War Takjil Tanda Toleransi? Ini Penjelasan Dosen UMM

Akhir-akhir ini sosial media dipenuhi dengan konten yang disebut dengan ‘War Takjil’. Dari konten tersebut, kita tahu bahwa takjil tidak hanya digemari oleh masyarakat muslim yang berpuasa. Namun juga populer dan digemari oleh masyarakat non-muslim. Hal ini, membuat suasana Ramadan menjadi lebih cair dan ceria. Di lain sisi, peringatan hari besar agama lain cenderung tidak seceria bulan Ramadan. Bahkan sering muncul pertanyaan dan pernyataan provokatif, milsanya terkait pengucapan selamat natal. Apakah ini termasuk intoleran? Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. selaku dosen program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa takjil tidak berdimensi agama ritual, namun lebih ke kedermawaan sosial. Sehingga, kelompok non Islam pun bisa masuk dan tidak ada beban untuk menikmatinya. “Jika masalah ucapan hari raya natal ini tergantung individunya. Cukup hormati dan hargai perayaan agama lain dengan tidak mengecamnya,” ucapnya. Lalu bagaimana agar hari perayaan agama itu bisa sama-sama dinikmati oleh agama lain? Menurut Rachmad, agama lain harus membuka ruang publik sehingga semua agama bisa turut terlibat dalam suasana saling menghormati dan penuh kegembiraan. Tetapi pemerintah memang butuh tindakan yang hati-hati, agar tidak masuk wilayah keyakinan personal. Kemudian, perlu ide pemerintah untuk membangun inklusivitas. Pemerintah bisa menyediakan  kelembagaan yang bernama rumah bersama antar umat beragama. Forum tersebut harus produktif, menghasilkan kerja-kerja kolektif yang inklusif. Sehingga, semua kelompok bisa terlibat tanpa menyentuh aspek-aspek asasian atau aspek personal agama tersebut. Jika rutin bertemu, tidak akan muncul kecemburuan, superioritas, dan merasa agama yang paling bagus. “Jika telah mengalami kelembagaan, kelak akan cair dengan sendirinya. Kalau kita tidak pernah bertemu dengan penganut agama lain dan memiliki tafsir tersendiri terhadap mereka, nanti akan mudah terprovokasi,” jelasnya. Sejak kecil, anak jangan di sosialisasikan seakan-akan agamanya lebih bagus dan dikomparasikan dengan agama lain. Jika dibandingkan, maka bisa memicu permusuhan. Konstruksi sosial mengenai agama perlu di bangun sejak kecil dan dimulai dari lembaga keluarga. Dengan itu, Rachmad berharap tidak akan ada keluarga yang mengalami disorganisasi atau fungsi fungsi yang hilang antar hubungan orang tua dengan anak. Contohnya, orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga dititipkan kepada orang lain. Jika seperti itu, maka mereka tidak bisa mengontrol sang anak dengan baik. Padahal keluarga menjadi tempat pertama dalam mengajarkan toleransi. (dev/wil)

