Persembahan Sambut Muktamar Muhammadiyah

Rangkaian acara Pengenalan Mahasiswa Baru (PESMABA) Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) senantiasa diwarnai dengan penuh kejutan. Yakni dengan menampilkan flashmob dengan konsep yang berbeda. Konsep flashmob Pesmaba seakan tidak dapat lepas dari tangan kreatif dari salah satu dosen program studi Ilmu Komunikasi, Jamroji M.Comms. Jamroji sudah lima kali memprakarsai ide flashmob yang selalu berakhir viral. Flashmob tahun ini memiliki berkonsep formasi antara lain logo Muktamar Muhammadiyah ke-48, logo HUT Ke-74 RI dengan tema; SDM Unggul Indonesia Maju, dan formasi dari sketsa Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 UMM. Secara khusus, flashmob ini dipersembahkan untuk menyambut perhelatan akbar 5 tahunan Muktamar Muhammadiyah ke-48. Mukmatar dihelat di Kota Solo 1-5 Juli 2020. egiatan yang dipusatkan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Konseptor yang juga inisiator Kampung Warna-warni Jodipan ini ingin flashmob ini menjadi trendsetter pertama yang membuat formasi logo Muktamar Muhammadiyah ke-48, disusul dengan ucapan ulang tahun Republik Indonesia yang ke-74 Waktu persiapan yang hanya seminggu, flashmob yang biasanya monoton dengan hanya berpatok dengan komando perintah, flashmob tahun ini memiliki komando yang berbeda dan mampu mengharmonisasikan 7000an mahasiswa. Dengan diiringi mars Muhamadiyah yakni; Sang Surya dan lagu UMM Terus Maju yang dikomposeri oleh Ki Sapani Anom Carito, seniman dalang Dwijowirano UMM, setiap lirik dari lagu tersebut menentukan gerakan formasi yang ditampilkan. Flashmob yang diusung UMM berbeda dengan papermob yang identik dengan meninggalkan bekas sampah. UMM berkomitmen untuk menggunakan properti yang menempel di badan sehingga ramah lingkungan dan peduli tentang sampah. “Ekspektasi masyarakat semakin lama semakin tinggi, semakin bagus dan semakin rumit, oleh sebab itu UMM ingin menjadi trendsetter bagi kampus lain dan selalu mencoba menampilkan hal-hal berbeda setiap tahunnya,” tandasnya. (*)
Mahasiswa Harus Berkhidmat Memajukan, Mencerdaskan dan Mencerahkan Bangsanya

Membekali para mahasiswa baru 2019/2020 dalam mengawali studi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Kuliah Umum Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba). Bertempat di Hall Dome UMM, acara menghadirkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. KH. Haedar Nasir, MSi, (2/9). Dalam paparannya, Haedar menyampaikan bahwa kehadiran Muhammadiyah bertujuan untuk mencerdaskan, memajukan dan mencerahkan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Untuk itu, lanjutnya mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah hendaknya tidak hanya sekedar menjadi mahasiswa formal. “Tetapi juga mampu menjadi mahasiswa yang betul-betul punya karakter sebagai calon-calon intelektual, calon-calon cendekia, bahkan calon-calon ulil albab yang bisa menjadi kekuatan pencerah, baik untuk diri sendiri, keluarga, umat, bangsa dan kemanusiaan semesta,” ujarnya di hadapan 7611 mahasiswa baru UMM. Ia lalu membeberkan perananan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pada usia muda memiliki peranan besar dalam memajukan bangsa. Mereka adalah KH. Ahmad Dahlan, Ir. Djuanda dan Jendral Sudirman. Mengawali perjuangan sebagai anak-anak muda yang cerdas dan tercerahkan, ketiganya kemudian hadir menjadi tokoh bangsa yang berperan besar dalam kemerdekaan dan membangun Indonesia. “Mahasiswa harus belajar dari tokoh-tokoh tersebut dan menatap masa depan untuk menjadi orang-orang yang bermakna bagi kehidupan. Karena, orang terbaik di mata Islam adalah mereka yang memberi manfaat untuk orang lain,” sebutnya. Untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter dan bermanfaat bagi orang lain, Haedar berpesan agar terus menempa diri. Ia juga meminta para mahasiswa untuk terus menjaga tradisi literasi. “Iqra’ yang kekuatannya tidak hanya terpancar ke