Prodi Manajemen UMM Dorong Mahasiswa untuk Implementasikan Teori Secara Nyata

SURYAMALANG.COM, MALANG – Lulusan perguruan tinggi memiliki tantangan mendapatkan kesempatan kerja setelah lulus. Dalam upaya mempersiapkan kemampuan itu, Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menugaskan mahasiswanya untuk praktik menyelenggarakan kegiatan berskala lokal. Dari Laboratorium Manajemen bersama Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen menyelenggarakan kegiatan bergengsi bertajuk Gebyar Event Manajemen (GEM) 2025 di kampus, Sabtu (25/10/2025). Ketua Program Studi Manajemen, Nurul Asfiah, mengatakan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar mengenal teori tanpa praktik nyata di lapangan. Selama ini mahasiswa telah banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari berbagai macam teori. “Kegiatan ini merupakan bukti nyata bahwa mahasiswa manajemen tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu berinovasi dan berkolaborasi dalam praktik manajerial yang sesungguhnya. Inilah yang disebut dengan Kurikulum Berdampak,” ujarnya, Sabtu (25/10/2025). Nurul menegaskan, GEM 2025 menjadi wadah pengembangan potensi mahasiswa dalam bidang manajemen. Mahasiswa didorong menerapkan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. “Kami terus mendorong mahasiswa Manajemen UMM terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.” “Kegiatan yang kreatif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan soft skill perlu untuk terus diselenggarakan. Hari ini kami belajar sejak dini untuk membuat sebuah event organizer,” paparnya. Mahasiswa Jurusan Manajemen, Nadda Zahara Putri mengatakan dirinya membutuhkan wadah untuk mempraktikkan teori yang selama ini dipelajari di dalam kelas. Kegiatan GEM menjadi peluang baginya membuktikan apa yang ia pelajari selama ini. “Melalui kegiatan ini, kami belajar banyak hal yang tidak hanya sebatas teori.” “Kami berlatih bekerja dalam tim, mengelola sumber daya, mengatur waktu, dan menghadapi dinamika nyata di lapangan,” ujarnya. Kegiatan itu juga menjadi pengalaman berharga baginya. Selama menjadi mahasiswa, praktik langsung lapang selalu ia nantikan. “Rasanya seperti menjalankan mini project manajemen sesungguhnya,” ujar Nadda, yang berasal dari kelas praktikum Workshop Activity.

Rektor UMM Datangi Venue Muktamar Muhammadiyah, Beri Ide Area Khusus Inovasi

Muktamar Muhammadiyah yang ke-49 di Medan, Sumatera Utara, tinggal menghitung bulan. Namun berbagai persiapan sudah dilakukan untuk memastikan proses acaranya berjalan lancar. Salah satunya dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang melakukan kunjungan lapang pada 25 Oktober 2025 ke lokasi utama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Nazar tidak hanya melihat prosesnya, namun juga memberikan masukan terkait skema perhelatan Muktamar serta penataan venue agar lebih maksimal. Termasuk arahan untuk pembangunan gedung maupun hall yang dapat dimanfaatkan. “Saat ini, kondisi pembangunan venue acara tengah berjalan dan diprediksi akan rampung pada akhir 2026. Ini waktu yang sangat cukup sebelum menyambut Muktamar Muhammadiyah pada 2027 nanti,” kata Nazar. Sebagai rektor yang punya kemampuan mumpuni di bidang manajemen, Nazar juga ingin memastikan final terkait pengerjaan venue yang ada. Apalagi akan dihadiri oleh ratusan ribu bahkan jutaan warga Muhammadiyah dari penjuru Indonesia. Maka persiapan matang menjadi kunci pelaksanaan yang ideal. Satu masukan menarik dari Nazar adalah membuat area khusus untuk berbagai pameran hasil karya riset dan inovasi karya warga Muhammadi yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Termasuk semua lapisan warga Muhammadiyah, mulai organisasi otonom (ortom, amal usaha seperti sekolah dan kampus, hingga rumah sakit. “Jika area ini dapat terealisasi, maka ini bisa jadi kekuatan baru UMSU, yang membawa nama baik Muhammadiyah, untuk bisa menjalankan perannya sebagai organisasi rahmatan lil alamin. Organisasi yang menyebarkan rahmat ke masyarakat dan memberikan dampak nyata serta solusi untuk berbagai masalah,” katanya. (wil)