Cerita Alumnus UMM Berpuasa di Hungaria

Tidak nikmat jika berpuasa tak ditemani dengan cuaca terik panas di siang hari. Apalagi, berburu takjil kala sore menjadi pilihan utama untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman. Tapi berbeda dengan suasana bulan puasa di negara lain. Mulai dari perbedaan budaya, kebiasaan, hingga cara menjalankan ibadah suci di bulan Ramadan ini. Sama seperti yang dirasakan oleh Hesti Miranda, alumnus Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani bulan Ramadan di Eropa Tengah yaitu Hungaria. Sebagai informasi, saat ini ia merupakan mahasiswa doktoral tingkat akhir di University of Debrecen, Hungaria dengan mengambil jurusan Educational Science. Hesti menyampaikan, bahwa perbedaan yang sangat kentara saat bulan Ramadan ini adalah dari sisi musim, waktu, makanan, ibadah. “Kebetulan saat ini sedang musim semi, jadi puasa lebih nyaman dan tidak terlalu panas. Berkat musim ini pula, durasi puasanya juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Sayangnya, di sini tentu tentu tidak ada takjil sebagaimana di Indonesia. Jadi kalau ingin makan gorengan, mau tidak mau harus bikin sendiri,” katanya. Uniknya, dalam menjalani ibadah puasa faktor yang paling mendukung adalah cuaca. Jika di Indonesia musim yang paling cocok adalah musim panas, namun di Hungaria musim yang paling cocok adalah musim dingin dan musim semi. Karena pada saat itu suhu masih terbilang dingin, sehingga panas matahari tidak terlalu terik dan aktivitas menjadi lebih fleksibel. Selain itu, perbedaan mencolok lainnya adalah tidak adanya penjual di pinggir jalan yang menjajakan takjil mereka. Maka dari itu, Hesti menyiasati jika ingin memakan takjil ia harus harus usaha lebih untuk membuat takjil sendiri. Sementara untuk tempat ibadah, Hungaria memiliki masjid namun tidak menyelenggarakan ibadah tarawih. Sehingga, ketika akan melaksanakan tarawih, Hesti biasanya mengikuti sholat tarawih yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) atau dengan sholat di rumah salah satu teman Indonesianya. “Sebenarnya tak jauh beda dengan di Indonesia, namun disini hanya cuacanya saja yang mendukung kami para muslim untuk berpuasa,” tambahnya. Walaupun suhu udara saat di Hungaria saat ini kurang lebih 5 derajat celcius, namun Hesti merasakan kehangatan dari teman sekelasnya. Hal ini terjadi karena teman sekelas Hesti yang beragama non-muslim terkadang memberinya makanan asli Hungaria untuk berbuka puasa. Selain itu, hal menarik lainnya adalah tingginya toleransi yang ia rasakan, paling tidak di lingkungannya. Misalnya saat teman-temannya berusaha untuk tidak makan di depannya dan tidak lagi mengajaknya makan di siang hari karena tahu bahwa ia sedang berpuasa. (tri/wil)

Ramadan Ceria UMM, Ajak Komunitas Difabel Sahur Bersama

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan program Ramadan Ceria. Kali ini, tim UMM bersama Hotel Kapal Garden Hotel menyambangi dan mengajak sahur bersama teman-teman difabel di Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin). Selain itu, agenda yang dilaksanakan pada 21 Maret di daerah Soekarno Harra itu juga menyediakan games-games asyik, materi tentang kebencanaan dari mahasiswa relawan siaga bencana (Maharesigana) UMM, hingga pembuatan konten bersama. Ketua Komunitas Tuli Mendongeng & Gerkatin Kota Malang Muhammad Hasanuddin, S.Par. merasa senang karena sudah dikunjungi dan diperhatikan oleh Kampus Putih UMM. Ia juga mengapresiasi materi tentang kebencanaan yang diberikan. Hal itu tak lepas dari bingungnya teman-teman difabel saat terjadi bencana, misalnya gempa bumi. Ia juga kesulitan untuk memberi tahu teman-teman difabel untuk segera mencari tempat aman jika gempa terjadi. Maka, kehadiran UMM memberikan wawasan baru yang bermanfaat. “Kami juga akhirnya tahu bahwa sangat penting untuk menyepakati titik kumpul ketika bencana terjadi. Sehingga teman-teman juga bisa langsung bergerak tanpa kebingungan,” jelasnya. Lebih lanjut, ia juga senang melihat teman-teman difabel antusias mengikuti berbagai permainan asyik dari UMM. Ia berharap agar silaturahmi yang dibangun bisa terus terjalin. Tidak hanya berhenti di sahur bersama saja, tapi juga dengan berbagai kegiatan lain. Di sisi lain, koordinator dari UMM Silvia Ramadhani mengatakan bahwa Ramadan Ceria melalui sahur bersama sudah terlaksana sejak awal Ramadan di beberapa titik di Malang. Kegiatan ini juga akan terus dilaksanakan sampai bulan suci berakhir. “Kemarin kami sudah berkunjung dan sahur bersama warga Kampung Warna Warni Jodipan, berkolaborasi dengan seniman jalanan dan berbuka di daerah Blimbing, dan lainnya. Semoga hal ini bisa memberikan manfaat dna juga menjadi syiar ke masyarakat luas,” tambahnya. Selain itu, ada sederet menu yang juga disajikan oleh Hotel Kapal Garden UMM dalam kegiatan itu. Mulai dari kari ayam, sayuran, lauk-pauk, dan lainnya. Begitupun dengan games dan sesi cerita menarik dengan bahasa isyarat. Adapun kegiatan ini juga sejalan dengan penjelasan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si yang menekankan pada kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. Yakni bagaimana seseorang bisa memaksimalkan potensi untuk berbagi dan menebar manfaat ke sesama. Hal itu juga yang dilaksanakan Kampus Putih UMM melalui berbagai program dan dilakukan di banyak lokasi. (wil)

