Mahasiswa UMM Teliti Energi Alternatif dari Limbah Ranting

Siapa sangka, ranting kopi dan alpukat yang biasa menjadi limbah pangkasan, kini berpotensi menjadi solusi di tengah kelangkaan gas elpiji (LPG) yang kerap melanda masyarakat, terutama di kawasan pedesaan. Di tengah isu pemanasan global dan tantangan kelangkaan energi, sekelompok mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) menghadirkan inovasi yang menjanjikan. Mereka meneliti potensi pelet biomassa dari limbah tanaman sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat desa hutan di Malang. Tim yang diketuai oleh Bangkit Utomo Putro dan dibimbing oleh Naresvara Nircela Pradipta, S.Hut., M.Sc ini beranggotakan I Gusti Agung Ayu Ary Indah Febriani, Kevin Abimanyu Prakoso, Muhammad Nur Fajar, dan Nina Febriansari. Riset mereka berjudul “Eksplorasi Sifat Psiko-termal dan Flame Emission Spectrum Pelet Biomassa Spesies Fast Growing di Malang sebagai Energi Alternatif Masyarakat Desa Hutan” kini telah mencapai 80% progres pengerjaan. Latar belakang penelitian ini berangkat dari dua masalah krusial. Secara global, ancaman pemanasan global akibat peningkatan gas rumah kaca (GRK), khususnya CO₂, menjadi perhatian serius. Hal ini mendorong lahirnya program mitigasi seperti FOLU (Forestry and Other Land Use) NET SINK 2030, yang diadopsi pemerintah melalui Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Malang dengan program penanaman tanaman fungsional sejak 2019 yang melibatkan 133 desa hutan di wilayah Malang. Namun, di tingkat lokal, masyarakat desa hutan justru menghadapi masalah baru: kelangkaan gas elpiji yang menjadi sumber energi utama rumah tangga. Melihat potensi sumber daya alam yang melimpah dari program penanaman tersebut, tim ini melihat solusi di depan mata. “Kami melihat ada dua masalah yang saling berkaitan: krisis lingkungan secara luas dan kelangkaan energi di tingkat desa. Melalui riset ini, kami ingin membuktikan bahwa limbah pangkasan dari tanaman fungsional yang sudah ada di desa hutan, seperti cabang dan ranting, bisa menjadi solusi energi yang efektif dan lebih ramah lingkungan,” ujar Bangkit Utomo Putro, ketua tim. Inovasi ini memanfaatkan biomassa hasil pangkasan (prunning) seperti cabang, ranting, dan daun untuk diolah menjadi pelet bahan bakar. Meski demikian, tim menyadari bahwa tidak semua jenis tanaman menghasilkan emisi yang baik untuk kesehatan, sehingga penelitian mendalam mutlak diperlukan. Hasil uji coba awal menunjukkan temuan yang signifikan. Pada parameter kadar air, yang menentukan efektivitas pembakaran, pelet dari cabang alpukat menunjukkan kadar air tertinggi (27,33%). Kadar air yang tinggi dapat mengurangi panas yang dihasilkan. Sebaliknya, pada parameter kadar abu, yang mengindikasikan residu sisa pembakaran dan potensi emisi, pelet dari cabang kopi menunjukkan hasil terbaik. Dengan kadar abu hanya 3,2%, pelet cabang kopi memiliki residu paling rendah dan signifikan dibandingkan jenis lainnya, bahkan hampir menyamai kontrol. Hasil ini mengindikasikan pelet dari cabang kopi lebih bersih dan memiliki performa pembakaran yang lebih baik. Melalui program ini, tim berharap dapat membantu masyarakat desa hutan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan emisi karbon yang berlebihan. Selain itu, Ia juga berharap tim-nya bisa terus kompak untuk menghasilkan inovasi-inovasi berikutnya. (bil/wil)
Kolaborasi Konjen Australia-UMM Dukung Peningkatan Kualitas Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan berskala internasional. Kali ini, UMM berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal Australia Surabaya menggelar gelaran perdana AussieBanget Mates Muster 2025. Program ini menghadirkan puluhan mahasiswa dari tujuh kampus di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adapun agenda yang dilaksanakan pada 27-28 September lalu ini menekankan aspek alam dan kebersamaan. Sebanyak lebih dari 60 mahasiswa terpilih dari tujuh kampus, yakni Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret, UMM, UNAIR, UINSA, UNEJ, dan UTM, berpartisipasi aktif dalam acara ini. Selain sebagai ruang berbagi, mereka juga diharapkan menjadi agen yang memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Australia. Hafiz Al Asad, Public Diplomacy Officer Konjen Australia Surabaya yang sekaligus pelopor ide agenda ini