langit, tetapi ilmunya memancarkan sinar kemajuan ke seluruh alam semesta,” tandasnya. Haedar pun berpesan agar para mahasiswa baru UMM nantinya menjadi pemimpin-pemimpin besar yang meneruskan tradisi UMM dalam melahirkan pemimpin-pemimpin besar. “Generasi emas harus lahir, satu di antaranya adalah mahasiswa yang mau berkhidmat memajukan, mencerdasakan dan mencerahkan bangsanya tanpa pamrih. Jika kalian jadi tokoh, jangan mementingkan diri sendiri, kelompok sendiri, tetapi perhatikan dan perjuangkan kepentingan umat bangsa bahkan kemanusiaan universal. Itulah semangat Muhammadiyah dan Islam rahmatan lil alamin,” tuturnya. Di akhir Haedar mengingatkan agar para mahasiswa baru selalu semangat dalam berjuang, tidak lelah bekerja keras untuk membawa membawa kebaikan bagi masyarakat luas. “Masa depan itu milik orang-orang yang mau berjuang, di kala kalian ada di tengah kemudahan, saya percaya kalian bisa berjuang, sukses lebih baik lagi. Semuanya tergantung pada kemauan, kesungguhan, kerja keras dan selalu berbuat baik pada orang tua, dosen, guru dan orang yang kita tuakan. Sekaligus juga selalu berkhidmat untuk memajukan, mencerahkan dan mencerdaskan umat bangsa dan kemanusiaan universal sebagai wujud dari peran rahmatan lil alamin,” pungkasnya. Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian UMM yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. (bel/can)
Hadiri Pembukaan Pesmaba Dibonceng CB Lawas

Motor Honda CB lawas barangkali jadi objek paling ikonik pada sesi opening resepsi Pengenalan Studi Mahasiswa (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (2/9). Pasalnya, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd terlihat necis dalam video pembuka berdurasi tiga menitan itu. Meski hanya gimik, aksinya itu diapresiasi 7000an mahasiswa baru (Maba) UMM yang memenuhi Hall Dome UMM. Video garapan sutradara Rino Anugrawan selaku staf Humas dan Protokoler UMM ini, diceritakan Fauzan terjebak gawe hajatan yang menghambatnya menuju lokasi pembukaan Pesmaba. Di tengah kendala itu, kebetulan Fauzan bertemu mahasiswa barunya yang tengah mengisi bahan bakar. Tanpa berpikir panjang, Fauzan bersedia dibonceng dengan mengendarai motor yang ngetrend di era 80an itu. Pasca diputarnya video opening itu, seantero ruangan Dome UMM riuh dengan tepuk tangan. Rektor Fauzan masuk mendampingi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Badan Pembina Harian UMM yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., juga Mendikbud RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Bukan kali ini saja Rektor UMM mau ‘direpotkan’ dengan skenario gimik kreatif ini. Sebelumnya, pada video opening Pesmaba tahun lalu (2018), Fauzan bahkan ‘menerbangkan’ salah satu pesawat jet milik satuan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Malang. Fauzan tampak gagah membelah udara untuk hadir di pembukaan Pesmaba yang dibuka oleh Mantan Ketua MK, Mahfud MD. Sebelumnya, juga dilakukan apel pagi Pembukaan Pesmaba UMM 2019 di Lapangan Helipad UMM. Marsekal Pertama TNI Hesly Paat, Komandan Pangkalan TNI Udara (Danlanud) Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, yang diberi kehormatan dengan didapuk sebagai inspektur upacara pembukaan. Delapan penerjun profesional dari TNI Angkatan Udara juga jadi kejutan. (*can)
Delapan Penerjun Payung Ambil Bagian dalam Pesmaba UMM 2019

