Kuliah Pakar Peternakan UMM: Potensi Industri Pakan Ternak di Indonesia

Dibandingkan dengan pakan tradisional, pakan olahan ternak akan diperkirakan meningkat pertumbuhannya. Apalagi dengan seiring meningkatnya kebutuhan akan ternak di masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Ir. Yahya M. Sofwan, S.Pt., MP., IPM. selaku Consultant Animal Protein Indonesia U.S Soybean Export Council (USSEC)  pada kuliah pakar pakan dan teknologi pakan yang diadakan oleh Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara menarik itu dilaksanakan pada 22 Juni 2024 lalu. Tak hanya seminar, pada acara tersebut juga turut mengadakan pameran hasil praktikum pengolahan produk pakan bagi ruminansia dari para mahasiswa. Setidaknya, ada lebih dari 12 produk olahan seperti vitamin bagi hewan ternak, supmelen, ataupun jamu herbal bagi ternak. Yahya, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa pertumbuhan olahan pakan ternak menjadi prospek yang bagus untuk sebuah industri di masa depan. Untuk menciptakan dunia usaha ternak diperlukan teknologi pengolahan pakan yang baik. Hal ini juga dapat menjadi peluang terciptanya ladang industri bertaraf ekspor. “Tingkat pertumbuhan pabrik ternak di Jawa Timur saja meningkat dari 15.445 pada tahun 2019 menjadi 20.451 pada tahun 2022,” ucapnya. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan terkait pakan yang bisa diekspor. Misalnya saja pakan unggas, untuk mencapai taraf ekspor, setidaknya pakan perlu memiliki beberapa kandungan seperti vitamin sebesar 1-5 kg/t, kalsium 1-80 kg/t, kandungan protein 10-30%, dan bulir-bulir 30-60%. Selain itu juga harus ada bahan mentah yang digunakan pada pakan, seperti jagung, CPO, PKM, beras, gandum, dan biji copra. Sayangnya, sebagian bahan mentah tersebut masih banyak yang impor dari luar negeri. Di Indonesia sendiri, bahan  mentah yang digunakan pada pakan masih didominasi oleh produk bahan lokal 65% dan impor sebesar 35%. Kendalanya adalah bahan mentah impor yang memiliki harga lebih bersaing sehingga banyak produsen beralih menggunakan bahan mentah impor daripada bahan lokal. Pun, produksi bahan mentah di Indonesia masih terbilang jauh untuk mencukupi kebutuhan produksi pakan dan konsumsi masyarakat. Maka dari itu, proses produksi pakan ternak perlu memperhatikan kualitas dan harga untuk menunjang ekspor. Kualitas produk pakan ternak dapat menciptakan ketertarikan konsumen pada produk yang diciptakan. Produk berkualitas dapat dilihat dari karakteristik fisik pakan ternak, seperti kandungan kimia seperti asam amino, mineral, juga kandungan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Sementara itu, Ainur Rizaldi, S.Pt selaku marketing pakan ternak Nutrifeed Puspeta Group berpendapat bahwa dalam menciptakan industri pakan ternak, perlu mengetahui kebutuhan pasar. Para peternak biasanya akan memilih produk pakan yang memiliki harga lebih murah dengan kualitas yang sebanding atau lebih. “Bagi peternak yang terpenting adalah harga. Jika harganya sebanding dengan kualitas atau bahkan lebih, biasanya akan lebih dipilih,” ucapnya. Menurut alumnus program studi peternakan itu, kunci keberhasilan usaha peternakan adalah pada manajemen pakan, genetik, dan manajemen pemeliharaan. Jika suatu ternak memiliki genetik yang bagus namun tidak diimbangi dengan pakan yang berkualitas, maka hasil ternak juga akan menurun. Terakhir, Apriliana Devi Anggraini, S.Pt., M.Sc. selaku kepala laboratorium peternakan berharap acara ini bisa menjadi ladang skill bagi mahasiswa untuk terus melakukan inovasi pada pakan ternak di Indonesia. Melalui program praktikum pengolahan produk pakan ini, mereka juga didorong mengembangkan produknya hingga ke pasar global. (tri/wil) Shared:

UMM dan Kampus Ternama London Siap Bangun Kampus Bersama di KEK Singhasari

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melebarkan sayap kerjasama internasionalnya. Terbaru, UMM membahas kerjasama menarik dengan King’s College London (KCL) pada 25 Juni ini. Utamanya tentang pengembangan Center for Future Works (CFW) dan Center of Excellence (CoE) yang selama ini sudah dilakukan oleh Kampus Putih. Turut hadir Dr. Helen Bailey selaku Deputy Vice President Global Business Development KCL dalam kesempatan itu. “UMM merupakan kampus yang indah dan bagus. Saya benar-benar merasakan komitmen dari rektor dan jajaran pimpinan UMM untuk terus mengembangkan kampus ini. Baik dari segi kapabilitas mahasiswanya, kualitas pendidikannya, maupun upayanya dalam membantu dan mengabdi pada masyarakat,” kata Helen. Terkait kerjasama, ia melihat ada banyak aspek yang bisa dikerjasamakan. Apalagi UMM juga akan mengembangkan program CoE dan CFW di kawasan yang sama yakni Kawasan Eonomi Khusus Singhasari sehingga akan memudahkan kolaborasi ke depannya. Misalnya saja wokrshop, kegiatan mahasiswa, dan lain sebagainya. “Kebetulan kami sudah mendapatkan izin untuk mendiirkan KCL di KEK Singhasari dan akan meluncurkan cabang KCL pada September nanti. Semoga masing-masing universitas bisa saling mendorong untuk bisa menjadi lebih baik,” tegasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerjasama UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. mengatakan hadirnya KCL di Malang bisa menjadi pemacu bagi universitas-universitas lain untuk meningkatkan kualitas. Bukan hanya menjadi kompetisi antar perguruan tinggi, tapi yang lebih penting adalah kerjasama dan mitra antar universitas.  Ia menilai, kebijakan pemerintah untuk membuka pendidikan asing di Indonesia ini memiliki tujuan positif. “Tidak hanya kompetisi, tapi juga bisa menjadi wadah kolaborasi. Maka UMM dan KCL ingin membuktikan itu, menjadi mitra yang saling memberikan pengaruh baik,” tegasnya. Pengembangan dan investasi program UMM di KEK Singhasari juga memiliki alasan kuat, yakni KEK yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Ini sejalan dengan visi UMM yang ingin menyediakan SDM dengan skill masa depan. Salah satunya melalui CFW dan CoE. Nantinya, kedua pusat ini akan menjadi program yang akan sangat strategis. “Terkait kerjasama dengan UMM, tentu akan ada banyak. Misalnya saja kerjasama riset atau pengembangan obat. Karena KCL kan terkenal dengan nersnya yang bagus, sementera UMM juga sudah memiliki rumah sakit yang mumpuni dan berprestasi,” katanya menegaskan. (wil)

Bikin Susu Kambing Berprotein Tinggi, Mahasiswa UMM Lolos Pembiayaan dari Pemerintah

