Gaet BAZNAS, UMM Dirikan Z-Coffee Wadah Entrepreneur Muda

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan mahasiswa dan pemberdayaan ekonomi umat. Salah satunya melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Malang. Kerja sama ini diwujudkan dengan peresmian kewirausahaan dalam bidang FnB yakni coffe shop yang diberi nama Z-Coffee di lingkungan kampus, 23 September 2025. Acara ini berlangsung di Kantin Asri, depan Gedung Student Center UMM yang dihadiri oleh pimpinan universitas, Kepala BAZNAS, serta jajaran biro dan unit di lingkungan UMM. Grand launching ini menandai dimulainya operasional kedai kopi yang tidak hanya berorientasi komersial, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan praktik bisnis bagi mahasiswa, sekaligus menyalurkan keuntungan untuk program zakat. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi ini selaras dengan visi UMM, untuk menciptakan lulusan yang unggul dan mandiri. Kedai Z-Coffee ini bukan sekadar tempat jual-beli kopi. Ini adalah laboratorium bisnis nyata bagi mahasiswa. Mereka dapat terlibat langsung mulai dari manajemen, operasional, hingga pengembangan produk. “Sesuai dengan tagline UMM yaitu UMM Pasti salah satunya adalah harus mandiri, kita juga harus memastikan anak yang kita didik ini kedepannya harus mandiri. Ciri-ciri mandiri bagi seorang mahasiswa adalah berprestasi yang dibimbing oleh dosen-dosen yang berkualitas,” katanya. Sementara itu, Kepala BAZNAS Kota Malang, Prof. Dr. Kasuwi Saiban, SH., M.Ag., mengapresiasi inisiatif dan komitmen UMM. Dia menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk pendayagunaan zakat yang produktif dan berkelanjutan. Melalui Z-Coffee, dana zakat tidak hanya disalurkan secara konsumtif, tetapi ditanamkan dalam sebuah usaha yang produktif. Keuntungan yang diperoleh akan dikembalikan untuk program-program pemberdayaan mustahik (penerima zakat) lainnya di Kota Malang. “Ini adalah model pemberdayaan ekonomi syariah yang kita bangun bersama,” ungkapnya. Sementara itu, Novi Puji Lestari, SE., MM., mewakili Pembina Kewirausahaan UMM, yang juga terlibat langsung dalam pendampingan project ini menambahkan, konsep Z-Coffee dirancang untuk memberikan pengalaman yang sesuai dengan lapangan kerja. “Mahasiswa akan kami libatkan dalam seluruh rantai nilai, dari sourcing biji kopi, roasting, branding, hingga marketing. Kami ingin menumbuhkan mental entrepreneur sejati, yang mampu melihat peluang dan mengelola risiko. Kehadiran BAZNAS sebagai partner strategis memberikan nilai lebih, yaitu integrasi nilai-nilai keislaman dan ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam,” paparnya. Kedai Z-Coffee yang berlokasi strategis di jantung kampus UMM ini diharapkan dapat menjadi destinasi baru bagi civitas akademika UMM dan masyarakat umum. Ke depannya, selain menawarkan berbagai varian kopi, kedai ini juga akan menjadi pusat kegiatan diskusi dan workshop kewirausahaan. Peresmian Z-Coffee menjadi bukti nyata sinergi antara institusi pendidikan dan lembaga zakat dalam mencetak entrepreneur muda yang berdaya saing dan berakhlak mulia. (nam/wil)

