kami melihat kesehatan usahanya yang lebih penting lagi adalah karakter pesertanya. Sesuai semangat WMM, Muda, Inovatif, Peduli,” kata Iswandi. Lebih jauh, tentang program WMM yang sudah digelar sejak 2007, Iswandi memaparkan lima katagori usaha yang menjadi perhatian WMM 2016 meliputi Wirausaha Industri Perdangan dan jasa, Wirausaha Boga, Wirausaha Kreatif, Wirausaha Tehnologi, dan Wirausaha Sosial. “WMM tidak hanya memberi modal dalam bentuk hibah kepada para pemenang, melainkan juga memberikan bantuan pembiayaan serta membuka akses mendapatkan jaringan yang luas, memberikan pembinaan dan pendampingan, serta biaya untuk pelatihan dan promosi di event-event profesional sampai di tingkat internasional,” jelas Iswandi lebih lanjut. Mendorong jiwa kewirausahaan mahasiswa dan alumni, PKMA UMM memiliki beberapa program menarik. Selain beberapa kali mengundang pengusaha muda yang sukses, baik dari kalangan alumni UMM maupun bukan, PKMA secara rutin telah menyelenggarakan pameran usaha mahasiswa dan alumni setiap satu semester. Seperti Rabu (21/12) nanti yang akan diselenggarakan di parkiran lantai tiga Kampus III UMM. (*/han)

Satu Hari Rasakan Atmosfer Eropa Bersama UMM

PAMERAN “Around the Europe in One Day” yang digelar International Relations Office (IRO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (19/12) seakan benar-benar mengajak pengunjung berkeliling Eropa. Bagaimana tidak, selain disediakan informasi seputar beasiswa dan kebudayaannya, di tiap stan juga tersaji makanan khas masing-masing negara, seperti  Arroz Doce atau nasi manis khas Portugal. Pengunjung juga diajak berswafoto menggunakan atribut pemain tim nasional  sepak bola Portugal, lengkap dengan topeng pemain andalannya Cristiano Ronaldo. Kegiatan yang diadakan di di pelataran Perpustakaan Pusat Kampus III UMM ini,sedikitnya diikuti sejumlah negara di Eropa di antaranya dari Ukraina, Rumania, Spanyol, Portugal, Polandia dan Slovania. “Di UMM banyak orang asing yang belajar dan mengajar. Kami sudah lama belajar di sini dan sudah tahu banyak tentang Indonesia. Kami pikir orang Indonesia lebih bagus kalau tahu juga tentang negara kami,” terang Tania, mahasiswa asal Ukraina yang begitu fasih berbicara dalam bahasa Indonesia ini. Selain belajar bahasa Indonesia, Tania juga mengikuti program Learn and Teach internship di mana ia berkesempatan untuk magang mengajar ekonomi mikro di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM. Menariknya, Tania mengaku sebelumnya belum pernah bertemu dengan teman senegaranya di Ukraina. “Baru di UMM, saya bisa dipertemukan dengan teman saya yang berasal dari Ukrania Utara, Ukraina Tengah dan Ukraina Barat,” pungkasnya. (acs/han)

