Mahasiswa Hukum Dibekali Skill Jadi Advokat Profesional

Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Malang (FH-UMM) selalu berkomitmen untuk menjadikan mahasiswanya sebagai lulusan yang siap untuk di terjunkan di dunia kerja. Hal ini ditunjukan melalui pemberian ide, program dan kegiatan yang bervariasi mengikuti dengan perkembangan dan kebutuhan. Bersama laboratorium Hukum, salah satu program yang dilakukan ialah mengadakan Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum (PLKH) sebagai materi kuliah yang harus ditempuh mahasiswa hukum setiap semester dengan jumlah 2 SKS. Dengan menyajikan tema yang berbeda di tiap semester, kali ini PLKH I dan III mengusung tema Legal Managerial dibawakan oleh Dr. Soehartono Soemarto dari Law Firm Soehartono Soemarto & Rekan, S.H., M.Hum dan tema Mediasi oleh Judi Prasetyo, SH., M.H. dari Pengadilan Negeri Malang, (28/9). Diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2016, seminar ini diselenggarakan di Seminar Room GKB 4 Lantai 9 UMM. Pada materi pertama Soehartono membahas terkait kompetensi, kepribadian dan skill management dan suka duka menjadi seorang pengacara. Ceritanya berangkat dari pengalamannya sebagai seorang advokat selama 38 tahun. Lebih jauh, Soehartono menegaskan jika sudah berkecimpung di dunia pengacara, maka wajib hukumnya memperdalam masalah masalah yang hadir dalam masyarakat. “Jangan pernah langsung mempercayai apa kata client, kalian harus mencari tahu dari dua sisi dahulu baru bisa menyimpulkan” jelasnya. Dilanjutkan dengan materi ke dua, Judi yang juga selaku Wakil Ketua Pengadilan Negeri Malang menjelaskan, mediasi sendiri diartikan sebagai salah satu alrternatif penyelesaian sengketa yang dilakukan dengan 3 tahap, yakni pra, mediasi dan pasca mediasi dengan menandatangani kesepakatan 2 belah pihak. Ke dua topik tersebut sangat relevan untuk mahasiswa hukum dalam mempersiapkan banyak hal sebelum mereka magang dan terjun ke dunia kerja. Selebihnya, materi-materi yang sudah disampaikan akan dibawa ke lapangan seperti mengunjungi ke firma hukum terkait sebagai bentuk realisasinya. “Di kelas sendiri, mahasiswa juga mendapat materi terkait PLKH selama 3 hari dengan dosen masing-masing. Melalui PLKH mahasiswa mendapat kajian ilmu secara praktis langsung dari ahlinya”. Ujar Wahyudi Kurniawan, SH. M,Hli selaku Kepala Lab Hukum FH UMM. (yas/can)
Fakultas Agama Islam UMM Kolaborasi dengan Salah Satu Universitas Terbaik Dunia

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Tobroni dan Deputy Head of Department of Malay Studies (DMS), National University of Singapore (NUS), Prof Azhar Ibrahim Alwee menandatangani nota kesepahaman (Letter of Commitment of Action and Collaboration/LCAC) di bidang akademik, intelektualisme dan aktivisme mahasiswa. Hal-hal krusial yang dibahas di dalam nota kesepahaman (LCAC) ini, terkait dengan kolaborasi di bidang pertukaran dosen dan mahasiswa, kolaborasi riset, review kurikulum, reviewer jurnal internasional, serta pemberian beasiswa PhD. Banyak klausul yang disetujui keduabelah pihak, sebenarnya memberikan kesempatan dan manfaat yang lebih banyak bagi UMM. Peristiwa penting ini dihelat pada Senin 23 September 2019, bertepatan dengan agenda International Seminar and Sharing Session on Academic Culture and Student Activism in Malay-Indonesian Universities, yang diselenggarakan atas kerjasama antara Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM dan