EMT Muhammadiyah Diakui WHO, Ini Peran Vital Dosen UMM

Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) resmi mencatatkan sejarah baru. Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah dinyatakan lulus verifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Ahad (19/10) di Aula Masjid KH Sudja’, Bantul, Yogyakarta. EMT yang terverifikasi milik Muhammadiyah merupakan EMT Type 1 Fixed, yaitu Melakukan pelayanan medis dasar dan kegawatdaruratan yang bersifat menetap di satu lokasi. Keberhasilan ini menandai EMT Muhammadiyah sebagai tim medis darurat pertama di Indonesia yang diakui secara internasional dan menjadi bagian dari jaringan EMT global dengan nomor urut ke-63 di dunia. Dalam proses penting ini, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., sekaligus Koordinator Bidang Pelatihan Penanggulangan Bencana MDMC PP Muhammadiyah turut memainkan peran strategis. Yaitu memastikan kesiapan dan kesejahteraan psikologis seluruh anggota tim sejak tahap persiapan hingga pasca-misi. Menurut Zakarija, peran psikolog dalam EMT bersifat vital, terutama dalam menjaga psychological well-being para anggota. “Sebelum berangkat, setiap anggota harus melalui proses screening psikologis untuk memastikan kesiapan mereka menghadapi situasi bencana yang berat dan tidak menentu. Setelah kembali, kami juga melakukan asesmen untuk memastikan kondisi mental mereka tetap stabil,” jelasnya. Selain melakukan pemantauan psikologis, Zakarija juga berperan dalam penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) bidang kesehatan mental yang menjadi bagian dari dokumen verifikasi WHO. Ia turut menyiapkan panduan triase pasien, serta protokol pelayanan Psychological First Aid (PFA) bagi masyarakat terdampak. “Karena psikolog di tim terbatas, kami juga melatih seluruh anggota agar mampu memberikan bantuan psikologis awal di lapangan,” tambahnya. Verifikasi WHO terhadap EMT Muhammadiyah mencakup dua tahap utama: pemeriksaan dokumen dan verifikasi lapangan pada 18–19 Oktober 2025. Dokumen-dokumen yang diuji seperti SOP, ketersediaan peralatan penunjang, termasuk instrumen asesmen seperti DASS-21, diperiksa secara mendetail untuk memastikan kesesuaian standar internasional dan sekaligus dicek apakah datanya sesuai dengan dilapangan. Proses tersebut berlangsung lancar dan berujung pada pengakuan resmi WHO. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni, menyebut capaian ini sebagai ‘bukti nyata profesionalitas dan komitmen Muhammadiyah dalam bidang kemanusiaan global’. Bagi Zakarija, keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab baru. “Dengan verifikasi WHO ini, EMT Muhammadiyah harus siap jika sewaktu-waktu ditugaskan di kawasan Asia-Pasifik untuk misi kemanusiaan lintas negara,” ujarnya. Ia berharap pencapaian ini dapat menginspirasi banyak pihak untuk turut serta dalam misi kemanusiaan seperti yang dilakukan Muhammadiyah. Keberhasilan EMT Muhammadiyah menjadi hadiah istimewa menjelang Milad ke-113 Muhammadiyah, sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan gerakan sosial-keagamaan mampu menghasilkan karya nyata bagi kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun global. (bil/wil)

