Dosen Psikologi UMM Jelaskan Fenomena Joki Strava

Dalam era digital saat ini, aplikasi kebugaran seperti Strava telah menjadi bagian integral dari gaya hidup banyak orang. Strava memungkinkan pengguna untuk melacak dan membagikan aktivitas olahraga. Bakan, telah menciptakan komunitas global yang saling mendukung dan berkompetisi. Namun, dibalik semangat sportifitas dan pencapaian pribadi, muncul fenomena baru yang dikenal sebagai joki Strava. Sejalan dengan hal tersebut, Hudaniah, S.Psi., M.Si., selaku dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa joki Strava adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dibayar atau diminta untuk menjalankan aktivitas olahraga atas nama orang lain di aplikasi Strava. “Fenomena ini mirip dengan praktik ‘joki tugas’ di dunia pendidikan, di mana seseorang membayar orang lain untuk menyelesaikan tugas atau ujian mereka,” tambahnya. Jika ditinjau dari sisi psikologis, salah satu dorongan utama di balik penggunaan Strava adalah kebutuhan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik setiap harinya, dan memberikan rasa puas tersendiri. Namun, seringkali pencapaian ini dibandingkan dengan orang lain. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya dorongan untuk diakui dan dihargai oleh orang lain. Lebih lanjut, media sosial memainkan peran penting dalam fenomena joki Strava. Dengan platform seperti Strava, setiap orang memiliki peluang untuk dilihat dan diapresiasi oleh komunitasnya. Terlebih, seorang individu pasti ingin memastikan bahwa dirinya terlihat berprestasi di mata orang lain. “Setiap orang memiliki kebutuhan untuk need for exhibition, untuk diketahui kehadirannya dan mendapat pengakuan dari orang lain dengan harapan dapat diapresiasi positif. Sehingga, ini menciptakan peluang pasar bagi penjoki yang mana transaksi joki Strava dapat terjadi,” jelas Kepala UPT. Bimbingan dan Konseling UMM itu. Fenomena joki Strava juga menunjukkan bagaimana media sosial dapat menciptakan tekanan untuk memamerkan prestasi yang sebenarnya palsu. “Ini semacam flexing dalam bentuk media laporan hasil olahraga. Sebatas angan-angan yang ingin diperlihatkan tapi palsu,” ujar Hudaniah. Jika jika ditinjau dari analisis teoritik tentang dinamika psikologis, menggunakan jasa joki Strava sebenarnya adalah bentuk manipulasi yang mencerminkan mekanisme pertahanan diri. Pada dasarnya, meraih prestasi dengan cara yang baik memang berat dan butuh perjuangan. Bagi sebagian orang, jalan pintas ini diambil karena malas atau karena memiliki uang lebih. Namun, tindakan ini membawa konsekuensi psikologis yang serius. Individu yang memanipulasi hasil, kemungkinan besar mengalami peningkatan kecemasan dan kekhawatiran “rahasia”nya akan diketahui orang lain. Pada akhirnya, dapat berdampak negatif pada kesehatan mentalnya. Meski demikian Hudaniah menyatakan, fenomena joki Strava tidak akan bertahan lama, seperti halnya tren-tren yang pernah booming sebelumnya. Namun, penting bagi masyarakat untuk tidak tergoda oleh fenomena ini. “Tujuan utama olahraga adalah untuk kesehatan, lakukanlah sebisa kita secara bertahap. Kita nggak harus membandingkan dengan orang yang starting point-nya di atas kita,” pungkasnya. (Lai/Wil)