DMS NUS. Di samping Prof Tobroni dan Prof Azhar, hadir sebagai narasumber adalah Dr Pradana Boy ZTF (Dosen senior HKI, yang sekarang menjabat Asisten Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan Internasional) dan Dr (Cand.) Idaul Hasanah (Ketua Prodi HKI). Dalam kesempatan yang diselenggarakan di Seminar Room GKB 4 Lantai 4 tersebut, Prof Azhar menjelaskan bahwa Hanya dengan perjuangan intelektual yang sungguh-sungguh dan pencerahan moral yang kuat, ancaman-ancaman dan masalah-masalah yang masyarakat hadapi dapat diatasi. “Berarti, dengan demikian, kampus tidak hanya membahas perkara akademik, tetapi juga intelektualisme dan aktivisme yang solutif bagi masalah sosial kemanusiaan. Dalam konteks ini, mahasiswa juga harus terlibat aktif di dalamnya,” kata Azhar. Secara lebih jauh, Azhar menegaskan bahwa gerakan intelektual-akademik memerlukan kepemimpinan yang kuat. Dengan kepemimpinan yang kuat, maka aktivisme bisa bergerak dengan baik, signifikan dan bermanfaat. “Oleh karena itu, waktu luang yang kita miliki tidak boleh hanya dihabiskan untuk perkara akademik saja, namun juga non-akademik,” ungkapnya. Sementara itu menurut Pradana, Dunia aktivisme yang berjalan secara massif, harus mempertimbangkan pentingnya kesadaran kritis. Dengan kesadaran kritis, kita akan mampu berhadapan dengan penyebaran hoax dan semangat keagamaan yang berlebihan (takfir atau pengafiran). Terlebih bahwa, kita hidup di era perkembangan teknologi informasi yang maju dan trend pasca kebenaran (post-truth). Di sisi lain, Dr (Cand.) Idaul mendorong para mahasiswa untuk mengasah kualitas intelektual dan aktivisme yang dimiliki. “Jika kita menguasai dua medan ini, maka kita memiliki kesempatan yang lebih besar dalam rangka berkonstribusi pada pembangunan bangsa dan negara. Bahkan, juga pembangunan peradaban kemanusiaan,” tuturnya. Bagian pamungkas pada program kolaboratif tersebut, banyak mahasiswa cum aktivis UMM yang berminat menyelesaikan tugas akhirnya di NUS dan dibimbing oleh para pakar di bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora. Di samping itu, para dosen muda juga berminat untuk melanjutkan studi doktoralnya di kampus yang menduduki ranking 12 dunia ini (NUS). Kedua program ini didukung penuh oleh NUS. (riz/can)
Mahasiswa UMM Bergerak ‘Padamkan’ Karhutla

Kabut asap yang menyelimuti Pulau Sumatera dan Kalimantan masih terus terjadi. Dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tersebut sangat mengganggu aktivitas warga. Bahkan, asap ini memberikan dampak pada kesehatan warga akibat menghirup udara yang tercemar. Dalam menanggapi bencana ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) dan Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi galang dana pada 27 September hingga 4 Oktober. Penggalangan dana ini dilakukan d sekitar Kampus II dan III UMM. Penggalangan dana saat ini tidak hanya dilakukan oleh SEMA dan BEMU saja. Namun juga mengajak senat fakultas dan BEM fakultas. Bekerjasama dengan Persatuan Mahasiswa Jambi Universitas Negeri Malang juga, di hari Minggu (29/9) akan melakukan penggalangan dana di Car Free Day, Jalan Ijen. Ramdhan Noor Putra Wira Utama, Ketua Komisi Eksternal SEMA UMM mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk aksi nyata dalam kepedulian terhadap saudara yang terkena dampak Karhutla. “Harapan kami mahasiswa begitupula masyarakat selalu peduli terhadap sesama saudara dan turut andil dalam pemecahan permasalahan