Di UMM, Sekretaris PP Muhammadiyah Beberkan Kunci Risalah Islam Berkemajuan

Kunci utama untuk mewujudkan risalah islam berkemajuan dalam sebuah organisasi adalah dengan banyak bersyukur dan ikhlas. Hal itu ditegaskan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhammad Sayuti, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Ph.D. dalam Semarak Ramadan Pengajian PP di Universitas Muhammadiyah malang (UMM), 25 Maret lalu. Menurutnya, sikap bersyukur inilah yang akan menjadi energi dan semangat untuk mewujudkan Islam berkemajuan. Ketika manusia bersyukur, maka Allah akan menambah nikmatnya dalam berbagai kondisi. Sayuti mengatakan contoh mudah untuk melihat keberhasilan risalah islam berkemajuan ialah bercermin ke UMM. “Coba dilihat bagaimana kiprah Kampus Putih UMM. Pada tahun 2021 saja pernah menjadi kampus Islam terbaik di dunia dan sering kali mendapat penghargaan,” ucapnya. Sayuti melanjutkan, bahwa organisasi Muhammadiyah yang telah berdiri kurang lebih 115 tahun ini merupakan salah satu organisasi yang berhasil melaksanakan islamisasi dan modernisasi pendidikan. Namun, dibalik hal ini tentu banyak tantangan internal maupun eksternal yang dirasakan. Mulai dari kualitas SDM, kesenjangan pendidikan, kasus korupsi, penegakan hukum, oligarki, dan lain-lain. Cara mengatasinya adalah dengan banyak belajar dan memaknai isi Alquran. Belajar tak harus mengenai agama saja, namun juga dibarengi dengan ilmu sains agar dapat masuk ke ranah global. Kemudian hal yang dapat dilakukan adalah dengan beramal tanpa lelah, mempelajari perubahan zaman dan cara mengatasinya, serta menjadikan Muhammadiyah sebagai patokan untuk berjihad dan berijtihad. “Hal ini perlu diterapkan, khususnya di instansi pendidikan dalam upaya mencetak pendidikan unggul kelas dunia. Para dosen harus banyak belajar dan melakukan riset agar pendidikan dapat semakin maju dan dilihat oleh dunia,” tambahnya. Adapun organisasi Muhammadiyah telah memiliki banyak instansi pendidikan. Mulai dari 440 pesantren, 5.436 sekolah berbasis madrasah sederajat, dan 171 perguruan tinggi. Tak hanya itu, Muhammadiyah juga melakukan ekspansinya dengan mendirikan 31 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri seperti Jepang, USA, Jerman, dan Australia. Belum lagi dengan klinik, unit bisnis, rumah sakit dan lainnya yang merupakan bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Semua hal ini bertujuan untuk mewujudkan penegakan dan menjunjung tinggi nilai keislaman dengan sebenar-benarnya. Di sisi lain, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM Drs. H. Wakidi mengatakan bahwa semarak ramadhan UMM ini merupakan upaya untuk membentuk umat islam yang sebenar-benarnya. Apalagi melihat dan memahami bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Muhammadiyah harus berlandaskan berkemajuan. “Salah satu cirinya seperti yang disebutkan oleh Pak Sayuti yaitu memang harus bertauhid secara murni. Karena bertauhid murni merupakan salah satu ciri risalah Islam berkemajuan,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)

