Pro Kontra Efisiensi Anggaran Pemerintah, Begini Kata Dosen UMM

Pemerintah Prabowo Gibran tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran sebagai upaya meningkatkan efektivitas penggunaan dana negara. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak langsung mendukung pembangunan, seperti operasional kantor, perjalanan dinas, serta kegiatan seremonial. Namun, kebijakan ini juga menimbulkan diskusi di kalangan akademisi dan pakar kebijakan publik mengenai dampaknya terhadap sektor-sektor strategis. Salah satu akademisi yang menyoroti kebijakan ini adalah Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A. selaku dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, efisiensi anggaran memang diperlukan, tetapi perlu dilakukan secara selektif agar tidak menghambat pembangunan nasional. Kebijakan efisiensi anggaran memang bertujuan baik untuk menghindari pemborosan. Namun, ia menilai bahwa pemerintah seharusnya tidak memangkas anggaran di sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, penelitian, serta kajian strategis untuk pembangunan berkelanjutan. “Efisiensi yang dilakukan seharusnya hanya menyasar pengeluaran administratif yang tidak berdampak langsung pada pembangunan. Sementara itu, program strategis seperti pendidikan dan kesehatan justru harus mendapat dukungan penuh,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa kebijakan efisiensi ini kemungkinan besar bertujuan untuk mendukung program makan siang bergizi gratis yang menjadi salah satu janji kampanye Prabowo Gibran. Melihat bahwa anggaran negara lebih diprioritaskan untuk program ini, sehingga sektor lain yang tak kalah penting justru terkena dampak efisiensi anggaran. “Saya menilai bahwa kebijakan ini berisiko menghambat percepatan pembangunan. Jika kementerian dan lembaga negara mengalami pemangkasan anggaran berlebihan, mereka tidak akan memiliki sumber daya yang cukup untuk menjalankan program-program prioritas. Dampaknya pasti sangat buruk. Kementerian akan kesulitan dalam menjalankan percepatan pembangunan karena keterbatasan sumber daya yang tersedia,” katanya. Lebih lanjut, ia melihat bahwa efisiensi anggaran ini juga berkaitan dengan rencana pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pembayaran utang negara yang semakin besar. Sebagai solusi, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A menyarankan agar pemerintah melakukan pemetaan ulang terhadap program-program yang benar-benar membutuhkan efisiensi anggaran dan yang tidak. Prabowo-Gibran perlu segera memastikan semua pejabat negara bekerja dengan baik dan menghindari keputusan yang tidak produktif seperti efisiensi anggaran yang berlebihan. “Pemerintah sebaiknya segera meninjau kembali kebijakan ini agar tidak merugikan pembangunan nasional. Mestinya pemerintah meninjau ulang efisiensi anggaran yang diterapkan. Jangan sampai semua program terkena pemangkasan, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan jangka panjang,” pungkasnya. (*vin/wil)

