Kapan Pencemaran Nama Baik Bisa Dipidana? Ini Penjelasan Dosen UMM

Kasus pencemaran nama baik dan penghinaan seringkali terdengar di berbagai media. Ada yang muncul di media online hingga stasiun televisi. Sejauh apa suatu perkataan atau perbuatan dapat dikategorikan sebagai pencemaran nama baik? Terkait hal itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kukuh Dwi Kurniawan, S.H., S.Sy., M.H. memberikan penjelasannya. Ia mengungkapkan bahwa pada dasarnya semua orang memiliki hak yang sama atas kehormatan dan nama baik dirinya sendiri. Jika seseorang merasa hal ini diusik, maka ia berhak mengajukan laporan kepada pihak berwajib. “Orang lain yang menyerang atau mencemari harkat dan martabat seseorang, berhak untuk dipidanakan dan dilaporkan sesuai dengan ketentuan hukum yang telah diatur,” jelasnya. Kukuh, sapaan akrabnya mmenuturkan bahwa ketentuan tentang hukum pencemaran nama baik sudah diatur lengkap dalam KUHP Pasal 310. Secara spesifik diatur pada pasal 27 ayat 3 tatkala menggunakan media informasi dan elektronik atau yang sering disebut dengan UU ITE. Sebuah kasus dikatakan pencemaran nama baik apabila memenuhi bebeberapa kondisi. Yang pertama adalah menyerang harkat dan martabat seseorang dengan menuduh sesuatu yang tidak benar. Lalu yang kedua adalah menyebarluaskan tuduhan tersebut secara umum ke khalayak luas, dan yang terakhir adalah menimbulkan dampak merugikan baik secara materiil maupun non-materiil. “Penyebarluasan tuduhan tersebut apabila disebarkan lewat media elektronik akan mendapatkan hukuman yang lebih berat. Karena sifat dari jejak digital itu sulit dihapus dari internet,” jelas dosen yang juga berprofesi sebagai advokat tersebut. Kukuh menambahkan, pencemaran nama baik adalah pidana yang sifatnya delik aduan. Jadi hanya orang yang merasa dirugikanlah yang hanya bisa melaporkanya ke ranah hukum, tidak bisa diwakili. “Hal ini karena setiap orang mempunyai tingkat ketersinggungan yang berbeda-beda,” tambahnya. Untuk hukuman yang diberlakukan kepada pelaku juga telah diatur dalam regulasi. Pencemaran nama baik secara umum akan diberikan hukuman maksimal 9 bulan penjara. Sedangkan pencemaran nama baik dengan penistaan yang terbukti fitnah maksimal 3 tahun penjara. Serta apabila menggunakan media elektronik dan tersebar secara digital, maksimal akan diganjar hukuman penjara 4 tahun. “Pada intinya, dalam bersosialisasi haruslah menghormati hak satu sama lain, termasuk menghormati nama baik seseorang. Harus paham perbedaan antara mengkritik dan menghina atau mencemarkan nama baik. Kritik itu bersifat membangun dan objektif, sedangkan hinaan atau pencemaran bersifat subjektif, menjatuhkan, dan merendahkan secara personal,” pungkasnya mengakhiri. (*lib/wil)
Seorang Anak Lebih Mirip Ayahnya atau Ibunya? Begini Kata Dosen UMM

Di balik setiap wajah mungil seorang anak, tersembunyi cerita pewarisan genetik yang terikat erat dengan kedua orangtuanya. Tidak hanya sekadar bentuk fisik yang serupa, tetapi juga gen lain yang membawa jejak karakter dan diteruskan ke anak-anaknya. Pewarisan sifat dari orangtua ke anak telah menjadi fokus kajian dalam biologi sejak ditemukannya konsep Mendel. Hal itu juga dijelaskan Dosen Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Moh. Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc. Ia mengatakan bahwa konsep ini menggambarkan bagaimana genetik dapat mempengaruhi ciri-ciri individu. Mirza, sapaan akrabnya, menjelaskan setiap anak membawa 46 kromosom, di mana setengahnya diwarisi dari ibu dan setengah dari ayah. Pentingnya peran kromosom seks juga tidak bisa diabaikan. Perempuan membawa dua kromosom X sementara pria membawa satu kromosom X dan satu Y. Dalam konteks ini, ayah bukan semata sebagai kepala keluarga, tetapi juga membawa peran penting dalam menentukan berbagai aspek fisik yang akan diwariskan kepada anak. Salah satu ciri yang biasanya dipengaruhi oleh genetika ayah adalah tinggi badan. Tinggi seseorang seringkali memiliki korelasi dengan ketinggian orang tuanya, terutama jika gen-gen yang mengontrol pertumbuhan tersebut kuat dan mendominasi. “Kemampuan fisik juga biasanya diturunkan dari ayah, seperti kekuatan otot dan daya tahan tubuh. Ketika melihat seorang anak memiliki kemampuan atletik atau fisik yang menonjol, kemungkinan itu adalah hasil dari kombinasi genetik yang diteruskan oleh ayahnya. Di sisi lain, warna kulit, bentuk postur tubuh, ataupun yang lainnya juga turunan dari ayah,” jelasnya menambahkan. Sementara itu, peran Ibu dalam pewarisan genetik lebih fokus pada aspek psikologis dan perilaku. Seperti halnya kemampuan berpikir, belajar, dan memecahkan masalah. Terlebih, kecerdasan intelektual maupun emosional yang memiliki akar genetik yang kuat. Selain itu, aspek emosi juga cenderung lebih dipengaruhi oleh gen dari ibu. Misalnya, kemampuan mengelola emosi, merasakan empati, dan menjaga stabilitas emosional. Tidak hanya sifat-sifat positif yang dapat diwariskan, tetapi juga risiko penyakit genetik. Sebagai contoh, hemofilia, diabetes, kolesterol, dan berbagai penyakit lainnya juga bisa diwariskan. Gen yang bertanggung jawab atas hal ini terletak pada kromosom X. “Karena ibu memiliki dua kromosom X, peluang penurunan penyakit ini lebih besar pada anak perempuan di bandingkan anak laki-laki yang hanya memiliki satu kromosom X dari ibu,” jelasnya. Pewarisan genetik ini akan terus berlangsung dari generasi ke generasi, bahkan jika individu hidup dalam kondisi sehat. “Namun, penting untuk diingat bahwa ini bukan aturan baku. Semua tergantung pada apakah gen-gen tersebut dominan atau resesif. Jika gen yang dominan berasal dari ibu, maka anak akan mengikuti ciri dari ibu. Begitu juga sebaliknya,” pungkasnya. (*lai/wil)
Zeriflita, Atlet Cantik UMM yang Juara Panjat Tebing Nasional

Jatuh bangun untuk meraih mimpi adalah hal lumrah dan biasa. Yang terpenting adalah bagaimana mencari solusi dan mampu menjawab kepercayaan orang-orang terdekat. Hal itu ditegaskan oleh Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Zeriflita Aura Rinjani. Prinsip itu pula yang membuatnya mampu membawa pulang medali perak dalam ajang kejuaraan nasional panjat tebing yang diadakan di Universitas Udaya Bali, akhir Agustus 2023 lalu. Ia menegaskan bahwa dukungan keluarga dan sahabat menjadi alasan kenapa ia bisa bertahan dan bangkit. Kemenangannya dalam ajang kejuaraan ini juga berkat dukungan penuh Kampus Putih UMM yang menyediakan fasilitas latihan dan juga moral. Dalam ajang itu, setidaknya ada 20 kampus baik itu negeri maupun swasta uang turut memperebutkan juara. Ada Universitas Ganesha, Universitas Kutai Kartanegara, Politeknik Samarinda, dan lain-lain. Meski banyak pesaing, namun Zeriflita mengaku tidak gentar sedikitpun. “Untuk teknik sendiri memang tidak ada yang khusus, karena teknik itu bergantung pada medan yang dihadapi dan kondisi fisik dan psikis,” tambahnya Adapun Zeriflita memang sering ondar-mandir ikut lomba di level nasional. Sebelumnya, ia juga telah menjuarai sederet lomba bertaraf