Pastikan AUG Pencak Silat Aman, UMM Siapkan Tim Kesehatan Lebih dari Standar

Tim kesehatan memgang peran penting untuk memastikan kompetisi selalu aman dan nyaman. Hal itu pula yang dilakukan tim kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam ajang ASEAN University Games (AUG) cabang olahraga pencak silat yang diadakan di Dome Kampus Putih. Ajang yang dilaksanakan pada 3-7 Juli itu tidak lepas dari cedera fisik karena merupakan olahraga bela diri. “Tentu pasti ada luka fisik karena benturan. Cedera yang dialami biasanya memar, patah tulang atau bahkan dislokasi sendi. Tapi di dua hari penyelenggaraan AUG ini tergolong aman. Hanya kemarin ada atlet dari Singapura yang mengalami patah di tulang selangka. Alhamdulillah sudah diatasi dan ditangani dengan baik. Apalagi UMM juga punya rumah sakit yang dekat,” jelas koordinator tim dr. Wildan Firmansyah. Menariknya, tim kesehatan yang disiapkan melebih standar yang biasa berlaku. Jika biasanya hanya empat tim kesehatan yang diterjunkan, kali ini tim tersebut terdiri dari 8-10 orang. Ada dokter anestesi, dokter saraf, dan 7 dokter umum. Selain itu juga ada fim fisioterapis serta sederet volunteer dari anak-anak muda. “Kami siapkan lebih dari standar karene mengingat ini adalah event besar dan internasional. Dengan jumlah yang lebih banyak, harapannya bisa memastikan semua aman dan terkendali selama ajang AUG cabor pencak silat dilaksanakan,” kata dokter RS UMM itu. Disediakan pula dua ambulans yang terdiri dari satu ambulans transport dan satu ambulance advance. Keduanya dilengkapi dengan alat-alat yang mencukupi, terutama model advance. Dengan begitu, jika teradi kecelakaan atau luka serius, bisa langsung ditangani dan dibawa ke rumah sakit untuk bisa ditangani lebih lanjut. Apalagi jika mengalami luka yang serius dan perlu pnanganan khusus. Terakhir, dokter yang sering turun sebagia tim relawan itu berharap, ke depan ada platform komunikasi yang lebih baik antar tim kesehatan yang ada di beberapa venue. Dengan begitu, mereka bisa saling diskusi dan saling bantu agar efek yang diberikan semakin besar. Selain itu, volunteer yang berpengalaman juga akan menjadi tambahan tim yang bagus untuk membantu penanganan berbagai cedera selama kompetisi. (Wil)

Youth SDGs Conference di UMM: Semua Punya Peran Jaga Bumi

Seluruh lapisan masyarakat punya peran dalam menyukseskan 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs). Hal itu disampaikan langsung oleh Pemateri Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc. pada Youth SDGs Conference yang diselenggarkan oleh UKM SDGs UMM 1 Juli lalu. Dalam acara tersebut, setidaknya terdapat perwakilan mahasiswa dari 30 kampus se-Indonesia dan beberapa dari luar negeri seperti Ghana dan Afganistan. Mereka adalah anak-anak muda yang konsen terhadap isu SDGs. Lebih lanjut, Tatag menjelaskan bahwa isu SDGs ini harus diperhatikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, hal itu dapat menciptakan kestabilan ekosistem kehidupan yang baik. Apalagi mengingat bahwa manusia merupakan makhluk hidup yang saling terikat dengan sesama makhluk hidup baik dengan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. “Misalnya saja pembahasan mengenai lingkungan hiduo, khususnya limbha cari, padat, maupun gas. Semua limbah itu pasti berakar dan dihasilkan oleh masyarakat, industri, dan lainnya. Maka mereka juga harus turut mengatasi itu karena dampaknya bisa langsung memperburuk iklim. Belum lagi aspek-aspek lainnya,” tegasnya. Menurutnya, dampak iklim yang timbul dari aktivitas pencemaran lingkungan tersebut secara langsung dapat menyebabkan kenaikan suhu pada udara. Efeknya adalah terjadinya gejolak tidak normal pada sektor pangan, ketersediaan air, ekosistem hewan, cuaca, hingga risiko perubahan iklim secara besar dan mendadak. “Suhu udara naik, otomatis hasil panen para petani akan berkurang. Beberapa daerah akan mengalami kekeringan dan yang paling bahaya adalah naiknya permukaan laut. Beberapa spesies hewan akan mengalami mati masal, cuaca tidak menentu, hingga iklim berubah tidak sesuai periodisasi. Sektor itu tadi kan sangat berkaitan satu sama lain, jadi harus benar-benar dijaga bersama,” ungkapnya. Di sisi lain, Sandi Wahyudiono, ST., MT. selaku pembina SDGs UMM mengungkapkan bahwa giat ini merupakan salah satu bentuk komitmen nyata UMM dalam mendukung SDGs. Selain itu, UMM juga seringkali membuat inovasi serta gebrakan nyata untuk berkontribusi langsung dalam mensukseskan SDGs. “Kampus se-Indonesia ini masih bisa dibilang sedikit yang fokus mencapai SDGs. Sementara UMM ini sudah terjun langsung seperti penanaman pohon, pengembangan subak, pneggunaan air untuk energi dan lainnya. Hal-hal tersebut sangat berkaitan dengan isu lingkungan. Adapula sekolah jalanan yang berkaitan langsung dengan isu sosial dan berbagai kegiatan lainnya. Acara ini juga berupaya mencetak generasi yang nantinya ikut andil dalam mensukseskan SDGs,” ungkapnya Terakhir, Sandi sapaan akrabnya berharap agar para peserta bisa jadi pioner dan penggerak untuk menggerakkan masyarakat mencapai SDGs. Menurutnya, anak muda yang kritis dalam menyuarakan gagasan sangat dibutuhkan, terlebih pada isu-isu yang berkaitan dengan kemaslahatan umat manusia di kemudian hari. (Faq/Wil)

