Lulusan UMM Harus Mampu Membaca Tanda Zaman

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan, berpesan agar lulusan UMMmampumemainkan peran penting di tengah-tengah masyarakat lewat ilmu dan pengalaman yang didapat dari kampus ini.Hal tersebut disampaikan Fauzan pada prosesi Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-81yang berlangsung Sabtu (27/8) di hall UMM Dome. “Di samping itu, modal spritual dan juga kepercayaan masyarakat atas pendidikan yang diselenggarakan UMM turut ambil bagian dan sekaligus memberikan kontribusi yang sangat strategis kepada lulusan UMM dalam menjalankan kompetisi kualitatif di bidangnyamasing-masing,” ujar Rektor di hadapan 1,312 wisudawan beserta orang tua/wali yang hadir. Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Prof HA Malik Fadjar MSc, pada kesempatan ini turut mengajak kaum terdidik,khususnya seluruh para lulusan UMM untuk terus-menerus melakukan olah pikir, menatap, menganalisa, dan sekaligus melakukan gerak antisipasi sehingga mampu mewujudkan harapan-harapan setelah menuntaskan studinya di perguruan tinggi. Bagi Malik, setiap fase tantangannya berubah-ubah. Oleh karenanya, lanjutnya, perubahan di setiap fase tersebut diperlukan kemampuan membaca tanda-tanda zaman. “Lulusan UMM bukan sekedar lulusan yang telah diwisuda,membawa sebuah ijazah, tapi mampu membaca seluruh perkembangan dan mampu memainkan peranan ditengah-tengah perkembangan tersebut,” kataKetua Badan Pembina UMM ini. “Sebagai sarjana UMM, dalam konteks ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’, maka komitmen saudara pada pertumbuhandan perkembangan bangsa ini tidak bisa tidak, mesti kita tunjukkan. Tentang rezeki, tentang nasib, berada di tangan kekuasaan Tuhan, tugas kita cuma berikhtiar dan bekerja sebaik mungkin,” ujarnya. Malik berharap, di mana saja alumni UMM berada, diharapkan mampu menjalankan tugas-tugas amal bakti. “Saya titip sekali lagi kepada saudara, di mana saja Anda berada, disitu pasti ada Muhammadiyah. Jangan lupa  katakan saudara-saudara adalah alumni UMM, insya Allah berkahnya itu banyak.” Sedangkan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI Hamid Muhammad MSc PhD dalam orasi ilmiahnya mengharapkan lulusan UMM dapat mengabdikan diri pada pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. “Saya yakin, lulusan universitas dengan akreditasi sangat baik seperti UMM mampu mencetak sarjana unggul yang bermanfaat bagi masyarakat, apalagi dengan pengakuan internasional yang disandangnya,” paparnya.  (can/han)

