Dosen Psikologi UMM: Resolusi Butuh Target Realistis dan Tersistematis

Tahun baru acap kali menjadi momentum yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang untuk memperbarui dan menetapkan target-target yang akan dicapai. Biasanya tertuang dalam bentuk ‘resolusi’. Namun sayangnya, realita tak semanis ekspektasi. Tak sedikit  resolusi yang pada akhirnya gagal terwujud, mengapa hal itu bisa terjadi? Menanggapi pertanyaan tersebut, Dosen Psikologi Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Yuni Nurhamida, S.Psi., M.Si. menyebut ada beberapa alasannya. Mulai dari target yang tidak realitis hingga kurangnya perencanaan yang sistematis. “Terkadang, seseorang bertindak impulsif dengan menentukan target atau tujuan secara instan dalam membuat resolusi. Seringkali resolusi yang dibuat hanya karena ‘FOMO’ akan suatu tren atau hal yang dilakukan orang lain. Apalagi jika tanpa mempertimbangkan perbedaan dalam kemampuan dan kapasitas diri sendiri,” ungkapnya. Agar resolusi tak hanya sekedar wacana, Yuni membagikan kiat-kiat jitu yang dapat ditempuh dalam mewujudkannya. Kiat pertama sekaligus menjadi kunci tolok ukur tingkat terwujudnya resolusi adalah dimulai dari evaluasi diri. Diantaranya dengan mengetahui besar peluang dari posisi, kekuatan, dan kemampuan, serta kapasitas diri untuk berubah, baik secara finansial, kapasitas diri, maupun dukungan psikologis dari lingkungan sosial. Kemudian setelah itu, menetapkan tujuan-tujuan yang realistis (reachable) dan spesifik. “Selain itu, kita juga harus menetapkan tujuan dan tahapan yang fokus dan terarah, seperti memetakan target, menentukan timeline, dan aktifitas yang secara bertahap dapat mengarahkan pada tercapainya resolusi. Ini akan sangat membantu,” sambungnya. Meski nampak sederhana, transformasi diri membutuhkan komitmen dan konsistensi tinggi terhadap hal-hal kecil. Menurutnya, tercapainya target yang besar berangkat dari perubahan kecil yang dilakukan secara disiplin, hingga menjadi suatu kebiasaan (habit). Di sisi lain, Ia menyebut atmosfer lingkungan keluarga serta sosial yang positif mengambil peranan penting dalam keberhasilan proses transformasi diri. Selain itu, kemajuan teknologi serta perkembangan digitalisasi merupakan satu hal yang mutlak kita hadapi saat ini dan masa yang akan datang. Adapun bermedia sosial yang tepat dapat mendukung terwujudnya resolusi. “Lingkungan keluarga dan pertemanan yang ‘sehat’ (positif) membantu seseorang memperoleh informasi, pengakuan, dan dukungan yang dibutuhkan dalam proses tranformasi diri. Sebaliknya, prosesnya akan sulit terwujud tanpa support dari keduanya,” jelasnya. Terakhir, Ia mengungkapkan resolusi merupakan satu hal yang positif dan boleh saja dilakukan pada momen tahun baru, ulang tahun, idul fitri, dan lain sebagainya. Menurutnya, perencanaan sangat penting dalam menjalani kehidupan.  “Perencanaan adalah upaya yang bisa kita lakukan sebagai manusia, semuanya mutlak kembali kepada Allah SWT. Bersikap terbuka dengan opsi alternatif adalah upaya kita untuk bersiap terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi di luar rencana dan kendali kita,” pesannya. (din/wil)