Berstandar Internasional, UMM Jadi Tuan Rumah ASEAN University Games

Untuk kesekian kalinya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali jadi venue ajang internasional. Terbaru, Kampus Putih ditunjuk menjadi tuan rumah ASEAN University Games cabang olahraga pencak silat, pada 2-6 Juli 2024 ini. Ratusan atlet pencak silat dari sepuluh negara berbeda di ASEAN saling berkompetisi menjadi yang terbaik dalam gelaran itu. Kesiapan dan sederet pengalaman melaksanakan ajang internasional menjadi alasan UMM ditunjuk menjadi lokasi cabor pencak silat. Mulai dari Dome yang bisa dijadikan venue pertandingan hingga tiga hotel mumpuni yang dimiliki UMM. Dengan begitu, para peserta bisa lebih mudah dan nyaman karena jarak penginapan dan gelanggang cukup dekat. Selain itu, adanya Rumah Sakit UMM juga memberikan nilai lebih karena akan mempercepat proses penanggulangan jika terjadi cedera atau kecelakaan. Hal itu diamini oleh pelatih Brunei Darussalam Muhammad Khairul Bahri. Menurutnya, berbagai proses bisa dengan nyaman dilalui. Apalagi hotel yang ditempati adalah milik UMM sehingga memudahkan mobilisasi para atlet. Ia juga mnegatakan bahwa hawa dingin Malang juga membuat tim asuhannya lebih rileks dan fokus. “Kualitas penyelenggaraannya sudah cukup bagus dan mendekati ajang-ajang seperti ASEAN Games. Harapannya AUG ini bisa mendorong atlet-atlet muda kita untuk terus mengasah diri dan berprestasi menuju masa depan yang lebih baik,” terangnya. Terkait kesehatan dan keselamatan, UMM juga menyiapkan tim kesehatan terbaik. Meski standarnya hanya menyiapkan empat tim, namun Kampus Putih menambah jumlah tersebut menjadi sepuluh tim, dua di antaranya dokter bersertifikasi internasional. Dilengkapi juga dengan ambuans advance serta ambulans transportasi. Hal itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun gelaran AUG cabor pencak silat itu dibuka langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Ia mengatakan, kompetisi ini merupakan implementasi dari pepatah ‘mens sana in corpore sano’ yakni jiwa yang sehat di tubuh yang sehat. Selain itu, menurutnya, pencak silat memiliki sejarah dan kultur yang panjang dan tercermin dalam setiap kekuatan, kedisiplinan, dan bakat dari para atlet. “Selain memiliki gerakan-gerakan yang indah, pencak silat juga memiliki beberapa tujuan. Pertama, untuk keamanan karena bela diri ini mengajari tentang pertahanan diri. Kemudian adapula sebagai ajang bersaing meraih prestasi dan kompetisi yang suportif,” katanya. Terakhir, Nazar berharap lomba pencak silat AUG di UMM ini bisa berjalan sesuai standar dan menjunjung tinggi sportivitas. Selain itu juga dapat memberikan kesan baik yang tak terlupakan selama di Malang. “Selamat datang dan selamat berkompetisi. Saling menghormati, junjung sportivitas, dan berikan yang terbaik bagi negara masing-masing,” pungkasnya. (wil)