Mahasiswa Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa kambing bukan sekadar hewan ternak biasa. Daging maupun susunya memiliki potensi ekonomi yang besar jika berhasil diberdayakan dengan baik. Seperti Alfi Fuad Nugroho dan timnya yang sukses mengembangkan bisnis budidaya kambing Peranakan Etawa (PE) ras Kaligesing dan lolos pendanaan Program Pengembangan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Menariknya, kelompok yang juga terdiri dari Muhammad Taufikurrahman, Farhan Arvi Mubarak, dan Andi M. Reza ini berfokus pada pengembangan susu kambing berprotein tinggi. Hal ini dilatarbelakangi oleh potensi budidaya dan susu kambing PE di Kabupaten Tulungagung yang terus meningkat. Terlebih, hal ini didukung oleh kondisi lingkungan yang kaya akan lahan pakan. “Susu kambing diketahui kaya akan nutrisi seperti fosfor, kalsium, sodium, dan flourin yang bermanfaat untuk meningkatkan sistem imun, kesehatan tulang, dan jantung. Sebenarnya, kandungan nutrisi susu kambing PE tidak jauh beda dari kambing lainnya. Hanya saja, jumlah protein kambing PE lebih tinggi dan memiliki aroma khas,” jelas Alfi. Dalam upaya meningkatkan kualitas susu ini, kelompok ini memilih bahan pakan dari ampas tahu yang ditanbah dengan konsentrat pabrikan, mineral dan temulawak. Terlebih, kandungan protein dari ampas tahu yang tinggi dapat meningkatkan produktivitas bobot badan kambing dan produktivitas susu. Sebagai bukti, tim ini melakukan uji laboratorium terhadap kandungan nutrisi susu kambing PE tersebut. Menariknya, hasil uji menunjukkan kandungan protein susu kambing PE milik tim ini mencapai 3,71 gram. Angka tersebut lebih tinggi dari standar normal yaitu 3,6 gram. Uji analisa proksimat ini memastikan konsumen dapat mengetahui kandungan nutrisi susu kambing dengan jelas. Didampingi oleh Aprilliana Devi Anggraini, S.Pt., M.Sc., selaku dosen D-IV Agribisnis Unggas UMM, tim ini tidak hanya fokus pada produksi susu saja, tetapi juga memberikan  tujuan positif lainnya. Mulai dari penjualan susu ke masyarakat, breeding untuk dijual anakannya, penyediaan kambing jumbo untuk kurban khusus pejantan, hingga meningkatkan nilai jual kambing. “Ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dan dukungan UMM dalam menghadirkan mentor-mentor pengusaha, sehingga membantu meningkatkan keterampilan entrepreneurship. Ke depannya, kami juga akan mengembangkan pemilihan bahan pakan untuk meningkatkan produktivitas susu pasca melahirkan,” tukasnya. Dengan pencapaian ini, harapan Alfi dan timnya adalah agar permintaan pasar terhadap susu kambing terus stabil dan meningkat setiap tahunnya. Mereka optimis bisnis kambing PE ras Kaligesing dapat menjadi sumber penghasilan utama dan menarik minat lebih banyak masyarakat untuk terjun dalam bidang ini. (lai/wil)

RPL FKIP UMM, Bisa Ubah Kursus dan Pelatihan Jadi Kredit Akademik

Untuk mempercepat proses menimba ilmu dan menyediakan pendidikan yang efektif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu memberikan inovasi dan kemudahan bagi mahasiswanya. Terbaru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih hibah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) tipe A dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Juni ini. Adapun RPL merupakan salah satu program penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi di Indonesia. Harapannya, program ini dapat memberikan pengakuan terhadap pembelajaran yang telah ditempuh oleh mahasiswa melalui pengalaman akademik dan non-akademik. Ini termasuk pengakuan atas kursus, pelatihan, pekerjaan, atau kegiatan lain yang relevan dengan program studi mereka. “Dengan demikian, calon mahasiswa dapat mengajukan pengakuan atas pembelajaran formal maupun informal yang telah mereka peroleh sebelumnya untuk mendapatkan kredit akademik. Hal ini mempercepat penyelesaian studi mereka serta menghemat waktu dan biaya studi,” kata Koordinator Program Dr. Sugiarti, M.Si. Adapun FKIP UMM ditetapkan sebagai salah satu dari 60 perguruan tinggi penerima hibah RPL dan secara resmi akan mengimplementasiskan Program RPL pada semester ganjil 2024/2025 untuk enam prodi. Di antaranya Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Wakil Dekan I FKIP UMM itu juga bersyukur atar raihan hibah ini. Menurutnya, hal itu merupakan pengakuan atas kerja keras FKIP UMM dalam meningkatkan mutu pendidikan. Khususnya, dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan gelar S1. Sebelumnya ia dan Fida Pangesti, M.A. uga telah mengikuti bimbingan teknis terkait hal tersebut. “Bimtek ini adalah kesempatan berharga bagi FKIP UMM untuk belajar dari perguruan tinggi lain yang juga menerima hibah RPL. Menambah wawasan dan pemahaman lebih mendalam tentang implementasi RPL. Kami juga mendapat inspirasi bagaimana mengoptimalkan program RPL, baik dari masukan reviewer maupun dari praktik baik perguruan tinggi lain,” jelasnya. Selain bermanfaat bagi calon mahasiswa dan mahasiswa, penerimaan hibah ini juga membuka peluang bagi FKIP UMM untuk mengembangkan kurikulum yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Dengan demikian, lulusan dari FKIP UMM akan memiliki daya saing yang lebih tinggi di dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi akan memberikan bekal yang lebih baik bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. “Dengan semangat baru dan dukungan hibah ini, FKIP UMM optimis dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi,” tegasnya mengakhiri. (*wil)

