Gandeng UMM, Mahkamah Konstitusi RI Gelar Debat Konstitusi Mahasiswa

Mahasiswa adalah calon-calon intelektual dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan pendapat tersebut haruslah diutarakan dengan cara yang konstitutif seperti dalam kegiatan debat konstitusi pada hari ini,  Selasa (10/4). Acara “Seminar Nasional dan Pembukaan  Kompetisi Debat Konstitusi Mahasiswa” yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bertempat di Aula GKB IV lantai 9 UMM. Wakil Rektor 1 Syamsul Arifin menyampaikan bahwa kegiatan debat konstitusi ini merupakan ajang latihan bagi mahasiswa untuk menggunakan argumen dan disampaikan serta menerima dengan baik. “Wa jaadilhum billati hiya ahsan, bertukar fikiranlah kalian semua dengan baik, ilmiah, rasional dan objektif,” pesannya  kepada peserta debat. M. Guntur Hamzah selaku Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi RI  membuka acara debat konstitusi kali ini. Guntur menyampaikan bahwa acara ini merupakan debat tertinggi di kalangan mahasiswa. “Debat konstitusi merupakan ajang kompetisi debat tertinggi yang mempertemukan mahasiswa hukum dari berbagai perguruan tinggi terbaik se-Indonesia,”ujarnya. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan seminar nasional dengan tema “Menakar Efektifitas Penyelenggaraan Pilkada Serentak: Demokrasi Lansung atau Demokrasi Partisipatif” yang diikuti oleh  24 perwakilan antar perguruan tinggi (PT) se-Indonesia tingkat regional timur baik negeri maupun swasta,  dari Jawa Timur hingga Papua. Mengawali seminar, Hamdan Zoelva  menyampaikan bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat (PEMILUKADA) adalah salah satu mekanisme yang dianggap demokratis untuk memilih kepala daerah. “Pemilukada secara langsung ini memberikan partisipasi luas kepada rakyat untuk memilih langsung pemimpinnya, sehingga memberikan legitimasi kuat kepada kepala daerah,” ujar Hamdan yang juga menjabat Ketua Imum PP Syarikat Islam. Menyambung Hamdan, Janedjri M. Gaffar  selaku Staf Ahli Bidang Hukum & HAM Kementrian Agama RI mengatakan bahwa hal yang penting dalam pemilihan kepala daera adalah makna kedaulatan rakyat. “Artinya rakyatlah yang menentukan siapa yang akan menjadi kepala daerahnya bukan ditentukan oleh DPRD,”tambahnya. Di akhir, Wakil Rektor III UMM Sidik Sunaryo menambahkan selain kedaulatan, ada hal lain yang penting diperhatikan dalam Pilkada. ” Etika atau akhlaq menjadi hal yang penting dalam pemilihan kepala daerah,”pungkasnya. (mif/sil)