menegaskan, kegiatan ini merupakan inisiatif untuk mempererat jejaring Aussie Banget Corner (ABC) Sejawa Tengah dan Jawa Timur di bawah yurisdiksi Konjen Surabaya. “Tema tahun ini Camp, Connect, Collaborative yang kami pilih untuk menegaskan semangat kebersamaan dan pertukaran budaya,” jelasnya. Sementara itu, Konjen Australia untuk Surabaya, Glen Askew, menyampaikan apresiasi yang besar atas terselenggaranya acara ini. Ia menegaskan bahwa ABC Mates Muster menjadi ajang penting untuk membangun koneksi, kolaborasi, sekaligus memperkenalkan budaya Australia lebih dekat kepada mahasiswa Indonesia. “Tanpa komitmen UMM, kegiatan ini hanya sebatas wacana. Terima kasih UMM telah menjadi tuan rumah yang luar biasa,” ujarnya. Rangkaian agenda dikemas dengan cara menyenangkan, mulai dari aktivitas khas Indonesia hingga pengalaman otentik budaya Australia. Para peserta diajak memasak bersama hidangan tradisional Australia, hingga berbagi cerita lintas kampus mengenai pengalaman belajar dan berorganisasi. Glen berharap, setelah kembali ke universitas masing-masing, mahasiswa dapat menyebarkan pengalaman ini dan menjadi jembatan penghubung antara masyarakat Indonesia dan Australia. Di sisi lain, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. menyambut hangat acara ABC Mates Muster yang resmi dilaksanakan di Kampus Putih. Menurutnya, kolaborasi ini merupakan suatu kehormatan besar bagi UMM dalam mempererat hubungan baik antar elemen dalam negeri, maupun luar negeri. Melalui kegiatan ini, UMM kembali menunjukkan perannya sebagai kampus dengan jejaring internasional yang luas, sekaligus konsisten menghadirkan pengalaman global bagi mahasiswanya. Terakhir, lebih dari membangun solidaritas, Salis berharap pesan perdamaian dari agenda ini dapat tersampaikan serta terefleksi dengan baik ke seluruh dunia. (din/wil)
UMM Turun Atasi Angka Stunting dan Kemiskinan di NTT

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memberikan dampak dan manfaat di berbagai wilayah. Terbaru, UMM bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi NTT untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting. Beragam kegiatan tersebut dimulai pada 1 Oktober 2025 ini hingga beberapa tahun mendatang dan menyasar para warga di berbagai lokasi. Mulai dari pelatihan pertanian dan peternakan hingga pendidikan dan pangan. Menyambut rombongan UMM, Sekretaris Daerah TTS Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si. mengapresiasi berbagai program yang sedang dan akan dijalankan UMM di wilayah tersebut. Ia menjelaskan, TTS memiliki daerah yang luas, terdiri dari 32 kecamatan dan 266 desa. Ada hampir 500 ribu jiwa yang tinggal di wilayah ini. “Ada beberapa persoalan yang kami hadapi, dua di antranya adalah angka kemiskinan ekstrem dan stunting. Saat ini, kami menjadi salah satu daerah dengan angka stunting yang tinggi di NTT dan juga angka kemiskinan. Jadi, kedatangan tim profesor dan pakar UMM menjadi warna baru untuk mengatasi masalah dan tantangan ini,” katanya. Ia berharap, lebih dari 25 program yang UMM miliki bisa memberikan dampak yang bagus. Baik itu di bidang penurunan angka kemiskinan maupun angka stunting. Pihaknya mendukung penuh berbagai kegiatan yang ada melalui dinas dinas terkait. Sementara itu, Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama UMM Dr. Salahudin, S.IP, M.Si., M.P.A. menjelaskan, ada lebih dari 25 program yang sudah dan akan berjalan di NTT, khususnya Kabupaten Soe. Bahkan UMM juga melibatkan 75 tim yang terdiri dari profesor, doktor, pakar, dan dosen dosen mumpuni agar program terlaksana dengan baik dan benar-benar berdampak. “Ini menjadi cara UMM untuk menguatkan diri sebagai kampus berdampak. Tidak hanya di sekitaran Jawa, tapi juga di wilayah-wilayah lain yang membutuhkan. Salah satunya di NTT,” katanya. Salahudin menegaskan, fokus program ini bertujuan untuk menekan angka kemiskinan dan menurunkan angka stunting. Maka, kegiatan-kegiatan diawali dengan lima sektor utama yakni kesehatan, sosial dan pemberdayaan komunitas, pertanian peternakan, pendidikan, dan pangan. Menurutnya, program ini juga sangat sesuai dengan tujuan prioritas nasional yang terus diupayakai. Hal serupa juga disampaikan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. yang menekankan pemtingnya menebar manfaat untuk masyarakat. Menurutnya, UMM memiliki tekad kuat untuk memberikan dampak di berbagai wilayah. Tidak terbatas di Jawa saja, tapi juga menyebar ke berbagai lokasi, salah satunya NTT. “UMM memang terus mendorong profesor untuk memberikan dampak. Jadi tidak hanya berhenti pada pemikiran saja, tapi benar benar bisa dirasakan masyarakat, baik itu produk maupun skema. Saat ini UMM juga telah memiliki Direktorat Saintek yang bertugas menghilirisasi berbagai penelitian maupun invoasi dosen dan mahasiswa. Dengan begitu, mampu memberikan solusi atas pelbagai masalah di masyarakat,” pungkas Nazar. (wil)