Mahasiswa PPKn UMM Raih Predikat Duta Pendidikan Indonesia

Impian yang tak terwujud bukan berarti gagal. Bisa saja, Tuhan telah mempersiapkan masa depan yang lebih baik dari apa yang direncanakan manusia. Sama seperti yang dialami oleh Amelia Salsabilla Anatasya, mahasiswi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Impian kecilnya yang dulu kandas kini membuahkan hasil dengan memenangkan ajang Duta Pendidikan Indonesia, awal Juni 2024 lalu. Bella, sapaan akrabnya mengatakan bahwa impian kecilnya adalah menjadi model, namun karena satu dua hal dirinya tak berhasil menjadi model dan merasa minder. “Tapi di sinilah peran besar orang tua saya. Keduanya mendukung penuh apapun yang saya lakukan. Pesan beliau hanya satu waktu itu, Bella harus jadi orang yang tanggung jawab atas apa yang dilakukan,” ucapnya. Pesan orang tuanya ia wujudkan saat ia duduk di bangku kuliah. Ia berhasil menyabet juara 1 pada ajang Duta Pendidikan Indonesia yang diadakan oleh Yayasan Putera Puteri Duta Pendidikan Indonesia (PPDI) tahun 2024. Pada perhelatan tersebut, ia memiliki program kerja bertema “Believe Your Dream”. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendidikan bagi anak yatim piatu di panti asuhan. Latar belakang ia memilih panti asuhan karena dirinya pernah menjadi volunteer Jejak Mengabdi Indonesia di tahun 2023 selama dua bulan. Berangkat dari situ, ia akhirnya memberanikan diri untuk mengabdikan dirinya mendidik anak panti asuhan seperti panti asuhan mambaul hikmah panti asuhan harapan asrori, dan panti asuhan sunan kalijaga. “Banyak yang bisa di ambil dari pengalaman itu. Apalagi, ada panti asuhan yang juga mengasuh anak berkebutuhan khusus. Saya jadi bisa belajar bahasa isyarat dan belajar bagaimana cara mendidik setiap individunya,” tambahnya. Bella menekankan pada pendidikan karakter bagi anak sekolah dasar. Mulai dari belajar mengenai sejarah Indonesia, belajar mengenai character building, juga belajar bersosialisasi dengan masyarakat. Tak jarang, ia juga membantu pekerjaan sekolah anak panti asuhan sebagai salah satu programnya. Setelah belajar, biasanya ia mengajak anak panti asuhan untuk bermain bersama seperi permainan gobak sodor, petak umpet, dan lain sebagainya. Ke depannya, ia juga akan mendirikan platform komunitas untuk mengajak masyarakat turut ikut serta mensejahterakan pendidikan anak-anak, khususnya bagi anak di panti asuhan. “Saya ingin program yang saya buat bisa mendorong masyarakat untuk turut membantu mensejahterakan pendidikan,” tambahnya. Tak hanya menjadi duta pendidikan Indonesia, Bella juga beberapa kali mengikuti ajang serupa seperti duta kampus Jawa Timur tahun 2023 hingga runner up Puteri Nusantara Jawa Timur tahun 2023. Bella juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PPKn UMM. Untuk itu ia berharap, tak hanya dirinya yang dapat mencapai impiannya, namun para mahasiswa UMM lain. Menurutnya, kepercayaan diri dan tidak takut mencoba akan selalu memberikan hasil yang baik. “Cukup mulai melangkah maju, karena pasti akan ada yang mendukungmu,” tambahnya mengakhiri. (tri/wil)