UMM Rebut Juara Umum Lomba Pengetahuan Tiongkok

TIGA mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara pertama dan ketiga pada gelaran Lomba Pengetahuan Umum Tiongkok yang diadakan Konsulat Jenderal China di Surabaya, 10 Oktober hingga 10 November lalu. Tak seperti umumnya, lomba ini diadakan dengan sistem online. Tiga mahasiswa tersebut ialah Ana Sophia Siregar dari program studi Ilmu Teknologi Pangan dan Fikri Ramadhan Siregar dari Fakultas Psikologi. Keduanya meraih juara pertama karena skor yang didapatkan sama. Sedangkan Dwi Fariyana Wiraningtyas, mahasiswa program studi Farmasi meraih juara ketiga. Ana dan Fikri berhak mengantongi sebuah komputer jinjing (laptop) dari Konjen China serta uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah dari UMM. Sementara itu, Dwi pun mendapatkan sebuah komputer jinjing dari Kinjen China dan uang pembinaan dari UMM sebesar 500 ribu rupiah. Penyerahan hadiah dilakukan di Universitas Negeri Surabaya, Ahad (11/12) pekan lalu. Hadiah diserahkan langsung oleh Konjen China di Surabaya, Gu Jingqi. Kompetisi diikuti 20 universitas terpilih se-Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali dan NTT. Selain UMM, tiga universitas lain di Malang yang juga menjadi peserta lomba ialah Universitas Ma Chung, Universitas Brawijaya, dan Universitas Negeri Malang. Sistem online yang diterapkan pada lomba ini menjadikan tak ada batasan peserta yang ikut. 332 mahasiswa aktif UMM pun ditunjuk untuk mengikuti lomba melalui alamat surabaya.chineseconsulate.org/eng. Ada 50 butir pertanyaan di website tersebut. Untuk jumlah pertanyaan yang tak sedikit, waktu yang disediakan untuk menyelesaikan terbilang singkat, hanya 30 menit. Peningkatan yang dialami UMM terbilang pesat. Tahun lalu, pada kesempatan lomba yang sama, UMM hanya meraih juara harapan. Tahun ini, selain mengantongi juara pertama dan ketiga, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak. Asisten Rektor Bidang Kerja Sama, Drs Soeparto MPd menyatakan prestasi ini tak lepas dari pengaruh positif sejak didirikannya China Corner di UMM pada Mei lalu. Hal ini semakin memperkuat jalinan kerjasama antara UMM dengan Tiongkok. “Sejak diresmikannya China Corner di UMM pada bulan Mei lalu, mahasiswa jadi punya media untuk mempelajari lebih banyak tentang China,” ujarnya. Prestasi ini berdampak pada penguatan internasionalisasi UMM. China, kata Soeparto, memiliki sumber daya yang kuat. Soeparto menganalogikan China sebagai present tense dalam istilah grammar Bahasa Inggris. China kini jadi pandangan untuk masa depan, alias future, utamanya untuk ASEAN.  Meski begitu, budaya China yang makin dipahami mahasiswa tetap tak menghilangkan budaya lokal dan Islam yang ditanamkan pada mahasiswa UMM. “Dengan makin kuatnya kerjasama UMM-China ini, mahasiswa akan makin banyak belajar tentang budaya China. Ini penting untuk membekali mahasiswa saat berkiprah di lingkup ASEAN nantinya,” sambung Soeparto. (ich/han)