Sekum Muhammadiyah di UMM: AUM Makmurkan Negara

Sejak dulu, Muhammadiyah menempatkan negara sebagai aspek muamalah duniawiyah. Disebut aspek muamalah duniawiyah karena tidak ada penjelasan konkrit dalam Alquran tentang negara seperti apa. Namun, masih dapat ditemui dalam hadits dan perilaku nabi. Hal ini dijelaskan oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M. Ed. selaku Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada sesi materinya dalam Darul Arqam Top Manager Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, 29 Juni lalu. Acara yang berlokasi di Hotel Razy Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut dihadiri oleh para petinggi dari beberapa universitas dalam cakupan wilayah 5 Jawa. Mu’ti, sapaannya, menyatakan bahwa negara yang ada saat ini terbentuk karena adanya hubungan antar manusia. “Bentuk negara itu habluminannas atau hubungan antar sesama manusia. Yang mengatur dan mendefinisikan bentuk negara ya antar manusia itu sendiri,” ucapnya. Mu’ti menambahkan, jika berbicara mengenai hubungan antar manusia maka tidak akan ada batasnya. Namun, yang perlu digarisbawahi dama hubungan antar manusia adalah nilai dasar muamalah dan prinsip fundamentalnya. Tujuannya sudah dijelaskan pada prinsip dasar bermuamalah yaitu jual-beli, sewa-menyewa, utang-piutang, urusan bercocok tanam, berserikat, dan lainnya. Jika berbicara mengenai negara sebagai darul ahdi, sebenarnya sudah banyak dijelaskan dalam dasar negara Indonesia, yaitu pancasila. Dalam political statement, Muhammadiyah menjelaskan bahwa bentuk negara pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Mulai dari bagaimana bentuknya, konsep dasarnya, serta bentuk paling maslahatnya. Bahkan, tokoh Muhammadiyah ikut merumuskan konsep dasar Negara kesatuan Republik Indonesia seperti yang tecantum pada piagam Jakarta. “Karena menurut Muhammdiyah, Pancasila itu memiliki nilai islami sehingga tidak akan bertentangan dengan ajaran agama Islam,” tambahnya. Ia juga menceritakan bahwa tokoh Muhammadiyah seperti Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo, dan KH. Kahar Muzakir yang ikut turut merumuskan pancasila. Pancasila, khususnya sila pertama sudah sangat seusai dengan prinsip yang diajarkan oleh agama Islam. Ketuhanan yang Maha Esa mengisyaratkan bahwa Tuhan merupakan zat yang lebih tinggi dibandingkan dengan syariat. Muhammadiyah dalam bernegara ingin agar negara Republik Indonesia menjadi negara yang Baldatun tayyibatun warrabun ghafur. Dalam beberapa pendapat ahli tafsir, arti dari baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur adalah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. Cara mewujudkan negara yang memiliki sifat seperti ini adalah dengan senantiasa beribadah kepada Tuhan, memiliki akhlak yang mulia, sifat amanah bagi petinggi negara dan penduduknya, keseimbangan antara urusan duniawiyah dan akhirat, serta memohon ampunan kepada Tuhan. Terakhir, Mu’ti memberi wejangan kepada petinggi perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang ada di dalam forum. Kader Muhammadiyah harus turut andil dalam mengantarkan negara Indonesia menjadi Baldatun Tayyibatun wa rabbun ghafur. Bentuk amal usaha yang dijalankan Muhammadiyah merupakan salah satu wujud untuk menjadikan negara Indonesia lebih baik ke depannya. “Mari majukan AUM dan menjadi contoh untuk masyarakat. Sehingga nanti masyarakat bisa bilang ‘Jika ingin melihat perguruan tinggi terbaik, bisa melihat Muhammadiyah, jika ingin melihat rumah sakit yang baik bisa melihat Muhammadiyah’. Karena itu, melalui amal usaha ini, Muhammadiyah dapat menerapkan konsep Islam berkemajuan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)