Dukung SDGs, UMM Bekali Mahasiswa Wawasan Berkelanjutan

Sebagai salah satu pionir kampus hijau, UMM menghadirkan pembelajaran keberlanjutan yang terintegrasi di segala lini. Tahun 2025, UMM resmi menjalankan program Mata Kuliah Wajib ‘Wawasan Keberlanjutan’ melalui kurikulum lintas disiplin bagi seluruh mahasiswa semester 1. Ini sejalan dengan komitmen Kampus Putih dalam mewujudkan cita-cita global dalam konsep Living laboratory yang berfokus pada isu Sustainable Development Goals (SDGs) di berbagai bidang. Menariknya, program ini tak hanya lintas disiplin, tetapi juga berupa proyek aksi nyata bersama masyarakat. Mahasiswa juga diajak berperan aktif dalam berbagai gerakan hijau, kesehatan, dan sosial. Fokus topik pembahasan yang disampaikan antara lain: One Health melalui pendekatan kesehatan terpadu, Ecosystem Restoration Decade (2021–2030), UNEP Regional Seas Programme, Global Adaptation Network (GAN), dan SDGs. Perkuliahan satu semester ini dibagi menjadi dua batch, yakni pembelajaran berbasis wawasan dan teori hingga pertengahan masa perkuliahan, kemudian dilanjutkan dengan project-based learning. Lebih lanjut, Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran UMM Zulfatman, M.Eng., Ph.D., mengungkapkan bahwa isu SDGs adalah tanggung jawab bersama yang harus terus digerakkan dari generasi ke generasi. Untuk itu, UMM sebagai perguruan tinggi yang turut menyuarakan SDGs juga berkomitmen dan berkontribusi penuh melalui aksi nayata mahasiswa dan dosen. UMM merasa perlu mengambil peran penting dalam mendidik mahasiswa agar memahami serta mampu mengimplementasikan nilai keberlanjutan dalam kehidupan nyata.  “Tidak hanya sekadar wawasan, mahasiswa akan diajak aktif menyuarakan dan menggerakkan aksi sederhana namun berdampak sesuai bidang keilmuannya,” terang Zulfatman. Mata kuliah wajib ini dirancang komprehensif, mengombinasikan 17 tujuan SDGs dengan fokus utama pada lingkungan, kesehatan, dan sosial. Tujuannya tidak lain adalah membangun karakter lulusan Kampus Putih kaya akan wawasan kebangsaan, keberagamaan, serta berwawasan global. Output perkuliahan pun bervariasi, mulai dari video, animasi, hingga kampanye kreatif melalui media sosial dan aksi nyata. Sebelum diterapkan, dosen pengampu telah dibekali melalui workshop dan pedoman perkuliahan yang detail. Menurutnya, komponen penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah keseimbangan sinergi antara knowledge dan behavior yang ditransfer oleh dosen kepada mahasiswa. “Suasana perkuliahan yang nyaman itu dimana para pengajar mampu mentrasfer knowledge (wawasan) dengan energy positif kepada mahasiswa. Ini juga menjadi komponen penting agar knowledge yang disampaikan dapat terefleksi dengan baik oleh mahasiswa,” ujarnya. Terkahir, Ia berharap, hadirnya mata kuliah ini tak hanya memperkuat karakter lulusan yang berwawasan nasional dan religius, tetapi juga memiliki pandangan global. Lebih dari itu, keberadaannya diharapkan mampu memperkuat kontribusi UMM dalam kampanye keberlanjutan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. (din/wil)

Kembali Dipercaya Kementerian, Dosen UMM Kembangkan Teknologi Budidaya Pisang dan Melon di Pandaan