Tingkatkan Profesionalisme Kader, PDNA Kabupaten Malang Gandeng UMM Gelar Workshop Public Speaking dan Protokol

pwmu.co –Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Malang bekerja sama dengan Laboratorium Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Workshop “Public Speaking and Protocol” dengan tema Immersive, Engagement with Formal Audience pada Ahad (26/10/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan profesionalisme kader Nasyiatul Aisyiyah dalam berinteraksi di ruang publik. Workshop yang berlangsung di Laboratorium Bahasa UMM ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai cabang Nasyiatul Aisyiyah se-Kabupaten Malang. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PDNA Kabupaten Malang, Siti Aminah, A. Md. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kemampuan berbicara di depan umum serta memahami tata protokol merupakan keterampilan penting bagi kader perempuan muda dalam menjalankan peran dakwah dan kepemimpinan “Public speaking bukan hanya sekadar berbicara, tetapi juga bagaimana menyampaikan pesan dengan nilai, etika, dan kepribadian Islami. Hal yang sama juga berlaku untuk pemahaman protokol karena protokol mencerminkan ketertiban dan rasa hormat dalam setiap kegiatan organisasi,” ujarnya. Materi workshop disampaikan langsung oleh para pemateri yang kompeten di bidang public speaking, yaitu Dosen UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Pd., dan Ketua Laboratorium Bahasa UMM, Riski Lestiono, M.A., Ph.D. Workshop ini membahas teknik dasar berbicara di depan umum, penguasaan panggung, etika komunikasi, serta tata protokol dalam acara resmi. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara langsung melalui sesi praktik dan simulasi. Selain mempelajari ilmu public speaking dan keprotokoleran, para peserta juga diajak untuk belajar menggunakan Virtual Reality sebagai media pendukung dalam meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum. Kegiatan berlangsung secara antusias dan interaktif. Para peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman baru yang dapat langsung diaplikasikan dalam kegiatan organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Di akhir acara, panitia menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat terus diselenggarakan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan kapasitas kader muda Nasyiatul Aisyiyah. Dengan demikian, para peserta diharapkan semakin siap tampil sebagai perempuan berkemajuan yang percaya diri, komunikatif, dan beretika. (*)
Bahlil Lahadalia Buka Tanwir ke-33 IMM, Dorong Anak Muda Punya Visi Bangsa

MALANG, MEMORANDUM.CO.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia membuka Tanwir ke-33 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema “Energi Kolektif untuk Negeri” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu 29 Oktober 2025. Dalam sambutannya, Bahlil menegaskan bahwa negara membutuhkan anak muda yang memiliki visi dan keberanian mengambil keputusan. Bahlil menyebut masa depan bangsa berada di tangan anak muda yang menyiapkan diri secara serius untuk menjadi pemimpin. “IMM ini adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujar Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan kebijakan energi difokuskan pada dua hal utama, yaitu kemandirian energi nasional dan transisi energi berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh bergantung pada impor bahan bakar karena dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. “Kita tidak oplos bensin. Yang kami kembangkan adalah etanol energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” katanya. Pembukaan Tanwir IMM ke-33 ini dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr Agung Danarto, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof Dr Muhadjir Effendy, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik, serta Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik mengapresiasi terselenggaranya Tanwir IMM di kampus UMM dan menyebut forum ini sebagai momentum meneguhkan peran mahasiswa. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin,” jelasnya. Sementara itu, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin mengajak seluruh kader IMM menjadikan Tanwir ke-33 sebagai momentum memperkuat semangat kebangsaan yang berlandaskan iman, ilmu, dan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. (edr)
