Lewat Gerakan Shubuh Berjamaah, UKM Kerohanian JF Ajak Civitas Akademika Jadi Ulul Albab

KEGAMANGAN umat Islam menghadapi berbagai persoalan umat dan kebangsaan, menjadi ciri bahwa umat Islam salah kaprah memahami identitas keislamannya. Hal itu disampaikan Ketua Program Studi Magister Agama Islam UMM, Prof Dr Tobroni MSi dalam gelaran Islamic Lecture mengiringi gerakan shalat shubuh berjamaah yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian (UKM-K) Jamaah AR Fachruddin UMM), Rabu (28/12). Banyaknya masalah yang dihadapi umat Islam, kata Tobroni, karena umat Islam selalu mengenyampingkan berbagai dimensi kehidupan. “Harus ada korelasi positif antara tingkat keimanan seseorang dengan penguasaan ekonomi, politik, kebudayaan, sosial dan aspek kehidupan lainnya,” kata Tobroni. Selain itu, Tobroni juga membagi pemahaman umat Islam dengan dua kelompok kategori. Kelompok pertama disebut asketisme duniawi, yakni paham yang memandang kehidupan dunia sebagai lahan untuk berprestasi. Kelompok lainnya disebut Tobroni sebagai mistisisme duniawi, yakni paham yang berpandangan bahwa kehidupan dunia hanyalah fatamorgana semata. Padahal, lanjut Tobroni, Islam mengajarkan umatnya untuk seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Melalui momentum gelaran shubuh berjamaah ini, Tobroni berharap pemahaman salah kaprah tersebut dapat diluruskan, juga seluruh potensi umat Islam dapat dipersatukan. “Prestasikan duniamu, untuk dedikasikan akhiratmu,” seru Tobroni di hadapan jamaah shalat shubuh di Masjid AR Fachruddin UMM ini. Sementara Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin dalam sambutannya optimis, mahasiswa yang ikut gerakan shalat shubuh berjamaah ini akan muncul di antaranya pemimpin bercirikan ulul albab, yakni sebutan yang menurut Al-Quran sebagai kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. “Di antara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksaan, dan berpengetahuan,” jelas Syamsul. Selain gerakan shubuh berjamaah, kegiatan juga diisi dengan penggalangan dana untuk korban banjir bandang Bima, Nusa Tenggara Barat. (can/han)

Komunikasi UMM Pamerkan 700 Karya Desain dan Fotografi

DOSEN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin kreatif dalam mengemas tugas perkualiahan. Sebelumnya, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) membuat pameran tanaman hias untuk tugas akhir mata kuliah. Kini, giliran Program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang mengadakan Pameran Desain Grafis dan Fotografi (27/12). Sebanyak 700 karya desain dan fotografi mahasiswa semester 3 dan semester 1 dipamerkan di Gedung Kuliah Bersama (GKB 1) UMM. Fitri Kurniawati, selaku dosen pengampu mata kuliah komputer grafis menyatakan, pameran ini diadakan untuk mengapresiasi usaha mahasiswa selama satu semester. Selain itu, dengan adanya pameran ini, semua mahasiswa membuat desain dengan sungguh-sungguh karena akan dilihat oleh banyak orang nantinya. Ia juga menyebutkan, saat ini banyak orang yang tidak menghargai sebuah desain. Contohnya, lanjut Fitri, ketika ada yang meminta tolong untuk dibuatkan desain atau logo maka balasannya hanya ucapan terimakasih. “Padahal, orang membuat desain itu tidak hanya asal buat. Butuh mencari ide, memilih warna yang pas dan sebagainya. Ide itu tidak murah dan tidak gratis,” jelas Fitri saat ditemui di pameran itu. Fitri juga menyatakan, pameran yang diadakan satu hari penuh ini menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa bagaimana menghargai sebuah desain. Dalam sebuah satu desain harus melewati beberapa proses pembuatan. “Banyak mahasiswa yang datang ke saya untuk konsultasi permasalahan mereka dalam membuat sebuah desain. Artinya mahasiswa mulai sadar kalau membuat desain itu tidak mudah,” jelasnya. Pada pameran tersebut dipamerkan tugas desain dari awal pertama kali perkuliahan. Seperti desain mug, proposal kreatif, info grafis merupakan beberapa karya yang dipamerkan. Fitri terkejut sekaligus bangga ketika melihat hasil desain mahasiswanya. “Semua desain yang saya lihat ini diluar ekspektasi saya. Bagi pemula,semua desainnya kami nilai sangat bagus, konsep acara juga sangat terencana,” jelas Fitri bangga. Senadadengan itu, dosen pengampu mata kuliah dasar-dasar fotografi Rahadi menjelaskan, fotografi tidak hanya sekedar foto selfiesaja. Tapi fotografi seharusnya mengandung nilai informasi dan edukasi. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi semester 1 mencoba menampilkan hal tersebut di setiap foto yang dipamerkan. Menurut Rahadi, foto tidak hanya berhenti sampai aspek bagus secara teknis pengambilan gambar, tetapi lebih kepada seni melihat yang tentunya dibarengi dengan teori dalam ilmu fotografi. “Saya mencoba mengajarkan bahwa foto itu tidak asal jepret, harus ada unsur to inform dan to educate-nya juga,” jelas Rahadi. Ketua pelaksana pameran, Calvin Alamsyah Putra menjelaskan, pameran kali ini diberi tema Artphobic yang berarti takut seni. Harapan dari tema itu, semua orang bisa berkarya tanpa malu untuk memulai. Setiap orang memiliki jiwa seni di dalam dirinya, maka setiap orang juga berhak memamerkan seni yang telah dihasilkannya. “Tidak hanya mahasiswa Ilmu Komunikasi saja yang bisa berkarya, tapi juga mahasiswa lain mampu dan harus ditunjukkan,” ungkap Calvin. (jal/han)

