Pendaftar UMM Tembus 25 Ribu Camaba

PELAKSANAAN Tes Tulis Gelombang III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merupakan tes gelombang terakhir masih banyak diminati lulusan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) seluruh Indonesia. Hingga pelaksanaan ujian, Senin (22/8), sebanyak 3632 calon mahasiswa baru (camaba) mengikuti ujian yang diadakan di tiga titik lokasi, yakni Gedung Kuliah Bersama (GKB) I, GKB II dan Aula Fakultas Teknik (FT). Jika ditotal dari gelombang satu hingga tiga, pendaftar UMM sudah melampaui 25 ribu orang, meningkat dibangding tahun lalu sekitar 22 ribu pendaftar. Sekalipun pendaftar meningkat, dari total tiga gelombang UMM hanya akan menerima antara 6.500 hingga 7000 pendaftar sesuai passing grade masing-masing program studi. Khusus gelombang tiga, ada sekitar 2000 camaba yang akan diterima. Seperti diberitakan sebelumnya, UMM telah menutup pendaftaran bagi lima program studi (prodi) di gelombang III, yaitu prodi Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional(HI),Manajemen, Akuntansi dan Kedokteran. Hal itu berdasarkan edaran yang dikeluarkan kepala Unit Pelaksana Teknis PenerimaanMahasiswa Baru (UPT PMB) Dr Ermanu Azizul Hakim MT tertanggal 1 Agustus 2016. Meski demikian, pelaksanaan tes gelombang III tetap mendapat pengamanan ketat dari petugas keamanan sipil. Diakuinya, pada pelaksanaan tes gelombang I dan II, khususnya di Fakultas Kedokteran rawan terjadi kecurangan. “Meski Fakultas Kedokteran telah ditutup di gelombang III, kami tetap melakukan pengamanan ketat untuk mengantisipasi segala bentuk kecurangan,” kata Wakil Rektor I, Prof Dr Syamsul Arifin saat ditemui diruangannya. Hasil pengumuman gelombang III dapat dilihat pada 26 Agustus 2016 mendatang di laman pmb.umm.ac.id. sedangkan pelaksanaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) dilaksanakan selama 4 hari, mulai 5-8 September 2016. (can/han)

UMM Siap Tingkatkan Akreditasi Kedokteran

SETELAH memenuhi kuota sebanyak 200 orang di Gelombang I dan II, dalam waktu dekat Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai mempersiapkan untuk meningkatkan mutu akreditasinya. “Fakultas Kedokteran sejauh ini sudah banyak perkembangan. Semisal, dari Sumber Daya Manusia (SDM), secara kualitas maupun kuantitas juga artefak-artefak karya  akademik sudah banyak. Dosen kedokteran juga semakin bertambah,” ungkap Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat ditemui pada pelaksanaan tes gelombang III, Senin (22/8). Untuk diketahui, FK UMM mendapatkan ijin pendirian tertanggal 25 September 2001 dengan nomor pendirian 3079/D/T/2001, serta pada Juni 2012 melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan No.017/BAN-PT/Ak-XV/SI/VI/2012, Program Studi Pendidikan Dokter UMM baru memperoleh Peringkat Akreditasi B. “Kita harap kedepan Fakultas Kedokteran bisa mendapat akreditasi A. Sehingga, kuota yang disediakan pemerintah 200 orang, bisa kita tingkatkan menjadi 250 orang,” kata Syamsul.(can/han)