Gaet Curtin University, FEB UMM Segera Tambah Akreditasi Interansional

Menyongsong internasionalisasi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) terus meningkatkan kualitas dan rekognisi. Meski sudah mengantongi akreditasi Unggul dan sederet prodi telah mendapat akreditasi intenasional FIBAA, namun FEB terus mengembangkan rekognisi. Hal itu mendorong FEB UMM menggelar Forum Ilmiah International Benchmarking bersama Curtin University, Australia. Mengusung tema ‘International Enhancing Program: Fostering FEB to Become a Global Standard Faculty’, kegiatan ini berlangsung pada awal Februari ini. Hadir sebagai narasumber utama dari Curtin University, Yuningsih, Ph.D, CPA. Yang membagikan wawasan dan strategi untuk mendorong FEB UMM mencapai standar internasional. Acara ini dihadiri oleh seluruh dosen FEB UMM yang memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian tujuan besar fakultas, yaitu memperoleh akreditasi Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB). Dalam materi, disebutkan ada sederet hal yang harus disiapkan untuk bis amencapai AACSB. Mulai dari melakukan proses evaluasi diri, menunjukkan komitmen terhadap manajemen strategis, keberhasilan pelajar, dan dampak sosial. Selain itu juga harus mendorong perilaku etis serta menciptakan lingkungan kolegiat dan menangani isu-isu tanggung jawab sosial perusahaan. Sederet hal lain yang harus dijalani yakni memenuhi standar terkait perencanaan strategis, sumber daya fisik, virtual, dan keuangan, serta sumber daya pengajar dan staf profesional Sementara itu, Dekan FEB UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, M.M. menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan standar pendidikan internasional. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat memperkuat langkah-langkah strategis menuju akreditasi AACSB, yang merupakan salah satu pengakuan tertinggi bagi institusi pendidikan bisnis di dunia,” ujarnya. Adapun kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memperluas wawasan akademik, tetapi juga untuk menciptakan jejaring kolaborasi internasional. Curtin University, sebagai mitra benchmarking, berbagi pengalaman dan praktik terbaik yang telah mereka terapkan dalam meraih akreditasi internasional. Termasuk dalam pengelolaan sumber daya manusia, peningkatan mutu pengajaran, dan penguatan penelitian yang relevan secara global. Melalui Forum Ilmiah ini, FEB UMM semakin memantapkan posisinya sebagai fakultas yang siap bersaing di tingkat global. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi langkah awal yang solid untuk mencapai akreditasi AACSB, sekaligus meningkatkan daya saing lulusan FEB UMM di pasar kerja internasional. Adapun FEB UMM merupakan salah satu fakultas unggulan yang terus berkomitmen dalam memberikan pendidikan berkualitas. Dengan visi menjadi fakultas bertaraf internasional, FEB UMM terus melakukan berbagai inovasi, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. (*/wil)

Festival Bahasa Arab UMM Gandeng Ratusan Pelajar untuk Bersaing

Pendidikan Bahasa Arab UMM gelar ajang tahunan Al Arabiya Festival Expo (ALEPO) yang dilaksanakn 19 Februari lalu. Ada sederet kegiatan yang dilangsungkan, mulai dari debat bahasa arab, pidato, puisi, dan lainnya. Ada ratusan siswa dari berbagai daerah yang bersaing dan berlomba untuk mendapatkan juara. Nabilatin Nadif selaku ketua pelaksana mengatakan, event ALEPO ini diadakan dengan harapan dapat menarik minat para siswa-siswi dari sekolah lain untuk mengetahui potensi yang bisa diraih ketika berkuliah di PBA. Ia berharap ALEPO dapat berkembang dan semakin meningkatkan minta siswa untuk belajar bahasa Arab. Apalagi mengingat bahwa Indoensia juga menjadi salah satu negara dengan penganut muslim terbesar di dunia. Sehingga Bahasa Arab akan selalu dibutuhkan. “Ada berbagai lomba yang bisa diikuti. Ini menjadi cara kami untuk mendorong siswa untuk mendalami bahasa Arab,” katanya menambahkan. Adapun, salah satu aktivitas yang menarik adalah seminar yang dilaksanakan pada pembukaan ALEPO 2025 ini. Turut hadir Dewantoro Ratri, Founder Mainkata Translation Production dan aktor voice over profesional yang memberikan motivasi. Ia mendorong para mahasiswa untuk menggali berbagai potensi pekerjaan yang nantinya dapat dilakukan oleh para lulusan dari jurusan PBA. “80% lulusan mahasiswa di Indonesia memilih pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusannya. Namun, apabila kalian mengambil jurusan pendidikan bahasa arab (PBA), dijamin kalian tidak akan tersesat saat mencari pekerjaan. Karena, bahasa arab akan tetap selalu dibutuhkan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, utamanya di Indonesia,” katanya menambahkan. Ia juga menjelaskan terkait dunia voice over. Dewo sapaan akrabnya mengatakan, terdapat tiga elemen komunikasi yang harus diperhatikan yakni kata-kata, intonasi, dan artikulasi suara. Sementara itu alat penunjang seperti microphone dan sound card juga sangat dibutuhkan oleh seorang voice over. Sehingga dalam kegiatan ini, Dewo juga mengenalkan dan mengajarkan banyak hal baru mengenai dunia voice over, seperti halnya tes vokal. “Mempunyai keterampilan mengisi suara (voice over) merupakan keterampilan yang luar biasa. Maka dari itu kita harus sering melakukan latihan vokal, agar dapat menggali kemampuan vokal yang telah dimiliki. Segmen suara tertentu dapat mewakili emosi tertentu dan emosi tertentu. Ini akan berpengaruh pada produk iklan tertentu,” Ujarnya. Ia mengatakan, menjadi seorang voice over tentu bukan hal yang mudah. Mendapatkan voice over yang luar biasa dengan durasi 2 menit membutuhkan usaha yang keras. Bahkan memerlukan waktu perekaman hingga satu jam. Maka dari itu ia menyampaikan  bahwa ke depannya industri ini akan tetap selalu dibutuhkan. “Apakah ada kemungkinan untuk digantikan dengan AI? Tergantung, tapi saya meragukannya karena kualitas suara seorang manusia lebih keren,” tambahnya. (zaf/wil)

