Bazaar FLSP, Cara UMM Tingkatkan Skill Bahasa Mahasiswa

Demi meningkatkan skill bahasa Inggris mahasiswanya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan Bazar Inovasi melalui program Language Center FLSP (Foreign Language for Specific Purposes), 27 Desember lalu. Menariknya, para mahasiswa diwajibkan untuk menggunakna bahasa Inggris dalma bertransaksi. Ini menjadi upaya penguatan bahasa yang diberikan untuk mahasiswa. “Kegiatan ini bukan hanya sekedar ajang untuk memamerkan hasil kreativitas mahasiswa. Tetapi juga menjadi sarana untuk menguji kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, khususnya dalam konteks transaksi jual beli,” kata koordinator bazar Moh. Kholilurrahman. Dia mengatakan program ini merupakan implementasi dari mata kuliah speaking, yaitu Speaking 1 dan 2, yang dikhususkan untuk mengasah keterampilan berbicara mahasiswa secara langsung. Dalam bazar ini, mahasiswa tidak hanya berlatih berbicara, tetapi juga mempraktikkan cara menjelaskan produk yang mereka jual kepada pembeli dengan menggunakan bahasa Inggris. Produk yang dijual pun merupakan hasil inovasi mahasiswa sendiri, yang diproduksi dengan semangat kewirausahaan dan kreativitas yang tinggi. “Kami ingin mahasiswa terbiasa berbicara bahasa Inggris di situasi yang nyata, tidak hanya ketika di dalam kelas. Kami mendorong mahasiswa agar lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris, baik saat berbicara dengan teman sekelas maupun dengan orang lain” ujarnya. Kegiatan ini menjadi semakin menarik dengan adanya interaksi langsung menggunakan bahasa Inggris antara mahasiswa dan pembeli. Adapun program bazar ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2022 dan terus berkembang setiap tahunnya. Pada setiap tahun ajaran, kegiatan ini selalu sukses menarik perhatian banyak orang. Adapun jika ada mahasiswa yang yang merasa kesulitan, mereka harus bertanya dan belajar bagaimana menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Selain berfungsi sebagai ajang latihan bahasa, kegiatan ini juga memberikan dampak positif dalam hal pemasukan tambahan bagi mahasiswa. Setiap kelompok berusaha mempromosikan dan menjual produk mereka dengan strategi pemasaran yang menarik. Mulai dari kopi, jelly sedot (jedot), salad, olahan makanan ringan, hingga produk-rpoduk menairk seperti manik-manik. Sementara itu,salah satu pengunjung Khoirul Anam mengatakan bazar ini menjadi wadah yang menarik baginya untuk mempraktekkan bahasa Inggris. Apalagi biasanya ia merasa malu mengobrol bahasa Inggris dengan teman-teman lain. Maka, adanya kegiatan ini menjadi wadah menyenangkan untuk mengekspresikan skillnya. “Biasanya kalau kita ngomong bahasa Inggris selalu saja ada yang meremehkan atau mengira kita pamer. Makanya, adanya bazaar ini membuat saya dan teman-teman tertantang dan bebas berbicara bahasa Inggris. Selain itu, produk-produk yang ditawarkan juga lucu dan enak. Semoga bisa terus berlangsung setiap tahun,” pungkasnya. (nam/wil)
Kajian FAI UMM Uraikan Riset tentang Moderasi Beragama

Istilah moderasi beragama memiliki akar dalam tradisi intelektual Muhammadiyah. Hal itu ditegaskan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dari Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. Adapun ia menyampaikannya dalam agenda garapan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Desember ini. Acara bertajuk ‘Dimensi Ideologi dan Kepemimpinan dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah’ itu turut dihadiri sederet pakar yang membahas moderasi dari berbagai perspektif. Lebih lanjut, Zainul menjelaskan bahwa tradisi itu perlu digunakan dengan bijaksana. Hal itu bertujuan agar tidak menjadi alat untuk memarginalisasi kelompok lain. “Moderasi tentu harus dijalankan namun jangan sampai memarginalisasi kelompok lain. Dengan begitu, kit abisa hiduo berdampingan dengan damai,” katanya. Sementara itu, Guru Besar Sosiologi UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. membahas