BEM FPP Kenalkan Arboretum pada Masyarakat

UPAYA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggencarkan green and clean direspon positif oleh mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM menyelenggarakan aksi tanam pohon bersama di Arboretum FPP UMM (19/12). Tidak hanya mahasiswa, BEM FPP juga mengajak seluruh masyarakat untuk peduli pada lingkungan. Ketua pelaksana aksi tanam pohon itu, Asrul R Lino menyatakan, masyarakat juga bagian dari aktor dalam pelestarian lingkungan. Dengan berkolaborasi dengan masyarakat, FPP ingin menyampaikan pesan bahwa melestarikan dan menjaga lingkungan adalah tugas bersama seluruh tingkatan masyarakat. “Tidak hanya mahasiswa dan kampus saja yang bertugas menjaga lingkungan, namun masyarakat luas juga memiliki andil yang besar,” jelas Mahasiswa Program studi Kehutanan itu. Dalam aksi tersebut, panitia menyediakan 4200 bibit pohon yang akan ditanam bersama oleh peserta aksi tanam pohon. Seluruh bibit pohon yang ditanam adalah tanaman endemik Pulau Jawa. “Dari berbagai daerah di Indonesia, Pulau Jawa paling banyak memiliki tanaman endemik. Selain itu, kita juga ingin memperkenalkan ke peserta tanaman apa aja yang merupakan tanaman endemik Pulau Jawa,” ungkap Asrul. Asrul menyatakan, dengan terselenggaranya acara itu FPP ingin memperkenalkan lebih mendalam tentang arboretum. “Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa ada tempat pelestarian tanaman yang bisa digunakan oleh masyarakat luas,” jelas Asrul. Banyaknya bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Asrul merupakan salah satu akibat masyarakat belum peduli dengan lingkungan dan juga acuh terhadap kerusakan yang terjadi di lingkungannya sendiri. “Aksi ini juga ingin menyadarkan masyarakat bahwa dengan menanam pohon, lingkungan sekitar akan terjaga dan dapat mengantisipasi datangnya musibah,” jelas mahasiswa FPP UMM itu. Acara diawali dengan senam sehat, kemudian jalan santai yang berakhir di Lapangan Desa Pendem, Kecataman Junrejo,  Kota Batu. Kurang dari 1000 peserta terdiri dari mahasiswa, masyarakat dan aktifis lingkungan mendukung aksi tanam pohon ini dengan mengikuti aksi itu. Kedepan, FPP akan menyerahkan pengurusan arboretum FPP UM itu pada prodi kehutanan untuk ditindaklanjuti. Secara konsep dan pelaksanaan BEM FPP UMM yang bertanggungjawab. “Namun kedepannya perawatan arboretum itu akan dikelola oleh prodi kehutanan,” ungkap Asrul.(jal/han)

UMM Adakan Workshop Pengembangan Kerjasama Internasional

KEPALA Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Ainur Rofieq MKes menyatakan, setelah sebelumnya menjadi satu-satunya kampus swasta di Indonesia yang meraih sertifikasi sebagai associate member of ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), saat ini UMM tengah mempersiapkan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET). Untuk itu, kata Rofiq, UMM terus berupaya melakukan continuous improvement melalui berbagai memorandum of understanding (MoU) dan memorandum of agreement (MoA) dengan beberapa kampus di luar negeri, serta melakukan pelaporan-pelaporan terkait program yang dijalankan UMM serta raihan internasional yang berhasil dicapai. Hal itu diungkapkan Rofiq pada kegiatan Workshop Kerja Sama Internasional UMM yang digelar di Hotel UMM Inn, Sabtu (17/12). Kasubdit Kerjasama Perguruan Tinggi Kemenristek Dikti Purwanto Subroto PhD  yang hadir pada kegiatan ini memaparkan, ada beberapa program yang disediakan Kemenristek Dikti untuk mendorong pengembangan kerjasama internasional bagi universitas di Indonesia. Pertama, kata Purwanto, yakni perluasan peluang kerjasama perguruang tinggi. Sub program join working group misalnya, yang saat ini telah bekerja sama dengan kampus-kampus di Jepang, Australia, Perancis, China, New Zealand, Taiwan, UK, dan USA. Kedua, UMM juga dapat mengikuti pameran pendidikan tinggi dalam pengembangan network melalui NAFSA Association of International Educators dan European Association for International Education (EAIE). Dengan mengikuti pameran ini, UMM dapat menjaring calon mahasiswa asing ke Indonesia. Dalam hal ini, Kemenristek Dikti siap memfasilitasi kerjasama internasional serta menyediakan aplikasi online perijinan mahasiswa asing untuk studi di Indonesia.  Sejak beberapa tahun lalu, UMM pun telah mengikuti beberapa kali pameran Indonesia Higher Education Expo (IHEE). Kemenristek Dikti juga melakukan klasifikasi peringkat universitas di Indonesia, memberi dukungan mobilitas mahasiswa, serta menyediakan aplikasi pelaporan mahasiswa. “Pada 2017 UMM saya harapkan telah memiliki program join degree dengan minimal satu atau dua program studi dengan salah satu kampus luar negeri,” dorong Purwanto  dalam pemaparannya. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya mengatakan, perjalanan panjang telah dilakoni UMM terkait kerjasama luar negeri. Namun, upaya ini tak berhenti. Saat ini, UMM tengah menggagas kelas internasional dan memetakan skema beasiswa. Terbaru, Rabu (14/12) kemarin, UMM baru saja meluncurkan Pusat Studi ASEAN. “Pusat studi ini akan berperan menjadi pilar penyangga akademik,” terangnya. Fauzan menekankan, saat ini UMM berada pada tahap pemetaan potensi di segala bidang. Rektor berharap, ada pemikiran-pemikiran integratif dari masing-masing unit, khususnya program studi sehingga menghasilkan ide-ide untuk mem-branding UMM menjadi kampus yang marketable terkait ‘penjualan’ hasil-hasil risetnya. “DPPM bisa membentuk bidang pengembangan hasil riset untuk menindaklanjuti hal ini,” ungkap Fauzan. Identifikasi pemetaan ini, lanjut Fauzan, merupakan modal kuat untuk membangun kerjasama internasional. Ke depan, UMM mencanangkan akan menggelar festival hasil riset sekaligus mengundang para pelaku industri. (ich/han)