Sebanyak delapan penerjun turut andil dalam upacara pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2019 di lapangan Heliped Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Marsekal Pertama TNI Hesly Paat, Komandan Pangkalan TNI Udara (Danlanud) Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, yang diberi kehormatan dengan didapuk sebagai inspektur upacara pembukaan. Ke delapan penerjun profesional dari TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh ini yakni Lettu Pas Archie Arpega, Serma Supriyadi, Serka Agus W, Serka Dahwit, Kopda Jainu, yang berasal dari Batalyon Komando 464 Paskhas serta Sertu Edi Gusyono , Serda Ari Pujo, dan Serda Agung Prayitno dari Denmatra 2 Paskhas, yang menjadi penerjun payung dalam gelaran Upacara pembukaan ini. “Saya menyampaikan ucapan selamat kepada para mahasiswa dan mahasiswi baru UMM. Karena di satu sisi predikat mahasiswa merupakan suatu kebanggaan, namun di sisi lain menuntut kemandirian dan kedewasaan guna mewujudkan cita-cita sebagai sarjana yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, agama dan negara di masa depan,” ujar Hesly Paat dalam amanatnya saat upacara. Dihadapan 7611 Mahasiswa baru (Maba) dan 93 mahasiswa asing yang berasal dari 24 negara, rektor UMM beserta jajarannya, serta Civitas Akademika UMM, empat dari delapan penerjun berhasil mengibarkan Sang Saka Merah Putih dan menghiasi langit-langit yang ada di sekitaran Kampus Putih. Selain itu dibawakan pula bendera Muktamar, bendera UMM dan tidak lupa bendera bertuliskan “Pesmaba”. “Inilah orientasi yang hendak kami ciptakan sehingga generasi yang masuk menjadi mahasiswa baru tentu harus kita sikapi berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi milenial, yang akan hidup dalam dunia teknologi. Oleh karena itu, perubahan mindset seluruh warga UMM telah kita siapkan untuk menyambut itu.” tandas Dr. H. Fauzan, M.Pd saat ditemui usai upacara. Acara dilanjutkan resepsi Pembukaan Pesmaba di Hall Dome UMM. Perhelatan diisi dengan orasi ilmiah oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., dan dihadiri Ketua Badan Pembina Harian UMM yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., juga Mendikbud RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. (Riz/can)
Bangga UMM Terapkan Kehidupan Toleransi

Pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) resmi di buka. Perhelatan pembukaan pesmaba, Senin (2/8), ditandai dengan apel pagi di Helipad UMM. Upacara dihadiri Rektor UMM, segenap satuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara Abdulrachman Saleh Malang dan segenap Civitas Akademika UMM. Marsekal Pertama (Marsma) TNI Hesly Paat Komandan Pangkalan TNI Udara (Danlanud) Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, yang diberi kehormatan dengan didapuk sebagai inspektur upacara dalam upacara pembukaan PESMABA 2019, memberikan amanat kebangsaan kepada 7611 mahasiswa baru tentang bagaimana cara menanamkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai Bangsa Indonesia. Pada orasi singkatnya, Komandan Hesly memberikan pesan kepada mahasiswa baru untuk mempunyai kemandirian dan kedewasaan selama mengemban ilmu di Kampus Putih, UMM. “Yakni dengan selalu membawa kerukunan, toleransi di tempat dan kehidupan sosial yang baru, sehingga dapat membawa nama baik kampus di manapun mereka berada,” kata Komandan Hesly. Sembari memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia (RI), Danlanud yang juga bertugas sebagai inspektur upacara pembukaan Pesmaba. Hesly juga menghimbau agar tidak melupakan jasa para pahlawan yang telah gugur. “Sejak dulu, mereka telah menanamkan tentang bagaimana membawa Bangsa Indonesia dalam harmonisasi keberagaman dan toleransi,” ungkap Hesly. Pemerintah Indonesia tengah berupaya untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme warga negara, khususnya kepada generasi muda. “Walaupun perkembangan dunia internasional telah mengikis rasa nasionalisme kita. Tujuan dari usaha ini adalah agar Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki kemajemukan, tetap lestari sepanjang masa,” ungkapnya. Sejak berdirinya bangsa Indonesia, para founding father telah meletakkan prinsip fundamental bernegara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Peristiwa demo baru-baru ini di Papua merupakan contoh nyata pentingnya kita menjunjung tinggi toleransi, keberagaman, dan berbagai berbedaan, serta mengutamakan dialog kerukunan, kebersamaan, kedewasaan dan nasionalisme kita. Oleh sebab itu, Komandan Hesly sangat menyayangkan