Akuakuktur UMM Kembali Tambah Kerjasama dengan Perusahaan Ternama

Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggaet kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Kali ini mereka menandatangani MoU dengan PT. Aqua Prima Sumber Rejeki untuk pelaksanaan program Center of Excellent (CoE) kelas Professional Udang. Agenda yang berlangsung pada 26 Juni lalu itu dihadiri pula para perusahaan yang sudah menjadi mitra Akuakultur UMM selama ini. Selain kerjasama, melalui kegiatan tersebut, prodi akuakultur dan mitra juga ingin saling berdiskusi dan evaluasi bersama. Terkait kerjasama ini, Ir. Heri Sudarmono Selaku kepala perusahaan PT. Aqua Prima Sumber Rezeki menjelaskan bahwa melalui program CoE kelas profesional udang, Akuakultur UMM terbukti telah mempersiapkan mahasiswanya untuk dapat bersaing di dunia kerja. Menurutnya, mahasiswa yang akan melakukan program di perusahaannya merupakan titipan dari universitas, sehingga akan diberikan pembekalan dengan maksimal. “Mahasiswa perlu kita berikan gambaran dunia kerja sesungguhnya, bagaimana memahami setiap proses yang ada. Fasilitas juga telah disediakan, kami persilahkan untuk menggunakannya sebagai bahan pembelajaran mahasiswa. Kami sangat senang dapat menjalin kerjasama dengan UMM karena sudah terpercaya melahirkan mahasiswa yang penuh prestasi dan siap langsung bekerja di DUDI,” jelasnya. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. Damat, MP., IPM selaku kepala CoE UMM juga turut hadir dalam sarasehan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa kelas profesional udang prodi Akuakultur dapat diikuti oleh prodi lain. Namun tetap mengutamakan mahasiswa akuakultur yang memang sudah memiliki dasarnya. Adapun setiap perusahaan akan mendapatkan empat mahasiswa untuk magang dan belajar di sana. Jumlah yang tidak banyak ini agar para peserta bisa benar-benar memahami proses kerja. Menurutnya, mahasiswa perlu lebih banyak turun ke lapangan secara langsung. Bukan hanya duduk di kelas dan mendengarkan teori saja. “Kami percaya, akan lebih efektif jika mahasiswa lebih banyak melihat dan mempraktekkannya secara langsung. Apalagi dengan didikan dari para praktisi yang benar-benar terjun di lapangan,” tegasnya. Salah satu peserta CoE Udang, Putri Ramadhani mengatakan bahwa saat dilapangan, ia banyak mendapatkan tata pengelolaan udang yang baik. Tidak hanya saat produksinya, tapi juga pemasaran dan cara meningkatkan penjualan di tambak. Ia tertarik mengikuti program tersebut karena saat ini anak muda yang ingin belajar menjadi pengusaha udang sangat minim. Maka dari itu, ia ingin menjadi salah satunya dan memanfaatkan peluang yang ada. “Selain mendapatkan ilmu saat bersama DUDI selama satu semester, saya juga menambah relasi ke perusahaan lain ketika ada kunjungan kerja,” katanya. Prodi Akuakultur menargetkan mahasiswanya dapat bekerja, dan mandiri setelah  lulus dari kampus. Saat ini, ada 145 kursi yang disiapkan untuk CoE ini. Bahkan, mahasiswa prodi Akuakultur yang telah lulus melalui program kelas profesional udang berhasil mencapai 72% keterserapan kerja di perusahaan dengan prospek kerja yang menjamin. (ri/wil)

Judul Film Ipar adalah Maut diambil dari Hadits Nabi? Dosen UMM Berikan Penjelasan