regional dan nasional. Misalnya saja juara 1 komunitas pecinta alam (Kompala) yang dilaksanakan di Riau, Juara 1 Pomprov 2022 yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Malang, dan juga menjadi finalis kejuaraan nasional Federasi Panjat tebing Indonesia (FPTI) di Situbondo. Ia memang sudah menekuni bidang panjat tebing sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tepatnya pada tahun 2017 lalu. Ketertarikannya juga tumbuh karena kedua orangtuanya juga merupakan atlet panjat tebing pada masanya. “Mungkin peribahasa buah tak jatuh dari pohonnya cocok dengan saya. Kebetulan ayah saya merupakan atlet panjat tebing di Jawa Timur dan juga lulusan Kampus Putih UMM. Ibu saya juga atlet panjat tebing di Riau dan memiliki jam terbang yang cukup banyak,” jelasnya. Untuk terus mengasah kemampuan, Zeriflita juga bergabung dengan pusat latihan kota (Puslatkot) Malang dan menjalani latihan rutin setiap hari. Dengan begitu, teknik dan ketahanan fisiknya bisa terus terjaga. Selain itu juga bisa saling sharing dengan atlet dna pelatih lainnya untuk menemukan pola dna strategi yang tepat saat berlomba. (Tri/Wil)
Etika dan Kesopanan Perlahan Luntur, Begini Solusi Dosen UMM

Seiring berkembangnya zaman, banyak anak muda yang mulai melupakan kesopanan dan etika terhadap lingkungan sosial mereka. Tata krama, peradaban dan kesusilaan perlahan juga mulai luntur dan hilang. Hal itu memunculkan banyak komentar, salah satunya dari Dr. Nurul Zuriah, M.Si. selaku dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nurul, sapaannya, menilai bahwa hilangnya kesopanan dan etika pada anak-anak zaman sekarang terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya pengaruh media sosial, kurangnya pengawasan orang tua, tidak adanya pendidikan etika, dan meluasnya budaya konsumerisme. Termasuk juga kurangnya contoh positif serta perkembangan teknologi dan kehidupan yang berubah begitu cepat. “Dalam hal ini, lembaga pendidikan dan keluarga berperan besar. Utamanya untuk membentuk nilai-nilai, karakter, dan moral generasi muda. Kolaborasi antara keduanya sangat diperlukan untuk menghadapi fenomena ini,” tegasnya. Nurul menilai, ada beberapa strategi yang dapat diimplementasikan oleh lembaga pendidikan. Misalnya dengan pengajaran nilai etika dan sosial. Sekolah harus mampu mengintegrasikan pelajaran tentang nilai-nilai etika, kesopanan, dan keterampilan sosial dalam kurikulum. Ini dapat dilakukan melalui pelajaran khusus, seminar, atau bahkan pengalaman praktis. “Pada pengembangan program karakter, sekolah dan perguruan tinggi dapat membuat program khusus yang bertujuan mengembangkan kepribadian siswa. Di dalamnya memuat nilai-nilai kesopanan, empati, kerjasama, dan integritas,” tambahnya. Diskusi tentang isu-isu etika dan moral kontemporer juga bisa jadi salah satu pemantik yang melatih cara berpikir kritis. Utamanya tentang dilema moral dan mengasah kemampuan mengambil keputusan etis. Selain itu, siswa juga perlu dilatih dalam keterampilan sosial, seperti komunikasi yang efektif, penyelesaian konflik dan kerjasama. Ini agar mereka siap menghadapi interaksi dunia nyata. Dari sisi orang tua, Nurul menegaskan perlunya contoh atau teladan positif. Baik dalam perilaku, etika, dan kesopanan. Orang tua harus mempraktikkan nilai-nilai ini dalam interaksi sehari-hari agar anak-anak bisa mencontoh perilaku yang benar. “Perlu dibangun pula komunikasi terbuka dengan anak-anak. Ini memungkinkan mereka untuk membahas isu-isu etika dan moral serta mengajukan