Ini 4 Film Pemenang MAFI Fest 2018

Rangkaian Malang Film Festival (MAFI Fest) 2018 akhirnya mencapai puncaknya. Setelah  terselenggara selama empat hari di Theater Dome UMM, (4-7/4) pada Sabtu (7/4) digelar Malam Penganugerahan MAFI Fest 2018 di Helipad UMM. Dihadiri mahasiswa, para sineas, hingga masyarakat umum acara berlangsung meriah. Sambutan hangat diberikan oleh Direktur Malang Film Festival 2018, Fikri Hidayat, Perwakilan dari Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud RI Robert dan Rektor UMM Fauzan. Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa pihaknya menyambut positif dan mendukung MAFI Fest untuk terus sukses kedepannya, terutama dalam menghadirkan karya-karya film anak bangsa dari seluruh Indonesia. “Saya berharap Kine Klub UMM dan MAFI Fest bisa menjadi baik, terus maju dan menjadi generasi yang mampu menciptakan karya-karya besar dari anak-anak bangsa, tidak hanya nasional namun juga internasional,” ujar Fauzan. Tahun ini MAFI Fest 2018diramaikan 1576 peserta dan penonton serta diikuti 416 karya, mulai dari karya pelajar hingga mahasiswa baik fiksi maupun dokumenter. Setelah melalui berbagai tahap, berikut film-film yang keluar sebagai pemenang pada MAFI Fest 2018 yakni  Film “Ali” karya Ira Sanjaya pemenang Kategori Dokumenter Pendek Pelajar, “Ojek Lusi” karya Winner Wijaya pemenang Kategori Dokumenter Pendek Mahasiswa; “Melawan Arus” karya Eka Saputri pemenang Kategori Fiksi Pendek Pelajardan “15,7 km” karya Rian Apriansyah pemenang Kategori Fiksi Pendek Mahasiswa Lulu Ratna salah satu juri dalam acara ini mengatakan bahwa pemenang tahun ini adalah film-film yang paling berhasil dalam berbahasa visual untuk menyampaikan pesannya. “Kebetulan saya nonton semua film yang masuk, dan saya senang. Kita itu harus tahu bahwa film itu punya bahasa visual. Para pemenang ini adalah yang paling bisa berbahasa visual. Cukup dengan gesture dan shot yang bergerak, mereka mampu menyampaikan pesan. Ke empat film ini adalah yang paling berhasil,” ujar Lulu yang juga merupakan pengamat festival. Malam Penganugerahan ditutup dengan diputarnya “Ojek Lusi” karya Winner Wijaya sebagai salah satu pemenang. Tidak hanya itu, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Mafi Fest 2018 menghadirkan salah satu band folk Kota Malang yang sedang naik daun yaitu Wake Up Iris! Hadirnya band ini menyempurnakan kemeriahan Malam Penganugerahan Mafi Fest 2018.

IKABAMA UMM Ajak Mahasiswa Kekinian Nostalgia Lagu 90’an

Meriahkan ajang Rektor Cup Unversitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (IKABAMA) adakan kompetisi Band antar fakultas Sabtu (7/4). Berlangsung di lapangan parkir depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) II UMM, perlombaan ini diikuti oleh band utusan dari masing-masing fakultas. Setiap fakultas diberi kesempatan untuk mengirimkan maksimal dua band perwakilannya. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini IKABAMA mengajak bernostalgia dengan mengusung tema 90’ Intimates “Kacamatamu”. Ajeng Reva ketua pelaksana acara mengatakan tema ini diusung untuk mengajak setiap orang berekspresi tentang 90 an. “Gimana cara kita memandang 90an tersebut dari kacamata kita sendiri. Soalnya 90an itu kan kompleks. Disini, setiap peserta harus menampilkan satu lagu dari era 90 an untuk lagu wajib,”ujarnya Berdiri sejak 23 September 1993 IKABAMA merupakan salah satu UKM musik yang cukup tersohor si kota Malang serta turut dominan mewarnai aktifitas mahasiswa Kampus Putih. Organisasi ini menghadirkan suatu bentuk aktualitas dan  kreatifitas mahasiswa khususnya di bidang seni musik. Melalui ajang rector Cup, UKM yang biasa dijuluki Laskar Bernada UMM ini mengusung misi untuk mengajak mahasiswa UMM khususnya yang tertarik dibidang musik agar dapat mengembangkan bakat dan minatnya. “Kita mau mengenalkan bahwa IKABAMA ini nggak cuma untuk yang bisa bermusik, nggak harus yang bisa ngeband. Buat yang mau belajar, di sini kita bisa belajar sama-sama,” pungkas Ajeng yang juga merupakan mahasiswi UMM jurusan Hubungan Internasional tersebut. Tidak hanya festifal band antar fakultas, pada malam puncak acara  hadir band-band lokal dan Home Band IKABAMA seperti Cable Car Romance, Desperado, DJ JAPSSS, Sal Priadi,  Kangaroopunch, serta The Lion Mustache. Selain itu juga  hadir musikalisasi puisi sastra UMM, Vespa Bosca UMM dan UKM Lentera UMM. Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si Pembina UKM IKABAMA UMM menyampaikan selain lagu tahun 90an, acara kali ini juga istimewa dengan tampilan band berkostum 90an serta pernak-pernik jadul lain. “Untuk mendukung nuansa 90-an selain kostum peserta, tampilan area panggung juga diisi dengan teman-teman komunitas motor klasik era 90an,”tandas dosen Program Studi Hbungan Internasional tersebut. (usy/sil)