Apresiasi Tax Center UMM, Menkeu Sri Mulyani Tak Lupa Ajak Mahasiswa Mannequin Challenge

PERAN Tax Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Pojok Bursa Efek Indonesia (BEI) UMM mendapat apreasiasi khusus dari Menteri Keuangan Republik Indonesia,Sri Mulyani Indrawati SE MSc PhD. Bagi Sri Mulyani, kedua unit itu akan sangat efektif sebagai media belajar mahasiswa UMM agar ke depannya bisa memajukan sektor keuangan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Sri Mulyani saat memberi kuliah tamu bertajuk “Tax Amnesty dan Strategi Penguatan Ekonomi Indonesia 2017”, Rabu (28/12) di hall UMM Dome. Kehadiran mantan Direktur Pelaksana Bank Duniaini sekaligus untuk menandatangani peresmian Tax Center UMM. Ketika memasuki gedung bundar UMM Dome, Sri Mulyani tampak begitu ramah menyapa mahasiswa. Alih-alih segera duduk di kursi yang disediakanpanitia, ia malah berjalan di tengah-tengah mahasiswadan sempat bercakap-cakap dengan mereka. Bahkan, di akhir kuliah tamu, Sri mengajak ribuan mahasiwa yang hadir membuat videomannequin challenge. Sementara pada sesi kuliah tamu, Sri mengungkap ketimpangan ekonomi di Indonesia yang menurutnya terus meningkat. Hal ini, kata Sri,terakumulasi dari beberapa hal, yakni resiko ekonomi dalam negeri, inovasi yang rendah, kapasitas produksi terbatas, kesenjangan antara infrastuktur, teknologi, dan keterampilan masyarakat, serta pasar keuangan yang dangkal. “Akibatnya, produktivitas dan daya saing menjadi rendah,serta kemiskinan dan ketimpangan justru meningkat,” kata Sri Mulyani yang pada 2014 terpilih sebagai wanita ke-38 yang paling berpengaruh di dunia menurut majalah Forbes. Berlawanan dengan hal itu, kata Sri, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru membaik. Pada rentang waktu 2006 hingga 2015, Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,7%. Hal ini berarti peningkatan Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan China. Untuk itu, Sri menekankan pada UMM, demi meningkatkan pertumbuhan ini, ke depan, tantangan besar yang dihadapi ialah peningkatan pendidikan, kemampuan, dan skill sumber daya manusia. “Contoh kecil, untuk belajar mengenai pengelolaan keuangan negara, mahasiswa bisa belajar melalui pengelolaan keuangan pribadi. Karena, mengelola keuangan negara tak jauh berbeda dengan itu, hanya saja skalanya lebih besar,” ungkapperaih gelar master dan doktor dari University of Illinois at Urbana-Champaign ini. Mahasiswa, lanjutSri, bisa belajar bagaimana jika uang yang diterima lebih sedikit ketimbang yang harus dibelanjakan. Sama halnya, negara pun dalam urusan belanja mesti efisien, efektif, dan berkualitas. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan, tradisi UMM menghadirkan tokoh nasional sebagai pembicara tamu merupakan upaya untuk memberikan informasi yang akurat pada mahasiswa, utamanya mengenai program yang sedang digalakkan pemerintah. “Mahasiswa supaya mendapatkan informasi dan wawasan langsung dari tangan pertama. Sehingga, tidak ada kesimpangsiuran informasi dari internet, apalagi media sosial. Kuliah tamu ini juga penting untuk meningkatkan kompetensi di bidang perpajakan,” tukasnya. Tax Center UMM yang pada kesempatan ini diresmikan Sri Mulyani secara praktis aktivitas telah beralan sejak 2013. Tax Center UMM berdiri atas kerjasama Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Tax Center UMM melayani pembuatan NPWP, pembayaran pajak, maupun konsultasi perpajakan. Mahasiswa UMM juga sangat diuntungkan karena dapat mempelajari perpajakan secara lebih mendalam melalui literatur dan riset perpajakan, latihan simulasi, hingga tingkatan yang lebih tinggi seperti brevet.(ich/han)

