Mahasiswa Vokasi UMM Borong Piala di Kompetisi Bank Nasional

Kabar gembira kembali datang dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini dua mahasiswa prodi D3 Perbankan dan keuangan Fakultas Vokasi UMM berhasil membawa pulang dua gelar juara di ajang National Banking Competition (NBC), 9 Desember lalu. keduanya adalah Galuh Oktavianingtyas yang meraih Juara 3 Kategori Layanan Customer Service Bank dan Fena Nurmala meraih Juara Harapan 2 Kategori Layanan Teller Bank. Pada kompetisi itu, Galuh mengusung topik keuangan digital yang bersifat terbuka pada usaha UMKM. Sementara Fena membuat esai menarik terkait eksistensi industri perbankan syariah bagi generasi milenial di era 4.0. Terkait kemenangan yang sudah diraih, dosen pembimbing Eris Tri Kurniawati S.E., M.M. Ak. menerangkan, ajang tersebut merupakan acara yang bergengsi. Ada berbagai lomba yang disediakan, mulai dari lomba Customer service, Teller, Content Creator, Basket, Futsal, Mobile Legend dan PUBG Mobile. Menurutnya, dua mahasiswa tersebut mampu menguasai materi layanan frontliner dengan sangat baik. Apalagi didukung dengan pembelajaran bermuatan praktik riil yang disusun Prodi dan Laboratorium Vokasi Perbankan dan Keuangan UMM. Eris mengatakan, ada sederet proses yang harus dilewati anak didiknya. Mulai dari babak penyisihan melalui gabungan quiz dengan materi seputar layanan frontliner bank. Kemudian baru penyusunan esai yang berkaitan erat dengan perbankan di era saat ini yang memiliki bobot 70 persen. Sementara itu, Kepala Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM Syamsul Hadi Hadi, S.E., M.Si, CRA. Mengapresiasi raihan itu. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa project based learning berjalan dengan baik. Pembelajaran dengan praktik riil, kata Syamsul, memungkinkan mahasiswa menjadi bagian dari sistem perbankan itu sendiri sejak di bangku kuliah. Bahkan, bisa mendulang prestasi di bidang kerja. “Saya memberikan apresiasi dan ucapan selamat kepada mahasiswa yang berprestasi di ajang NBC 2023. Tetap semangat. Percaya diri dan berkompeten, yakinlah kamu pasti bisa,” pungkasnya. (*wil)
Penanggalan Jawa Masih Eksis, Dosen UMM Sebut sebagai Harmoni Budaya Indonesia yang Lestari

Kalender jawa di tahun 2023 dengan sistem penanggalan tradisional rupanya masih digunakan khususnya pada masyarakat Jawa. Tanpa disadari, kalender ini menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara yang usianya sudah berabad-abad dan bertahan di tengah arus modernisasi. Tradisi dan kearifan lokal yang melekat pada penanggalan ini memiliki akar sejarah yang kuat. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. selaku dosen Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Kalender Jawa tidak lepas dari masa kerajaan Hindu-Budha, terutama di Kerajaan Mataram Kuno, Jawa Tengah. Terlebih, pada masa itu pengaruh agama Hindu dan Budha masih sangat dominan,” jelasnya. Seiring masuknya Islam, penanggalan Jawa diakulturasi dengan agama Islam, menciptakan harmoni unik dalam setiap aspek kalender ini. Dalam penanggalan jawa dengan perhitungan bulan, ada beberapa nama bulan yang menggunakan istilah Jawa dan istilah Islam. “Seperti misalnya bulan suro dalam Jawa yakni bulan Muharram dalam Islam yang merujuk pada tahun Hijriah. Selain itu, ada bulan safar, Mulud atau Rabiul Awal, poso atau Ramadhan, Ba’da yakni Syawal atau Hari Raya dan lainnya,” sebut dosen yang akrab disapa Arif tersebut. Ia juga menuturkan, penggunaan kalender Jawa tidak hanya sebagai alat pengukur waktu. Lebih dari itu, kalender ini mencerminkan filsafat hidup masyarakat Jawa yang erat kaitannya dengan siklus alam dan nilai-nilai keagamaan. Tradisi-tradisi unik seperti ‘Muludan’ pada bulan Rabiul Awal menjadi bukti bagaimana agama dan budaya saling menyatu dalam penanggalan ini. Selain itu, penanggalan Jawa sering digunakan untuk menentukan hari baik atau buruk dalam berbagai kegiatan. Mulai dari pekerjaan pertanian hingga upacara adat. Masyarakat Jawa meyakini bahwa keberhasilan suatu aktivitas sangat dipengaruhi oleh keselarasan dengan alam dan spiritualitas. “Namun, hal ini dipengaruhi oleh agama Hindu dengan tradisinya. Sebagai contoh, sebenarnya di Jawa tidak ada sesajen karena itu tradisi Hindu. Tapi, masyarakat Jawa meneruskan tradisi tersebut, sehingga saat ada acara khusus juga menggunakan sesajen,” tegas Kepala lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM ini. Sistem penanggalan Jawa menurut Arif, juga mencakup siklus pekan yang disebut “Pasaran.” Terdapat lima hari dalam satu pekan, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Setelah lima hari, siklus pekan akan berulang lagi. “Tradisi ini merupakan fakta tak terbantahkan yang harus dilestarikan. Meski demikian, penting untuk menyesuaikan tradisi yang tercermin dari penanggalan Jawa ini dengan keyakinan individu. Sama halnya dengan pemerintah yang tidak bisa menghentikannya, karena ini adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya,” pungkasnya.(lai/wil)
Psikologi UMM Kukuhkan Guru Besar Baru, Kaji Irasionalitas hingga Kesehatan Mental Anak

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan guru besar baru pada 16 Desember lalu. Mereka adalah Prof. Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. dan Prof. Dr. Iswinarti, M.Si. yang memiliki masing-masing meneliti terkait sisi irasionalitas pikiran manusia dalam pengambilan keputusan dan membangun kesehatan mental anak melalui permainan tradisional. Tulus menjelaskan, pengambilan keputusan merupakan aktivitas mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Manusia secara terus menerus dihadapkan pada situasi-situasi yang memerlukan pemilihan tindakan dari berbaagai alternatif. Menurutnya, elemen penting dalam pengambilan keputusan meliputi berbagai hal. “Untuk memperoleh hasil optimal dalam mengambil keputusan, diperlukan rasionalitas yang membantu menciptakan lingkungan yang lebih terarah, efisien, dan responsif terhadap perubahan. Namun, rasionalitas tidak selalu sempurna dan memunculkan irasionalitas,” tambahnya. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh faktor keterbatasan informasi, keterbatasan dalam pemrosesan informasi, tekanan kelompok, dan bias kognitif. Menurutnya, manusia rentan terhadap bias kognitif, seperti bias konfirmasi dan bias ketersediaan. Terjadinya irasionalitas dalam mengambil keputusan disebabkan karena terpengaruh oleh cara atau strategi penyampaian informasi. Cara atau strategi yang digunakan dalam suatu penyampaian informasi dapat mempengaruhi keputusan seseorang. “Orang cenderung bereaksi berbeda terhadap informasi yang disajikan dengan cara yang berbeda, meskipun substansinya sama. Konsep ini disebut sebagai efek framing atau pembingkaian informasi,” tegasnya. Di sisi lain, terkait fokus kajiannya, Iswinarti mengatakan bahwa membangun kesehatan mental anak dapat dilakukan melalui permainan dengan metode BERLIAN. Metode ini memiliki kepanjangan Bermain-ExpeRiential-LearnIng-Anak. Menurutnya, kesehatan mental merupakan hak asasi universal yang setiap individu berhak mendapatkannya. “Membangun kesehatan mental dapat dimulai pada usia dini dengan menerapkan berbagai kegiatan bermain. Bermain mengandung nilai-nilai yang dapat mendukung terbentuknya kesehatan mental pada anak. Permainan tradisional adalah permainan yang mengandung nilai-nilai baik dan dapat dijadikan sebagai model intervensi