Seberapa Jauh Kewenangan Debt Collector? Begini Penjelasan Dosen UMM

Beberapa waktu lalu, viral seorang polisi yang berseteru dengan dua debt collector. Bahkan hingga terjadi penembakan kepada debt collector yang ingin menagih hutang. Dari kejadian itu, banyak pertanyaan muncul tentang  debt collector, salah satunya terkait seberapa jauh kewenangannya dalam menagih hutang? Hal itu juga menarik perhatian dosen hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dwi Ratna Indri Hapsari, SH., MH. Menurutnya, istilah debt collector sebenarnya mengambil dari bahasa asing yang artinya penagih hutang atau pengumpul hutang. Adapun kegiatan ini biasanya berhubungan dengan perusahaan pembiayaan. Di dalamnya tentu ada konsumen yang meminjam dan harus membayar pinjamannya. Begitupun dalam kegiatan pinjaman online maupun pembiayaan dengan kartu kredit. Sebenarnya, tidak ada peraturan yang menuliskan terkait kewajiban bank untuk memiliki penagih hutang, baik di peraturan OJK No. 35/POJK.05/2018 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan maupun Peraturan OJK No. 10/POJK.05/2022 Tentang Layanan Pendanaan Berbasis Teknologi. Meski begitu, bank bisa menggunakan penyedia jasa penagihan yang bukan dari bagian bank. Indri menjelaskan bahwa debt collector merupakan kegiatan yang legal. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diawali dengan keharusan berada di bawah payung badan hukum seperti PT, koperasi, dan lainnya. Kemudian juga memiliki izin usaha serta sumber daya manusianya juga harus berlisensi. “Jadi debt collector tidak hanya berpostur besar dan berparas garang, tapi yang elbih penting adalah sudah memenuhi syarat sebagai penagih hutang,” tambahnya. Tak hanya itu, dalam proses penagihan, debt collector harus memperhatikan etika. Apalagi permasalahan yang sering terjadi terkait penagih hutang adalah aspek etika. Dalam Surat Edaran OJK No. 19/2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi, disebutkan bahwa penagih harus menggunakan kartu identitas resmi dilengkapi dengan foto diri. Kemudian mereka tidak diperkenankan menggunakan cara ancaman, kekerasan atau tindakan yang bersifat mempermalukan peminjam. “Penagihan tidak boleh menggunakan tekanan secara fisik maupun verbal. Hindari penggunaan kata atau tindakan yang mengintimidasi dan merendahkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), harkat, martabat, dan harga diri. Baik itu ketika berada di dunia fisik maupun di dunia maya (cyber bullying) kepada peminjam atau kerabat. Penagihan juga tidak dilakukan secara terus menerus yang bersifat mengganggu. Hanya dapat dilakukan melalui jalur pribadi, di tempat alamat penagihan, atau domisili peminjam,” katanya. Melihat peraturan tersebut, maka seorang penagih atau debt collector harus mampu mematuhi berbagai peraturan. Dengan begitu, tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat preoses penagihan.Adapun bagi jasa penagih yang melanggar aturan penagihan pastinya akan mendapat ditindak pidana. “Menjadi seorang penagih hutang adalah pekerjaan yang legal selagi mematuhi koridor yang telah diatur. Jangan sampai bertentangan dengan etika yang sudah ditentukan. Di sisi lain, sebagai debitur, harusnya bisa mengukur kemampuan diri, apakah mampu membayar utang di kemudian hari. Jika merasa tidak mampu, maka lebih baik tidak melakukan pinjaman daripada harus berurusan dengan penagih hutang atau jasa pembiayaan,” tutupnya. (dit/wil)