UMM Bakal Buka Sejumlah Pendidikan Profesi

DALAM waktu dekat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan memiliki sejumlah Program Studi (Prodi) Pendidikan Keprofesian baru, di antaranya Pendidikan Profesi Apoteker, Fisioterapi, dan Insinyur. “Untuk Profesi Apoteker, Kami tinggal menunggu validasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT),” kata Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat ditemui di ruang kerjanya(22/8). Saat ini UMM baru memiliki dua Prodi Pendidikan Profesi, yakni Pendidikan Profesi Ners/Keperawatandan Profesi Akuntansi.  “Untuk menjadi seorang apoteker, dia harus memiliki sertifikat profesi. Sama halnya dengan kedokteran dan guru yang diperoleh dari pendidikan keprofesian. Tanpa itu, dia tidak bisa menjadi profesional dibidangnya,” lanjut Syamsul. Selain profesi Apoteker, UMM juga sedang mewacanakan pendirian Prodi Pendidikan Profesi Fisioterapi. Ia menyatakan pihaknya sedang menggodok segala kelengkapan dan kemungkinan-kemungkinan jika membuka Prodi Pendidikan Profesi Fisioterapi. UMM juga bakal mendirikan Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur. Untuk bisa membuka prodi tersebut, UMM setidaknya harus memiliki enam tenaga kependidikan yang terkualifikasi sebagai Insisyur Profesional Madya yang diperoleh dari Persatuan Insinyur Indonesia (PPI). “Saat ini, UMM baru memiliki empatorang yang tersetifikasi Insinyur Profesional Madya. Saat ini UMM sedang mempersiapkan 10 orang untuk disertifikasi,” kata Syamsul. Menurut Syamsul, dari 14 prodi yang ada di jenjang pasca sarjana UMM, kesemuanya merupakan disiplin ilmu Humaniora. Sehingga dalam beberapa tahun mendatang, UMM akan melengkapi sejumlah jenjang pendidikan keprofesian di bidang keilmuan lainnya seperti agama juga teknik. Di Malang sendiri terdapat setidaknya empatperguruan tinggi yang diminta oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Direktorat Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk membuka Prodi Pendidikan Profesi, salah satunya UMM.  “Di seluruh Indonesia, hanya ada 40 yang diperkenankan oleh Kemenristek Dikti,” pungkas Syamsul. (can/han)  

Raker BKS-PTIS Lahirkan Sejumlah Keputusan Penting

DALAM rangka mendorong peningkatan mutu Akreditasi Institusi Peguruan Tinggi (AIPT),  Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) mengadakan Silaturahim dan Rapat Kerja di Universitas Muhammdiyah Malang (UMM), Sabtu (20/8). Agenda ini menghasilkan sejumlah keputusan penting, diantaranya rencana aksi peningkatan status akreditasi Perguruan Tinggi dan akreditasi prodi serta rekomendasi dan pernyataan sikap terhadap isu-isu strategis yang sedang dihadapi Indonesia. Ketua Umum BKS-PTIS, Prof. Dr. Masrurah Mokhtar, MA menyampaikan pentingnya meningkatkan ghirah penelitian di kalangan dosen dan mahasiswa. Selain itu, ia juga mendorong agar perguruan tinggi swasta yang tergabung dalam BKS-PTIS itu untuk bisa membantu meningkatkan serta saling mendukung mutu akreditasi perguruan tinggi lainnya. Sinyal ini telah ditangkap oleh Gubernur Bengkulu Dr. H. Riduan Mukti yang juga Ketua Bidang Alumni BKS-PTIS ini. Kehadiran Gubernur dalam acara  ini sekaligus menjelaskan kesiapan provinsi Bengkulu yang akan bersinergi Perguruan Tinggi yang menjadi anggota BKS –PTIS dalam upaya memaksimalkan tri dharma perguruan tinggi. “Untuk  mewujudkan hal itu, pemerintah dan perguruan tinggi harus bekerjasama. Pun dengan pemerintah sendiri harus bisa meyesuaikan diri untuk bekerja lintas sektoral,” terangnya. Dengan demikian upaya peningkatan status perguruan tinggi dapat dipercepat dengan adanya pemberdayaan dosen dan mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) dalam berbagai kegiatan untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam penilaian akreditasi, baik akreditasi institusi maupun akreditasi prodi. Selain itu, rekomendasi yang dihasilkan antara lain, Pemerintah khususnya  Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Sekretaris Kabinet Republik Indonesia (RI), agar lebih cermat dan teliti dalam pengangkatan pejabat negara. Agar tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Pengurus BKS PTIS juga menyampaikan peryataan sikapnya mendukung rencana program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), khususnya untuk tingkat pendidikan dasar pada program “Full Day School”, dengan sejumlah catatan. Antara lain disiapkannya regulasi dalam bentuk peraturan/keputusan menteri. Selain itu, Pengurus BKS-PTIS juga mendorong Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) agar Lembaga Pelayanan Pendidikan Tinggi  (LP2T) segera di realisasikan sesuai dengan amanat undang-undang. Menyoroti kebijakan pemerintah tentang Tax Amnesty, pengampunan terhadap wajib pajak mesti dibarengi tranparansi dalam pengelolaan keuangan. Juga, perlu membangun basis data wajib pajak yang lebih akurat. Rapat kerja tersebut diakhiri dengan penentuan tempat pelaksanaan Konferensi Nasional BKS-PTIS, dengan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya sebagai tuan rumah. (acs/rin)