Colloqium FEB UMM Beri Cara Akselerasi Pertumbuhan UKM

Kolaborasi antara dunia akademik, pelaku bisnis, dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Hal itu ditegaskan salah satu pemateri Dr. Uci Yuliati, MM. dalam colloqium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang bertema ‘Strategi Transformasi UKM: Inovasi, Literasi Digital, dan Kepemimpinan Visioner’ itu dilaksanakan pada 4 Januari 2025 lalu dengan menghadirkan sederet pemateri andal. Lebih lanjut, Uci juga membahas terkait inovasi yang relevan dengan kebutuhan pasar serta penguasaan literasi digital. Menurutnya, hal-hal itu merupakan pilar utama dalam mendukung pertumbuhan UKM di era modern. “UKM harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnis. Dalam hal ini adalah inovasi yang relevan dengan kebutuhan pasar serta penguasaan literasi digital. Dengan begitu pertumbuhan UKM di era modern akan lebih masif,” katanya. Ia juga menilai, peran dunia akademik dalam memberikan arahan dan pelatihan agar UKM bisa bergerak dengan apik dengan teknologi. Hal serupa juga harus dilakukan oleh pemerintah dengan menyiapkan program yang relevan untuk mendukung pertumbuhan UKM. Tema yang diusung mencerminkan tantangan sekaligus peluang yang dihadapi UKM di tengah era digital. Transformasi yang menitikberatkan pada inovasi, literasi digital, dan kepemimpinan visioner dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan daya saing UKM di pasar global. FEB UMM berharap acara ini dapat memberikan panduan komprehensif bagi pelaku usaha dalam mengatasi berbagai hambatan dan memanfaatkan teknologi secara optimal. Sementara itu, Dr. Titiek Ambarwati, MM. juga menyampaikan bahwa perubahan pola pikir di kalangan pemilik usaha juga menjadi kunci keberhasilan transformasi. Keberanian mengambil risiko dan komitmen untuk terus belajar adalah elemen esensial dalam adaptasi terhadap perubahan. Pemilik UKM harus siap menghadapi tantangan dan melihat setiap masalah sebagai peluang untuk tumbuh. “Inovasi dan program saja tidak cukup, tappu juga harus mampu mengelola dna menciptakan sumber daya manusia yang cakap untuk mendukung inovasi yang berkelanjutan.” tegasnya. Selain itu, kepemimpinan juga menjadi kunci yang bisa mengakselerasi pertumbuhan UKM. Hal itu ditegaskan Althaf Guhar El Naqvi, MM. Menurutnya, pemimpin UKM harus memiliki visi yang jelas dan kemampuan untuk menginspirasi timnya. Kepemimpinan yang kuat akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan di masa depan. “Generasi muda perlu dibekali dengan pendidikan yang mendorong kreativitas agar mampu menjadi pelaku bisnis yang inovatif. Tanpa kreativitas dan keberanian, sulit bagi UKM untuk bertahan di era digital ini,” tegasnya. Adapun FEB Kampus Putih berkomitmen untuk terus mendukung UKM melalui riset, pelatihan, dan kerja sama lintas sektor. Dengan begitu, akan muncul jalan yang bisa digunakan untuk para UKM dalam mengembangkan usaha. Colloqium ini juga diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian Indonesia. (*/vin/wil)

