Libatkan Ratusan Pelajar, Kehutanan UMM Tanam 1000 Mangrove di Probolinggo

Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Cabang Dinas Kehutanan Lumajang sukses menggelar kegiatan penanaman 1000 bibit mangrove di Pantai Toggu, Probolinggo, 9 Desember lalu. Kegiatan yang melibatkan sekitar 100 siswa dari berbagai SMA/SMK di Malang, Batu, dan Probolinggo ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove dan memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan. Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh perwakilan Cabang Dinas Kehutanan dan Kelompok Tani Hutan Pesisir, Azis. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif UMM dalam melibatkan generasi muda dalam aksi penanaman mangrove. “Penanaman mangrove ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan aksi nyata dalam menjaga kelestarian pantai utara Jawa. Mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi pantai dari abrasi, mencegah intrusi air laut, dan menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut,” ujar Azis. Senada dengan hal tersebut, Kaprodi Kehutanan UMM, Galit Gatut Prakosa juga menekankan urgensi penanaman mangrove. Menurutnya, mangrove adalah benteng alami yang melindungi pantai dari berbagai ancaman. Menanam mangrove tidak hanya menjaga ekosistem pantai, tetapi juga berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Ini juga menjadi upaya mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda wilayah Probolinggo. Penanaman mangrove dipilih sebagai solusi karena tanaman ini memiliki akar yang kuat dan dapat menahan abrasi serta gelombang laut. Dengan adanya hutan mangrove, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim seperti naiknya permukaan air laut dan intrusi air asin. Para siswa yang terlibat dalam kegiatan ini terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Mereka tidak hanya melakukan penanaman, tetapi juga diberikan edukasi mengenai pentingnya mangrove dan cara menanam yang benar. Harapannya, melalui kegiatan ini, para siswa dapat menjadi agen perubahan dan mengajak masyarakat sekitar untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Di sisi lain, salah satu siswa asal Batu, Annisa mengungkapkan rasa senangnya bisa ikut serta dalam kegiatan ini. Baginya, penanaman mangrove bukan hanya sekadar kegiatan menanam pohon, tetapi juga menjadi momen untuk belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. “Saya jadi lebih paham kenapa mangrove itu penting untuk kita. Saya juga ingin mengajak teman-teman saya yang lain untuk ikut peduli sama lingkungan,” ucap Annisa. Kegiatan penanaman mangrove ini merupakan salah satu bentuk implementasi program SDG’S poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan poin 15 (Pembangunan Ekosistem Berkelanjutan). UMM berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat. (*/wil)