Waketu Dewan Pengawas Danantara di UMM: Danantara Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Indonesia dinilai membutuhkan mesin penggerak baru di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menembus stagnasi pertumbuhan di angka lima persen. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Muliaman Darmansyah Hadad, Ph.D., Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia, dalam Studium General bertajuk “Peran Danantara dalam Meningkatkan Kualitas Ekonomi Indonesia: Membangun Generasi Emas, Berdaya & Mandiri”. Adapun agenda itu digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 23 Oktober 2025. Dalam pemaparannya, Muliaman menjelaskan bahwa Danantara Indonesia dibentuk sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana kekayaan negara yang berfungsi mengelola aset dan dividen dari BUMN secara lebih produktif. Menurutnya, langkah ini menjadi strategi penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional yang berorientasi pada keberlanjutan dan kemakmuran lintas generasi. Danantara hadir bukan sebagai lembaga baru semata, melainkan sebagai instrumen pembangunan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan menyiapkan tabungan jangka panjang bagi bangsa. “Pertumbuhan ekonomi kita terlalu lama tertahan di sekitar lima persen karena tumpuannya hanya pada APBN. Kita butuh mesin ekonomi kedua yang bisa menggerakkan produktivitas, mengonsolidasikan aset negara, dan menyalurkannya ke investasi jangka panjang agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Danantara memiliki peran penting dalam mentransformasi aset-aset BUMN yang nilainya jika dikonsolidasikan mencapai sekitar satu triliun dolar AS. BUMN selama ini merupakan aset negara yang dipisahkan (sovereign asset), dan melalui Danantara diharapkan bisa memberikan sumbangsih ekonomi yang lebih besar bagi pembangunan nasional. Lembaga ini juga mengadopsi prinsip-prinsip tata kelola global (Santiago Principles) untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan investasinya. “BUMN adalah aset negara yang harus produktif. Tugas Danantara adalah memastikan aset-aset itu tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi kekuatan baru untuk membangun ekonomi nasional yang berdaya dan mandiri,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Muliaman juga menjabarkan empat alasan fundamental dibentuknya lembaga SWF, yakni sebagai tabungan antar generasi, sarana diversifikasi aset, pendorong pembangunan ekonomi, serta mekanisme untuk memaksimalkan hasil investasi jangka panjang. Berbeda dengan negara-negara penghasil minyak seperti Norwegia atau Uni Emirat Arab, Indonesia membangun SWF berbasis non-komoditas, dengan fokus pada hasil usaha BUMN dan aset-aset domestik yang dikelola secara profesional. Menurutnya, Danantara menempatkan investasi pada delapan sektor prioritas, antara lain energi terbarukan, mineral dan pertambangan, infrastruktur digital, jasa keuangan, kesehatan, pangan, serta kawasan industri dan properti. Arah kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus mempercepat transformasi menuju Indonesia Emas 2045. “Sumber kekuatan kita bukan minyak atau gas, melainkan kreativitas dan produktivitas bangsa sendiri. Karena itu Danantara berfokus domestik, namun tetap membuka ruang bagi investor global untuk berkolaborasi,” jelasnya. Sementara itu, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., selaku Wakil Rektor II UMM bidang Umum dan Keuangan yang mewakili Rektor, menyampaikan bahwa UMM mendukung penuh visi pembangunan nasional melalui peran pendidikan dan penguatan SDM. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa UMM berkomitmen menjadi bagian dari ekosistem pembangunan ekonomi bangsa. “Melalui Center of Future Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE), UMM berupaya menyiapkan lulusan yang proaktif, tidak hanya siap kerja tetapi juga mampu menciptakan kerja. Semangat yang dibawa Danantara untuk membangun ekonomi mandiri sejalan dengan misi UMM sebagai kampus berdampak, yang terus berkontribusi menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujarnya. Dengan hadirnya kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana arah kebijakan investasi nasional dan peran Danantara sebagai bagian penting dalam memperkuat ekonomi bangsa. Kolaborasi antara dunia akademik dan lembaga strategis seperti Danantara menjadi kunci untuk membangun generasi emas yang berdaya, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global. (vin/wil)