CJ-Fest UMM, Hasilkan 10 Portal Berita dan 2.000 Karya

Program Studi Ilmu Komunikasi (Ikom) Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar Communication Journalism Fest (CJ-Fest). Giat tersebut merupakan kolaborasi antara mahasiswa praktikum Public Relations dengan mahasiswa praktikum jurnalistik 3 bertempat di Malang Creative Center (MCC) Rabu, 20 Juni 2024. Ini menjadi ajang memamerkan kreativitas anak-anak muda dengan berbagai cara. Ada sepuluh portal berita dengan ribuan karya yang dihasilkan. “Ini menjadi ajang unjuk gigi mahasiswa pasca kegiatan praktikum. Mereka yang tergabung praktikum jurnalistik sudah mendapatkan pengalaman liputan yang kemudian dipamerkan di acara ini. Setidaknya ada sepuluh portal berita dengan tema berbeda yang bisa ditemukan. Misalnya saja terkait UMKM, healthy food, dan lainnya,” jelas Kepala Program Studi (Kaprodi) Ikom UMM Nasrullah, S.Sos, M.Si. Nasrullah menegaskan bahwa total ada ribuan artikel berita yang dihasilkan dari sepuluh portal berita tersebut. Selain sebagai pengalaman langsung untuk mahasiswa, output dari media itu diharapkan dapat memberikan tambahan edukasi kepada masyarakat. “Akses dari media digital itu kan sangat luas, ya. Apalagi tema yang diangkat juga beragam. Secara otomatis, ilmu yang didapat oleh mahasiswa itu tidak hanya berhenti di pikiran, namun juga langsung memberikan kebermanfaatan kepada khalayak umum,” tambahnya. Menariknya, hasil karya mahasiswa Prodi Ikom UMM, baik dari jurnalistik, public relations, dan audio video dapat dikembangkan lagi pasca praktikum. Kemudian langsung dijadikan skema untuk tugas akhir. “Sehingga para mahasiswa tak perlu lagi bingung mengerjakan skripsi dan bisa langsung mengembangkan karyanya saat praktikum,” katanya. Sementara itu, dosen pembimbing praktikum PR Jamroji, M.Comms. menambahkan bahwa CJ-Fest juga menyelenggarakan ‘Workshop & Journalism Project’ yang diikuti SMA dan MA se-Malang Raya. Siswa yang mengikuti giat tersebut diberikan pengetahuan mendalam terkait jurnalistik sekaligus praktek langsung dilapangan. Menariknya, peserta yang mengikuti event CJ-Fest ini juga berkesempatan mendapat golden ticket untuk menjadi bagian dari kampus putih. “Para peserta ini tidak hanya diminta duduk mendengarkan materi, tapi langsung diminta praktek agar ilmu yang didapat melekat. Misalnya dengan mengambil video jurnalistik dengan durasi singkat. Dengan demikian, mereka dapat tahu apa saja yang dilakukan oleh para awak media dalam dunia jurnalistik,” jelasnya. Selain untuk mendorong minat siswa terhadap dunia jurnalistik, terdapat misi khusus CJ-Fest ini yakni menunjukkan kompetensi prodi Ikom UMM kepada siswa. Mulai dari tenaga pengajar yang profesional, laboratorium yang memadai, serta output dari prodi Ikom yang sangat luas di bidangnya. (faq/wil)