Kata Dosen Psikologi UMM tentang Kasus Tragis Anak Bunuh Keluarga

Kisah tragis yang mencengangkan terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Seorang anak membunuh ayah dan neneknya sementara sang ibu dalam kondisi kritis. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar tentang apa yang mendorong tindakan tersebut. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah, S.Psi., M.Si., memberikan pandangannya mengenai kasus ini. Hudaniah mengatakan bahwa dari informasi media, pelaku sempat mengaku mendengar suara-suara yang disebut sebagai halusinasi auditori. Namun, hal ini belum cukup untuk memastikan adanya gangguan psikologis tertentu. “Untuk mendiagnosa seseorang mengalami gangguan psikologis, asesmen mendalam sangat diperlukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pernyataan media atau pengakuan sepihak, apalagi diagnosa halusinasi memerlukan konfirmasi lebih lanjut oleh ahli melalui wawancara dan pengujian,” ungkapnya. Dalam wawancara, Hudaniah juga mengungkapkan bahwa pelaku memiliki riwayat kunjungan ke psikiater sebanyak empat kali atas inisiatif ibunya. Selain itu, pelaku disebut mengalami insomnia yang berkepanjangan. “Sulit tidur bisa menjadi salah satu pemicu tekanan psikologis, namun perlu ditekankan lagi bahwa tindakan ekstrem seperti pembunuhan tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tapi bisa dipengaruhi oleh bagaimana mereka belajar menghadapi tekanan dari lingkungan sosial terutama dengan keluarga. Pada umumnya, perilaku seperti ini merupakan hasil dari akumulasi berbagai tekanan,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa perilaku melanggar hukum pada anak tidak muncul secara tiba-tiba. Biasanya, ada tanda-tanda yang mendahului, seperti perubahan perilaku menjadi lebih pendiam atau mudah tersinggung. Hudaniah juga menekankan pentingnya pola asuh dan faktor sosial dalam membentuk perilaku anak. “Anak belajar dari lingkungan terdekatnya, terutama orang tua tentang bagaimana cara mengatasi masalah. Ketika tidak ada contoh positif, mereka mungkin mencari referensi dari media sosial atau lingkungan lain yang tidak selalu konstruktif,” tuturnya. Pengalaman traumatis atau tekanan yang tidak terselesaikan di masa lalu juga dapat memicu perilaku negatif pada anak. Pengalaman-pengalaman ini jika tidak diatasi atau dikomunikasikan bisa menjadi tekanan yang berat bagi anak. Untuk menangani kasus seperti ini, Hudaniah menegaskan pentingnya pendekatan integratif. Penanganan tidak hanya fokus pada pelaku, tetapi juga melibatkan keluarga dan lingkungan sosialnya. “Pendekatan integratif mencakup terapi psikologis, dukungan sosial, hingga intervensi medis jika diperlukan. Misalnya, jika ditemukan gangguan neurologis, maka terapi farmakologis bisa menjadi salah satu solusi,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya peran lembaga sosial dan pemerintah dalam memberikan layanan pendampingan kepada keluarga yang mengalami tekanan. Layanan seperti konseling di puskesmas atau komunitas pendukung dapat membantu keluarga menghadapi masalah secara lebih positif. Hudaniah berharap tragedi serupa tidak terulang. Ia mendorong semua pihak mulai dari keluarga hingga pemerintah, untuk memperkuat sistem pendukung bagi anak dan keluarga. “Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan pendekatan dari berbagai aspek, mulai dari keluarga, komunitas, hingga kebijakan pemerintah. Dengan begitu, kita bisa mengatasi persoalan secara menyeluruh dan mencegah peristiwa serupa terjadi lagi,” tutupnya. (vin/wil)

Bantu Penderita Dermatitis Atopik, Tim UMM Bikin Bathbomb Berkhasiat

Anak muda selalu memiliki kreativitas untuk melahirkan inovasi. Hal itu pula yang dilakukan tim mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) yang menciptakan bathbomb untuk pengobatan dermatitis atopik. Inovasi ini berhasil menyabet juara 3 PKM RE di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Tingkat Nasional (Pimtanas) 2024. Adalah Fricilia Nur Syahada, Nabila Nur Jasmine, Nafisatuz Zain, dan Permata Shafa Salsabila dari prodi Farmasi yang mengembangkannya. Dibantu Anugrah Wahyu Pribadi mahasiswa prodi Aquakultur. Nabila menjelaskan, lomba PKM kategori RE ini merupakan jenis perlombaan yang menghasilkan suatu produk melalui riset dan proses pengujian. Dari situ, muncul sebuah hasil yang nantinya dapat dituangkan kedalam suatu produk. Terkait khasiat dari produknya, Nabila mengatakan bahwa selama ini penderita penyakit kulit eksim atau dermatitis atopik ini harus rutin menggunakan pelembab setiap hari. Padahal menurutnya hal itu kurang efektif karena penggunaannya tidak dilakukan secara menyeluruh. Penggunaan pelembab untuk pengobatan penyakit kulit eksim yang tidak konsisten akan menurunkan kadar kesembuhan penderitanya. “Hal itulah yang melatarbelakangi kami untuk mengembangkan sediaan bathbomb yang berasal dari bahan Mackarel Oil dan juga Black Seed Oil. Bathbomb ini mampu memberikan efek terapi bagi penderitanya, apalagi produk ini bisa dengan mudah menjangkau bagian-bagian tubuh,” tegasnya. Adapun pemilihan bahan mackarel oil dan black seed oil untuk sediaan bathbomb bukan tanpa alasan. Keduanya mampu meredakan gejala gatal-gatal, juga sebagai anti bakteri dan flamasi, hingga mengandung omega 3 yang bagus untuk regenerasi kulit. Meski begitu, ada beberapa tantangan dalam proses pembuatannya. Salah satunya terbatasnya penelitian terkait sediaan bathbomb yang mampu dijadikan terapi penyakit kulit, serta pemilihan mackarel oil dari ikan tenggiri yang dianggap berbeda dan baru. “Penggunaan bathbomb ini cukup mudah. Pengguna cukup menyiapkan ember ataupun bathtub yang berisi air kemudian memasukkan bathbomb tersebut. Kemudian akan muncul efek gelembung busa dan siap untuk digunakan,” jelasnya. Mereka juga sudah melakukan uji coba pada telur ayam. Hasilnya, efek daya iritasi yang dialami cukup kecil, yakni pada formula 1 atau 1:3 Black Seed Oil dan Mackarel. Maka, dapat dikatakan dikatakan inovasi bathbomb ini sudah positif mengandung anti bakteri dan juga anti iritasi. “Harapannya bathbomb ini dapat terus dikembangkan dan juga bermanfaat bagi para penderita penyakit kulit eksim. Semoga dalam dua atau tiga tahun ke depan, bathbomb ini bisa diuji farmatologi yang lebih memadai dan diujikan kepada hewan ataupun manusia. Jadi, ketika lolos maka produk ini bisa diedarkan ke masyarakat,” katanya. (zaf/wil)

