Ribuan Tokoh antar Umat Beragama Serukan Persatuan di UMM

Untuk merayakan sumpah pemuda ke 95, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang menggelar talkshow Generasi Muda Lintas Agama dan Kepercayaan. Dalam acara yang dilaksanakan 31 Oktober itu, ada ribuan peserta dari 72 lembaga yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Bahkan mereka juga saling bahu-membahu memberikan penampilan yang mengangkat tema persatuan dan toleransi anak-anak muda. Mulai dari tari nusantara, kuda lumping, pembacaan teks proklamasi, teatrikal dan lain sebagainya. Bahkan Rektor UMM juga menyampaikan puisi menarik dalam rangkaian acara. Turut hadir para pembicara nasional dalam talkshow tersebut. Yakni Kepala Staff Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo. Begitupun dengan Asisten Deputi Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI) Maman Wijayan. Romo Benny menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor yang memperkuat keutuhan bangsa. Menjadi kekuatan bagi masyarakat Indonesia untuk bersatu meski memiliki latar belakang suku, ras, serta agama yang berbeda. “Komunikasi itu sangat penting. Kita punya satu bahasa pemersatu yakni bahasa Indonesia yang memiliki dampak rasa kekeluargaan yang sangat kuat. Kita ambil contoh India yang sampai saat ini masyarakatnya sulit bersatu karena tidak memiliki bahasa pemersatu seperti kita,” katanya. Romo Benny juga memberikan apresiasi tinggi pada Kampus Putih. Menurutnya, meski UMM merupakan kampus berbasis Islam, namun mampu mengimplementasikan kerukukan antar umat beragama. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya rasa eksklusif pada diri sivitas akademika kampus putih, termasuk para anak mudanya. Di sisi lain, Maman menilai, kini generasi muda menghadapi tantangan pola pikir yang skeptis sekaligus memasuki era post truth. Maka, ia mewanti-wanti agar para pemuda selalu waspada terhadap musuh-musuh ideologi pancasila. Termasuk musuh yang kini tidak ada wujudnya secara fisik, namun dapat membahayakan pola pikir. “Kalau zaman dulu sebelum kemerdekaan, sudah jelas musuh kita adalah penjajah. Namun saat ini, musuh kita sudah bertransformasi menjadi penjajah yang tidak terlihat. Saya mewakili Kemenko PMK RI harus mengatakan kepada kalian semua untuk tetap untuk berhati-hati dengan ideologi transnasional,” tegasnya. Menurutnya, ideologi transnasional yang berbahaya tersebut dapat memuncukan berbagai pandangan-pandangan yang menciptakan kembali neo-komunisme serta neo-liberalisme. Apalagi mengingat bahwa ideologi ini dapat mudah masuk ke anak-anak muda yang masih belum matang dalam alur logikanya. “Maka, jangan bosan-bosan menambah ilmu dan memperkuat ideologi Pancasila. Pemikiran dengan alur logika yang kurang matang itu berbahaya. Apalagi jika tidak selektif dalam memilah informasi di era digital,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)

Rektor UMM Persembahkan Puisi Kebangsaan

Belasan pertunjukan ditampilkan dalam ajang Geragah Taruna Nusantara garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKAUB) Malang. Acara yang dilaksanakan pada 31 Oktober itu dihiasi dengan penampilan hasil kolaborasi umat antara agama. Salah satu yang menarik adalah pembacaan puisi yang ditampilkan langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Fauzan membawakan puisi berjudul “Majulan Indonesiaku”. Puisi tersebut semakin membuat para tamu dan peserta semakin bersatu meski memiliki latar belakang yang berbeda. Ia menegaskan bahwa Indonesia menjadi tempat tumpah darah yang selalu dicintai. Berupaya dan berjuang menjadikan Indonesia negara yang berdikari, bernilai, dan disegani. “Untukmu negeri tercinta, Engkau Indonesia tempat berpijak menggantungkan cita dan asa bagi rakyatnya. Betapa mahal ongkos yang dibayar untuk dapat lahir dengan gangsar. Kini tak terasa engkau telah 78 tahun lamanya menjadi merdeka. Banyak yang berharap hendaknya engkau menjadi negeri yang bermartabat. Tak terkecuali pemuda pemudi bersumpah serapah menjunjung tinggi negeri ini,” secuil puisi itu dibacakan oleh Fauzan. Sementara itu, dalam sambutannya Fauzan menilai, momen tersebut diharapkan mampu memperkuat rajutan tali persaudaraan antar umat beragama lintas budaya. Baik itu yang ada di Malang Raya maupun di masyarakat luas. “Kita bisa bersatu, kita bisa bersanding, kita juga bisa bercengkrama tanpa batasan suku, ras, agama, dan lain. Indah rasanya kita bisa bersama dan bersatu. Hanya itulah yang sebenarnya diinginkan dalam kehidupan untuk menuju kedamaian bersama,” ungkapnya. Di sisi lain, Sekjend FKUB Malang Pendeta David Tobing St. S.Th. M.Pd. menegaskan, perbedaan bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan. Namun perbedaan merupakan suatu hal yang harus disatukan dengan cinta kasih serta ketulusan. “Dengan begitu, ini bisa menjadikekuatan yang besar dan menghasilkan keindahan layaknya pelangi,” tegasnya pada ribuan mahasiswa dan peserta. (Wil)