UMM Perkuat Internasionaliasi dan Hilirisasi Hasil Riset

PROGRAM Pengembangan Karya Ilmiah Doktor (PPKID) yang digagas Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat kinerja penelitian kampus ini terus meningkat. Hal itu ditandai keberhasilan UMM yang kembali mempertahankan Klaster Penelitian Mandiri. Dalam standarisasi Dikti, menurut Direktur DPPM Prof Dr Sujono MKes, kampus-kampus di Indonesia dikategorikan ke dalam empat klaster, yakni Binaan, Madya, Utama dan yang tertinggi adalah Mandiri. Sujono menambahkan, secara kualitas dan kuantitas, penelitian di UMM meningkat, terutama lantaran semakin banyaknya publikasi ilmiah pada jurnal-jurnal internasional. Melalui skema PPKID, para doktor di UMM digelontorkan dana sebesar 25 juta untuk dapat melakukan publikasi internasional. “Program ini kita lakukan karena makin banyaknya pesaing, tidak hanya PTN (perguran tinggi negeri) tapi juga PTS (perguruan tinggi swasta),” paparnya. Tingginya persaingan dapat dilihat dari meningkatnya peraih klaster mandiri. Ketika mendapat klaster mandiri pada 2014, UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta dari total 14 peraih klaster mandiri. Namun, saat tahun ini UMM kembali mempertahankan klaster penelitian tertinggi tersebut, jumlah peraihnya kian bertambah yaitu 25 perguruan tinggi, dan UMM tidak lagi menjadi satu-satunya peraih dari kampus swasta. Untuk itu, kata Sujono, pengembangan penelitian UMM saat ini lebih terfokus pada publikasi internasional dan komersialisasi hasil riset. Publikasi dilakukan agar internasionalisasi karya ilmiah dosen kian menguat. “Salah satunya, melalui publikasi di jurnal internasional terindeks oleh lembaga terindeks terpercaya seperti Scopus.” Sementara itu komersialisasi hasil riset dilakukan dengan cara hilirisasi, yaitu dengan lebih banyak menggandeng kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) daripada menyasar industri besar. Hal itu dilakukan agar prinsip pengembangan akademik melalui riset dapat berjalan beriringan dengan pengabdian masyarakat. Dengan cara itu pula, kata Sujono, UMM juga akan mempunyai income yang diperoleh secara mandiri dari luaran penelitian yang dihasilkan dosen. Agar misi tersebut benar-benar terealisasi, UMM tengah gencar melakukan workshop dan pertemuan ilmiah yang mendukung hal tersebut, semisal sosialisasi e-journal, workshop penulisan jurnal terindeks Scopus, serta temu ilmiah menghadirkan peneliti internasional yang memiliki banyak hak paten. Terakhir, pada pekan lalu, Selasa (24/8), DPPM UMM mendatangkan Prof Wu Da Ying, CEO dan presiden perusahaan biokimia yang berbasis di Amerika Serikat. Prof Wu juga merupakan ahli bio-kimia dan bio-teknologi yang telah memegang lebih dari 14 paten internasional. Sujono berharap, kedatangan Prof Wu dapat memperkuat klaster mandiri yang dimiliki UMM. Terlebih, Prof Wu berencana mengembangkan kemitraan lebih lanjut, salah satunya dengan menyumbangkan buku-buku dan hasil-hasil risetnya pada kampus ini melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UMM. (han)

Mencintai Ilmu, Faridlotul Ingin Jadi Peneliti Hortikultura

KECINTAANNYA pada ilmu pengetahuan membuat Faridlotul Khasanah tak pernah berhenti berkarya. Sekalipun sempat gagal masuk di program studi (prodi) yang diimpikannya, yaitu Pendidikan Matematika, ia justru jatuh cinta pada jurusan yang akhirnya ia pilih, yaitu Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Semula, Faridlotul sempat lolos di Prodi Pendidikan Matematika UMM melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Namun, karena tidak bisa mengejar tenggat waktu pembayaran daftar ulang, keinginannya untuk kuliah di jurusan tersebut akhirnya kandas. Ia lantas kembali mengikuti tes di gelombang berikutnya dengan mengambil bidang studi Agroteknologi. Dalam perjalanan studinya, Faridlotul tidak menyangka akhirnya semakin mencintai dunia hortikultura yang merupakan rumpun ilmu Agroteknologi. Ia mengaku, kecintaannya tersebut berawal dari ketakjubannya pada kepintaran dosennya. “Dosen di UMM bukan hanya mengajar, tapi lebih dari itu, membuat kita makin penasaran memperdalam ilmu. Kami pun tergerak untuk senang meneliti,” ungkapnya. Tak heran, selain berhasil menjadi salah satu dari dua lulusan terbaik pada gelaran Wisuda UMM ke-81dengan nilai IPK 3.96, masa kuliah Faridlotul dipenuhi dengan karya dan aktivitas yang produktif, khususnya di bidang riset. Ia berpandangan, hasil riset merupakan ilmu yang berguna kapan saja, yang tak lekang oleh zaman. “Hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Jika tua nanti kita meninggal, kita mungkin tidak bisa bermanfaat lagi. Namun, pemikiran kita masih tetap bisa berguna bagi orang lain,” tutur putri dari pasangan Khoerul Ahmad Yani dan Suprihatiningsih ini. Beberapa penelitian yang pernah dilakukannya selama mahasiswa yaitu Kajian Penggunaan Berbagai Mulsa Organik Lembaran pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis Bunga, Pengaruh Pematahan Dormansi dengan Vernalisasi dan Perendaman Geberelin terhadap Penggunaan Subang Gladiol, dan Pengaruh Electrical Conductivity (EC) Tanah Terhadap Budidaya Cabai di Dataran Tinggi Tabanan Bali. Riset-risetnya tersebut sebagian besar didanai melalui jalur Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) maupun kerjasama riset dengan dosen. Ke depan, Faridlotul ingin lebih banyak melakukan penelitian, khususnya di bidang yang telah dicintainya, yaitu Agroteknologi, khususnya hortikultura. “Saya bangga pernah kuliah di kampus ini, saya merasa semakin mencintai ilmu. Ke depan, saya berharap tetap bisa menjadi peneliti yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar mahasiswi penyuka novel ini. (nov/can/han)

