Wisudawan UMM yang Lulus berkat Saxophone

Salah satu wisudawan menarik di wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah Arya Andika Alfarizki. Ia merupakan wisudawan bertelanta di bidang musik dari jurusan Hubungan Internasional (HI). Ia yang diwisuda di September inj mengusai berbagai alat musik seperti drum dan bahkan saxophone. Arya, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepada musik sedari ia masih kecil dan mulai menyentuh alat musik ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia juga akhirnya mengikuti ekstrakulikuler musik. Iwalnya ia belajar bermain drum dan mulai mencoba berbagai alat musik lainnya serta bernyanyi. Hingga pada akhirnya nyaman untuk mendalami alat musik saxophone. “Beruntung, saat kuliah saya juga diberi kesempatan di laboratorium seperti mengisi acara di Dome dan lainnya. Saya juga mendapatkan berbagai kemampuan soft skill, personal branding, dan membangun relasi dengan pihak luar,” katanya. Arya akhirnya juga sering mengisi acara di luar kampus, baik sendiri maupun bersama bandnya. Ia juga bercerita bahwa berkat permainan saxophonenya, ia pernah mendampingi Pamungkas saat tampil di Malang. Video-video penampilannya juga beberapa kali menghiasi televisi. “Berkat pengalaman itulah, akhirnya saya dan teman-teman membentuk band bernama Golden Sky,” tegasnya. Ia bercerita, Golden Sky lahir karena kebetulan Arya dan ketiga temannya sering tampil di berbagai acara dan di cafe. Pada akhirnya muncul ide membuat grup bersama. “Beberapa kali kami mengganti nama grup hingga pada akhirnya menetapkan pilihan dengan nama Golden Sky,” katanya. Wisudawa asli Malang itu juga memiliki mimpi untuk bisa berkarya di bidang sesuai jurusan. Maka dari itu ia juga mengikuti Center of Excellence (CoE) yang disediakan Kampus Putih UMM. Tepatnya di CoE jurusan HI yang memungkinkannya maganh profesional di kantor Imigrasi bagian sosial media controlling. “Di tempat magang, saya banyak mendapatkan materi dan praktek langsung bidang ilmu hubungan internasional. Tidak hanya itu, dengan memegang divisi sosial media controlling, saya belajar banyak tentang grafik perkontenan” tambahnya. Arya berharap keahliannya di bidang musik dapat terus berkembang hingga suatu saat bisa dikenal di seluruh Indonesia. “Mimpi tentu ada, ya. Semoga bisa terus dikembangkan dan mampu bermain di panggung-panggung besar,” katanya mengakhiri. (Ri/Wil)
FH UMM Luncurkan Laboratorium Virtual Pertama di Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan melahirkan berbagai inovasi baru untuk memajukan kualitas pendidikan. Terbaru, dengan memanfaatkan teknologi digital, Fakultas Hukum (FH) UMM luncurkan Laboratorium Hukum Virtual Pertama di Indonesia, 22 September lalu. Yakni berbentuk Metaverse Moot Court Mahkamah Konstitusi. Laboratorium virtual tersebut merupakan hasil dari kerjasama antara FH UMM dengan Program Studi Informatika Fakultas Teknik UMM serta Center of Excellence (CoE) Metaverse. Salah satu tim penyusun Nur Putri Hidayah, A.Md., SH., MH. menyampaikan, perkembangan teknologi yang cepat harus dimanfaatkan dengan optimal. Salah satunya penggunaan metaverse sebagai laboratorium FH ini. Para mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman dan pembelajaran sidang semu di dunia digital. Tidak perlu lagi mengantre lama untuk menggunakan ruang fisik. “Laboratorium virtual ini bisa diakses secara fleksibel. Perangkatnya bisa menggunakan telepon genggam, laptop, hingga menggunakan alat virtual reality (VR). Proses praktek sidang nantinya juga dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya tanpa mengurangi esensi persidangan itu sendiri. Alhamdulillah, laboratorium virtual ini juga menjadi yang pertama di Indonesia,” jelasnya. Dosen FH UMM itu menambahkan, nantinya akan ada pengembangan berkelanjutan sehingga tidak hanya menyediakan sidang mahkamah konstitusi saja. Tapi juga berbagai ruang sidang lainnya yang menunjang mahasiswa untuk belajar bagaimana proses sidang berlangsung. “Mekanisme praktek mahasiswa dalam Laboratorium Hukum Virtual ini tidak jauh beda dengan praktik yang dilakukan dengan laboratorium pada umumnya. Hanya saja lokasinya berada secara virtual, nantinya kami juga akan melakukan pengembangan ke berbagai praktikum persidangan yang lain,” kata Putri. Di sisi lain, Dekan FH UMM Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum. mengapresiasi inovasi para peneliti dan dosen. Menurutnya, laboratorium virtual pertama ini bukan hanya menginisiasi, tapi juga harus menjadi percontohan bagi perguruan tinggi lainnya. Baik itu negeri, swasta, atau sesama Muhammadiyah. Harapannya, terobosan ini bisa menjadi acuan bagi kampus lain. “Laboratorium ini pasti akan kami beri perhatian intens agar tidak hanya viral sebentar lalu tenggelam. Ini harus terus berlanjtu dan digunakan dengan maksimal. Inovasi seperti inilah yang mampu menjawab berbagai tantangan dalam pendidikan hukum di Perguruan Tinggi, mulai dari keterbatasan ruang sidang semu hingga pemanfaatan teknologi digital. Akan sayang jika teknologi yang sudha maju tidak dimanfaatkan dengan maksimal,” pungkasnya mengakhiri. (Faq/Wil)
Galit Paparkan Kiprah UMM Jaga Subak Bali di UNESCO

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Galit Gatut Prakosa, S.Hut., M.Sc. berkesempatan memaparkan upaya UMM melestarikan Subak Bali dalam International Workshops on Frontiers in Ecohydrology. Agenda yang dilaksanakan pada 4-23 September di Tiongkok itu merupakan garapan The UNESCO Intergovernmental Hydrological Programme (UNESCO-IHP) bersama dengan the Chinese Academy of Sciences. Adapun workshop itu merupakan agenda rutin UNESCO yang dilaksanakan dua tahun sekali. Galit, sapaannya, tidak sendiri. Ia bersama dengan 19 orang perwakilan dari 17 negara sama-sama berdiskusi terkait keseimbangan ekosistem dan cara mengatasi perubahan iklim. Mulai dari Ecuador, Chile, Colombia, Iran, Indonesia, Bhutan, Ethiopia, Kenya, Laos, Lebanon, Malaysia, Nepal, Nigeria, Sri Lanka, Tanzania, Tunisia, Vietnam dan lainnya. Salah satu aspek yang dibahas yakni tentang ekohidrologi yang menjadi alat penting dalam menjaga kepunahan sumber daya air dan melindungi lingkungan. “Saya menjadi bagian dari tim pendamping Subak yang dipimpin oleh Profesor Indah dari UMM. Kemudian saya diundang ke workshop ini dan mendapatkan rekomendasi dari Profesor Ignasius Sutapa, yang merupakan Direktur Eksekutif APCE-Unesco. Ini menjadi upaya kamu unutk mengenali lebih mendalam tentang demosite Subak yang sedang kami dapmingi,” katanya. Galit melanjutkan, lokakarya internasional ini bertujuan untuk saling membagikan pengetahuan dan pengalaman terkait ekohidrologi. Ini melibatkan diskusi mendalam tentang isu-isu kritis yang berkaitan dengan siklus udara alam, konservasi ekosistem air tawar, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Salah satu sorotan utama yakni berbagai presentasi demosite yang dibawakan oleh setiap kontingen. Para ahli ekohidrologi dari masing-masing negara memperkenalkan situs di wilayah mereka, salah satunya negara Kolombia yang membahas tentang pengelolaan air peninggalan suku Inca. Suku Inca adalah sebuah peradaban yang berkembang