UMM-SMAM 3 Bungah Ajak Siswa se-Kecamatan Ikuti Tiga Kelas Asyik

Puluhan siswa sekolah menengah pertama (SMP) se-Kecamatan Bungah, Gresik terlihat riuh dan aktif mengikuti tiga kelas coaching clinic. Aktivitas itu merupakan garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan SMA Muhammadiyah 3 Bungah Gresik. Ada tiga kelas yang disajikan pada 6 Oktober itu, yakni kelas menjadi jurnalis cilik, pengolahan teknologi kompos, dan fun akunistic. Salah satu kelas yang menarik adalah kelas pengolahan teknologi Kompos yang diisi oleh dosen peternakan UMM Ir. Ali Mahmud, M.Pt. Ia mengajak anak-anak untuk memanfaatkan kotoran kambing dan menjadikannya produk bermanfaat. Mereka yang awalnya ogah-ogahan memegang kotoran, malah asyik dan penasaran dengan prosesnya. Adapun beberapa langkah pembuatan pupuk tersebut yakni menghamparkan kotoran kambing setebal 20-30 cm. Kemudian ditaburkan dolomit, abu dan decomposer. Kemudian menyiramnya dengan biofarm yang sudah dicampur dengan air dan menutup timbunan dengan terpal. Setelah didiamkan selama satu minggu, baru bisa diaduk. Terakhir, tunggu hingga tiga minggu dan pupuk sudah bisa digunakan. “Anak-anak awalnya jijik dan tidak mau memegang kotoran. Tapi mereka cukup penasaran dan akhrinya mau mencoba. Semoga kelas ini bisa menginspirasi mereka dan mungkin bisa dicoba bersama teman atau keluarga di rumah,” kata Ali. Kelas menarik lain adalah jurnalis cilik yang diisi oleh Maharina Novia M. Ikom. Anak-anak SMP didorong menjadi pribadi yang kritis melalui latihan bertanya yang baik. Setelah itu juga diajari bagaimana menyampaikan sebuah info atau berita dengan maksimal. Baik secara tulisan maupun lisan layaknya reporter dalam sebuah program berita. “Kami membawa dan menggunakan prompter serta greenscreen agar teman-teman SMP benar-benar tahu serta merasakan bagaimana menjadi reporter. Membacakan berita, menghadap kamera, dan langsung melihat potret dirinya dengan teknologi greenscreen. Semoga bisa memotivasi anak-anak untul terus meraih mimpinya,” tegasnya. Di sisi lain, Kepala Sekolah SMAM 3 Bungah Mufrikha S.Pd., M.M. mengapresiasi program yang dilakukan UMM di sekolahnya. Apalagi ketiga kelasnya dibalut dengan asyik sehingga anak-anak tidak bosan dan ikut aktif. Siswa-siswi SMP yang datang juga beragam dari beberapa desa yang ada di kecamatan Bungah. “Semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi banyak orang. Kami tentu akan melaksanakan program-program asyik lainnya. Bukan hanya menyasar anak-anak SMP maupun SMA, tapi juga untuk masyarakat luas,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)