Luncurkan Official Trailer, Pemeran Film EL Mengaku Ketagihan Perankan Novel Karya Mahasiswa UMM

Segera tayang pada 9 Mei 2018, film layar lebar produksi Multivision Plus yang diangkat dari novel EL Karya Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hidayatul Fajriyah (Luluk HF) menggelar soft lounching di Aula GKB 4 Lantai 9 UMM. Selain penulis, hadir dua pemeran utama film EL, Achmad Megantara dan Aurelie Moeremans. Dikemas meriah dan interaktif, pada acara tersebut mahasiswa UMM dan masyarakat umum dapat berinteraksi, berbagi pengalaman dan berdiskusi secara langsung dengan penulis  novel EL serta dua pemeran utama film tersebut. Menceritakan perjalanan karyanya, Luluk HF mengaku diangkatnya novel EL ke layar lebar menjadi satu hal yang sangat ia syukuri. “Menjadi diri saya yang saat ini, saya lihat merupakan sebuah anugerah,” ungkap gadis kelahiran Lamongan tersebut. Pada kesempatan yang sama, turut hadir pula orang tua Luluk  HF,  Aji Zainal Abidin. Zainal mengaku sangat bangga dengan pencapaian putrinya. Meski demikian ia mengingatkan agar Luluk tidak melupakan studinya. “Sangat bangga dengan yang sudah dicapai oleh anak saya, tapi harus tetap ingat untuk segera menyelesaikan pendidikannya,”tegasnya. Kegiatan yang terlaksana dalam rangkaian acara Malang Film Festival UMM (MAFI Fest UMM 2018) ini menyedot kurang lebih 450 peserta dari dalam dan luar UMM. Kehadiran dua pemeran utama dalam kegiatan ini menjadi magnet tersendiri. Aurelie dan Megan mengaku sangat senang hadir di UMM karena banyak mahasiswa yang aktif turut serta dalam diskusi tentang perfilman. “Saya senang bisa datang kesini, banyak calon-calon penulis novel yang siap untuk saya perankan lagi,” ujar Megan. Menceritakan pengalamannya memerankan tokoh Mario, Megan mengaku dirinya cukup kesulitan. Mario diceritakan memiliki karakter yang dingin dan kaku seperti kulkas, sementara ia berkepribadian sebaliknya. Megan pun mengapresiasi uniknya jalan cerita dan kuatnya karakter yang diciptakan Luluk. “Novel ini benar-benar luar biasa dalam menggambarkan karakter seseorang. Saya rasa saya memiliki kepribadian yang cair dan itu jauh berbeda dengan karakter Mario, tapi saya sangat kagum dengan penggambaran karakter pada novel ini,” jelas pemeran Mas Boy pada serial TV Catatan Si Boy ini. Sementara itu, Aurelie mengaku membaca novel karya Luluk merupakan novel yang membuatnya ketagihan dengan karya novel. Ia bahkan hanya membutuhkan waktu empat jam untuk menyelesaikan novel yang menurutnya memiliki jalan cerita berbeda dan unik. “Aku sebelumnya gak terlalu suka baca novel, tapi waktu dapat novel ini empat jam selesai karena novel ini punya alur cerita yang unik,” jelas gadis kelahiran Belgia ini. Agenda soft launching ini merupakan hasil kerjasama antara Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Sinematografi Universitas Muhammadiyah Malang (KINE Klub UMM) dengan rumah produksi film Multivision Productions (MVP Indonesia). Selain kegiatan talk show dan berdiskusi tentang kepenulisan novel, juga diadakan peluncuran official trailer film EL yang dapat disaksikan di bioskop mulai 9 Mei 2018. (nis/sil)