Datangkan Ahli Filsafat Kondang, Tabligh Akbar UMM Beri Tips Raih Level Tertinggi Manusia

Hidup manusia itu dikendalikan oleh dua hal, yang pertama adalah nafsu dan kedua adalah pikiran. Ketika nafsu dan pikiran tidak dapat di tahan, maka kehidupan seseorang akan hancur. Hal ini yang disampaikan oleh Dr. H Fahruddin Faiz, M.Ag selaku ahli filsafat dan dosen Fakultas Ushuludin serta Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia hadir dan menjadi pembicara pada acara Tabligh Akbar Semarak Ramadhan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 19 Maret 2024 lalu. Dalam kajian yang bertema ‘Konsep Beramal dan Berjuang untuk Perdamaian dan Kesejahteraan Umat’ itu, ia mengatakan ada tiga penggolongan kategori manusia dalam menjalani kehidupan. Tiga golongan tersebut dibagi menjadi nafsu dari perut ke bawah, nafsu dari dada hingga leher, dan nafsu pada akal. Pertama adalah nafsu bagian perut kebawah. Ciri orang seperti ini biasanya mencari kesenangan dan kebutuhan ‘enak’ saja. Orang dengan kebutuhan seperti ini hanya mengejar kebutuhan perut ke bawah saja. “Orang dengan tipe seperti ini biasanya hanya mengejar kesenangan dan kenyamanan. Ketika mereka tidak bisa mengontrol hal tersebut, maka yang ada hanya rasa lelahnya saja,” ucap ahli filsafat itu. Golongan kedua adalah kategori manusia yang memiliki nafsu di bagian dada hingga leher. Menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin, golongan ini biasanya memiliki ambisi yang kuat untuk mengejar cita-cita atau kuasa. Kekurangannya, orang yang memiliki nafsu ini sangat ingin unggul dari orang lain. Mereka akan mengandalkan ambisinya untuk mencapai kedudukan puncak dengan menghalalkan cara apapun. Golongan ketiga yaitu nafsu yang dipengaruhi akal. Menurut Fahrudin, akal merupakan bagian paling canggih yang Allah SWT ciptakan. Akal memiliki kendali untuk memutuskan benar dan salah. “Akal itu dapat menjadi kendaraan, jika kendaraan tersebut digunakan untuk hal positif maka akan menjadi positif. Berlaku juga sebaliknya, jika kendaraan tersebut digunakan untuk hal negatif, maka kendaraan terebut menjadi negatif juga,” tambahnya. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa level tertinggi menjadi seorang manusia adalah ketika memiliki cinta tanpa syarat. Maksudnya adalah, ketika kita mencintai seseorang, maka kita tidak akan membiarkan perilaku buruk menimpa orang yang kita cintai. Untuk itu, penting agar manusia mengontrol nafsu yang ada pada dirinya. Ada beberapa cara yang diajarkan oleh Imam Ghozali untuk mengontrol setiap nafsu. Di antaranya yakni dengan iffah atau menjaga kehormatan untuk menjaga nafsu perut kebawah, sajja’ah atau tidak ikut-ikutan untuk menjaga nafsu dada hingga leher, dan hikmah atau memberi makna pada setiap hal yang dilakukan untuk menjaga nafsu pada akal. Terakhir, Fahrudin memberi wejangan kepada jamaah terkait tiga kunci utama untuk menjadi manusia yang memiliki kesehatan berpikir demi perdamaian dan kesejahteraan sosial. Tiga tipsnya adalah dengan dengan jihad, mujahadah, dan ijtihad. “Jihad yaitu dengan kerja keras, ijtihad dengan kerja cerdas, dan mujahadah yaitu bermunajat kepada Allah SWT. Ketika ketiga kunci itu diamalkan, maka Insya Allah akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan orang di sekitarnya,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)