untuk membangun kesehatan mental anak,” katanya. Ia mengatakan, beberapa contoh permainan tradisional telah terbukti dapat menjadi media dalam membangun karakter anak. Dalam penelitiannya, ia membuktikan bahwa permainan bekelan, congklak lidi, dan selentikan dapat meningkatkan kemampuan problem solving anak usia sekolah dasar. Permainan tradisional engklek juga dapat meningkatkan kemampuan problem solving dan dapat meningkatkan kemampuan kontrol diri. “Kami berharap orang tua, pendidik, mahasiswa maupun para pemerhati anak untuk dapat menjadi fasilitator dalam metode BERLIAN. Utamanya dalam penerapan permainan tradisional agar kesehatan mental anak dapat dibangun lebih dini,” tegasnya mengakhiri. (wil)
Teliti Mikroplastik, Mahasiswa UMM Ini Sebut Makanan Banyak yang Terkontaminasi

Penggunaan kemasan berbahan dasar plastik sekali pakai di Indonesia menjadi dasar kekhawatiran terkait masalah mikroplastik. Padahal di negara maju, pembatasan penggunaan plastik sekali pakai telah diterapkan dengan ketat, termasuk melalui penerapan cukai plastik. Hal ini memantik Dr. Shazma Anwar M.Sc., selaku mahasiswa post doctoral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penelitian tentang kontaminasi mikroplastik pada tanaman pangan. Mahasiswa asal Pakistan itu menjelaskan, pada dasarnya mikroplastik adalah partikel kecil dengan diameter kurang dari 5 mm yang dapat mencemari lingkungan, terutama pada tanaman. “Kentang menjadi sampel penelitian saya karena menjadi salah satu makanan pokok di beberapa belahan dunia. Selain itu, kentang yang termasuk dalam kategori umbi-umbian dapat menjadi sasaran empuk dari mikroplastik,” ujarnya. Dalam prosesnya, ia juga ditemani alumnus doktoral UMM yakni Dr. Ir. Roy Hendroko Setyobudi, M.Si. Penelitian yang dilakukan selama lima bulan ini berlangsung di berbagai tempat budidaya kentang di Malang Raya. Mulai dari Desa Pujon Kidul, Desa Sumber Brantas, Desa Ngadas, dan Desa Ngantang. “Hasilnya menunjukkan bahwa sampel kentang di semua wilayah tersebut terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan 0,02 sampai dengan 0, 24 partikel g–1. Bahkan, produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM olahan kentang yang dipilih secara acak pun mengandung mikroplastik,” jelas Shazma, sapaan akrabnya. Ia menyampaikan, bentuk mikroplastik yang paling mendominasi dari penelitian ini adalah filamen dan serat. Filamen bersumber dari kantong dan kemasan plastik, polybag, serta plastik UV, sementara serat mikroplastik berasal dari air cucian pakaian, deterjen, sabun, bahan kecantikan, filter rokok, sachet kopi dan teh, pampers, dan berbagai hal lainnya. Selain itu, mulsa plastik (penutup lahan tanaman) yang sering digunakan dalam pertanian di Indonesia juga menjadi penyumbang cemaran mikroplastik. “Pada dasarnya, plastik berbasis minyak bumi tidak dapat musnah. Ukurannya dapat semakin mengecil seiring waktu, berdampak pada peningkatan pencemaran. Tanah yang tercemar dapat menyebabkan penyumbatan akar tumbuhan, mematikan organisme tanah, menurunkan kesuburan tanah, dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Dampak lebih buruk, dapat masuk ke buah yang dikonsumsi manusia, atau batang dan daun yang dimakan hewan. Sehingga, berpotensi membahayakan kesehatan,” tambahnya. Hal ini dibuktikan pada uji coba tikus yang diberikan kentang terkontaminasi mikroplastik. Dalam waktu tiga minggu, tikus tersebut mengalami kematian. Mengindikasikan risiko serius yang dapat ditimbulkan oleh mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan. Selain kentang, Shazma juga menemukan pencemaran mikroplastik pada tanaman padi dan jagung di wilayah Malang Raya. Penggunaan plastik di era baru memang