bangsa saat ini. Tentunya sebagai saudara setanah air, kita wajib membantu sesuai dengan kemampuan,” sebut mahasiswa yang akrab dipanggil Putra ini. Tidak hanya kepedulian masyarakat saja, Putra juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah. Ia berharap pemerintah harus bertindak tegas dalam penanganan kasus tersebut yang sangat meresahkan masyarakat. “Penindakan tegas ini terutama pada oknum ataupun korporasi terkait yang menjadi tersangka yang terindikasi bertujuan untuk pembukaan lahan baru,” sebut Putra. Rencananya, dana yang terkumpul akan disalurkan ke Lembaga Amil Zakat Lazismu Kabupaten Malang. Harapannya dengan bantuan yang disalurkan melalui lembaga tersebut dapat dikelola sesuai kebutuhan di sana. “Kami juga berharap apa yang kami lakukan ini bermanfaat untuk saudara-saudara yang ada di sana, itikad baik kami semoga diterima baik oleh masyarakat yang menerima bantuan. Walaupun tidak seberapa, kami selalu berusaha untuk berbuat kebajikan,” pungkas Putra. (bel/can)
Atlet UMM Sabet Emas di POMNAS 2019

“Tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tidak dihargai,” jargon inilah yang selalu ditanamkan kepada seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Layaknya Marta Frily Adetya yang berhasil menyabet emas di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2019. Wanita yang akrab disapa Marta ini turun di cabang olahraga Kempo kategori Randori (tarung bebas) di kelas 55 kg, Kamis (26/9). Marta sendiri berhasil terpilih mewakili Provinsi Jawa Timur setelah dirinya menjadi yang terbaik pada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah Jawa Timur beberapa bulan yang lalu. Berlokasi di Gor Cempaka Putih Jakarta Pusat, Marta berhasil menjadi yang terbaik setelah menumbangkan perwakilan dari provinsi Lampung di partai final. Sebelumnya Marta harus berjuang melawan 19 peserta lain dari berbagai provinsi yang tersebar di Indonesia. Perhelatan yang digelar pada 24-26 september ini mengharuskan Marta untuk membuat strategi agar dapat menjaga kondisi fisik dan memenangkan pertandingan di setiap babaknya. Menurut wanita kelahiran Malang, 5 Januari 1998 ini, dirinya berhasil menjadi yang terbaik di perhelatan yang dinaungi RISETDIKTI ini lantaran belajar dari kegagalan yang dialami pada perhelatan yang sama di tahun 2017. “Yang paling membedakan adalah porsi latihan dan juga jam terbang. Alhamdulillah, untuk saat ini porsi latihan sudah lebih baik dan jam terbang juga semakin bertambah,” ungkap Marta. Selain porsi latihan yang cukup, marta juga memiliki strategi tersendiri, di mana marta tidak pernah ingin tahu mengenai latar belakang dan track record lawan. “Hal itu saya lakukan karena latar belakang dan track record lawan dapat mempengaruhi mental dan juga fokus saya. Dengan saya tidak mengetahui track record lawan, saya lebih bisa menjaga fokus dan tidak membeda-bedakan lawan,” tegas Marta. Bahkan ketika Marta diwawancara, dirinya mengaku tidak mengetahui asal lawan yang ia hadapi di partai final. Meskipun Marta harus pulang pergi Malang-Surabaya untuk latihan. Namun hal itu tidak mematahkan semangat putri dari pasangan Hariono dan Bawon Suci Sri Widat ini. Terbukti ia berhasil menembus tim Pra PON Jatim yang saat ini sedang disiapkan untuk mengikuti seleksi PON XX di Banjarmasin. (zak/can)
Mahasiswa UMM Menangi Lomba Tilawatil Quran Tingkat Nasional TNI-AU