kejadian tersebut dan di sisi lainnya turut bangga, karena UMM sebagai salah satu kampus yang meskipun berbasis agama, namun mahasiswa, civitas akademika dan seluruh masyarakat yang ada di dalamnya dapat menjadi inspirasi dan mewujudkan contoh nyata dari sikap persatuan dan kesatuan sebagai Bangsa Indonesia. “Salut untuk Universitas Muhammadiyah Malang. Saya sangat mengapresiasi dalam hal keterbukaannya menerima mahasiswa dengan beda ras, suku bangsa dan agama, namun masih saling berjalan di tengah keberagaman dalam menerapkan suasana toleransi.” tutur Hesly. Sebagai informasi, pada tahun ini UMM juga menerima 93 orang mahasiswa asing yang berasal dari 24 negara. (yas/can)
Persembahkan Kursi Wisuda VIP untuk Orang Tua

Bercita-cita mengantarkan kedua orang-tuanya untuk duduk di kursi VIP wisuda, Siti Malikatul Mushowwiroh mahasiswi angkatan 2015 Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) terbaik dengan angka 3.98 pada gelaran wisuda ke-93 periode III UMM. Selain ingin membanggakan orangtua, wanita yang akrab disapa Malika ini memiliki motivasi lain yang ingin ia capai, yakni dengan mencatatkan namanya sebagai wisudawan terbaik asal Lombok. Seperti yang telah diraih oleh seniornya yakni Alhamdu Ramadhan (IPK 3,99). Selain itu ia juga disupport oleh senior lain yang tak kalah berprestasi seperti Lutfiya Al Qarani dan Alwafi Ridho Subarkah. Menjadi mahasiswi yang awalnya hanya kupu-kupu (kuliah-pulang), membuatnya bosan dengan ruitinitas yang hanya itu-itu saja. Hingga akhirnya ia aktif di beberapa organisasi seperti Indonesia International Studies Academic Utilization Community (IISAUC) UMM, English Debating Society-International Language Forum, Centre of Intermestic Studies, dan Model United Nation Club UMM. “Untuk siklus perkuliahan, aku termasuk orang yang biasa-biasa aja. Kayak, ada kan, orang yang siklus perkuliahannya dia rajin banget terus ulet banget atau yang males banget atau yang sedang-sedang saja. Nah, aku adalah orang yang sedang-sedang. Karena dari awal perkuliahan itu, aku enjoy aja nggak terlalu sampe yang rajin banget,” cerita Malika saat diwawancarai Selasa (27/8) siang. Malika lantas membagi tips manajemen waktu. ”Seenggaknya kita harus ada prioritas sendiri dalam perkuliahan, bahwa aku ini di kelas keaktifannya bagaimana di luar kelas keaktifannya bagaimana. Jadi, aku membagi waktuku menjadi 60-40. 60% di kelas sedangkan untuk 40%-nya aku aktif di luar kelas, karena kita juga harus menyeimbangkan antara akademik dan non-akademik,” tuturnya. Selama kuliah, banyak pengalaman yang Malika peroleh. Utamanya pengalaman internasional. Di tahun 2017, Malika menjadi University’s delegation untuk Asia-Pasific Model United Nations Conference (AMUNC) di Hongkong University, Hongkong; peraih juara pertama Essay Competition di Asia –Oceania Symposium, serta; salah satu dari 20 pemenang dari Write to China Essay Competition di Beijing. “Dari awal saya sudah memiliki set prioritas agar bisa lulus dengan nilai sempurna dan menjadi yang terbaik. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara, sehingga saya minimal wajib memberi teladan yang baik untuk kedua adik saya nantinya,” pungkas putri pasangan Muhammad Zaini M.Sy dan Khairul Bariyah S.Pd ini. Malika mengaku bangga mempersembahkan gelar wisudawan terbaik ini untuk keduanya. (riz/can)
Kunci Kemajuan Bangsa Ada di Kebudayaannya