Rektor UMM Lepas 4000 Mahasiswanya Turun Mengabdi ke Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mendorong mahasiswanya untuk mengabdi dan bermanfaat untuk masyarakat. Salah satunya melalui program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Kali ini, ada lebih dari 4.000 mahasiswa dari berbagai fakultas UMM dilepas pada 17 Juli ini untuk memulai PMM dengan berbagai program andalannya masing-masing. Adapun program PMM tahun 2024 ini mengirim 4.747 mahasiswa yang terbagi menjadi 900-an kelompok. Mereka akan melakukan pengabdian di 17 provinsi dan 74 kabupaten maupun kota. Program yang memiliki tema desa sejahtera dan mandiri tersebut secara langsung dibuka dan dilepas oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. “Kerangka besar konsep dari PMM adalah pengabdian kepada masyarakat. Program ini penting untuk mengondisikan para calon bangsa pada situasi tertentu di masyarakat. Apa yang bisa kita rasakan dan lakukan? Seberapa tinggi tingkat keterlibatan kita, emosi, maupun perasaan ada pada kondisi masyarakat saat itu,” ucapnya. Menurutnya, memahami permasalahan yang ada di masyarakat lebih kuat dibandingan dengan pemahaman mengenai kompetensi teknis yang didapat dari perkuliahan. Maka, mahasiswa harus dapat melihat masalha yang terjadi kemudian bergerak memberikan solusi terbaik. Sebagai informasi, PMM merupakan program wajib bagi mahasiswa UMM yang dulunya dikenal sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program pengabdian ini pada awalnya diberhentikan sementara akibat wabah Covid-19. Setelah wabah Covid-19 mereda, KKN kemudian digantikan oleh PMM dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara itu, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD selaku Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerjasama juga menyampaikan terkait makna pengabdian pada program tersebut. “Mahasiswa yang dilepas ke masyarakat ini harus mengetahui makna dari PMM sendiri itu apa. Mahasiswa harus siap lahir dan batin untuk memberikan kontribusi terbaik ke masyarakat secara langsung,” tambahnya. Selain itu, mahasiswa PMM juga harus menunjukkan seperti apa figur dari mahasiswa yag menjalani pendidikan tinggi. Selain memberikan kontribusi, mahasiswa juga harus bisa belajar kesederhanaan, gotong royong, kerja keras, dan rasa syukur dari penduduk desa. Jangan sampai datang dengan kesombongan bahwa mahasiswa itu paling pintar. Hal tersebut diamini Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM Prof. Dr. Ir. Sutawi M.P. Ia berharap para mahasiswa dapat memanfaatkan ilmu yang diperoleh di UMM untuk menyukseskan kegiatan pembangunan di desa. Tak lupa juga untuk  mempelajari kearifan lokal di desa seperti kerja keras, gotong royong, dan kesederhanaan. “Seperti tagline UMM yaitu Muhammadiyah Untuk Bangsa, mahasiswa yang akan mengabdikan diri ke masyarakat juga harus seratus persen memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi di masyarakat. Mudah-mudahan program ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman saudara sehingga lebih siap setelah lulus dan kembali ke masyarakat,” tegasnya. (Tri/Wil)

Wisuda UMM ke-114: Begini Cara Hadapi Ketidakpastian Masa Depan

Di hadapan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 16 Juli ini, Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Anggota Majelis Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sanjung program Center of Excellence (CoE) milik Kampus Putih. Menurutnya, program itu merupakan salah satu bentuk nyata menjawab tantangan dunia yang perkembangannya sangat masif. Adapun agenda tersebut merupakan wisuda UMM ke-114. “Terlebih lagi, UMM merupakan salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) yang saat ini sudah diakui secara nasional hingga internasional. Bahkan juga terbutki mampu mencetak kader bagi Muhammadiyah dan Bangsa,” tegasnya. Menurutnya, visi yang digaungkan yakni menjadi Center for Future Work sangat bagus. Tidak sekadar omong kosong belaka, namun hasilnya sudah bisa dirasakan lewat program dan kerjasama bersama pelaku Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Dalam kesempatan itu, Widodo juga menyebut beberapa kunci menghadapi dunia yang masif. Di antaranya dengan kreativitas serta inovasi terbarukan. Ke depan, akan ada 83 juta lapangan pekerjaan yang hilang dan hanya ada 69 juta lapangan pekerjaan baru yang muncul. Ada selisih yang cukup jauh antara lapangan pekerjaan yang hilang dan yang baru. “Sekarang ini, sudah banyak bidang yang bisa diotomatisasi dan menjadi tantangan bagi saudara sekalian. Pekerjaan yang diotomatisasi itu adalah hal yang monoton dan sederhana, maka kalian harus mampu menguasai sektor yang kreatif dan inovatif. Di sektor itulah tidak akan terjadi otomatisasi oleh teknologi,” pesannya. Turut hadir Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK)  Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Menurutnya, wisuda bukanlah momen akhir bagi seseorang dalam berproses. Namun malah menjadi momen awal dalam menjalani proses berikutnya yang lebih menantang. “Saya Kutipkan dari surat Surat Al-Insyirah Ayat 7, Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Itu harus kalian pegang teguh. Anda semua harus terus belajar, bekerja, dan berinovasi lebih besar lagi. Saya percaya saudara mampu. Terlihat dari wajah-wajah saudara yang optimis dalam menghadapi masa depan,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. mengungkapkan bahwa UMM sebagai ibu kandung kedua bagi para mahasiswa sangat bangga kepada para wisudawan sudah menyelesaikan masa studinya. Selama ini, UMM sudah mengupayakan bekal terbaik bagi seluruh wisudawan dalam menghadapi masa depan. Menurutnya, dalam kehidupan manusia, segala hal yang bersifat fisik dapatlah dibeli. Namun segala bentuk dedikasi, pengabdian, dan kesetiaan tidaklah dapat dibeli dengan apapun bahkan tidak dapat dijangkau berapapun nilainya. Itu juga menjadi harapan besar UMM kepada para alumni untuk memperhatikan sektor yang tidak dapat dibeli tersebut. (Faq/Wil)