Wijayanto, Sempat Tak Bisa Kuliah, Akhirnya Jadi Lulusan Terbaik

KETERBATASAN tidak menghalangi Wijayanto meraih sukses, hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu dari dua lulusan terbaik pada gelaran Wisuda UMM ke-81dengan nilai IPK 3,96. Padahal, sejak selesai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)pada 2010, kedua orang tuanya, Miskan dan Sunarti menyatakan sudah tidak bisa membiayainya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu Wijayanto lantas memutuskan untuk tidak kuliah dan bekerja sebagai paramedis sapi di perusahaan minuman susuGreenfields yang berkantor di daerah Gunung Kawi.Setelah dua tahun bekerja, ia kemudian meminta persetujuan manajemen kantor dan kedua orang tuanya agar diperbolehkan kuliah, untuk meningkatkan keilmuannya di bidang peternakan. Pada 2012, Wijayanto akhirnya mendaftar di Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Sejak saat itu, ia belajar membagi waktu antara kuliah dan kerja. “Saya biasanya kerja mulai jam 10 malam hingga 6 pagi. Lalupulang sebentar dan berangkat lagi ke kampus untuk kuliah,kadang-kadang sampai jam 5 sore,” ceritanya. Mengingat Wijayanto bertempat tinggal di daerah Semanding, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan tempat kerjanya di daerah Gunung Kawi dengan jadwal kerja 8 jam, tak heran jika waktu tidurnya menjadi sangat sedikit. Apalagi jika dikalkulasi, jarak tempuh rumah ke tempat kerjanyamencapai 35 kilometer, itu belum dihitung perjalanannya ke kampus UMM.“Saya kadang tidur sehari hanya 2sampai 4 jam saja,” ujarnya. Tak hanya bekerja dan kuliah, ia juga seringkali dipercaya dosennya untuk membantu melakukan penelitian. Karena itu, baginya waktu sangatlah berharga. “24 jam itu sebenarnya kurang. Bagi saya, satumenit itu waktu yang sangat amat berharga. Kalau saya keluar dari tempat kerja jam 6 lewat 5 menit saja,saya sudah sangat menyesal karena membuang waktu 5 menit yang seharusnya digunakan untuk perjalanan,” tuturnya. Wijayanto mengaku tidak menyangka akan menjadi lulusan terbaik karena dulu prinsipnya adalah ‘yang penting lulus’. Bagi Wijayanto, kedua orang tuanyamerupakan motivasi terbesarnya. “Orang tua saya dulu tidak sekolah jadi belum bisa baca dan tulis. Namun,mereka tidak saja bisa membuat saya bacatulis, tapi membuat saya menjadi lulusan terbaikdi kampus ini. Perjuangan memang selalu berbuah manis,”ujarnya terharu. (jal/han)

