Sambangi Pondok di Dau, Mobil KaCa Ajarkan Santri Public Speaking

Kamis minggu ketiga bulan September adalah giliran Kecamatan Dau Kabupaten Malang untuk dikunjungi oleh Mobil Kamis Membaca (Kaca) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bekerja sama dengan Praktikum Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos), Mobil KaCa membawa dua program bagi para santri Pondok Pesantren Roudlotun Nashichin (20/9). Dua program tersebut adalah Public Speaking dan English for Young Learners (EYL). Saat baru datang, Mobil KaCa langsung dikerumuni santri. Antusias membaca terpancar dari wajah-wajah anak-anak. “Disini memang koleksi bukunya lama, maka kami undang mobil KaCa,” terang Rigida Firodian Ketua Kelompok Praktikum Kesos 2019. Ada dua kelas yang persembahkan mobil KaCa kali ini. Para santri pun dibagi menjadi dua kelas yakni kelas Public Speaking dan Kelas EYL. Pada kelas Public Speaking, para santri diajarkan berani bercerita pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Salah satu yang berani adalah Efan dan Jufen. Dua santri kelas tiga Sekolah Dasar ini berpidato bersama diselingi dengan selawat dan rima sempurna yang apik. Ada pula yang berani bernyanyi sekaligus menari. “Pintar dan berani,” ungkap Mirza Bareza, Pemateri Public Speaking Mobil KaCa. Selain berbicara di depan kelas, para peserta kelas Public Speaking juga diajarkan untuk mengkonsumsi konten internet yang sesuai dengan umur. Mengingat internet kini tak mengenal waktu dan tempat yakni dapat diakses 24 jam non-stop. Sedangkan di kelas EYL yang dibimbing oleh Winarno Adiyanto, para santri diajak untuk mengingat kosa kata dalam bahasa Inggris. Kemudian akan diberi susunan huruf dan diminta untuk menyusun hingga sempurna. Para santri berasal dari anak-anak warga sekitar yang sedang duduk di bangku sekolah TK hingga SMP. Kegiatan rutinnya ialah mengaji usai asar hingga menjelang magrib. Kelas mengajinya pun berbeda-beda disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang telah diselesaikan mulai dari iqro’ hingga al-quran. Para mahasiswa Praktikum Kesos 2019 UMM juga telah mengabdi selama satu bulan penuh di Pondok Pesantren Roudlotun Nashichin. “Satu bulan pergi-pulang dari kos ke lokasi,” kata Rigida. Tetapi, lanjutnya, semua lelah itu sirna dengan senyuman dan keceriaan para santri yang menyambut hangat setiap kedatangan para mahasiswa praktikum. (mir/can)
Tips Mendapatkan Beasiswa ke Amerika ala Alumni Fulbright

Siapa yang tidak kenal United States of Amerika (USA), apalagi jika berkesempatan untuk bisa kuliah di negeri Paman Sam ini. Dr. Ike Sari Astuti selaku alumni dari program Fulbright yakni sebuah program beasiswa untuk pertukaran pelajar internasional untuk sarjana, pendidik, mahasiswa pasca sarjana dan profesional, turut berbagi tips mendapatkan beasiswa bergengsi ini. “Pertama, kalian harus tau mau mengambil apa ingin belajar apa atau terkait dengan yang mau diteliti itu apa saat di USA. Selanjutnya atau yang kedua, yakni mempersiapkan berkas-berkas yang akan dikirim dan ketiga harus tahu banget subjek apa yang harus diambil dan kita bisa memperkirakan berapa lama jangka waktu kuliah kita di sana,” ucap Ike saat mengisi di Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (19/9). “Yang aku tahu, UMM ngasih tempat. Kalo fasilitas lain lebih dari American Corner (Amcor), US Embassy, dan American Indonesian Exchange Foundation (Aminef), dan yang pasti datang ke acara seperti ini turut memotivasi kita untuk melajutkan Master,” lanjutnya. Setidaknya ada empat pemateri yang menghadiri U.S Graduate Fair 2019 ataupun Educatian USA, yakni Austin Simon dari NYU-School of Professional Studies, Robert Coffey dari Michigan State University, Susan Carvalho berasal dari University of Alabama dan Dr. Ike Sari Astuti dari