Kenalkan Kampus Putih di Negeri Gajah Putih

NIAT baik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam melakuan internasionalisasi semakin menunjukkan keseriuansannya. Bukan hanya dosen, staf dan mahasiswa saja yang di dorong untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar diluar negeri. UMM juga akan mengakomodir dosen, karyawan atau mahasiswa yang berniat untuk berproses di UMM. Selama dua hari yang lalu, Rabu (17/8) dan Kamis (18/8) UMM membuka stand pada pameran pendidikan di Prince of Songkla University (PSU), PSU Openweek 2016.  Ribuan siswa yang berasal dari Songkla, Yala, Patani, Satun, Trang, dan Naratiwat ini  menyerbu stand UMM yang dibuka pada pukul 08.00 hingga 15.00. Rupanya bukan hanya siswa SMA saja namun juga siswa SMP tertarik dari untuk berkunjung ke stand UMM. Ini merupakan kali ketiga UMM menggelar pameran di Thailand. Kali ini, Samila Doloh, Tapanee Taweekayujan, Anwar Artaewi, Sufeenah Sidek adalah alumni UMM yang mengenalkan UMM di Negeri Gajah Putih ini. Menurut Koordinator pameran di luar negeri, Moh. Isnani, M.Pd “UMM sering mengikuti pameran di beberapa negara seperti Prancis. Jepang, Kamboja, German, USA, China, Jepang. Kali ini UMM tertarik untuk mengikuti pameran pendidikan di PSU karena pameran tersebut sering diikuti juga oleh kampus-kampus besar di dunia.” ucapnya. Isnani juga mengaku bahwa dalam pameran pendidikan tersebut, UMM melibatkan alumni sebagai sarana promosi yang paling efektif. Di sana mereka dapat berbicara dalam bahasa Thai dengan baik sehingga dapat mengenalkan UMM kepada pengunjung dengan leluasa. Pengalaman para alumni ketika mengenyam pendidikan di UMM merupakan informasi yang akurat bagi pengunjung pameran. “Kami sangat mencintai UMM, banyak kesan bahagia yang kita alami selama belajar di kampus putih itu, sehingga kami tak segan-segan untuk mempromosikan UMM di negeri kami. Semoga banyak anak Thailand yang dapat merasakan pendidikan seperti kami,” tutur Samila Doloh yang juga lulusan terbaik III prodi elektro UMM ini. (nov/rin)