Begini Cara PKN UMM Siapkan Negarawan Sejati Melek Teknologi Digital

Siapkan generasi negarawan sejati ideologis dan melek teknologi digital, Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar giat kuliah tamu, 4 Desember 2024. Turut hadir sebagai pemateri pakar PKN etnopedagogik, Dr. Iim Siti Masyitoh, M.Si. Ia menjelaskan rumusan terkait aspek keterikatan akses informasi yang luas dan partisipasi aktif warga digital. Itu merupakan dua hal utama dalam menyelami era digitalisasi. Maka, ada beragam kemahiran yang perlu diasah dalam menghadapi era baru digital abad 21 sebagai negarawan sejati. Tidak hanya bagi anak muda, tapi juga para masyarakat lainnya. Menurutnya, akademisi harus membekali siswa untuk berpartisiapsi di dunia digital yang bertanggungjawab dengan berbekal kemahiran yang baik. Misalnya kemampuan kritis dalam pemecahan masalah dan kreativitas yang mencirikan keunikan diri masing-masing. Di samping itu, aspek spiritual juga memiliki tempat penting dalam menjaga keseimbangan berkehidupan. Manusia sebagai makluk monopluralis, pembinaan jiwa dan raga tidak terpisahkan dan saling ketergantungan satu sama lain. “Selain itu, literasi penting juga kita kembangkan. Literasi digital meliputi literasi informasi, media, dan teknologi. Begitupun dengan kemandirian hidup dan memanfaatkan teknologi yang beretika juga jadi bagian kesiapan bersaing,” ungkapnya. Di sisi lain, Dr. Leni Anggraeni, M.Pd. menyoroti cara mencegah radikalisme dan disinformasi di era digital. Leni mengungkapkan, anatomi disinformasi memiliki pola tersendiri. Petisi yang muncul tidak semua benar dan potensi manipulasi sentimen terkait petisi sangat mungkin terjadi di era digitalisasi. “Sifat media itu hanya satu arah. Untuk itu, peluang terpapar informasi melalui konten visual palsu (hoaks) sangat besar. Maka perlu kita bandingkan satu informasi dengan informasi lainya. Counter media diperlukan dalam mengimbangi algoritma pemberitaan informatif yang salah. Ketika diam, kita malah semakin minim informasi yang benar dan semakin banyak informasi salah,” pesannya. Wakil Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Bayu Hendro Wicaksono, M.Ed., Ph.D. sangat mengpresiasi kuliah tamu itu. Ini merupakan suatu kegiatan akademik yang baik dan bagus diterapkan di prodi PPKN. Menurutnya, inovasi ini memberikan wawasan baru untuk seluruh mahasiswa demi menyongsong pendidikan di kampus. Saat ini, manusia sudah masuk di era baru Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) yang tidak menentu, serba cepat, kompleks, dan sangat dinamis. Di samping percepatan arus kemajuan digitalisasi, penting bagi masyarakat berpegang teguh pada ideologi-ideologi pondasi bangsa Indonesia. “PPKN menjadi pondasi bangsa, lebih dari itu juga untuk membangun peradaban yang kuat dalam kemajuan tanah air. Anak-anakku, kita satukan tekad berpadu, agar semakin kokoh bisa sukses melangkah di dunia baru tanpa meninggalkan ideologi-ideologi dasar bangsa kita,” sambungnya. (din/wil)