mengenai dimensi kepemimpinan dan ideologi dalam penguatan dan pelembagaan moderasi beragama di Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa ada dua dimensi utama yang menjadi fokus dalma penelitiannya, yakni ideologi dan kepemimpinan. “Muhammadiyah adalah gerakan Islam moderat yang memiliki ciri kepemimpinan visioner, terutama di bawah Haedar Nashir. Kepemimpinan ini berhasil merekonstruksi ideologi Muhammadiyah secara sistematis dan berkelanjutan,” tambahnya. Hal serupa juga disampaikan Prof. Khozin dan Prof. Ahmad yang menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah berupaya menjaga identitasnya di tengah berbagai tantangan. Begitupun dengan pergeseran fokus dari perdebatan metafisika menuju ranah etika, sehingga tercipta dialog yang konstruktif dan inklusif antar kelompok masyarakat. Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi para peserta mengenai pentingnya nilai-nilai moderasi beragama, sekaligus memperkuat pemahaman tentang peran kepemimpinan moderat dalam menjaga harmoni keagamaan di Indonesia. Melalui diseminasi ini, nilai-nilai moderasi diharapkan dapat lebih mengakar di dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam konteks Muhammadiyah. (*/wil)
30 Tahun Perikanan UMM, Alumni Berikan Beasiswa ke Mahasiswa

Rasa kekeluargaan alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa terasa dan terjaga. Salah satunya melalui pemberian beasiswa kepada sederet mahasiswa dari para alumni prodi Perikanan. Penyerahan itu dilaksanakan pada reuni akbar sekaligus memperingati tiga dekade berdirinya prodi Perikanan UMM. Dilangsungkan pada 25 Desember lalu, acara ini dihadiri sederet alumni, dosen, dan mahasiswa aktif. Para mahasiswa yang mendapat beasiswa merupakan mereka yang berprestasi, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Beasiswa ini tak lepas dari banyaknya alumni sukses yang tersebar di berbagai sektor di seluruh Indonesia. Mulai dari industri perikanan, pemerintahan, hingga wirausaha. “Agenda ini bukan sekadar pertemuan semata, tapi juga untuk mempererat sinergi dan kolaborasi antara alumni dan institusi. Kami berharap alumni dapat terus memberikan kontribusi nyata, baik dalam pengembangan kurikulum maupun dalam mendukung mahasiswa aktif melalui mentoring atau peluang kerja. Ini juga menjadi komitmen kami untuk terus berinovasi dan mencetak lulusan unggul dan berdaya saing global,” kata Inisiator Jurusan Perikanan UMM, Assoc. Prof. Dr. Ir. David Hermawan, MP, IPM. Reuni akbar alumni ini juga menjadi ajang nostalgia dan berbagi pengalaman antara para alumni yang telah berkarier di berbagai bidang. Selain itu juga menjadi wadah untuk memperkuat jejaring alumni demi mendukung perkembangan Prodi Perikanan UMM ke depannya. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, MT, mengapresiasi kontribusi para alumni dalam membawa nama baik universitas. “Kehadiran dan kesuksesan anda semua di luar sana adalah cerminan kualitas pendidikan yang telah diberikan oleh Prodi Perikanan UMM. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus,” ujarnya. Adapun acara tersebut mencakup sharing session perjalanan kiprah alumni bertema ‘Membangun Sinergi dan Kolaborasi Alumni untuk Masa Depan Perikanan Berkelanjutan’ dan sesi pemilihan pengurus Ikatan Alumni Perikanan (IKAPI) UMM periode 2025-2029. Terpilih sebagai Ketua Umum IKAPI adalah Herman Jaya, S.Pi. seorang pengusaha dan Direktur PT. Barru Mandiri Nusantara. Ia juga baru saja terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan periode 2024-2029. (*/Wil)
Kolaborasi Teknik Mesin UMM dan Puspalad AD Kembangkan Prototipe Inovasi Militer

Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi memulai Perjanjian Kerja Sama Strategis dan Taktis (PKST) dengan berbagai perusahan ternama. Pada 23 Desember lalu, mereka menjalin kolaborasi dengan SRENA Mabes Angkatan Darat (Litbgn Asro), Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad), dan PT Garuda Makmur Perkasa. Adapun Teknik Mesin UMM mengambil peran sebagai tim ahli. Ketua prodi teknik mesin UMM Ir. Iis Siti Aisyah, MT., Ph.D. menjelaskan, para mahasiswa turut dilibatkan sebagai bagian dari pengembangan keterampilan praktis mereka. Fokus utama kegiatan adalah membuat prototipe alat pelepas dan pemasang ban multi-kendaraan serta pelepas dan pemasang ban runflat pada panser tahap II. Selain desain pelepas runflat, tim juga mendesain truk dengan berbagai fitur, seperti penguatan chasis, konstruksi kabin dengan dua pack gantry system, sidewall bukaan samping dengan hidrolik dan jackstand, tailgate yang luas dengan tambahan pelat untuk mendukung motor forklift, serta pemetaan seluruh peralatan di atas truk. Menurutnya, truk ini sangat relevan dengan tuntutan operasional di lapangan. Secara teknis, truk ini dirancang untuk mempercepat proses kerja pemasangan dan pelepasan ban, yang sebelumnya membutuhkan waktu lama dan sering terkendala alat yang tidak memadai. “Selain itu, truk ini dirancang agar mobile, sehingga mampu mendukung kebutuhan operasional militer di lokasi-lokasi latihan perang dengan cepat dan efisien. Mobilitas dan efisiensi ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dan fleksibilitas tim dalam menjalankan misi,” tambah Iis. Lebih lanjut, ia menilai kolaborasi tersebut mencerminkan komitmen prodi dalam memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi yang mendukung pertahanan nasional. Dengan melibatkan mahasiswa, teknik mesin UMM ingin memberikan mereka kesempatan untuk berkontribusi pada proyek strategis sekaligus meningkatkan kompetensi teknis. Sebagai puncak dari kerja sama ini, diadakan kegiatan uji fungsi litbanghan Puspalad TA 2024 di Paldam Jaya. Dirbinlitbang Puspalad, Kolonel Cpl Sumbogo Widy Hartono, SE., MM., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan uji fungsi tersebut. “Kerja sama ini menunjukkan sinergi yang kuat antara institusi akademik dan militer. Hasilnya tidak hanya mendukung kebutuhan operasional, tetapi juga membuka peluang inovasi lebih lanjut,” ungkapnya. Adapun kegiatan uji fungsi berjalan dengan sukses, menunjukkan kesiapan alat yang telah dirancang dan diuji untuk memenuhi standar operasional yang dibutuhkan. Dengan keberhasilan ini, Teknik Mesin UMM semakin memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam pengembangan teknologi berbasis penelitian dan inovasi. (*/wil)
Upgrade Rohani, UMM Berikan Kuliah Subuh bagi Maba

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki berbagai kegiatan khas dan menarik. Salah satunya Kuliah Sabtu Subuh (KSS) yang dilaksanakan rutin oleh bagian Pendidikan dan Pengajaran MKWK. KSS menjadi ekosistem pembinaan Al Islam Kemuhammadiyahan untuk memperkuat dimensi keilmuan, sosial dan spiritual. Adapun pada kesempatan itu, hadir Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. yang memberikan wawasan baru pada mahasiswa. Diikuti lebih dari 3.000 mahasiswa luring dan daring, KSS mengkaji tentang Islam Berkemajuan Untuk Gen Z. Syamsul bercerita, sejak duduk di bangku kelas 3 SMP dahulu, ia bercita-cita menjadi seorang guru Agama. “Dahulu, saya terinspirasi dari buku sejarah pendidikan Islam. Masjid di Madinah yang dibangun Rasulullah sangat multifungsi. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga tempat menimba ilmu. Masjid itu cikal bakal madrasah, cikal bakal pendidikan Islam, tempat mengembangkan ilmu pengetahuan,” katanya. Menurut Syamsul, dari Masjid UMM inilah mahasiswa dapat membangun pengalaman keilmuan mereka. Selain itu, mahasiswa juga perlu memiliki pengalaman sosial. Dalam beberapa hal manusia secara fitrah butuh pembiasaan, sebagai misal shalat berjamaaah. Istilah jamaaah menjadi sarana mewujudkan social engagement. Yaitu, sebuah proses berkomunikasi dan keterlibatan dalam komunitas. “Kegiatan shalat berjamaah ini penting untuk mewujudkan social engagement. Jadi, punya komunitas, punya social engagement, dengan berjamaah itu bikin sehat,” ungkap Syamsul. Syamsul