Seleksi lomba tingkat Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau II) yang diselenggarakan TNI AU membawa mahasiswa program studi jurusan Teknik Informatika Universitas Muhamadiyah Malang (UMM), Rasyid Luthfi Hardiansyah, sebagai juara pertama tingkat Nasional di MABES TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur (12/9). Mahasiswa angkatan 2016 ini menyisihkan puluhan peserta dari seluruh Indonesia. Rasyid menang di kategori remaja Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) membacakan surat Al Isra ayat 70 dari 7 materi bacaan surat lainnya yang sudah disiapkan. Seperti Surat Az-Zumar ayat 71, As-Syu’ara ayat 69, Al-Isra 70, As-Saba ayat 22, Al-Fathir 27, As-Saffat ayat 99, Al-Lukman ayat 12. Remaja asal Madiun yang juga aktif di Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) UMM ini sebelumnya juga selalu memenangkan lomba yang diadakan TNI AU. Pada tahun 2013 dan 2017 menduduki Juara II bertahan MTQ tingkat nasional. Rasyid mengaku mempunyai keahlian qira’at (membaca) Al-Quran diturunkan dari Ayahnya yang juga ahli dalam tilawatil Qur’an. Berkat prestasinya, Rasyid berhasil mendapatkan hadiah umroh dan sejumlah uang saku yang berhasil dikantongi. “Jika hadiah Umroh dapat saya tukar, saya ingin Orang Tua saya terlebih dahulu yang menginjak Ka’bah daripada saya. Karena orang tua saya lah yang membimbing saya hingga detik ini,” pungkas Rasyid. Kegiatan rutin yang diadakan setiap 2 tahun sekali, dengan kategori Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) dengan peserta pria dewasa (militer/PNS), wanita (wara/PNS/PIA dan Istri PNS), remaja (putra/putri anggota militer/PNS) dan anak-anak (putra/putri anggota militer/PNS/Purn TNI AU) bertujuan untuk memilih qori dan qoriah terbaik se Indonesia di tingkat TNI-AU. “Dengan terselenggaranya lomba MTQ, MFQ dan MHQ ini, semoga bapak-bapak dan ibu-ibu yang mendapat kepercayaan nanti sebagai peserta MTQ, MFQ dan MHQ yang mewakili Koopsau II dapat meraih prestasi dan membawa nama baik Koopsau II pada lomba MTQ, MFQ dan MHQ di Jakarta,” ujar Pangkoopsau II Marsekal Muda TNI Donny Ermawan, T., M.D.S., saat pembukaan. (yas/can)
Seorang Apoteker Juga Harus Mengabdi Kepada Kemanusiaan

Sebanyak 48 orang pada Rabu (25/9), dilantik sebagai Apoteker dalam pelaksanaan Pelantikan Apoteker Angkatan III Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Wakil Rektor 1 UMM dalam sambutannya menyebut, Apoteker tidak boleh meninggalkan kemanusiaan. “Dalam hierarki nilai, kemanusiaan adalah nomor satu. Di atas agama, dan di atas segala ideologi,” ungkapnya. “Maka, jika nanti ada yang mau berobat tidak perlu ditanya agamanya apa, Islam Muhammadiyah atau NU, kalau NU tidak dilayani. Tidak boleh. Harus mendahulukan kemanusiaan,” ungkap Syamsul melanjutkan penjelasannya. Syamsul lantas berpesan di GKB IV lantai 9 Kampus III UMM, agar Apoteker-Apoteker baru ini mampu mengemban dan menjalankan amanah seorang Apoteker dengan baik. Disampaikan oleh Noffrendi selaku Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bahwa lulusan baru harus segera menentukan profesi yang akan digeluti. “Harus mulai ditentukan dari sekarang anda bisa berdaya di mana. Entah itu di industri, pelayanan, regulasi dan sebagainya. Karena pilihan kalian harus tepat agar bisa menjadi Apoteker yang baik sesuai kemampuan kalian,” ujar Noffrendi. Dilanjutkan oleh Drs. Purwadi Apt., MM, ME selaku Ketua Komite Farmasi Nasional (KFN) yang mengatakan bahwa Apoteker-Apoteker baru di hadapannya diharapkan