Wisuda UMM Hadirkan Nuansa Bhineka Tunggal Ika

NUANSA Bhineka Tunggal Ika akan menjadi ciri khas baru dalam prosesi wisuda UMM ke-81 yang akan berlangsung Sabtu (27/8). Hal itu sejalan dengan arahan Rektor UMM, Fauzan, yang selalu ingin ada inovasi dalam setiap gelaran wisuda yang diadakan di Kampus Putih ini. Mengusung tema multikulturalisme, yaitu keragaman suku, ras, dan budaya yang menjadi ciri khas bangsa ini, cita rasa Bhineka Tunggal Ika akan menjadi sentuhan baru dalam setiap lini prosesi wisuda. Ciri tersebut, di antaranya tampak pada penampilan tim paduan suara, karawitan, pembawa acara hingga penerima tamu yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya itu, menurut ketua pelaksana wisuda, Sudjalil, para mahasiswa asingUMM juga akan terlibat dalam membangun nuansa Bhineka Tunggal Ika ini. Mereka akan menjadi penerima tamu yang menggunakan pakaian adat Indonesia. “Agar mereka tidak hanya belajar di UMM, tidak hanya tinggal di Indonesia, tapi juga bisa mencintai negeri ini. Salah satunya, dengan mengenakan pakaian adat kita,” paparnya. Semangat melibatkan mahasiswa asing dalam prosesi wisuda juga tak lepas dari spirit UMM agar mereka benar-benar merasa enjoy dengan suasana dan tradisi di kampus ini. Menariknya, banyak dari mahasiswa asing tersebut tidak hanya fasih berbahasa Indonesia, tapi juga lihai dalam menggunakan bahasa, bahkan logat Jawa. Rektor UMM Fauzan mengatakan, internasionalisasi di UMM tidak hanya mengharuskan kampus ini mengembangkan sayap kemitraan ke berbagai negara di dunia. Internasionalisasi juga berarti membuat warga asing lebih familiar dengan budaya Indonesia dan atrmosfer UMM. “Di sini, mahasiswa asing harus bisa berbahasa Indonesia. Mereka juga harus bisa menyatu dengan mahasiswa pribumi,” ujarnya. Selain dalam penggunaan seragam, ciri multikultural juga akan ditampilkan pada berbagai dekorasi yang bernuansa kearifan lokal. Dengan begitu, Sudjalil menyatakan, nantinya tokoh nasional yang hadir sebagai tamu akan disambut dengan nuansa kedaerahanyang khas. “Dengan karakter mahasiswa yang majemuk, kita ingin segala perbedaan itu menyatu dalam irama yang sama. Inilah pendidikan multikultural yang sesungguhnya, yang dapat meningkatkan kualitas bangsa ini,” jelas dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMMini. Sudjaliljuga menambahkan, nantinya akan ada sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang turut meramaikan prosesi yang diikuti 1312 wisudawan ini, di antaranya yaitu UKM Pramuka, UKM Karawitan, UKM Paduan Suara, UKM Korp Sukarela Palang Merah Indonesia, dan UKM Resimen Mahasiswa. (jal/han)