pertanyaan,” tambahnya. Pengawasan konten digital juga harus dilakukan. Akses anak-anak ke konten digital yang tidak pantas dan tidak sesua dengan etika dan norma sosial harus dibatasi. “Penting untuk melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan dan keluarga, kita dapat mengatasi tantangan hilangnya kesopanan dan etika pada anak-anak zaman sekarang. Kesadaran dan pendekatan yang holistik sangat penting untuk membentuk generasi yang memiliki karakter beretika yang kuat dan mampu berinteraksi dengan sopan dan hormat,” pungkasnya. (Fat/Wil)
Hadir di Haul Akbar, Muhadjir Ajak Masyarakat Mendoakan Bangsa dan Mendoakan Para Pejuang

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. hadiri Haul Akbar dan Doa Bersama Untuk Negeri, 1 September 2023 lalu. Turut hadir ratusan ulama dan pemuka agama, para kyai dari berbagai pesantren serta ribuan jamaah, para santri, masyarakat umum, berbagai tokoh lainnya hingga kesultanan. Haul yang juga menjadi wadah silaturahmi dan doa bersama itu dilaksanakan di Ponpes Assalam, Sumberejo, Kandat, Kediri. Tidak banyak yang tahu bahwa Muhadjir merupakan keturunan ke-6 dari Kyai Ageng Basyariyah atau Raden Bagus Harun. Nenek moyang yang sama dengan Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Banyak pula tokoh-tokoh nasional dan pesantren yang dilahirkan, baik itu pada masa lampau maupun sekarang. Misalnya saja Mbah Sambu Lasem, Mbah Maimun Jubair KH. Ahfas Faishol Baidlowi Lasem, hingga Gus Baha, dan lainnya. Hal itu juga yang membuat Muhadjir sangat dekat dengan para kyai di kalangan Nahdhatul Ulama (NU). Pada kesempatan tersebut, Muhadjir menyampaikan bahwa momen haul menjadi tempat untuk meneladani semangat nenek moyang yang telah mensyiarkan agama islam di tanah Indonesia. Selain itu, perjuangan itupula yang menjadi cikal bakal upaya mengangkat harkat dan martabat masyarakat pada zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. “Tokoh-tokoh besar pendahulu kemerdekaan, para kyai, dan nenek moyang yang berjuang sebelum kemerdekaan memiliki peran penting dalam mencerdaskan bangsa. Salah satunya melalui ajaran Islam. Spirit itulah yang perlu kita semua teladani dan lakukan di era ini,” ungkapnya. Muhadjir juga bercerita bahwa ia baru saja datang dari Papua Tengah untuk menyelesaikan bencana kelaparan yang sedang terjadi. Maka dari itu, ia juga mengajak para jamaah untuk mendoakan saudara-saudara sebangsa dan negara yang ada di sana agar kondisinya bisa segera pulih dan stabil. Kunjugannya ke Papua Tengah juga menjadi momen pertama kali seorang pejabat datang untuk membantu dan mencari solusi masalah. Dalam kesempatan yang sama, turut hadir Pengasuh Ponpes Al-Hidayah KH.R. Mashadi Prawiranegara. Ia menyampaikan bahwa nasab dan nasib harus sama-sama baik. Kalau nasabnya baik, tapi nasibnya buruk, tentu akan susah. Maka dari itu, penting untuk menata dan mengatur nasib. Meski begitu, ia menyayangkan bahwa saat ini banyak orang yang hanya mengejar nasab. Saling mengaku keturunannya tokoh-tokoh besar. Padahal, yang paling penting adalah amal baik yang sudah dilakukan. “Tidak perlu kita memperebutkan keturunannya siapa, anaknya siapa, dan lain sebagainya, yang penting bagaimana upaya kita untuk melakukan amal baik sebanyak-banyaknya,” tegasnya. Momen haul ini juga menjadi wadah yang baik untuk kembali menyambung silaturahmi. Apalagi dihadiri oleh para kyai, sultan, tentara nasional Indonesia (TNI), bahkan dari pemerintahan seperti Menko PMK. Adapun Haul akbar tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Agus Sabuth Pranoto Projo. Mengajak para jamaah memanjatkan doa untuk kebaikan nusantara Indonesia. Sehingga segala hal yang baik bisa diraih oleh Indonesia serta dapat dijauhkan dari keburukan. (Faq/Wil)