Mengabdi untukk negeri jadi salah satu kegiatan yang terus dijalankan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Termasuk yang dilakukan oleh tim pengabdian Program Desa Binaan (PDB) yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. IPU. di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Pasuruan. Berkat kiprahnya yang bagus, tim ini kembali dipercaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melanjutkan program di tahun ketiga. “Untuk tahun ini, kami akan fokus pada pengembangan tanaman pisang. Jadi kami mengembangkannya menjadi 2 hektar dengan tiga jenis tanaman pisang. Yakni pisang Radja nangka, pisang radja bulu dan pisang cavendish. Tentu, prosesnya akan menggunakan teknologi agar memudahkan para warga dan petani,” katanya. UMM tidak hanya mengembangkan dan mendampingi, tapi juga memperkenalkan metode menggunakan teknologi. Yakni dengan menjalankan program smart farming di desa binaan ini. Sehingga, para warga tidak hanya paham menanam pisang, tapi juga paham memanfaatkan teknologi untuk memudahkan kehidupan. Selain itu, Sujono dan tim juga mengembangkan budidaya tanaman melon di greenshouse seluas 50×11 meter. Menariknya, ada beberapa keunggulan yang ditonjolkan dalam budidaya ini, yaitu menggunakan metode hidroponik dengan sistem smart farming. Adapun untuk sistem irigasi penyediaan nutrisi tanaman dikendalikan secara digital dengan handphone, sehingga tidak dilakukan secara manual lagi. Pengembangan tanaman melon dan tanaman pisang ini menjadi upaya menguatkan ciri khas nama desa yaitu “Sumbergedang”. Hal ini untuk mempercepat realisasi perwujudan Desa Sumbergedang menjadi desa mandiri dan sejahtera melalui pengembangan agrowisata desa. “Untuk membekali segenap sumberdaya pengelola desa maka dilakukan sederet pelatihan. Mulai dari budidaya tanaman melon secara Hidroponik dengan sistem Smart Farming, pembibitan secara kultur dan perawatan  tanaman pisang, dan model pelayanan wisata yang humanis,” pungkasnya menambahkan. Harapannya, ini menjadi proses yang strategis. Utamanya agar agrowisata desa mampu memberdayakan masyarakat desa untuk membangun semangat wirausaha melalui pengembangan UMKM kuliner desa (*/wil)

Tim UMM Sulap Daun Mangga Jadi Pelapis Telur, Awet Tanpa Ubah Rasa

Siapa sangka, daun mangga tua yang sering dianggap sampah ternyata bisa menjadi kunci untuk membuat telur lebih awet dan aman dikonsumsi. Inilah yang dibuktikan oleh tim PKM-RE UMM yang berhasil mengubah limbah potensial menjadi lapisan pelindung canggih untuk salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Permasalahan masa simpan yang pendek dan tingginya risiko kontaminasi bakteri pada telur menginspirasi lima orang mahasiswa untuk menciptakan solusi inovatif berbasis bahan alam. Tim dengan dosen pembimbing Apriliana Devi Anggraini,  S.Pt., M.Sc dan diketuai oleh Wirayuda Ahmad Yoga Bimantara dari Fakultas Pertanian Peternakan ini berhasil mengembangkan bio-coating. Ini merupakan lapisan pelindung alami dari ekstrak daun mangga (Mangifera Indica) yang terbukti mampu mempertahankan kualitas telur lebih lama. Penelitian yang terwadahi dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) ini menjawab tantangan besar dalam rantai distribusi telur. Kualitas telur umumnya mulai menurun drastis dan rentan terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella setelah melewati hari ke-14. Solusi yang ditawarkan adalah lapisan antimikroba yang dibuat dari isolat flavonoid daun mangga golek tua, yang diketahui memiliki kandungan flavonoid tinggi. Isolat ini kemudian dicampurkan dengan kitosan untuk menghasilkan larutan pelapis. Prosesnya terbilang sederhana namun melalui tahapan ilmiah yang ketat. Setelah daun mangga diekstraksi, kandungan flavonoidnya diverifikasi melalui Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan diperkuat dengan Uji FTIR. Tim kemudian membuat tiga variasi konsentrasi larutan pelapis, yaitu 6% (P1), 6,25% (P2), dan 6,5% (P3). Telur segar dari peternakan UMM kemudian dicelupkan ke dalam masing-masing larutan selama lima detik dan disimpan selama 14 hari. Uji coba kualitas telur yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2025 menunjukkan hasil yang menjanjikan. Keunggulan utama dari inovasi ini terletak pada keamanannya. Metode pengawetan lain seperti penggunaan natrium silikat berisiko meninggalkan bahan kimia berbahaya. Sementara itu, penggunaan kapur dapat meninggalkan residu dan minyak kelapa dianggap relatif mahal untuk produksi skala besar. Sebaliknya, bio-coating dari daun mangga ini sepenuhnya alami, ramah lingkungan, dan terjangkau. Satu hal yang tak kalah penting, hasil uji organoleptik pada 27 Agustus 2025 membuktikan bahwa lapisan pelindung ini sama sekali tidak mengubah rasa asli telur. Tim yang diketuai oleh Wira ini berharap inovasi mereka tidak berhenti di laboratorium. “Kami berharap penelitian ini dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri. Mengingat telur rentan terhadap kontaminasi mikroba, produk bio-coating kami menawarkan solusi yang aman dan sejalan dengan isu ramah lingkungan yang kini banyak diminati perusahaan. Dan Kami berharap dapat lolos ketahap PIMNAS.” Ujarnya. (bil/wil)