Tim Mahasiswa UMM Latih Siswa SMA Cara Menanggulangi Bencana Alam

Menebar manfaat untuk masyarakat menjadi motto mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya dilakukan Fathur Reyhan Rahayanto dan tim yang ajari anak-anak SMA tentang cara menanggulangi bencana alam, pada 18 Februari lalu. Menariknya, mereka bekerjasama dengan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM dalam memberikan materinya. Fathur menjelaskan bahwa seminar hadir untuk meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat, khususnya para siswa dan pemuda, tentang cara menghadapi dan mengelola bencana alam dengan lebih baik. Sehingga nanti para siswa dapat memahami apa yang harus dilakukan ketika berada di situasi bencana. “Ada beberapa materi yang diberikan seperti macam-macam strategi mitigasi bencana, teknik evakuasi, serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat,” katanya menambahkan. Beberapa tips yang diberikan oleh Maharesigana terkait strategi evakuasi di antaranya menghindari panik dan selalui mengikuti instruksi serta bekerja sama dengan petugas. Selain itu, kalau bisa, alat-alat kerja yang ebrhubungan dengan listrik dimatikan dan tidak menunda untuk meninggalkan gedung jika berada di dalam. Menyimpan nomor telepon penting seperti polisi, BPBD, pemadam kebakaran, dan rumah sakit juga menjadi hal yang penting. Ke depannya, Fathuer berharap program ini  bisa terus berlanjut ke berbagai sekolah. Paling tidak para generasi muda bisa tahu cara yang benar dalam menghadapi bencana. Kehadiran Maharesigana UMM juga menjadi bukti berkomitmen UMM untuk terus mengedukasi masyarakat melalui berbagai program pelatihan dan seminar lainnya. Pelatihan ini juga jadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya berperan dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki peran aktif dalam membantu masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana. Di sisi lain, kolaborasi untuk keselamatan bersama kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta, termasuk para siswa SMK Muhammadiyah Pagak. Mereka sangat antusias dalam mengikuti diskusi dan simulasi yang diberikan. Mereka diberikan pelatihan dasar dalam menghadapi berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, banjir, dan kebakaran. “Seminar ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai generasi muda untuk lebih memahami langkah-langkah yang harus diambil saat terjadi bencana. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan di masa mendatang,” ujar Ketua IPM SMK Muhammadiyah Pagak. Adapun Fathur tidak sendiri, ia ditemani teman-teman lain di tim tersebut. Di antaranya Devi Anggraini, Stella Nuri Putri Sinaga, Ditya Achmarian Sagriya Bangga, dan Mohamad Fakhri. Mereka saling bahu membahu untuk menjalankan program ini dengan bimbingan dari dosen Havidz Ageng Prakoso, S.IP, M.A. (*/wil)