Program BTQ, Jamin Alumni UMM Bisa Baca Al Quran

Minat membaca Al Quran dikalangan remaja semakin hari semakin menurun. Perkembangan teknologi, munculnya aktivitas-aktivitas baru hingga terpaan arus modernisasi menjadi penyebabnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2015 bahkan menyebutkan 54 persen dari populasi umat Islam di Indonesia buta membaca Alquran. Menilik fenomena ini, tidak hanya selesai pada studi akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga membekali mahasiswanya dengan program Baca Tulis Quran (BTQ). Hadirnya program ini menjadi salah satu upaya bagi UMM untuk menjamin seluruh alumninya yang beragama islam dapat membaca Al Qur’an. Ada dua jalur yang dapat diikuti oleh mahasiswa. Bagi mereka yang sudah bisa mengaji, dapat mengikuti alur test sedangkan bagi yang belum punya kemampuan mengaji dengan baik, pemahaman tajwidnya masih kurang dapat mengikuti alur bimbingan. “Bagi mahasiswa yang mengikuti alur bimbingan, menempuh 13 pertemuan dalam semester dengan target menyelesaikan dua modul pembelajaran. Sedangkan mahasiswa yang mengikuti alur test, akan melewati tiga tahap, yaitu tes tulis, tes baca dan yang terakhir pengetahuan terkait tajwidnya,”urai Kepala Markaz Da’wah wa Khidmatul Mujtama’ (MDKM) UMM Shofron Hidayat. Semarak Literasi Quran ini menjadi salah satu bentuk usaha pencapaian  visi misi UMM untuk menghasilkan civitas akademika yang memiliki perilaku sesuai nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Program ini juga menjadi usaha untuk mewujudkan profesionalitas kelembagaan universitas berdasarkan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. “Program ini muncul melihat latar belakang mahasiswa UMM yang beraneka ragam, jadi tidak semuanya mempunyai basic agama yang baik padahal membaca Al-Quran merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim,”tambahnya. Program BTQ UMM ini sudah berlangsung sejak tahun 2009 meskipun SK baru turun pada tahun 2014 dengan Nomor: 293/SK- PMABA-UMM/IX/2014. BTQ juga menjadi salah satu program yang disyaratkan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bukan hanya itu, sertifikat BTQ juga menjadi salah satu syarat pengajuan ujian tugas akhir atau skripsi. “BTQ tidak hanya menyelesaikan kurikulum saja, lebih dari itu program ini memberikan wawasan mahasiswa pada nilai-nilai Islam. Hal ini kami tegaskan dengan menggaungkan konsep bukan BTQ melainkan semarak literasi Quran,” tambah Ir. Muhtadawati selaku Kepala Bagian al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) UMM. (Humas UMM)