Lebarkan Sayap Internasional, UMM dan Universiti Malaysia Sabah Selenggarakan ICAS

Pertemuan mahasiswa aktivis lintas negara kini menjadi agenda nyata di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui International Conference of Asian Students (ICAS) 2025, UMM dan Universiti Malaysia Sabah (UMS) menghadirkan program pertukaran yang tidak hanya fokus pada diskusi akademik, tetapi juga pada penguatan kapasitas kepemimpinan dan jejaring organisasi kemahasiswaan. Selama empat hari, sejak 14 hingga 18 September 2025, puluhan mahasiswa aktivis UMS bersama lima dosen pendamping hadir di kampus UMM untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar ide mengenai dinamika organisasi kemahasiswaan, khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Senat Mahasiswa Universitas (SEMU) di kedua universitas. Program ini menjadi kerja sama UMM dan UMS dalam ranah pengembangan kepemimpinan mahasiswa. Rangkaian kegiatan dimulai dengan konferensi internasional yang menghadirkan stadium general serta call for paper dari mahasiswa UMM maupun UMS. Para peserta mempresentasikan hasil penelitian dengan tema besar keberlanjutan, sesuai dengan tema konferensi Moving Forward for Sustainability. Dr. Ahmad Norazhar Bin Mohd. Yatim, Principal Tun Pangiran Ahmad Raffae Residential College UMS sekaligus Chairperson of MAPEK, menekankan pentingnya forum ini bagi penguatan jaringan mahasiswa Asia. Menurutnya, konferensi ini memberikan jalan berharga untuk memperkuat jaringan regional di antara mahasiswa Asia. Di sinilah wadah bertukar ide, membahas masalah global maupun regional, serta menabur benih kolaborasi yang akan menguntungkan generasi masa kini dan mendatang. Tidak hanya sebatas diskusi akademik dan organisasi, peserta juga diajak mengenal lebih dekat budaya Indonesia. Pada hari ketiga, rombongan mahasiswa UMS diajak mengunjungi sejumlah destinasi budaya dan wisata di Malang Raya, seperti kampung Topeng, candi-candi bersejarah, hingga kawasan wisata di Kota Batu. Melalui kunjungan tersebut, mereka diharapkan dapat memahami konteks sosial dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Indonesia. Ke depan, kerja sama ini tidak hanya berhenti pada kunjungan UMS ke UMM. Pihak panitia merencanakan adanya kunjungan balasan mahasiswa UMM ke UMS di Malaysia. Selain itu, kerja sama akan diperluas ke ranah lain, termasuk peluang credit transfer dan program peningkatan kapasitas aktivis mahasiswa di bidang kepemimpinan dan manajemen organisasi. “Harapannya, program ini bisa terus berlanjut. Bukan hanya soal silaturahmi, tapi juga wadah belajar bersama, baik dari sisi budaya, keilmuan, maupun pengembangan organisasi. Bahkan ke depan, kami ingin memperkuat kolaborasi di bidang akademik dan pengembangan kapasitas mahasiswa,” ujar Zainul Anwar, M. Psi. selaku ketua panitia pada ICAS 2025. Kolaborasi ini menjadi tonggak awal hubungan strategis antara UMM dan UMS, sekaligus membuka jalan bagi mahasiswa kedua kampus untuk memperluas wawasan kepemimpinan, memperkaya pengalaman lintas budaya, dan memperkuat jejaring internasional. (vin/wil)

FPP Tanamkan Jiwa Nasionalis Lewat Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara

Dalam rangka melatih mental berjuang dan disiplin, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Pendidikan dan Latihan Bela Negara bagi para mahasiswa baru 2019. Bekerja sama dengan Rindam V Brawijaya, agenda ini diselenggarakan selama satu minggu. Rivana Alsya Firrizqi, mahasiswa baru Agro Teknologi mengungkapkan rasa gembira dapat turut serta dalam agenda tersebut. “Ini pelajaran yang sangat berarti,” tuturnya. Selama tujuh hari di kamp (8-14 September), mahasiswa yang akrab disapa Rivana ini merasa nyaman karena dapat lebih akrab dengan kawan-kawan seangkatannya. Walaupun tak diperbolehkan membawa alat komunikasi, Rivana tetap senang dapat menjalin komunikasi intens. “Kami ingin mahasiswa baru punya dasar mental yang kokoh,” kata Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM, dekat FPP saat didaulat menjadi inspektur upacara penutupan. Ia juga mengajak para mahasiswa untuk terus sadar kepada kondisi riil dalam lingkup pertanian. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang mampu menyediakan pangan secara masif bersama Kongo dan Brazil. Namun, menurutnya masih banyak ketidakadilan yang sedang terjadi di dunia pertanian dan peternakan umumnya. “Galilah ilmu sedalam mungkin, ambil semua ilmu yang ada UMM lalu pulanglah ke Desa dan perkuat ketahanan pangan nasional yang hebat,” tuturnya. Baginya, mahasiswa FPP punya peran besar dalam perkembangan Indonesia melalui pertanian dan peternakan. David berharap melalui Pendidikan dan Latihan Bela Negara dapat menanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Hal tersebut tak lain dan tak bukan semata-mata hanya untuk menguatkan tujuan berilmu adalah demi mensejahterakan dan memakmurkan Indonesia bersama-sama. Senada dengan David, Kolonel Inf. Dendi Suryadi, S.H., M.H. mengatakan jika ia teramat gembira melihat wajah berseri-seri mahasiswa pasca pelatihan selesai dilaksanakan. “Saya melihat wajah Soekarno-Seokarno muda,” pujinya pada para mahasiswa FPP. Ia berpesan agar para mahasiswa terus menjaga segala kebiasaan baik yang telah dipelajari selama pelatihan. Utamanya dalam beribadah. Di akhir pidato ia pun tak lupa mengingatkan mahasiswa untuk menyertakan Tuhan Yang Maha Esa pada setiap perjuangan yang ditempuh. “Jangan lupa sertakan Tuhan ya,” ungkapnya. (mir/can)