juga menjelaskan mengenai QS. al Hasyr ayat 18. Mengutip konsep ketakwaan dari Muhammad Asad, ia menyebut bahwa kata taqwa sebagai God’s consciousness (kesadaran ilahiah) dan muttaqin sebagai all the God-conscious (orang-orang yang selalu sadar akan kehadiran Tuhan). Sehingga, bertakwa adalah merasakan, menghayati kehadiran Allah di mana pun dan kapan pun manusia berada. Kesadaran Ilahiah adalah puncak pengalaman spiritual, dan tidak terwujud secara tiba-tiba. Melalui pembiasaan shalat dapat menjadi sarana menuju kesadaran Ilahiah ini. Lebih lanjut, Syamsul kembali mengenalkan lima karakteristik Islam Berkemajuan dalam Muhammadiyah. Pertama yaitu Islam yang berdasar pada tauhid (al -Mabni ‘ala al -Tauhid), kedua Islam yang bersumber pada Alquran dan Sunnah, dan ketiga yakni Islam yang menghidupkan ijtihad dan tajdid. Kemudian yang keempat yakni Islam yang mengembangkan wastathiyah (Tanmiyat al-Wasathiyah) serta kelima yakni Islam yang mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. “Maka sebagai Gen Z yang hidup di era yang semakin kompleks ini, penting bagi anda memiliki etos muslim yang berkemajuan dan progresif. Basis pertama adalah tauhid selalu optimis kepada Allah. Membangun optimisme dengan pembiasaan shalat. Yang kedua, gemar membaca Alquran dan memanfaatkannya untuk kehidupa. Ketiga, anda harus berwawasan tajdid, critical thinking. Keempat dan kelima yakni sikap moderat dan menebar Islam rahmatan lil alamin,” tutupnya. (*/wil)
Workshop PGSD UMM Ajari Mahasiswa Pendidikan Kembangkan Potensi Bisnis

Meski belajar di bidang pendidikan, mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) juga bisa masuk ke ranah wirausaha. Hal itu ditegaskan founder dan owner Little Bee Day Care Yorita Febry Lismanda dalam workshop yang dilaksanakan PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada pertengahan Desember ini. Agenda yang bertajuk Shaping Quality Educators with a Entrepreneur Mindset itu diikuti ratusan mahasiswa yang memiliki potensi wirausaha. “Pendidik atau wirausaha? Tentu bisa dua-duanya selama bisa membagi waktu. Hal yang tak kalah penting adalah bagaimana teman-teman bisa bertanggungjawab atas pilihan dan kesempatan yang dilaksanakan,” katanya. Yorita juga menegaskan bahwa jika ingin menjadi pendidik, maka mereka harus bisa membimbing, mengajar, dan sabar memajukan generasi muda agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik. Ia menjelaskan bahwa, saat ini peluang menjadi guru semakin lama semakin sedikit, namun di lain sisi kebutuhan pendidikan dibutuhkan sepanjang hayat. Sementara itu, jika para peserta ingin menjadi wirausaha maka mereka harus memiliki mindset menciptakan nilai, menghasilkan keuntungan, dan menawarkan solusi dan kebutuhan masyarakat. ]Jika ingin berwirausaha maka mereka harus belajar bagaimana untuk menumbuhkan jiwa yang kreatif dan inovatif, berani mengambil resiko, dan berorientasi pada solusi. Menariknya, jika mahasiswa PGSD ingin menjadi keduanya, bisa mengkombinasikannya dengan beberapa usaha-usaha berikut. Di antaranya membuka kursus atau pelatihan online. Melalui kursus, mereka bisa mengajarkan keterampilan seperti desain grafis, coding, atau bahasa asing. Cara lain bisa dengan menjual produk edukasi seperti menulis buku pelajaran, membuat aplikasi edukasi atau menjual modul pembelajaran. Menurutnya, melalui wirausaha, mereka tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat. “Seperti apa yang disampaikan Rasulullah Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki. Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur,” katanya. Di sisi lain, menurut koordinator acara Bahrul Ulum, M.Pd. mengatakan, workshop ini bertujuan menanamkan jiwa wirausaha mahasiswa PGSD UMM untuk membentuk strategi dan peluang pendidikan prima di era global. Harapannya, mereka bisa terinspirasi dan mampu menjadi pendidik serta wirausahawan di masa yang akan datang. (*/wil)
Dosen FH UMM tentang Pilkada oleh DPRD: Antara Efisiensi dan Demokrasi