Mahasiswa Baru UMM Mulai Digembleng

Sudah menjadi ciri khas bagi Universitas Muhammadiyah Malang untuk menyambut mahasiswa baru (Maba) dengan Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Sebuah program yang dilakukan demi mencetak anak-anak muda potensial untuk jadi pemimpin masa depan. Adapun pembuaan P2KK batch pertama dibuka pada 15 Juli lalu dengan diikuti lebih dari 400 orang. Zen Amirudin, S.Sos., M. Med. Kom. selaku Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Pusdiklat Pengembangan SDM) mengatakan bahwa program tersebut bertujuan untuk membentuk karakter mahasiswa yang kuat dan unggul. “Program ini wajib bagi seluruh mahasiswa UMM. Selama satu minggu, mereka ditempa dengan berbagai aktivitas untuk meningkatkan kepribadian. Mulai dari bangun pagi untuk sholat tahajjud, terus nanti ada kegiatan belajar di kelas dengan materi seputar keislaman, kemuhammadiyahan, dan lain sebagainya. Ada juga kegiatan khusus untuk mengasah komunikasi dan kerja sama tim,” ungkapnya. Lebih lanjut, program P2KK juga sangatlah penting bagi mahasiswa, Menurutnya, mahasiswa memerlukan banyak skill dan pembentukan mental serta karakter yang baik sehingga bisa jadi bekal selama berkuliah di Kampus Putih. Apalagi melihat mahasiswa UMM berasal dari daerah yang berbeda-beda baik dari segi asal, suku, dan budaya. “Mereka tidak diperkenankan untuk membawa gadget selama mengikuti program ini. Dengan begitu, para mahasiswa bisa bisa fokus bersosialisasi langsung dengan sesamanya. Menciptakan kedekatan langsung dan menambah teman baru,” kata Zen. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. menekankan kepada seluruh peserta P2KK untuk mengikuti serius dan menikmati berbagai rangkaian dengan baik. Menurutnya, tidak ada keberhasilan tanpa melalui proses yang panjang. Dia juga tidak lupa mengingatkan untuk tetap menjunjung tinggi perihal adab yang baik. “Kedisiplinan, ketekunan, dan sabar dalam menjalani proses itu sangat penting. Jangan lupa juga hal-hal yang berkaitan dengan adab karena adab menjadi hal pertama yang diperhatikan oleh masyarakat. Hanya dengan adab, saudara akan memahami ilmu,” ungkapnya. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh mahasiswa baru untuk tetap memperhatikan output ciri khas lulusan UMM. Yakni dapat menjadi panutan bagi masyarakat, memberi ketenangan, serta kesejukan dalam setiap kehadirannya. Tidak lupa juga senantiasa memberikan kontribusi positif dan berkemajuan bagi seluruh lapisan masyarakat. (Faq/Wil)