Sertifikasi AUN-QA Perkuat Internasionalisasi UMM

UPAYA internasionalisasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengalami kemajuan. Terkini, UMM baru saja meraih sertifikasi internasional, yaitu sebagai Associate Member of Asean University Network–Quality Assurance (AUN QA)tertanggal 11 Agustus 2016. AUN-QA merupakan jejaring perguruan tinggi ASEAN yang dikualifikasi berdasarkan jaminan mutu (quality assurance) regional dan internasional. Raihan AUN-QA melengkapi capaian UMM yang sebelumnya telah meraih akreditasi institusi A dari BadanAkreditasiNasionalPerguruan Tinggi (BAN PT) dan penghargaan Anugerah Kampus Unggul (AKU) Kopertis VII Jawa Timur sembilan tahun beruntun. Karena akreditasi institusi tertinggi nasional telah diraih, menurut Rektor UMM Fauzan, saat ini UMM fokus meningkatkan pengakuan internasional. Sebagai sertifikasi internasional, AUN-QA mengacu pada standar akreditasi International yang disusun oleh pakar-pakar quality assuranceASEAN. Anggota AUN-QA dan prodi yang telah dinilai berdasar standar AUN, mahasiswanya dapat mengikuti program kredit transfer dengan universitas-universitas anggota AUN-QA lainnya. “TahuniniUMMmenyiapkantiga program studi(Prodi) antara lain Prodi Manajemen, PendidikanBiologi dan Peternakan yang akandisertifikasimelaluimekanisme AUN-QA,” terangKepala Kantor PengeloladanPengendaliAkreditasi (KPPA), DrAinurRofieg MKes. Berdasarkan mekanisme AUN-QA, kata Rofieg, maksimalhanyatiga prodi yang dapat disertifikasi setiaptahunnya.“Jadi,secarapelandan pastiseluruhprodi di UMM akanterakreditasiinternasional. Raihantersebutakan menjadi kebanggaantersendiribagi kampus ini,” lanjutnya. Rektor menyadari, UMM tidak hanya dikenal dari sisi fisiknya saja, tetapi juga merupakan brand image, sebuah nama besar. Karenanya, segala raihan prestasi yang diraih UMM menuntut kampus ini lebih banyak lagi melahirkan tokoh-tokoh besar. “Salah satunya, kita harus memobilisasi para dosen untuk bisa menjadi tokoh-tokoh dan pakar-pakar di bidangnya, agar memiliki resonansi, tidak hanya secara nasional, tapi juga internasional,” ujar Fauzan. Fauzan menambahkan, sertifikasi AUN-QA membuat UMM harus berpikir dan bertindak lebih strategis, salah satunya melalui program pemetaan kepakaran. Program ini, jelas Fauzan, manfaat dan kebutuhannya kian relevan mengacu pada perkembangan nasional dan internasional.  “UMM harus terus melahirkan ilmuan-ilmuan yang kapasitasnya diperhitungkan. Tentu saja, harus ada desain. Salah satunya, melalui revitalisasi pengembangan SDM,” paparnya. Setelah AUN-QA, saat ini UMM tengah mempersiapkan diri untuk meraih akreditasi internasional dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) yang bermarkas di Los Angeles, Amerika Serikat. Selain itu, masing-masing prodi di UMM juga telah melakukan benchmarking dengan berbagai universitas di dunia untuk mengukur kualitas secara internasional. (can/han)

Fauzan: Mahasiswa Harus Jadi Pilar Kewibawaan Akademik

REKTOR Universitas Muhammadiyah  Malang (UMM), Drs Fauzan MPd melantik fungsionaris lembaga intra kemahasiswaan di lingkungan UMM; Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM-U) Universitas, Senat Mahasiswa Universitas (SEM-U) beserta Unit  Kegiatan Mahasiswa (UMM) masa bakti 2016-2017 di Auditorium UMM, Rabu (24/8). Fauzan mengatakan, menjadi seorang fungsionaris itu melalui mekanisme pemilihan, bukan penunjukan. “Sehingga, saudara yang terpilih sebagai fungsionaris ini memang dianggap sebagai orang-orang yang punya kapabilitas dan layak jadi seorang pemimpin. Saya berharap periode ini lebih baik daripada periode sebelumnya,” kata Fauzan. Dinamika perguruan tinggi keunggulannya terletak pada kewibawaan akademik. Mahasiswa, kata Fauzan, menjadi salah satu pilar utamanya. “Sebagai salah satu pilar utama, saya harap saudara dapat bertanggungjawab, yaitu harus memiliki platform keunggulan akademik,” ungkapnya. Salah satunya cara yang dapat ditempuh yakni  lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Bagi saudara yang sudah jadi demisioner, jadilah motivator bagi juniornya. Apalagi bagi yang jadi fungsionaris, harus jadi contoh bagi mahasiswa lainnya,” seru Fauzan. Menjelang Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) 2016, Fauzan juga mewanti-wanti seluruh panitia untuk memastikan tidak adanya praktik perpeloncoan. ”Sudah bukan jamannya lagi ada perpeloncoan di kampus kita. Tidak ada bentak-bentak. Dalam hal penugasan misalnya, tidak usah ada yang aneh-aneh,” tandas Fauzan.  (can/han)