Pemilihan kepala daerah di Indonesia kembali menjadi isu hangat yang kembali diperbincangkan, terutama terkait wacana pemilihan oleh DPRD. Sistem ini dinilai lebih efisien dibandingkan pemilihan langsung oleh rakyat yang memakan biaya besar. Namun, efisiensi ini dibayangi kekhawatiran mengenai kemunduran nilai demokrasi. Dari perspektif hukum, konstitusi Indonesia memungkinkan keduanya, asalkan dilakukan secara demokratis. Salah satu dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Sholahuddin Al-Fatih, MH. turut memberikan tanggapannya terkait hal itu. “Undang-Undang Dasar 1945 tidak menentukan secara spesifik apakah kepala daerah harus dipilih langsung atau melalui DPRD. Keduanya diperbolehkan selama dilakukan secara demokratis. Dapat ditekankan bahwa demokrasi tidak hanya berarti pemilihan langsung, tetapi juga dapat diwujudkan melalui representasi oleh DPRD. Salah satu alasan utama yang mendukung sistem pemilihan oleh DPRD adalah efisiensi anggaran,” jelasnya. Pilkada langsung membutuhkan dana besar untuk mencetak surat suara, mendistribusikan logistik, hingga pelaksanaan kampanye. Di beberapa daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) rendah, seperti di Indonesia Timur, biaya pilkada bahkan menyedot lebih dari setengah pendapatan daerah. Padahal dana itu seharusnya digunakan untuk pembangunan. “Pilkada langsung di daerah-daerah rawan seperti Papua sering kali menimbulkan konflik antar pendukung yang berujung kekerasan. Bahkan ada laporan tentang hilangnya nyawa akibat perseteruan politik. Maka pemilihan melalui DPRD dapat mengurangi potensi konflik semacam itu karena hanya melibatkan anggota DPRD sebagai pemilih,” katanya. Meski demikian, menurutnya wacana ini tidak luput dari kritik. Pemilihan melalui DPRD dianggap mengurangi partisipasi langsung rakyat dalam demokrasi. Sistem ini dikhawatirkan dapat membuka celah untuk praktik politik uang di kalangan DPRD, yang sebelumnya terjadi di tingkat masyarakat. Kekhawatiran ini menjadi salah satu argumen utama bagi kelompok yang menolak sistem tersebut. “Kita tidak boleh mengabaikan risiko bahwa praktik jual-beli suara bisa terjadi di DPRD. Namun, hal ini hanya berupa praduga dan perlu diuji melalui mekanisme pelaksanaan yang transparan. Pemilihan oleh DPRD bukan berarti demokrasi hilang, melainkan sebuah penyesuaian untuk efisiensi,” tambah Fatih. Sebagai alternatif, solusi yang Fatih usulkan adalah sistem campuran. Daerah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tinggi dan indeks kerawanan demokrasi rendah, seperti Jakarta, dapat tetap menyelenggarakan pilkada langsung. Sementara itu, daerah dengan tingkat kerawanan tinggi, seperti Papua, disarankan untuk menggunakan sistem pemilihan oleh DPRD demi mencegah konflik yang meluas. “Negara seperti Malaysia dan India sudah menerapkan sistem serupa. Di Malaysia, pemilihan oleh parlemen lokal berhasil karena homogenitas masyarakatnya yang tinggi. Namun, dapat digarisbawahi bahwa sistem tersebut belum tentu cocok sepenuhnya di Indonesia karena karakteristik masyarakat yang berbeda,” kata dosen asal Gresik itu. Terakhir, Fatih mengatakan bahwa pemilihan kepala daerah oleh DPRD memang menawarkan efisiensi anggaran dan mengurangi konflik di masyarakat. Namun, potensi risiko seperti kemunduran demokrasi dan korupsi tetap menjadi tantangan besar. Dengan regulasi yang tepat dan pendekatan yang fleksibel, sistem ini dapat menjadi solusi untuk beberapa daerah tanpa mengorbankan prinsip demokrasi secara keseluruhan. (vin/wil)
Tim UMM Kembangkan Obat Nanopartikel Bantu Atasi Diabetes