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) Hilmar Farid menyebut, kunci kemajuan setiap bangsa sesungguhnya terletak pada kebudayaannya. “Percuma saja kita menggunakan teknologi yang maju. Akan tetapi, ketika kebudayaannya tidak maju, tidak ada gunanya kita menggunakan smartphone tercanggih tapi masih percaya kepada hoax. Ini adalah salah satu problem kebudayaan,” kata Hilmar. Hilmar hadir saat didapuk mengisi orasi ilmiah pada gelaran wisuda ke-93 Periode III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Sabtu (31/8) siang. Prosesi wisuda juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, Ketua Badan Pembina Harian UMM yang Juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., perwakilan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafri Syairin, Ph.D. “Kita bisa melihat persoalan seperti ini dalam kehidupan sehari-hari banyak fasilitas publik yang dirusak, karena kemungkinan besar penggunanya dan tidak ada informasi yang cukup untuk orang mengupgrade pengetahuannya,” ungkap Hilmar. Dalam setiap menyelesaikan permasalahan, diperlukan pemimpin di era Industri 4.0 yang punya kemampuan berkomunikasi, kecepatan mengambil keputusan, serta kolaborasi. Dan di tiap tingkatan ini sangat diperlukan kerjasama. Sementara itu, Menteri Muhadjir juga turut berpesan kepada para wisudawan. Bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah bukan sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi juga kemampuan beradaptasi untuk menguasai situasi yang terus berubah dan situasi yang terus berkembang. “Pesan saya kepada wisudawan dan wisudawati agar memiliki kemampuan tingkat adapatasi itu, jangan sampai terdistrupsi karena gagal dalam beradaptasi,” ujar Muhadjir. Tak kalah penting, Ketua Badan Pembina Harian UMM yang merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI, Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. juga turut berpesan. Saya harapkan seluruh wisudawan dan wisudawati menjadi sarjana-sarjana di era digital sekaligus, yang mampu menyongsong, mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Yang selalu menjaga Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan selalu teguh berpegang ideologi falsafah Negara Pancasila,” kata Malik. Wisuda kali ini mengukuhkan kelulusan bagi Program Pendidikan Doktoral, Magister, Sarjana, Diploma III dan Program Pendidikan Profesi. Keputusan ini berdasarkan yudisium serta hasil rapat pimpinan 15 agustus 2019. Jumlah lulusan wisuda 93 periode III sebanyak 2461 orang, terdiri dari 1084 wisudawan 1377 wisudawati. Pada gelaran akhir wisuda juga diserahkan kartu alumni yang diserahkan secara simbolik oleh Rektor UMM Fauzan. (riz/can)
Uji OSCE Jamin Lulusan Keperawatan UMM Profesional

Dalam rangka menjamin kualitas kelayakan perawat profesional, Program Studi (Prodi) D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Ujian ini berlangsung dua hari (27-28/6) di Kampus 2 UMM pasca Praktik Klinik. “Setelah praktik klinik yang berlangsung di rumah sakit selama satu semester, barulah mereka melakukan uji OSCE. Uji OSCE dilakukan sebagai bentuk evaluasi struktur untuk menilai kemampuan atau keterampilan klinik usai menempuh praktik Profesi Keperawatan,” ungkap Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB., Dekan Fikes. Uji OSCE ini memiliki tujuan sebagai bahan evaluasi dari keseluruhan proses praktik di rumah sakit atau praktik klinik untuk melihat pencapaian mahasiswa. “Sedangkan tujuan dari penyelenggaraan ujian OSCE juga sebagai bagian dari kebutuhan persiapan akademik mahasiswa selama proses kuliah,” ujar Faqih ditemui di ruangannya. Secara terperinci, lanjut Faqih, ujian OSCE dari tahun ke tahun memiliki kesamaan dengan ujian-ujian sebelumnya. “Barangkali format penilaiannya saja yang sedikit berbeda. Dimulai dari sikap, skill atau kemampuan, dan bagaimana cara mereka memperlakukan pasien. Ujian ini diadakan secara terstruktur,” tandasnya. Setidaknya ada 14 jenis keterampilan yang diujikan dan dibagi ke dalam beberapa departemen kekhususan. Di antaranya Departemen Keperawatan Medikal Bedah, Departemen Gawat Darurat, Keperwatan Anak, Keperawatan Maternitas, keperawatan keluarga dan Gerontik, Keperawatan Anak Maternitas Terpadu, dan Keperawatan Jiwa Imanda Oktavia Kusnia turut membagi pengalamannya sebagai peserta tes OSCE. “Di Departemen Keperawatan Jiwa bagi saya adalah bagian yang paling berkesan. Departemen ini kita harus bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh pasien serta tindakan yang diambil untuk