Kenapa Anak Pakai Kacamata Sejak Dini? Ini Penjelasan Dosen UMM

Seringkali kita mendapati anak-anak di usia dini sudah menggunakan kacamata. Hal ini biasanya terjadi karena kelainan refraksi. Yaitu kondisi di mana bayangan yang terbentuk di retina mata, tidak tajam maupun tegas. Karenanya penglihatan menjadi kabur. Apa saja penyebabnya? Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr. Aryani Vindhya Putri, Sp.M. menjelaskan, kondisi ini terjadi karena pemanjangan atau pemendekkan ukuran bola mata. Semakin panjang ukuran bola mata, maka minusnya akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika ukuran bola mata semakin pendek, maka plusnya yang akan semakin tinggi. Panjang pendeknya ukuran bola mata ini, utamanya dipengaruhi oleh faktor keturunan. Meski demikian, beberapa faktor lain juga turut menjadi penyebabnya. “Pertama adalah penggunaan gadget yang berlebihan. Aktivitas ini dapat memperparah terjadinya mata minus,” kata Aryani. Dewasa ini, banyak anak-anak yang diberikan akses gadget oleh orang tuanya. Padahal menurut penelitian, anak usia 0-2 tahun tidak dibolehkan menggunakan gadget. Bagi yang usianya diatas 2 tahun, penggunaan gadget juga harus dibatasi yakni maksimal 2 jam per hari. “Selain itu, agar mata tidak lelah, jangan lupa untuk menggunakan ‘rule of twenty’. Yaitu 20 menit melihat gadget, kemudian istirahat 20 detik dengan cara melihat benda sejauh 20 kaki, atau setara dengan 5-6 meter. Ini dilakukan agar mata kita tidak tegang dan lelah,” katanya. Faktor lain yang menyebabkankan seorang anak harus mengenakan kacamata sejak dini adalah seringnya membaca ditempat minim pencahayaan. Dalam kondisi ini, mata harus “memaksakan diri”. Oleh karena itu, Aryani berpesan untuk para orang tua agar memeprhatikan kesehatan mata anak. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan penglihatan, hendaknya segera memeriksakan diri ke dokter mata. Beberapa tandanya adalah sering memicingkan dan mengucek mata, membaca dengan jarak yang terlalu dekat hingga kesulitan fokus karena penglihatannya yang buruk. “Kalau mata anak sudah terbiasa tidak melihat jelas, maka otaknya pun tidak terbiasa untuk melihat jelas. Kalau sudah begini, akan menyebabkan mata malas pada anak. Jika sampai telat sadar, memakai kacamata ukuran berapapun penglihatannya tidak akan bisa maksimal,” jelasnya. Di akhir, Aryani berpesan, jika berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mata memutuskan agar anak memakai kacamata, hendaknya orang tua tidak perlu takut atau berkecil hati. Penggunaan kacamata akan mencegah terjadinya mata malas. “Dengan menggunakan kacamata, anak jauh lebih fokus, penglihatannya juga lebih baik dan otaknya pun bisa tetap berkembang maksimal,” pungkasnya. (*dev/wil)

Profesor Penggerak UMM Sukses Panen Padi Organik di Bali hingga 12,5 Ton per Hektar