Kata Dosen UMM tentang Rusaknya Kandungan Gizi pada Makanan Olahan

Makanan olahan seperti nugget dan sosis telah lama menjadi pilihan praktis dan lezat bagi banyak orang. Namun, seiring dengan kenyamanan dan kelezatan yang ditawarkan, bagaimana kandungan nutrisi di dalamnya? Afifa Husna, STP., M.TP., M.Sc, dosen Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa beberapa kandungan berpeluang rusak dalam proses produksi makanan olahan tersebut. “Vitamin yang tidak tahan panas dapat mengalami kerusakan meskipun hanya sedikit. Tetapi meski rusak, bukan berarti tidak dapat dicerna. Justru ketika nutrisinya rusak, maka daya cernanya akan semakin tinggi,” ujar dosen yang akrab dipanggil Ifa tersebut. Ia menjelaskan, panas yang tinggi dalam proses pembuatan nuget dapat menyebabkan denaturasi protein dalam daging. Ini menyebabkan struktur protein daging kehilangan bentuk dan fungsi aslinya. Meskipun mempengaruhi beberapa sifat sensoris dan nutrisi dalam daging, proses denaturasi menjadikan nugget maupun sosis memiliki tekstur yang padat sehingga lebih mudah diolah dalam bentuk yang diinginkan. “Dampak positif lainnya dari denaturasi dalam produk olahan nuget yaitu produk jadi lebih tahan lama terhadap perubahan fisik dan kimia. Termasuk dalam proses penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Ini memberikan rasa dan aroma yang lebih kuat dan khas, membantu pencampuran bahan, dan memberikan hasil yang lebih konsisten. Fungsi lainnya yakni membantu membunuh bakteri dan mikroorganisme yang mungkin ada dalam daging mentah,” tambahnya. Meski memiliki sisi positif, Ifa menegaskan, penting untuk dicatat bahwa denaturasi protein juga dapat mempengaruhi beberapa nutrisi dalam daging dan produk olahan. Oleh karena itu, sebaiknya makanan olahan sejenis ini tidak diandalkan sebagai satu-satunya sumber nutrisi. Sebagai konsumen yang bijak, penting untuk membaca label dengan teliti agar mengetahui takaran konsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh. “Mengamati besaran nutrisi yang tersedia pada produk olahan, dapat membantu kita menyesuaikan kebutuhan nutrisi dalam tubuh, dan menjaga pola makan yang seimbang,” pungkasnya. (Rev/Wil)
Mahasiswa UMM Teliti Jajanan Pencegah Stunting dari Tulang Ayam

Soal inovasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memang tak pernah berhenti. Terbaru, tim mahasiswa jurusan kedokteran UMM mengembangkan jelly squeeze berbahan dasar tulang ayam kampung. Ide tersebut dituangkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan telah mendapatkan pendanaan dari Kemenristek-Dikti. Ketua tim Atika Nopriana mengatakan, pemilihan ide jelly squeeze ini berawal dari banyaknya bahan by product tulang ayam yang tak terpakai. Kemudian, ia dan tim memiliki ide untuk mengolah bahan tersebut menjadi produk yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. “Sebenarnya semua berawal dari keinginan kami untuk menciptakan inovasi yang dapat disukai anak-anak. Kemudian, terbesit untuk membuat jelly squeeze ini. Apalagi banyak anak yang menyukainya. Saat ini masih dalam tahap diujikan ke tikus untuk melihat efeknya,” tambahnya. Mereka mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari para peternak ayam maupun tukang potong ayam. Atika mengatakan, produk