menanganinya,” ujar mahasiswi semester 6 ini. “Sebelum menempuh uji OSCE, para peserta harus menyelesaikan semua tanggungan tugas maupun praktik klinik di semua Stase atau Departemen dan mengumpulkan berbagai tugas yang ditentukan oleh masing-masing departemen,” jelas Reni Ilmiasih, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp. Kep.An. ketua program studi D3 Keperawatan UMM ini. Bobot kurikulum D3 Keperawatan UMM sebagai pendidikan vokasi 60% adalah praktik. Sehingga menyelenggarakan model praktik ujian OSCE yang terstandar dan menggunakan ruangan yang juga berstandar nasional dilakukan mulai tahun 2014. Ujian OSCE kali ini diikuti 75 peserta yang telah memenuhi syarat yang ditentukan. “Diharapkan dengan adanya ujian ini dapat menjadi upaya peningkatan dalam menjamin kualitas dari lulusan kita. Dan 60% (bobot kompetensi praktiknya) itu terpenuhi. Sehingga mereka bisa menyerap semua kemampuan praktiknya,” pungkas Reni ditemui usai pelaksanaan ujian di Kampus 2 UMM, Lowokwaru, Malang. (riz/can)
Seharian Tanpa Gadget di Omah Kreatif Wagir

Kelompok Kuliah Kerja Nyata Program Pengabdian Mandiri (KKN-PPM) 150 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar pembukaan Omah Kreatif Wagir di Desa Parangargo Kecamatan Wagir, Malang, Minggu (23/6) lalu. Masyarakat di Desa Wagir yang mayoritas warganya menjadi buruh pabrik ini sangat antusias dalam merespons itikad baik anggota KKN PPM 105 membumikan spirit literasi. Keberadaan gawai atau gedget membuat pergeseran pada pola tumbuh kembang anak-anak kita. Mereka menjadi pasif dan cenderung abai pada lingkungannya. “Selama ini anak-anak yang ada di Desa Wagir sangat bergantung dengan keberadaan gadget. Sangat disayangkan apabila masa kecil mereka dihabiskan hanya untuk menatap layar handphone” ujar salah satu anggota Divisi Pendidikan, Lena Okta. Mobil KaCa UMM juga khusus dihadirkan, Jumat (28/6), untuk menggembirakan kegiatan literasi di program berkonsep Ruman Baca ini. Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti serangkaian acara yang dikerjasamakan dengan Humas dan Protokoler UMM. Anak-anak kisaran Sekolah Dasar dan Taman Kanak-kanak serius mengikuti materi jurnalistik. Materi mencakup pembuatan berita yang dilengkapi praktik. Selain pemberian materi jurnalistik, kegiatan dilanjut dengan outbound yang terdiri dari permainan Holahoop berputar dan pengenalan permainan khas Nusa Tenggara Timur Rangku Alu. Tujuannya meningkatkan rasa kekeluargaan dan kekompakan pada anak-anak. Mereka ditunjuk untuk membuat tiga kelompok untuk bermain Holahoop berputar dengan syarat, Holahoop tidak boleh menyentuh tanah dengan membentuk lingkaran. Tak disadari, sejak pagi hingga siang hari, berbagai permainan membuat fokus bermaian gadget anak-anak teralihkan sejenak. Seperti yang diungkapkan Fajar, siswa kelas 3 SD yang hobi bermain game hampir seharian. “Nggak terasa main seharian sama temen-temen, jadinya nggak main hape. Tau-tau udah Dhuhur aja” ungkapnya. Ia mengaku selepas mendapat materi jurnalistik ingin menjadi komentator sepakbola. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PPM 150 Frendy Aru Fantiro yang turut hadir pada kegiatan ini menambahkan, Rumah Kreatif Wagir ini menjadi bangunan serbaguna bagi warga dalam bentuk industri kreatif dan kewirausahan. Diharapkan dari sini banyak muncul ide-ide kreatif yang dapat mengembangkan Desa Wagir. “Karena selama ini Rumah Baca hanya diidentikkan dengan membaca,” pungkasnya. (yas/can)
Universitas Tanjungpura Berguru ke FKIP UMM