tidak dapat dihindari, namun penggunaannya harus dilakukan secara bijak. Antara lain dengan penerapan 4R (reduce, reuse, recycle, dan replace) atau mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan mengganti. “UMM harus bergerak cepat dalam penelitian dan penerapan tentang bioplastik yang dapat terurai secara alami. Mulai dari penggunaan metode biologi untuk pemulihan cemaran mikroplastik, pembuatan pupuk organik bebas mikroplastik, penggunaan tumbuhan hidup untuk membersihkan pencemaran lingkungan serta penggunaan zat padat untuk menyerap mikroplastik agar tak masuk ke perakaran tanaman,” pungkasnya. (lai/wil)
Pengemis Menjamur, Dosen UMM Sebut Pemberi Perlu Diberi Sanksi

Baru-baru ini, kembali viral di media sosial terkait konten pengemis yang pura-pura cacat. Hal ini menarik perhatian dosen program studi Kesejahteraan Sosial (Prodi Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW. Ia mengingatkan kepada masyarakat akan adanya aturan dari dinas-dinas terkait termasuk dinas sosial, bahwa masyarakat dilarang memberikan uang pada pengemis. Hal tersebut dapat membuat si pengemis menjadi ketergantungan. Ujungnya hal ini dapat dijadikan pekerjaan. Apalagi jika melihat hasil dari mengemis jumlah yang di dapat cukup banyak dan dapat melebihi UMR. “Jika kita ingin menyalurkan jiwa filantropi atau kedermawanan, tidak harus memberikan uang kepada pengemis,” ucap Eko. Ia pun menuturkan, memberikan sumbangan atau bantuan melalui lembaga atau yayasan resmi yang telah diakui pemerintah membuat penyaluran jiwa filantropi kita lebih tepat sasaran. Misalnya kepada lembaga Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS), panti-panti asuhan, tempat ibadah, dan lembaga sosial lainnya. Eko menjelaskan, fenomena pengemis menjadi permaslaahan sosial yang tidak mudah diselesaikan. Semua pihak memiliki tanggungjawab untuk hal tersebut. Pemerintah, menurutnya, kurang tegas melakukan penindakkan hukum pada pengemis dan pemberi. “Agar populasi pengemis bisa berkurang atau hilang, aturan yang dibuat seharusnya dijalankan dengan baik dan benar. Orang yang memberi uang kepada pengemis, harus diberikan sanksi tegas sesuai dengan aturan agar merasakan efek jera. Jika pemberi jera terhadap kelakuannya, maka hal ini akan mengurangi populasi dari pengemis yang ada, “ tegasnya menambahkan. Eko pun mmenguraikan, hadirnya pengemis merupakan dampak dari faktor kemiskinan. Kemiskinan sendiri disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya pendidikan. Maka dari itu pendidikan menjadi trisula untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan ini. Tidak mudah untuk mengurangi populasi pengemis di jalan. Walaupun dinas sosial telah melakukan rehabilitasi kepada para pegemis dan mencoba untuk mengurangai populasinya, akan tetap muncul orang-orang baru yang menggantikan. Menurut Eko, salah satu hal yang dapat memutus rantai tersebut adalah hadirnya lapangan pekerjaan untuk menggantikan aktivitas mengemis tersebut. “Jika memungkinkan, para pengemis ini diberikan lapangan pekerjaan oleh pemerintah yang sesuai dengan kemampuan mereka. Jadi mereka benar-benar bisa menghasilkan dari pekerjaan-pekerjaan itu. Sehingga oada akhirnya bisa mengurangi bahkan menghilangkan aktivitas mereka di jalanan,” harapnya mengakhiri. (Dev/Wil)
Wiwin, Mahasiswa UMM yang Kembangkan Hobi Merajut jadi Bisnis