Akhir- akhir ini dunia perfilman tengah dihebohkan dengan film berjudul “Ipar Adalah Maut” yang membuat para penonton geram akan alur ceritanya. Film yang dirilis pada Juni tersebut diangkat dari kisah nyata seorang follower seorang konten kreator Tiktok Eliza Sifa. Judul itu sepertinya juga mengambil dari kutipan hadits Rasulullah yang bermakna sama. Menanggapi hal tersebut, Dr. Syamsurizal Yazid, M.A. selaku ahli Hadits dan juga dosen Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membahas lebih dalam apa yang menyebabkan turunnya hadits tersebut. Asbabun nuzul atau munculnya hadits tersebut, ialah dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita”. Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172). Hamwu yang dimaksud dalam hadits diatas bukan hanya ipar saja namun setiap kerabat dekat istri yang bukan mahram. Hadits di atas juga mengajarkan larangan berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahram. Karena dalam hadits sudah disebutkan pula hal lainnya. “Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah sesuai syarat Bukhari-Muslim). Ia pun memaparkan, dilihat dari segi teks hadits ini, sudah bisa dilihat bahwa munculnya hadits ini berkaitan dengan pertanyaan dari seorang  lelaki Anshar tadi. Nabi sendiri menyamakan ipar adalah maut karena dianggap hal itu akan membahayakan serta menyebabkan perselingkuhan, perzinahan dan hal tidak baik lainnya. Di dalam kitab An-Nawawi mengatakan, yang dimaksud al-Hamwu adalah kerabat suami, selain ayah dan anaknya. Karena ayah dan anaknya suami adalah mahram bagi istri. Boleh berduaan dengannya, dan tidak disebut sumber maut (kehancuran). Namun yang dimaksud dalam hadist adalah saudara suami atau istri, keponakan, paman, sepupu dan lainnya, yang bukan mahram baginya. “Maka dengan adanya hadits tersebut terdapat hukum fiqih yang artinya dilarang berdua-duaan dengan ipar. Tentunya di landasi alasan supaya kehidupan rumah tangga tidak terjadi perselingkuhan dan bisa tercipta rumah tangga yang Sakinah Mawaddah Warahmah. Serta hadits ini diperkuat oleh ayat Al-quran Surat Al-sra: 32 tentang larangan mendekati zina,” tambahnya. “Dari beberapa penjelasan di atas, kita harus memahami bahwa Rasulullah mengingatkan untuk berhati-hati di dalam kehidupan khususnya berumah tangga. Kebanyakan masyarakat saat ini menganggap bahwa ipar yang bergaul berlebihan dengan istri atau suami adalah hal yang biasa saja. Padahal sudah jelas terdapat hukum fiqih yang menjelaskan bahwa itu bukan mahram. Maka dari itu harus ada batasan yang dipatuhi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” tutupnya. (dit/wil)

Gizi Ikan Beku Menurun? Begini Penjelasan Dosen ITP UMM

Ikan menjadi salah satu bahan makanan berprotein tinggi. Sumber pangan ini didominasi oleh air, protein, lemak, asam lemak terutama asam lemak omega 3, vitamin, dan mineral. Sayangnya, tidak semua ikan dijual dalam keadaan segar. Sebagian dijual dalam keadaan beku atau pernah mengalami proses pembekuan. Hanif Alamudin Manshur, S.Gz., M.Si. selaku dosen Teknologi Pangan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa proses pembekuan  ikan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. “Dari segi kandungan dan nilai gizinya, tentu akan sedikit berbeda karena ikan beku mengalami degradasi protein maupun oksidasi lemak,” ucapnya. Ia melanjutkan, ikan beku akan memberikan dampak baik bagi kesehatan jika dibekukan dalam kondisi yang masih segar, diproses secara higienis, serta melalui proses pembekuan yang baik dengan suhu 0 derajat hingga 18 derajat celcius dengan memperhatikan food safety. Selain itu, proses pembekuan harus dilakukan tepat setelah dipanen untuk mengunci kesegaran dan kualitasnya. Proses pembekuan bertujuan untuk mengawetkan atau mengunci kualitas yang ada dalam ikan agar tidak berubah dan dapat bertahan lebih lama. Lamanya proses penyimpanan akan menyebabkan ikan mengalami proses denaturasi yaitu perubahan struktur protein tanpa pemutusan ikatan kovalen yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hal ini mengakibatkan hilangnya aktivitas biologis dan sifat fungsional protein. Selain itu, ikan beku juga mengalami oksidasi protein yang berakibat pada kualitas protein itu sendiri. “Beberapa kandungan seperti vitamin C dan B cukup rentan terhadap proses pembekuan dan penyimpanan yang lama. Zat gizi larut air akan ikut terbuang bersama air pada saat proses thawing atau pelelehan ikan sehingga menurun persentasenya,” ujarnya menjelaskan. Di sisi lain, penyimpanan atau pengawetan ikan dengan cara pembekuan dapat memperpanjang masa simpannya dikarenakan mikroorganisme seperti bakteri yang terdapat pada ikan segar akan mengalami fase dormansi atau inaktivasi sementara. Pada kondisi ini, bakteri akan berhenti tumbuh dan berkembang sehingga memperlambat proses pembusukan. “Proses penyimpanan dan proses defrost atau thawing dilakukan dengan baik, tentu ikan beku tetap aman dikonsumsi meski sudah disimpan dalam jangka waktu yang lama,” jelasnya. Meskipun proses pembekuan dapat memperpanjang masa simpan, sebaiknya ikan beku tidak disimpan terlalu lama untuk menjaga kualitasnya, baik dari segi gizi maupun sensori. Maksimal masa penyimpanan sebaiknya dikisaran 3-6 bulan. “Meski demikia,  membeli ikan segar lalu melakukan proses pembekuan ikan secara mandiri, jauh lebih baik. Ini menjamin mutu dan higienitas. Jika ingin mengkonsumsi ikan beku komersil, sebaiknya tetap perhatikan label kemasan, apakah terdapat bahan atau zat pengawet yang ditambahkan. Apalagi mengingat hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas ikan. Kita tidak dapat mengetahui secara detail proses dan berapa lama produk tersebut telah disimpan sejak pertama kali dibekukan,” pungkasnya. (dit/wil)