Cerita Seru Mahasiswa UMM Jadi Imam Masjid

Bulan Ramadhan mengukir kisah istimewa bagi siapa saja, tak terkecuali Fauzan Al Ziaulhaq seorang takmir dan imam masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM. Fauzan, panggilan akrabnya menceritakan, bulan Ramadhan menghadirkan banyak cerita menarik. Mulai dari yang sedih hingga membahagiakan. “Sedihnya saat momen puasa pertama, tidak bisa sahur dan berbuka bersama keluarga. Apalagi saya rumah saya memang jauh dan berbeda pulau,” ujar pria yang telah menjadi takmir sejak tahun 2021 tersebut. Meski merasa sedikit berbeda karena tidak dapat mengawali Ramadhan bersama keluarga tercinta, namun mahasiswa asal Aceh ini mengaku hal itu tidak berlangsung lama. Kehadiran teman-teman sesama takmir dan imam dapat menambal rindunya. Apalagi teman-teman takmirnya berasal dari berbagai daerah yang berbeda dari seluruh Indonesia. Ada yang berasal dari Lombok, Sumbawa, Padang, dan Bima. Menjadi takmir merupakan hal yang sejak lama telah ia idam-idamkan. Selain dapat mengamalkan ilmu yang di dapat dari pondok pesantren, menjadi takmir memberikan peran yang cukup penting baginya untuk turut serta menjaga kebersihan, keamanan, kemakmuran masjid serta kenyamanan orang-orang yang beribadah. “Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya ditunjuk untuk menjadi imam sholat Idul Fitri di UMM 2023 lalu. Rasanya deg-degan tapi membanggakan. Alhamdulillah saat itu berjalan dengan lancar,” ujarnya bangga. Berawal dari keinginan untuk mendapatkan lingkungan sekitar yang baik, Fauzan mengaku banyak kebermanfaatan lain yang peroleh saat menjadi takmir masjid. Diantaranya adalah tempat tinggal yang nyaman, beasiswa dari Masiid AR Fachruddin serta teman-teman positif yang saling mendukung dalam kebaikan. “Kebetulan para takmir UMM juga dapat fasilitas seperti tempat tinggal bagi setiap pengurus dan beasiswa dari Badan Pemakmuran Masjid (BPM) AR. Fachruddin. Karena saya juga lulusan pondok, dengan menjadi takmir ini saya dapat menjaga hafalan yang sudah saya miliki,” ucapnya. Fauzan pun mengajak para anak muda lain khususnya teman-teman mahasiswa untuk tak segan-segan memakmurkan masjid. Ia menegaskan, akan ada banyak keberkahan dan kebaikan yang di dapat. Tidak hanya pahala, tpai juga circle yang baik, kajian-kajian menarik, dan lainnya. “Khusus untuk mahasiswa UMM yang ingin menjadi takmir, dapat terus memantau akun media sosial Masjid AR Fachruddin @umm.masjidarfachruddin. Calon takmir tidak harus memiliki hafalan yang banyak, asal istiqomah untuk melanjutkan tambahan hafalannya. Dengan menjadi takmir kita berkesempatan menjadi imam sholat lima waktu, imam sholat terawih, mengurus kajian-kajian jelang berbuka, kajian subuh dan segala kegiatan yang bersangkutan dengan masjid,” pungkasnya bahagia. (dev/wil)