Jadi Role Model Perfilman Indonesia, Kine Klub Gelar MAFI Fest 2018

Kembali Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Studi Sinematografi Universitas Muhammadiyah Malang (UKM Kine Klub UMM) menghelat festival film yang ditunggu-tunggu oleh sineas muda di seluruh penjuru Indonesia, yakni Malang Film Festival (MAFI Fest 2018). Festival yang digelar untuk keempat belas kalinya ini terus membawa inovasi-inovasi baru di setiap tahunnya. MAFI Fest yang digawangi oleh Kine Klub UMM merupakan komunitas pelopor perfilman di Malang Raya hingga tingkat nasional. Hal ini terbukti dengan masuknya MAFI Fest menjadi finalis pada ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) kategori Penyelenggara Film Terbaik tingkat lokal dan nasional. Senada dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan apresiasinya pada Kine Klub UMM dan berpesan untuk harus terus konsisten menjadi role model dunia perfilman di Malang bahkan nasional. “Di Malang, Kine Klub UMM merupakan pelopor perfilman hingga membawa Eagle Awards digelar beberapa kali di sini,” tegas Muhadjir pada kuliah tamu bersama Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Bekraf RI) yang lalu. Tahun ini MAFI Fest 2018 hadir dengan tema “Diorama Virtual”. Tema ini dipilih dengan tujuan mecari ide-ide kreatif dan kritis terhadap situasi sosial di Indonesia saat ini. Terhitung, sebanyak 416 film mendaftar dan 20 diantaranya lolos kurasi untuk kemudian dilombakan. Menurut salah satu juri MAFI Fest 2018 Nashiru Setiawan penilaian pada film-film yang telah masuk tahap kurasi bukan hanya dari segi sinematografi saja namun juga  pada bagaimana cara peserta mengemas pesan sekaligus menyampaikan kritiknya dalam film berdurasi pendek. “Tahap penilaian tidak hanya berfokus pada sinematografi tapi juga urgensi pesan yang disampaikan pada film itu dan bagaimana pesan itu disampaikan dalam durasi yang singkat,” terang salah satu juri film kategori dokumenter tersebut. MAFI Fest 2018 ini tidak hanya menyuguhkan kompetisi film namun juga program-program menarik yang mempertemukan film maker dengan penonton, diantaranya Ruang Apresiasi, Program Temu Komunitas, Program Kuratorial, Focus On, Sesi Ngalam, dan Kelas Sinau Dokumenter. Kegiatan yang akan berlangsung selama empat hari Rabu-Sabtu (04-07/04) resmi dibuka oleh Staf Khusus Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Bidang Komunikasi Publik Nasrullah. Peresmian acara ditandai dengan penyerahan hibah buku perfilman sebanyak lima belas eksemplar dari Kemendikbud. Buku-buku tersebut dihibahkan kepada Kine Klub UMM sebagai bentuk apresiasi dan konsistensi Kine Klub UMM dalam menggelar MAFI Fest dan menjadikan gelaran ini sebagai festival film tertua di Malang. “Kami (Kemendikbud.red) menghibahkan buku-buku perfilman yang diterbitkan oleh Kemendikbud ini sebagai bentuk apresiasi pada gelaran ini yang terus berkomitmen mengedukasi masyarakat tentang perfilman,” jelas Nasrullah. Selain itu, MAFI Fest juga menjadi ajang dipertemukannya sineas muda pemula dan lanjutan bahkan profesional. Menurut salah satu anggota tim publisher film bergengsi GoodWorkID. Novi Andri Hanabi, keberadaan MAFI Fest memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mengedukasi para sineas muda dan pecinta film. “Keberadaan MAFI Fest ini sangat baik  dalam peran mengedukasi calon pembuat film dan penonton untuk mengapresiasi film itu sendiri,” ungkap Novi. (nis/sil)

Mahasiswi UMM Keturunan Yaman Ini Berkilau di Dunia Modeling

Terlahir dari keluarga berlatar belakang seniman membuat Syarifah Husna Al-Bahsin memiliki berbagai bakat seni yang membanggakan. Setelah berhasil menyabet Juara 1 pada Ajang Final Putra Putri Batik yang diadakan di Kota Malang  17 Maret lalu, ia kembali meraih Juara 3 pada Grand Final  Ajang Pesona Batik Nusantara yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata di Jakarta sebagai perwakilan dari Kota Malang. Syarifah yang kini mengenyam pendidikan di  Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut selain berbakat di dunia modeling juga memiliki keahlian menari, menyanyi dan bermain gitar. “Awalnya saya mau ikut lomba tari, waktu itu kelas 5 SD. Di lokasi yang sama juga kebetulan ada lomba modelling. Ketika mau daftar tari, saya justru diarahkan oleh panitia untuk ikut modeling. Berawal dari ketidaksengajaan itu saya meraih Juara I, dari sinilah saya kemudian tertarik menggeluti dunia modeling,” ujar gadis kelahiran Banda Aceh 22 Mei 1999 tersebut. Berbagi perjuangan dalam meniti karirnya Syarifah mengaku bahwa dunia modeling memang keras. Selain itu, persaingannya juga sangat tinggi. Karenanya Syarifah berpesan, bagi yang ingin menekuni dunia modeling hendaknya selalu memegang prinsip dan tetap berhati-hati agar tidak tergiur tawaran berbagai pihak yang memungkinkan kita melakukan hal yang tidak sepatutnya, semisal membuka hijab.  “Apapun rintangannya kita harus tetap maju untuk meraih apa yang kita inginkan, namun juga tetap harus mawas diri,” ujar gadis yang memiliki garis keturunan Yaman ini. Telah lama berkecimpung dalam dunia modeling membuat Syarifah belajar banyak seputar kehidupan cat walk. Ia pun bercita-cita kelak akan dapat memiliki agency model sendiri. “Agar bisa berbagi dan mengajarkan pengalaman-pengalaman kepada orang lain,”harapnya. (usy/sil)