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembangkan obat diabetes nanopartikel dari bahan-bahan alami yang mudah didapatkan. Upaya ini bahkan membawa mereka meraih juara 1 kategori PKM RE-2 di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Tingkat Nasional (Pimtanas) 2024. Adalah Wildan Hidayatullah selaku ketua tim, Aisyiah Apriliano dan Fikri Maya Silvia mahasiswa dari prodi Farmasi, serta Serli Viviani Patrisia mahasiswa prodi Akuakultur yang mengembangkannya. Wildan menjelaskan, menurut data dari IDF (International Diabetes Federation) pada tahun 2021 penderita penyakit diabetes di dunia diperkirakan mencapai 536,6 juta orang (sebesar 10,5%). Angka ini dinilai akan meningkat hingga 783,2 juta orang (12,2%) pada tahun 2045. Ini menjadi alasan yang melatarbelakangi adanya riset pengembangan pada obat diabetes nanopartikel ini. Dalam pengembangannya, mereka menggunakan bahan alami dari Alga Arthrospira platensis yang memiliki potensi sebagai anti-diabetes dan mineral selenium yang digunakan sebagai kombinasi pembuatan nanopartikel untuk obat ini. Hasil uji coba in vivo dengan pemakaiaan obat pada hewan mencit (Mus musculus) selama 15 hari menunjukkan bahwa obat diabetes nanopartikel ini dapat menurunkan gula darah, meningkatkan berat badan dan dapat meningkatkan penutupan luka pada hewan uji. Sementara itu, pada uji coba in silico, terbukti obat ini memiliki mekanisme kerja sebagai anti-diabetes dengan baik menghambat salah satu protein penyebab diabetes. Adapun bentuk sediaan dari obat diabetes ini dapat diinovasikan kembali nantinya seperti dalam bentuk serbuk, tablet, ataupun sirup. Wildan mengatakan, kelebihan dari obat diabetes ini adalah bahan utama pembuatannya yang mudah ditemukan, menggunakan bahan yang alami, serta produk obat yang berbentuk nanopartikel sehingga dapat dengan mudah memberikan efek pada manusia. Adapun kekuranganya adalah belum dilakukannya pengujian lebih lanjut pada manusia. Sehingga mereka belum mengetahui efek jangka panjang dari penggunaan obat ini. Ke depannya, mereka akan mengembangkan obat nanopartikel ini dan mengujinya dengan baik. Selain itu juga mengembangkan obat lain untuk berbagai penyakit lain seperti kanker dan lain-lain. “Tantangan dari kami selama pengembangkan obat ini adalah produk obat yang berbentuk nanopartikel. Sehingga alat yang digunakan dalam pembuatannya harus memadai. Terkait kemenangan ini, kami merasa senang dan bangga karena semua usaha yang kami lakukan selama sempat bulan terbayar tuntas,” katanya. Sebagai penutup, Wildan juga berpesan kepada anak-anak muda lain untuk tidak takut mencoba berbagai hal baru. Dengan mencoba, anak muda bisa tahu dan menjadi tolak ukur sebarapa jauh mereka sudah berusaha. “Anak muda jangan takut mencoba, berikan inovasi dan solusi untuk negeri,” tegasnya mengakhiri. (zaf/wil)
Emil Dardak di Kajian Kesos UMM: Kesehatan, Pendidikan, dan Ekonomi Punya Peran Vital

Kesehatan dan pendidikan menjadi hal yang perlu diperhatikan, namun kesejahteraan ekonomi juga tidak kalah penting bagi masyarakat. Dengan begitu ada harapan bagi para pekerja sosial untuk lebih meningkatkan pelayanan yang dimiliki. Hal itu dijelaskan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak sebagai salah satu pemateri dalam agenda kuliah umum nasional yang diadakan oleh program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan bertemakan ‘Paradigma Baru dalam Manajemen Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia’ tersebut dihadiri oleh 260 peserta pada 17 Desember lalu. Menariknya, turut hadir berbagai mahasiswa dari latara belakang dan agama yang berbeda. Ini juga menjadi bukti inklusivitas UMM dalam melaksanakan kiprahnya. Emil mengatakan, untuk mensejahterakan ekonomi masyarakat, solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengatasi kemiskinan. Misalnya dengan upaya pemenuhan kebutuhan dasar atau pemberian bantuan sosial kepada masyarakat yang dikategorikan kurang mampu. “Maka cara agar masyarakat dapat lepas dari kemiskinan yakni dengan tidak hanya mengandalkan bantuan sosial saja, tetapi dengan membiarkan masyarakat tersebut mandiri secara ekonomi. Inilah tantangan yang harus lebih dulu ditangani,” katanya. Menurutnya, ada empat pilar baru dalma kesejahteraan sosial. Di antaranya teknologi pelayanan publik, perubahan lansekap ekonomi, integrasi