Di Tanwir XXXIII IMM, Ketua DPD RI Kenalkan Gagasan “Green Democracy” untuk Indonesia

Malang, Tugumalang.id – Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Sultan Baktiar Najamudin mendorong penerapan gagasan “Green Democracy” atau Demokrasi Hijau dalam sistem politik nasional. Menurutnya, pembangunan bangsa dan negara harus tetap mengedepankan keseimbangan ekologis agar kemajuan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Gagasan tersebut ia sampaikan saat menjadi keynote speaker pada pembukaan Tanwir XXXIII Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara digelar pada 29 – 31 Oktober 2025. Acara tersebut turut dihadiri jajaran anggota DPD RI, antara lain Ahmad Nawardi (Jawa Timur), Bustami Zainudin (Lampung), Zuhri Muhammad Syazali (Kepulauan Bangka Belitung), Ahmad Syauqi Suratno (DIY), Hasby Yusuf (Maluku Utara), Carel Simon Petrus Suebu (Papua), dan Sopater Sam (Papua Pegunungan). Demokrasi Hijau: Menyatukan Politik dan Ekologi Dalam pidatonya berjudul “Gerakan Mahasiswa, Etika Politik Muhammadiyah, dan Demokrasi Hijau: Menyalakan Energi Kolektif untuk Negeri,” Sultan memperkenalkan konsep Demokrasi Hijau, yakni politik yang menempatkan keseimbangan dan keberlanjutan sebagai inti demokrasi. “Green Democracy bukan sekadar soal lingkungan, tapi tentang jiwa bangsa yang hidup selaras dengan alam dan nilai. Ketika politik kehilangan nilai, yang lahir adalah kerakusan. Ketika pembangunan kehilangan keseimbangan, yang tumbuh bukan kemajuan, tapi kerusakan,” tegasnya. Menurut Sultan, Demokrasi Hijau adalah upaya memastikan sistem demokrasi berjalan dengan sejuk dan berkeadilan, dengan mengarusutamakan kesehatan lingkungan. DPD RI, kata dia, berkomitmen untuk mengimplementasikan konsep ini dalam kebijakan nasional. Ekonomi dan Ekologi Harus Berjalan Seimbang Sultan mengakui bahwa penerapan kebijakan berbasis ekologi tidak mudah. Namun, upaya menuju sistem demokrasi hijau harus terus dijaga agar bisa diterapkan hingga pemerintahan mendatang. “Menyiapkan generasi masa depan itu penting, tapi pada saat yang sama kita harus memastikan kebijakan negara tidak hanya fokus pada ekonomi, melainkan juga ekologi. Keduanya harus berjalan paralel,” ujarnya. Ia juga mengajak kader Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali etika politik dan tanggung jawab moral dalam membangun bangsa. “Energi kolektif adalah gotong royong dalam makna paling mulia: kesadaran bahwa perubahan sejati lahir dari kerja bersama,” terang Sultan. DPD RI Tegaskan Komitmen Politik Etik dan Berkelanjutan Sultan menegaskan, DPD RI berkomitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, sosial, dan ekologis. Sebagai lembaga perwakilan daerah, DPD RI memastikan kebijakan nasional berpihak pada rakyat serta menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal. “Itulah bentuk politik etik, politik yang sejalan dengan perjuangan Muhammadiyah — menegakkan amar ma’ruf nahi munkar melalui sistem, bukan sekadar slogan,” imbuhnya. Ia menambahkan, dalam mencetak pemimpin masa depan, penting menanamkan nilai, gagasan, dan tindakan yang membawa kehidupan. “Kader IMM harus menjadi generasi yang tidak hanya pandai berpolitik, tetapi juga berjiwa negarawan — pemimpin yang menyeimbangkan antara kekuasaan dan keberlanjutan,” ujarnya. Sultan mengajak seluruh kader IMM menjadikan Tanwir ke-33 IMM sebagai momentum memperkuat semangat kebangsaan yang berlandaskan iman, ilmu, dan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. “Saya yakin dari Tanwir inilah akan lahir generasi pemimpin muda Indonesia yang menjaga keseimbangan antara idealisme dan tanggung jawab, antara keberanian dan kebijaksanaan. Itulah energi kolektif untuk negeri — makna sejati dari Green Democracy,” tutupnya.