Kesos UMM Gandeng FILANTRA, Latih Perusahaan Metode SROI untuk CSR

FILANTRA bersama Program Studi Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sukses menyelenggarakan Training Social Return on Investment (SROI) di Rayz Hotel UMM. Kegiatan yang dilaksanakan pada 19 Februari ini diikuti oleh 15 perusahaan BUMN dan swasta yang berkomitmen memperkuat strategi implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkelanjutan. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, S.E., M.Si., secara resmi membuka pelatihan ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya investasi sosial sebagai upaya strategis perusahaan dalam menjaga kesinambungan bisnis. Selain itu juga menciptakan dampak positif bagi masyarakat. “Investasi sosial yang dikelola dengan baik tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi juga aset jangka panjang yang memperkuat daya saing dan reputasi perusahaan di tengah dinamika global saat ini,” tegas Nazar. Adapun Pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai SROI, tetapi juga memberikan ruang diskusi intensif dalam menyusun strategi CSR yang terukur dan berdampak luas. Melalui studi kasus dan praktik langsung, diharapkan para peserta mampu mengimplementasikan SROI secara optimal di perusahaan masing-masing. SROI merupakan metode untuk mengukur dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi dari suatu program dan dapat digunakan untuk menilai keberhasilan program CSR. Adapun SROI dapat membantu di sederet aspek. Misalnya mampu membantu memahami nilai sosial dari program, membantu investor membuat keputusan investasi yang tepat, hingga mendorong perubahan positif terhadap masyarakat dan lingkungan. Metode ini juga diharapkan bisa memberikan pemahaman akan pengetahuan tentang dampak sosial apa yang akan terjadi serta strategi apa yang harus digunakan. SROI juga memiliki prinsip-prinsip utama, yakni turut melibatkan pemangku kepentingan, memahami perubahan yang terjadi dan menghargai hal-hal penting. SROI juga harus transparan dan selalu melakukan verifikasi lingkungan terhadap hasilnya. Di sisi lain, Manager FILANTRA Azlia menyampaikan bahwa kepercayaan dari 133 mitra FILANTRA selama ini menjadi dorongan utama untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan. “Kami bangga bisa bermitra dengan universitas-universitas ternama, termasuk Universitas Muhammadiyah Malang. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara dunia usaha dan dunia akademik mampu menghasilkan solusi sosial yang efektif dan berkelanjutan,” tutur Azlia. Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. yang menyatakan bahwa kerja sama dengan FILANTRA adalah salah satu kemitraan nasional produktif yang selama ini mendukung program studi dalam pelaksanaan praktikum, magang, dan kuliah profesi. Ke depan, kerja sama ini akan dikembangkan dalam bentuk riset kolaboratif, penyelenggaraan lembaga sertifikasi, dan proyek-proyek inovatif untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi mahasiswa dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi ini, FILANTRA dan Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inovatif yang mendukung pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan. (*/wil)

Dua Mahasiswa HI UMM Jadi Delegasi dalam Youth Diplomacy Forum

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Romil Sahab Putra dan Infitahul Khoir terpilih sebagai delegasi dalam Youth Diplomacy Forum. Agenda yang dilaksanakan pada Januari 2025 itu diselenggarakan oleh Organisation of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia bekerja sama dengan Islamic Cooperation Youth Forum (ICYF) di Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Masjid Istiqlal, Jakarta. Sederet tokoh penting hadir dalam forum tersebut. Di antaranya Presiden Islamic Youth Forum dan Dewan Pembina OIC Ahmad Fauzan. Turut hadir duta besar dari sederet negara-negara seperti H.E. Talip Küçükcan dari Republik Turki, H.E. Zuhair Al-Shun dari Palestina, H.E. Abdelouahab Osane dari Aljazair, dan H.E. Yassir Mohamed Ali Mohamed dari Sudan. Adapun Romil menjelaskan bahwa forum ini diikuti oleh 67 mahasiswa dari berbagai universitas serta dihadiri oleh delegasi dari negara-negara anggota OKI. Dengan tema ‘The OIC’s Responsibility Through Youth Role in Promoting Interfaith Dialogue’, forum ini membahas pentingnya dialog lintas agama dalam menciptakan perdamaian dan pemahaman global. Para peserta terlibat dalam diskusi dan debat yang membangun, memperdalam wawasan mereka tentang misi diplomatik OIC. Ia melanjutkan, MOIC merupakan simulasi diplomasi yang meniru dinamika pertemuan resmi OIC, di mana peserta berperan sebagai delegasi negara-negara anggota OIC. Mereka mendiskusikan isu-isu global seperti perdamaian, dialog lintas agama, pendidikan, dan pembangunan ekonomi. Forum ini bertujuan memperkenalkan generasi muda pada mekanisme kerja Organisasi Kerjasama Islam (OKI/OIC) sekaligus membangun pemahaman mereka mengenai tantangan global di dunia Islam. Dalam forum ini, ditekankan peran strategis pemuda dalam mendorong dialog lintas agama sebagai salah satu jalan menciptakan harmoni global. Peserta juga mendapatkan pelatihan untuk mengasah keterampilan diplomasi mereka, yang diharapkan dapat diterapkan dalam menyelesaikan berbagai tantangan dunia di masa depan. Lebih lanjut, Romil menilai bahwa anak muda harus berperan dalam diplomasi internasional, termasuk di ruang organisasi Islam dunia. Forum ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan negara-negara anggota OIC serta memberikan dampak positif bagi perdamaian dan kesejahteraan umat Islam secara global. Menurutnya, agenda ini merupakan komitmen anak muda untuk memperkuat hubungan diplomatik serta membangun jaringan pemuda dunia Islam. “Semoga keikutsertaan kami bisa memberikan dampak dan mengajak anak-anak muda untuk berperan. Tidak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. Ini juga menjadi wadah kami untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat dari UMM, “ tegasnya mengakhiri. (*/wil)