Dosen UMM: Indonesia Perlu Regulasi Karya Seni Buatan AI

Belakangan ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengalami perkembangan yang cukup pesat, termasuk dalam bidang seni visual. Teknologi ini memungkinkan sistem komputer untuk melakukan pekerjaan layaknya manusia, termasuk menciptakan karya seni berdasarkan perintah yang diberikan. Namun, bagaimana perlindungan hak cipta terhadap karya yang dihasilkan oleh AI? Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sofyan Arief, S.H., M.Kn., mengatakan bahwa karya AI memiliki perbedaan dengan karya dari ilustrator manusia. Perbedaan mendasar tentang hak cipta tersebut terletak pada subjek hukumnya. “Di Indonesia, saat ini belum ada aturan khusus yang menetapkan AI sebagai subjek hukum. Oleh karena itu, AI belum bisa menjadi subjek hukum yang memiliki hak cipta. Sebaliknya, ilustrator manusia secara jelas diakui sebagai subjek hukum yang berhak atas karya cipta mereka berdasarkan prinsip orisinalitas,” tanggapnya. Sayangnya, Indonesia belum memiliki regulasi khusus untuk mengatur Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi karya yang dihasilkan oleh AI seperti beberapa negara lain di dunia. Padahal menurutnya, regulasi ini penting untuk memberikan kepastian hukum mengenai siapa yang berhak atas karya yang dihasilkan oleh AI dan bagaimana perlindungan hak ciptanya. “Beberapa ahli hukum berpendapat bahwa hak cipta seharusnya melekat pada AI itu sendiri. Sementara, yang lain berpendapat bahwa hak cipta tersebut seharusnya diberikan kepada pencipta AI baik programmer atau pengembang,” tambahnya. Meski saat ini belum ada perlindungan hukum yang jelas untuk karya AI di Indonesia, potensi untuk pengaturan tersebut tetap ada. Tantangan utamanya di Indonesia adalah menentukan siapa yang menjadi subjek hukum yang berhak atas karya yang dihasilkan oleh AI. Lebih lanjut, dalam sistem hukum Indonesia, hak atas benda atau karya hanya bisa dimiliki oleh subjek hukum yang diakui secara sah. Oleh karena itu, tanpa adanya pengaturan yang jelas, AI tidak bisa dianggap sebagai subjek hukum yang memiliki hak cipta. Sofyan pun menyarankan bahwa penggunaan AI sebaiknya tidak sepenuhnya untuk menciptakan karya secara mandiri. “Penggunaan AI sebaiknya lebih sebagai alat pendukung bagi manusia dalam menciptakan karya. Dengan demikian, hak cipta tetap bisa diberikan kepada individu atau entitas yang menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pencipta utama. Meskipun AI memiliki potensi besar dalam dunia kreatif, regulasi yang jelas dan adil sangat diperlukan untuk memastikan bahwa hak cipta dan HKI lainnya dapat dilindungi dengan baik di era digital ini,” tandasnya. (lai/wil)