Darul Arqam Top Manager di UMM Diikuti Pimpinan Universitas PTM

Islam itu berkemajuan bahkan sangat berkemajuan. Hal ini tercermin melalui para pendahulu yang menggabungkan antara risalah islam dengan kemajuan teknologi sains. Contohnya saja sepeti Ibnu Sina yang menemukan dan menerapkan ilmu kedokteran modern dengan risalah islam. Hal ini disampaikan oleh Dr. H. M. Saad Ibrahim, M.A selaku Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam pembukaan Darul Arqam Top Manager Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Agenda yang dilaksanakan sejak 27 Juni di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu diikuti oleh pimpinan universitas zona 5, yaitu yang berlokasi di Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. “Darul arqam ini merupakan bagian dari wasilah yang diamanatkan oleh Muhammadiyah untuk menyatukan pikiran. Ini juga menjadi bagian dari ta’aruf kita untuk saling bertukar pikiran membangun keilmuan di lingkungan Muhammadiyah,” ucapnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah dengan cara luar biasa memadukan antara ilmu agama dengan ilmu sains untuk menghasilkan basis keilmuan berkemajuan. Adanya proses pemberian unsur keagamaan di dalam sains merupakan tuntutan di dalam Alquran. Misalnya saja ayat yang turun pertama kali yang bermakna ‘iqra’. Hal ini mengisyaratkan bahwa untuk menciptakan Islam berkemajuan, literasi tidak cukup tapi juga diberikan jiwa melalui penyempurnaan sains dan agama. Ia memberikan permisalan the golden age of islam pada masa kepemimpinan Bani Abbasiyah. Ada banyak ilmuan seperti Ibnu Sina yang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan dan kedokteran, Al-Khawarizmi yang menemukan bidang keilmuan aljabar, hingga Habash Al-Hasib sebagai seorang astronom dan matematikawan, juga beberapa ilmuan lainnya. Sementara itu, Wakil Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati mengatakan, melalui darul arqam ini para pimpinan universitas harus mampu mengelobarosi ruh ideologi Muhammadiyah. Ruh risalah Islam berkemajuan ini merupakan strategi bagaimana menciptakan ideologi yang tidak kaku, rigit, dan dalam posisi yang benar. “Ke depannya, perlu adanya pengembangan ideologi Muhammadiyah yang diimplementasikan dalam bentuk ilmu pengetahuan karya ilmiah yang dipublish di level internasional. Hal ini agar Muhammadiyah tak hanya dikenal oleh masyarakat domestik saja namun juga masyarakat Internasional,” tegasnya. Bachtiar Dwi Kurniawan, MPA. selaku ketua Majelis Pembinaan Kader Muhammadiyah dan Sumber Daya Insani PP Muhammadiyah menambahkan bahwa peneguhan ideologi Muhamamdiyah menjadi tugas yang diberikan seluruh jamaah dalam Muktamar. Agenda ini menjadi peneguhan dan paham Islam di semua PTM dan PTA. “Kenapa dilakukan peneguhan berulang kali? karena pasti sebagai manusia, terkadang iman kita mengalami naik turun. Sama halnya dengan komitmen bermuhammadiyah yang akan mengalami pasang dan surut,” tegasnya. Terakhir, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. menyampaikan bahwa pengembangan Alislam dan ke-Muhammadiyaan perlu diperkaya dengan sejarah pemikiran Muhammadiyah, amal usaha, keterkaitannya dengan pancasila, bhineka tunggal ika, dan negara kesatuan Indonesia. “Melalui kegiatan seperti ini, semoga bisa melahirkan pemimpin yang tidak hanya baik dalam pengelolaan perguruan tinggi tapi juga memiliki instuisi rihani. Sebuah kesiapan rohani dalam menghadapi berbagai keadaan,” pungkasnya. (tri/wil)