di wilayah Andes Amerika Selatan pada periode sekitar abad ke-15 hingga abad ke-16 Masehi. Mereka dikenal sebagai budaya penguasa di wilayah yang sekarang mencakup Peru, Bolivia, Ekuador, dan sebagian Chili dan Kolombia. “Suku Inca terkenal karena sistem pengelolaan udara yang canggih, arsitektur megah seperti Machu Picchu, serta sistem jalan raya yang luas. Pemaparan dari masing-masing peserta tersebut menggambarkan bagaimana pengelolaan sumber daya air telah berhasil diterapkan untuk menjaga ekosistem air setempat,” jelasnya. Pada tahun ini, tema yang di usung adalah ‘The Role and Future of Country Demosites in Supporting World Ecohydrology’. Galit sendiri berkesempatan memaparkan eksistensi UMM dalam mendampingi Subak di Bali sebagai upaya dan kontribusi menjaga warisan dunia. Agenda tersebut nantinya akan berujung pada penyelenggaraan simposium internasional. Menjadi forum global penting yang membahas strategi pengelolaan sumber daya air di masa depan berdasarkan kondisi aktual di masing-masing negara. “Tahun depan Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum. Harapan saya, demosite yang dikelola oleh UMM dan UNESCO bisa mendapatkan rekognisi. Sehingga bisa menjadi rujukan pengelolaan ekohidrologi di dunia,” pungkasnya. (Rev/Wil)
Rektor Bernyanyi hingga Hadirkan CEO Muda, Begini Keseruan Wisuda UMM

Meski klise, kegagalan memang seringkali membawa manusia pada kesuksesan. Hal itu ditegaskan oleh Raka Bagus Vinaya pebisnis muda yang menjadi CEO dan Founder PT Ladang Sehat Indonesia di hadapan 2.471 wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 21 September lalu. Pada kesempatan itu ia juga mebagikan kisah motivasinya membangun bisnis dari awal. Adapun PT Ladang Sehat bergerak pada bidang pangan sehat. Raka, begitu ia kerap disapa, bercerita bahwa saat kuliah ia terpaksa menempuh jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya. Padahal ia ingin belajar dan mendalami desain interior. Hingga pada akhirnya, dengan nekat ia mendaftarkan diri ke salah satu perguruan tinggi di Jerman untuk mengambil jurusan yang ia impikan, yakni desain grafis. “Singkat cerita, saya harus mengalami kegagalan berkali-kali. Tapi saya tidak menyerah dan sukses di kesempatan terakhir saya. Alhamdulillah diterima berkuliah di Jerman,” kisahnya. Setelah lulus, ia mencoba peruntungan di bisnis jasa desain pada 2009 bersama dengan empat orang temannya. Berbagai proyek besar besar ia dapatkan, misalnya saja dari salah satu bank besar di Indonesia. Banyak klien yang ia temui dan menjadi teman diskusi. Dari situlah ia mendapatkan ide yang berawal dari potensi Indonesia yang besar di sektor pangan. Hal itu membuatnya berputar haluan dan mencoba mendirikan bisnis di bidang pangan pada 2013 dengan nama Ladang Sehat. Waktu itu ia mengaku tak punya banyak pengalaman dan pengetahuan. “Jujur, tak mudah mendirikan bisnis yang bahkan saya sendiri tidak memahami seluk-beluknya. Saya pernah ditipu hingga profit yang minus sudah pernah rasakan. Tapi berkat kegagalan-kegagalan itu pula, saya bisa menemukan jalan yang tepat,” tambah Raka. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pada awalnya Ladang Sehat sempat mengalami kerugian hingga 50%.Namun, hal ini tak membuat dirinya gentar dan terus belajar membangun perusahaan. Semua juga bersumber dari semangat untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara ini, Indonesia. Pada momen wisuda itu, turut tampil para mahasiswa asing yang bermain angklung bersama. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia, dari Asia, Afrika, Amerika, dan lain sebagainya. Adapula penampilan saxophone dari salah satu wisudawan yang aktif di dunia musik yang membawakan lagu bersama dengan Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Di sisi lain, Ketua BPH UMM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. juga memberikan sederet motivasi pada wisudawan. Menurutnya, anak-anak muda akan menentukan wajak Indonesia Emas di 2045 nanti. Maka dari itu, UMM menyediakan berbagai wadah untuk pengembangan skill dan potensi tiap mahasiswanya. Misalnya saja Center of Excellence dan sederet unit bisnis yang diharapkan memberikan banyak manfaat ke masyarakat luas. Termasuk pada mahasiswa dan alumni. Anak muda memang tidak cukup untuk menjadi sukses untuk dirinya sendiri. Orang sukses sejati adalah emreka yang mampu membagikan manfaatnya untuk manusia lain. “Saya yakin, para wisudawan di sini akan menjadi orang yang sukses bagi agama, nusa, dan bangsa kelak,” pungkasnya. (Tri/Wil)
Gagas E-Farming Technology, Tim Mahasiswa UMM Juarai Kompetisi Nasional

Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling menjanjikan di Indonesia. Namun juga memiliki banyak tantangan. Salah satunya adalah rendahnya tingkat pendidikan dan banyaknya petani yang masih menggunakan pertanian tradisional. Hal ini menggerakkan hati Elissa Anugerah Fatah, mahasiswa manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan timnya menggagas E-Farming Technology. Inovasi ini berhasil menduduki Juara 2 di Mandalika Essay Competition yang diadakan oleh Universitas Gunung Rinjani Lombok, Nusa Tenggara Barat, 16 September lalu. Elissa, sapaannya, mengungkapkan, konsep inovatif itu merupakan gabungan dari teknologi website dengan sektor pertanian. Website yang dimaksud ini nantinya akan menyediakan kerja sama dengan mitra seperti investor untuk mengalokasikan dana pada sektor pertanian. Tujuannya meningkatkan kualitas dan produktifitas. “Jadi, platform website ini nantinya akan menghubungkan sektor pertanian, khususnya petani dengan para investor secara langsung,” ujarnya. Cara kerja dari E-Farming Technology ini ialah, petani maupun investor dapat mendaftar dan mengisi biodata pada laman yang tersedia. Selanjutnya, masing-masing memilih proyek pendanaan yang sesuai. Setelah pendanaan disalurkan, kedua belah pihak dapat bersama-sama memantau kerja sama yang berlangsung, perkembangannya dan pembagian marginnya. “Jadi dimulai dengan langkah melihat detail proyek baru, simulasi margin, pilih proyek lalu pilih danai sekarang. Pada website ini juga terdapat konten mengenai teknik pertanian yang meliputi pendidikan, mentoring, panduan praktis dan video edukasi,“ tambahnya. Mempertemukan langsung antara petani dan investor menjadi salah satu hal yang bagus. Mereka berharap, website ini dapat memberikan keutungan maksimal baik dari sisi petani maupun investor. Menjadi titik temu antara petani yang memiliki lahan luas namun minim edukasi dengan para investor yang memiliki visi dan permodalan. Dengan begitu, kedua belah pihak bisa sama-sama untung. “Sebenanrnya banyak investor yang ingin mengalokasikan dananya ke sektor pertanian. Sayangnya mereka tidak tahu harus mulai dari mana. Melalui inovasi ini, dana yang diinvestasikan akan dikelola untuk menjadi modal para petani, edukasi petani, mentoring dan biaya admin dari E-Farming Technology. Ketika panen, keuntungan akan dibagikan kepada investor sesuai perjanjian persentase dalam perjanjian,” tandasnya. Para investor tidak perlu khawatir karena bisa memantau langsung proses melalui website dan menu yang tersedia. Semua disajikan secara transparan untuk semua pihak yang bersangkutan. “Perkembangannya ada di fitur grafik dan berita website tersebut,” pungkasnya. (Nov/Wil)