Kontribusi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) aspek pertanian di Subak Bengkel, Tabanan, Bali memberikan hasil yang bagus. Hal itu dapat dilihat dari panen perdana beras organik yang mampu menghasilkan 9 hingga 12,5 ton per hektar di lahan yang diproses dengan sistem organik. Turut hadir dalam panen perdana itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan I Made Subagia, Perwakilan Unesco, hingga Asisten Bupati Tabanan Bidang Perekonomian dan Pembangunan Gede Dalem Trisna Ngurah. Beberapa bulan sebelumnya, sederet tim beserta Rektor UMM dan pemerintah daerah setempat juga telah melakukan penanaman padi organik. Kemudian pada bulan ini, hasil dari penanaman tersebut akhrinya bisa dipanen. Adapun kontribusi dan bimbingan ini merupakan bagian dari program UMM yang disebut dengan Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Sebelumnya, Kampus Putih juga sukses bekerjasama dengan berbagai daerah seperti Bondowoso, Jember, dan lainnya. Ini juga upaya UMM untuk turut serta mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk menjaga kelestarian warisan budaya Subak di Bali. Ketua tim UMM Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P. menjelaskan pengerjaan proyek dan demplot tersebut berada di sembilan titik yang luasnya 6,5 hektar ditambah dengan 1,6 hektar. Ada dua tipe beras yang dihasilkan. Pertama, beras sehat yang dalam prosesnya ada pengurangan pupuk kimia 50 persen. Jumlah produk pertama yang dihasilkan mencapai 12,5 ton per hektar. Sementara produk kedua adalah beras yang dihasilkan secara full organik. Produk ini mampu dihasilkan sebanyak 9 ton per hektar. “Angka ini sudah tergolong bagus karena hasil dari penanaman secara organik biasanya menurun pada percobaan pertama dan baru meningkat pada percobaan ketiga atau empat. Sementara di Subak Bengkel ini hasilnya sangat memuaskan dengan sembilan ton per hektar pada penanaman pertama,” kata Indah, sapaannya. Ia mengatakan bahwa UMM tidak hanya mendampingi petani pada proses budidaya saja. Namun juga dari bagaimana petani menghasilkan produk saprodi seperti pupuk padat dan cair organik, pestisida hayati, proses pengolahan tanah, pengelolaan air dan lain sebagainya. Menurutnya, hasil baik ini menjadi bukti kerjasama yang apik antara pemerintah kabupaten Tabanan, para petani di Desa Bengkel, dan tenaga ahli dari UMM. Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Tabanan I Made Subagia mengatakan, hasil bagus ini tidak lepas dari proses yang panjang. Baik itu proses kelembagaannya, peningkatan sumber daya mansua, dan lainnya. Termasuk terkait bimbingan dan dampingan dari dinas pertanian, tim Kampus Putih UMM serta Unesco. Sehingga beras organik dengan nama Asasta bisa diproduksi dengan baik. Apalagi didukung dengan adanya tempat pengolahan sampah berbasis reduce reuse dan recycle (PS3R) yang ada di lokasi. Sehingga mampu menghasilkan dan memodifikasi pupuk organiks ecara mandiri yang memiliki kandungan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Hal serupa juga disampaikan Perbekal Desa Bengkel I Nyoman Wahya Biantara. Pihaknya mengapresiasi bimbingan dan arahan dari UMM terkait pertanian organik di Desa Bengkel. Menurutnya, hasil yang didapat cukup menggembirakan hingga 9-12,5 ton per hektar. Ia mengaku, ada beberapa kendala dalam prosesnya, terutama terkait perubahan pola dalam menanam dan larangan menggunakan bahan kimia. “Kerja keras semua pihak terbayar lunas dengan hasil yang menggembirakan ini. Ke depan, kita bisa terus meningkatkan roda perpurataran sirkulasi ekonomi dengan lebih baik lagi. Mulai dari hulur ke hilit,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)

Berkat Teliti Pariwisata Halal, Dosen UMM Raih Dana Hibah Dikti

Pariwisata halal menjadi tren baru dalam industri kepariwisataan. Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan maupun Taiwan bahkan menyiapkan model pariwisata halal sekalipun mereka bukan negara berpenduduk mayoritas muslim. Hal itu sebagai bentuk persiapan untuk menyambut wisatawan mancanegara (wisman) dari negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Malaysia, Qatar, Saudi Arabia termasuk Indonesia Realita tersebut menginspirasi Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sholahuddin Al-Fatih untuk meneliti dan mengahsilkan model pariwisata halal berkelanjutan. Dalam pengerjaannya, ia juga menggaet dua dosen dari institusi lain yakni Abdul Kadir Jaelani (UNS) dan Ahmad Siboy (Unisma). Gayung bersambut, kolaborasi riset mereka berhasil mendapatkan hibah Dikti Tahun 2023-2024. “Pariwisata halal itu bukan soal agama, ya. Tetapi pada aspek hospitality, keramahan, dan kualitas sarana dan prasarana yang sudah terstandarisasi dengan baik,” kata Fatih menjelaskan. Menurutnya, selama ini kebanyakan masyarakat salah kaprah memahi konsep pariwisata halal dan seringkali mengaitkannya dengan isu agama. Adapun model pengelolaan kepariwisataan halal berkelanjutan yang ditawarkan oleh Fatih dan kolega, bertitik tolak pada jaminan hukum serta implementasinya. “Selama ini, aspek ini hanya diatur soal pariwisata dalam undang-undang, juga Fatwa DSN Majelis Ulama Indonesia. Namun belum ada produk legislasi yang mengatur secara konkret pariwisata halal itu sendiri. Padahal hal ini sangat penting dan strategis,” tegas dosen fakultas hukum itu. Adapun penelitian itu berlangsung selama dua tahun, tepatnya pada tahun 2023 hingga 2024. Ada tiga destinasi yang akan diteliti, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau. Beberapa hal yang dihasilkan berupa buku, artikel ilmiah dan model pengaturan pariwisata halal. Semua itu dipublikasikan dan diserahkan kepada pihak terkait, seperti Kemenparekraf, Dinpar hingga Lembaga Legislaslatif. (*/wil)