jaring pengaman sosial, dan demografi serta sosiokultur. Dalam hal teknologi pelayanan publik, pemerintahan bisa menggunakan big data, AI dan teknologi sebagai sarana prasarana. Meski banyak tantangan yang harus dihadapi, namun dengan memaksimalkan SDM pekerja sosial, ia optimis dapat meningkatkan pelayanan kesejahteraan sosial di Indonesia. Turut hadir aktivis penggerak masyarakat sekaligus alumnus Kesos UMM Luthfi Jayadi Kurniawan. Ia menjelaskan bahwa negara wajib melindungi para warga negaranya. Seperti yang tertera dala sila ketika yang membahas mengenai keadilan masyarakat. “Yang cuku memprihatinkan adalanya, banyak orang berpikir bahwa pekerja sosial sama halnya dengan orang yang sedang bekerja bakti di lingkungan RT. Padahal tidak seperti itu. Saya yakin para alumni prodi Kesos UMM punya potensi dan kualitas untuk menjadi pekerja sosial yang baik. Maka dari itu, mari definisikan profesi pekerja sosial ini dengan tepat karena kita bekerja untuk kemanusiaan,” katanya. Terkait agenda itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik menjelaskan bahwa manajemen pembangunan kesejahteraan sosial dapat berbasis dasar negara yakni pancasila. “Negara harus mampu membuka akses bagi segenap warganya. Terutama untuk mendapatkan akses untuk kesetaraan kehidupan yang layak. Contohnya pada pemenuhan kebutuhan pokok atau kekayaan yang wujudnya kemakmuran,” katanya. (zaf/wil)
Gandeng Kemendiktisaintek, PLTMH UMM Siap Dikembangkan di Berbagai Daerah se-Indonesia

Berbagai program Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selaras dengan program utama Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Dua di antaranya adalah energi dan air ayng diimplementasikan melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang sudah UMM bangun sejak lama di beberapa titik di Malang. Termasuk PLTMH yang dibangun di wisata Sumber Maron Kabupaten Malang. Hasil program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) ini bahkan menjadi daya tarik edukasi dan siap dijadikan percontohan untuk berbagai daerah di Indonesia. Hal itu ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Prof. Fauzan yang turut serta hadir dan mengunjungi PLTMH Sumber Maron. Ia mengatakan bahwa kedatangannya dan rombongan Kemendiktisaintek merupakan upaya menemukan dan mencari praktek baik bagaimana karya perguruan tinggi bisa dilaksanakan dan bermanfaat bagi masyarakat. Termasuk bagaimana PLTMH bisa meningkatkan ekonomi dan juga sosial di sekitarnya. Menurutnya, ini bukan hanya masalah bagaimana menerapkan teknologi tapi juga bagaimana dampak ekonomi yang terjadi ketika teknologi ada. Selain itu, dalam pengembangannya kampus memang membutuhkan ekosistem agar teknologi yang ada bisa lebih berkembang. Ia juga menjelaskan bahwa dalam 17 prioritas program Presiden Prabowo, ada tiga hal yang utama yakni swasembada pangan, energi, dan air. Tiga-tiganya ternyata sudah dilakukan UMM dengan baik. Menurutnya, PLTMH yang dikembangkan UMM ini tentu bisa diterapkan di tempat-tempat lain di Indonesia. Di sisi lain, Bupati Malang Drs. Sanusi menjelaskan bahwa PLTMH UMM memang sudah ada sejak lama mendukung Sumber Maron. Tidak hanya sebagai dorongan energi hijau dan ramah lingkungan, tapi juga memberikan daya tarik tersendiri sebagai wisata edukasi. “Selain memberikan energi hijau yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat maupun UMKM sekitar, PLTMH UMM juga menarik banyak wisatawan yang ingin tahu cara kerjanya seperti apa. Semoga hal serupa bis dikembangkan di wilayah Malang lain serta wilayah-wilayah lain di Indonesia,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa UMM menjadi bagian penting perkembangan di Kabupaten Malang, salah satunya melalui PLTMH yang dibangun di beberapa titik. Menurutnya, ini juga menjadi cara Kampus Putih dalam menerjemahkan program Presiden Prabowo dalam aspek kemandirian pangan serta energi. Mendorong sustainibilitas lingkungan dalam memajukan Indonesia. (wil)