UMM Sahur on The Road Gandeng Kesenian Bantengan Jabung

Hal menarik kembali digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama Ramadan. Kali ini, bersama My Dormy Hostel UMM dan komunitas Republik Gubuk, mereka melangsungkan Sahur on The Road (SOTR) bersama warga Dusun Busu, Desa Slamparejo, Jabung, Malang pada 28 Maret 2024. Menariknya, kegiatan yang diinisiasi UMM itu juga berkeliling dusun menggunakan pertunjukan bantengan serta gamelan untuk membangunkan sahur para warga. Meski pertunjukkan ini dilakukan pada dini hari, namun teman-teman Kesenian Bantengan Ki Mangku Jati tetap menampilkannya dengan penuh semangat. Muhammad Ainul Yakin selaku koordinator mengatakan, bantengan ini merupakan salah satu budaya Malang dan wujud dari kerjasama. Ini juga menjadi cara mereka untuk melestarikan budaya dan mencegah kepunahan Kesenian Bantengan yang sudah turun temurun dijaga. “Biasanya kami tampil saat ada anggota yang ulang tahun, hajatan, atau juga ketika diundang oleh kampung lain. Tapi kami selalu senang saat bisa menampilkan kesenian bantengan ini,” kata Akin, sapaan akrabnya. Adapun bulan Ramadan menjadi rezeki bagi tim bantengan karena banyak acara yang digelar seperti Gebyak Bantengan yang dilaksanakan sesaat sebelum masuk ke bulan puasa. Termasuk acara SOTR ini yang diinisiasi oleh UMM dan mengajak mereka untuk bekerja sama. Menurut Akin, para warga dan teman-teman merasa senang karena UMM datang dan mengajak kerjasama. Apalagi kedatangan UMM memang selalu dinanti warga dusun karena agendanya yang menyenangkan dan menarik. Hadir pula Fachrul Alamsyah selaku presiden Republik Gubuk yang menjelaskan bahwa Dusun Busu telah mereka konsep sebagai kampung adat. Baginya, dusun ini menjadi salah satu tempat yang harus dilestarikan kearifan lokalnya. Ia berharap semoga Republik Gubuk dapat membuat Gubuk Baca di Desa Slamparejo ini. Ia juga sangat senang karena setiap bulan Ramadhan, Tim dari Kampus Putih selalu datang ke Dusun Busu. “Biasanya UMM mengadakan kegiatan buka bersama, kalau sekarang sahur bersama dan Alhamdulillah masyarakat sangat senang. Sebelumnya, kita juga sudah sering berkolaborasi dengan kampus UMM. Mulai dari berkolaborasi dengan mahasiswa praktikum, KKN, PMM, hingga Kampus Mengajar. Smeoga hubungan baik ini bisa terus berlanjut,” ucapnya. Di sisi lain, koordinator tim UMM Hassanalwildan Ahmad Zain mengatakan, kegiatan SOTR maupun buka bersama memang rutin dilaksanakan Kampus Putih setiap minggu selama Ramadan di beberapa lokasi. Sebelumnya, mereka sudah menyambangi Kampung Warna-Warni Jodipan, bersilaturahmi dengan teman-teman difabel di Gerkatin Malang, dan lainnya. Ini menjadi salah satu cara UMM untuk berbagi manfaat dan turun langsung ke masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi implementasi dari apa yang selalu disampaikan rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si tentang kesalehan sosial. Apalagi di bulan Ramadan yang penuhu berkah, yang mana manusia memang harus bisa memasuki ruang publik dan menebarkan manfaat dan kebaikan. (dev/wil)

Undang Kerabat Media, UMM Ingin Bangun Hubungan Pers di Luar Alam Sadar

Para pimpinan media dan wartawan dari berbagai media lokal maupun nasional hadir dalam silaturahmi dan buka bersama kerabat media yang dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang digelar 27 Maret itu menjadi momen strategis untuk membangun hubungan dengan pers di luar alam sadar dan secara ikhlas. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa hubungan antara UMM dan media harus di luar alam sadar, bukan by design atau dibuat-buat. Adapun tradisi kumpur bersama UMM dengan media sudah berlangsung lama, yakni sejak tahun 1997 saat Menko PMK Ri saat ini Muhadjir Effendy menjadi rektor. “Interaksi dan kohesi sosial seperti ini tentu akan menarik bila berjalan di luar alam sadar karena banyak berkaitan denan kehidupan kemanusiaan. Maka, tradisi baik seperti ini memang perlu kita lanjutkan bersama,” tambahnya. Menurutnya, UMM dan awak media juga sudah terasa dekat dan menjalankan hubungan secara ikhlas dan tidak disetting. Artinya, keduanya telah melaksanakan aktivitas jurnalistik yang berimbang, check and balance. Ketika UMM kurang balance, maka perlu upaya untuk kembali membuatnya balance. Begitupun dengan berita dari media yang harus selaku dilakukan check agar lebih lengkap. Nazar menegaskan bahwa hal penting lain yang perlu ditekankan adalah bagaimana cara menyerap berbagai informasi yang diproduksi mediam terutama media mainstream yang masih eksis. UMM harus bisa mendorong kebiasaan untuk tekun membaca. Khususnya media cetak dan mainstream. Bahkan sampaai saat ini UMM masih berlangganan koran yang cukup lengkap. “Setiap pagi, di meja kami ada enam hingga tujuh media. Hampir seluruh terbitan yang masih eksis di Indonesia kami baca,” jelasnya. Ia juga sempat menjelaskan tentang John Naisbitt, penulis buku best seller Mindset dan Megatrends. Bagaimana Naisbitt mampu melihat dan memproyeksikan keadaan dunia dalam lima, sepuluh, bahkan 20 tahun yang akan datang. Maka, UMM juga berupaya untuk membangun ekosistem yang mampu membawa masa depan menjadi lebih baik. Beberapa di antaranya adalah ekosistem media jurnalsitik, pers, perbukuan, keuangan dan bisnis, serta lainnya. “Dengan begitu, kita bisa melihat lebih jelas apa yang akan dihadapi oleh manusia di masa depan. Kita bisa menata langkah dan memberikan solusi untuk masyarakat. Dengan ‘gizi’ yang diberikan oleh media dan pers, kita bisa mencari tahu bagaimana masa depan itu harus dibuat dan diddesain,” ungkapnya. Di sisi lain, salah satu wartawan senior Taufik mengatakan bahwa buka bersama ini juga momen silaturahmi yang strategis dengan UMM. Apalagi selama ini, tim UMM rutin menyediakan dua hingga tiga rilis berita menarik setiap hari yang memberikan informasi baru bagi awak media. “Kualitas tulisan-tulisan dari UMM, baik rilis berita maupun opini, jadi salah satu yang paling bagus dan mudah dinaikkan. Tidak perlu banyak diedit dan bagus,” pungkasnya. (wil)