UMM Jadi Kampus Paling Berkelanjutan di Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih pencapaian membanggakan dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2024, Desember lalu. Tercatat, Kampus Putih sukses menjadi kampus paling berkelanjutan di Malang. Capaian ini tak lepas dari berbagai program dan aktivitas yang sejalan dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Pencapaian ini membuktikan bahwa UMM adalah kampus yang peduli lingkungan dan memberikan dampak positif. Di Malang Raya, UMM menjadi kampus paling berkelanjutan, mengalahkan Universitas Brawijaya (UB), UIN Malang, dan Universitas Negeri Malang (UM) dan lain-lain. Di tingkat PTMA se-Indonesia, UMM juga meraih posisi pertama, mengalahkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). “Alhamdulillah berkat kerja sama yang solid, UMM berhasil meraih peringkat yang sangat mengesankan. UMM terus berinovasi dengan berbagai program keberlanjutan, salah satunya adalah kampanye hidup sehat dan program parkir sepeda ontel yang dijalankan. Kami memang berkomitmen untuk terus meningkatkan program keberlanjutan lainnya dan memperkuat kesadaran civitas akademika dalam melestarikan lingkungan,” kata koordinator task force Sandi Wahyudiono, M.T. Adapun UI GreenMetric merupakan program tahunan untuk menilai upaya keberlanjutan universitas-universitas di dunia. Program ini bertujuan untuk mempromosikan universitas sebagai agen perubahan dalam keberlanjutan serta menyebarkan informasi terkait program-program berkelanjutan di kampus kepada pemerintah, badan lingkungan, dan masyarakat. Sandi menambahkan, GreenMetric juga berfungsi sebagai alat penilaian diri bagi institusi pendidikan tinggi dalam mengukur komitmen terhadap keberlanjutan dan pelestarian lingkungan sejalan dengan SDGs. Dosen Teknik itu melanjutkan bahwa pemeringkatan GreenMetric menilai universitas berdasarkan enam kriteria utama yakni infrastruktur, energi dan perubahan iklim, limbah, air, transportasi, serta pendidikan dan penelitian. Adapun UMM telah melakukan banyak hal terkait poin-poin tersebut. Misalnya penggunaan dan pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan PLTS, transportasi mobil buggy dan ckuter listrik untuk mobilisasi mahasiswa, bahkan melakukan penelitain dan pengabdian di bidang air dan energi di Subak, Bali. “Ini menunjukkan bahwa UMM siap berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang berkelanjutan. Meskipun pencapaian ini membanggakan, pihak universitas mengingatkan bahwa kesuksesan ini hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk terus berinovasi dan meningkatkan upaya keberlanjutan,” tegasnya. UMM tengah mengembangkan langkah strategis untuk menjaga dan meningkatkan keberlanjutan kampus. Tim GreenMetric UMM bekerja sama dengan Bidang 4, PSLK, dan Unit AP dalam merumuskan kebijakan dan inovasi. Salah satu kebijakan yang akan diterapkan adalah penggunaan lift yang lebih efisien energi, yang akan dilaksanakan bertahap di seluruh kampus. Kampanye “Go Green, Go Healthy” juga akan dilanjutkan untuk mendukung kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Sandi berharap, UMM dapat terus menjadi kampus hijau terkemuka di Indonesia dan aktif dalam kegiatan keberlanjutan. Dengan semangat tinggi, UMM berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata untuk mencapai Indonesia Emas 2045 yang berkelanjutan. “Keberhasilan ini bukan hanya tentang peringkat, tetapi tentang komitmen untuk terus berinovasi dan melangkah maju menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tutupnya. (*/wil)

Dosen FKIP-FH UMM Wujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui GEDSI dan Literasi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen untuk mendorong pendidikan berkualitas dan inklusif. Salah satunya melalui kegiatan yang dilaksanakan sederet dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Hukum (FH) UMM. Mereka melakukan program pendampingan di berbagai sekolah dasar (SD), termasuk di SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, akhir Desember ini. Kegiatan ini berfokus pada mewujudkan lingkungan sekolah ramah anak berbasis Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), dengan integrasi program literasi sekolah. Salah satu tim UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. menjelaskan program ini berupaya menciptakan ruang aman dan inklusif. Pendampingan yang dilakukan melibatkan guru, siswa, dan komunitas sekolah dalam menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung keberagaman. Para dosen memberikan pelatihan kepada para guru mengenai implementasi GEDSI dalam proses pembelajaran dan pengelolaan lingkungan sekolah. Hal ini mencakup pemahaman tentang pentingnya kesetaraan gender, inklusi bagi siswa berkebutuhan khusus, serta upaya pencegahan diskriminasi sosial. “Lingkungan sekolah ramah anak bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga bagaimana guru dan seluruh ekosistem sekolah mampu menciptakan suasana yang mendukung perkembangan emosional, sosial, dan akademik siswa tanpa ada diskriminasi,” katanya. Uniknya, program ini juga mengaitkan GEDSI dengan peningkatan literasi sekolah. Para siswa diajak untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis melalui kegiatan literasi yang relevan dengan tema inklusi dan keberagaman. Salah satu contohnya adalah lomba menulis cerita pendek bertema ‘Persahabatan dalam Keberagaman’ yang mendapat antusiasme tinggi dari siswa. “Kegiatan ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mendukung pengembangan karakter siswa. Pendampingan dari UMM sangat membantu kami mewujudkan sekolah ramah anak yang sesungguhnya,” kata Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Hana Ayudah, M.Pd. Adapun harapannya, pendampingan ini dapat memberikan dampak yang berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi UMM dalam mendukung pendidikan berkualitas sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan inklusif dan kesetaraan gender. Dengan sinergi antara GEDSI dan literasi, program ini membuktikan bahwa pendidikan ramah anak adalah kunci untuk mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan peduli terhadap keberagaman. (*/wil)