Bersama Mahasiswa UMM, Siswa SD Belajar Bahasa Inggris Sambil Bermain

BAHASA Inggris adalah bahasa yang sangat mudah dipelajari dan dipahami. Setidaknya itulah kesan Aisyah Peravasa Effendy, siswi terbaik kelas dua, English for Young Learners (EYL) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Saya ikut EYL sejak kelas satu, dan tahun depan akan ikut lagi. Belajar Bahasa Inggris di UMM menyenangkan karena belajar sambil bermain, teacher-nya juga baik baik,” ujar Vasa, panggilan akrabnya. Sudah lebih dari 10 tahun Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM membuka kelas bagi siswa sekolah dasar (SD) di sekitar kampus sebagai ajang praktek bagi mahasiswa yang mengambil EYL sebagai mata kuliah pilihan. Selama satu semester kuliah EYL, mahasiswa mempelajari bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak yang menyenangkan.  Mahasiswa juga diharuskan membuka kelas bagi siswa-siswi antara kelas satu hingga enam SD. Di akhir semester, mahasiswa Bahasa Inggris UMM selanjutnya menggelar Graduation Party (gelar kelulusan) untuk seluruh siswa EYL. Untuk gelar kelulusan EYL semester ganjil 2016/2017 ini kegiatan digelar di Gazebo Perpustakaan Pusat UMM (25/12). Menurut dosen pengampu mata kuliah EYL, Aninda Nidhommil MPd, EYL adalah mata kuliah yang memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk mengajar bahasa Inggris untuk anak, sebagai pelengkap pengetahuan mengajar pada level di atasnya. “Pada mata kuliah ini, semua mahasiswa membuka kelas, mulai dari proses rekrutmen siswa, pembelajaran, evaluasi, sampai graduation, dengan siswa dari berbagai sekolah di Malang Raya,” jelas Anin, panggilan akrabnya. Tidak hanya siswa SD saja yang menjadi sasaran utama mata kuliah EYL itu. Anin juga menjelaskan bahwa guru yang semuanya adalah mahasiswa semester 7, juga menjadi sasaran dalam mata kuliah itu. Menurut Anin, guru dituntut agar bisa menaikkan mood siswanya sebelum belajar. “Menaikkan mood siswa itu adalah modal awal agar mereka (siswa) mau belajar bahasa Inggris, dan ini tantangan bagi mahasiswa,” ungkapnya. Pengalaman menggunakan bahasa secara otentik menjadi tujuan utama dari pembelajaran EYL. Sebagai contoh, pada saat materi Selling and Buying, mahasiswa harus mampu menyajikan pembelajaran dengan menggunakan role play, menghitung uang dengan benar dan berinteraksi seperti penjual dan pembeli sebenarnya. Lagu dalam bahasa Inggris di awal dan di akhir pembelajaran juga menjadi kegiatan yang khas dari kelas EYL. “Lagu masih menjadi salah satu metode dalam pembelajaran. Jadi dengan menyanyikan dalam bahasa Inggris, siswa dapat dengan menghafal kosa kata dan pemakaiannya,” jelas Anin. Pada gelar kelulusan ini juga ditampilkan berbagai penampilan seni dari siswa SD dalam bahasa Inggris. Siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 berpartisipasi aktif dalam penutupan EYL itu. Mulai dari menyanyi, fashion show, bahkan drama, semuanya ditampilkan dalam bahasa Inggris. “Ke depan, EYL diharapkan dapat lebih kreatif lagi sehingga siswa lebih nyaman belajar bahasa inggris,” harap Anin. (jal/han)