Fullbright Alumni. Sedangkan Susan Carvalho berasal dari University of Alabama menjelaskan tentang peluang kerja saat kuliah di Amerika, pekerjaan di kampus baik yang terkait dengan sesuai bidang maupun yang belum dirilis. Karena sebagian besar universitas memiliki daftar online (setidaknya gaji pekerjaan minimum US dengan upah 7,25 US Dollar/jam). “Dan ini adalah saat yang tepat untuk memulai perjalanan belajar ke Amerika serta memperkuat hubungan baik antara Amerika dan Indonesia,” tandas Mark McGovern, Konsul Jenderal di Konsulat Jenderal (Konjen) AS untuk Indonesia kawasan Timur, saat memberikan sambutan dalam pembukaan US Graduate Fair 2019. “Ini artinya kita memiliki tanggung jawab, tanggung jawab bersama. Tentu saja untuk dapat ke Amerika tidak bisa sembarangan. Kita harus memiliki persiapan yang matang agar mampu membawa nama Indonesia dan Unversitas Muhammadiyah Malang di kancah dunia,” pungkas Dr. Fauzan. M.Pd selaku rektor UMM dalam kesempatan yang sama. (riz/can)
Dosen Peternakan UMM: Bioteknologi, Solusi Ketahanan Pangan dan Pelestarian Lingkungan

Ketahanan pangan menjadi topik yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Tidak hanya di Indonesia saja, ketahanan pangan juga kerap kali menjadi pembahasan yang serius di kancah Internasional. Untuk itu mengharuskan adanya peningkatan hasil pangan, baik dari pertanian maupun peternakan. Akan tetapi, peningkatan hasil pangan tersebut tidak dapat menyaingi tingkat pertumbuhan populasi penduduk setiap tahunnya. Oleh karena itu, dikhawatirkan pada masa mendatang, akan mengalami kekurangan pangan. Berbagai cara dilakukan untuk menunjang ketahanan pangan. Salah satunya dengan inovasi teknologi untuk memecahkan kekurangan pangan, yaitu melalui bioteknologi. U.S. Embassy Jakarta bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar “Biotechnology Youth Outreach” di Aula Biro Administrasi UMM (18/09). Prof. Bambang Sugiharto, Director of Indonesian Biotechnology Information Centre dalam presentasinya membahas mengenai Agricultural Biotechnology. Ia mengungkapkan, keuntungan bioteknologi tanaman tersebut tidak hanya untuk menyediakan kesediaan pangan yang lebih banyak. “Pengembangan bioteknologi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, serta kualitas dan nilai nutrisi pada makanan. Bioteknologi sendiri juga sejalan dan mendukung pelestarian lingkungan. Sehingga Bioteknologi bisa sebagai solusi ketahanan pangan,” sebut Bambang. Sejalan dengan Bambang, Dr. Aris Winaya, M.Si, dosen Peternakan UMM mempresentasikan pemanfaatan bioteknologi dalam upaya konservasi hewan ternak. Tujuannya agar masyarakat dapat mempertahankan plasma nutfah agar tidak punah. Untuk memproteksi hewan lokal yang menjadi potensi di Indonesia, bisa dilakukan degan mengidentifikasi, mengkarakterisasi serta memonitor hewan-hewan lokal yang dirasa terancam punah. Selain itu, penggunaan dari ternak lokal harus dilakukan secara berlanjut, dan tidak berhenti sehingga gen tetap tersedia dalam jangka waktu yang lama. Material sampel genetik harus cukup untuk disimpan dalam rangka memastikan keamanan gen unik lokal yang terancam punah. “Kita juga perlu mengembangkan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang mendukung perlindungan genetik sebagai strategi untuk tetap menjaga keunikan genetik hewan-hewan lokal,” ujar Aris. Menurut Aris, kearifan lokal merupakan strategi yang cukup jitu untuk menjaga genetik dikarenakan Indonesia yang masih menghormati kearifan lokal yang digagas oleh leluhur mereka. Dengan begitu penjagaan genetik dilakukan oleh segala penjuru masyarakat. (bel/can)
Sensasi Asik Berkebun Ala Agribisnis Corner UMM