mau untuk mengabdi kepada daerah. Di Pulau Jawa, sebutnya, sudah terlalu banyak Apoteker yang mumpuni. “Sedang di daerah banyak yang kebingungan tentang informasi obat untuk penyakit yang diderita,” ungkapnya dalam sambutan. “Anak-anak yang berasal dari daerah, silahkan kembali ke daerah kalian lagi. Mengabdi untuk kampung halaman. Dan anak-anak yang dari (pulau) Jawa yang mau ke daerah saya harap orang tuanya mengizinkan,” tegas Purwadi. Untuk diketahui, setiap tahunnya Program Profesi Apoteker menerima ratusan pendaftar. Terdapat tiga jenis tes yang harus dilalui. Yakni tes bidang keilmuan, psikotes dan tes wawancara. (riz/can)
Buka INCLAR FH UMM, Syamsul Arifin: Islam dan Demokrasi Harus Bersinergi

Digelar selama dua hari (24-25/9) di Hotel Purnama Kota Batu, International Confrence on Law Reform (INCLAR) Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibuka oleh Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Di hadapan profesor dari berbagai negara Syamsul mengatakan, di masa mendatang Islam dan demokrasi harus bersinergi. Berkaca dari konflik pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilihan Presiden tahun 2019 Syamsul mengatakan bahwa sikap elit politik mencerminkan bahwa demokrasi di Indonesia hanyalah prosedural. Syamsul lantas mengutip konsep demokrasi ideal yang dikemukakan oleh Larry Diamond bahwa demokrasi memiliki empat konsep dasar. “Pertama, kompetisi untuk kekuasaan, dimana pemerintah dipilih dan digantikan melalui pemilihan yang adil dan gratis,” jelas Syamsul. Kedua, Rakyat berpartisipasi sebagai warga negara dalam kehidupan politik dan sipil. Ketiga, hak asasi manusia seluruh warga negara dilindungi oleh negara. Terakhir, hukum yang diberlakukan tidak pandang bulu, berlaku secara merata untuk semua. Menurut Syamsul, perilaku elit politik tidak mencerminkan negara demokrasi yang menggunakan ujaran kebencian untuk mendukung kepentingan salah satu pihak. Demokrasi seharusnya menghargai pilihan orang lain dan melindungi pilihan orang lain. Tidak malah memanaskan tensi yang sudah panas sejak pemilihan gubernur DKI Jakarta. Para elit menggunakan konsep populisme untuk menjalankan kepentingannya. Di mana mereka menyatukan banyak organisasi Islam dengan background tertentu dengan menyebut sebagai kepentingan agama untuk mengusung kepentingan orang tertentu. Maka rakyat, elit dan pemerintah semakin terpecah belah. “Gerakan Islam yang mengendarai populisme harus disertai dengan demokrasi yang sehat,” tegas Syamsul. Sampai sekarang, menurut Syamsul wacana populis dan bentuk aksinya masih terjebak dalam isu-isu primordial yang masih sering muncul dalam kepentingan kontestasi elektoral politik. Seharusnya, sambung Syamsul, para elit politik membawa wacana populis ditujukan untuk membawa kesadaran kepada masyarakat bahwa agenda utama dari reformasi adalah penegakan hukum, hak asasi manusia, pemberantasan korupsi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (Usa/Can)
UMM dan Singapore Polytechnic Dampingi UKM Pasarkan Produk