Bukber Jalanan UMM, Gaet Seniman Jalanan dan Pengguna Jalan

Bahagia yang sebenarnya adalah ketika bisa membagi kebahagiaan itu ke orang lain. Hal itu pula yang mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Rayz Hotel UMM untuk melakukan buka bersama Ramadan Ceria, 19 Maret lalu di Jalan Ahmad Yani, Blimbing, Malang. Menggandeng seniman jalanan, UMM menghibur para pengendara motor serta mobil dan membagikan takjil dan makanan. Menariknya, ada live masak makanan bintang empat yang ditampilkan selama buka bersama serta keikutsertaan mahasiswa mancanegara. Kegiatan itu sesuai dengan apa yang disampaikan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. beberapa waktu lalu. Nazar menjelaskan bahwa aktivitas itu menjadi cara UMM menabar manfaat. Menurutnya, dalam menjalankan ibadah Ramadan, setiap insan memang harus bisa memasuki ruang publik Mewujudkan kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. Di samping itu, salah satu seniman musik jalanan Muhammad Aris Maulana mnegaku senang bisa berkolaborasi dengan UMM. Tidak hanya menyajikan hiburan musik untuk para pengendara dan warga, tapi benar-benar menyediakan menu makanan hotel bintang empat dari Rayz Hotel UMM. Sehingga, para warga yang datang merasa bahagia berkat musik yang dimainkan sekaligus santapan yang mengenyangkan saat berbuka puasa. Apalagi dengan kehadiran mahasiswa asing Kampus Putih yang membantu menyemarakkan buka bersama. Mulai dari mahasiswa asal Vietnam, Afrika, Iran, dan lainnya. Terhitung, lebih dari seratus warga dan pengendara mampir dan menikmati hidangan hotel bintang empat itu. Terkait makanan dan minuman yang dihidangkan, Hery Damayanti selaku Senior Sales manajer Rayz Hotel UMM menjelaskan beberapa menu andalan nan lezat yang disediakan gratis dalam agenda itu. Mulai dari ayam bakar, buah-buahan, sayur, minuman segar, dan lainnya. Selama menikmati makanan, para warga juga dihibur dengan penampilan para seniman musik jalanan. “Tak jarang, para pengendara motor berhenti berkat penampilan seniman musik jalanan,” katanya. Salahs satu mahasiswa asing, Nguyễn Hoài Ngân atau akrab dipanggil Ningsih. Ia merasa senang bisa ikut dalam agenda unik itu. Apalagi di negaranya, budaya buka bersama belum pernah ia rasakan. “Saya merasa sangat bahagia sekali karena ini juga baru kali pertama saya mengikuti buka puasa bersama dengan banyak masyarakat lokal. Ketika mereka merasa bahagia, jujur saya juga turut merasakan kebahagiaan mereka,” ucapnya. Di sisi lain, Lastri selaku salah satu masyarakat mengungkapkan ketertarikannya. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang kurang beruntung dan tidak memiliki banyak uang untuk membeli makanan berbuka. Makanan yang disediakan oleh Rayz Hotel UMM juga enak karena memang benar-benar menyajikan hidangan hotel bintang empat. “Saya sangat berharap bahwa acara UMM ini kedepannya sukses dan berjalan lancar. Saya doakan agar tim UMM selalu diberikan kesehatan dan bisa menyelenggarakan hal seperti ini kembali ke depannya,” harapnya. (tri/wil)

Gaet Dua Lembaga Internasional, FKIP UMM Latih Dai Seluruh Indonesia terkait Literasi Keagamaan