Rektor UMM: Kepala Daerah Ingin Berhasil, Prioritaskan Empat Aspek Ini

Pilkada serentak sudah usai dan para kepala daerah harus mulai bekerja memberikan yang terbaik untuk rakyat. Hal itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Menurutnya, ada empat aspek penting yang perlu diupayakan agar pemerintahan yang diemban kepala daerah bisa berjalan sukses dan berkelanjutan. Nazar mengatakan, keterbatasan dana masih menjadi problem utama pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Karena itu, pemilihan skala prioritas yang tepat adalah hal kursial untuk dilakukan agar kepuasan masyarakat atas public utilities setara dengan pajak yang dibayar. Nazar juga menilai bahwa prioritas yang tepat dalam pembangunan infrastruktur menjadi salah satu solusinya. Ini bisa dilakukan oleh kepala daerah berbagai daerah di Indonesia. Setidaknya, daerah-daerah bisa menyelesaikan dulu masalah infrastruktur di bidang kesehatan, pendidikan, dan pariwisata. Ditambah dengan kemudahan akses jalan di tiga bidang itu. Nazar memberikan contoh pada infrastruktur bidang wisata. Menurutnya, ketika orang selesai menikmati tempat wisata, seharusnya orang tersebut bisa bekerja lebih giat. Wisata diharapkan mengembalikan energi untuk produktif. Tujuan itu tidak akan tercapai ketika kondisi pariwisata mengecewakan. Tak terkecuali akses menuju lokasi wisata. Kemudian infrastruktur di bidang pendidikan. Minimal akses pendidikan dasar bagi masyarakat terpenuhi seluruhnya. Itu bisa dievaluasi dari seberapa banyak perbandingan anak usia sekolah dengan yang bersekolah atau Angka Partisipasi Murni (APM). Misalnya APM tingkat SD di Kota Malang sebesar 99,50 persen, Kota Batu 99,98 persen, dan Kabupaten Malang sebesar 98,63 persen. “Pemetaan data semacam itu bisa di jadikan dasar untuk pembangunan infrastruktur pendidikan. Jadi, prioritas penggunaan anggarannya digunakan untuk memastikan seluruh anak usia sekolah bisa menuntaskan pendidikan dasar lebih dulu. Adapun untuk memaksimalkan APM adalah pendidikan gratis. Namun untuk dapat mewujudkannya, masyarakat harus tertib dan ikhlas membayar pajak,” katanya. Hal serupa juga harus dilakukan di bidang kesehatan. Keberhasilan pembangunan infrastruktur dapat dilihat dari aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan. Misalnya seberapa dekat jarak tempat tinggal mereka dengan fasilitas kesehatan. Ukuran akhirnya bisa bermacam-macam. Seperti angka kematian ibu setelah melahirkan, Tuberculosis (TBC), stunting, hingga ketersediaan jumlah tenaga kesehatan (nakes). Sebagai contoh, berdasar data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) di Malang Raya, dalam 1,5 tahun, sudah ada sekitar 39 ibu hamil yang meninggal. Data itu bisa menjadi bahan untuk mengambil kebijakan tentang pembangunan infrastruktur kesehatan. “Terpenuhinya infrastruktur tiga bidang di atas perlu ditunjang dengan kelayakan akses jalan. Kelayakan jalan akan menunjang banyak hal, termasuk memecahkan masalah kendala pertumbuhan ekonomi dan pengembangan industri,” tambahnya. Adapun salah satu sumber anggaran untuk infrastruktur yakni APBD. Di dalamnya terdapat pajak daerah. Pembangunan infrastruktur memang membutuhkan dana yang sangat besar. Maka, lembaga eksekutif dan legislatif harus mampu mendistribusikannya sesuai kondisi di lapangan. Ini menjadi solusi tepat bagi berbagai daerah di Indonesia. (*/wil)