Mahasiswa UMM Sulap Limbah Kulit Jeruk Jadi Briket yang Bernilai

Jeruk merupakan salah satu buah yang banyak diproduksi di Kabupaten Malang, namun masyarakat hanya memanfaatkan isi dari buah jeruk dan membuang kulitnya tanpa diolah menjadi bahan yang bermanfaat. Melihat hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) membuat sebuah inovasi berupa briket kulit jeruk untuk membantu masyarakat di Desa Tegalweru, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Berlinda Amalia Diami selaku ketua tim menjelaskan bahwa melihat kulit jeruk yang tidak dikelola dan membusuk membuat mereka resah. Padahal bisa diubah dan dimanfaatkan dengan lebih baik. Limbah kulit jeruk dapat diolah menjadi briket dan memiliki nilai jual yang tinggi sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Adqapun briket adalah sebuah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api. “Kebanyakan masyarakat di sana berprofesi sebagai petani jeruk. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan penghasilan dari perkebunan yang dimilikinya dan tidak mendapatkan pendapatan yang pasti. Maka, kami bekerjasama dengan karang taruna setempat dan beberapa petani jeruk berupaya untuk mengumpulkan limbah kulit jeruk yang kemudian diolah menjadi briket,” ujarnya. Berlinda juga mengatakan, mengelola limbah kulit jeruk membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Setelah mengumpulkan limbah kulit jeruk bersama karang taruna setempat, kulit jeruk tersebut dimasukkan ke dalam tong untuk proses pembakaran limbah. Kemudian menunggu hingga hasil kulit jeruk berubah warna menjadi coklat tua. Setelah melalui proses pembakaran limbah, kulit jeruk perlu melalui proses penghalusan menggunakan chopper, lalu disaring agar memudahkan proses pencampuran menjadi adonan sebelum disulap menjadi briket. “Hasil pencampuran adonan yang kami buat itu dicetak dan dijemur di bawah sinar matahari selama 6 hingga 7 hari. Setelah melakukan proses yang cukup panjang, maka jadilah briket yang sempurna” jelasnya. Briket yang mereka buat punya banyak manfaat, misalnya dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Tidak hanya itu, program ini juga bisa dimanfaatkan karang taruna setempat sebagai bentuk usaha penjualan briket di beberapa destinasi wisata sekitar desa. “Kami juga telah bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk mendukung dan memfasilitasi karang karang taruna serta masyarakat setempat untuk terus melanjutkan ide kreatif ini. Dengan begitu masyarakat mendapatkan keterampilan yang bagus dan dapat meningkatkan perekonomian desa,” tambahnya. Tidak sampai disitu, Berlinda dan tim juga membuat sebuah buku pedoman untuk masyarakat setempat. Buku tersebut menjadi harapan agar program yang sudah mereka rintis bisa terus berlanjut di kemudian hari dan tidak berhenti ketika program PKM nya usai. (ri/wil)

Ponpes Internasional Malik Fadjar Langsung Terima Banyak Santri

Suara lantunan Sang Surya terdengar dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (AMF) pasa 13 Juli kemarin. Lagu tersebut menjadi penutup drama yang sekaligus menjadi awal langkah para santri dan santriwati untuk menimba ilmu di ponpes internasional tersebut. Turut hadir pada orang tua dan wali yang mengantarkan putra-putirnya dalam agenda serah terima santri baru PPI AMF. Menyambut para tamu dan santri, Direktur PPI AMF Dr. Suprat M.Ed. mengajak para orang tua untuk ikut berdoa mendoakan anak-anaknya agar mampu memunculkan tekad dan harapan tinggi menjadi orang sukses. Menurutnya, memasukkan putra putrinya ke PPI AMF merupakan investasi masa depan anak-anak, termasuk masa depan umat. “Kesuksesan tidak akan bisa diraih tanpa tekad dan keyakinan penuh. Maka wasilah kita dengan menyandarkan semuanya pada Allah dan mendoakan anak-anak, insyaAllah mereka akan jadi anak anak kuat dan baik serta sukses di masa depan,” tegasnya. Ia menegaskan, pengalaman Pimpinan Wilayah Muhammadiyh (PWM) Jawa Timur dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mengelola pendidikan dan mengabdi pada umat tidak perlu diragukan lagi. Keduanya tentu akan memberikan yang terbaik untuk memastikan kebaikan para santri dan santriwati. Hal serupa juga dikatakan oleh Wakil Rektor I UMM Prof. Akhsanul In’am di depan para wali santri. Menurutnya, PPI AMF merupakan tempat yang tepat sebagai lokasi pendidikan para santri. Apalagi direktur dan wakil direkturnya merupakan lulusan luar negeri. Maka, akan ada banyak hal-hal baru yang menunjang dan mampu menciptakan iklim internasional di pondok pesantren ini. “Allah itu memposisikan umatnya berdasarkan dua hal, yakni kadar iman dan ilmu. InsyaAllah, PPI AMF bisa menjadi jalan bagu putra putri bapak ibu untuk mendapatkan keduanya. Hingga nanti mampu menjadi kader Islam dan Muhammadiyah yang terbaik,” katanya menegaskan. Ia juga bercerita bahwa dulu, saat almarhum Prof Malik Fadjar masih sehat, memiliki impian adanya lembaga seperti PPI AMF. Namun sayang, mimpi tersebut belum bisa dilaksanakan hingga ia berpulang. “Kami sivitas akademika UMM mendengar rancangan beliau dan akhirnya alhamdulillah bisa mewujudkannya dengan mengakuisisi tanah dan gedung ini. Kemudian dihibahkan pada PWM Jatim dan mendirikan PPI AMF,” katanya. Terakhir, turut hadir dalam masa taaruf santri tersebut Wakil Ketua PWM Dr. Hidayatullah, M.Si. Ia mengatakan bahwa persyarikatan Muhammadiyah memang diproyeksikan untuk masa yang tak terbatas. Muhammadiyah juga merupakan gerakan Islam , dakwah, tajdid dan tanwir. “Gerakan Muhammadiyah juga tidak memiliki batas geografis. Ada lebih dari 30 cabang istimewa Muhammadiyah di berbagai negara, termasuk Aisyiyah, IMM bahkan IPM. Di setiap cabang tersebut juga pasti memiliki amal usaha. Bahkan Muhammadiyah memiliki perguruan tinggi di luar negeri seperti di Malaysia dan Australia,” tambahnya. Kontribusi Muhammadiyah di Indonesia juga signifikan, termasuk di bidang pendidikan. Ada puluhan ribu lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Di Jawa Timur, ada lebih dari 1035 dari SD hingga SMA. Salah satunya PPI AMF ini yang dirancang dengan iklim internasional. Hidayatullah juga mengajak para santri untuk yakin dan memiliki cita-cita sebagaimana pesan Abdul Malik Fadjar. “Saya ingat dulu saat diajar Pak Malik. Beliau berpesan bahwa kita boleh tidak memiliki apa apa, tapi kita harus tetap memiliki cita-cita,” tegasnya mengakhiri. (wil)