Wamenaker RI Sebut CoE UMM Jadi Percontohan yang Strategis

Wakil Menteri (Wamen) Ketenagakerjaan Republik Indonesia Ir. Afriansyah Noor, M.Si. IPU. puji terobosan program Center of Excellence (CoE) milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal itu ia sampaikan pada kunjungan dan sharing session bersama di Ruang Sidang Senat (RSS) Kampus Putih, pada 27 Juni ini. Menurutnya, CoE yang sudah dijalankan sejak 2017 tu sangat relevan dalam menyiapkan lulusan untuk langsung terjun di dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pada kesempatan itu, ia juga sempat mengunjungi kelas-kelas CoE dan program vokasi UMM. Melihat langsung proses persiapan SDM yang unggul di Kampus Putih. “Saya terkesan dengan program CoE dan juga Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Saya rasa ini menjadi aset yang baik, tidak hanya untuk UMM tapi juga untuk anak-anak muda dan lulusan yang akan bersaing di dunia kerja nanti. Terlebih ini juga bisa menjadi persiapan untuk menyambut Indonesia Emas 2045 sekaligus jadi modal besar untuk melakukan kolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan,” ungkap Afriansyah. Lebih lanjut, Afriansyah mengatakan bahwa ia tidak heran jika UMM mampu menciptakan gagasan-gagasan berkemajuan dalam sektor pendidikan. Terlebih Persyarikatan Muhammadiyah juga terkenal dan berperan aktif dalam melahirkan para cendekiawan. Terbukti, dari seringnya kader-kader Muhammadiyah yang mendapat kepercayaan pemerintah menjadi menteri, mulai dari menteri pendidikan, menteri koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan, dan lain sebagainya. “Ekosistem pendidikan di UMM ini menurut saya sangat optimal. Mahasiswa dapat belajar di kampus, diberikan fasilitas dan program yang baik, lalu mahasiswa punya skill yang baik dan siap bekerja. Bahkan bisa bisa menjadi tenaga ahli di luar negeri. Apalagi kita  memang kekurangan tenaga ahli yang bisa ditawarkan ke luar negeri. Selama ini kebanyakan hanya pada bidang asisten rumah tangga,” jelasnya. Terakhir, ia berharap Kampus Putih UMM bisa menjadi motor penggerak sekaligus percontohan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. “Kalau menteri pendidikan dan kebudayaan ke depan berasal dari Muhammadiyah, terutama orang yang menggagas CoE, saya optimis Indonesia ini bisa semakin maju. Sudah saatnya pakar-pakar pendidikan ini yang memegang kebijakan,” katanya. Di sisi lain, Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa pada dasarnya Kampus Putih memiliki dua misi penting untuk menjawab tantangan serta kebutuhan bangsa. Yakni dengan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul serta menerjunkan para pakar-pakar yang ahli di bidangnya ke masyarakat secara langsung. Menurutnya, dua misi tersebut harus dipenuhi oleh instansi pendidikan, mengingat hanya lewat pendidikanlah kemajuan bangsa bisa terwujud. “UMM hadirkan CoE berbasis program studi yang itu memang bertujuan menyiapkan mahasiswa untuk dunia kerja. Tapi perlu di ingat, para ahli yakni profesor juga harus terjun ke masyarakat dan memberikan solusi. Makanya UMM punya gebrakan program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Para profesor didorong untuk membuat terobosan untuk mengabdi langsung ke masyarakat. Ini juga sekaligus mematahkan stigma kalau profesor itu ekslusif,” imbuh penggagas CoE UMM itu. Fauzan juga menyinggung terkait hilirisasi pendidikan. Ia menjelaskan hilirisasi pendidikan yang dimaksud ialah dengan ngoptimalkan seluruh produk pendidikan untuk dimanfaatkan secara optimal. Yaitu bisa berupa hasil penelitian, gagasan, program, ide, dan lain sebagainya. “Saya bahkan punya istilah baru yang bisa digunakan, yakni PT. Hilirisasi UMM. Jadi semua produk dari UMM kami buatkan ekosistem yang baik dan terstruktur. Ini tidak lain tidak bukan sebagai upaya kebermanfaatan untuk bangsa,” jelasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa kedatangan Wamenaker ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi baru. Utamanya dalam meningkatkan orientasi prodi UMM untuk menyongsong pasar tenaga kerja domestik dan internasional. “Mudah-mudahan bisa jadi kolaborasi yang bagus antara UMM dan Kemenaker RI,” tegasnya mengakhiri. (faq/wil)