Dukung Program Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi

Pengembangan teknologi energi terbarukan menjadi salah satu fokus negara Indonesia. Begitu juga yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadikan EBT sebagai fokus utama. Melalui prodi Teknik Elektro, Fakultas Teknik UMM mengerjakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Adapun latar belakang pengembangan ini berakar dari roadmap penelitian kampus yang selaras dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Proyek PLTS dan PLTB ini telah diterapkan di beberapa lokasi strategis, termasuk Masjid Chengho Gua China di Desa Sitiarjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Masjid Ahmad Dahlan di Karangploso, Wagir kabupaten Malang, SMP Negeri 21 Malang, SMP Negeri 24 Malang, dan lainnya. Termasuk di dalamnya Kampus 3 UMM yang telah banyak menggunakan teknologi ini. Baca juga : Rektor UMM: Kepala Daerah Ingin Berhasil, Prioritaskan Empat Aspek Ini Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Machmud Effendy, ST, M.Eng. mengatakan, salah satu alasan utama memilih sederet daerah itu sebagai lokasi implementasi adalah permasalahan ketidakstabilan listrik yang sering terjadi. “Kami ingin menjadikan UMM sebagai ikon pengembangan energi terbarukan, terutama di sektor PLTS dan PLTB yang telah dimulai sejak 2012. Salah satu contohnya di Masjid Chengho, di mana listrik sering mati karena jaraknya jauh dari transmisi PLN. Dengan adanya PLTS ini kebutuhan listrik untuk pompa air dan penerangan dapat terpenuhi tanpa kendala” katanya. Pelaksanaan dalam proyek ini melibatkan berbagai pihak, termasuk PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan CSR PT Multi Sarana Insfrastruktur (BUMN) yang memberikan dukungan dana. Sementara, mitra CoE PLTS Teknik Elektro PT. Blue Energy bertindak sebagai inisiator utama yang berperan dalam pengadaan dan pemasangan panel surya. “PLTS memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sumber energi lainnya, terutama untuk lokasi terpencil. Teknologi ini bersifat off-grid sehingga tidak memerlukan izin dari PLN, instalasinya sederhana, dan tidak membutuhkan infrastruktur besar seperti bendungan atau pipa. Cukup dengan memasang panel, sistem sudah dapat berfungsi. Ini membuat PLTS lebih mudah dan praktis untuk diterapkan di banyak tempat,” tambahnya. Dari segi perawatan, PLTS dirancang untuk efisiensi jangka panjang. Panel surya dapat bertahan hingga 20 tahun dengan perawatan sederhana seperti pembersihan rutin setiap enam bulan. Machmud menyebutkan bahwa baterai pada PLTS memiliki masa pakai sekitar 4-5 tahun dan dilengkapi dengan sistem manajemen baterai agar lebih awet. Hal ini memastikan bahwa teknologi tetap efisien dan dapat digunakan dalam jangka Panjang. Baca juga : Belasan Mahasiswa Teknik Mesin UMM Exchange ke INTI Malaysia “Harapan besar untuk proyek ini adalah dapat membawa manfaat besar bagi masyarakat dan menjadi model yang dapat diterapkan di tempat lain. Kami ingin teknologi ini dikembangkan di masjid-masjid lain, pondok pesantren, atau puskesmas, sehingga energi terbarukan bisa digunakan lebih luas. Hal ini sejalan dengan visi UMM untuk terus mendukung pembangunan berkelanjutan melalui inovasi teknologi. Begitupun dengan visi pemerintah Indonesia terkait energi,” pungkasnya. (*/wil)