Pejuang Muda hingga Pertukaran Pelajar Begini Cerita Seru Wisudawan UMM

Mikrajul Mukminin, wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) berbagi cerita nya selama masih menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbagai prestasi telah ia raih dari tingkat Universitas hingga Nasional. Salah satunya bagaimana kiprahnya dalam program Pejuang Muda Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian Agama (Kemenag), dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Mikra sapaan akrabnya, mengatakan bahwa ia terpilih menjadi ketua di angkatannya. Saat itu, ia bersama rekan-rekannya menjalankan program berkelanjutan untuk masyarakat. “Saat itu saya dan tim membuat program digital campaign yang difokuskan untuk karang taruna. Kami membuat kolam lele dan mengajari cara membudidayakan. Selain itu juga kami berikan pelatihan bagaimana memasarkan hasil dari ternak lele agar bisa memberikan keuntungan,” jelasnya. Laki-laki yang baru saja diwisuda itu mengatakan, budidaya lele dipilih karena sesuai dengan kebutuhan yang ada di Kabupaten Ngawi. Ia ingin masyarakat bisa melek digital dan memanfaatkannya untuk kebaikan bersama. Sehingga pemasarannya tidak hanya secara tradisional, tapi juga lewat teknologi. Menariknya, pada program itu pula ia menjalankan program air bersih untuk masyarakt. Ia melihat bahwa air bersih dan sehat sangat penting bagi kelanjutan hidup manusia. “Semua kegiatan yang kami lakukan selalu dalam kontrol dosen pembimbing. Kegiatan kami ini juga bisa dikonversikan ke mata kuliah. Maka dari itu saya merasa beruntung karena mendapatkan 18 konversi nilai,” kata pemuda asal Dompu itu. Mikra juga menjadi salah satu peserta pertukaran mahasiswa pada tahun 2022 lalu ke Universitas Sumatera Utara selama satu semester. Saat itu ia tidak mengeluarkan biaya sepeserpun karena ditanggung oleh pemerintah. “Bahkan, karena program merdeka belajar kampus merdeka, saya malah mendapatkan beasiswa ketika kembali ke UMM untuk pembayaran UKT sebesar 4 juta,” tambahnya. Terakhir, Mikra mengatakan bahwa menjadi mahasiswa berprestasi di UMM sangat mudah karena sudah disediakan berbagai wadah potensi. Ada puluhan unit kegiatan mahasiswa (UKM), organisasi internal mahasiswa, dan lainnya. Sehingga menurutnya, tinggal bagaimana mahasiswa bisa menjaga kemauan dan semangat untuk berprestasi. “Semua proses pasti diiringi dengan suka duka. Tetapi sebenarnya, pengalaman itulah yang membuat kita lebih bijaksana dan dapat mengambil jalan terbaik,” pungkasnya. (Ri/Wil)
Begini Pesan Director Human Capital Kapal Api pada Ribuan Mahasiswa UMM

Lebih dari 6000 Mahasiswa Baru (Maba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsung disambut dengan kuliah tamu oleh Pambudi Sunarsihanto, MBA., M.Sc. Director Human Capital Kapal Api Group. Acara tersebut dilaksanakan di Hall Dome UMM pada 19 September lalu dengan tajuk “You Are The Pilot of Your Career”. Dia membuka kuliah tamu tersebut dengan mengutip kata-kata dari Michelangelo yang menjadi motivasi bagi anak muda untuk merintis karir. “Saya kutipkan kata-kata dari Michelangelo, bahwa ancaman terbesar bagi keberhasilan hidup kita bukan berasal dari menggantungkan cita-cita setinggi langit hingga tak mampu mencapainya secara penuh. Namun berasal dari patokan cita-cita terlalu datar hingga mudah mencapainya,” tegas Pambudi. Dia juga membagikan tips dalam menyiapkan diri untuk menghadapi zaman yang sangat dinamis. Menurutnya, setiap