Mendikbud Hadiri Seminar Internasional MKPP UMM

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof Dr Muhajdir Effendy MAP hadir dalam Seminar Intermasional yang digelar Program Studi Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (24/12) di Auditorium UMM. Dalam penyampaiannya, Muhadjir mengurai konsep pendidikan karakter yang akan dikembangkan di sekolah sekolah. Khususnya pendidikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) akan menjadi sasaran penguatan pendidikan karakter. “Pada jenjang SD, sebanyak 70 persen untuk pendidikan karakter dan 30 persen akademis atau pengetahuan. Kemudian, jenjang pendidikan SMP, proporsi pendidikan karakter sebesar 60 persen, dan 40 persen untuk pengetahuan. Sesuai visi presiden Joko Widodo, bahwa karakter merupakan hal yang harus ditanamkan. ” kata Muhadjir dalam seminar sehari bertajuk “Pengembangan Model Sekolah Berlandaskan Revolusi Mental untuk Mewujudkan Generasi Berkarakter”. Selain itu, kegiatan diisi dengan pemaparan makalah dari kajian akademik/konseptual dengan pembicara Prof. Dr. Mohammad Zain Musa dari Royal Academy of Cambodia, Ketua Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) Pusat, Prof. Dr. As’ari Djohar, M.Pd, serta Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Trisakti Handayani. Juga terdapat pemaparan makalah hasil dari kajian praktis dengan pembicara diantaranya Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM., Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Dra. Mistin, M.Pd, dan Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dra. Puji Hariwati, M.Pd. “Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan ini setiap tahun selalu melakukan kegiatan rutin seperti ini. Tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Beberapa waktu lalu kita sudah bekerjasama dengan UNICEF, dan ini kegiatan yang akan selalu kita lakukan, dan akan kita kembangkan ke DPPs,” kata Wakil Direktur I Direktorat Program Pascasarjana UMM, Akhsanul In’am, Ph.D. Lebih lanjut, kata Akhsanul, upaya menambah wawasan ke luar negeri akan selalu dilakukan. Bahkan untuk angkatan semester depan, Akhsanul menjanjikan adanya subsidi dana. Rektor UMM, Fauzan sendiri menekankan bahwa antara sekolah, keluarga dan masyarakat haruslah bersinergi dalam penyelenggaraan pendidikan. Sehingga pendidikan karakter yang utama adalah membuat desain dalam edukasi keluarga. (can/han)