Maharesigana UMM Borong Penghargaan di Ajang Nasional

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Maharesigana (Mahasiswa Relawan Siaga Bencana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka sukses mencatatkan prestasi menarik dengan meraih gelar Juara Umum pada Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2025. Adapun ajang nasional ini yang diselenggarakan di Mojokerto, Jawa Timur, dan diikuti oleh berbagai kontingen relawan dan lembaga kebencanaan. Terhitung ada tiga penghargaan utama yang Maharesigana raih. Juara 1 Stand Kreatif Terbaik, Juara 1 Program Inovatif Terbaik, dan Juara 2 Media Edukasi Terbaik. Kemenangan ini diraih pada 2 Oktober 2025 lalu dan bersaing dengan berabagai peserta. Terkait prestasi ini, Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Ferry Indrawan mengatakan bahwa prestasi ini merupakan hasil dari komitmen kemanusiaan yang kuat di antara anggotanya. “Pencapaian ini tidak lepas dari kerja keras dan semangat kemanusiaan seluruh tim. Kami ingin terus membuktikan bahwa generasi muda harus siap, sigap, dan tangguh dalam menghadapi bencana. Hal itu juga harus disebarkan ke masyarakat,” katanya. Salah satu inovasi terbaik datang dari anggota tim, Ana, yang meraih Juara 1 Program Inovatif Terbaik. Ia mengatakan bahwa program inovatif itu merupakan hasil kolaborasi demi memberikan solusi praktis di lapangan. Harapannya, karya itu benar-benar bisa diaplikasikan untuk membantu masyarakat dalam memitigasi dan merespons bencana secara lebih efektif. Keberhasilan Maharesigana UMM ini mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wahyu Heniwati, S.E., M.M. Ia yang merupakan Ketua Bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC PP menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dan generasi muda dalam menciptakan ketangguhan. “Pencapaian Maharesigana UMM ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan gerakan kerelawanan mampu melahirkan solusi-solusi inovatif, baik di bidang kesiapsiagaan maupun mitigasi. Generasi muda seperti Maharesigana adalah aset krusial kita dalam mewujudkan ketangguhan bangsa menghadapi spektrum ancaman bencana,” katanya. (*)

Relawan Bencana Maharesigana UMM dan Forum Brantas Malang Inisiasi Susur Sungai Brantas 2025

Malangpariwara.com – Upaya meningkatkan kesadaran lingkungan dan mitigasi risiko bencana terus digalakkan. Salah satunya dalam kegiatan “Susur Sungai Brantas 2025” yang diinisiasi Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Forum Brantas Malang Raya , Rabu (15/10/202). Sejak pagi, peserta sudah berkumpul di Heliped UMM. Mereka kemudian menyusuri aliran Sungai Brantas yang membentang dari Kota Batu, Kota Malang, hingga Kabupaten Malang. Tujuan utamanya untuk mengamati, memetakan, dan mendokumentasikan kondisi Sungai Brantas, sekaligus mengidentifikasi potensi kerentanan lingkungan dan risiko bencana yang dapat timbul akibat aktivitas manusia di sekitar sungai. Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Fery Indrawan, menegaskan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata dari tema kegiatan tahun ini, yaitu “Mahasiswa Berdampak dalam Pengurangan Risiko Bencana. “Mahasiswa memiliki peran strategis dalam upaya pengurangan risiko bencana,” katanya. Melalui kegiatan Susur Sungai Brantas ini, tambah Rindya, tim ingin menunjukkan bahwa mahasiswa dapat turun langsung, belajar dari lapangan, dan memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan. Tak hanya itu, Tim Maharesigana juga mendukung proses pemetaan lapangan, dokumentasi kondisi sungai, serta pengumpulan data pendukung untuk mitigasi bencana seperti wilayah dengan sedimentasi tinggi, sampah padat, dan area rawan longsor. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diajak untuk memahami secara langsung bagaimana perubahan lingkungan dapat berdampak pada potensi bencana alam di masa mendatang. Sebagai organisasi kebencanaan berbasis mahasiswa, Maharesigana UMM tidak hanya berperan sebagai relawan, tetapi juga sebagai agen edukasi dan perubahan perilaku mitigasi bencana di lingkungan kampus dan masyarakat. Lebih lanjut, Rindya menambahkan, kegiatan ini menjadi wadah kolaboratif untuk memperkuat kapasitas relawan mahasiswa dalam mengenali potensi risiko bencana berbasis ekosistem sungai. “Ini bukan sekadar kegiatan lapangan, tapi proses belajar sosial dan lingkungan yang berdampak jangka panjang,” imbuhnya. Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. Susur Sungai Brantas dinilai memberikan efek positif terhadap upaya pelestarian Sungai Brantas. “Tentunya, kegiatan ini memberikan dampak yang luar biasa agar sungai benar-benar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat di sepanjang aliran Sungai Brantas, mulai dari Kota Batu, Kota Malang, hingga Kabupaten Malang,” ujar Raymond. Kegiatan juga melibatkan kolaborasi lintas sektor. Mulai dari Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), TNI AD, TNI AL, serta sejumlah perguruan tinggi. Di antara perguruan tinggi yang terlibat adalah Universitas Brawijaya (UB), Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), Politeknik Negeri Malang (POLINEMA), dan UMM melalui Maharesigana, dan beberapa UKM juga HMJ lainnya. Sebagai organisasi mahasiswa yang berfokus pada penanggulangan bencana Maharesigana UMM akan terus melaksanakan kegiatan serupa yang tidak hanya memberikan dampak bagi lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga alam dan mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana.(Djoko W)