personal harus memiliki keunikan dan pembeda diantara personal-personal yang lain. Apalagi mengingat saat ini sudah terlalu banyak lulusan sarjana di Indonesia tapi kualitasnya hanya biasa-biasa saja. “Setiap orang harus memiliki differentiator, baik dari segi skill, kemampuan berbahasa, prestasi, serta pengalaman yang telah dijalani. Itu semua menjadi modal yang harus dimiliki oleh anak muda. Jangan pernah meremehkan upaya meningkatkan kualitas diri,” tegasnya. Lebih lanjut, pria asal Magetan itu menjelaskan bahwa dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada yang kekal dan abadi di dunia, termasuk inovasi-inovasi yang ada. Kebutuhan pasar sangat dinamis dan berkembang seiring perkembangan zaman. Sudah banyak perusahaan yang awalnya berhasil, namun pada akhirnya redup karena kurang menciptakan inovasi. Pambudi juga sempat menceritakan kisah para pengusaha dalam mengembangkan perusahaan besar. Mulai dari Kapal Api yang berawal dari penjual kopi biasa di pelabuhan tanjung priok dan Aqua yang berawal dari berjualan air mineral dari rumah ke rumah. Lambat laun mereka menciptakan inovasi dengan mempercantik kemasan, menaikkan kualitas, serta memperkuat branding. Dia juga menegaskan bahwa inovasi tidak hanya perihal bisnis, namun bisa fleksibel ke berbagai sektor termasuk dakwah. “Pesannya apa dari cerita itu? Mereka tidak stuck dalam menjalankan bisnis. Hal itu pula yang bisa dijalankan dalma hal dakwah. Sepertin misalnya Wali Songo dengan menciptakan inovasi dakwah melalui berbagai perantara seperti pewayangan. Jadi jangan harap keberhasilan itu diraih di awal merintis karir,” jelasnya. Terakhir, dia berpesan kepada seluruh anak muda untuk tidak mudah overthinking dalam menjalani karir. Begitupun dengan sembrono dalam melangkah dan mengambil jalan karir yang ditekuni. Menurutnya, ada tiga aspek ideal dalam mengambil karir. Yakni karir itu ada pada bidang yang disukai, seseorang itu lebih jago dari yang lain, serta mampu menghasilkan profit. “Jangan kebanyakan mikir kalau mau menjalani karir. Kalian harus berani memiliki mimpi yang besar, mengawali dari hal yang sederhana, dan harus berani bertindak. Kalau hanya mikir saja, nanti yang di dapat cuman pikiran,” tutupnya. (Faq/Wil)
Bersama Kampus Singapura, Mahasiswa UMM Bikin Enam Prototipe Produksi Tempe

Menggaet Singapore Polytechnic (SP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melaksanakan Learning Express (Lex), September ini. Ada 30 mahasiswa asal Singapura yang berkolaborasi dengan mahasiswa UMM untuk menciptakan protoripe. Ada enam alat yang dipamerkan di aula BAU Kampus Putih pada 20 September lalu. Pada edisi ini, mereka berupaya membuat alat yang membantu sederet pengusaha tempe di Desa Beji, Kota Batu. Deputy Director SP Goh Say Sheng mengapresiasi segala kolaborasi yang sudah dilakukan bersama teman-teman UMM. Menurutnya, para mahasiswa SP tidak sekadar datang saja, tapi harus mampu mempelajari budaya Indonesia. Begitupun dengan proyek terkait tempe yang sudah ditekuni dalam beberapa hari. “Semoga memberikan pengetahuan baru dan menajamkan daya kritis para peserta. Lex bukan hanya mengenai ide, tapi juga harus bisa dikembangkan menjadi alat yang bermanfaat bagi sesama,” katanya di hadapan mahasiswa SP dan UMM. Sementara itu, salah satu pemilik usaha tempe Rizky Nurfikayati senang bisa berdiskusi dengan para mahasiswa Singapura maupun UMM. Ada banyak masalah yang pada akhirnya bisa diselesaikan oleh peserta Lex. Misalnya saja terkait air limbah pengasaman yang tidak baik untuk lingkungan. Limbah tersebut bisa diatasi