Pilihan tempat untuk berwisata telah banyak tersedia di berbagai tempat. Berkunjung ke Air Terjun hingga wahana permainan ekstrem mungkin sudah biasa. Tapi, berkebun mungkin menjadi salah satu alternatif yang unik. Selain dapat belajar bercocok tanam, juga dapat belajar menjaga dan merawat bumi. Prodi Agribisnis Fakultas Ilmu Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya Wisata Sayur Sehat. Dikelola di bawah naungan Agribisnis Corner, Wisata Sayur Sehat dapat dikunjungi pada hari Selasa, Rabu dan Jumat oleh civitas akademik dan umum. Para pengunjung dapat merasakan sensasi memanen berbagai macam sayuran. Di antaranya Sawi Daging, Okra, Terong, Brokoli Hijau dan Kacang Panjang. “Jangan khawatir, nanti akan kami ajari cara memetiknya,” tutur Ary Bakhtiar, SP. MSi, Ketua Agribisnis Corner. Suasana sejuk alam perkebunan, menambah asiknya kegiatan berkebun. Setelah memetik, sayur-sayuran akan ditimbang dan dikemas apik untuk dibawa pulang. Selain memetik sendiri, pengunjung juga dapat memilih sayuran yang sudah dikemas. “Harganya sangat terjangkau,” jelas Ary. Wisata yang berdiri satu bulan terakhir sejak akhir Agustus ini juga akan mengajarkan pengunjung cara merawat tanaman sayuran. Satu bulan terakhir saja, sudah begitu banyak wisatawan dari luar Kota Malang yang berkunjung. Sebagiannya adalah para pengunjung yang sedang studi banding ke UMM. “Maka sekalian wisatanya ke Sayur Sehat,” kata Ary. Ary tidak menjalankan Wisata Sayur Sehat ini sendirian. Ia dibantu oleh para mahasiswa Prodi Agribisnis untuk perawatan. Menurutnya, mahasiswa perlu berpraktek nyata. Maka dari itu, perlu banyak kesempatan yang diberikan pada para mahasiswa. Bagi pria kelahiran Banyuwangi ini, mahasiswa Agribisnis sangat kurang jika hanya belajar memasarkan produk pertanian saja. Wisata Sayur Sehat ini jadi laboratorium terapan mahasiswa UMM untuk berpraktik. (mir/can)
Harapan Lulusan PPG UMM yang Mengajar di Pelosok Negeri

Menjadi seorang tenaga pendidik tentu merupakan sebuah cita-cita yang mulia, demi membangun bangsa yang berkemajuan. Hal ini juga dilakukan oleh Valensius Sugiharto yang telah mendedikasikan diri untuk mengajar di SDN Wongkol Torok Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Mengajar di sekolah yang terletak di tempat dengan kategori sebagai desa tertinggal, ada banyak kendala yang dihadapi. Seperti sarana dan prasarana yang belum mendukung, media pembelajaran yang digunakan kurang, fasilitas gedung sekolah pun belum mendukung sehingga ada begitu banyak kendala,” ujar Valensius saat ditemui di Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tak hanya itu saja, kendala yang Valensius hadapi yakni memang sekolah tempat Ia mengajar itu di lingkungan yang notabene profesinya bercocok tanam, dengan tingkat pendidikan orang tua yang kebanyakan putus sekolah. “Saat lulus SD banyak yang tidak melanjutkan sekolah untuk membantu perekonomian orang tua,” jelasnya, Rabu (18/9). Perjuangan pria yang masih berstatus guru honorer inipun patut diacungi jempol dalam menangani 160 siswa yang ada di SDN Wongkol Torok. Dengan jarak dari rumah sejauh 3 kilometer dan jalan berbatu, Valensius rela-bersusah-susah, demi memperjuangkan perbaikan pendidikan bagi para siswanya. “Selain itu kendalanya adalah meskipun saya memiliki kendaraan, namun saat musim hujan di sekolah kami itu lumpur semua. Sehingga guru dan siswa itu tidak ada yang menggunakan sepatu dan saya harus berjalan kaki untuk menuju sekolah,” sambungnya. Pria Lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini, berhasil menjadi salah satu peserta Program Profesi Guru (PPG) Daerah Khusus (Dasus) yang diprogramkan oleh pemerintah sebagai perwakilan dari sekolah yang terletak pada tempat yang dikategorikan sebagai desa tertinggal lewat Pretest Uji Kompetensi Guru (UKG). “Sedari awal itu memang berdasarkan Pretest UKG, sehingga saat di konfirmasi tempo hari oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) saya