Untuk membekali para dai, daiyah dan penyuluh agama dari seluruh Indonesia tentang literasi keagaman, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan program internasional bersertifikat. Menggaet Leimana Institute dan Templeton Religion Trust, FKIP UMM mengenalkan literasi keagamaan lintas budaya. Terhitung, ada 738 peserta yang turut serta dalam agenda yang dilaksanakan pada 4-8 Maret itu. Direktur Eksekutif Leimena Institute Matius Ho menyebutkan bahwa literasi keagamaan lintas budaya merupakan wujud inisiatif dan best practice pendekatan pendidikan dari Indonesia. Utamanya untuk mengatasi masalah intoleransi dan membangun relasi lebih baik antar penganut agama yang berbeda. “Dalam waktu kurang dari 2,5 tahun, Leimena Institute telah menggandeng 25 lembaga mitra untuk melatih lebih dari 7.000 pendidik di 34 provinsi di Indonesia tentang literasi keagamaan dan lintas budaya ini,” katanya. Adapun program ini bertujuan untuk menguatkan eksistensi dan kolaborasi damai antar agama di Indonesia dengan mengenalkan literasi keagamaan lintas budaya bagi guru dan penyuluh agama. Ada tiga kompetensi yang dikembangkan dalam kegiatan ini, yakni kompetensi pribadi, kompetensi komparatif, dan kompetensi kolaboratif. Kompetensi pribadi merujuk pada kemampuan memahami diri sendiri dan nilai-nilai yang memandu keterlibatan Anda dengan orang lain. Kompetensi komparatif merujuk pada kemampuan memahami orang lain sebagaimana dia memahami dirinya sendiri dan nilai-nilai yang memandu keterlibatan mereka dengan dirinya. Sementara kompetensi kolaboratif merujuk pada kemampuan dalam memahami konteksi potensi kolaborasi di antara aktor-aktor yang berbeda keyakinan. Dalam konteks Indonesia, menurut Dr. Nurbani Yusuf, kekerasan dan konflik yang disebabkan oleh perbedaan masih kerab terjadi. Bahkan, data menunjukkan, sebanyak 422 tindakan pelanggaran kebebasan beragama terjadi di Indonesia selama 2020. Menyikapi hal tersebut, peserta diajak untuk kembali pada ajaran Islam. “Kita harus menyadari bahwa Islam itu sumber damai dan nirkekerasan. Itu bisa kita lihat misalnya pada Q.Q. Al-Maidah ayat 32, Q.S. Al-Baqarah Ayat 256 dan Ayat 62, serta keteladanan yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW,” kata dosen senior Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa penanganan konflik agama dapat diatasi melalui pendekatan bina-damai (peacebuilding), jaga-damai (peacekeeping), dan cipta-damai (peacemaking). Bina damai yaitu membangun rasa percaya untuk mengurangi mispersepsi dan stereotipe berkaitan dengan hal mendasar untuk memutus rantai penyebab konflik dan kekerasan. “Sementara itu, jaga-damai berkaitan dengan penggunaan instrument negara seperti militer dan cipta-damai berkaitan dengan aksi nyata dan komitmen menolak kekerasan langsung atau structural dalam format apa pun,” kata founder komunitas Padang Makhsyar ini. Lebih lanjut, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si dalam paparannya mengatakan toleransi sosial keagamaan menjadi kunci dalam mengatasi konflik ini. Konsep harmoni sosial-keagamaan mencakup kerjasama lintas agama, hidup berdampingan secara damai, dan kebebasan beragama. Implementasinya terwujud dalam pembelajaran multikultural yang mengajarkan keberagaman, memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap budaya dana agama, serta meningkatkan kepekaan terhadap perbedaan. “Yang tidak kalah penting, kurikulum harus mengintegrasikan keragaman budaya, agama, dan kehidupan sosial dalam pembelajaran. Kegiatan ekstrakurikuler juga mengakaomodasi dialog antar agama dan pertukaran budaya,” pungkas Kadir. (wil)