Rayakan Dies Natalis Ketiga, Prodi Ekonomi Syariah UMM Siap Berkompetisi

PROGRAM studi (Prodi) Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan Dies Natalis-nya yang ketiga (24/12). Dies natalis ini merupakan rangkaian kegiatan yang dimotori sepenuhnya oleh mahasiswa prodi Ekonomi Syariah. Hingga saat ini, sudah 4 angkatan yang menjalani proses belajar di prodi Ekonomi Syariah. Ketua Pelaksana Dies Natalis, Winda Ika Pratiwi menyatakan, semenjak berdirinya prodi Ekonomi Syariah pada 2013 belum ada perayaan ulang tahun prodi. “Ini adalah pertama kalinya prodi Ekonomi Syariah merayakan ulang tahun dengan partisipasi aktif dari seluruh mahasiswanya,” jelas Winda, sapaan akrabnya. Dengan tema “Dies Natalis and The Beginning of Sharia Economic, We Start from Bottom to the Top”, Prodi Ekonomi Syariah ingin membuktikkan bahwa prodi yang baru berumur jagung juga dapat menyelenggarakan Dies Natalis yang besar. Tidak hanya itu, lanjut Winda, tema tersebut juga mengandung makna, mahasiswa Ekonomi Syariah berjuang dari awal berdirinya jurusan hingga nanti terwujud sarjana yang membanggakan. “Tema tersebut merupakan semangat mahasiswa Ekonomi Syariah yang berumur sangat muda namun dapat berkompetisi dengan prodi lainnya yang sudah berdiri lama,” ungkap Winda. Tidak hanya sekedar perayaan saja, namun ada seminar nasional dan juga bazar kewirausahaan yang merupakan satu rangkaian kegiatan dies natalis prodi Ekonomi Syariah itu. Seminar nasional yang diadakan pada Jumat (23/12) itu mengangkat isu tentang bagaimana berbisnis namun dengan sistem syariah. Selanjutnya, diselenggarakan juga bazar kewirausahaan yang diisi oleh mahasiswa dan masyarakat. Sekitar 20 stand berdiri dengan menjual berbagai macam kuliner, pakaian dan masih banyak lagi. “Kita juga menyewakan stand untuk masyarakat agar event ini tidak hanya mengeluarkan biaya namun juga menghasilkan pemasukan,” jelas Mahasiswa asal Bogor itu. Beberapa perlombaan juga diselenggarakan panitia untuk memeriahkan Dies Natalis itu. Beberapa perlombaan yang digelar adalah lomba fashion show, lomba fotografi dan juga lomba membuat video. “Sampai sejauh ini, mahasiswa prodi Ekonomi Syariah sangat antusias dalam mengikuti perlombaan. Banyak yang mendaftar dan menyetorkan hasil karyanya,” jelas Winda senang. Acara perayaan yang baru diadakan pertama kalinya itu, membuat banyak kesan bagi panitia. Winda menceritakan, semua panitia berusaha keras bekerja agar acara ini dapat terwujud dan dapat dinikmati oleh seluruh mahasiswa Ekonomi Syariah. “Serasa seperti kerja rodi kita, belum lagi tugas mata kuliah, tugas ujian tapi kami tetap sering rapat untuk kesuksesan acara ini,” tutur mahasiswa semester 5 tersebut. (jal/han)

UMM Gazebo Forum Refleksikan Wajah Lingkungan Hidup Tahun 2016

WAJAH lingkungan hidup Indonesia di tahun 2016 yang dinilai kian bopeng menjadi perhatian khusus bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Karena itulah, sebagai refleksi akhir tahun, Humas UMM bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan(PSLK) UMMmenggelar UMM Gazebo Forum mengangkat tema “Wajah Bopeng Lingkungan Hidup Indonesia 2016 dan Mimpi 2017”, Sabtu (24/12) di gazebo taman Perpustakaan UMM. Tiga narasumberdihadirkan pada kegiatan ini yaitu pakar lingkungan Dr Abdulkadir Rahardjanto MSi, Redaktur Opini Koran Sindo Pangeran Ahmad Nurdindan Kepala PSLK UMM Husamah MPd.Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya berharap, UMM Gazebo Forum bisa menjadi ruang publik yang bermanfaat bagi civitas akademika dalam merespon isu-isu kekinian. Pada sesi diskusi, Abdulkadir menyoroti lingkungan hidup sebagai satu kesatuan ruang dengan manusia dan perilakunya. Menurutnya, manusia kerap lupa bahwa mereka hidup di tempat dimana jika ia merusak lingkungan, sama halnya merusak diri sendiri. “Lingkungan yang rusak secara otomatis akan merugikan kita juga. Oleh karena itu, penting untuk kita membangun pemahaman pada masyarakat bagaimana menyayangi lingkungan, karena itu sama halnya dengan menyayangi diri sendiri,” simpuldosen Prodi Pendidikan Biologi UMM ini. Sementara itu, sebagai seorang yang bekerja di media, Pangeran menyatakan seringkali media hanya mengangkat isu lingkungan bila sudah timbul masalah. Padahal, tema lingkungan dapat diulas lebih luas tak sekedar ketika ada masalah terjadi, bencana misalnya. “Indonesia itu kaya. Hanya saja kita belum secara efektif memanfaatkan dan menyelematkan. Lingkungan belum dianggap poin yang memberikan dampak positif secara finansial. Padahal, lingkungan memiliki banyak potensi, contohnya sebagai sektor pariwisata. Baru-baru ini saja masyarakat mulai tersadar mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan,” uraiPangeran. Saat ini, lanjutnya, tantangan terberat ialah bagaimana menjadikan isu lingkungan menjadi sesuatu yang menarik. UMM Gazebo Forum dinilai Pangeran sebagai aktivitas yang dapat menyatukan beragam pemikiran untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan. “Para akademisi berkontibusi pada lahirnya inisiasi semangat memperbaiki lingkungan,” tambahnya. Melengkapi kedua narasumber, Husamah dalam paparannya menguraikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang dimiliki UMM sebagai bukti nyata partisipasi peduli lingkungan. PLTMH UMM menyumbang 15 sampai 20 persen energi alternatif untuk kepentingan operasional sehari-hari. Tanaman yang hidup di lingkungan kampus 3 UMM juga memberi sumbangsih untuk menyerap karbondioksida sebesar123 ton per tahun. Selain itu, terobosan QR code pada pohon UMM yang September lalu dikatakan Husamah akan segera diluncurkan, kini telah terealisasi. Pohon-pohon di UMM kini telah dilengkapi QR code yang bisa dengan mudah discan untuk mengetahui informasi lengkapnya. PSLK secara kontinyu akan menggalakkan pernyataan “kumpulkan sampah pada tempatnya” dan bukan lagi “buang sampah pada tempatnya”. “Kalau dibuang saja, nilai manfaat sampah bisa hilang. Sedang, dengan dikumpulkan sebenarnya sampah masih punya nilai manfaat. Ini adalah aplikasi dari slogan 3R, reduce, reuse, recycle,” imbuhnya. Menanggapi hal tersebut, Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan pada 2017 mendatang, UMM akan gelar festival produk riset unggulan berbasis riset dosen dan mahasiswa. UMM Gazebo Forum akan melahirkan pemikiran kreatif dari mahasiswa. Karena, tradisi untuk mengembangkan kreativitas tak melulu pada bidang akademik, namun juga seni dan budaya yang salah satunya ditampilkan pada forum diskusi ini. (ich/han)