tersebut berbahan dasar tulang ayam kampung, bukan ayam broiler. Hal itu dikarenakan ayam kampung memiliki konsentrasi mineral lebih tinggi ketimbang jenis ayam lain. Misalnya saja konsentrasi kalsium dan protein. Dalam proses pembuatannya, tulang ayam dipresto terlebih dahulu selama satu jam untuk mendapatkan tekstur yang lunak. Kemudian dikeringkan dengan dehidrator selama 24 jam dan dihaluskan dengan hammermilll dan blender. Kemudian diayak menjadi tepung tulang ayam kampung. Setelah itu, untuk membuat jelly squeeze, diperlukan campuran tepung tulang ayam dan karagenan yang telah dilarutkan dengan air panas. Perbandingan yang dipakai harus lebih banyak tulang ayam dibanding karagenan karena untuk mendapat tekstur seperti jelly. Saat ini, jelly tersebut masih dalma tahap percobaan dan diujikan ke tikus yang malnutrisi. Mereka juga terus mencari formulasi yang tepat. Nantinya, tikus yang mengidap malnutrisi akan diberi produk dan dilihat perkembangannya kurang lebih dua hingga tiga minggu. Seberapa besar pengaruh jelly squeee tersebut. Ke depannya, ia berharap bahwa penelitiannya dapat diimplementasikan langsung kepada masyarakat khsusunya anak-anak yang mengidap stunting. Untuk itu, timnya akan terus meneliti dan mengembangkan jelly squeeze itu. Dalam penelitian itu ia tidak sendiri. Atika ditemani mahasiswa kedokteran lain. Ada Avicena Mafatihul Asro Efendi, Muhamad Ridwan Prasetya, dan Muhammad Zaki Fahlevi, serta dibimbing oleh Dr. dr. Irma Suswati M.Kes. (Tri/Wil)
FH UMM-Mahupiki Jelaskan Perubahan KUHP Nasional

Beberapa waktu lalu, pemerintah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang menggantikan KUHP Nasional lama. Perubahan tersebut tak hanya terletak pada substansi hukum, namun juga pembaharuan terhadap struktur aparat, penegak hukum, hingga kultur masyarakat. Para praktisi hukum dan stakeholder yang berkonsentrasi pada hal tersebut juga wajib memahami perubahan tersebut. Maka dari itu, Fakultas Hukum UMM bersama Masyarakat Hukum Pidana dan kriminologi Indonesia (Mahupiki) Jawa Timur melaksanakan penataran hukum pidana nasional. Agenda itu dilaksanakan di rayz Hotel UMM pada 28-30 Agustus lalu. Dekna FH UMM Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum. menuturkan, perubahan pada KUHP Nasional dapat menjadi landasan pembelajaran baru bagi stakeholder dan praktisi yang berkonsentrasi pada bidang hukum. Setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, ia berharap para praktisi juga bisa memahami perubahan-perubahan yang ada. Kemudian mengimplementasikannya sebagai bahan ajar baru. Termasuk para akademisi yang mengajarkannya pada mahasiswa. Mau tidak mau, para praktisi harus mengikuti dan mempelajari kembali perubahan KUHP. Lebih lanjut, Tongat mengatakan, pembaharuan Undang-Undang Nomor 1 2023 Tentang KUHP mengacu pada rekodifikasi hukum pidana, demokratisasi hukum pidana, dan konsolidasi hukum pidana. Selain itu juga sebagai bentuk adaptasi dan harmonisasi terhadap berbagai perkembangan hukum yang terjadi. Secara ringkas, undang-undang ini dibagi ke dalam dua kitab yakni buku kesatu dan buku kedua. Sementara itu, turut hadir sebagai narasumber Prof. Dr Topo Santoso, S.H. M.H. selaku guru besar Universitas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa m buku kesatu berisi tentang pedoman, asas, dan prinsip umum bagi para praktisi hukum. Sementara buku kedua berisi tentang implementasi dan penerapan dari pedoman buku pertama tersebut. “Untuk menguasai pembaharuan