Belasan Mahasiswa Teknik Mesin UMM Exchange ke INTI Malaysia

Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan berdaya saing global. Kali ini, sebanyak 12 mahasiswa terpilih untuk mengikuti program bergengsi International Student Mobility di International University (INTI), Malaysia, yang akan berlangsung dari 6 Januari hingga 11 Mei 2025 nanti. Sebelumnya, Teknik Mesin UMM dan INTI Malaysia juga sudah melangsungkan kerjasama di bidang pertukaran dosen dan kolaborasi riset. Acara pelepasan resmi digelar pada Kamis 26 Desember lalu di Kampus UMM dengan dihadiri Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. dan Kepala International Relations Office, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP. Dalam pelepasan itu, Salis mendorong mahasiswa yang turut serta dalam program itu untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Kegiatan ini adalah peluang besar untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Tantangan yang Anda hadapi di luar negeri akan menjadi pengalaman berharga yang membentuk karakter Anda. Jadilah pribadi yang percaya diri, optimis, dan tetap rendah hati. Jaga nama baik almamater dan tunjukkan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di level internasional,” pesannya. Di sisi lain, Kepala IRO Listiari menambahkan bahwa program ini membuka pintu bagi mahasiswa untuk menjalin jejaring global. Membangun relasi yang kuat dengan berbagai negara dna berkolaborasi untuk menciptakan inovasi baru untuk masyarakat. “Pelajari keberagaman budaya dan ciptakan koneksi yang konstruktif. Jadilah aktif, tetapi tetap bijak dalam pergaulan. Jaga integritas sebagai mahasiswa UMM dan pastikan Anda menaati semua peraturan yang berlaku selama di Malaysia. Saya percaya, pengalaman ini akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi Anda, tetapi juga bagi perkembangan UMM di masa depan,” pesannya dengan penuh optimisme. Hal serupa juga disampaikan Ir. Iis Siti Aisyah, MT., Ph.D. IPM. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dari strategi internasionalisasi Teknik Mesin UMM. Menjadi langkah penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan global. “Kami ingin mahasiswa Teknik Mesin UMM tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki pengalaman internasional yang memperkaya kompetensi mereka. Semoga Anda menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain dan membawa manfaat besar untuk program studi ini,” jelasnya. Para mahasiswa peserta program juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan luar biasa ini. Mereka berkomitmen untuk memberikan yang terbaik selama mengikuti program di INTI, Malaysia. Kerja sama strategis antara Teknik Mesin UMM dan INTI Malaysia ini diharapkan terus membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman internasional, memperkuat kompetensi, dan membangun jejaring global yang bermanfaat untuk masa depan. (*/wil)