Mahasiswa UMM Bikin Smart Farming atasi Hama Tikus dan Burung tanpa Zat Kimia

Serangan tikus dan burung kerap menjadi momok bagi petani padi di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Selama ini, petani setempat masih mengandalkan cara tradisional untuk mengusir hama, mulai dari jebakan hingga penggunaan pestisida kimia yang justru menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program PPK Ormawa menghadirkan inovasi teknologi pertanian modern yang diharapkan bisa menjadi solusi berkelanjutan. Inovasi yang didanai Kemdiktiristek itu berupa Integrasi Smart Farming 5.0 berbasis SolarSonic IoT Guard, sebuah alat cerdas yang membantu petani mengendalikan hama tikus dan burung secara efisien serta ramah lingkungan. Produk ini dikembangkan oleh Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) UMM dengan dukungan dosen pembimbing dan kelompok tani setempat. Melalui teknologi ini, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa pertanian bisa dikelola lebih modern tanpa harus merusak ekosistem. Ketua Himagri UMM, Galih Raka Yudistira, menjelaskan bahwa alat tersebut dirancang agar petani lebih mudah dalam menjaga tanaman padinya. “SolarSonic IoT Guard bekerja otomatis dan dapat dikendalikan lewat aplikasi. Jadi, petani tidak perlu lagi bergantung pada cara konvensional yang kadang tidak efektif. Dengan teknologi ini, hasil panen diharapkan lebih aman dari serangan hama,” ungkapnya. Produk inovatif tersebut dibekali dengan empat komponen utama. Pertama, Raspberry sebagai mikrokontroler yang mengatur sistem. Kedua, panel surya dan baterai sebagai sumber energi terbarukan sehingga bisa beroperasi 24 jam penuh. Ketiga, kamera thermal yang mampu mendeteksi perbedaan suhu tubuh hama dengan lingkungan sekitar. Keempat, speaker ultrasonik yang memancarkan gelombang suara khusus untuk mengusir hama tanpa merusak lingkungan. Alat Smart Farming 5.0 ini beroperasi secara otomatis sepanjang hari dengan dukungan energi dari panel surya dan baterai. Pada malam hari, kamera thermal aktif untuk mendeteksi tikus, dan apabila terdeteksi, speaker pengusir tikus segera bekerja hingga pagi. Sementara pada pagi hingga sore, sistem beralih ke mode pengusir burung, di mana speaker burung menyala secara periodik untuk menjaga sawah tetap aman. Seluruh mekanisme berjalan mandiri, sehingga petani hanya perlu memantau data atau menyesuaikan volume melalui aplikasi IoT sesuai kebutuhan. “Sistem ini dirancang adaptif sehingga dapat diperbarui seiring waktu. Hal ini penting karena tikus merupakan hewan pintar yang mudah beradaptasi terhadap gangguan berulang, sehingga pola penyalaan maupun frekuensi suara dapat diubah agar efektivitas alat tetap terjaga dalam jangka panjang,” katanya. Di sisi lain, tim mahasiswa juga menghadapi berbagai tantangan teknis. Beberapa komponen harus dibeli di luar Malang karena sulit ditemukan di daerah setempat. Biaya pengadaan komponen yang relatif tinggi pun menjadi kendala tersendiri. Selain itu, tim memerlukan waktu lebih untuk mempelajari integrasi sistem IoT, termasuk pemrograman image processing agar deteksi hama berjalan optimal. “Meski demikian, kerja keras itu membuahkan hasil yang menjanjikan. Alat ini mampu menekan kerugian akibat hama, meningkatkan hasil panen, sekaligus lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan pestisida kimia,” katanya. Manfaat program juga dirasakan mahasiswa. Menurut Galih, keterlibatan mahasiswa dalam perencanaan hingga monitoring menjadi pengalaman penting untuk melatih kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan manajerial. Mereka belajar bagaimana berkolaborasi dengan masyarakat, sekaligus memastikan bahwa ilmu yang mereka pelajari benar-benar bermanfaat secara nyata. (wil)

Pakar Komunikasi Eropa Paparkan Pandangannya di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu memberikan eksposur internasional bagi mahasiswanya. Salah satunya yang dilakukan oleh prodi Ilmu Komunikasi yang kedatangan dosen dari Babeş-Bolyai University, Rumania yakni Delia Pop-Flanja sejak 23 September lalu. Kehadiran dia juga merupakan bagian dari skema Erasmus Mundus di mana UMM juga masuk di dalamnya. Ia juga diajak berdiskusi terkait peluang kerjasama serta didapuk menjadi pembicara di Inagurasi School of Creative Digital Communication UMM, 24 September lalu. Di momen inagurasi itu, Delia, sapaan akrabnya, menjelaskan bagaimana pandangan di eropa timur terkait raktisi profesional di bidang komunikasi. Khususnya dalam aspek media sosial. Menurutnya, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan yakni critical thinking, creativity, dan juga nilai lokal serta global. Aspek-aspek itulah yang dibahas di depan para mahasiswa Kampus Putih. Menurutnya, UMM memiliki kampus yang hijau dan segar. Selain itu memiliki kurikulum dan fisik yang bagus, termasuk prodi Ilmu Komunikasinya yang memang fokus pada digitalisasi. Bahkan ia juga kagum dengan banyaknya mahasiswa yang turut belajar di Kampus Putih. Delia menilai, kurikulum yang dilaksanakan di UMM tergolong advance dan cukup kompleks dibandingkan di Rumania. Ini menjadi bahan menarik untuk didiskusikan dan dikaji lebih dalam. “Kemarin juga sudah berdiskusi dengan teman-teman UMM terkait kerjasama yang bisa dilakukan. Mulai dari pertukaran pelajar, jurnal, summer school, bahkan konferensi. Semoga bisa dijajaki dan dijalankan di masa depan,” katanya. Di sisi lain, Ketua prodi Ilmu Komunikasi UMM Nasrullah, M.Si. menjelaskan kedatangan Delia merupakan bagian dari benchmarking kurikulum. Baik itu kurikulum di Rumania dengan UMM maupun sebaliknya. “Ia juga tertarik bagaimana Ilmu Komunikasi UMM memiliki tiga spesialisasi. Mulai dari PR and creative branding, journalism and creative media, hingga audio visual communication creative. Begitupun dengan progra di laboratorium yang tidak hanya berkegiatan di dalam lab, tapi juga di masyarakat. Mulai dari melangsungkan event hingga menggarap film,” katanya. Nasrullah melanjutkan, ada beberapa aspek yang dikerjasamakan dengan Delia dan kampusnya. Sejauh ini, Delia setuju untuk menjadi reviewer jurnal, kemudian juga mengajar kelas-kelas internasional yang ilmu komunikasi UMM miliki. Apalagi memang Ilkom Kampus Putih sudah memiliki kelas internasional sejak angkatan 2022. “Jadi, Delia akan mengampu mata kuliah yang fokus pada kajian perkembangan ilmu komunikasi di era digital. Utamanya dalam perspektif ilmuwan eropa. Selain itu, untuk kerjasama jangka panjang dengan universitas di Rumania yang bisa dilakukan seperti short course, credit transfer, double degree, dan lainnya. Jadi mahasiswa bisa dapat dua gelar, satu dari UMM satu dari kampus Rumania,” katanya mengakhiri. (wil)