Dosen UMM Bagikan Pengalaman Ramadan di Taichung, Taiwan

Bulan suci Ramadan selalu dinantikan dengan penuh antusias oleh seluruh umat Muslim di berbagai belahan dunia, khususnya di negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam seperti Indonesia. Sebaliknya, menghabiskan bulan Ramadan di negara minoritas muslim merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hal itu pula yang dialami oleh Novendra Setyawan, ST., M.T, selaku dosen prodi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini menempuh pendidikan doktor di National Formosa University, yang terletak di kota Taichung, Yunlin County, Taiwan. Novendra menceritakan berbagai pengalaman menarik yang ia alami saat bulan Ramadan di Taichung, Taiwan. Di sana, mayoritas masyarakatnya menganut agama Budha. Maka tentu suasana Ramahan di tempat tinggalnya sama seperti hari-hari biasanya. “Karena Taichung merupakan kota kecil dan masih sangat kental budaya yang ada, sehingga tidak ada masjid di kota ini. Perlu menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam untuk bisa menemukan masjid di kota pusat,” ujarnya. Sulitnya menemukan masjid untuk beribadah membuat Novendra bergabung ke dalam komunitas muslim yang berasal dari beberapa negara. Seperti misalnya mereka dari India, Pakistan, dan Indonesia. Mereka sering berkumpul selama bulan Ramadan untuk berbuka puasa bersama ataupun melaksanakan shalat tarawih berjamaah. “Kami sering memasak untuk menghindari makanan non-halal. Memanfaatkan aplikasi halalin untuk membantu kami menemukan bahan makanan yang dapat dikonsumsi muslim. Tidak banyak toko yang menjual bahan makanan halal di sini karena rata-rata bahan makanan yang masyarakat lokal konsumsi mengandung minyak babi,” katanya. Lebih lanjut, Novendra mengatakan bahwa ia dan teman-teman komunitas muslim tengah bersiap menyelenggarakan sebuah sosialisasi tentang Islam. Ini sebagai cara mengenalkan islam ke masyarakat non-muslim di Taichung. Selama Ramadan, Noven juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan. Di sana ia banyak bertemu dengan para perantau yang sedang menempuh pendidikan di Taiwan. Mereka melaksanakan buka puasa, tarawih, dan kajian bersama. Ia merasa bahagia karena bisa merasakan suasana Ramadhan di luar negeri namun tetap dapat berkumpul sesama umat muslim. Terkait jauhnya masjid, ia mengatakan bahwa perjalanan jauh tidak menjadi halangannya untuk beribadah bersama teman-teman muslim lain. Ia percaya bahwa perjalanannya merupakan bagian ibadah dan dihitung sebagai pahala. “Saya mendengar banyak cerita bahwa mereka yang mendapatkan situasi seperti saya merupakan orang yang istimewa. Maka saya harus menikmatinya dengan baik dan menjalani hari Ramadan dengan bahagia di kota ini,” kelakarnya mengakhiri. (ri/wil)