Peneliti UMM Kembangkan Sistem AI untuk Membantu Analisis Putusan Hukum di Indonesia

Kabar Baru, Malang, 12 Oktober 2025 — Tim peneliti lintas disiplin dari Prodi Informatika dan Prodi Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menjawab pertanyaan hukum secara akurat dengan mengacu pada ribuan putusan pengadilan di Indonesia. Inovasi ini memanfaatkan teknologi Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang dikombinasikan dengan model bahasa besar (Large Language Models/LLM) seperti Qwen, LLaMA, dan Gemma. Penelitian ini menandai langkah penting menuju penerapan AI di bidang hukum di Indonesia, khususnya dalam upaya mempercepat proses analisis putusan dan meningkatkan konsistensi penalaran hukum. Sistem RAG yang dikembangkan dapat membantu Lembaga Peradilan, Praktisi Hukum, Peneliti dan Akademisi, hingga masyarakat umum untuk menemukan informasi relevan dalam putusan pengadilan dengan cepat dan terverifikasi. Dengan jumlah putusan pengadilan yang mencapai lebih dari 800 ribu setiap tahun, pencarian dan analisis manual sudah tidak akan efisien lagi. Pendekatan yang diusulkan dalam penelitian ini mampu menjawab permasalahan tersebut secara kontekstual namun tetap akurat. Dalam penelitian ini, tim menggunakan 408 putusan pengadilan pada kasus-kasus Tindak Pidanan Perdagangan Orang (TPPO) yang diambil dari 143 pengadilan negeri di Indonesia selama periode 2023–2024. Semua data telah disusun sesuai standar Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 359/KMA/SK/XII/2022 agar dapat diproses secara komputasional oleh model AI. Tiga model AI besar diuji: Gemma (Google DeepMind), LLaMA (Meta), dan Qwen (Alibaba). Hasilnya menunjukkan bahwa Qwen menjadi model paling unggul dengan kemampuan mampu mengodentifikasi elemen putusan pengadilan. Indikator ini menunjukkan kemampuan Model dalam menangkap informasi struktural dari teks hukum. “Penelitian kami menunjukkan bahwa keberhasilan RAG tidak hanya ditentukan oleh ukuran model, tetapi juga oleh karakteristik linguistik teks hukum. Struktur bahasa yang baku, seperti dalam bagian identitas terdakwa, memungkinkan sistem bekerja lebih optimal,” jelas Galih Wasis Wicaksono, sebagai ketua peneliti dari Program Studi Informatika UMM. Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum UMM. Ketua Tim Peneliti Galih Wasis Wicaksono, anggota tim peneliti Nur Putri Hidayah, Christian Sri Kusuma Aditya, Andiko Febriyan Praja Dewa, Herlena Fatikasari, Mutiara Anggun Puspa Insani, Muhammad Hariz Faizul Anwar, dan Nizam Avif Anhari. Penelitian ini juga bermitra dan mendapat dukungan dari Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) serta Mahkamah Agung RI. Proyek ini didanai melalui hibah Penelitian Fundamental Reguler Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Selain itu dukungan penuh juga diberikan UMM melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyakarat. Tim berharap, pengembangan sistem ini dapat menjadi pondasi bagi penerapan kecerdasan buatan di ranah hukum Indonesia, termasuk untuk mendukung analisis dan penelitian hukum berbasis data, serta teknologi termutakhir. “Analisis putusan dengan menggunakan AI bukan untuk menggantikan hakim atau penegak hukum, melainkan untuk memperkuat ketajaman, transparansi dan efisiensi dalam penegakan hukum,” tutup Galih.