Melalui Kolokium, FAI UMM Ingin Lebih Banyak Lahirkan Manusia Otentik

FAKULTAS Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kolokium Doktor menghadirkan 4 narasumber dari kalangan internal untuk mempresentasikan disertasi doktoralnya. Seminar sehari ini diadakan di Theater UMM Dome, Kamis (22/12). Sesi pertama kolokium diisi Dr Khozin MSi mengangkat tema “Paradigma Baru Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi” yang dipanel dengan Dr Abdul Haris MA yang membahas tentang “Paradigma Baru Pembelajaran Kitab Gundul”. Di sesi kedua,  Dr Moh Nurhakim MAg mengangkat bahasan “Orientasi Baru Gerakan Islam Revivalis Pasca Euforia Reformasi di Indonesia”  disandingkan dengan Dr Pradana Boy ZTF MA dengan tema “Fatwa dan Ideologi di Indonesia: Studi Tentang Tiga Lembaga Fatwa dan Pengaruhnya di Era Paca Orde Baru”. Kepala Subdit Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama Dr Muhammad Zain MAg saat didaulat sebagai keynote speaker berkomentar, selain kampusnya yang asri, UMM juga telah banyak menggodok dan melahirkan manusia otentik. “Saya percaya UMM ini mampu melahirkan kader-kader bangsa, kader-kader muslim, yang sarjananya merupakan sarjana otentik,” kata Zain. Selain itu, lanjut Zain, universitas ini telah melahirkan tokoh-tokoh besar dan tokoh-tokoh pendidik yang luar biasa. Seperti Malik Fadjar, sebut Zain, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, dan menteri agama yang memberikan pembaharuan di Kementrian Agama serta melahirkan sekolah tinggi di berbagai provinsi di Indonesia. “Kedua, lahir pula Imam Suprayogo yang selama 20 tahun menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik di UMM dan melahirkan perguruan tinggi baru yang changeable, Universitas Islam Negeri Malang yang sangat luar biasa perkembangannya. Dan baru-baru ini, mantan rektor UMM sebelumnya, Muhadjir Effendymenjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,” papar Zain. Sementara, Prof Dr Syamsul Arifin MSi dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Kolokium ini, baginya,merupakan salah satu tradisi yang coba dikembangkan oleh UMM untuk memberikan apresiasi terhadap raihan-raihan ilmuan intelektual yang didapatkan oleh dosen UMM. UMM memiliki 56 program studi dengan jumlah 31.871 mahasiswa, 611 dosen serta 116 doktor. FAI, kata Arifin, merupakan salah satu fakultas dengan penyumbang keberhadiran doktor di UMM. “Dari perspektif sejarah, FAI, terutama Pendidikan Agama Islam (PAI) bersama dua fakultas lainnya merupakan cikal bakal pendirian UMM pada tahun 1964. Jadi usia FAI serta prodi PAI ini sama perjalannya dengan UMM,” kata Syamsul. Oleh karenanya, dilanjutkan Syamsul, adalah hal yang wajar jika masyarakat mempertanyakan kontribusi FAI UMM terhadap perkembangan inteletualitas, terutama di bidang keislaman dan keilmuan. “Kata pak Rektor, pada suatu saat yang akan di-display bukan sesuatu yang artefak, yang tangible, tapi intangible (berwujud, red). Yakni pemikiran-pemikiran yang pada akhirnya lahir dalam bentuk buku, jurnal maupun karya-karya berwujud lainnya. Saat ini, UMM tengah melalukan upaya-upaya strategis untuk mendapatkan pengakuan, tidak hanya level nasional, tapi juga pada level internasional,” ungkap Syamsul. Dekan FAI UMM Drs Faridi MSi menjelaskan,diadakannya kolokium ini yang pertama sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas karunia yang melimpah kepada FAI. Karena, selama 2 tahun ini FAI panen doctor, yaitusebanyak 4 orang. Kedua, kolokium ini juga sebagai wujud respon FAI UMM terhadap sebagian Indonesianese atas kondisi Indonesia pasca wafatnya tokoh pembaharu Islam Indonesia, Nurcholish Madjid dan Abdurahman Wahid. “Karena sebagian Indonesianese, sudah memalingkan pandangan, tidak lagi menjadikan Indonesia sebagai rujukan intelektual terutama setelah terjadinya sejumlah tragedi prahara kemanusiaan yang mengatasnamakan agama. Mudah-mudahan usaha ini sekaligus sebagai respon, meskipun skalanya masih kecil, karena sejumlah tenaga yang ada di FAI UMM sudah menunjukan kepada dunia tentang kapasitasnya bahwasanya dengan ditinggalkannya Indonesia oleh begawan ilmuan Indonesia dan Abdurahman Wahid dan Nurcholish Madjid, insya Allah Indonesia tidak akan kekurangan SDM,” tandas Faridi. (can/han)