UMM Jadi Tuan Rumah The 4th Convention European Studies

PROGRAM studi (prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang berfokus pada pembelajaran tentang fenomena-fenomena internasional meliputi hubungan antar negara dan non negara dalam sistem internasional. Kaitan dengan hal tersebut, HI UMM bekerjasama dengan Komunitas Kajian Eropa menyelenggarakan the 4th convention European Studies Kamis (18/8). Pertemuan yang dihadiri oleh 100 mahasiswa dan 20 peserta konvensi dari penjuru Indonesia ini membicarakan tentang multikulturalisme. Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si, menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan multikulturalisme, Eropa merupakan negara yang awalnya damai dan minim perselisihan. Sejak adanya imigran yang datang ke Eropa maka ada perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa dan lain sebagainya. “Karena faktor migrasi pula, jumlah penduduk muslim di Eropa semakin tinggi,” jelasnya. Muhadi Sugiono, Ph. D (cand), selaku ketua Komunitas Kajian Eropa menjelaskan bahwa wilayah Eropa merupakan sebuah obyek kajian yang menarik. Eropa memiliki kerangka yang sangat besar untuk didalami dan dikaji. “Kita belajar tentang Uni Eropa bukan berarti kita harus meniru Uni Eropa. Tapi agar kita tidak menjadi sama seperti Uni Eropa dan lebih pintar dari orang Uni Eropa,” jelas dosen Universitas Gadjah Mada tersebut. Dalam kajian yang bertemakan Multicuturalism In Europe and Its Challenges, Agung Cahaya Sumirat selaku Wakil Direktur Kementrian Luar Negeri, Indonesia menjelaskan, tantangan terbesar dalam multikulturalisme adalah migrasi. Yakni ketika imigran datang namun pemerintah tidak memberikan edukasi kepada warga sekitar untuk berperilaku baik pada imigran. Menurutnya, Indonesia dan Uni Eropa memiliki kesamaan prinsip dalam hal Multikulturalisme. “Indonesia memiliki Bhineka Tunggal Ika dan Uni Eropa memiliki Unity In Diversity sebagai konsep multikulturalismenya,” ujar lulusan magister Universitas Indonesia (UI) tersebut. Sekretaris prodi HI, Syaprin Zahadi, MA menyatakan bahwa kajian tentang Eropa ini sudah empat kali diadakan dengan peserta dari berbagai universitas. Namun, baru pertama kali kajian tentang Eropa ini digelar di UMM. “Seminar dan diskusi panel hanya dilaksanakan hari ini saja. Tapi konvensinya diadakan selama tiga hari hingga 20 Agustus mendatang,” terangnya. (jal/can/rin)