Keterbatasan Usaha Kecil Menengah (UKM) memasarkan produk menjadi perhatian sekelompok anak muda ini untuk melakukan pendampingan khusus. Sebanyak 45 pemuda yang merupakan gabungan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan siswa Singapore Polytechnic (SP) membantu membuat strategi pemasaran ke sejumlah UKM. Mereka menyasar UKM berkomoditas sambal, keju, dan bayam. Proyek inovasi sosial ini dikerjasamakan antara Tamasek Foundation International-Specialist Community Action and Leadership Exchange (TFI-SCALE) dan Learning Express (LeX). UMM dan SP sendiri sudah 4 tahun menjalin kerjasama dan dijalankan melalui proyek inovasi sosial berbeda. “TFI-SCALE dan LeX merupakan satu program rangkaian bagian dari kerjasama,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP. “Aksi ini bertujuan untuk melihat proses dan situasi bagaimana usaha kecil menengah dapat memasarkan produknya. Selain itu, mencari beberapa masalah ketidakefektifan yang dialami untuk ditemukan solusi dan inovasi yang dapat dikembangkan dalam beberapa hal, seperti model pemasaran dan packaging produk,” jelas Dr.Ir. Listiari Hendraningsih, selaku sekretaris Internasional Relation Office (IRO) UMM (24/09). Program ini terdiri dari 22 mahasiswa UMM dan 23 siswa SP. Terbagi dalam tiga grup yang masing masing diisi oleh 8 orang dari UMM dan 7 orang dari SP. Terdapat 6 orang fasilitator dan 2 koordinator dari UMM, serta 2 fasilitator dan 1 koordinator dari SP. Dilanjutkan dengan LeX, selama 2 minggu di Indonesia, khususnya di UMM sebagai bentuk implementasi kegiatan yang sudah didapat selama di Singapura. Dilanjutkan Listiari, terdapat 5 acuan langkah yang dipakai, yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. Acuan ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang pembuatannya. Pada saat closing ceremony program acara akan ada output berupa rekomendasi model pemasaran yang akan diperlihatkan pada para pelaku usaha. TFI-SCALE sendiri sebetulnya juga sudah dilakukan di Singapura selama 3 minggu. “Kami mempelajari banyak hal mulai dari analisis Statistika, Ibco Spotfire dan Microsoft Power BI guna menganalisis pola konsumsi masyarakat ASEAN. Sementara di akhir kegiatan membuat kampanye green consumption untuk mengajak masyarakat ramah lingkungan” ujar Ayu, salah satu mahasiswa UMM yang menjadi peserta LeX. (yas/can)
Mekatronic dan Srikandi Team UMM Siap Dominasi Kemenangan KMHE 2019

SETELAH menjadi yang tercepat (juara 1) dalam gelaran Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) di tahun sebelumnya, yakni dengan berhasil memecahkan rekor Asia dan dunia dengan berhasil mencatatkan hasil terbaik 335,09 KM/KWH, Mekatronic dan Srikandi Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali bersiap berlaga di KMHE 2019 di Universitas Negeri Malang (UM), 24-28 September mendatang. Tiga tim ini yakni di kategori Urban Listrik diwakili oleh Mekatronic Team 1 dengan Mobil Genetro (Urban Electric Vehicle) U.E.V. 06, di kategori Prototype Listrik LSO diwakili oleh Mekatronic Team 2 dengan mobil prototype Barqun Speed Electric Vehicle (E.V.) 04. Sementara di kategori Urban Gasoline diwakili oleh tim wanita Srikandi Team dengan Mobil Hrusangkali. Bagi Srikandi Team, kontes ini jadi debut keduanya. Untuk sepesifikasi dari Prototype Listrik, bodi terbuat dari carbon fiber, sasis dari alumunium dan ditenagai oleh motor listrik. Sementara untuk Urban Listrik bodi juga terbuat dari carbon fiber, sasis aluminium dan ditenagai oleh motor listrik 500 watt. Sedangkan spesifikasi untuk mobil Hrusangkali yang digawangi Srikandi Team, bodi terbuat dari fiber glass, sasis dari aluminium dan bahan bakar Pertamax 92. Perlu diketahui, Srikandi Team sebagai satu-satunya tim yang seluruh anggotanya terdiri dari perempuan ini pada tahun lalu memenangi penghargaan di kategori Desain dan Estetika Terbaik KMHE 2018. Srikandi