Dirikan Amerta Bumi, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan di Ajang Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak pernah berhenti mengharumkan nama kampus di ajang bergengsi internasional. Terbaru, Muhammad Zair Baitil Atiq mahasiswa prodi Hubungan Internasional (HI) berhasil membawa pulang penghargaan sebagai juara 1 Best Project, Best Participant, dan Most Active Group dalam Fully Funded Istanbul Youth Summit yang diselenggarakan oleh Youth Break The Boundaries di Istanbul, Turki pada 3 hingga 7 Maret 2024 lalu. Zair, panggilan akrabnya mengatakan, program ini berfokus pada Sustainable Development Doals (SDGs) yang mempunyai 17 point utama. Namun pada kesempatan kali ini hanya berfokus pada empat poin, yaitu Good Health and Well-Being (SDGs 3), Equality Education (SDGs 4), Decent Work and Economic Growth (SDSs 8), dan Climate Action (SDGs 13). Dalam pelaksanaanya, ia dibagi menjadi beberapa kelompok dari setiap Universitas di berbagai negara. Adapun Zair memilih untuk mengambil tema dari SDGs 13 dan mempersiapkan beberapa program unggulan sejak bulan Desember 2023 lalu. “Kami menawarkan inovasi untuk kepentingan masyarakat. Inovasi tersebut ialah membentuk sebuah komunitas yang bernama Amerta Bumi yang berupaya menyadarkan manusia agar melakukan waste management. Terobosan ini juga berjalan berdasarkan riset yang sudah saya lakukan,” katanya. Lebih lanjut Zair menceritakan bahwa hasil penyusunan inovasi dipresentasikan secara langsung di Golden Tulip Hotel Istanbul. Selama empat hari kegiatan, ia bertemu dengan 152 partisipan dari 27 negara. “Pada hari ketiga, saya berkesempatan mempresentasikan Amerta Bumi ini. Beberapa kegiatan menarik yang kami tawarkan adalah internasional webinar, content education, membuat website, prototype alat, dan lainnya. Saat menginjak hari terakhir, saya tidak menyangka bisa memborong banyak penghargaan,” katanya. Adapun ide Bumi Amerta berdasarkan riset yang Zair lakukan. Ia menemukan bahwa angka kepedulian masyarakat Asia Tenggara cukup rendah. Yakni hanya mencapai 30% terkait pemilahan sampah plastik dan rumah tangga. Sedangkan di Indonesia kepedulian akan memilah sampah dan menciptakan iklim yang sehat hanya sebesar 31%. “Sampai saat ini, kami telah merealisasikan program internasional webinar yang membahas tentang weist management kepada teman-teman milenial dan gen Z. Apalagi mengingat mereka adalah target utama dari pembahasan ini,” tambahnya. Mahasiswa semester empat itu juga memanfaatkan kesempatan berharga ini dengan berkunjung ketempat bersejarah yang ada di Istanbul, seperti Makam Al-Fath, Museum Hagia Sophia, dan Blue Mosque. Menurutnya, ia adalah salah satu mahasiswa yang beruntung bisa mengikuti program tersebut. “Untuk teman-teman mahasiswa, cobalah mengikuti berbagai macam kegiatan karena investasi terbaik adalah pengalaman. Jangan takut gagal karena masih banyak kesempatan,” pungkas Zair. (ri/wil)

Dosen UMM Beri Cara Antisipasi Pelecehan Seksual di Sekolah

Kasus pelecehan seksual semakin merajalela, tak terkecuali di lingkungan sekolah. Ima Wahyu Putri Utami, M.Pd. dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, ini dapat terjadi karena beberapa hal.  Yang pertama yakni kurangnya kesadaran warga sekolah tentang pelecehan seksual itu sendiri. “Setiap sekolah harus ‘aware’ akan hal ini. Kesadaran seluruh warga sekolah mutlak diperlukan. Hal ini dapat dibangun dengan memberikan pendidikan dan kampanye tentang pentingnya melaporkan pelecehan seksual,” ujar perempuan yang akrab disapa Ima tersebut. Dalam hal ini, penting menyampaikan kepada siswa bahwa tidak ada yang salah atau memalukan saat seseorang menjadi korban. Oleh karenanya, jika mengalami pelecehan seksual, siswa dipahamkan agar tidak perlu malu atau takut melaporkan hal tersebut. “Siswa harus tahu bahwa tidak ada hal yang salah atau memalukan ketika menjadi korban,” ujarnya. Selain sosialisasi, pihak sekolah juga harus dapat memastikan bahwa proses pelaporan pelecehan seksual dilakukan dengan penuh kerahasiaan. Dengan demikian, korban dapat merasa aman untuk menceritakan tanpa rasa takut akan persepsi negatif atau pengungkapan informasi yang tidak diinginkan. “Langkah berikutnya sekolah harus cepat dan segera memberikan tanggapan  jika ada laporan pelecehan seksual yang diterima. Baik memberikan dukungan kepada korban maupun menindak lanjuti laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan. Selama proses berlangsung, penting menjaga privasi semua pihak yang terlibat dalam kasus tersebut,” tambahnya. Pelecehan seksual di sekolah mencakup berbagai perilaku yang tidak pantas, seperti komentar seksual yang tidak diinginkan, sentuhan yang tidak senonoh, atau bahkan pemaksaan aktivitas seksual. Ini adalah masalah serius yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan dan perkembangan siswa. Pelecehan seksual dapat terjadi di antara siswa, antara siswa dan guru, atau melibatkan pihak ketiga. “Selain berbagai langkah tadi, sekolah harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua untuk mencegah pelecehan seksual, termasuk memberikan informasi tentang cara melaporkan insiden yang terjadi di luar lingkungan sekolah. Kolaborasi ini juga dapat mencakup mengundang ahli ke sekolah untuk memberikan pelatihan dan informasi kepada siswa, guru, dan orang tua tentang pencegahan pelecehan seksual,” tambah Ima. Untuk mendukung pencegahan pelecehan seksual, orang tua dapat memberikan edukasi kepada anak tentang batasan-batasan tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain serta langkah-langkah menghadapi situasi yang tidak nyaman. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak juga penting untuk memastikan anak merasa nyaman berbicara tentang masalah yang dihadapinya. “Dengan membangun kepercayaan, anak akan lebih terbuka untuk berbagi pengalaman atau perasaannya. Melibatkan orang tua secara aktif juga dapat meningkatkan kesadaran dan perlindungan terhadap anak dari risiko pelecehan seksual,” tandasnya. (bal/wil)