Abdul Wahid, Dari Juara Nasional Qori’ Hingga Vokalis Terbaik

SUARA merdu yang dimiliki Muhammad Abdul Wahid membuatnya memiliki segudang prestasi. Terakhir, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UMM ini baru saja menggondol medali perunggu untuk kategoriSyahril Quran pada Festival al-Quran Tingkat Nasional antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 9-11 Agustus 2016. Selain penghargaan tersebut, kejuaraan yang pernah diraih Wahid antara lain Juara 2 Lomba Qari Nasional tahun 2012, Juara 1 Lomba Qori Jawa Timur tahun 2014, Juara 2 Lomba Solo Religi Nasional tahun 2015 hingga Juara 1 Solo Pop Religi Jawa Timur tahun 2015.Sementara di bidang olah vokal, Wahid belum lama ini meraih predikat best vocalist pada Festival Band Jawa Pos Radar Malang2016. Putra pasangan Akmad Khotib dan Sriamah memang sudah mulai menekuni dunia tarik suara semenjak berada di tingkat Sekolah Dasar (SD). Apalagi, anak bungsu dari tiga bersaudara ini terlahir dari keluarga yang terbilang Islami, sehingga baginya Qira’ah adalah hal yang tidak asing. Semenjak dulu, Wahid tidak pernah belajar lewat guru les. “Kalau di rumah,” kata Wahid, “Saya belajar qori dari bapak atau dari kaset-kaset qori yang ada. Kaset itu terus saya putar berulang-ulang kemudian saya coba dengan suara saya sendiri,” jelasnya. Tidak hanya dunia qiroah yang didalami pria yang akrab disapa Wahid ini, namun dunia olah vokal juga dilakoni pria asal Sidoarjo dua puluh tahun silam. “Sejak SD saya sudah senang dengan dunia tarik suara. Dimulai dengan lomba yang dulu saya ikuti, yaitu lombashalawatan. Alhamdulillah mulai dari sana, saya pernah jadi juara satu tingkat kabupaten,” ujar mahasiswa semester 5 itu. Wahid menceritakan bahwa prestasi gemilang yang di raihnya itu tidak selalu berjalan mulus. “Ketika saya SMA dulu, saya tidak diperbolehkan bapak untuk masuk ke band-band sekolah. Bahkan dulu bapak saya sempat mau mengusir saya karena saya masuk ke dunia band,” kenangnya. Hal tersebut tidak kemudian membuatnya berputus asa. Wahid memutuskan untuk terus menekuni dunia tarik suara itu dengan komitmen penuh. Ia harus membawa piala atau minimal hadiah berupa uang pembinaan dari setiap perlombaan yang diikutinya. Impian itu pun terwujud, Wahid menuturkan bahwa setiap kali mengikuti perlombaan, dirinya keukeuh harus membawa salah satu gelar ke rumah. Hal ini menandakan bahwa dirinya tidak main-main menekuni bakatnya tersebut. “Semenjak sering menjuarai berbagai perlombaan, akhirnya bapak saya merestui saya untuk kedepannya,” kata Wahid. Dari sekian daftar prestasi gemilangnya, Wahid akhirnya diberi kesempatan menambah koleksi prestasinya dengan dipercaya sebagai delegasi UMM dalam banyak lomba vokal ataupun qori. “Saya harus terus belajar dan berlatih. Karena diluar sana kompetitor saya juga belajar dan berlatih. Kalau tidak berlatih sekali saja, pasti langsung tertinggal jauh dengan pesaing lainnya,” tutur Wahid. Selain keluarga yang mendukung segala akftifitasnya, Wahid juga merasa bahwa UMM  memiliki andil yang besar menyokong prestasinya tersebut. “Kampus ini juga memberikan fasilitas yang sangat banyak bagi mahasiswa yang berprestasi, jadi mahasiswa terpacu untuk selalu terus berprestasi. Pembinaan yang diberikan oleh pihak universitas juga sangat maksimal karena ada pendampingan untuk mendalami bidang yang diingankan oleh setiap mahasiswanya,” aku Wahid. Hal ini membuktikan bahwa pilihannya bergelut dalam dunia ini merupakan pilihan tepat. Tidak berhenti sampai disitu, dalam waktu dekat Wahid akan segera mengikuti lomba Solo Nasional. “Insyaallah bulan September nanti saya akan mengikuti pekan seni mahasiswa nasional kategori menyanyi solo sebagai perwakilan dari Jawa Timur di Sulawesi Tenggara. Mohon doanya,” imbuhnya bangga. (jal/can/rin/han)