Mahasiswa UMM Ajari Hidroponik, Dorong Warga Wujudkan Ketahanan Pangan

Turut membantu pemerintah dalam bidang ketahanan pangan, tim KKN Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ajari warga Desa Wonorejo, Srengat, Kabupaten Blitar terkait cara menanam secara hidroponik. Pelatihan tersebut dilaksanakan 7 Agustus lalu dan diikuti puluhan ibu-ibu warga desa. Menariknya, mereka menggunakan barang-barang bekas sebagai media hidroponik. “Kami tidak hanya mengajari, tapi juga memberikan penjelasan apa saja manfaatnya serta peluang yang bisa diciptakan dari metode ini. Warga diberikan wawasan bahwa hidroponik mampu menjadi solusi bercocok tanam bagi mereka yang memiliki lahan terbatas, sekaligus menyediakan sayuran segar yang sehat untuk keluarga,” kata Bela Amanda Sari selaku ketua tim. Setelah sesi penyampaian materi di Balai Desa, kegiatan dilanjutkan di lapangan voli Desa Wonorejo. Di tempat terbuka tersebut, Bela dan tim memperlihatkan contoh tanaman hidroponik yang sudah siap tumbuh, menjelaskan proses pembuatannya, dan membagikan tanaman hidroponik kepada peserta. Suasana lapangan tampak ramai, dengan warga yang penasaran memeriksa bentuk media tanam, bibit sayuran, dan cara merawatnya. Bela mengatakan, permasalahan yang ditemukan dalam kegiatan ini adalah sebagian besar para warga masih bertahan pada metode tanam tradisional dan belum mencoba hidroponik. Kendala seperti kurangnya pengetahuan, anggapan bahwa hidroponik rumit, serta minimnya akses terhadap bahan dan peralatan membuat inovasi ini belum populer. Sebagai langkah awal mengatasi masalah tersebut, mahasiswa UMM tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga menghadirkan bukti nyata berupa tanaman hidroponik yang dibagikan langsung kepada warga. Harapannya, ini bisa menjadi titik awal bagi masyarakat untuk mulai mencoba hidroponik di rumah dan membantu ketahanan pangan Indonesia. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan warga Wonorejo bisa lebih termotivasi untuk memulai gaya hidup sehat dari rumah, mengurangi ketergantungan pada pasar untuk mendapatkan sayuran segar, serta membuka peluang usaha baru di bidang pertanian modern. “Semoga apa yang kami lakukan bisa memberikan pengetahuan baru dan pengalaman baru. Dengan begitu, warga Wonorejo juga sekaligus bisa menjalankan program ketahanan pangan,” katanya. (*/wil)