dan seorang rekan yang berasal dari Manggarai Barat berhak mengikuti pendidikan PPG selama 3 bulan di UMM,” ujar Valensius. Dalam perjalanan waktu selama tiga bulan itu, pelaksanaan kegiatan PPG 8 hari di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) lalu dilanjutkan dengan kegiatan pendidikan di UMM selama dua bulan dan setelah itu, praktek lapangan selama tiga minggu. “Saya harap kedepannya, kesejahteraan para pendidik ataupun para guru honorer terus diperhatikan oleh pemerintah,” pungkasnya dalam gelaran kelulusan dan penyerahan sertifikat pendidik Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Periode II Tahun 2019 dengan jumlah lulusan sebanyak 380 orang terdiri dari 112 atau 29% laki-laki dan 268 atau 71% perempuan. PPG Dalam Jabatan (Daljab) sebanyak 291 orang. Terdiri dari 260 lulusan yang berada di dalam naungan Kemenristek Dikti dan 31 lulusan di bawah naungan Kementerian Agama. PPG Pra Jabatan sebanyak 81 orang, dan PPG SM3T sebanyak 8 orang. “Saya harap dengan hadirnya kalian di tengah-tengah masyarakat sebagai seorang tenaga pendidik, itu nanti bisa menjadi tonggak kecerahan masa depan bangsa di masa yang akan datang,” tandas Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd selaku Dekan FKIP UMM. (riz/can)
UMM Tuan Rumah Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional 2019

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kembali menyelenggarakan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) Tahun 2019. Kali ini giliran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan kompetisi bergengsi tahunan ini. Rencananya, kegiatan ini akan berlangsung pada 10-12 Oktober 2019 mendatang. Terdapat dua lokasi yang dipilih sebagai arena perlombaan yang representatif dan memenuhi strandar perlombaan tingkat nasional. Yaitu danau yang terletak di depan Gedung Kuliah Bersama I Kampus III UMM di Jalan Raya Tlogomas No. 246. Dan Danau Taman Rekreasi Sengkaling UMM, salah satu unit bisnis legendaris milik Kampus Putih UMM di Jalan Raya Sengkaling No.194, Malang, Jawa Timur. Sampai berita ini diturunkan, para peserta yang mendaftar telah mengumpulkan dokumen evaluasi tahap 1. Pada 20 Agustus lalu, telah diumumkan evaluasi tahap 1 KKCTBN Tahun 2019. Batas pengumpulan bahan evaluasi tahap 2 pada tanggal 18 September. Hasil evaluasi tahap 2 akan diumumkan 23 September. Sementara, pada 11-12 September merupakan free trial, technical meeting dan pelaksanaan lomba. “Penilaian kontes KKCTBN ini dilakukan terhadap setiap kategori dengan beberapa kriteria. Selain ditentukan berdasarkan waktu tercepat, pertimbangan dalam penilaian juga berupa manuver kapal dalam setiap rintangan pada lintasan. Ada pula penghargaan bagi desain kapal terbaik,” terang Dr. Nur Subeki, ST., MT. selaku Ketua Pelaksana KKCTBN Tahun 2019 di UMM saat ditemui Jumat (13/9) siang. Terdapat 3 kategori yang diperlombakan. Pertama, Kapal Kendali Otomatis. Pada kategori ini, kapal didesain dan dibangun dengan piranti lunak elektronik otomatis atau sensor warna. Kedua, Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh. Kapal ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga penggerak dengan bantuan remote control. Terakhir, Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh. “Setiap kategori kontes prototipe kapal memiliki misi dan tantangan yang berbeda-beda. Secara umum kemampuan menyelesaikan misi dan tantangan tersebut dapat diukur melalui kecepatan dan kemampuan bermanuver. Misi dan tantangan tersebut diterjemahkan ke dalam lintasan yang harus dilalui oleh setiap kapal dalam setiap kategori,” ungkap Subeki yang juga Wakil Dekan III Fakultas Teknik. Daya kreasi mahasiswa dalam kontes ini tidak hanya mencakup desain badan kapal yang baik dari segi performance dan manuver, tetapi juga