Penelitian Dosen UMM Ini Bantu Internasionalisasi Bahasa Indonesia

Upaya internasionalisasi bahasa Indonesia sangatlah penting. Maka peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) perlu dilakukan. Maka dari itu, Dr. Faizin, M.Pd. telah mengembangkan dan meneliti terkait model konfigurasi sistemis berbasis digital pada pembelajaran BIPA. Dosen UMM itu menyampaikan hal tersebut dalam ujian terbukanya pada 21 Juni lalu. Hasil pengembangan produk dalam penelitian tersebut berupa model pembelajaran konfigurasi sistemis berbasis digital yang memuat beberapa perangkat pembelajaran. Di antaranya buku ajar BIPA Mentari Indonesia, lembar kerja mahasiswa, buku pedoman dosen, buku pedoman penilaian, RPS dan Silabus. Menurut Faizin, ada beberapa keunggulan model ini. Salah satunya yakni pengembangannya yang mempertimbangkan faktor karakteristik pembelajar daru berbagai negara berbeda. Selain itu juga melihat tingkat penguasaan para penutur asing tersebut. Model ini juga dikembangkan dari model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan BIPA. Kemudian yang ketiga yakni menghasilkan kegiatan pembelajaran yang terarah, fokus pada penguasaan dan peningkatan keterampilan berbahasa, serta dilaksanakan secara bertahap. “Berdasarkan skor empat kevalidan yang ditetapkan BNSP,model ini sangat valid,” tegasnya. Berdasarkan penelitiannya, ada peningkatan signifikan dalam penilaian hasil belajar pada empat aspek terkait, yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.Hal ini berarti model pembelajaran ini efektif digunakan untuk mahasiswa BIPA. Lebih lanjut, Faizin menegaskan bahwa pada dasarnya model pembelajaran konfigurasi sistemis berbasis digital yang dikembangkan dalam Penelitiannya hanya diperuntukkan untuk proses pembelajaran dalam program BIPA. Namun demikian, model tersebut dapat juga diterapkan dalam proses pemerolehan bahasa asing lain. Misalnya saja Bahasa Inggris yang diajarkan di lingkungan sekolah jenjang SMP dan SMA. Namun, perlu adanya penyesuaian dengan karakteristik siswa dan materi bahasa terkait. “Model pembelajaran yang berhasil saya kembangkan diharapkan dapat dijadikan pertimbangan bagi pemerintah dalam meningkatkan dukungan terhadap program BIPA. Dengan begitu, tujuan menginternasionalisasi bahasa Indonesia dapat lebih cepat terwujud. Dukungan dari pemerintah dapat berupa penetapan kebijakan yang memfasilitasi kebutuhan pengembangan program BIPA. Atau pun juga dukungan anggaran untuk menambah fasilitas pembelajaran,” katanya mengakhiri. (wil)

Berbagai Alat Menarik di Aquafest Innovation Technology UMM

Mengajarkan critical thinking dan problem solving kepada mahasiswa berbasis temuan lapangan bukan perkara gampang. Untuk mendukung hal tersebut, Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajak mahasiswanya menggelar acara pameran bertajuk ‘Aquafest Innovation Technology’. Acara ini diikuti dan diramaikan oleh ratusan mahasiswa pada 10 Juni lalu. Berbagai alat dan temuan dipamerkan dalam agenda ini. Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP. selaku dosen Akuakultur UMM menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Aplikasi Komputer dan Digital Perikanan. “Setelah melaksanakan mata kuliah tersebut, mahasiswa membuat prototype terkait teknologi atau aplikasi berbasis perikanan yang diinisiasi dari temuan mereka di lapangan,” ujarnya. Dalam gelaran ini diikuti oleh berbagai kelompok yang masing-masing memamerkan hasil prototype-nya. Indra menyebut dua di antaranya berbasis aplikasi, yakni ‘Terquality’ dan ‘Marine Market Place’, sedangkan lainnya berbasis alat untuk mempermudah proses budidaya ikan. Inovasi tersebut meliputi Automatic Transmission Switch, Aquamaster Auto Top-up Water Tank, Automatic Food Feeder, Anco, hingga Gelembung Surya Aerator, dan lain sebagainya. Salah satu prototype yang mengadopsi tenaga matahari adalah Gelembung Surya Aerator. Menurut Serli Viviani Patrisia selaku ketua kelompok, Inovasi ini bertujuan menyediakan solusi berkelanjutan bagi pembudidaya ikan dengan mengurangi ketergantungan pada listrik dan memastikan pasokan oksigen tetap terjaga bahkan saat malam hari. “Gelembung Surya Aerator ini meliputi tiga komponen utama yaitu aerator, panel surya, dan powerbank. Panel surya berfungsi menyerap panas matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik yang kemudian digunakan untuk mengoperasikan aerator. Energi yang dihasilkan mampu menciptakan gelembung oksigen untuk ikan,” paparnya. Menariknya, alat ini dilengkapi dengan keberadaan powerbank yang berfungsi sebagai cadangan tenaga. Powerbank ini menyimpan energi yang dihasilkan oleh panel surya sehingga aerator dapat beroperasi selama 24 jam penuh, termasuk di malam hari atau saat cuaca mendung. Dengan demikian, pembudidaya ikan tidak perlu khawatir dengan pemadaman listrik yang tiba-tiba. Lebih lanjut, inovasi ini diharapkan mampu memberikan solusi praktis bagi para pembudidaya ikan di Indonesia. “Umumnya, alat yang ada di pasaran hanya mengandalkan panel surya tanpa cadangan tenaga. Dengan adanya powerbank, Gelembung Surya Aerator tetap bisa digunakan meski tidak ada sinar matahari,” kata Serli. Selain itu, alat ini juga memiliki potensi untuk menghemat penggunaan listrik dan mengantisipasi risiko listrik mati. Gelembung Surya Aerator dapat digunakan untuk berbagai keperluan budidaya ikan, mulai dari akuarium hingga ekspedisi pengiriman ikan. Sehingga, dapat mendukung keberlanjutan sektor perikanan di Indonesia. Inovasi ini menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan dan efisien bisa diciptakan dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. “Harapannya, Gelembung Surya Aerator dapat menjadi model bagi inovasi-inovasi lain dalam bidang akuakultur dan teknologi ramah lingkungan di masa depan,” tutupnya. (lai/wil)