UMM Dampingi Desa Tertinggal Melalui Smart Village

Salah satu poin dalam program Nawacita yang dicetuskan oleh pemerintahan Jokowi – JK menyebutkan bahwa pembangunan Indonesia harus dimulai dari daerah-daerah dan utamanya desa. Pemerintah melalui program-programnya juga telah berupaya menjangkau masyarakat desa. Sayangnya dalam beberapa waktu terakhir, banyak kasus-kasus penyalahgunaan tujuan dari hadirnya program-program tersebut. Berangkat dari persoalan ini, Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menggagas program”Smart Village”. Dekan FEB UMM Idah Zuhro menyampaikan jika sebagian besar program pengabdian masyarakat terwujud dalam bentuk pembangunan infrastruktur, kali ini program “Smart Village” lebih menyentuh pada membangun kesadaran dan etos kerja masyarakat. Beberapa agenda yang dibuat untuk mendukung program ini antara lain membentuk kesadaran berfikir tentang lingkungan sekitar agar lebih maju. “Masyarakat sudah harus sadar dan mau berpikir bagaimana caranya untuk menjadikan desanya maju,” jelasnya. Lebih lanjut Idah menjabarkan, penguatan spritualitas masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk dorongan dalam membangun etos kerja yang berkualitas. Berkualitas dalam hal ini berarti mampu menghadirkan kebaikan dan kebermafaatan di tengah lingkungan masyarakat itu sendiri. “Kalau spiritualitas mereka sudah mantap maka kita dapat mendorong terbentuknya etos kerja yang berkualitas,” jelas Idah. Selain itu, melalui pendekatan spiritual ini diharapkan dapat terbentuk masyarakat yang mampu membangun desanya dengan suka rela, mandiri serta merasa terikat oleh kepentingan bersama. Jadi kesadaran itu muncul dari dalam diri masing-masing warga dan bukan sesuatu yang dipaksakan. “Pendekatan spritual itu dapat membentuk masyarakat yang utuh untuk berjuang bersama,” tandas Idah. Rangkaian program yang rencananya akan diawali dengan pemetaan beberapa desa tertinggal di sekitar pesisir dan pegunungan di Kabupaten Malang pada akhir April tersebut, akan berorientasi pada tiga agenda rekayasa pemberdayaan masyarakat seperti kelembagaan, sosial dan sumberdaya pembangunan. Sekertaris Prodi EP Muhammad Sri Wahyudi mengatakan berdasarkan hasil observasi lapangan beberapa agenda bersama sudah disepakati. “Agenda-agenda yang akan kami laksanakan ini merupakan hasil observasi lapang secara umum yang dihadapi bebeberapa desa tertinggal,” jelas Wahyudi. Pada penyelenggaraannya menurut Wahyudi, agenda-agenda program ini tidak dapat dilaksanakan dalam kurun waktu satu, dua atau tiga tahun. Perlu adanya keberlanjutan dan fokus awal pada program untuk membangun kesadaran masyarakat tentang persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya. “Harapannya dalam program ini masyarakat dapat didampingi dalam menemukan dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang menghambat majunya desa tersebut,” pungkas Wahyudi. (nis/ sil)