Dosen UMM Sebut Ramadan Jadi Momen Tepat Sambung Silaturahmi

Bulan puasa menjadi momen yang dipenuhi dengan kebaikan. Tak terkecuali kebaikan untuk menyambung tali silaturahmi yang putus. Zulfikar Yusuf, M.Pd.I. selaku dosen prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa ini selaras dengan tujuan berpuasa yakni meningkatkan ketakwaan seseorang. Takwa diartikan sebagai melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam Islam, ibadah bukan hanya berdimensi pribadi, namun juga sosial. Maka seluruh aktivitas silaturahmi saat Ramadan maupun di luar Ramadan menjadi hal penting untuk meningkatkan spiritual sosial. Salah satunya dengan melatih dimensi pribadi dan sosial selama bulan suci. “Sebenarnya, silaturahmi tidak hanya dilakukan saat Ramadan saja. Apalagi mengingat bahwa apabila seseorang sedang mengalami emosi yang memuncak, tidak diperkenankan untuk memendam melebihi tiga hari. Jadi, bila terjadi kesalahpahaman antar sesama, segerakan untuk diselesaikan,”urainya. Dalam Islam, pengakhiran atau memutuskan hubungan adalah tindakan yang sangat serius. Islam mengajarkan manusia untuk selalu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri. Allah SWT adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan kita sebagai hamba-Nya juga harus mengikuti teladan-Nya. “Hal utama yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kualitas dan kematangan pribadi dalam aspek spiritual maupun individual. Karena dengan kematangan diri inilah yang mampu membendung kebencian dan kesalahpahaman. Perlu adanya upaya untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Bukan hanya sekadar nama dan asal saja, tapi juga memahami karakter yang dimiliki orang lain. Dengan mengenal ini, maka potensi kerenggangan akan berkurang karena satu sama lain telah saling memahami,” jelasnya. Lebih lanjut, Zulfikar menuturkan, salah satu langkah penting dalam memperbaiki hubungan yang retak adalah dengan meminta maaf dan menawarkan permohonan maaf yang tulus. Saat meminta maaf, penting untuk berbicara dengan jujur dan tulus. Jelaskan dengan terbuka apa yang telah kita lakukan yang menyebabkan keretakan dalam hubungan. Setelah itu, tawarkan solusi untuk memperbaiki silaturahmi. “Perbedaan adalah hal yang pasti terjadi di masyarakat, keluarga, bahkan pada diri pribadi. Namun setiap perbedaan perlu disikapi dengan baik. Maka saya menyarankan dalam kerangka teori tazkiyyatun Nafs atau teori pembersihan jiwa. Kebencian berasal dari apa yang dilihat dan dipikirkan. Semakin banyak hal negatif yang dilihat, akan memperngaruhi apa yang dipikirkan. Apa yang dipikirkan akan memberikan dampak pada hati. Bila yang masuk adalah negatif, maka pikiran dan hati akan menjadi ternodai. Namun bila yang masuk adalah hal yang positif, maka akan tercerahkan dan bersih hatinya,” tandasnya. Dalam memperbaiki hubungan, komunikasi yang baik menjadi kunci utama. Dengarkan dengan penuh perhatian, sampaikan perasaan dengan jujur dan lembut, serta hindari konflik yang tidak perlu. Memperbaiki hubungan yang retak membawa pahala dan berkah besar di bulan Ramadan, membawa kedamaian batin, kebahagiaan sejati dan kedekatan dengan Allah. (bal/wil)