mencakup perencanaan sistem penggerak, sistem navigasi yang handal, dengan memperhatikan keselarasan faktor teknis lainnya (engine matching). Dengan demikian kreatifitas dalam kontes yang dimaksud akan melibatkan beberapa disiplin ilmu teknik yang terkait. Sebagai tuan rumah pada kontes KKCTBN tahun 2019 ini, UMM mengangkat tema yaitu “Teknologi Kapal untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa di Era Revolusi 4.0”. Selain itu, penyelenggaraan kontes ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas intelektual melalui ajang uji kreatifitas mahasiswa, meningkatkan kemandirian dan kesiapan dalam menghadapi tantangan yang bersifat regional maupun global. (bel/can)
Mobil KaCa UMM Terapkan Metode Asyik Belajar Bahasa Arab

Bahasa Arab jadi materi pelajaran bahasa asing yang cukup diminati di Indonesia. Materi ini diajarkan di beberapa sekolah yang berbasis keagamaan atau tepatnya lembaga berbasis Islam. Salah satunya di MTsN. Sunan Bonang di Desa Ngabab, Pujon-Kab.Malang. Hanya saja, bagi sebagian orang bahasa Arab sulit dipelajari. Bersama mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan mahasiswa Praktikum II Prodi Kesejahteraan Sosial memberikan metode pembelajaran inovatif guna meningkatkan kreatifitas dan kemampuan memahami bahasa Arab ini. Yakni melalui metode kartu bergambar. Kartu bergambar sendiri diajarkan Dewi Nur Diana, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam (FAI) UMM dengan memperagakan gambar di kartu, sehingga murid-murid dapat aktif menebak serta menghafal kosakata Bahasa Arab di setiap gaya yang diperagakan oleh instruktur kegiatan ini. Murid dari kelas 7-8 MTsN Sunan Bonang sangat antusias. Karena selama ini mereka belum pernah mendapatkan metode seperti ini dalam pelajaran di sekolahnya. Terbukti, dari kegiatan materi Dasar Jurnalistik sampai Bahasa Arab, disamping akan memenangkan hadiah jika kelompoknya dinilai sebagai kelompok teraktif. Dania Putri Arifiana dan Armi Apriliantika K. selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa kurangnya minat baca dan cenderung individualis dalam berinteraksi sosial. Hadirnya mobil KaCa di sekolah mereka, mengundang antusias para murid untuk membaca dan belajar bersama murid-murid satu sama lainnya. Dengan hadirnya Mobil KaCa dari tim Humas UMM, ternyata antusiasme membaca buku dan belajar bersama dengan teman-teman lainnya dari MTsN Sunan Bonang meningkat. “Terbukti dari 20 murid yang diundang, terdapat 40 murid yang hadir dan berpartisipasi,” ungkap Dania ditemui di sela kegiatan, Kamis (12/9) pagi. Selain belajar konsep dasar Jurnalistik yang di bimbing oleh Yasmin, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM yang melatih membuat berita. Yasmin mengajarkan bagaimana membuat judul, menyusun kalimat efektif, hingga menghubungkan antar paragraf agar menjadi tulisan yang padu dan menarik bagi pembaca. Di bawah bimbingan dosen pengampu Zaenal Abidin S.Sos., M.Si. kelompok Praktikum II Prodi Kesejahteraan Sosial ini juga memiliki program andalan selama mengabdi di Desa Ngabab, yaitu sebagai bentuk penguatan branding yang diusahakan sejumlah komunitas yang ada di desa ini sebagai Desa Wisata dan Edukasi. (yas/can)
UMM Gelar Shalat Ghaib, Penghormatan atas Berpulangnya BJ. Habibie