Kerjasama UMM dengan Guangxi Normal University Tiongkok: Dari Kursus Mandarin Gratis Hingga Beasiswa Kuliah

KERJASAMA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) salah satu universitas kenamaan Tiongkok, Guangxi Normal University (GXNU), kembali berlanjut. Hal itu terungkap dalam kedatangan Rektor GXNU Qin Weiguo ke UMM untuk penandatanganan nota kerjasama (MoU), Jumat (16/12). Selain rektor, hadir pula Director of GXNU Dai Jiayi serta Deputy Director of International Admission Office, Lin Yukun. Acara MoU dirangkai dengan presentasi beasiswa serta pagelaran buadaya Cina di Auditorium UMM. GXNU merupakan kampus yang terdiri dari 22 fakultas dengan kapasitas pengajar lebih dari 2000 orang. Seperti halnya UMM, GXNU juga memiliki tiga kampus dan mampu memadai kegiatan perkuliahan sebanyak 40 ribu mahasiswa. Rektor GXNU dalam sambutannya menekankan bahwa saat ini titik fokus kampusnya yakni perluasan kerjasama internasional. “Hingga hari ini, univesitas kami telah menjalin kerjasama dengan 40 negara yang di dalamnya terdapat 200 lembaga,” kata Qin Weiguo di hadapan 300 mahasiswa UMM dan sejumlah perwakilan dari kedua belah pihak universitas. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyambut hangat kedatangan rombongan GXNU ke UMM. Fauzan berharap, kerjasama tidak hanya dilakukan di bidang pendidikan, namun juga kebudayaan. Bagi Fauzan, UMM sudah tidak asing dengan nuansa Cina. Hal tersebut dibuktikan dengan dikukuhkannya UMM sebagai juara umum dalam ajang Lomba Pengetahuan Tiongkok yang diselenggarakan Konsulat Jendral Cina di Surabaya pada 10 Oktober-10 November silam. “UMM menjadi juara umum dan sekaligus sebagai universitas yang mendelegasikan peserta terbanyak. Dan yang lebih menggembirakan, UMM telah menyisihkan 232 perguruan tinggi di Indonesia,” sebut Fauzan bangga. Selain penandatanganan MoU, acara bertajuk China Scholarships and Cultural Performance ini juga menampilkan sejumlah pertunjukan dari kelompok tari dan suara yang secara khusus didatangkan langsung dari Cina. Salah satunya tembang tradisional Cina, Flying Song yang dibawakan guru Wen Zhezhao. Flying Song merupakan salah satu jenis lagu tradisional suku Miao, terkenal di daerah Tai Jiang, Jian He, dan Kai Li; daerah tenggara Provinsi Gui Zhou. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh pemuda-pemudi untuk saling berkomunikasi. Lagu ini juga sering dinyanyikan dalam acara pernikahan dan hari raya daerah setempat untuk memeriahkan suasana.   Sebelumnya, antara UMM dan GXNU selama ini sudah menjalankan skema kerjasama dengan didirikannya Pusat Bahasa Mandarin atau China Corner di Perpustakaan Pusat UMM. “Menariknya, bagi peserta kursus bahasa mandarin yang dapat mencapai tingkat intermediate atau menengah, berkesempatan memperoleh beasiswa guna mempelajari bahasa Mandarin di tempat asalnya, Cina. Demikian sebaliknya, saat ini Guangxi Normal University juga mengirim dua dosennya untuk mengajarkan Bahasa Mandarin di UMM,” terang Suparto, Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM. (ich/han)