Semarak Ramadan UMM: Muhammadiyah Organisasi yang Fleksibel

Semarak Ramadhan semakin terasa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkat agenda bertajuk ‘Spirit Islam Wasathiyah untuk Masa Depan Islam yang Berkemajuan’. Acara yang digelar pada 20 Maret 2024 itu dihadiri langsung salah satu ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. Ia menegaskan bahwa bahwa Muhammadiyah mempunyai karakter yang fleksibel. Muhammadiyah senantiasa mencoba membantu masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Begitupun dengan tujuannya unutk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, diridai oleh Allah, dan terbentuknya Islam yang sebenar-benarnya. “Banyaknya impian yang dimiliki Muhammadiyah membentuk karakter yang fleksibel. Muhammadiyah bergerak dengan cara menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. mempersiapkan dengan matang dan dapat dirasakan hasilnya hingga saat ini,” ujarnya. Agung juga menjelaskan konsep kesejahteraan dalalm Muhammadiyah. Yakni bagaimana masyarakat dapat sejahtera dalam segi ekonomi maupun sosial. Maka dari itu, Muhammadiyah menyediakan berbagai macam akses, seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, kesehatan, dan juga hak asasi manusia. “Muhammadiyah telah membuka berbagai macam akses untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera. Menariknya, itu semua bisa saya lihat di UMM. Pendidikannya jalan, adanya rumah sakit, banyaknya usaha yang dijalankan, dan lainnya,” katanya menjelaskan. Kia juga menegaskan, Muhammadiyah akan terus membuka akses lapangan pekerjaan demi menciptakan transformasi ekonomi. Berbagai usaha mikro, kecil, dna menengah (UMKM) serta unit bisnis harus senantiasa dinaikkan kualitasnya. Dengan begitu perputaran ekonomi masyarakat, utamanya Muhammadiyah bisa terus berputar. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE.,M.Si mengungkapkan bahwa Semarak Ramadhan merupakan budaya yang dilakukan rutin setiap tahun oleh Kampus Putih. Kajian ini dibuat untuk memberikan ideologi yang baik bagi masyarakat, khususnya masyarakat UMM. Sehingga mereka mendapatkan ilmu yang bisa diimplementasikan dalam meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. “UMM selalu berupaya untuk berkontribusi dan menjadi pelopor di organisasi Muhammadiyah. Utamanya dalam mewujudkan impian melahirkan Islam yang sebenar-benarnya, berdasarkan perkembangan zaman,” jelasnya mengakhiri. (ri/wil)

Dosen UMM Jelaskan Penyebab Rendahnya Minat Masyarakat Gunakan PLTS

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki sumberdaya alam berupa sinar matahari yang tak terbatas. Sayangnya, energi terbarukan satu ini masih belum banyak dimanfaatkan sebagai pilihan ketersediaan listrik masayarakat. Khusnul Hidayat, S.T., M.T. dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa ada beberapa faktor mengapa Pembangkit Listrik tenaga Surya (PLTS) belum banyak digunakan, baik di skala rumahan maupun industri. “Alasan pertama yaitu dari segi biaya, utamanya baterai hang menjadi tempat penyimpanan energi. Harga baterai cukup mahal dan lifetime-nya juga pendek,” ujarnya. Meski ini merupakan kendala utama, Khusnul menyampaikan bahwa hal ini dapat disiasati. Ia menuturkan, dulu pernah ada kebijakan KWH ekspor-impor atau regulasi  penjulan energi dari rumah atau industri yang menggunakan panel surya kepada pihak PLN. “Sayangnya kebijakan tersebut kini dihapus karena dari sudut pandang konsumen, hal itu sangat menguntungkan karena tidak perlu membeli baterai. Namun jika dilihat sari pihak PLN, maka hal itu merugikan. Beberapa hal diantaranya karena PLN mempunyai pembangkit yang jumlahnya banyak. Saat ini PLN juga sudah surplus listrik artinya mempunyai lebih dari cukup energi listrik untuk menyuplai kebutuhan di masyarakat. Maka mengapa harus membayar energi  jika listrik sudah terpenuhi,” jelasnya. Selain itu, jika banyak PLTS yang menjual energi kepada PLN, maka tentu akan menambah pekerjaan PLN untuk menyeimbangkan. Ini karena harus menyeimbangkan antara energi yang dibangkitkan dan energi yang dikonsumsi agar tetap aman. Selain itu juga agar tidak menyebabkan kerusakan pada komponen. Meski demikian, untuk daerah-daerah terpencil yang masih sulit dijangkau oleh PLN, biaya pemasangan PLTS lebih terjangkau dibandingkan dengan memasang instalasi listrik yang membutuhkan biaya lebih besar pada penarikan kabelnya. “Manfaat PLTS banyak, mulai penggunaanya yang tidak mengganggu lingkungan sampai dengan tegangan yang dihasilkan panel surya  yang tidak berbahaya. Ini karena jika menggunakan panel surya dan menggunakan sistem DC house, maka tegangan yang dihasilkan dari arus DC (Direct Current) kurang dari 100 Volt,” jelasnya. Sedangkan tegangan yang dihasilkan dari PLN adalah 220 V dimana sangat berbahaya jika berkontak langsung dengan manusia. Bahkah bisa menyebabkan kematian. Meski begitu, Khusnul memaparkan bahwa panel surya sendiri sudah mulai berkembang sejak 2013 lalu, harga instalasi juga sudah mulai menurun jika dibanding dengan 10 tahun yang lalu. Banyak industri maupun perumahan yang sudah mulai menginstal panel surya saat ini. Adapun sistem atau komponen umum yang ada pada panel surya adalah fotovoltaik (photovoltaic/panel surya), solar inverter yang merubah dari hasil panel surya tegangan DC menjadi AC (Alternating Current) dan baterai sebagai storage atau penyimpanan. “Ke depan, hrapannya  pemerintah lebih bijak dalam meningkatkan kontrak pembangkit listrik yang terbarukan demi menjaga lingkungan. Sebaliknya, untuk pembangkit listrik energi tak terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dari batu bara dan fosil, hendaknya bisa dikurangi agar PLTS bisa lebih berkembang. Selain itu, semoga akan ada kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kajian terkait baterai storage,” tutupnya. (dit/wil)