Kenapa Bukber Sering Jadi Ajang Pamer? Ini Kata Dosen UMM

Tradisi buka bersama (bukber) yang menjadi momen kebersamaan dan ajang mempererat silaturahmi, tak jarang dihindari oleh sebagian orang. Pasalnya, obrolan yang berlangsung pada kesempatan itu kerapkali menjadi ajang untuk memamerkan diri. Fenomena ini menarik perhatian banyak kalangan, termasuk Awan Setia Dharmawan, S.Sos., M.Si, selaku dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Orang bukber itu membawa kepentingan yang berbeda. Ada yang murni ingin menjalin silaturahmi atau justru show off dengan menampilkan apa yang dipunya. Ini merupakan salah satu bentuk ekspresi diri selama masih dalam batas yang wajar,” ujar Awan, sapaannya. Menurutnya, terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan pamer saat bukber. Salah satunya adalah sebagai upaya balas dendam dari pengalaman masa lalu. “Mungkin dulu sempat dibully dan sekarang ingin membuktikannya. Tapi, ini secara tidak langsung atau eksplisit,” ujar awan. Selain itu, momen berkumpul dalam bukber seringkali dijadikan platform untuk menegaskan siapa diri seseorang di hadapan orang lain. Ini sejalan dengan konsep personal branding yang bertujuan untuk mengendalikan atau mempengaruhi bagaimana citra diri seseorang dilihat oleh orang lain. “Dalam perspektif sosiologis, fenomena pamer dalam bukber dapat dipahami sebagai bagian dari teori hyper consumption, di mana masyarakat cenderung mengonsumsi barang lebih dari kebutuhan untuk mengekspresikan identitas dan status sosialnya,” ungkapnya. Fenomena ini semakin dipicu dengan kebutuhan untuk berfoto dan mengunggahnya di media sosial. Ini memunculkan tekanan untuk tampil menarik dalam setiap kesempatan. Bahkan, jika itu berarti harus mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang baru atau mempersiapkan bukber dengan segala kemewahan. Ironisnya, hal tersebut dapat memunculkan rasa iri di kalangan individu tertentu karena merasa terpinggirkan atau tidak mampu mengikuti gaya hidup yang lainnya. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana individu dapat mengelola emosinya di tengah tekanan sosial tersebut. “Bahkan, kadang ada pertanyaan yang lebih personal, seperti ‘Kapan lulus? Penghasilanmu berapa? Kerja di mana?’.  Pertanyaan itu efeknya bisa mengerikan, seperti halnya menutup komunikasi kembali atau justru bunuh diri,” tegasnya. Karenanya  Awan berharap, jangan sampai momen yang seharusnya penuh kebersamaan dan keberkahan, berubah menjadi ajang pamer dan persaingan. “Kurangi perilaku pamer, karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Show off lah pada circle-mu yang imbang,” pungkasnya. (lai/wil)