Prof Dr Agussani MAP Paparkan Persiapan Muktamar ke-49 Muhammadiyah pada Rakernas Forum Rektor PTMA

Sumutpos.jawapos.com-Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Prof Dr Agussani MAP memaparkan persiapan pelaksanaan muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah 2027 pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Prof Dr Agussani MAP selsku ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-49 Muhammadiyah berbicara pada Rakernas PTMA di Universitas Muhammadiyah Malang yang berlangsung 16-19 Oktober. Rektor UMSU menegaskan bahwa muktamar ke-49 di Sumut akan menjadi momentum bersejarah karena digelar 25 tahun setelah muktamar ke-25 yang juga berlangsung di Kota Malang. “Muktamar tahun 2027 ini sangat luar biasa karena 25 tahun yang lalu muktamar di Kota Malang adalah muktamar ke-25. Dua puluh lima tahun kemudian, giliran Sumur menjadi tuan rumah,” ujarnya. Prof Dr Agussani MAP menjelaskan bahwa keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan Sumut dan UMSU sebagai penyelenggara. Hal ini tercantum dalam surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2023. “Sejarahnya, Sumut ditunjuk langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanpa melalui Tanwir. Saya masih ingat rapat di UAD waktu itu, Pak Ketua Umum menunjuk langsung Sumatera Utara sebagai tuan rumah,” ungkapnya. Dalam Rakernas ini, rektor UMSU memaparkan berbagai tahapan persiapan yang telah dilaksanakan. Termasuk pembentukan panitia pelaksana dan rapat koordinasi dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kemudian pembangunan dua gedung utama di lokasi muktamar yang bersebelahan. Yaitu Auditorium Berkemajuan berkapasitas tujuh ribu untuk muktamar Muhammadiyah dan Spot Hall Walidah kapasitas tiga ribu untuk muktamar Aisyiyah. “Diperkirakan dana untuk kedua gedung ini lebih kurang Rp352 miliar. Kedua venue ini akan dibangun berdampingan diatas lahan seluas 25 hektar milik Persyarikatan Muhammadiyah di Desa Saintis, Deliserdang,” paparnya. Dipaparkan juga tentang kesiapan infrastruktur pendukung. Seperti Stadion Utama Sumatera Utara berkapasitas 26.800 orang, Bandara Kualanamu, Pelabuhan Belawan dan jaringan jalan tol Trans-Sumatera. “Sumatera Utara kini memiliki akses transportasi yang semakin mudah. Infrastruktur yang memadai serta 363 hotel yang siap menampung peserta dan penggembira muktamar,” jelasnya. UMSU, lanjut Prof Dr Agussani MAP, bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai pendamping pembangunan venue. Ia mengapresiasi semangat kolaborasi antar-PTMA dalam menyukseskan agenda besar tersebut. Prof Dr Agussani MAP juga mengajak seluruh pimpinan PTMA untuk berkontribusi dalam kegiatan simbolis penanaman 100 pohon durian di lokasi muktamar. “Sampai saat ini, 48 pohon yang tertanam. Kami mengundang para rektor PTMA untuk datang dan menanam pohon durian sebagai simbol kontribusi dan kebersamaan,” ajaknya. Dalam kesempatan ini, rektor UMSU menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Rakernas Forum Rektor PTMA tahun 2026 atau 2027 sebelum pelaksanaan muktamar ke-49. “Kami siap menjadi tuan rumah Rakernas Forum Rektor berikutnya. Baik tahun 2026 maupun 2027. Mohon doa dan dukungan kita semua agar muktamar ke-49 berjalan sukses,” katanya. Rektor mengungkapkan bahwa hubungan baik antara Muhammadiyah dengan pemerintah daerah juga menjadi modal penting dalam suksesnya muktamar mendatang. (dmp)

Prof. Dr. Abdul Mu’ti Terima Penghargaan dari Forum Rektor Kampus Muhammadiyah/Aisyiyah