Mahasiswa Informatika UMM Ini Juarai Ajang Motocross Bergengsi

Tidak jarang, hobi pada akhirnya membawa pada rentetan prestasi. Hal itu pula yang dirasakan mahasiswa prodi Tenik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Javier Bhagawanta. Berkat hobinya, ia sukses memenangkan banyak kejuaraan motocross. Terbaru, Javier berhasil meraih juara 2 dalam ajang Dewo Mx Iwak Grasstrack and Motocross Open Campionship Nassi Series 2025, 1-2 Februari lalu di Kediri. Uniknya, dalam perlombaannya kali ini, Javier tidak menyangka apabila lawan mainnya banyak yang memiliki jam terbang lebih tinggi dibanding dirinya. Namun hal itu tidak membuatnya ragu ataupun menyerah sedikitpun dalam ajang ini, karena menurutnya hal tersebut semakin memotivasinya untuk dapat menjuarai ajang ini. Javier mengungkap, pengalaman unik ini menjadi hal berkesan selama mengikuti ajang motocross, mengingat selama ini ia hanya dapat melihat lawan mainnya tersebut melalui berita ataupun media sosial saja. Javier mengatakan, ia memang menyukai dunia motocross sejak belia. Ia selalu bersemangat menonton pertandingan motocross melalui televisi. Namun ia belum memiliki keberanian untuk terjun menjadi pembalap. Hingga akhirnya saat menginjak usia SMP, ia mulai mencoba berlatih motocross dan mendapat dukungan dari orang tuanya. Menurutnya, dukungan orangtua merupakan hal penting dalam setiap kegiatan dan mimpi anak-anak. “Perbanyak latihan, olahraga fisik, tidur teratur, dan menjaga pola makan yang teratur agar mendapat kondisi tubuh yang fit saat mengikuti perlombaan. Meski harus menjalani kuliah dan banyak tugas, saya menyempatkan diri untuk berlatih. Kegiatan ini membuat saya jadi lebih bersemangat dan proses refreshing,” katanya. Javier mengakui, menjalankan hobi sembari menjadi mahasiswa Teknik Informatika memberinya sebuah tantangan tersendiri. Ketika sedang memiliki banyak tugas, ia harus memanajamen waktu agar bisa berlatih dan memenangkan kompetisi. Ia sering menghabiskan malam hari untuk mengerjakan tugas danberaltih setelahnya. Menurutnya, potensi dan studinya harus sama-sama berjalan beriringan. Terakhir, Javier berpesan pada generasi muda untuk selalu mengusahakan apa saja yang diimpikannya. Tidak hanya diam menunggu waktu habis berlalu, tapi benar-benar mencoba. Lebih baik sedikit bergerak daripada tidak sama sekali. “Ke depan, saya berharap bisa banyak memenangkan kejuaraan. Terutama di tingkat provinsi dan nasional seperti PON. Saya yakin dengan dukungan penuh UMM dan orangtua, mimpi ini bisa terwujud,” pungkasnya. (zaf/wil)