PGSD Perkenalkan Batik pada Mahasiswa Internasional

UJIAN akhir tidak melulu berhadapan dengan kertas dan menghafal banyak teori. Contohnya Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengadakan fashion show dan pameran ketrampilan bernuansa kearifan lokal sebagai ujian akhir semester (UAS) salah satu mata kuliahnya. Kegiatan ini dikemas dengan konsep Indonesian Pageants atau pagelaran Indoensia. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UMM, Kamis (15/12) ini kemasan tugas UAS mata kuliah pendidikan seni budaya dan ketrampilan. Menurut dosen pengampu mata kuliah tersebut, Dr Arif Budi Warianto MSi, Indonesian Pageants adalah uji komperehensif mata kuliah. Dalam acara ini, mahasiswa dituntut menyelenggarakan suatu acara yang mengangkat inovasi batik dan ketrampilan tradisional. Tidak hanya memperkenalkan batik pada mahasiswa UMM saja, tapi juga pada masyarakat internasional. Justru, target utama pagelaran seni ini adalah mahasiswa asing yang sedang belajar UMM. Menurut Arif, dengan bergabungnya mahasiswa asing dalam acara ini, maka mahasiswa PGSD telah melakukan diplomasi budaya pada masyarakat internasional. “Nantinya, para mahasiswa asing ini akan menginformasikan ke negara mereka masing-masing tentang batik dan filosofinya,” ungkap Arif. Semua yang ditampilkan di sini, lanjut Arif, murni merupakan hasil kerja mahasiswa PGSD angkatan 2013. “Mulai dari konsep acara, inovasi batik yang ditampilkan tiap kelompok, semua dikerjakan oleh mereka sendiri,” jelas Arif yang juga kepala Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM ini. Dalam acara yang bertemakan “Batik Warisan Budaya Dunia” ini, Arif juga menyampaikan, Indonesian Pageants merupakan bentuk pengenalan konsep pendidikan terintegrasi dengan seni dan budaya. Ada tiga karakter yang ingin ditanamkan Arif pada mahasiswanya. Pertama, karakter kerjasama, disiplin dan rela berkorban.  “Tiga karakter itu adalah karakter yang ingin dicapai, sehingga mahasiswa dapat mempraktekkan teori yang sudah mereka pelajari dalam kelas,” jelas Arif. Menurut Arif, acara ini juga memberikan pengalaman estetik yang akan selalu teringat oleh mahasiswa. Dalam teori assessment, dengan mahasiswa mempraktekkan teori yang didapat dalam kelas, maka akan melekat kuat dan akan lebih paham. Sekretaris prodi PGSD, Dyah Worowirastri Ekowati MPd mengapresiasi tinggi atas terselenggarakannya Indonesian Pageants ini. Dyah menjelaskan, batik memiliki seribu filosofi yang sangat  mendalam. “Tema batik yang diangkat sangat cocok untuk pemuda. Karena batik mengandung arti kecermatan, kekuatan, keseriusan dan ketelitian,” jelas Dyah. Dalam acara itu juga dipamerkan ketrampilan dari olahan batik seperti dompet dari kain batik dan semacamnya. Juga dipamerkan karya seni anyaman, lukisan dan juga foto tentang budaya Indonesia. Tak ketinggalan tari-tari tradisional juga diperlihatkan oleh mahasiswa PGSD. (jal/han)