Mahasiswa BIPA UMM Asal Vietnam Menangi Lomba Nyanyi se-Jatim

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya mendorong mahasiswa lokal untuk meraih prestasi, namun juga para mahasiswa internasionalnya. Salah satunya mahasiswa Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) yang berasal dari Vietnam, Nguyễn Hoài Ngân. Ia berhasil meraih juara 2 dalam lomba menyanyi se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur di Hotel Yello Jemursari, Surabaya, 3 Oktober lalu. Setidaknya lomba tersebut diikuti oleh para peserta yang merupakan pemelajar asing yang berkuliah di universitas-universitas di Jawa Timur. Lebih lanjut, Ningsih sapaan akrabnya, mengaku telah mempersiapkan lomba tersebut selama beberapa hari. Ia akhirnya juga memiliih dan membawakan dua lagu, yakni Indonesia Jaya dan Maju Tak Gentar. “Saya latihan terus menerus dalam 3 hari. Menguasai nada, intonasi, pelafalan dan juga menghafal lirik lagu yang saya bawakan. Cukup menantang dan membuat saya deg-degan,” katanya. Tidak hanya itu, mahasiswa yang memang memiliki hobi menyanyi itu, juga mengalami demam panggung sesaat sebelum tampil. Namun beruntung, dukungan para staf BIPA UMM membuatnya tegar dan mampu tampil dengan maksimal. Ia juga bangga dan senang bisa menorehkan juara dua di lomba tingkat Jawa Timur itu. “Rasa gugup tentu saya rasakan. Tapi itu saya patahkan dengan rasa percaya diri dan dukungan dari pendamping BIPA. Terimakasih juga kepada UMM yang memfasilitasi hobi saya dan mengantarkan saya menjadi juara” tambahnya senang. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh mahasiswa BIPA yang ada di UMM untuk tidak ragu dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Apalagi mengingat UMM senantiasa memberikan wadah serta sarana prasarana yang mumpuni untuk pengembangan potensi. “Saya sangat berharap setiap mahasiswa di BIPA dapat mengembangkan potensinya sehingga bisa meraih prestasi dan mengharumkan nama kampus,” pesanya mengakhiri. Adapun keikutsertaan Ningsih merupakan bentuk komitmen dari BIPA UMM untuk mewadahi  minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa asing. Hal itu juga selaras dengan misi BIPA yakni untuk memberikan pelayanan pembelajaran bahasa, seni, dan budaya yang mampu memenuhi kebutuhan dan harapan penutur asing. Sebelumnya, Ningsih juga seringkali diminta untuk mengisi dan tampil di beberapa kegiatan besar kampus. Misalnya saja pada penutupan Pesmaba, pentas seni, bahkan saat wisuda. (*faq/wil)