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM) Dr. Poncojari Wahyono M.Kes menerima delegasi senat dari Universitas Tanjungpura (27/6). Lawatan itu dimaksudkan untuk berguru kepada FKIP-UMM terkait penyelenggaraan akademik. “Dekan menyampaikan bahwa FKIP UMM senantiasa berkomintmen untuk berkembang, sesuai visi- misi FKIP UMM,” kata Poncojari. FKIP-UMM saat ini memiliki 7 program studi (Prodi) yang kesemuanya terakreditasi BAN-PT, kecuali Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganaan (PPKN). Yakni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Prodi Pendidikan Biologi, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi Pendidikan Matematika, , Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Prodi baru di lingkungan FKIP-UMM Program Profesi Guru (PPG). Poncojari menyampaikan, dalam mekanisme akademik yang dijalankan, pihak dekanat memberikan kesempatan bagi yang muda-muda dalam mengakomodasi kesempatan kerjasama di luar negeri. “Supaya secara kognitif, afektif serta presentasi seminar baik dalam negeri maupun dan luar negeri. Mahasiswa di FKIP UMM juga menempuh mata kuliah FLSP serta membekali dalam TOEP dan TOEFL yang setara Diploma 1. “Mahasiswa kita di tahun 2018, alhamdulillah, diberikan penghargaan dari Negara Thailand saat magang Internasional. Inilah bentuk bukti dan sekaligus promosi kualitas mahasiswa kita,” tutur Poncojari. Sebagai laboratorium lapang, UMM mempuyai Taman rekreasi sengkaling, rumah sakit, hotel, dan unit bisnis launnya, sektor bisnis dapat memberikan sumbangsih kepada mahasiswa juga membatu operasional kampus. Wadek I FKIP-UMM Dr. Sudiran M.Hum juga menyampaikan nasehat secara periodik, bagaimana terus melakukan inovasi dan kebaharuan serta memberikan pelayanan untuk meningkatkan prestasi. Diceritakan Sudiran, di tahun 1992 FKIP-UMM berjuang mencari mahasiswa hingga kini tengah bekerja keras menuju International Recognition, kerjasama dengan Tiongkok untuk student exchange dan Thailand untuk internship. Pada level penelitian dan pengabdian, FKIP-UMM memberikan fasilitas blockgrant, yang diimplementasikan baik dalam negeri dan luar negeri, serta hasil tersebut dimasukkan dalam jurnal JINOP (sudah terakreditasi Sinta), JPBI (Sinta 2), dab Kembara (Sinta 3). FKIP UMM diberi kuota hampi 1000 kuota PPG, dan setelah ini FKIP UMM mendapat kesempatan untuk mendiklat Kepala Sekolah Se-Indonesia. “Untuk mendukung mahasiswa agar bekerja lebih cepat, maka dilaksanakan Magang Industri dan BUMN, sehingga di akhir program dan ketika lulus mereka akan mendapatkan kesempatan kerj. Selain itu, dalam perkuliahan kita hargai 1 semester dalam magang ini. Pimpinan fakultas mengakomodasi serta menyelaraskan dalam renstra tiap prodi,” kata Poncojari di Ruang Pertemuan Gedung Kuliah Bersama 1. Sementara, Wadek II Drs. Marhan Taufik, M.Pd, mengatakan bahwasannya FKIP memfasilitasi dari segi DPK (Dosen Perjanjian Khusus), baik DPK PNS, DPK Universitas, dan Dosen tetap Universitas. “Secara laporan kita mengisi LLDIKTI dan Universitas Muhammadyah Malang Pengelolaan yayasan terbuka untuk umum tiap tahun disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing,” kata Marhan menjelaskan. Sebagai kampus di bawah persyarikatan Muhammadiyah, mahasiswa dari berbagai latar belakang wajib menempuh Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Tes TPA, dan tes microteaching. Secara kepangkatan juga harus menyesuaikan Peraturan Negara. Pendanaan diperoleh dari Pusat/ LLDIKTI dan juga dari pengelolaan yayasan. Penulisan buku ajar digenjot dengan memberikan dana fakultas maupun universitas. Di sisi lain, Wadek III Drs Rohmad Widodo M,Si mengatakan tentang adanya semboyan, “Tiada hari tanpa prestasi, Tidak ada prestasi yang tidak dihargai, tidak ada pelanggaran yang tidak diberi sanksi”. Selain itu, mahasiswa dibekali kemampuan Seminar, lokakarya dan pelibatan mahasiswa dalam penelitian dosen, pembinaan mahasiswa AIK, pembinaan minat mahasiswa dan bina lingkungan, dan lainnya. Selain itu, Senat Universitas Tanjungpura, Drs. Abdus Somat mengucapkan terimakasih atas silaturahmi ini, dan berbagi pengetahuan, ilmu, baik dari segi pengolahan yayasan yang cukup besar dan berkembang pesat. Selain itu, ia memberikan apresiasi setiggi atas kiprah FKIP- UMM sebagai inspirasi pada pendirian Prodi PPG, dan sebagai kiprah pendidikan untuk mewadahi prodi keguruan. (*/can)