11 Dekan UMM Dilantik, Siap Jadi Penggerak Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi melantik 11 dekan baru untuk periode 2025–2029. Prosesi yang digelar di Aula BAU UMM pada Selasa, 30 September 2025 ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kampus putih, menandai estafet kepemimpinan dari periode sebelumnya kepada generasi baru. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Tohir Luth, MA., menegaskan bahwa jabatan dalam Muhammadiyah tidak boleh dipandang sebagai kehormatan pribadi, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan. Seorang dekan tidak cukup hanya berbekal kemampuan akademik, tetapi juga integritas moral dan keberanian mengambil keputusan. Kepemimpinan kampus, menurutnya, harus memberi keteladanan nyata bagi sivitas akademika. “Kepemimpinan adalah medan perjuangan. Ia harus dijalankan dengan kerja cerdas, ikhlas, dan penuh integritas, karena yang diemban bukan sekadar urusan administrasi, melainkan tanggung jawab terhadap umat dan institusi. Pemimpin sejati adalah mereka yang menggerakkan orang lain menuju kebaikan,” ujarnya. Anggota Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si., memandang pergantian dekan sebagai siklus penyegaran yang memungkinkan fakultas lebih adaptif menghadapi tantangan zaman. Ia menekankan bahwa peran dekan tidak hanya administratif, tetapi juga strategis dalam menentukan arah pengembangan fakultas. “Mereka ini berperan sebagai motor penggerak pengembangan akademik, riset, dan pembinaan mahasiswa. Arah fakultas lima tahun ke depan sangat ditentukan oleh kepemimpinan para dekan baru,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menggarisbawahi prinsip dasar kepemimpinan Muhammadiyah yang berakar pada tiga pilar utama yaitu memperkuat iman dan takwa, mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan melalui kesederhanaan. Ia menilai tiga hal tersebut harus menjadi fondasi utama bagi para dekan dalam merumuskan kebijakan fakultas maupun membimbing sivitas akademika. “Pemimpin fakultas harus hadir sebagai penggerak, bukan pemberi masalah. Kita ingin UMM melahirkan generasi cendekia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap masalah kemanusiaan dan siap berkontribusi di tingkat global,” jelasnya. Deretan dekan baru membawa misi besar di bidang masing-masing. Fakultas Agama Islam (FAI) kini dipimpin Dr. Imamul Hakim, SE., M.Sh., dengan agenda memperkuat tradisi keilmuan Islam dan moderasi beragama. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dinakhodai Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., yang berfokus pada pengembangan riset kebijakan publik dan jejaring politik global. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dipimpin Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., dengan fokus pada inovasi pendidikan guru di era digital. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) kini di bawah kepemimpinan Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, SE., M.E., Ph.D., yang menekankan kewirausahaan berbasis riset dan ekonomi kreatif. Pada bidang hukum, Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum., kembali dipercaya menakhodai Fakultas Hukum (FH) dengan komitmen pada hukum progresif yang berkeadilan. Fakultas Teknik (FT) dipimpin Dr. Ir. Sulianto, MT., dengan visi memperkuat kolaborasi industri dan daya saing teknologi global. Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) kini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Warkoyo, MP., yang berfokus pada riset pangan, energi, dan ketahanan lingkungan berbasis kearifan lokal. Fakultas Psikologi dipimpin Dr. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M.Si., dengan agenda pengembangan psikologi lintas budaya serta kesehatan mental masyarakat. Untuk bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK) dinakhodai Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD. yang berkomitmen memperkuat pendidikan kedokteran dan riset klinis. Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dipimpin Dr. Hidajah Rachmawati, S.Si., Apt., Sp.FRS., dengan fokus pada farmasi dan kesehatan masyarakat. Terakhir, Fakultas Vokasi dipimpin Dr. Lailis Syafaah, M.T., dengan komitmen memperluas pendidikan vokasi berbasis praktik yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui kepemimpinan baru ini, UMM meneguhkan tekadnya menjadi universitas yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif. Pergantian dekan tidak hanya sekadar rotasi jabatan, melainkan momentum strategis untuk mengokohkan UMM sebagai pusat keilmuan dan pengabdian yang memberi kontribusi nyata bagi bangsa maupun dunia. (vin/wil)
Tingkatkan Kualitas, Ratusan Peserta Dilatih Layanan Prima di UMM

Public speaking bukan sekadar keterampilan berbicara di depan umum, melainkan sebuah seni untuk membangun komunikasi lisan yang efektif, terarah, dan bermakna dengan audiens. Hal itu disampaikan Moqoddas Al Aslami sebagai pemateri dalam Pelatihan Service Excellence, 27 September ini. Acara kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) ini diikuti ratusan staf dan karyawan di lingkungan Kampus Putih. Selain Moqoddas, adapula Dian Budi Wijaksono yang memberikan paparan. Lebih lanjut, Moqoddas mengatakan bahwa public speaking adalah seni sekaligus ilmu yang menuntut penguasaan logika, emosi, serta kredibilitas agar pesan benar-benar sampai dan berkesan. Sejak era Socrates, public speaking telah menjadi sarana menemukan kebenaran, meraih kemenangan, sekaligus menjadi alat persuasi ilmiah. Terdapat tiga aspek utama dalam public speaking, yaitu ethos, pathos, dan logos. Ethos berkaitan dengan moralitas agar pembicara dipercaya, pathos menyentuh sisi emosional audiens, sedangkan logos menekankan pada rasionalitas dan argumen yang kuat. Ia menilai, kombinasi ketiga unsur itu akan membuat pesan tersampaikan lebih meyakinkan, karena berbicara jelas saja tidak cukup tanpa kehangatan emosi dan alasan logis. “Bahasa tubuh harus sejalan dengan pesan yang disampaikan agar kredibilitas tidak diragukan. Open palm gesture menandakan keterbukaan, sedangkan apex gesture digunakan saat menyampaikan informasi penting. Gestur yang tepat akan memperkuat pesan dan meningkatkan kepercayaan audiens,” ujarnya. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa hambatan komunikasi bisa muncul dari faktor fisik, psikologis, bahasa, budaya, maupun teknologi. Moqoddas menekankan pentingnya empati, kecerdasan emosional, serta latihan yang konsisten melalui diskusi atau workshop. Ia menutup dengan pesan bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan membangun koneksi. Public speaking, menurutnya, adalah keterampilan seumur hidup yang layak terus dikembangkan. Sementara itu Area Manager BSI Malang Waskito Vergino, MBA menjelaskan bahwa selama ini BSI tumbuh signifikan, baik dari kuantitas customer, dana, maupun pembiayaan-pembiayaan. Hal ini tak lepas dari bagaimana service excellence yang sudah dijalankan. Bagaimana layanan kepada masyarakat dan komunikasi yang baik. Ia juga menyanpaikan, sebagian orang saat kecil seringkali dimarahi ketika salah bicara dan ini membuat trauma. Pada akhirnya membuatnya tidak bisa memiliki public speaking dan berpengaruh pada layanan. “Maka, harapannya agenda ini bisa memberikan efek baik, baik itu tips-tips maupun cara memberikan layanan yang baik dan terbaik untuk mahasiswa, orangtua, bahkan masyarakat,” katanya. Hal serupa juga disampaikan oleh Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak, M.M. Menurutnya, acara ini juga menjadi bentuk sinergisitas antara UMM dengan BSI. Bagaimana bisa saling meningkatkan kualitas SDM dengan pelayanan prima terbaik. Juanda melihat, pelatihan service excellence ini menjadi sesuatu yang relevan. Terutama untuk teman-teman yang ada di front office yang nanti akan berhadapan dengan para mahasiswa hingga masyarakat. “Jika kita kerucutkan, ada tiga tugas utama dari core bisnis perguruan tinggi. Yakni menjemput, merawat, dan mengantarkan. Menjemput calon mahasiswa, merawat mahasiswa agar baik, dan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang mandiri dan siap kerja. Semoga acara ini bisa semakin menguatkan kualitas layanan,” katanya menambahkan. (wil)