Dosen UMM: Buku Penugasan Ramadan Berperan Bentuk Karakter Anak

Bagi anak-anak, Ramadan identik dengan buku aktivitas Ramadan. Mulai dari untuk keperluan laporan salat hingga tarawih. Terkait ini, Dr. Erna Yayuk, S.Pd., M.Pd dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa penugasan buku Ramadan sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Ini menjadi alat self-asessment untuk memantau perkembangan kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan. “Melalui buku ini, guru, orang tua, atau wali dapat membimbing anak dalam mengikuti kegiatan Ramadan. Ini juga dapat meningkatkan kecerdasan spiritual anak, memperkuat rasa keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa sebagai salah satu rukun Islam akan membentuk karakter tangguh, sabar, ikhlas dan solidaritas,” ujarnya. Tak hanya itu, Erna juga menuturkan bahwasanya buku aktivitas Ramadan dapat meningkatkan nilai-nilai karakter seperti jujur, tanggung jawab, toleransi dan empati. Anak juga akan mendapatkan pengetahuan agama yang meningkatkan kecerdasan intelektual melalui kajian-kajian pada bulan suci ini.  “Buku penugasan Ramadan menjadi alat efektif karena terdapat jadwal puasa, salat lima waktu dan tarawih yang perlu ditandai dengan tanda centang jika telah dilaksanakan. Ada juga kolom ceramah setelah salat tarawih yang perlu diisi dengan tema ceramah, nama penceramah dan tanda tangan. Biasanya Buku kegiatan Ramadan juga berisi laporan pelaksanaan salat wajib dan salat sunah selama bulan Ramadan,” katanya. Ada juga tadarus Al-Quran dengan menuliskan nama surat dan ayat yang dibaca dan tanda tangan pembimbing. Dengan mengisi buku kegiatan Ramadan dengan baik, anak-anak akan terbiasa menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan secara teratur dan tertib. Tidak hanya itu, buku aktivitas Ramadan juga berisi tugas-tugas yang membantu anak-anak memahami dan mengembangkan disiplin diri serta pengendalian diri. Tugas-tugas ini termasuk menjalankan puasa untuk memahami kesabaran, membuat jadwal harian untuk menghargai waktu dan mengikuti aturan dalam keluarga atau sekolah untuk menghormati otoritas. “Buku Ramadan membantu meningkatkan karakter jujur dan tanggung jawab pada anak-anak. Mengajarkan mereka untuk mempraktikkan nilai-nilai seperti keteladanan dan pembiasaan sejak dini. Selain itu, buku ini juga memupuk sikap peduli melalui puasa, mengajarkan toleransi terhadap orang lain yang sedang berpuasa, serta meningkatkan rasa empati dan simpati terhadap sesama. Melalui pengalaman menahan haus dan lapar, anak-anak belajar menghargai nikmat yang dimiliki dan menjadi lebih peduli terhadap sesama yang kurang mampu, memperkuat sikap sosial dan kemanusiaan mereka,” tandas Erna. Di akhir, Erna mengajak para orang tua untuk turut aktif mendampingi anak-anak selama bulan Ramdan termasuk dalam mengisi buku aktivitas Ramadan anaknya. Buku itu menjadi media penting dalam mendidik individu tentang adat istiadat dan praktik terkait Ramadan serta nilai-nilai karakter dalam Islam. Buku ini juga menyoroti kemampuan anak dalam beradaptasi dengan Ramadan, perannya dalam perubahan sosial dan inovasi budaya, serta pentingnya promosi kepedulian sosial. “Dengan pendampingan orang tua, buku Ramadan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta mempromosikan keadilan sosial dan ekonomi dalam komunitas anak-anak muslim,” pungkasnya. (bal/wil)