UMM Tegaskan Makna Kemerdekaan

PERINGATANHari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) seyogyanya tidak sekedar dimaknai sebagai ritualtahunanbagi seluruh warga Indonesia. Lebih dari itu, peringatan hari pentingkelahiranIndonesia ini harusnya dimaknai secara mendalam sebagai momen penegasan makna kemerdekaan. Seperti yang disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  saat bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan HUT RI ke-71di Heliped UMM, Rabu(17/8). Dalam kesempatan tersebut, Fauzan menyatakanbahwaBangsa Indonesia saat ini memang sudah merdeka. Namun,Ia menilai,merdekanya Indonesiasaat ini hanyalah kemerdekaan politis yang seharusnya dapatberkembang pada kemerdekaan secara ekonomi, sosial dan bentuk-bentuk kemerdekaan lainnya. “Sudah saatnya Indonesia mengartikan kemerdekaan dalam bidang lain, seperti dalam bidang ekonomi, bidang politik dan bahkan kemerdekaan di bidang pendidikan. Kemerdekaan merupakan kata kunci yang perlu dimaknai secara mendalam oleh setiap bangsa Indonesia,” ujar Fauzan dalam pidatonya. Ranahperjuangan UMM terletak pada bidang pendidikan.Maka dari itu,menurutnya perlu adanya sumbangsih pemikiran baru dari semua pihak dalam bidang ini. “Ide-ide baru yang konstruktif dalam membangun Indonesia yang lebih baiksangatdibutuhkan lewatlembaga pendidikan UMMini. Karena kemerdekaan bukan hanya masalah pembebasan,namun juga didefinisikan sebagai harga diri sebuah bangsa,” ungkap Fauzan yang juga turut serta memeriahkan sejumlah perlombaan. “UMM dalam bidang pendidikan bertanggungjawab pada semua mahasiswa untuk memberikan mereka pengajaran,agar nantinya mahasiswa dapat merdeka dan bisa melakukan segala sesuatunya sendiri,tanpa bergantung pada yang lain,” paparnyalebih lanjut. Himbauanbahwa peringatan 17 Agustus juga harus dimaknai sebagaibentukpenghargaan yang setinggi-tingginya terhadapjasa pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya demi satu kata ‘merdeka’, juga salah satu hal yang digaungkan pada seluruh civitas akademika UMM. Cita-cita kemerdekaan yang diinginkan oleh proklamator bangsa ini adalah adanya kebebasan suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa adanya campur tangan asing. Dalam rangka mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya, pendidikan memiliki peran yang utama. Pendidikan yang diberikan merupakan pendidikan yang dikonsep untuk mencetak generasi yang merdeka. “Artinya UMM juga berperan dalam bidang ini untuk membentuk mahasiswa yang merdeka sehingga kedepannya dapat mengatur dirinya sendiri tanpa dipengaruhi oleh yang lain,” tegas Fauzan. Rangkaian kegiatan bertema “Semarak HUT RI ke-71” tak hanya diperingati dengan upacara. Selepas upacara, di tempat yang sama digelar aneka lomba, di antaranya balap karung, tarik tambang, balap klompen, sepeda lambat, nyunggi tempeh, karaoke, hingga balap sepeda air. Kegiatan diikuti seluruh elemen kampus, mulai dosen, karyawan, satuan pengamanan (satpam), juru parkir, serta perwakilan mahasiswa. Menurut ketua pelaksana, Jamroji,perlombaan tersebut memang sengajadirancang untuk seluruh civitas akademika dari tingkatan manapun. “Kita adakan seperti ini biar tidak ada jarak antara pimpinan dan bawahannya. Antara dosen dan mahasiswa juga. Sehingga semuanya dapat membaur menjadi satu,” jelas Dosen Ilmu Komunikasi UMM tersebut. Salah satu peserta lomba balap karung, Yunairisa mengakuperlombaan yang diadakanUMM tahunini sangat menghibur. “Perlombaan yang diadakan kampus ini lumayan buat mengisi waktu kosong,” ujar Mahasiswi Psikologi itu. Lain halnya dengan Cony, lulusan dari Peking University yang sedang belajar bahasa Indonesia di UMM, kesempatan mengikuti upacara HUT RI ini adalah pengalaman pertamanya apalagi bersama tim dari International Relations Office (IRO) ia memenangi lomba sepeda air. “Saya senang boleh mengikuti upacara dan lomba sepeda air. Kampus ini sangat terbuka bagi mahasiswa asing seperti saya dan saya yakin akan dapat belajar bahasa Indonesia di kampus ini dengan baik,” ungkapnya. Di hari yang sama,sebanyak tiga puluh satudosen UMM meraih penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) di Surabaya. Penyerahan tanda kehormatan yangdiperuntukkan bagidosen KoordinasiPerguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII ini didasarkan atas dedikasinya selama berkiprah didunia pendidikansepuluhhingga tiga puluhtahun. Penyerahan penghargaan ini berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 319TK/TAHUN 2016 tanggal 15 April 2016. (jal/can/rin)