Mahasiswa UMM Siap Terjun Hadapi Konvergensi Media

Menjawab tuntutan zaman, program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kuliah tamu bertajuk “Peluang Konvergensi Media Televisi di Indonesia”. Berlokasi di Aula GKB III UMM Kampus acara tersebut menghadirkan Gatot Triyanto selaku direktur TV Muhammadiyah dan Rudi Satrio Lelono selaku manajer kreatif malangvoice.com Dihadiri sekitar 277 peserta dari mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 2016 dan 2017, acara berlangsung meriah. Direktur TV Muhammadiyah Gatot Triyanto memaparkan bahwa pada tahun 2016 tercatat 132,7 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Melihat fenomena ini, banyak pengusaha media beralih ke dunia digital. Berkaitan dengan hal tersebut Gatot mengingatkan bahwa pada konvergensi media ada hal harus diperhatikan, yakni soal permodalan. Selain itu, pemilihan sudut pandang juga perlu dilakukan agar berita memiliki nilai tambah tersendiri. “Kita juga harus memperhatikan betul perihal pemilihan angle berita untuk meminimalisir keseragaman sebagai akibat yang ada dari konvergensi media,” ujar Gatot yang merupakan Direktur Utama Tv Muhammadiyah. Himawan Sutanto, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UMM menuturkan, kuliah tamu ini menjadi salah satu upaya dari Prodi Ilmu Komunikasi untuk mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan yang ada di dunia media, khususnya jurnalistik baik online maupun on air. “Kedepannya kita akan adakan MoU untuk mendukung dan bekerjasama tentang pengembangan TV jejaring yang dibangun Muhammadiyah yang berhubungan dengan pengembangan informasi dan ide-ide Muhammadiyah yang berkemajuan,” pungkas Himawan. (Usy/ Sil)

Sekul UMM, Hadirkan Wisata Kuliner Bernuansa Kekayaan Budaya

Malang adalah kota tua yang kaya akan budaya, salah satunya adalah Topeng Malangan. Berangkat dari hal tersebut, pada Sabtu (31/3) Sengkaling Kuliner (Sekul) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atas inisiatif Dr.Nazaruddin Malik selaku Direktur Utama Taman Sengkaling UMM, menggelar pertunjukan budaya Pagelaran Topeng Malangan yang bertajuk “Panji Mbangun Candi”. Pagelaran ini dimainkan oleh seniman dan seniwati dari Sanggar Kayu Tangan Malang. Pertunjukan menceritakan kisah kepahlawanan seorang Panji yang bernama Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun dalam membangun Candi yang banyak menghadapi rintangan. Karena semangatnya yang luar biasa, Panji berhasil mengalahkan musuh-musuhnya sehingga rakyatnya pun hidup aman dan sejahtera. Rektor UMM, Fauzan, menyampaikan bahwa pertunjukan topeng ini mencerminkan semangat yang diusung UMM.  Seperti halnya kegigihan Panji dalam membangun candi, UMM bertekad untuk berekspansi dalam hal sarana dan prasarana untuk mendukung dan memajukan pendidikan meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi. “Kami akan terus memperbaiki sarana dan prasarana agar kualitas pendidikan kami semakin baik dan maju,” tandas Fauzan. Selain itu Fauzan juga menambahkan, pagelaran ini diharapkan dapat memberi warna baru dalam mengenalkan budaya serta kearifan lokal Malang Raya pada masyarakat luas dengan cara baru. “Selain berkuliner, pengunjung juga bisa belajar mengenal dan mempelajari budaya lokal asli Malang,”katanya. Seperti diketahui, untuk menunjang pendanaan kampus, UMM memiliki banyak unit bisnis salah satunya adalah Taman Rekreasi Sengkaling yang diakuisisi UMM sejak 2013 lalu dan berubah nama menjadi Taman Sengkaling UMM. Selain civitas akademika, acara ini juga dihadiri masyarakat umum. Huynh My Phoi, seorang mahasiswa asing asal Vietnam mengaku senang menyaksikan pertunjukan ini karena dapat belajar budaya dan bahasa lokal Indonesia. ”Saya suka gamelan dan angklung. Tarian Indonesia sangat indah, bajunya juga indah,”pungkas mahasiswi yang sudah setahun di Indonesia tersebut. (lus/sil)