Empat Mahasiswa Teknik Mesin UMM Lolos Program Fast-Track Bergengsi di Taiwan

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Empat mahasiswa terbaik dari Program Studi Teknik Mesin UMM berhasil lolos seleksi ketat Program Fast-Track Beasiswa Formosa TIP (Talent Internship Program) di National Formosa University (NFU), Taiwan. Program ini hanya menyediakan 15 kuota beasiswa untuk mahasiswa dari 18 universitas mitra NFU di Asia, dan mahasiswa Teknik Mesin UMM sukses menembus persaingan tersebut. Ketua Program Studi Teknik Mesin, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., Ph.D. menjelaskan, program Fast-Track ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa tingkat akhir Teknik Mesin untuk menjalani perkuliahan satu semester di Taiwan. Kemudian juga mengambil tiga mata kuliah serta mengerjakan proyek penelitian di bawah bimbingan profesor NFU. Hasil dari proyek ini nantinya akan dikonversi sebagai skripsi di UMM, sehingga setelah menyelesaikan program, mahasiswa akan mendapatkan ijazah S1 dari UMM dan dapat langsung melanjutkan studi S2 di NFU dengan beasiswa penuh. Lebih lanjut, Iis menegaskan bahwa keberhasilan ini membuktikan kualitas dari mahasiswa Teknik Mesin UMM di tingkat global. Program Fast-Track ini adalah jalur percepatan bagi mahasiswa yang tidak hanya untuk menyelesaikan studi S1, tetapi juga langsung meraih beasiswa S2 di salah satu universitas terbaik di Taiwan. Ini adalah bukti bahwa Teknik Mesin UMM mampu bersaing dan menjadi yang terbaik. “Manfaatkan kesempatan ini untuk menggali ilmu, memperluas jejaring, dan membawa pulang pengalaman yang bisa menginspirasi mahasiswa lainnya,” pesannya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, Ph.D., memberikan motivasi dan arahan kepada mahasiswa sebelum keberangkatan. Menurutnya, kesempatan ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga soal bagaimana para mahssiwa membangun jaringan yang luas. Sehingga ke depan, akan uncul berbagai kesempatan lain. “Perluas pergaulan, tetapi tetap jaga batasannya. Jangan lupa untuk menjaga disiplin, integritas, dan yang terpenting, tetap menjalankan ibadah, termasuk sholat. Tunjukkan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak baik,” pesannya. Acara pelepasan ini menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Bukan sekadar seremoni, tetapi juga wujud apresiasi atas usaha, kerja keras, dan semangat para mahasiswa yang telah berjuang hingga mendapatkan kesempatan luar biasa ini. Keberangkatan mereka ke Taiwan bukan hanya kebanggaan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi keluarga, universitas, dan bangsa. Adapun Keberhasilan mahasiswa Teknik Mesin UMM dalam Program Fast-Track Formosa TIP ini semakin memperkuat reputasi UMM sebagai kampus yang mendukung pengembangan mahasiswanya di kancah internasional. Program ini juga sejalan dengan visi Internasionalisasi UMM 2030 yang menargetkan peningkatan mobilitas akademik, kolaborasi riset global, serta peningkatan jumlah mahasiswa dan dosen yang berpartisipasi dalam program akademik internasional. (*will)