Mahasiswa UMM Pacu Produkfitas Masyarakat Lewat PKM-M

BERAWAL dari kegelisahan sekelompok mahasiswa program studi (prodi) Kesejahteran Sosial (Kesos)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengansemakin banyaknya sampah yang ada di Kota Batu,Jawa Timur,tiga orang mahasiswa;Iin Sulis Setyowati, Mochamad Zainul, dan Khasbullah Afif menggagas sebuah program pengabdian masyarakat melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PMK-M) lewat pemanfaatan sampah tersebut. Karya yang berjudul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Mojorejo Kota Batu melalui Handycraft Berbahan Dasar Sampah Plastik Rumah Tangga Guna Meningkatkan Kesejahteraan”berhasil masuk dalam daftar peserta yang lolos seleksidan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Ditlitabmas). Karya tulis terbutmenghantarkan ketiganyalolosbabak final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 29 di Institut Pertanian Bogor (IPB), 8-11 Agustuslalu dan berhasil menyisihkan ribuan proposal mahasiswa dari seluruh Indonesia. Menumpuknya sampah yang ada sertarendahnya angka produktifitas masyarakat Desa Mojerejo Kota Batu menjadi latar belakangutama munculnya ide untuk melakukan pengabdian masyarakat ini.  “Sampah yang terdapatdi Desa Mojorejo sebenarnya bisa diolah dan menjadi sumber penghasilantambahan bagi warga desa,” kata Iin, selaku ketua tim. Sampah plastik, lanjut Iin, merupakan ancaman serius karenamenyebabkan pencemaran terhadap lingkungan terutama jikadibuang sembarangan. Menurut data yang mereka himpun, Kota Batu setidaknya menghasilkan sampah plastik hingga  mencapai 80 ton/hari. Padahal,menurut kelompoknya,sampah plastik jika terampil dimanfaatkan,akanmenjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Selain itu, penduduk Desa Mojorejo terdiri dari 4.393 jiwa dimana jumlah ibu rumah tangganya mencapai733 jiwa. Dua puluh lima persendiantaranya tidak memiliki pekerjaan. “Padahal,  jumlah sampah yang dihasilkan di desa ini mencapai 150 kg/hari.Hal inilah yang melatarbelakangi kami membuatkarya tulis pengabdian masyarakat tersebut,” paparnya. Lebih lanjut Iin menjelaskan, tujuan yang ingin dicapai pengabdian masyarakat ini yaknimengubah barang yang tidak terpakaimenjadi sesuatu yang memilikinilaijual.Selain itu,kegiatan tersebut jugabermanfaat gunameningakatkan kreativitasserta produktivitasibu rumah tangga yang ada disekitarnya. “Saat ini sudah ada kerjasama antara pihak desa dengan ibu-ibu PKK(Pembinaan Kesejahteraan keluarga, red.)untuk penjualannya. Jadi,ibu-ibu rumah tangga di Desa Mojorejo sudah mulai produktif dengan mendaur ulang sampah itu,” papar Iin. “Hingga saat ini ibu-ibu rumah tangga di Desa Mojorejo sudah memproduksi hasil daur ulang berupa produk dari daur ulang sampah plastik antara lain tas rajut dari kresek bekas, tas dari bungkus kopi dan leher botol gelas minuman, kardus bekas, serta masih banyak produk lain dari daur ulang yang lainnya. Produk program ini memiliki nilai jual tinggi dikarenakan motif-motif yang dibuat sangat menarik,” lanjut Iin. Hingga pada akhirnya, kerja keras ketiganya menorehkan prestasi gemilang dengan menjadiJuara 3 kategori Poster terbaik. Setiap poster biasanya memuatalurpenelitian,mulai dari latar belakang hingga solusi yang diberikan.Mochamad Zainul,sang aktor dari pembuatan poster inimenyatakan bahwa postertimnyadibuat berbedadari poster pada umumnya. “Ketika semua poster dipajang pada sesi pameran, kami merasa poster kami paling beda dengan yang lainnya. Meski poster yang kami buat tidak pada umumnya,tapi orang sudah bisa langsung menangkap maksudnya,” tukas Zainul. (jal/can)