UMM-Singapore Polytechnic Jalankan Program Internasional Lex sejak 10 Tahun lalu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat posisinya sebagai kampus global yang adaptif dengan menyelenggarakan program internasional tahunan Learning Express (Lex). Program ini merupakan hasil kerja sama antara UMM dengan Singapore Polytechnic (SP) yang telah terjalin sejak 2014 dan terus berlanjut hingga saat ini. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari kedua negara dalam kolaborasi proyek sosial berbasis metode design thinking. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa yang terlibat dalam program ini tidak hanya terjun langsung ke lapangan, namun juga dituntut untuk memahami kondisi sosial dan merumuskan solusi nyata untuk pengembangan UMKM lokal. Proses ini juga diiringi dengan pelatihan fasilitator serta sistem pendampingan intensif dari dosen muda yang dikirim ke Singapura setiap tahunnya. “Lex merupakan program pembelajaran kolaboratif, ajang pembelajaran kontekstual yang setara dengan KKN internasional. Program ini dirancang untuk mempertemukan 30 mahasiswa UMM dan 30 mahasiswa SP yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kerja lintas budaya dan lintas disiplin,” jelas Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP, Kepala International Relations Office (IRO) UMM. Menurutnya, mahasiswa yang ingin mengikuti program ini harus melewati seleksi terbuka yang diumumkan melalui akun Instagram IRO. Mereka menyaring mahasiswa berdasarkan kemampuan dasar berbahasa Inggris dan kesiapan komunikasi. Terdapat proses wawancara yang dilakukan oleh tiga fasilitator dan satu koordinator dari UMM. “Seleksi ini, juga mempertimbangkan semester perkuliahan karena program ini idealnya diikuti oleh mahasiswa semester dua hingga enam,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa program Lex memiliki tahapan kerja yang padat dan terstruktur. Kegiatan dimulai dari observasi lapangan di UMKM, lalu dilanjutkan dengan proses sense and sensibility, define, ideation, dan diakhiri dengan perancangan prototype. “Prototipe yang dirancang harus disetujui oleh pelaku UMKM, karena kami ingin solusi yang benar-benar bisa dijalankan, bukan sekadar gagasan ideal. Jadi para mahasiswa membuat prototipe berdasarkan kebutuhan UMKM,” ujarnya. Adapun untuk tahun ini, lokasi proyek tersebar di tiga titik: Kebun Strawberry, Tempat Pengolahan Sampah (TPS), dan Pondok Labu. Mahasiswa akan tinggal sementara di lokasi tersebut selama tiga hari untuk menggali persoalan yang paling mendesak. Setelah itu mereka melanjutkan diskusi di UMM. “Lex bukan hanya tentang menyumbang ide, tapi juga menjadi sarana untuk mengasah empati, ketelitian, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam waktu yang singkat namun intensif, dengan tujuan utama membentuk karakter yang adaptif secara global, percaya diri dalam komunikasi lintas budaya, dan mampu merespons permasalahan nyata dengan solusi yang aplikatif,” kata Listiari. Ia menekankan bahwa Lex menjadi ruang pembelajaran sosial yang menyeimbangkan akademik, komunikasi, dan kepekaan sosial dalam skala internasional. Ia berharap Lex tidak hanya menjadi program seremonial tahunan, tetapi pengalaman transformatif yang mampu mengubah cara pandang mahasiswa terhadap diri mereka sendiri dan dunia. “Banyak dari mereka yang setelah ikut Lex menjadi lebih berani mendaftar ke program internasional lain seperti Erasmus atau studi lanjut ke luar negeri. Bahkan hubungan dengan teman-teman dari Singapura pun sering berlanjut hingga bertahun-tahun,” ujarnya. Ia berharap dengan program ini agar mahasiswa UMM memanfaatkan Lex sebagai batu loncatan untuk melatih kepemimpinan, berani tampil di ranah global, serta percaya bahwa setiap masalah sosial selalu punya solusi—asal ada kemauan, empati, dan kerja sama lintas batas. (vin/wil)