RBC UMM dan PWNA Jatim Ajari Anak Difabel tentang Kesadaran Lingkungan

Dalam rangka memperingati Hari Difabel Dunia, RBC Institute Abdul Malik Fadjar UMM bersama Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur sukses menggelar agenda kolaboratif di Kota Malang, 3 Desember lalu. Tepatnya di SLB-B YPTB  yang tidak hanya menjadi momen istimewa untuk mengapresiasi potensi siswa difabel, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi literasi dan kesadaran lingkungan melalui program unggulan Merdeka Sampah. Sebagai wujud bakti terhadap bangsa, kegiatan ini diramaikan dengan kehadiran Mobil Terbang, perpustakaan keliling milik RBC Institute. Para peserta diajak membaca bersama, bermain game interaktif, hingga belajar memilah sampah sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Program ini dirancang untuk membangun kesadaran generasi muda, terutama anak-anak difabel, tentang pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan hidup. Direktur Eksekutif RBC Institute Subhan Setowara menyampaikan, kegiatan ini mencerminkan peran institusi sebagai penggerak literasi yang inklusif. “Literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga tentang membangun kesadaran terhadap berbagai isu penting, termasuk lingkungan. Mobil Terbang hadir untuk menjembatani kebutuhan itu sekaligus menyebarkan semangat belajar di kalangan siswa difabel,” ujarnya. Highlight dari acara ini adalah sesi edukasi memilah sampah yang disampaikan dengan pendekatan kreatif. Peserta diajak mengenali jenis sampah organik, anorganik, dan B3 (bahan beracun dan berbahaya) melalui permainan edukatif, sehingga konsep ini mudah dipahami. Sesi ini menjadi pengalaman yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menyenangkan bagi siswa SLB-B YPTB Kota Malang. Kolaborasi antara RBC Institute dan PWNA Jatim ini merupakan bukti nyata komitmen untuk menciptakan program-program yang tidak hanya inklusif tetapi juga relevan dengan tantangan masa kini. Pimpinan PWNA Jatim, Nia Ambarwati mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme para peserta. “Kita harus terus menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat nyata bagi semua kalangan, termasuk siswa difabel yang memiliki potensi luar biasa,” katanya. Dengan semangat literasi dan peduli lingkungan yang digaungkan melalui program ini, RBC Institute dan PWNA Jatim berharap mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat luas. Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan tema besar Hari Difabel Dunia tahun ini. (*/wil)