UMM Juara Umum Olimpiade Psikologi PTM se-Indonesia

FAKULTAS Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meraih predikat juara umum pada gelaran Olimpiade Mahasiswa Psikologi se-Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Indonesia di Universitas Muhammadiyah Gresik yang digelar pekan lalu (16/12). Ada empat jenis lomba yang dipertandikan pada kompetisi yang mengambil tema “Spirit Enterpreneurship Kekuatan Persaudaraan Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah dalam Menghadapi MEA” ini. Keempat jenis lomba itu ialah psychopaper yakni membuat artikel ilmiah terkait tema-tema aktual psikologi, psychostory yakni membuat sebuah photo story yang berkaitan dengan tema tertentu lalu dianalisis sesuai teori psikologi, psychoposter yakni membuat desain poster, dan psychodebate yaitu lomba debat psikologi yang berisikan dua orang dalam satu tim. Pada lomba paper, dari dua perwakilan yang dikirimkan, UMM menyabet juara pertama yang diraih oleh Novi Anisa. Di lomba psychostory¸ Nidia Karunia Aisyah meraih juara pertama sekaligus juara favorit. Pada lomba poster, dua orang delegasi masing-masing meraih juara pertama dan kedua. Juara pertama poster direbut oleh M. Fahmi Arifudin dan Lalu Reza Gunawan mengantongi juara kedua sekaligus juara favorit. Sementara itu pada lomba debat, dari dua tim UMM, masing-masing pun meraih juara pertama dan kedua. Juara pertama diraih oleh Emha Nelwan-Rezka Mardiana dan juara kedua disabet Alfin Rhomansyah-Hana Humaira. Raihan juara pada masing-masing jenis lomba ini mengantarkan UMM menjadi juara umum dari 14 PTM yang hadir. Ada yang tak biasa dari lomba debat kali ini. Lumrahnya, setelah pembagian motion, maka dimulailah debat antartim. Tapi, pada sistem debat kali itu, kadiah tersebut tak berlaku. Setelah pembagian motion, ke-14 tim diberi waktu untuk memberikan argumennya, namun dalam bentuk tertulis. “Ini yang lumayan mengejutkan dan membuat kami dag-dig-dug. Karena nanti yang ‘benar-benar’ ikut debat bukan 14 tim, tapi hanya 8 tim yang terjaring dari argumentasi tertulis,” ujar Alfin, salah satu anggota tim debat yang juga mahasiswa semester 5 ini. Aturan tak umum lainnya juga diterapkan pada lomba poster. Umumnya, desain poster dikumpulkan dan seketika dinilai. Namun, kali ini, bentuk cetak poster yang sudah dibuat oleh peserta mesti ditempelkan pada sebuah damar kurung bersisi empat. Damar berbentuk 4 sisi, sehingga tiap peserta berada pada tiap sisinya untuk membuat kreasi dari tertempel poster poster yang telah dibuatnya. Untuk ini, peserta menyediakan alat dan bahan sendiri. Poster dan photostory juga dinilai berdasarkan jumlah voting yang diberikan pada tiap karya. Bagi Alfin, pengalaman praktikum turun lapang pada beberapa matakuliah membantunya dalam lomba ini karena dapat dihubungkan dengan materi yang dilombakan. Sehingga, baginya terbukti bahwa apa yang diajarkan di bangku kuliah walaupun dengan beban tugas yang menumpuk tak menghalangi mahasiswa untuk berprestasi. “Sempat merasa ragu juga karena sistemnya. Tapi Alhamdulillah kita bisa memenangkan di semua cabang lomba. Meskipun materi lomba tidak sempat kami kuasai sepenuhnya, tapi itu bukan halangan karena selama ini cukup banyak wawasan yang kami peroleh di perkuliahan,” pungkas Alfin. (ich/han)