Mahasiswa UMM Kembangkan Bisnis Telur Puyuh Rendah Kolesterol

Kesadaran akan pentingnya pola makan sehat semakin meningkat di masyarakat seiring dengan peningkatan informasi tentang kesehatan dan gizi. Di tengah tren ini, empat mahasiswa prodi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mengembangkan inovasi bisnis dalam bidang budidaya telur burung puyuh rendah kolesterol. Tim yang terdiri dari Delisa Rezi Meirawati, Agus Muhaimin, Nuranisa, dan Salsabilla Putri Priyandani berhasil lolos dalam Program Pengembangan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Kelompok ini menghadirkan solusi untuk mengurangi kadar kolesterol dalam telur burung puyuh dengan menggunakan tepung kunyit sebagai tambahan pada pakan. Delisa, selaku ketua tim menjelaskan bahwa burung puyuh dipilih karena memiliki beberapa keunggulan. Pertama, burung puyuh memiliki siklus produksi yang cepat dan efisien, sehingga memungkinkan produksi telur yang stabil dalam waktu singkat. “Kedua, telur puyuh dikenal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Namun, tantangan utama adalah mengurangi kadar kolesterol dalam telur untuk menjadikannya lebih sehat,” paparnya. Salah satu inovasi utama dalam usaha ini adalah penggunaan tepung kunyit sebagai tambahan pada pakan burung puyuh. Tepung kunyit dipilih karena kunyit kaya akan antioksidan dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, termasuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah tinggi. Tepung kunyit ini berasal dari kunyit yang dihaluskan menjadi bubuk, lalu dicampurkan dengan perbandingan 50 kg pakan komersial dan 500 g kunyit bubuk. “Untuk memastikan hasilnya, kami membeli pullet burung puyuh yang berusia 3-4 minggu atau yang sudah siap bertelur. Kemudian, diberikan pakan yang dicampur dengan tepung kunyit pada hari ketujuh setelah pullet tersebut datang,” ungkap mahasiswa angkatan 2020 ini. Selanjutnya, untuk memastikan efektivitas inovasinya, empat mahasiswa ini melakukan pengujian di Laboratorium Biomedik UMM. Dengan membandingkan antara telur hasil produksi mereka dan telur puyuh yang dijual di pasaran. Hasil uji laboratorium tersebut menunjukkan bahwa telur burung puyuh yang dihasilkan memiliki kadar kolesterol lebih rendah dibandingkan dengan telur puyuh konvensional yang ada dipasaran. “Kami yakin bahwa peternak dan masyarakat dapat mengadopsi praktik yang sama dengan memberikan tepung kunyit pada pakan burung puyuh sejak usia lima minggu. Memang masih perlu penelitian lebih reinci dan detail lagi. Namun hasil pengamatan kami menunjukkan kolesterol rendah di telur puyuh ini,” tandas Delisha. Menariknya, pengembangan usaha ini dilakukan di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada ketiadaan peternak burung puyuh di daerah tersebut. Sehingga, peluang untuk mengembangkan budidaya burung puyuh sangat besar. Kesuksesan kelompok ini juga tak lepas dari peran aktif Bayu Etty Tri Adiyastiti, S.Pt, M.Si., selaku dosen Peternakan UMM sekaligus dosen pembimbing lapangan. Mulai dari proses persiapan hingga pelaksanaan proyek, termasuk pelatihan startup digital dan sesi pembinaan bulanan yang diselenggarakan secara rutin. Terakhir, tim mahasiswa ini berharap dengan budidaya burung puyuh rendah kolesterol, Indonesia dapat meningkatkan produksi telur dan daging burung puyuh secara signifikan. “Kami melihat usaha ini tidak hanya dari sisi bisnis semata, tetapi juga dari dampak sosial yang dapat dihasilkan. Dengan meningkatkan produksi burung puyuh, kami berharap dapat membantu meningkatkan kesejahteraan peternak lokal,” pungkasnya. (lai/wil)