KUHP, hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah buku kesatu. Tidak bisa kita langsung loncat ke buku kedua. Takutnya nanti kita malah salah paham dalam menerapkannya. Kalau kita lihat ada beberapa perubahan yang terjadi, misalnya pada pasal 1,” tegas Topo. Adapun penataran hukum pidana nasional itu diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian merupakan praktisi hukum, seperti pengacara. Adapula para dosen serta mahasiswa yang turut mengikuti rangkaian agenda selama tiga hari. Melalui agenda itu, diharapkan peserta mendapatkan pemahaman utuh dan baru akan perubahan norma dna hukum dalam KUHP nasional. (Tri/Wil)
UMM Potato Seeds Kembangkan Teknologi Baru, Bisa Percepat Produksi Benih Kentang

Inovasi demi inovasi terus dikembangkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, unit bisnis Potato Seeds UMM mengembangkan teknologi baru dalam proses sproduksi benih kentang. Inovasi itu dikembangkan oleh manajer Potato Seeds UMM, Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. Adapun inovasi itu adalah teknologi Temporary Immersion Bioreactor (TIB) yang merupakan hal baru dalam Kultur In Vitro, khususnya untuk produksi benih kentang. Di Indonesia, penggunaan teknologi ini belum pernah dilakukan untuk memproduksi benih kentang dalam bentuk plantlet. Jika dibandingkan dengan metode konvensional atau menggunakan media kultur padat, teknologi TIB ini sangatlah unggul dan efisien untuk produksi benih kentang. Syarif, sapaanya, menjelaskan bahwa dengan menggunakan TIB, plantlet benih kentang dapat tersedia dalam waktu yang lebih cepat yaitu hanya dalam kurun waktu tiga pekan. Padahal jika menggunakan metode konvensional membutuhkan waktu yang lebih lama, yaitu 1,5 bulan. Keunggulan lain dari teknologi tersebut ialah benih plantlet yang dihasilkan memiliki fisik yang kokoh, hijau, batang yang besar, serta tingkat keberhasilan aklimatisasi yang tinggi. “Jika menggunakan teknologi ini, kita jadi lebih efisien waktu. Kita juga tidak membutuhkan banyak tenaga karena sudah serba otomatis. Seperti penyinaran dan pemberian nutrisi yang dapat diatur dengan teknologi,” kata Syarif. Menariknya, unit bisnis UMM Potato Seeds ini turut membantu pemerintah untuk menyediakan dan memproduksi benih dalam skala besar, khususnya di wilayah Jawa Timur. “Jadi, kami membantu pemerintah untuk memproduksi benih kentang yang sudah ada. Kami memperoleh delegasi legalitas benih kentang Varietas Granola Lembang oleh Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Tanaman Sayuran, dan Varietas Granola Kembang oleh BSIP Jawa Timur,” jelasnya. Melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), produksi benih kentang tersebut mulai berjalan pada tahun 2017. Lalu pada tahun 2023 kembali mendapatkan dana hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui program Pengembangan Usaha Kampus untuk hilirisasi dan komersialisasi produk. Adapun UMM Potato Seeds sudah resmi berdiri di Sengkaling pada 2022 lalu melalui SK Rektor. Pada tahun yang sama, unit bisnis ini langsung mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai produsen dan pengedar benih oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Timur. Syarif berharap, teknologi TIB untuk benih kentang ini mampu berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan benih kentang nasional. Dengan begitu, petani kentang bisa dengan mudah mendapatkannya. Kelebihan lainnya yakni harganya yang relatif lebih terjangkau. (Dev/Wil)
Ada Apa Menteri Singapura Datang ke UMM?