Alumnus UMM Bekerja di BRIN, Begini Kisahnya

Impian tak bisa dicapai dalam satu malam saja. Butuh banyak perjuangan serta banyak waktu untuk mencapai impian tersebut. Bermimpi boleh, namun juga harus dibarengi  dengan konsistensi, perjuangan, serta doa  yang tak kenal lelah untuk menggapai hal tersebut. Ucapan ini disampaikan oleh Andi Afrilliya Ani S. Ikom, M. Ikom selaku Corporate Communication Kebun Raya Purwodadi dalam UMM Talks awal Juli ini. Ia juga merupakan alumnus Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, impian adalah suatu pencapaian yang didapat melalui usaha dan doa yang tiada henti. Lia, panggilan akrabnya, merupakan salah satu lulusan terbaik UMM saat itu. Ia bercerita, capaiannya tersebut tak dipungkiri karena kegigihan dan perjuangannya selama kuliah. “Jadi awalnya, saya pernah bilang ke salah satu dosen UMM saat itu, bilang kalau saya akan membawa orang tua duduk di bangku VIP saat wisuda,” ucapnya. Impiannya terwujud, dengan IPK 3,89 ia dengan bangga membawa orang tuanya duduk di bangku VIP berjajar dengan para orang tua wisudawan terbaik. Impian tersebut dapat a capai berkat konsistensinya sejak awal. Ia selalu menjadi mahasiswi yang aktif di kelas dengan mencatat, menjawab pertanyaan dosen, atau membantu teman yang kesusahan dalam mata kuliah. Semua itu ia lakukan tanpa paksaan dan dengan rasa suka cita. Lanjutnya, ia mengatakan bahwa untuk mencapai impiannya dapat dimulai dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Seperti hal apa yang disukai, kelebihan, kelemahan, atau hal basic untuk mengenali diri sendiri. Dapat juga dilakukan dengan menjalankan suatu hobi, melalui hobi tersebut juga dapat menjadi salah satu hal untuk menentukan impian. Dalam mencapai impian, pasti banyak rintangan yang harus dilewati. Seperti Lia, yang menceritakan awal perjalanan karirnya sebagai corporate communication tak mudah. Setelah lulus, ia awalnya bekerja di salah satu hotel. Rintangan yang dihadapi cukup banyak lantaran dirinya baru terjun ke dunia kerja dan belum mengetahui skill mengenai dunia perhotelan. Lantas, dirinya terus belajar demi mendapat skill di dunia perhotelan. Setelah itu, ia melanjutkan karir di salah satu galeri batik area Malang. Berbekal skill relasi dan public relation yang ia miliki selama kuliah dan bekerja di hotel, ia membuat perubahan yang cukup signifikan di galeri tersebut dengan mendatangkan banyak peminat. Kemudian ia memutuskan untuk vacum dari dunia kerja dan berfokus untuk merawat anak. Akhirnya, berbekal pengalaman dari hotel dan galeri batik, saat ini ia dapat bekerja sebagai Corporate Communication Kebun Raya Purwodadi. Impian yang ia capai tak serta merta mudah untuk didapatkan. Banyak perjuangan dan suka duka yang harus ia lewati. “Khususnya berkorban waktu, apalagi saat itu saya kan juga mengurus anak dan bekerja. Senang iya, capek iya, banyak lah suka duka yang saya hadapi waktu itu,” sambungnya. Intinya, dalam mencapai impian itu yang pertama adalah kenali diri sendiri, berusaha, dan tidak membuang waktu. Jangan hanya karena ada waktu senggang tidak dilakukan untuk hal produktif. Selagi masih muda, lakukan banyak hal produktif untuk menunjang skill di dunia kerja. “Jangan bersedih atau berkecil hati jika saat ini belum mencapai impian. Cukup fokus, konsisten dan tidak memuang waktu saja maka dapat memetik hasilnya nanti. Jika masih bingung dengan passion kita, coba me time dan lakukan hal yang membuat kamu senang. Jika hal tersebut tidak ada celah, maka hal tersebut bisa jadi adalah passion kamu,” ucapnya mengakhiri. (Tri/Wil)