dengan menggunakan abu pembakaran. Fika, begitu ia kerap disapa, menilai para peserta Lex tidak sekadar membuat alat. Namun, mereka juga memberikan masukan bagaimana cara memproduksi tempe dengan cara yang lebih higienis. Begitupun dengan sistem memotong yang lebih cepat. Para peserta juga bermalam di dekat lokasi rpoduksi selama tiga hari dua malam. “Saat menginap di daerah produksi, mereka juga aktif dan baik. Selalu bertanya banyak hal agar bisa memberikan masukan yang lebih baik. Semoga berbagai prototipe ini bisa benar-benar dijadikan alat dan membantu para produsen tempet. Khususnya di daerah Beji,” katanya. Salah satu alat yang dibikin adalah penyaring asap hasil pembakaran. Nantinya asap akan masuk ke pipa yang didalamnya ada dua buah filter. Salah satunya filter High Efficiency Particulate Air (HEPA) yang menyaring debu dan asap. Dengan begitu, harapannya asap yang sudah terfilter bisa lebih baik dan tidak membahayakan makhluk hidup lain. “Selain itu juga bisa memberikan dampak positif bagi udara di sekitar. Termasuk saat asapnya mengnai atsmosfer. Semoga filter ini bisa membantu para produsen tempe di Beji dan tempat-tempat lainnya,” kata Mathew, salah satu mahasiswa dari SP. (Wil)
Konsul-Jenderal Australia Akui Keberagaman dan Kerukunan di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menciptakan lulusan yang baik dan berkompeten. Maka dari itu, alumni UMM harus menggunakan ilmu dan kreativitas untuk mengukir masa depan yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Fiona Hoggart, Konsul-Jenderal Australia di depan ribuan wisudawan pada wisuda ke-110 UMM, 19 September lalu. Fiona, sapaan akrabnya mengatakan, mahasiswa UMM memiliki latar belakang yang berbeda dari segi ras, suku, dan budayanya. Meski begitu, rasa kerukunan dan kekeluargaan dapat dirasakan dengan jelas. “UMM ini sangat berarti bagi saya. Ini juga bukan kali pertama kunjungan saya ke kesini. Saya melihat melihat jelas keberagaman yang ada di sini. Namun bisa hangat layaknya keluarga sendiri, layaknya hubungan UMM dengan Australia yang sangat erat.” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tahun ini merupakan tahun ke 70 kerjasama antara Indonesia dengan Negeri Kangguru. Termasuk terkait pemberian beasiswa pendidikan tinggi. Setidaknya sampai saat ini, sudah ada 200 ribu warga Indonesia yang telah menyelesaikan studi di Australia. Termasuk di dalamnya para alumni dari Kampus Putih UMM. Dia berpesan kepada para wisudawan untuk bersiap menghadapi tantangan masa depan. Rasa ragu tidak boleh dibiarkan mengalahkan keberanian melangkah menggapai cita-cita. “Kehidupan ini ibarat sebuah petualangan yang tidak mudah dna penuh rintangan. Tapi saya yakin, jika serius menjalaninya, hasil yang didapat akan memuaskan,” tutupnya. Hadir pula Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Provinsi Jawa Timur Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. Ia menilai, UMM telah memberikan kontribusi nyata kepada dunia pendidikan. Terbukti dari puluhan guru besar yang telah dilahirkan. Begitupun dengan para lektor kepala yang fokus pada bidang studi masing-masing. “Banyak hal yang sudah dilakukan UMM. Utamanya dalam memberikan kontribusi nyata bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pendidikan. Hasil dari pendidikan itu dilanjutkan dengan pengabdian melalui berbagi inovasi dan karya yang bermanfaat kepada masyarakat,” ungkapnya. Hal tidak jauh berbeda disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Ia memberikan arahan kepada seluruh wisudawan untuk berkarya seluas-luasnya. Di samping itu juga menyiapkan diri untuk memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan negara, serta Muhammadiyah. “Saya tunggu peran saudara-saudara di berbagai sektor seperti ekonomi, pendidikan, pemerintahan, di persyarikatan Muhammadiyah, dan lainnya. Ini juga mnejadi aksi penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2024,” katanya mengakhiri. (Faq/Wil)