Dosen UMM Temukan Disiplin Ilmu Baru Kaji Landskap Linguistik

Penulisan informasi di ruang publik berdasarkan rambu-rambu aturan yang tertuang dalam undang-undang tentang penggunaan bahasa Indonesia sangatlah penting. Hal itu pula yang menjadi implikasi dari penelitian Dr. M. Isnaini, M.Pd. yang membahas lanskap linguistik (LL) di Malang Raya dalam ujian disertasi terbukanya pada 19 Juni 2024 lalu. Menariknya, Krisna, sapaan akrabnya, juga berhasil menemukan disiplin ilmu baru dalam penelitian LL, yakni sosiopragmasemantika. Disiplin ilmu ini dapat digunakan untuk mengkaji bentuk, makna sign, dan fungsi bahasa LL yang berada di Malang Raya. Kepala Humas UMM itu menjelaskan bahwa budaya berbahasa di Malang Raya memiliki karakteristik dibandingkan yang lain. Fenomena bahasa di ruang publiknya juga sangat beragam dengan berbagai variasi seperti bahasa Jawa, walikan, bahasa Inggris, Arab, bahkan Mandarin. Hal itu memberikan karakter dan ciri yang khas dari penyajian bahasa dalam ragam wacana tulis di ruang publik. “Bentuk bahasa LL bisa dibagi menjadi tiga jenis, yaitu bentuk monolingual atau satu bahasa, bilingual atau dua bahasa, dan multilangual. Jenis pertama didominasi penggunaan bahasa Jawa pada nama warung, toko, reklame dan lainnya. Bentuk kedua didominasi campuran bahasa Indonesia dan Jawa pada rumah makan, kafe, dan jalan. Sementara yang ketiga bisa ditemui pada spanduk, baliho, dan pengumuman,” jelasnya. Sign lanskap linguistik memiliki maka tersendiri. Dari penelitiannya, Krisna menemukan bahwa makna-makna tersebut paling banyak muncul pada tempat bersejarah. Hal itu dikarenakan pemerintah kota dan kabupaten Malang ingin melestarikan tempat-tempat bersejarah yang bernuansa heritage pada masyarakat. Adapun fungsi LL yang paling kentara di Malang Raya adalah fungsi informatif-direktif. Ini berkaitan dengan pemberian informasi tentang sesuatu yang berorientasi pada isi bahasa dan yang ingin disampaikan. Begitupun dengan bagaimana penutur membuat lawan tutur melakukan kegiatan yang sesuai dengan keinginannya. Ia berharap penelitian ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk memberikan rambu-rambu aturan dalam penyusunan dan penulisan informasi di ruang publik. Sehingga tetap dapat mengacu pada undang-undang tentang penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. “Semoga masyarakat bisa menggunakan hasil penelitian ini sebagai media untuk lebih memahami struktur dan metode dalam penulisan informasi di ruang publik. Sehingga tercipta kesesuaian dalam bahasa. Begitupun dengan pemerintah,” tegasnya mengakhiri. (wil)