Mahasiswa PGSD Tampilkan Empat Dongeng Fantasi

Para mahasiswa prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pertunjukan drama bertema dongeng fantasi. Mereka yang tergabung dalam teater Harmonia Saskara menampilkan empat cerita terkenal yakni Snow White, Cinderella, Hanzel and Gretel serta Penggembala Domba dan Serigala pada akhir Juni lalu. Ketua Teater Harmonia Saskara, Exzal Antolin Febriansyah, menjelaskan bahwa tujuan utama pagelaran ini adalah untuk menghidupkan kembali kisah-kisah dongeng yang sarat akan pesan moral dan hiburan. Mereka ingin membawa penonton ke dunia magis yang penuh pelajaran hidup serta menunjukkan bahwa dongeng-dongeng Fantasi ini masih relevan dengan kehidupan saat ini. Adapun drama “Snow White” dipilih karena pesan moral dan nilai-nilai universalnya yang relevan, seperti kebaikan hati dan keberanian menghadapi kejahatan. Drama ini juga menampilkan elemen visual menarik seperti cermin ajaib dan tujuh kurcaci, dengan menonjolkan adaptasi segar dan sentuhan lokal. Selanjutnya, drama “Hanzel and Gretel” juga menarik. Hal itu tak lepas dari ceritanya yang berasal dari cerita rakyat Jerman yang menyuguhkan perjuangan dua anak yang berusaha untuk bertahan hidup di tengah kondisi sulit, mengajarkan nilai-nilai keberanian, kerja sama, dan pentingnya keluarga. “Begitupun dengan ceirta-cerita lain. Harapannya, para penonton tidak hanya mendapatkan hiburan tapi juga bisa bisa mendapatkan inspirasi untuk menjalani hidup lebih baik,” kata Exzal. Menariknya, setiap drama menampilan elemen-elemen modern tanpa menghilangkan esensi asli dari cerita tersebut. Misalnya saja dalam kisah Hanzel dan Gretel yang memberikan setting yang lebih kiontemporer. Begitupun dengan tata rias dan kostum. Bahkan tim drama Hanzel dan Gretel berhasil mendapatkan penghargaan tata rias dan kostum terbaik. Sealin itu, mereka juga memenangkan poster dan teaser terfavorit serta juara umum. Drama Cinderella serta Penggembala Domba dan Serigala juga menjadi sorotan tersendiri. Dengan kostum mewah, setting panggung yang spektakuler, dan dukungan teknologi pencahayaan modern, kedua drama ini diharapkan memberikan pengalaman teater yang tak terlupakan bagi penonton. Melibatkan mahasiswaprodi PGSD UMM, pagelaran ini juga bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni teater di tanah air. Dengan segala persiapan dan konsep yang matang, pertunjukan ini diprediksi akan menjadi salah satu yang paling dinantikan oleh kalangan mahasiswa. (*/Wil)