Belakangan ini, skill merajut tengah digandrungi oleh masyarakat. Banyak dari mereka mencoba belajar merajut untuk sekadar mengisi waktu luang atau membuka bisnis. Hal sama dirasakan oleh Wient Ramadhani, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan kini ia menjalankan berbagai workshop menarik, termasuk workshop merajut. Wiwin, sapaan akrabnya, telah menekuni rajutan sejak adanya wabah Covid-19 di 2020 lalu. Mulanya, ia mengaku bosan dan bingung ingin melakukan apa karena adanya peraturan pembatasan jam keluar (PPKM) yang dikeluarkan oleh pemerintah. “Karena tidak bisa kemana-mana dan kelasnya online, jadi lambat laun merasa bosan dan ingin mencari hobi baru selain membaca,” ucapnya. Berbekal hal ini, ia mulai mencari hobi baru untuk mengisi waktu luang dengan merajut yang dipelajari secara otodidak dari internet. Dari situ, ia berhasil berkolaborasi dengan event organizer untuk membuka workshop bertajuk Spotted Chunky Knit bag yang banyak digandrungi masyarakat. Hingga kini, selain mendapat keuntungan, hobi barunya itu juga memberikan banyak manfaat khususnya bagi masyarakat umum yang ingin belajar merajut dengan dirinya. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah 12 kali menyelenggarakan lokakarya untuk merajut tas di berbagai daerah. Tak hanya Malang Raya, lokakarya yang ia tekuni juga sudah berkeliling hingga Surabaya. Tak hanya merajut tas, ia juga gemar merajut pernak pernik seperti gantungan kunci, boneka dan lain sebagainya. “Saat pertama kali memberikan materi dan praktek, saya merasa agak takut. Apalagi belajar merajut cukup sulit dan tidak bisa diajarkan dalam waktu dua jam saja. Maka dari itu, saya membatasi jumlah peserta hanya 10 sampai 15 peserta saja tiap workshopnya,” tambahnya. Bisa dibilang, dengan adanya lokakarya yang ia lakukan memunculkan banyak peluang yang bisa didapatkan. Mulai dari peluang menambah uang saku, rasa percaya diri, hingga membangun relasi antar sesama. Berkat hobinya merajut ini, ia berhasil membuka produksi rajutan homemade yang tersedia di platform komersil. Tak hanya baginya, adanya lokakarya ini juga bisa membangun peluang bagi para peserta. Mereka bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Maka dari itu, ia terus berinovasi agar lokakarya yang ia laksanakan dapat berkembang secara nasional. Ia juga memiliki rencana untuk mengembangkan lokakarya lain selain merajut tas yang ia jalani saat ini. Tapi tentu hal ini tidak akan mudah, karena ia harus beberapa kali belajar dan mencoba sebelum berani membuka kelas lokakarya baru. Apalagi, ia juga harus memperhatikan antusias peserta. Pemilik akun instragram @ini.rajutanku berpesan kepada anak muda untuk terus berani mencoba dan jangan takut gagal. “Tidak ada salahnya untuk mencoba walaupun progresnya perlahan-lahan. Meski kita masih muda dan mahasiswa, bukan berarti kita tidak bisa berinovasi. Jangan lupa juga mengejar pendidikan. Harus ada pembatas antara hobi, pekerjaan, dan perkuliahan. Semoga apa yang kita usahakan bisa memberikan banyak manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga masyarakat,” ucapnya mengakhiri. (Tri/Wil)
Begini Menariknya Buku Diplomasi Tiga Zaman, Hasil 36 Karir Stafsus UMM

Menjadi seorang Diplomat adalah impian bagi beberapa kalangan muda, namun sayangnya saat ini banyak anak muda yang bercita-cita tinggi tetapi tidak mengetahui cara untuk mendapatkan dan proses yang akan dialami selama menjadi Diplomat. Hal itu ditegaskan Dubes Republik Indonesia Negara Tunisia tahun 2017-2021, Prof. (Ris) Ikrar Nusa Bhakti, Ph.D dalam bedah buku yang berjudul “Diplomasi Tiga Zaman”. Adapun buku itu ditulis oleh Staf Khusus Rektor Bidang Kerjasama Internasional Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Dr. Hc. Drs. Priyo Iswanto, S.Hum., M.H. Sebelumnya, Priyo merupakan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia. Kiprahnya juga sangat cemerlang dengan menadapat berbagai penghargaan, salah satunya mendapatkan penghargaan Carlos Lemos Simmonds. Baca juga : APTIKOM di UMM: Sertifikasi Profesi