Berbekal Ilmu dari IP UMM, Nada Sukses Jadi DPRD di Usia Muda

Usia tidak menentukan kapasitas dan kemampuan. Hal itu pula yang terlihat dari salah satu alumnus Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) Lutfitunnada Purwaningrum. Meski usianya masih muda, namun ia sukses berkarir di dunia politik. Bahkan berhasil meraih posisi sebagai anggota DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kepercayaan publik terhadapnya semakin kuat, terbukti dengan keberhasilannya mempertahankan kursi legislatif untuk periode kedua dalam Pemilu 2024. Sejak masa kuliah, Nada yang kini baru 29 tahun memang dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Minatnya terhadap pemerintahan dan politik mendorongnya untuk lebih banyak terlibat dalam aktivitas sosial serta kepemudaan. Bekal pengalaman ini menjadi modal penting yang membantunya meniti karier politik hingga berhasil menjadi wakil rakyat di usia muda. Dalam wawancara, Nada mengungkapkan bahwa dunia politik merupakan arena penuh tantangan, terutama bagi perempuan muda. “Banyak yang meragukan kapasitas saya saat pertama kali mencalonkan diri. Namun, saya percaya bahwa kerja keras, komitmen, dan niat yang baik akan membawa hasil. Apalagi ada banyak pengalaman dan materi yang saya kuasai saat menjadi mahasswa di IP UMM,” ujarnya. Selain berkarier di dunia politik, Nada juga menjalankan peran sebagai ibu satu anak. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tanggung jawab sebagai anggota dewan. Menurutnya, menjadi wakil rakyat adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Meski begitu, ia juga tetap berkomitmen menjalankan peran sebagai ibu. Keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi. Keberhasilan Nada menjadi anggota DPRD di usia muda menjadi inspirasi bagi anak-anak muda dan alumni UMM. Khususnya bagi mereka yang bercita-cita berkarier di bidang pemerintahan dan politik. Ketua Program Studi IP UMM Muhammad Kamil, S.IP., M.A. turut mengapresiasi pencapaian Nada. Ia merasa sangat bangga melihat alumni IP UMM mampu bersaing di dunia politik dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Nada adalah bukti bahwa lulusan IP UMM memiliki kompetensi dan daya saing yang tinggi. “Harapannya, tentu kesuksesan RA Lutfitunnada Purwaningrum dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya, berkontribusi, dan berperan aktif dalam membangun daerah serta bangsa. Tidak hanya di bidang politik, tapi juga di berbagai bidang lainnya,” pungkasnya mengakhiri. (*/wil)

Ke Banyuwangi, Magister Sosiologi UMM Ajari Guru Pemberdayaan Sosial

Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ajak diskusi puluhan guru sosiologi Banyuwangi, 4 Februari lalu. Ini menjadi cara Sosiologi UMM untuk memperkuat pengajaran Sosiologi di sekolah menengah dan membangun sinergisitas materi pembelajaran dengan bangku universitas. Adapun agenda yang berkolaborasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Banyuwangi itu dilangsungkan di SMAN 1 Rogojampi, Banyuwangi. “Lebih dari 36 guru sosiologi hadir dan mengobrol bersama. Kita berdiskusi juga terkait aspek pemberdayaan, termasuk strategi agar pemberdayaan bisa diterapkan secara efektif di lapangan. Kita membahas bagaimana mencapai nilai dari pemberdayaan, isu-isu utama yang perlu diperhatikan, serta bagaimana mengajarkan konsep ini secara menarik kepada siswa,” jelas Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. selaku ketua prodi magister sosiologi UMM. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan perubahan sosial dan pembangunan. Oleh karena itu, siswa tidak hanya perlu memahami teori, tetapi juga harus mampu mengkritisi dan merancang strategi pemberdayaan sesuai kondisi sosial di lingkungan mereka. Adapun di Banyuwangi, pariwisata berbasis ekologi menjadi sektor penting. Guru dapat mengajarkan siswa bagaimana mengembangkan pariwisata tanpa merusak lingkungan, sehingga mereka memahami konsep sekaligus berpikir kritis. Rachmad juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas guru agar pembelajaran Sosiologi lebih menarik dan kontekstual. “Kita ingin memfasilitasi guru agar tidak hanya mengajarkan teori dari buku teks, tetapi juga membawa realitas sosial praktis dan praxis ke dalam kelas. Dengan begitu, siswa lebih kritis dalam melihat permasalahan sosial dan mencari solusinya,” katanya. Melihat antusiasme peserta, Rachmad menegaskan bahwa kegiatan ini akan terus berlanjut. Ia berencana menerapkan metode pembelajaran berbasis lapangan dan memperluas kerja sama dengan semua MGMP di berbagai kota di Jawa Timur. “Ini bukan awal dan bukan akhir. Kami akan terus berkomunikasi dengan MGMP untuk menghadirkan materi lain yang relevan. Dengan begitu, pembelajaran Sosiologi lebih kreatif, menarik, dan berorientasi pada pemecahan masalah,” pungkasnya. Menariknya, kegiatan ini mendapat respons positif dari pihak sekolah dan guru-guru. Sekretaris MGMP Mei Rita menilai pendekatan berbasis pengalaman lapangan lebih relevan dibanding sekadar teori dalam buku. Sehingga para siswa diharapkan tidak hanya menguasai ilmunya, tapi juga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (nam/wil)