Sinergi FK Antar PTM Tingkatkan Jejaring dan Kualitas Akademik

FAKULTAS Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama sepuluh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia melakukan Pertemuan Tahunan Asosiasi Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan Muhammadiyah (APKKM) yang ke-4. Kegiatan berlangsung di Amarta Hills, Batu (20-21/8). Rektor UMM Fauzan mengatakan, setiap PTM yang mempunyai FK, Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), Keperawatan, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), serta Farmasi perlu membuat sinergi antar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). “Membangun sinergi antar AUM memang sangat susah, maka dari itu hadirnya asosiasi ini merupakan salah satu wujud dibangunnya sinergi itu,” ujar Fauzan saat membuka acara tersebut. Pada kegiatan yang bertema “Membangun Kolegialitas APKKM Menuju Indonesia Berkemajuan di Era MEA” tersebut Fauzan menjelaskan, adanya perkumpulan tersebut merupakan ajang untuk saling membantu antar universitas Muhammadiyah. Senada dengan Fauzan, Dekan FK UMM, dr Irma Suswati MKes menyatakan, tujuannya diadakannya pertemuan kali ini untuk saling menguatkan antar PTM di bidang kedokteran dan kesehatan. Selain itu, kata Irma, pertemuan ini juga diharapkan dapat menghasilkan kerjasama antar universitas Muhammadiyah. Irma menyebutkan, untuk lingkup dalam negeri nanti akan dibahas tentang kerjasama pendidikan elektif antar universitas Muhammadiyah. Jadi, lanjut Dosen FK UMM ini, bisa saling berbagai ilmu karena di antara sepuluh PTM ini memiliki keunggulan yang beragam sehingga pemerataan keunggulan bisa dilakukan diberbagai AUM. “Misal Universitas Muhammadiyah Palembang (UM-Palembang) mempunyai penguatan dalam bidang kedokteran herbal. Nah, nanti dicoba kita berangkatkan mahasiswa UMM ke FK UM-Palembang untuk belajar atau penelitian,” jelasnya. Dalam acara ini juga dibahas kerjasama internasional yang telah dilakukan PTM-PTM tersebut. Irma mencontohkan, jika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pernah melakukan kerjasama dengan Australia atau negara lainnya pada pertemuan ini akan dibagi. “Kalau misal UMM bekerjasama dengan Australia juga seperti yang UMY lakukan bisa atau enggak. Itu yang ingin kita rumuskan, kita bagi agar semuanya bisa berjalan bersama-sama,” ujarnya. Seluruh hasil dari pertemuan APKKM ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk implementasi. Irma menjelaskan, pada 2017 program kerjasama itu dapat dilakukan. Harapan yang paling besar adalah dari pertemuan ini setiap peserta memiliki ciri khas masing-masing dalam disiplin ilmu kedokteran dan kesehatan. Kolaborasi antar kampus Muhammadiyah juga bisa menjadi contoh bagi universitas lain untuk mengembangkan ilmu kedokteran dan kesehatan ini. “Jika semuanya dilakukan secara bersama-sama akan lebih mudah mencapai tujuan yang ditargetkan. Insya Allah,” pungkasnya. (jal/han)