Ketum PP Muhammadiyah Tegaskan Pancasila Dasar untuk Moderat Beragama

Menyongsong Indonesia emas di 2045, tidak pas rasanya jika tidak melihat bagaimana konsep moderasi dijalankan di Indonesia. Salah satunya moderasi dalam beragama. Hal ini disampaikan Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si. selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam forum Seminar Kebangsaan KTN Ke-61 YPPII Batu, 4 Juli lalu. Forum diskusi yang mengangkat sub-tema jalan baru moderasi beragama tersebut menghadirkan Haedar sebagai pembicara dalam isu moderasi beragama. Turut hadir dan mendampingi Rektor Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. “Seperti yang kita tahu, Indonesia kaya akan keberagaman agama dan kebudayaan. Moderasi atau jalan tengah dalam beragama mengandung sikap toleransi dan gotong royong terhadap perbedaan yang ada,” kata Haedar. Moderasi beragama tidak akan lepas dari konsep tentang moderasi berbangsa. Dalam beragama, pasti mengajarkan mengenai konsep wasatiyah (jalan tengah) yaitu keagamaan yang mengajarkan konsep keadilan, kasih sayang, dan toleransi. Konsep beragama ini secara tidak sadar mengandung konsep moderasi dalam berbangsa. Di mana, konsep tersebut sama halnya dengan dasar negara kita saat ini yaitu Pancasila yang memiliki banyak nilai moderat. Sebelum Pancasila dicetuskan, terdapat perbedaan pandang setiap golongan yang ingin mencetuskan dasar negara ini. Mulai dari dasar keberagamaan, dasar nasionalisme, sosial demokrat, dan lain sebagainya. Namun, terdapat dua hal yang melekat di jiwa bangsa Indonesia saat itu yaitu agama dan kebudayaan luhur bangsa. Hal ini yang menjadi cikal bakal pancasila yang memiliki perbedaan dengan bangsa lain. “Dari pancasila yang dicetuskan saat itu, kita bisa melihat bahwa ada banyak yang mengandung nilai moderasi khsusunya dalam beragama,” tambahnya. Pada sila pertama contohnya, membahas mengenai keberagaman agama yang disatukan dalam ketuhanan yang Maha Esa. Artinya adalah masyarakat diminta untuk saling menghargai terhadap perbedaan keyakinan dan keberagaman tersebut. Juga, dapat dilihat melalui sila ketiga yaitu persatuan Indonesia. Sila ini mengandung makna bahwa dalam merawat Indonesia dibutuhkan persatuan dalam keberagaman yang besar. Maka dari itu, Muhammadiyah menyebut Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Darul Ahdi Wasy Syahadah atau Negara kesepakatan dari perjanjian yang disepakati. “Yang disepakati apa? Yang disepakati adalah pancasila sebagai dasar dalam moderasi segala hal di Indoensia,” tambahnya. Terakhir, ia menyebut bahwa dalam menjalankan moderasi di Indonesia pasti mengalami banyak tantangan. Mulai dari isu intoleransi, isu kesalahpahaman, maupun isu sosial lainnya. Tapi, kunci dalam menyelesaikan masalah adalah memahami mengenai agama, pancasila, dan kebudayaan bangsa dengan mendalam, luas, dan visioner. “Dengan kita menerapkan ketiga kunci tersebut, Insya Allah bangsa kita akan keluar dari masalah yang dihadapi untuk menyongsong Indonesia emas 2045,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)