Tanggapi Isu Tren Sad Beige Mom, Dosen UMM: Orang Tua Tidak Boleh Egois

Tren parenting ‘Sad Beige Mom’ belakangan sedang naik daun dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Istilah ini kerap dikaitkan kepada orang tua yang menggunakan warna-warna lembut (netral) seperti warna beige, putih, dan krem, sebagai kiblat gaya estetika dalam pengasuhan anak. Diklaim memiliki nuansa classic dan bersih, tren ini menjamur ke berbagai kalangan masyarakat global, tak terkecuali Indonesia. Meski dianggap ‘aestethic’, tren ini masih menimbulkan pertanyaan besar mengenai dampaknya terhadap perkembangan psikis anak. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. menegaskan pentingnya pemilihan dan variasi warna dalam mendukung stimulasi visual dan perkembangan kognitif anak, sejak bayi. “Pada saat bayi beranjak usia 2-3 bulan, pergerakan benda dan suara-suara sangat berpengaruh terhadap stimulasi penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga) bayi. Sedangkan, dengan segala keterbatasan, penglihatan bayi cenderung menangkap benda berwarna cerah atau yang memiliki kontras tinggi, seperti hitam, putih, merah, kuning, dan lain sebagainya,” ungkapnya. Kemudian setelah itu, anak berada di tahap perkembangan stimulasi kognitif. Dimana pada tahap perkembangan ini, anak akan mulai mampu melakukan klasifikasi warna. Pada umumnya, orang tua akan memperkenalkan warna-warna dasar kepada anak, seperti merah, kuning, dan hijau. Sehingga, di tahap selanjutnya anak mampu melakukan klasifikasi warna yang diciptakan dari kombinasi warna dasar tersebut atau biasa dikenal dengan istilah warna pelangi. Disamping itu, Ia juga mengungkapkan psikologi warna juga merepresentasikan emosional, seperti warna cerah menggambarkan kecerian dan semangat, hitam berarti kesedihan yang mendalam, dan lainnya. “Biasanya anak akan cenderung mengenal warna dasar dan turunan kombinasinya atau warna-warna pelangi dari hasil perkembangan stimulasi kognitif. Sehingga, ketika anak hanya diberi satu warna dan warnanya tidak menarik perhatian anak, maka kemungkinan stimulasi kognisi anak tergolong kurang,” jelasnya. Terlepas dari fenomena tren ini, Iswinarti memandang, perbedaan selera seseorang terhadap warna, style dan sebagainya itu merupakan suatu hal yang wajar. Adapun penggunaan diksi ‘sad (kesedihan)’ dengan maksud memvonis dalam istilah tren ini dinilai cukup berlebihan. Namun, Ia juga menekankan sosok Ibu atau orang tua tidak boleh egois dengan memaksakan kehendak atau pikirannya kepada anak. Yang efeknya, dapat mengganggu perkembangan psikis, maupun kognitif anak. “Sejatinya, orang tua itu tidak boleh memaksa anak untuk menuruti kehendak atau passionnya kepada anak. Karena satu unsur yang tak kalah pentingnya dalam optimalisasi perkembangan anak ialah unsur stimulasi emosi yang tercermin dalam pola serta metode parenting orang tua kepada anak,” ungkapnya. Terakhir, Ia menegaskan pada masa stimulasi perkembangan anak, variasi warna penting diterapkan. Ia juga berharap masyarakat khususnya para orang tua lebih bijak lagi dalam memilih sesuatu yang berkaitan dengan parenting. (din/wil)

UMM Luncurkan CoE EYL: Inovasi Baru Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak

Program unggulan baru dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Center of Excellence (CoE) English for Young Learners (EYL), resmi diluncurkan melalui kegiatan Kids English Camp. Acara yang berlangsung selama lima hari, mulai dari 23 hingga 28 Desember 2024 ini diikuti oleh puluhan siswa sekolah dasar dari lingkungan sekitar kampus. Program tersebut menjadi langkah awal UMM dalam memperkenalkan pendekatan baru pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM, Drs. Jarum, M.Ed. menjelaskan, kegiatan ini juga berfokus pada pemberian pengalaman nyata kepada para mahasiswa dalam mengembangkan keahlian mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak. Tentunya sesuai dengan kebutuhan pendidikan modern. Melalui Kids English Camp, mahasiswa diperkenalkan dengan pendekatan inovatif seperti penggunaan media pembelajaran interaktif, permainan edukasi, dan praktik langsung di lapangan. “Penutupan English Kids Camp sekaligus penanda launching CoE EYL yang diikuti oleh siswa kelas 4-6 SD dari lingkungan sekitar UMM. Program ini mendapatkan respon yang positif serta antusiasme masyarakat sekitar yang baik, sehingga banyak siswa sekolah dasar yang berpartisipasi. Hal itu karena EYL tidak hanya melatih pengajaran, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa dalam manajemen sekolah internasional dan pengembangan bisnis di bidang Pendidikan,” tambahnya. Jarum menambahkan bahwa program CoE EYL UMM akan dilaksanakan selama satu tahun atau dua semester dengan kolaborasi yang melibatkan berbagai mitra internasional. Mahasiswa yang tergabung dalam program ini akan mendapatkan pengalaman bekerja sama dengan lembaga dari luar negeri seperti Abikasku dari Vietnam, Sapal Education dari Myanmar, hingga sekolah internasional di Kamboja. Selain itu, mitra lokal seperti My Little Island School, English First (EF), dan kursus privat internasional juga akan turut mendukung. “Kegiatan ini juga didukung dengan penggunaan fasilitas terbaik yang dimiliki oleh UMM, seperti American Corner, Laboratorium Bahasa, dan ruang-ruang belajar inovatif lainnya. Dengan fasilitas ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka dalam lingkungan yang menyerupai institusi pendidikan internasional. Selain itu, UMM terus mendorong kolaborasi aktif dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dudi) untuk memberikan kesempatan kerja langsung kepada para peserta,” kata Djarum, sapaannya. Dengan adanya program ini, UMM juga ingin menunjukkan komitmennya dalam menciptakan generasi pendidik yang mampu menginspirasi anak-anak untuk mencintai Bahasa Inggris sejak dini. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di bidang pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak. Melalui program ini, UMM optimis dapat menjadi pelopor dalam pengembangan pendidikan Bahasa Inggris berbasis internasional di Tanah Air. “Dari program CoE EYL UMM ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja global. Terutama dengan pendekatan inovatif dan kolaborasi yang luas. Ini menjadi model pembelajaran Bahasa Inggris yang tidak hanya efektif, tetapi juga berorientasi pada pengembangan wirausaha serta kemampuan manajerial di bidang pendidikan internasional,” tutupnya. (vin/wil)