Dosen Fisioterapi UMM Beri Tips Atasi Saraf Terjepit

Saraf terjepit atau yang sering dikenal dengan kecetit merupakan tekanan pada saraf oleh jaringan-jaringan sekitar. Misalnya oleh otot, tulang atau ligamen. Hal ini umum terjadi pada persarafan tulang belakang. Efeknya bisa didapati nyeri menjalar di leher, lengan, pinggang, kaki, dan beberapa tempat lainnya. Menurut dosen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Siti Ainun Ma’rufa, S.Ft., Ftr., M.Sc., penyebab saraf terjepit adalah pertambahan usia yang membuat kelenturan tulang belakang berkurang. Seiring bertambahnya usia, bantalan tulang belakang juga bisa menipis, hal ini bisa beresiko menyebabkan gesekan antar tulang hingga menjepit saraf. “Penyebab lainnya yakni trauma seperti kecelakaan, cedera olahraga, dan terjatuh. Selain itu, kondisi obesitas, postur tubuh yang tidak tepat ketika beraktivitas dan melakukan gerakan secara terus-menerus juga menjadi faktor resiko saraf terjepit,” tambahnya. Ainun, sapaannya, juga menyampaikan bahwa gejala yang biasa dirasakan yakni nyeri menjalar. Namun tidak jarang diirngi dengan kesemutan, rasa terbakar, mati rasa, hingga lemahnya otot di bagian tubuh yang mengalami saraf terjepit. Lalu, bagaimana terapi pertama yang bisa kita lakukan jika mengalami hal ini? Ainun menjelaskan ada latihan fisioterapi yang bsia dilakukan pada pednerita sarat kejepit. Latihan ini bisa meringankan rasa nyeri. Yakni dengan melakukan stretching (peregangan) juga strengthening (penguatan). “Gerakan tersebut meliputi knee to chest stretching, glutes bridging, pelvic tilting, leg raise dan lain-lain. Selain itu, kompres dingin dan hangat juga bisa diberikan pada area nyeri yang dirasakan,” tambahnya. Dalam beberapa kasus, penderita saraf terjepit harus menjalani rangkaian pemeriksaan penunjang terlebih dahulu untuk mendapatkan diagnosis. Terapi farmakologi juga biasa diberikan pada pasien untuk mengurangi gejala nyeri. “Akan tetapi pada kondisi yang lebih parah, ditemukan penjepitan saraf karena hernia nucleus pulposus atau spondilolistesis yang menyebabkan kondisi tulang belakang bergeser dari posisi normal. Maka tindakan operatif akan diberikan pada kasus ini,” tambahnya. Di akhir Ainun menegaskan bahwa kondisi saraf terjepit bisa terjadi berulang. Karenanya, menjaga gaya hidup sehat mutlak harus dilakukan. “Sangat dianjurkan pula pada penderita untuk membiasakan duduk dan berdiri dengan postur yang baik, melakukan pola hidup sehat untuk menjaga berat badan ideal, serta olahraga dengan teratur,” pesannya. (*sep/wil)

UMM Komitmen Penuh Capai SDGs dan Lingkungan Kampus Hijau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut aktif di berbagai kegiatan bermanfaat, salah satunya terkait aktivitas menciptakan keberlanjutan lingkungan di dunia akademik. Komitmen itu dibuktikan dengan keikutsertaan UMM di UI Greenmetrik sejak 2020 lalu. “Perguruan tinggi tidak hanya sekadar fokus pada proses belajar mengajar, tapi juga harus bisa menciptakan kondisi yang mendukung pembelajaran serta kampus hijau. Adapun UI Greenmetric adalah pemeringkatan dunia yang menetapkan standar infrastruktur dan tindakan menuju infrastruktur berkelanjutan di seluruh dunia,” kata Asisten Rektor bidang Akreditasi Internasional UMM Suparto, M.Pd. Disebutkan Suparto, ada 900 universitas di seluruh dunia yang turut bergabung. Selain itu ada enam indikator utama dalam program ini, yakni aspek lingkungan dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, serta pengelolaan limbah. Begitupun dengan transportasi serta pendidikan dan penelitian. Untuk mencapai indikator itu serta menjadi sustainabel university, Kampus Putih juga telah melaksanakan beragam program. “Sebagai kampus, kami sudah melakukan penelitian dan pengabdian terkait keberlanjutan lingkungan, menyediakan fasilitas untuk disabilitas, mengurangi area parkir dengan membangun parkir bertingkat, bahkan menyediakan air siap minum yang steril di beberapa titik kampus. Hal lainnya seperti pengoperasian mobil listrik sebagai transportasi umum, TPS terpadu dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro, panel surya, biogas juga sudah kami lakukan,” terang Suparto. Dosen UMM itu juga mengatakan, Kampus Putih juga telah banyak berdiskusi terkait praktik terbaik dengan berbagai lembaga. Keterlibatan UMM di UI Greenmetric juga dapat dilihat secara konkret melalui sumber daya intelektual, infrastruktur, dan kemampuan untuk menjalankan penelitian yang inovatif dalam bidang-bidang terkait lingkungan dan keberlanjutan. Keterlibatan generasi muda, termasuk mahasiswa UMM, juga menjadi daya dukung yang strategis. Salah satu caranya yakni dengan memasukkan keberlanjutan dalam kurikulum dan mempromosikan perilaku berkelanjutan. “Kami tentu terus mempromosikan konservasi energi dan air, daur ulang sampah, dan transportasi ramah lingkungan. Apalagi melihat banyaknya isu lingkungan dan perubahan iklim yang mempengaruhi semua lini kehidupan. Hal itu terlihat dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia,” katanya. UMM juga mendorong mahasiswanya untuk turut serta dalam upaya mencapai Sustainabel Development Goals (SDGs), termasuk di dalamnya kampus hijau. Misalnya saja dengan menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan, penelitian berkelanjutan, kemitraan dengan masyarakat, dan konservasi lingkungan. Begitupun dengan pembangunan yang inklusif serta kesetaraan dan Inklusi. “Melalui komitmen terhadap SDGs, UMM tidak hanya menjadi lembaga pendidikan tinggi yang unggul secara akademik, tetapi juga menjadi pionir dalam perubahan menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Dengan langkah-langkah konkret ini, UMM berperan untuk menjaga kesejahteraan ekonomi masyarakat, keberlanjutan kehidupan sosial, kualitas lingkungan hidup, serta pembangunan yang inklusif, dan berusaha untuk mewariskan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang,” kata penanggungjawab program Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. (*/wil)