UMM Tingkatkan Mutu Akademik lewat Penyusunan Profil KKMA dan TKKA

BADAN Kendali Mutu Akademik (BKMA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Senin (15/8) mengadakan Workshop Profil Komisi Kendali Mutu Akademik (KKMA) dan Tim Koordinasi Kegiatan Akademik (TKKA) di Ruang Sidang Senat Kampus III UMM. Workshop tersebut bakal menghasilkan sejumlah perumusan antara lain melingkupi kebijakan mutu, struktur organisasi, visi-misi dan tujuan, tugas pokok dan fungsi, serta program dan kegiatan. Profil KKMA dan TKKA nantinya dijadikan pedoman untuk berjalannya evaluasi di setiap tingkatan fakultas maupun program studi.Workshop dihadiri Dekan, Wakil Dekan I masing-masing fakultas juga kepala program studi yang terdapat di UMM. Penjelasan mengenai penyusunan profil KKMA dan TKKA ini disampaikan langsung oleh kepala BKMA, Prof. Dr. Ir Noor Harini, M.S. yang menyatakan bahwa diperlukan adanya penyusunan ulang profil guna menunjang mutu akademik yang berujung pada akreditasi program studi serta institusi. Diakuinya, profil KKMA dan TKKA saat ini sudah tidak sesuai dengan kondisi obyektif di lapangan. “Memang sudah dilakukan penyusunan profil ini pada tahun 2012 dulu. Perbaharuan ini dilakukan kembali sehingga bisa sesuai dengan kondisi objektif saat ini,” terangnya. Noor menyebut, pada  pasal 52 ayat 2 Undang-Undang (UU) No 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, dijelaskan bahwa penjaminan mutu dilakukan melalui penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian dan peningkatan standar pendidikan tinggi. Di sisi lain, Galih Wasis Wicaksono, M.Cs. selaku Kepala Divisi Kendali Mutu Sarana dan Prasarana Akademik menyatakan bahwa perlu juga adanya kesadaran dari mahasiswa untuk mau turut serta dalam penjaminan mutu akademik ini. “Mahasiswa juga harus mau ikut serta, bukan kemudian acuh terhadap sistem penjamin mutu akademik ini. Keikutsertaan mahasiswa dalam penilaian ini juga membantu universitas dalam mengevaluasi dosen,” jelas dosen Fakultas Teknik (FT) UMM ini. (jal/can/rin)

UMM Borong Gelar Kompetisi Al Quran Tingkat Nasional

SEBANYAK dua belas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyabet sejumlah gelar strategis dalam ajang Festival Al Quran Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah Tingkat Nasional yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 9-11 Agustus lalu. Dalam lomba yang diikuti lima puluhan universitas tersebut, UMM berhasil mengantongi delapan gelar juara pada tujuh cabang lomba berbeda. Festival ini bertema ”Al Quran sebagai Media Penguatan Kualitas Diri dalam Ilmu Pengetahuan dan Sains untuk Menghadapi Daya Saing Global”. Daftar pemenangnya antara lain dari Fakulas Agama Islam (FAI) Dewi Nur Diana sebagai Juara 1 Tahfidz 15 Juz, Bayu Dwi Arianto sebagai Juara 2 Fahmil Quran, Syaikul Islam sebagai Juara 2 Fahmil Quran, Weca Septia Aulia sebagai Juara 2 Fahmil Quran, Ainul Yaqin sebagai Juara Harapan 2 Tartil Quran, Nanang Qosim sebagai Juara 3 Kaligrafi; dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Farah Laila Romadona sebagai Juara 2 Tahfidz 1 Juz; dari Fakultas Teknik (FT) Ramadhan Dato sebagai Juara 3 Tilawatil Quran; dari Fakultas Hukum (FH) Ghulam Imaduddin sebagai Juara 3 Syahril Quran, M. Abdul Wahid sebagai Juara 3 Syahril Quran, serta; dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendikan (FKIP) Mila Insani sebagai Juara Harapan 2 Tartil Quran. Salah satu pembimbing lomba, Ahmad Fathoni, yang saat itu turut mendampingi mahasiswanya menjelaskan, meski waktu yang dipersiapkan terlampau sempit, Ia mengaku cukup puas dengan capaian mahasiswanya. “Waktu untuk persiapan lomba ini kurang lebih hanya satu minggu. Apalagi harus mendatangkan mahasiswa yang asalnya dari luar Jawa karena sedang liburan semester genap,” jelas Fathoni yang merupakan Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FAI tersebut. Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor III yang membidangi Kemahasiswaan, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si.M.Hum, mewacanakan pembentukan wadah khusus yang bergerak di bidang Al Quran sebagai bentuk kaderisasi.  Dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke depannya, UMM optimis akan dapat memborong lebih banyak gelar lagi. Ditemui pada kesempatan berbeda, Sidik mengatakan, selain mewacanakan dibentuknya UKM khusus al Quran, UMM juga mewacanakan pengadaan beasiswa khusus Penghafal al Quran atau Tahfidz. ”Semoga dengan beasiswa ini, kedepannya mahasiswa UMM semakin terpacu untuk terus berprestasi di ajang kompetisi al Quran lainnya,” kata Sidik. (jal/can/rin)