untuk Memajukan Bangsa Dalam bedah buku yang diselenggarakan pada 9 Desember lalu itu, Ikrar mengatakan bahwa buku yang ditulis Priyo sudah tersusun secara sistematis dan mengarahkan kalangan muda untuk beradaptasi pada pekerjaaan di era tiga zaman ini. Menurutnya, lahirnya buku ini memberikan manfaat yang menarik, utamanya dalam membantu setiap generasi untuk melek dalam berbagai permasalahan serta menemukan cara mengatasi masalah dengan kerangka berpikir yang cerdas. “Dari buku ini, bisa dilihat bahwa proses berdiplomasi bukanlah hal yang instan. Menjadi Dubes mempunyai tanggung jawab yang besar. Ada 18 topik menarik, salah satunya Perestroika dan Gasnus merupakan salah satu pergerakan yang menarik dalam pembahasan buku ini yang terinspirasi dari Presiden Soeharto. Dibahas melalui kisah nyata seorang Priyo dalam buku ini,” ujarnya. Menurutnya, buku ini mempunyai keunggulan dan karakteristik yang menarik karena up to date dan dibahasakan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Sehingga pembaca dapat dengan mudah mengerti isi pembahasannya dan mengajak berpikir lebih kreatif. “Mengajak pembaca untuk bisa merasakan apa yang mereka baca adalah sebuah kata yang cocok untuk buku ini. Ditulis berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi kehidupan bersama orang-orang hebat menjadikan isi buku ini sangat kaya akan pengalaman mahal. Priyo banyak menceritakan pahit manis kehidupan menjadi Dubes dan Diplomat, salah satunya ketika ia di culik supir taksi yang iseng,” katanya. Sementara itu, Priyo menjelaskan bahwa ia membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk merampungkan buku tersebut. Ada alasan mengapa buku itu diberi judul Diplomasi Tiga Zaman yakni isinya yang membahas mengenai pengalaman Priyo dalam tiga zaman besar. Dimulai dengan era bipolar di mana terjadi eprang dingin antara timur dan barat. Kemudian era kedua, yakni unipolar yang menurutnya mengarahkan pada globalisasi. Terakhir, pada era ketiga yakni era multipolar di mana Amerika Serikat mulai mengendur dan memunculkan peran Cina, Brazil, Indonesia, dan lain-lain. “Selama 36 tahun menjalani karir menjadi diplomat, ada berbaai pengalaman unik yang saya alami. Semoga buku ini bisa memberikan definisi diplomasi baru yang mungkin menarik bagi masyarakat, mahasiswa, atau akademisi hubungan internasional,” pungkasnya. (ri/wil)
Atlet Futsal Cantik UMM Menang di POMNAS

Adalah Mellenia Dinda Saputri, mahasiswi Magister Psikologi Angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih prestasi di tingkat Nasional. Dia terpilih menjadi perwakilan UMM untuk kontingen Jawa Timur dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVIII di Kalimantan Selatan, akhir November lalu. Bahkan ia dan timnya berhasil menyabet medali perunggu di cabang olahraga futsal. Dinda, sapaan akrabnya, mengaku bahwa dulu ia merupakan seorang atlet voli. Sayangnya ia mengalami cedera dan harus beristirahat total. Meski begitu, hasrat unutk berprestasi terus menyala, utamanya di dunia olahraga. “Dulu sebenarnya atlet voli sempat cedera di bagian lengan, terus harus istirahat total. Kemudian pada 2018, saya diajak teman-teman untuk beralih ke dunia futsal. Ternyata setelan lama ikut latihan, banyak tim yang mengajak bergabung baik dari futsal maupun sepakbola,” kisahnya. Terlepas dari skill dan fisik yang bagus, keikutsertaannya dalam ajang POMNAS XVIII tidak lepas dari jaringan Dosen UMM yang luas. Ia mendapat dukungan penuh dari Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI). Mahasiswi asli Malang itu mengaku telah melakukan persiapan yang cukup ketat, mulai dari program Training Center (TC) hingga mengikuti Pra-PON. Ia bahkan baru saja menyelesaikan