Mahasiswa UMM Turunkan Stres Lansia lewat Hydroponic Serenity

Mempunyai kehidupan yang sehat dan sejahtera tentu menjadi impian bagi seluruh individu, termasuk lansia. Namun mayoritas lansia mempunyai resiko isolasi sosial, di mana merasa tidak dicintai dan dilupakan. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi psikis dan well-being untuk lansia. Melihat hal tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinovasi dengan memanfaatkan hydroponic serenity sebagai degradasi stres lansia. Menariknya, ide ini berhasil masuk dalam pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemdikbud-Ristek 2024. Nisrina Nabila Nasywa selaku ketua tim mengatakan bahwa PKM ini memiliki skema pengabdian masyarakat yang berfokus pada Sustainable Development Goals (SDG’s) ke-3, yakni kehidupan sehat dan sejahtera. Menurut data yang diperoleh, terapi hortikultura dapat mengurangi depresi dan kecemasan, sehingga meningkatkan kesehatan fisik dan kemampuan kognitif pada lansia. Hal itulah yang mendorong mereka untuk menyusun inovasi Hydroponic Serenity with Gen Z. “Terapi hortikultura melalui penggunaan hidroponik ini bersifat komplementer dan alternatif terapi untuk lansia. Yakni dengan aktivitas merawat tanaman dan mengeksplorasi emosi dalam prosesnya, sehingga tercipta stabilitas psikis dan dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan sosial untuk lansia,”  katanya. Mahasiswi yang akrab dipanggil Riri itu juga mengatakan bahwa program yang dilaksanakan di beberapa tempat, salah satunya di Pondok Pesantren Lansia Muslimat Nahdlatul Ulama Rodhiyatan Mardhiyah, kota Batu, Jawa Timur. Saat ini, ada beberapa tanaman hidroponik yang sudah ditanam bersama para lansia, di antaranya kangkung, pakcoy, bayam hijau, dan bayam merah. Menurutnya keempat sayuran tersebut juga bisa aktif dikonsumsi sehari-hari oleh para lansia. Bentuk yang cantik serta nutrisi di dalanya jugasangat baik untuk kesehatan psikis dan fisik lansia. Dalam prosesnya, tim tersebut telah bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kota Batu dalam keberlanjutan program yang diadakan. Sederet bentuk kerjasama berupa senam otot bagi lansia tiap minggunya, cek kesehatan rutin setiap bulan, serta menunjang fasilitas untuk pondok lansia. “Untuk memaksimalkan program ini, kami juga akan membuat modul dan buku pedoman mitra yang berisikan tata cara pengelolaan hydroponic serenity sebagai degradasi stress lansia. Rencananya ini akan diresmikan oleh wakil rektor III bidang kemahasiswaan UMM dan juga ditandatangani oleh ketua yayasan pondok lansia,” jelasnya. Terakhir, mahasiswa semester 4 tersebut berharap inovasi yang dibawa timnya dapat menjadi pencegahan kejenuhan untuk lansia melalui tanaman hidroponik, sehingga meningkatkan kebahagiaan yang berkelanjutan. Dia menyatakan bahwa program ini akan terus berjalan hingga ke berbagai tempat dan lokasi. Dalam melaksanakannya Riri tidak sendiri, namun dibantu oleh Akhdani Rikza Maniqtada, Novita Herawati, Mulya Fajar Bachtiar Idris dan Hidayat Saputra Yusuf. (ri/wil)