Siapkan SDM Hadapi Era Digital, FH UMM Adakan Short Course Bertaraf Internasional

Saat ini, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi semakin terintegrasi ke berbagai aspek kehidupan manusia. Hal itu ditegaskan Prof. Jihyun Park, LL.D. dari Youngsan University Korea Selatan dalam International Short Course On Law Reform 2023. Gelaran itu merupakan garapan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyiapkan SDM di era digital. Mengangkat tema Trend And Mapping In The Digital Age, kursus itu dilaksanakan selama empat hari, yakni 13-16 September. Menariknya, ada 300 peserta yang turut serta dari berbagai belahan dunia sepertiIndonesia, Malaysia, India, Afghanistan, Somalia, Namibia, Afrika Selatan, Zimbabwe, Ghana, Nigeria, Hungaria, dan lainnya. Lebih lanjut, Jihyun menjelaskan bahwa AI sudah bisa memporyeksikan gambaran masa depan yang menarik dan berpotensi mengubah dunia sekitar. AI dan robot merupakan sebuah transformasi dunia yang tak hanya mengubah industri, tapi juga mengubah perilaku manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Kita hidup di zaman yang mana AI dan robot bukan lagi entitas terpisah. Manusia dan mereka bisa saling bekerjasama dengan harmonis. Sehingga dapat meningkatkan efisiensi di berbagai bidang serta membuka pintu bagi banyak inovasi baru,” ujarnya. Meski begitu, Jihyun juga mengingatkan bahwa walaupun AI membantu manusia, perlu adanya upaya menjaga keseimbangan. Terutama terkait hubungan manusia dan AI. Menurutnya, manusia harus tetap mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan membuat keputusan moral. Tidak hanya menggantungkan berbagai pekerjaan ke robot atau AI. Dengan begitu, kerjasama antara manusia dan AI dapat menuju kemajuan di dunia. AI juga memiliki peran penting dalam industri hukum. Di mana AI dapat memberikan penilaian khusus tentang hukuman, kompensasi, dan berbagai aspek penilaian lainnya yang membentuk pondasi keadilan. AI membuat layanan hukum lebih mudah diakses, efisien, dan objektif. Hal ini menegaskan bahwa kemampuan teknologi dapat membantu manusia hidup lebih praktis namun mempunyai tantangan untuk menjaga moralitas manusia dalam mengendalikan semua itu. Di sisi lain, ketua pelaksana International Short Course Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH. mengatakan bahwa era digital memberikan banyak kemudahan dan kecepatan. Meski begitu, ada banyak peluang dan tantangan nyang harus dihadapi. Misalnya saja dalam menggunakan media sosial. Jika tidak hati-hati, tidak menutup kemungkinan bisa dipenjara. “Maka dari itu, kami menghadirkan berbagai ahli dan pakar di short course ini. Dengan begitu, akan ada banyak informasi dan pengetahuan baru yang didapat. Selain itu juga bisa didalami dan dikaji lebih dalam lagi,” tegasnya mengakhiri. Selain Jihyun, acara itu juga menghadirkan sederet pembicara internasional. Misalnya saja Hasnan Bachtiar, MIMWADev dari Alfred Deakin University Australia, yang membahas ‘Mobilitas Politik pada Media Digital’ dan Cekli Setya Pratiwi, L,LM, M.CL dari Mahidol University Thailand, yang mengkaji pasal ‘Intoleransi Kebebasan Beragama Di Masa Digital’. Adapula Prisca Listiningrum, LLM. Dan Ridwan Arifin, L.LM. (*/Wil)