Akhir Tahun, LK UMM Evaluasi Pelayanan Publik di Bidang Kesehatan

SEBAGAI refleksi terhadap pelayanan publik di bidang kesehatan selama setahun terakhir, Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)mengadakan kajian multidisipliner, Rabu (21/12). Tema yang diangkat pada kajian ini yaitu “Budaya Pelayanan Publik di Bidang Kesehatan”. Dua profesional dihadirkan pada kegiatan ini, yakni Kepala Unit Manajemen Pelayanan Kesehatan BPJS Malang dr H Munaqib MM AAAK dan dosen Fakultas Kedokteran UMM dr Gita Sekar Prihanti MPd Ked. Ini bukan kali pertama UMM menghadirkan BPJS sebagai narasumber. Pasalnya, dinamika pelayanan kesehatan terus bergerak maju dari tahun ke tahun. Beberapa tahun lalu, Indonesia masih kerap menggunakan cara pembayaran tradisional untuk pembiayaan pemeriksaan kesehatan, baik untuk bea dokter, obat, atau fasilitas kesehatan. Kini, sistem telah berubah menjadi model penjaminan. Sehingga, meski telah berlangsung selama 2 tahun sejak 2014 lalu, tapi sosialisasi pelayanan kesehatan oleh BPJS masih giat dilakukan oleh UMM. Dalam pemaparannya, Munaqib mengulas bahwa BPJS memiliki 3 azas, 5 tujuan dan 9 prinsip. Berbagai perbincangan yang kerap disinggung masyarakat terkait proses pelayanan BPJS pun dibahas tuntas olehnya. Penting diperhatikan, bahwa ternyata tidak semua jenis masalah kesehatan menjadi tanggungan BPJS. “Ada beberapa hal yang tidak menjadi jaminan BPJS, misalnya pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur, pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS, atau pelayanan kesehatan yang telah dijamin program jaminan kecelakaan. Yang terakhir ini yang paling sering terjadi miss,” terang Munaqib. Kepala LK UMM, Dr Daroe Iswatiningsih MSi menyatakan tema pelayanan publik yang dipilih terkait kesehatan bukan kebetulan. Agenda bulanan ini sudah terjadwal setahun sebelumnya, sehingga tema yang dibahas pun sudah tersusun jauh-jauh hari. “Ini diskusi multidisipliner ke-dua belas di tahun ini, karena memang menjadi agenda bulanan. Tujuannya adalah untuk penambahan wawasan di berbagai bidang ilmu, dan untuk semua elemen di UMM. Sedangkan tema pelayana kesehatan dipandang menarik untuk dikaji sebagai ilmu dan wawasan selain fungsinya sebagai bagian dari aspek budaya,” terang Daroe. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pejabat struktural di lingkungan UMM, karyawan, perwakilan Aisyiyah, serta mahasiswa UMM. (ich/han)