Dosen UMM Jelaskan Konsep Pria Mapan dan Perempuan Independen

Belakangan, viral komentar salah satu artis ternama tentang perempuan independen dan pria mapan. Hal itu juga menarik perhatian Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., selaku dosen sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pernyataan tersebut mencerminkan realitas sosial yang kompleks, namun perlu dipahami secara lebih mendalam. “Perempuan independen itu adalah perempuan yang berdaya, mandiri, dan memiliki prinsip hidup yang kokoh. Namun, konsep ini sering kali disalah artikan sebagai kebebasan ekonomi semata. Padahal, independensi juga mencakup kemampuan berpikir rasional dan bijak dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujar Luluk. Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah perempuan independen di Indonesia tidak hanya terbatas pada mereka yang belum menikah, tetapi juga pada perempuan yang telah berkeluarga. Lebih lanjut, Ibu Luluk menyoroti perbedaan konsep antara independensi perempuan dan kemapanan pria. Menurutnya, mapan sering kali dimaknai secara sempit sebagai kecukupan finansial. “Mapan itu sejatinya lebih luas. Seseorang bisa dianggap mapan ketika ia mantap secara pribadi, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dan mampu memberikan kontribusi kepada orang lain, seperti keluarga,” jelasnya. Ia juga mencatat bahwa pandemi Covid-19 turut memengaruhi dinamika sosial-ekonomi. Banyak pria mengalami penurunan kelas sosial akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kebangkrutan usaha. “Fenomena ini bisa saja menjadi dasar persepsi bahwa jumlah pria mapan menurun, tetapi kita harus melihatnya dari perspektif yang lebih luas. Kemapanan tidak hanya tentang finansial, tetapi juga tentang kemampuan untuk bertahan dan bangkit,” tambahnya. Dalam era digital, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Namun, Luluk mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap informasi yang beredar. Generasi saat ini cenderung berpikir instan, sering kali membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi. Ini sangat berisiko, terutama ketika isu-isu seperti independensi perempuan dan kemapanan pria diperdebatkan. Ia juga menekankan pentingnya filterisasi dan kritisisasi dalam menyikapi berita di media sosial agar tidak terjebak dalam arus informasi yang menyimpangkan. Menurut Lulus, anggapan bahwa peningkatan perempuan independen mengurangi peluang bagi pria merupakan hal yang keliru. Ia mengimbau pria untuk bersikap bijak dan tidak emosional dalam menghadapi isu ini. “Pernyataan seperti ini sering kali lahir dari perspektif yang sempit atau kasus tertentu, sehingga tidak mewakili mayoritas. Kita harus menghindari generalisasi yang dapat menimbulkan kebencian antar-gender,” jelasnya. Sebagai penutup, Luluk menyampaikan pesan kepada generasi muda agar menjadi individu yang bijak, terutama dalam menggunakan media sosial. Ia mendorong anak muda untuk menghargai konsep independensi dan kemapanan secara positif. “Independen bukan berarti bebas tanpa batas, melainkan memiliki prinsip yang kuat sambil tetap menghormati orang lain. Begitu pula dengan mapan, ini adalah kualitas yang perlu diraih dengan tanggung jawab dan ketekunan,” tutupnya. (Vin/Wil*)

Kelola Data Berkualitas, Ekonomi Pembangunan UMM Raih Bhumandala Award

Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan kontribusi terus dilakukan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya dilakukan oleh Prodi Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Ekonomi Bisnis UMM dalam tata kelola data spasial berkualitas. Bahkan Prodi EP sukses mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak berkat keunggulannya ini. Terbaru, mereka sukses meraih Bhumandala Award 2024 dari Badan Informasi Geospasial (BIG), November ini. Humas EP UMM Muhammad Firmansyah, M.E. menyebutkan bahwa penghargaan nasional ini smeakin memperkuat kiprah prodinya. Mereka sukses mendapatkan penghargaan Rajata (perak) dalma kategori organisasi dan perorangan. Hal itu tak lepas dari adanya pojok statistik laboratorium Prodi EP. Turut menerima langsung Dekan FEB UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM. “Raihan ini didapatkan berkat upaya kami yang sudah berkontribusi signifikan dalam mengembangkan dan menerapkan tata kelola data dan Informasi Geospasial (IG). Utamanya yang bertujuan untuk mendukung pembangunan nasional berbasis data yang akurat dan terpercaya,” kata Firman, sapaan akrabnya. Menurutnya, pembangunan nasional yang tanpa dasar data akan merugikan dan tidak tepat sasararan. Maka dari itu, data menjadi pondai penting dalma setiap pengambilan keputusan, khususunya Indonesia yang tengan melangsungkan pembangunan nasional demi kebaikan masyarakat. “Kategori yang kami dapat ini merupakan kategori Bhumandala Informasi Geospasial Batas Desa dan Kelurahan. Kemenangan ini harus menjadi inspirasi dan bahan bakar kami untuk terus melaju memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk UMM tapi juga untuk kebaikan Indonesia,” katanya. Adapun melalui laboratorium pojok statistik, Prodi EP UMM sukses bekerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu. Bahkan bersama sejumlah instansi pemerintah lain, mereka berusaha mewujudkan Kota Batu Satu Data. Atas dasar kesuksesan kerjasama ini pula, pojok statistik laboratorium Prodi EP UMM banyak meraih penghargaan. (*/wil)