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengundang Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura Mr. Masagos Zulkifli untuk berbicara di depan ribuan tamu dalam gelaran “Ministry Talk”, 30 Agustus lalu. Turut menemani Joko Kusnanto Anggoro selaku staf khusus bidang hukum dan kerjasama internasional Kemenko PMK Republik Indonesia yang menyampaikan materi menarik. Masagos, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa ada tiga tiang untuk mewujudkan masyarakat gemilang. Di antaranya yakni kepribadian yang baik, kemahiran agar bisa berkontribusi bagi sesama, serta kerukunan dalam menjalakan peran sebagai warga negara. Jika ketiganya bisa diraih dengan maksimal, maka masyrakat terbaik akan bisa diwujudkan. Menurutnya, kerukunan yang ada di tengah masyarakat merupakan hasil dari prinsip toleransi dan keadilan yang tinggi. Doktrin akan Integritas, meritocrucy, self reliant, serta mengakui kemajemukan suku, ras, dan budaya perlu dikembangkan dan ditumbuhkan. Semua hal itu merupakan pegangan yang harus dipahami setiap warga negara, utamanya untuk berinteraksi sosial. “Semua pihak harus berkontribusi untuk hal ini. Utamanya para pemuka agama untuk menguatkan sikap toleransi. Kemajemukan suku, ras, dan budaya harus diakui dan dijunjung tinggi. Apalagi ada meritocracy yang mengedepankan kemampuan dari seseorang, jadi tidak ada istilah privilese di berbagai sektor. Itu tentu mampu menciptakan kestarbilan dalam sosial masyarakat,” tambahnya. Ia juga sempat memberikan tips ke penonton terkait kiat menjadi seoarng pemimpin yang dan bijak. Salah satunya dengan membaca banyak hal dan buku. Kemudian juga harus menjadi pribadi yang merakyat dan memiliki tujuan jelas yang ingin dicapai. Menurutnya, pemimpin juga harus bisa menjelaskan dan menjalankan secara rinci strategi apa yang akan dilakukan untuk menggapai tujuan-tujuan yang sudah dicanangkan. “Saat ini, model atau pola kepemimpinan itu kebanyakan kita dapat dari literatur barat. Tapi sebenarnya, nilai-nilai kepemimpinan sudah ada di dalam Alquran. Satu di antaranya adalah nilai profetik Rasul. Bagaimana menjadi seseorang yang merakyat dan mampu berbaur dengan orang-orang lain. Tidak merasa dirinya elit dan berbeda,” tuturnya menegaskan. Hal tidak jauh berbeda juga disampaikan Joko Kusnanto. Menurutnya, tiga hal yang disampaikan Masagos menjadi hal vital untuk sebuah negara. Dari ketiganya, hal utama yang memiliki peran penting adalah keluarga yang baik. Pembangunan keluarga menjadi titik tolak yang penting dalam aspek kemakmuran, stabilitas, serta sikap saling menghormati. Baik itu dalam bermasyarakat atau bahkan kehidupan bernegara. Dalam kesempatan itu pula, ia mengapresiasi Kampus Putih UMM yang terus berinovasi menjalankan program. Misalnya saja banyaknya pendekatan terkait program studi yang tidak banyak dilakukan oleh kampus di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, bisa menjadi pilot project untuk kerjasama di level internasional. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan. M.Pd. menegaskan bahwa UMM turut aktif berkontribusi dalam berbagai aspek, termasuk SDM. Salah satunya dengan menyiapkan bonus demografi melalui Program Center Of Excelence (CoE) berbasis program studi. Terobosan ino berupaya mencetak tenaga-tenaga profesional untuk Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). “Kalau kita dengar tadi, dalam lagu kebangsaan Singapura kata “Majulah” diulang beberapa kali yang menunjukkan bahwa itu menjadi hal penting. Maka dari itu, Indonesia juga harus bisa mnejadi Indonesia emas yang lebih maju. UMM menyambutnya dengan CoE dan Center for Future Work,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)