Mberot Negatif Begini Hasil Riset Mahasiswa UMM yang Sebut Mberot Bisa Perkuat Karakter

Fenomena kesenian mberot di Malang Raya tengah menjadi sorotan. Popularitasnya kian meluas, tercatat ada sekitar 1.336 kelompok bantengan yang menaungi kesenian tersebut. Kesenian rakyat ini tidak hanya digemari masyarakat umum, tetapi juga diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar, generasi alpha. Namun, di balik maraknya pertunjukan, budaya mberot kerap dikaitkan dengan stigma negatif. Beberapa pentas justru berujung ricuh, adanya minuman keras, dan lainnya. Kondisi inilah yang menggerakkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menginisiasi riset dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Penelitian yang diketuai oleh Meilisa Tri Adinda Putri dengan anggota Febila Serlina Efendi, Fitriya Maharani, Ana Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani ini bertajuk ‘Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang’. “Selama ini mberot lebih sering dilihat dari sisi negatif, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang justru bisa membentuk karakter anak-anak,” ujar Meilisa. Menurutnya, melalui pendekatan penelitian yang tepat, kesenian ini berpotensi menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual sekaligus melestarikan budaya lokal. Dalam riset tersebut, tim menggunakan metode Gioia, sebuah teknik analisis kualitatif yang memungkinkan peneliti menggali data secara mendalam. Observasi lapangan dilakukan di Kabupaten Malang, antara lain Desa Tajinan dan Kecamatan Turen, serta di Kota Malang dan Batu. Para peneliti mewawancarai pelaku mberot usia sekolah dasar, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton pertunjukan. “Yang pertama dengan melibatkan adik-adik kita, yang paling utama adalah untuk memperkenalkan seperti apa sih kebudayaan kita yang utama ini, dengan harapan agar nanti kita tidak kehilangan budaya-budaya yang ada di Indonesia,” ujar pemilik sanggar mberot . Keterangan pemilik sanggar juga didukung dengan pernyataan pemain mberot dan penonton mberot yang merasa bahwa budaya mberot ini memiliki nilai positif seperti membuat anak lebih suka berosialisasi, tidak kecanduan gadget, dan melatih motorik kasar mereka. “Di tempat latihan, iya bareng-bareng. (ikut Mberot) Seru temannya banyak.” Ujar Reval, anak sekolah dasar di kota malang yang mengikuti kelompok budya mberot di daerahnya. Hasil penelitian mengungkap, nilai-nilai pambudi luhur yang terkandung dalam budaya mberot mencakup tiga aspek utama: nilai moral etika, kearifan lokal, serta nilai religius spiritual. Dari ketiganya, aspek moral etika dan kearifan lokal tampak lebih dominan. Temuan ini menjadi bukti bahwa mberot sesungguhnya tidak semata-mata soal atraksi fisik, melainkan ruang internalisasi nilai yang relevan bagi generasi muda. Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing riset, menegaskan pentingnya reposisi makna mberot. Menurutnya, jika hanya menyoroti perilaku-perilaku negatif saat pertunjukan, maka mberot akan terus dicap negatif. Padahal, ada filosofi pambudi luhur yang bisa digali. Mahasiswa perlu hadir untuk mengembalikan esensi budaya ini sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menawarkan strategi mitigasi untuk mengurangi potensi penyimpangan nilai dalam praktik mberot. Salah satunya dengan merumuskan panduan berbasis nilai pambudi luhur yang dapat diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar. Strategi ini diharapkan mampu mengarahkan generasi alpha agar menjadikan mberot sebagai wadah pembelajaran moral, sosial, dan spiritual, alih-alih hanya tontonan hiburan yang rawan disalahgunakan. (*/wil)