turnamen Pra-PON di Sulawesi Selatan pada Oktober, kemudian dilanjut dengan TC selama sepuluh harian, hingga akhirnya terjun dalam ajang POMNAS. Dia mengaku sangat senang serta bahagia dapat mengikuti POMNAS tersebut, terlebih lagi kampus putih memberikan dukungan penuh kepadanya. Baik itu dari aspek transportasi, akomodasi, hingga segala kebutuhan saat mengikuti kejuaraan tersebut. “Tentu hasilnya terbayar lunas. Segala rangkaian kegiatan mulai dari latihan yang padat, ikut Pra-PON, dan akhirnya ikut POMNAS dan pulang membawa medali. Terlebih, banyak sekali dukungan dair teman-teman dan keluarga,” ungkapnya. Terakhir, dia berpesan pada para atlet wanita agar tidak ragu untuk unjuk skill dan kemampuan. Menurtnya, prestasi itu tidak hanya terkait hal-hal akademik saja. Namun juga bisa melalui sektor-sektor non akademik, termasuk olahraga. “Sebagai atlet perempuan, kita bisa kok membanggakan dan menorehkan prestasi. Sekalipun di olahraga-olahraga yang didominasi kaum laki-laki. Jangan sungkan-sungkan menunjukkan bakat dan skill,” pungkasnya. (faq/wil)
APTIKOM di UMM: Sertifikasi Profesi untuk Memajukan Bangsa

Untuk menjadi maju, tidak perlu mengikuti negara-negara yang sudah maju. Namun harus menemukan cara yang tepat dengan memaksimalkan kekuatan dan potensi sendiri. Cara itu juga yang dilakukan sederet negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Jerman. Hal itu dikemukakan Ketua Umum Ikatan Pengguna Komputer Indonesia (IPKIN) Prof. Dr. Ir. Eko Kuswardono Budiardjo, M.Sc. dalam materinya. Adapun ia menjadi pemantik dalam agenda rapat koordinasi Nasional (Rakornas) Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 7 Desember lalu. “Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan. Tahapan pertama yakni kesadaran akan perlunya mendayagunakan teknologi. Kemudian memberikan literasi digital sleuas-luasnya sheingga semua orang dapat memanfaatkan teknologi digital secara tepat,” tambahnya. Tahapan yang ketiga yakni kompeten atau mahir dalam mendayagunakan teknologi. Bentuknya bisa melalui sertifikasi lembaga sertifikasi profesi (LSP) di bawah naungan badan nasionl sertifikasi profesi (BNSP). Gunanya untuk mendeskripsikan bahwa orang tersebut memang benar-benar kompeten di bidangnya. Kemudian yang keempat, sumber daya manusia menjadi inovator. Hal ini melalui proses inovasi yang dilakukan oleh kegiatan di industri maupun perguruan tinggi. Hingga akhirnya menuju tahapan kelima, yakni creator. Di sinilah ekonomi kita akan bertumbuh secara pesat karena mampu menceiptakan produk yang bermanfaat. “Perlu diketahui bahwa Indonesia telah memiliki peta okupasi yang mulai disusun tahun pada 2017 dan mulai di gunakan pada tahun 2018. Oleh karena itu, di empat bulan terakhir tahun 2023, dilakukan kegiatan pemutakhiran oleh Kominfo,” ucapnya. Sebagai informasi, pemutakhiran ini akan berakhir di ujung bulan Desember 2023 dan rencananya akan mulai dipergunakan pada tahun 2024. Eko merasa ini akan menjadi suatu tantangan tersendiri bagi orang-orang yang mengembangkan kurikulum Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI). Di sisi lain, Dr. Ir. Yaya Heryadi, M.Sc., CDS., CDRAI selaku Komite Skema Sertifikasi LSP Informatika mengatakan, muncul dampak positif dan negatif dari berkembangnya Artificial Intellegent (AI). Positifnya, ada banyak orang yang membagikan ilmu pengetahuan dan dapat diakses dengan mudah. Namun, di sisi lain ini menjadi tantangan besar. “Terdapat ilmu-ilmu yang tidak terkontrol terkait benar salahnya. Hal ini berakibat fatal dan dapat membahayakan industri. Karena industri digital akan sangat mudah jatuh jika para ahli atau pegawainya membuat kesalahan-kesalahan walaupun kecil,” jelas