Kabar berpulangnya Presiden ke-3 Republik Indonesia Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. menyisakan duka mendalam bagi bangsa Indonesia dan dunia ilmu pengetahuan. Tak terkecuali bagi seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia mempunyai ikatan khusus dengan UMM. BJ. Habibie punya kontribusi dalam pembangunan Kampus III UMM yang letaknya di Jalan Raya Tlogomas, yang sekarang menjadi kampus induk. Waktu itu Ia masih menjabat Menristek/ Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi periode 1974-1998. Selain itu, Habibie juga meresmikan Masjid AR. Fachruddin UMM saat dirinya sebagai Presiden ke-3 RI. Masjid ini dibangun pada tahun 1995 dan diresmikan pada tahun 1998. Masjid dengan dominasi warna putih ini terdiri dari lima lantai yang dimanfaatkan selain untuk tempat peribadatan juga untuk perkuliahan dan perkantoran. Tempat peribadatan berada di lantai 3 sampai lantai 5. Lantai 2 digunakan untuk perkantoran takmir masjid, perpustakaan, ruang perkuliahan, laboratorium Psikologi, tempat wudhu’ dan aula. Lantai 1 digunakan untuk perkantoran, bank, kantin, dan laboratorium, bimbingan konseling, poliklinik, dan beberapa kantor pusat studi. Untuk menghormati jasa Bapak Teknologi Indonesia ini, civitas akademika Kampus Putih menggelar shalat ghaib di Masjid AR. Fachrudin. Dosen, karyawan, hingga mahasiswa turut melakukan shalat ghaib dan memanjatkan doa untuk mendiang BJ. Habibie. UMM juga mengibarkan bendera setengah tiang di lapangan Helipad. Wakil Rektor II UMM, Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. ditemui usai mengikuti pelaksanaan shalat ghaib mengungkapkan, BJ. Habibie punya sumbangsih pemikiran yang besar terhadap perkembangan UMM, utamanya pendirian Kampus III UMM. Disebutnya, Habibie juga punya andil besar menginspirasi pengembangan Fakultas Teknik. (can)
FPP Tangkap Peluang Usaha Penggemukan Domba Muda

PENGGEMUKAN pada domba muda merupakan salah satu peluang usaha yang cukup menjanjikan di bidang industri peternakan. Hal ini dilatari permintaan daging domba muda yang cukup tinggi di pasaran. Daging domba muda memiliki tekstur yang empuk jika dibandingkan dengan domba dewasa. Selain itu, lemak dari daging domba muda juga lebih rendah dibandingkan dengan daging domba dewasa. Peluang usaha ini yang ditangkap Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) yang merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat (PKM) dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), yakni melalui penerapan Teknologi Pakan Silase Jagung Komplit. Pengabdian ini dilakukan di laboratorium experimental farm UMM selama setahun pendanaan. Bahan baku domba muda dalam usaha penggemukan ini adalah dari hasil pembibitan domba yang dilakukan laboratorium Ekperimental Farm, Peternakan UMM. “Selain itu, melakukan pembelian bakalan dari peternak yang ada di sekitar Batu dan Malang,” terang Dr. Ir. Asmah Hidayati, MS Ketua PPUPIK UMM. Jumlah ternak domba yang dipelihara sebanyak 60 ekor jenis merino, dengan proses penggemukan selama 90 hari. “Dengan masa penggemukan yang lebih cepat ini maka program PPUPIK penggemukan domba muda dapat meningkatkan market share. Penggunaan silase jagung komplit juga pertambahan bobot badan domba lebih tinggi dibandingkan menggunakan pakan rumput,” ungkap Asmah. Hasil penggemukan yang dilakukan program ini menunjukan bahwa dengan menggunakan silase jagung komplit, diperoleh penambahan bobot harian domba sebesar 150-160 gr/ekor/hari. “Dengan demikian, masa penggemukan domba dalam praktik PPUPIK ini lebih cepat, yakni sekitar tiga bulan sudah dapat didistribusikan ke pasar. Program ini tentu menjadi peluang bisnis menjanjikan,” kata Asmah Disebut Asmah yang merupakan Ketua Prodi Peternakan UMM ini, penggemukan domba dilakukan guna memenuhi permintaan pasar daging domba di wilayah Malang dan sekitarnya. Baik untuk konsumsi, aqiqah, maupun untuk qurban. Mekanisme penjualan dilakukan dengan cara konsumen datang langsung ke Experimental Farm UMM, atau domba langsung dikirim ke pemesan via telepon. Lebih jauh Asmah menyatakan, program pengembangan usaha ini dimaksudkan untuk mengembangkan produk dari pemikiran riset dosen, yang kemudian diupayakan menjadi usaha yang bisa memperoleh keuntungan. Selain itu, usaha ini juga bisa dipakai sebagai laboratorium terapan bagi para mahasiswa UMM berlatih berwirausaha. Kedepannya, pengembangan usaha ini dapat menjadi income bagi kampus. (riz/can)