Sambangi SMA, Agroteknologi UMM Ajari Cara manfaatkan Sampah Organik

Bumi dan tanah merupakan hal yang harus selalu dijaga manusia, termasuk oleh para generasi muda. Maka dari itu, tim dosen prodi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan pengabdian dan workshop cara merawat tanah ke anak-anak SMA, Desember ini. Salah satunya dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 2 Batu. Adapun tema yang diangkat adalah ‘Pemanfaatan Sampah Organik untuk Memperbaiki Sifat Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah”. Adalah Dyah Roeswitawati, Ali Ikhwan, Aulia Zaskia, dan Ilmam Zul Fahmi yang bersama-sama memberikan penjelasan dan pengalaman langsung pada siswa -siswi SMA. Dyah menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada siswa dan guru tentang cara mengelola sampah organik dengan teknologi yang sederhana namun efektif. “Salah satu metode yang diperkenalkan adalah memanfaatkan bakteri untuk fermentasi limbah dapur. Teknologi ini dirancang agar mudah diterapkan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah,” katanya. Selain itu, ada sederet edukasi lain yang diberikan. Mulai dari cara memilah dan mengumpulkan limbah organik hingga proses fermentasi limbah dapur menggunakan bakteri khusus. Bahkan juga bagaimana memanfaatan kompos hasil fermentasi untuk menyuburkan tanah. Dyah melanjutkan, antusiasme para peserta sangat baik ketika ikut di setiap tahap pelatihan. Mereka diajari cara memanfaatkan limbah dapur seperti sisa sayur dan buah untuk diolah menjadi kompos. “Ada banyak manfaat dari penggunaan kompos, seperti memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan hara, dan mendukung kehidupan mikroorganisme di dalam tanah. Pengetahuan seperti ini sangatlah penting bagi generasi muda. Siapa lagi yang akan merawat bumi khususnya tanah jika bukan para penerus generasi? Jangan sampai mereka tidak paham dan malah merusak bumi,” tambahnya. Tim itu berharap program ini dapat membantu siswa dan guru mengelola limbah dengan lebih baik, sekaligus memberi dampak positif pada lingkungan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi sekolah lain untuk melakukan hal yang sama. Pada akhir kegiatan, para guru dan siswa juga mendapatkan modul pelatihan dan demonstrasi praktik pembuatan kompos. Sehingga, SMK Muhammadiyah 2 Batu diharapkan dapat menjadi percontohan dalam pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan. Rencananya, program ini akan diperluas ke sekolah-sekolah lain di wilayah sekitar. “Dengan langkah kecil ini, tim dosen Prodi Agroteknologi UMM ingin membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah organik demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan lestari,” pungkasnya mengakhiri. (*/wil)