Yaya. Bahkan, industri jadi kurang percaya dengan lulusan universitas. Sebab banyak output yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Sampai-sampai mereka rela habis milyaran untuk sekadar meyakinkan inputnya sesuai dengan kebutuhannya. Di sinilah SKKNI dibutuhkan, yang mana peserta sertifikasi benar-benar diuji melalui kasus dan pemahaman yang mendalam. Sehingga apabila ia telah lulus sertifikasi kompetensi tersebut, maka artinya ia benar-benar berkompeten dibidangnya. Yaya menyarankan untuk meleburkan SKKNI ke kurikulum. Jika tidak, mungkin akan ada beberapa konsekuensi yang biasanya terjadi. Pertama, adanya kurikulum tapi tidak sinkron dengan kebutuhan industri. Kedua, tidak sesuai dengan standar nasional. Ketiga, kesulitan dalam pengakuan kompetensi. Keempat, kurang keterlibatan stakeholder. Kelima, keterbatasan daya saing lulusan. Keenam, kurangnya fleksibilitas dalam mendukung pembaruan. “Update kurikulum itu tidak gampang dan cukup tricky. Namun perlu diingat bahwa sertifikasi kompetensi menjadi salah satu solusi untuk meyakinkan bahwa lulusan kita telah memenuhi standar profesional,” katanya mengakhiri. (*dev/wil)
Aktif Terbitkan Buku Berkualitas, UMM Press Menangkan Penghargaan dari Pemprov Jatim

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan meraih berbagai prestasi. Baik itu dari kalangan mahasiswa, dosen, prodi, fakultas, bahkan juga unit pelaksana teknis (UPT). Terbaru, UPT Penerbitan Buku UMM Press sukses meraih penghargaan sebagai penerbitan buku paling aktif yang berikan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur. Penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi bagi penerbit yang tertib menyerahkan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR) Jatim tahun 2023. Penyerahan Penghargaan itu diberikan pada 27 November lalu di Hotel Samator Surabaya. Direktur UMM Press, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. mengaku sangat gembira atas penghargaan yang merek raih. Penghargaan tersebut juga tidak luput dari hasil kerja keras para tim serta hasil inovasi-inovasi yang telah dibuat. Mulai dari melakukan design layout yang lebih modern dan melakukan penerbitan tidak hanya dengan buku fisik namun juga buku digital (E-Book). “UMM Press ini sudah cukup tua usianya, yakni sudah berdiri sejak 1990. Bisa dibilang UMM Press mampu bertahan di tengah situasi dimana buku saat ini minatnya semakin menurun. Setidaknya dalam setahun, kami menerbitkan lebih dari 70 judul buku secara konsisten,” ungkapnya. Novin, pihaknya tidak hanya menerbitkan buku-buku pendamping kuliah dan buku ajar kuliah saja. Namun juga sederet buku novel, puisi, serta cerpen hasil karya mahasiswa dan dosen yang menarik. Langkah itu sebagai upaya Itu juga untuk membangun dan mendorong kreativitas sivitas akademika yang memiliki potensi dan bakat di kepenulisan. “Kami membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi yang ingin menerbitkan karya tulisannya. Ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa yang ingin karyanya terpublikasi secara luas. Bisa karya yang santai seperti cerpen, novel fiksi, puisi, dan lain sebagainya. Tentu harus melewati seleksi untuk menentukan karya tersebut layak atau tidak. Karya yang kami terbitkan juga bukan hanya mereka yang terafiliasi dengan UMM saja, tapi juga penulis-penulis di luar UMM,” katanya. Terakhir, Dosen Ilmu Komunikasi (Ikom) UMM tersebut berpesan kepada anak-anak muda untuk tidak bosan-bosan dalam membaca buku, mengingat bahwa buku merupakan salah satu sumber ilmu. Begitupun dengan menulis sebagai sarana menyalurkan kreativitas. Ia berharap UMM Press mampu maju dan go internasional di aspek publikasi buku-buku ilmiah. (*faq/wil)