MALANG, RADARBANYUMAS.CO.ID – Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Pendidikan dari Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah (FRPMA). Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Penghargaan ini diserahkan oleh Prof. Dr. Ma’mun Murod, Ketua FRPMA, pada Rapat Kerja Nasional FRPMA di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 16-18 Oktober 2025. Prof. Dr. Ma’mun Murod menyatakan bahwa Prof. Dr. Abdul Mu’ti layak menerima penghargaan ini karena banyaknya prestasi yang ditonjolkan selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu kontribusinya adalah kebijakan revitalisasi pendidikan di sektor swasta, dengan capaian lebih dari 30% revitalisasi dilakukan di sektor swasta. Sekretaris Jenderal FRPMA, Prof. Dr. Jebul Suroso, juga menambahkan bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah membuka sinergi dan kolaborasi antara kementerian dan pendidikan tinggi melalui berbagai program, seperti revitalisasi pendidikan, beasiswa pendidikan, program PPG, dan RPL. Dengan penghargaan ini, diharapkan Prof. Dr. Abdul Mu’ti dapat terus memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan Indonesia dan menjadi inspirasi bagi para pendidik dan siswa di seluruh negeri. (*)

Mulai 2027, Siswa SD Akan Belajar Coding dan AI Selain Bahasa Inggris

INDOPOLITIKA – Pendidikan di Indonesia akan mengalami transformasi besar mulai tahun 2027 dengan diberlakukannya pelajaran coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. Selain itu, bahasa Inggris juga akan mulai diajarkan sejak siswa berada di kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Pengumuman kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah atau Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan bahwa kebutuhan akan guru yang menguasai materi coding dan AI akan meningkat secara signifikan di masa mendatang. Oleh karena itu, perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam dunia pendidikan diharapkan berperan aktif dalam menyiapkan tenaga pengajar yang kompeten. Menurutnya, meskipun saat ini pelajaran coding dan AI masih merupakan pilihan, keduanya akan resmi masuk ke dalam kurikulum nasional. Pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah strategis agar para guru memiliki kemampuan dan kualifikasi yang memadai untuk mengajarkan materi tersebut secara efektif. Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD Selain memfokuskan pada teknologi digital sejak dini, pemerintah juga menetapkan kebijakan agar bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib mulai dari kelas 3 SD. Menurut Abdul Mu’ti, pelatihan guru bahasa Inggris akan menjadi perhatian utama, dengan upaya mengubah istilah “pelatihan” menjadi “pendidikan” agar program ini dapat disertifikasi dan meningkatkan profesionalisme guru. Lima Program Prioritas Kemendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa saat ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memiliki lima hingga enam program prioritas yang sedang dijalankan bersama perguruan tinggi, termasuk kampus PTMA. Beberapa program prioritas tersebut meliputi: – Revitalisasi Satuan Pendidikan, yang fokus pada perbaikan manajemen sekolah, tata kelola, serta peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru. Pada tahun ini, lebih dari 16.100 sekolah telah direvitalisasi dengan anggaran sebesar Rp16,9 triliun. – Peningkatan Kualitas Guru, dilakukan melalui pelatihan dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pemerintah menyediakan kuota sebanyak 808 ribu untuk PPG dan memperluas program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana. – Penguatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang bertujuan memperkuat karakter dan kompetensi siswa dengan dukungan universitas dalam pengembangan modul pembelajaran serta pelatihan guru. – Pendidikan Berbasis Kajian Akademik, di mana setiap kebijakan pendidikan diharapkan lahir dari kajian akademik yang kuat, bukan hanya sebagai aspek administratif. Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya kebijakan pendidikan sebagai rekayasa sosial yang dapat membentuk karakter bangsa. Kemendikdasmen juga membuka peluang bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk berperan aktif dalam penelitian kebijakan (policy research), terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter dan kebiasaan belajar siswa. Menteri Abdul Mu’ti menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi keagamaan dalam menciptakan sistem pendidikan nasional yang inklusif, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Menuju Pendidikan Masa Depan Rapat Kerja Nasional Forum Rektor PTMA 2025 yang berlangsung selama 16 hingga 19 Oktober di UMM Malang menjadi momentum penting untuk refleksi dan konsolidasi kebijakan pendidikan nasional. Forum ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan jaringan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah, sehingga pendidikan Indonesia dapat semakin unggul, adaptif, dan berdampak positif bagi kemajuan bangsa.(Hny)