Team UMM dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 yang turun di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline ketika itu, sejak awal sudah jadi pusat perhatian tim juri dan peserta dari perguruan tinggi lain. Ketiga tim mengaku telah mempersiapkan jauh hari. “Tim Mekatronik sudah pernah berlaga dan menyabet juara 1 pada kategori Urban Listrik dan Tim srikandi meraih Desain dan Estetika terbaik tahun lalu di Universitas Negeri Padang, semoga prestasi tahun ini lebih baik dan dapat mempertahankan kemenangan” ujar Drs. Moh. Jufri, ST., MT. selaku pembina LSO Mekatronik saat pelepasan di Gedung Rektorat UMM. “Tidak usah terbebani oleh kemenangan, karena tim kita sudah teruji di tingkat Nasional menuju ke Internasional. Selain itu, pesan saya, tidak boleh terlalu berbangga dan sombong. Harus tetap memiliki mental juara namun tetap melakukan yang terbaik,” tambah Dekan Fakultas Teknik Dr. Ir. Ahmad Mubin MT saat sambutan di depan Gedung Rektorat UMM, Senin (23/9) siang. Dihadiri anggota ketiga tim lengkap. Dilanjutkan Joko, ketersediaan fasilitas penunjang di setiap proses belajar mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari catatan raihan prestasi mahasiswa. Bagi Joko, keseriusan dan komitmen UMM untuk mencetak generasi terbaik bangsa melalui berbagai raihan prestasi di tingkat nasional bahkan internasional, juga merupakan perwujudan nyata dari tagline Kampus Putih UMM, “dari Muhammadiyah untuk Bangsa.” (yas/can)
Empat Kepala Dinas Mulai Follow Up Kerjasama UMM-Kabupaten Malang

Menindaklanjuti kesepakatan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sejumlah kepala dinas di Kabupaten Malang mulai melakukan penjajakan pada setiap potensi kerjasama yang bisa dikolaborasikan. Para kepala dinas itu di antaranya dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, serta Dinas Perikanan. “Pertemuan kita dengan empat kepala dinas ini adalah untuk membuat konsep bersama dalam membangun pertanian, perikanan, peternakan Kabupaten Malang hingga lima tahun mendatang. Alhamdulillah, FPP UMM dipercaya oleh Bupati Malang untuk mendampingi dan merancang dalam rangka peningkatan perekonomian kabupaten Malang,” kata Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM selaku Dekan FPP. “Kerjasama ini agar bisa meningkatkan produktifitas dalam berternak di semua bidang, baik itu ternak ayam, ternak kambing, peternak sapi perah maupun sapi potong, yang selama ini kita anggap perlunya peningkatan produktifitas dari peternak. Saya kira peran akademisi bisa membantu dalam pengembangan budidaya ternak,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo (20/9). Karena dalam rencana jangka pendek, selain meningkatkan produktivitas ternak, pemerintah juga ingin membawa kabupaten Malang menjadi penyumbang swadaya ternak terbesar di Indonesia. “Saat ini sudah masuk 5 besar di Jawa Timur sebagai penyedia swasembada pangan berupa ternak dengan 33 kecamatan, 12 kelurahan, dan 378 desa,” lanjut Nurcahyo, Jumat (20/9), di Laboratorium Terpadu FPP UMM. Selain itu, saat ditemui di tempat yang sama Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang Ir. M. Nasri Abdul Wahid M.Eng., Sc menerangkan bahwa setidaknya ada ada 2 aspek yang harus diperhatikan dalam pangan, yakni Aspek Produksi dan Aspek Konsumsi. “Meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat, musti diimbangi dengan keseimbangan produksi yang dilakukan,” tandas Nasri. (riz/can)