Safari Ramadan UMM: Kolaborasi Jadi Kunci Cetak Generasi Unggul

Dalam kehidupan sosial, sering kali muncul perbedaan pendapat dan kesalahpahaman. Hal ini dapat dipicu lantaran adanya perbedaan tingkatan sosial atau perbedaan pemikiran antar satu sama lain. Contoh kecilnya seperti di lingkungan pendidikan, yakni ketika dosen memberikan tugas namun mahasiswa belum memahinya dengan baik. Dibalik hal ini, sebenarnya perbedaan dapat diatasi dengan adanya kolaborasi. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Drs. Joko Widodo, M.Si. selaku Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Safari Ramadan UMM 21 Maret lalu. Menurutnya, setiap generasi memiliki budaya dan cara bersosial yang berbeda. Namun, hal ini bukan malah menjadi ajang untuk saling menyalahkan dan membandingkan. Namun, perbedaan ini dapat dijadikan sebuah momen untuk membentuk sikap dan budaya baru yang dinamakan kolaborasi. “Ada yang bilang bahwa setiap generasi itu membawa zamannya sendiri-sendiri. Dengan adanya kolaborasi dan keteladanan, Insyaallah kita dapat bertransformasi ke arah yang lebih baik,” tambahnya. Lebih lanjut, setiap generasi memiliki tantangan model yang berbeda. Contohnya jika pada generasi junior atau gen Z saat ini banyak yang terbawa arus berlebihan, tidak hormat kedua orang tua, memiliki tingkat pengetahuan tinggi, dan mengikuti perkembangan teknologi. Lain halnya dengan generasi senior yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur namun kurang mengerti perkembangan teknologi. Artinya, bukan berarti salah satu generasi lebih unggul di antara lainnya, namun hal ini dapat digunakan sebagai ajang untuk menumbuhkan kultur baru. Terkadang, risiko dalam berkolaborasi ialah karakter setiap orang yang bermacam-macam. Maka sikap saling mengenal bisa meminimalisir gesekan antar orang. Ini menjadi kunci utama dalam membangun relasi. Untuk itu, generasi senior perlu mempersiapkan cara untuk menghadapi generasi muda sesuai zamannya. “Jangan sampai cara yang digunakan itu dapat membelenggu generasi junior untuk mengembangkan potensinya. Sebagai contoh, terkadang orang tua yang protektif dan tidak memperbolehkan anak mengejar impiannya. Jika hal ini diteruskan maka yang ada anak tersebut menjadi tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan dan hanya bergantung pada orang tuanya saja,” katanya. Selain itu, Joko mengatakan, jangan sampai generasi senior mendidik anak muda dengan prinsip transaksional. Maksudnya adalah dengan menerapkan prinsip perhitungan terhadap apa yang telah dilakukan. Sebagai contoh, ketika melakukan kebaikan, kita juga mengharapkan imbalan dari orang yang kita tolong tersebut. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menyampaikan bahwa Safari Ramadan diharapkan mampu memperkuat tali silaturami antar anggota sivitas UMM. Menjalin silatrahmi demi mencetak generasi unggul berwawasan Islam kemuhammadiyahan. Hal ini akan membawa transformasi UMM yang mengedepankan nilai-nilai keislaman juga teknologi untuk membentuk karakter generasi muda yang unggul. “Terakhir, harapannya Safari Ramadhan ini dapat menjadi pegangan sivitas akademika UMM untuk  melakukan transformasi sehingga mampu mencapai keberhasilan mengelola pendidikan perguruan tinggi,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)