Riset Mahasiswa UMM Ciptakan Lapisan yang Bikin Tomat Lebih Tahan Busuk

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat produksi tomat nasional mencapai 1,15 juta ton, namun jumlah besar itu tersimpan masalah klasik yang merugikan. Yakni kerentanan tomat yang hanya mampu bertahan 3 hingga 7 hari setelah panen. Fenomena ini menyebabkan kerugian besar bagi para petani, sekaligus menghambat upaya ketahanan pangan. Berangkat dari keresahan tersebut, sebuah tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan sebuah solusi inovatif. “Kalau biasanya tomat hanya bertahan 3 sampai 6 hari, kami ingin membuatnya bisa segar hingga 20 hari lebih,” ujar Muti’ah Alawiyah, mahasiswa Teknologi Pangan UMM yang akrab disapa Tia. Bersama timnya yang terdiri dari empat orang, ia mengembangkan edible coating atau lapisan pelindung dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang melimpah yakni pati singkong dan ekstrak daun singkil. Inovasi ini berjudul Edible Coating Pati Singkong dengan Penambahan Ekstrak Daun Singkil sebagai Antibakteri untuk Peningkatan Umur Simpan Tomat. Ide ini lahir dari pengamatan sederhana, di mana tomat sebagai komoditas utama sering kali tidak sampai ke tangan konsumen dalam kondisi prima. Kerusakan pasca panen umumnya disebabkan oleh proses respirasi berlebih dan kontaminasi mikroba. “Kami ingin ada solusi yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diterapkan,” tegasnya. Edible coating yang dikembangkan ini berbentuk lapisan tipis transparan, mirip dengan plastik. Proses pembuatannya dimulai dari ekstraksi pati singkong. Pati ini kemudian dicampur dalam air, ditambahkan sodium alginat sebagai pembentuk gel, serta gliserol dan kalsium klorida untuk memperkuat lapisan. Setelah itu, ekstrak daun singkil dimasukkan ke dalam campuran. Larutan ini kemudian dicetak pada wadah datar dan dikeringkan menggunakan oven bersuhu rendah hingga menjadi lembaran tipis. Lapisan ini bekerja dengan cara yang cerdas. Saat diaplikasikan pada permukaan tomat, edible coating ini bertindak sebagai penghalang mikroba dan udara berlebih. Kandungan flavonoid, saponin, dan tanin dalam daun singkil memiliki sifat antibakteri yang mampu menekan pertumbuhan bakteri perusak. Selain itu, lapisan ini memperlambat laju respirasi tomat, sehingga buah tidak cepat keriput. Berdasarkan hasil sementara dari penelitian yang telah mencapai 80%, tomat yang dilapisi masih segar hingga hari ke-10, jauh lebih lama dibandingkan tomat tanpa pelapisan. Selama proses penelitian, Tia dan timnya mendapat bimbingan intensif dari dosen pendamping, Hanif Alamudin Manshur, S.Gz., M.Si. Keunggulan inovasi ini tidak hanya sebatas memperpanjang umur simpan tomat. Lapisan pelindung ini menarik karena menggunakan bahan-bahan lokal yang melimpah, mudah ditemukan, dan murah, seperti pati singkong. Selain itu, pemanfaatan daun singkil yang jarang diteliti menjadikannya sebuah kebaruan ilmiah. Sifatnya yang ramah lingkungan juga menjadikannya pilihan ideal sebagai pengganti plastik konvensional. Lapisan ini sepenuhnya biodegradable dan aman untuk dikonsumsi karena terbuat dari bahan pangan. “Kalau selama ini masyarakat bergantung pada plastik atau bahan kimia impor, edible coating ini justru memanfaatkan potensi lokal yang murah dan efektif,” terang Tia. Ia berharap penelitian ini dapat berkontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional dengan mengurangi kerugian petani dan membuka peluang pengembangan bahan alami untuk pengawetan produk segar. (ali/wil)