Sukses Cetak SDM Andal Bidang Branding, SCDC UMM Mulai Tahun Kedua

Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) yang dimiliki Prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memasuki tahun kedua. CoE ini optimis  melahirkan talenta muda yang ahli dalam social media for branding, digital marketing, content creator, social media analysis, serta copywriting. Hal itu ditegaskan langsung oleh Ketua Prodi Nasrullah, M.Si. pada acara SCDC Inaugural di Ballroom Rayz Hotel UMM, 29 September lalu. Pada batch 2 atau tahun kedua ini, ada 40 mahasiswa yang mengikuti program COE SCDC. Setidaknya mereka akan mengikuti program tersebut selama dua semester. Tidak lupa, bahwa COE tersebut juga bekerjasama dengan berbagai dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Di antaranya PT. Trinusa Sosialoka Indonesia, ID Digital Entertainment, PT. Satoria Aneka Industri, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia, hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) diberbagai daerah di Indonesia. “Tahun pertama kemarin ada 30 mahasiswa yang mengikuti program COE ini. Melihat tingginya antusias dan kebutuhan dari DUDI, tahun ini kami tambah kuotanya menjadi 40 mahasiswa yang telah mengikuti seleksi ketat. Para mahasiswanya yang menjadi peserta juga akan mendapatkan konversi mata kuliha sebanyak 20 SKS di setiap semesternya,” jelasnya. Turut hadir Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. yang menyampaikan bahwa CoE hadit untuk menjawab kebutuhan DUDI terkait sumber daya manusia yang unggul di dunia kerja. Dia sempat menceritakan pengalamannya duduk bersama dengan petinggi perusahaan yang seringkali mengeluhkan kualitas SDM para fresh graduate. “Salah satu alasan awal adanya COE itu sebagai jawaban atas keresahan pimpinan perusahaan akan kualitas lulusan universitas di Indonesia. Akhirnya UMM memberikan terobosan yang menarik yakni CoE yang mencetak lulusan dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan DUDI. Jadi saat masuk ke perusahaan, mereka tidak perlu lagi training karena sebenarnya mereka sudah memilikinya saat mengikuti CoE,” kata Fauzan. Sementara itu, Fauzia Hanifa salah satu peserta COE SCDC Batch 1 mengaku ada berbagai ilmu yang ia dapatkan selama mengikuti program itu. Dia mengatakan, para praktisi yang dihadirkan sangat cakap membimbing para peserta. Apalagi mereka memang ahli, terjun dan bekerja langsung terkait apa yang diajarkan. Ia dan rekan-rekannya juga berkesemmpatan untuk magang di DUDI, sehingga tidak hanya materi yang didapat dari para praktisi, tapi mereka benar-benar turut bekerja dan berlatih di berbagai lokasi di bidang social branding. “Salah satu yang sangat membantu adalah pembelajaran yang runtut, mulai dari grand design mengelola media, manajemen medsos, hingga peningtakan branding. Tidak sekedar teori saja, namun terdapat praktik langsung setelah diberikan teori,” pungkasnya menjelaskan. (*faq/wil)