RS UMM Konsisten Adakan Senam Jantung Sehat

RUMAH Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) menandai rangkaian acara Milad Ke-3 dengan kegiatan senam jantung sehat yang diselenggarakan di Lapangan Kantin RS UMM, Sabtu (20/8). Sejak di-launching pada 2013, RS UMM telah mempelopori Senam Jantung Sehat untuk ikut mengurangi angka kematian akibat penyakit jantung. Senam jantung sehat dinilai sebagai kegiatan netral yang dapat menjadi hiburan sehat sekaligus budaya meningkatkan kebugaran. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Klub Jantung Sehat Cabang Malang Raya, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dan Malang Community Cardiovascular Care (MC3). Senam juga dihadiri oleh Rektor dan civitas akademisi UMM, Direktur RS UMM, Kapolsek Dau, Lowokwaru dan Karangploso, Kades dan Camat Dau, berserta warga di sekitar RS UMM. Direktur RS UMM Prof Dr dr Djoni Djunaedi Sp PD-KPTi membuka kegiatan dengan pelepasan balon merah putih, selain sebagai Milad RS UMM juga memperingati Hari Kemerdekaan. “RS itu seharusnya menjadi rumah sehat, karena yang sakit jantung itu harus menjadi jantung sehat,” kata Djoni. Pensiunan RS Syaiful Anwar ini juga memberikan informasi tentang peningkatan pelayanan RS UMM yaitu unit pelayanan katerisasi jantung dan angiografu (cathlab). Unit bermanfaat untuk menentukan diagnostik penyakit jantung dan pembuluh darah dengan menggunakan kateter atau ekektroda dan unit pelayanan Multi Slice CT Scan (MSCT). Teknik pemeriksaan yang digunakan yaitu computed tomography secara akurat dari tulang hingga pembuluh pembuluh darah koroner pada jantung. “Tidak ada rumah sakit besar berdiri tanpa pasien. RS UMM harus menjadi yang terbaik dan harus selalu meningkatkan pelayanannya,” ungkapnya. Serangan jantung adalah penyakit yang paling mengancam jiwa manusia. Menurut data nasional hampir 1 juta terserang penyakit jantung, dan 50 persen di antaranya meninggal dunia. Yayasan Jantung Indonesia sebagai lembaga swadaya masyarakat membantu pemerintah menciptakan manusia Indonesia yang berkualitas, bebas dari penyakit jantung dan pembulu darah melalui berbagai upaya. Salah satunya adalah membentuk Klub Jantung Sehat dan Klub Jantung Sehat Remaja. Dr. Pawik Supriadi sebagai perwakilan YJI Malang Raya dalam sambutannya menyampaikan harapan, dengan berdirinya RS UMM masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sekaligus menerapkan panca usaha jantung sehat. “Seimbang gizi, enyahkan rokok, hindari dan atasi stres, awasi tekanan darah dan teratur berolahraga,” jelasnya. Dr Andi selaku ketua pelaksana mengatakan, Milad ke-3 RSU UMM ini sekaligus agar klub jantung sehat RS UMM langgeng dan memberikan wahana untuk meningkatkan kesehatan jantung. Tidak hanya kegiatan senam sehat jantung, pemeriksaan gula darah gratis dan door price menarik juga turut memeriahkan acara. (roh/han)