Kolaborasi dengan Sekolah, Dosen Bahasa Indonesia UMM Luncurkan Buku

Kolaborasi menarik dilaksanakan oleh tim Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan berbagai sekolah. Salah satunya menyusun buku cerpen bersama para guru dan siswa di SMA Islam Kota berjudul Simfoni Jiwa, November lalu. Adalah Hidayah Budi Qur’ani, M.Pd, Prof. Joko Widodo, dan Musyafa. “Tujuannya adalah untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus meningkatkan literasi dan kreativitas di kalangan pendidik dan pelajar. Ini juga sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap kualitas pendidikan di sekolah,” kata Ani. Menurutnya, literasi merupakan hal yang sangat penting bagi setiap pendidik. Pengetahuan yang luas memungkinkan mereka untuk memberi inspirasi dan memperkaya wawasan siswa. Adapun alasan terbesar penyusunan buku ini adalah sebagai referensi literasi di sekolah, khususnya buku cerita yang dapat digunakan sebagai bahan ajar. Awalnya, proyek ini hanya melibatkan para guru. Namun, setelah mendapatkan dukungan dari pihak sekolah, siswa pun diberi kesempatan untuk berpartisipasi. Ani dan tim ingin kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide dan kreativitas mereka melalui tulisan, sekaligus meningkatkan keterampilan literasi. Agar proyek ini berjalan sukses, tim pengabdian mengadakan pelatihan intensif dalam penulisan cerita pendek. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga memberikan wawasan mengenai tema-tema yang relevan dengan karakter pelajar Indonesia. Tema yang dipilih dalam proyek penulisan cerpen ini adalah ‘Profil Pelajar Pancasila’ yang mencakup nilai-nilai seperti iman dan taqwa, kebhinekaan global, gotong royong, kemandirian, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Tim pengabdian menekankan bahwa proyek ini bertujuan untuk memperkenalkan penulisan cerita pendek sebagai sarana untuk membangun karakter pelajar yang sesuai dengan Pancasila. Lalu, untuk pemilihan judul cerita pendek, pilihannya jatuh pada judul Simfoni Jiwa untuk kumpulan cerpen ini dengan filosofi menggambarkan semangat jiwa anak muda. “Remaja memiliki karakter yang unik dan penuh energi. Kumpulan cerpen ini seperti nyanyian jiwa-jiwa muda yang penuh harapan,” tambahnya. Ani bercerita, awalnya banyak yang pesimis dan merasa sulit menulis cerita pendek. Namun, setelah pelatihan dan pendampingan, mereka berhasil menulis cerita yang bagus. Cerita-cerita yang dihasilkan juga beragam, mencerminkan berbagai pengalaman hidup dan sudut pandang. (nam/wil)

Entrepreneur Day UMM: Puluhan Stand Bazaar dan Ratusan Pengunjung

Menyiapkan lulusan yang siap mandiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan berbagai pelatihan kewirausahaan dan entrepreneurship. Salah satunya Entrepreneur Day Workshop and Expo yang menarik ratusan perhatian mahasiswa, pada 2-3 Desember ini. Ada lebih dari 300 peserta yang ikut serta dan lebih dari 30 stand expo yang menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian produk yang dijajakan merupakan hasil penelitian, program entrepeneur, dan program lainnya. Adapun materi workshop dengan tema ‘How to Create Business Idea into Pitching Scenario’ dibawakan oleh Co-Founder dan CTO dari Maxy Academy, Andy Febrico Bintoro. Ia menjelaskan bahwa seorang entrepreneur harus dapat menguasai teknik pitching yang merupakan sebuah seni yang dapat meyakinkan investor. Sehingga pitching menjadi gerbang pintu utama sebagai penentu akan keputusan yang diambil oleh investor. “Maka dari itu, pitching merupakan hal krusial bagi seorang pengusaha. Ada sederet hal yang harus diperhatikan dalam proses ini. Salah satunya bagaimana kita bisa menyampaikan secara singkat terkait poin penting dan menarik dari brand ataupun produk yang dimiliki,” tegasnya. Toro, sapaannya, mengatakan bahwa semua akan terasa berat saat menjalankan usaha. Maka dari itu, pengusaha harus mengerti unique selling point (USP) pada brand ataupun produk yang dimiliki. Sehingga, para perintis usaha bisa langsung menyampaikan dengan percaya diri pada para investor terkait keunggulan produk yang dimiliki. Bahkan juga membandingkannya dengan kompetitor lain. Selain itu, menurut Toro, saat melakukan pitching, seorang entrepreneur harus tetap jujur atau apa adanya dengan USP yang dimiliki oleh brand atau produknya. Karena banyak dari investor yang memiliki tim pakar untuk melakukan analisis ataupun perhitungan pada beberapa perusahaan yang akan diinvetasikannya. “Apalagi banyak investor yang juga tergabung dalam beberapa asosiasi dengan investor lainnya. Ketika produk kita dicap buruk, maka bisa saja kabar itu menyebar di antara para investor,” katanya. Sementara itu, Wakil Rekotr III UMM Dr. Nur Subeki menyampaikan bahwa menjadi seorang pengusaha itu harus bisa adaptif. Mampu melihat peluang bisnis atau membaca pasar, menciptakan produk yang unggul, serta mampu bekerjasama dengan tim. Hal-hal itu mmerupakan modal sukses yang dimiliki entrepreneur. “Harapannya, workshop dan expo yang UMM adakan bisa bermanfaat bagi semuanya, khususnya anak-anak muda yang memiliki potensi di bidang entrepreneur. Kami akan selalu membantu dan mendukung para mahasiswa yang ingin terjun ke dunia bisnis dengan memberikan berbagai upaya serta pendampingan kepada mereka secara rutin,” tegasnya mengakhiri. (zaf/wil)