FISIP Lakukan Uji Konsep RUU Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan

SEKRETARIAT JENDERAL dan Badan Keahlian Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) secara khusus meminta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menguji konsep rancangan undang-undang (RUU) tentang Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan, Senin (9/9) siang. “Pengujian konsep RUU ini di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM guna mendapatkan masukan terkait Naskah Akademik dan Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan,” ungkap Khopiatuzaidah, S.Ag., LL. M, ketua tim uji konsep RUU ini menjelaskan tujuan dilaksanakannya agenda ini di Kampus III UMM. Pengujian Naskah Akademik dan Rancangan Undang-undang ini berkenaan dengan tugas dukungan keahlian terhadap pelaksanaan fungsi Legislasi DPR RI, Pusat Perancangan Undang-Undang Badan Keahlian DPR RI yang telah membentuk tim dalam rangka penyusunan konsep awal Naskah Akademik dan RUU ini. Baca Juga: Puluhan Mahasiswa Asing Siap Belajar Bahasa dan Budaya Khopiatuziadah mengatakan bahwa tuntutan terhadap DPR RI sebagai lembaga perwakilan agar bergerak dan fokus melakukan reformasi internal untuk menguatkan fungsi legislasi dan fungsi-fungsi lainnya secara optimal memang cukup tinggi. Karena kekuatan parlemen bukan hanya terletak pada anggota dewan saja. Anggota dewan memerlukan sistem dukungan untuk mengoptimalkan pelaksanaan tiga fungsi dewan, yakni legislasi, pengawasan dan anggaran. “Misalnya fungsi legislasi, yakni pembentukan peraturan perundang-undangan, diperlukan perancang undang-undang, perancang peraturan perundang-undangan, dan penelitian,” katanya. “Sehingga, dibutuhkan peneliti dari perguruan tinggi untuk terlibat dalam menjalankan fungsi legislasi. Semua rancangan sistem pendukung itu tersusun dalam naskah akademik RUU Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan,” terang Khopiatuzaidah yang didampingi oleh empat tenaga ahli yang tergabung dalam tim tersebut. Uji konsep Naskah Akademik dan RUU ini dihadiri sejumlah dosen pakar FISIP UMM dari berbagai bidang keahlian. Pakar ilmu pemerintahan FISIP UMM, Dr.Tri Sulistyaningsih, M.Si berpendapat bahwa disahkannya RUU ini memang diperlukan, namun perlu dibuat seramping mungkin agar tidak overfat untuk Pemerintahan. Tri Sulistyaningsih juga menyarankan agar perekrutan sumberdaya manusia dalam Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan diterapkan standar seleksi atau standardisasi. “Dewan itu, kan, organisasi politik, bukan organisasi karir. Oleh karena itu dari sisi perekrutan SDM ini perlu dilakukan standardisasi,” ungkap Tri yang juga asesor BAN-PT ini. Pendapat Tri Sulis melengkapi usulan pakar komunikasi FISIP UMM, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si. Frida juga mengungkapkan betapa pentingnya sertifikasi bagi tenaga ahli yang akan direkrut dalam Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan. Uji konsep ini sendiri diadakan selama 3 hari, yakni 9-11 September 2019. Dari sisi konten naskah akademik, pakar sosiologi FISIP UMM, Dr. Wahyudi, M.Si mengkritisi konten naskah akademik yang belum mengakomodasi area komunikasi publik. Lima area yang diusung dalam RUU Sistem Pendukung Lembaga Perwakilan sudah baik. Namun ada hal yang harus ditambahkan, yakni area komunikasi publik. “Legislatif harus memiliki wadah yang komprehensif untuk menjalankan fungsi ruang-ruang publik di masyarakat. Ada banyak kesalahpahaman di masyarakat tentang image DPR yang belum terselesaikan. Dengan adanya UU ini saya harap fungsi komunikasi publik itu semakin kuat,” jelas Wahyudi yang merupakan dosen Sosiologi Politik ini. (*/can)