Post Doctoral Colloquium FH UMM: Bahas HAM hingga Kasus DPRD

Bertekad turut andil dalam mengukuhkan pilar hukum Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) giat gelar Post-Doctoral Colloquium pada 30 November 2024 lalu. Majelis ilmu ini menghadirkan empat panelis dengan pakar keilmuan berbeda. Diantaranya, mengenai transfiguras kebijakan perundangan, keadilan anak, dan HAM dalam era pembaharuan hukum. Kegiatan ini juga diikuti oleh puluhan audiens yang terdiri dari civitas akademika internal, maupun ekternal UMM. Panelis pertama, Cekli Setya Pratiwi, S.H., L.L.M., Ph.D. dalam salah satu publikasinya menyoroti adanya celah dari perundangan yang bersifat multitafsir dalam konteks relasi negara-agama. Sehingga berpotensi juga pada munculnya praktik penegak hukum yang diskriminatif, baik terhadap kelompok minoritas maupun kelompok mayoritas. Berdasarkan hasil riset dari salah satu Research Center menunjukkan bahwa, 93% responden masyarakat Indonesia setuju agama sebagai bagian dari aspek fundamental kehidupan Indonesia. “Di samping itu, responden juga menekankan bahwa manipulasi agama untuk suatu kepentingan kelompok tertentu cenderung membahayakan dan harusnya dihindari oleh negara,” sambungnya. Lebih lanjut, Cekli juga menyampaikan alasannya memilih era rezim Jokowi sebagai objek penelitiannya. Menurutnya, poin penting dalam mengkaji relasi antara agama dan negara harus memperhatikan the rule of law. Perundangan yang berlaku tidak boleh multitafsir dan berlaku adil bagi semua elemen hukum. Selain itu, ada pula Dr. Sholahuddin Al-Fatih, S.H., M.H. yang menyampaikan materi bertajuk ‘Rekontruksi Peraturan Delegasi dalam Hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia’. Kemudian juga Tinuk Dwi Cahyani, S.H., S.H.I., M.Hum., Ph.D yang mengkaji pembaharuan undang-undang jenayah rasuah: kajian kasus dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Kota Malang. Terakhir, turut hadir sebagai pembicara Dr. Shinta Ayu Purnamawati, S.H., M.H. yang menjelaskan materi terkait filosofi saintifikasi HPK (hasil penelitian kemasyarakatan) sebagai prinsip standar menemukan keadilan substansial. Dekan FH UMM, Prof. Dr. Tongat, S.H., M.Hum. mengapresiasi terlaksananya majelis ilmu tersebut. Ia juga berterimakasih kepada para panelis yang sudah bersedia berbagi waktu dan pengetahuan di pakar bidang masing-masing. Menurutnya, berbagi ilmu adalah suatu kebaikan dengan jaminan balasan pahala jariyah yang mengalir terus-menerus. “Sebagaimana sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa dimana kita mau berbagi ilmu, keranjang ilmu kita itu akan semakin bertambah seiring bertambahnya umur kita. Semakin kita tumpahkan kepada orang lain maka akan semakin penuh keranjang tersebut,” katanya menambahkan. (din/wil)