Mengapa Perlu Sertifikasi Halal? Pakar UMM Jelaskan Alasannya

Malang (beritajatim.com) – Pertanyaan mengenai urgensi sertifikasi halal di Indonesia kerap menjadi perdebatan. Salah satu keraguan yang sering muncul di kalangan pengusaha adalah, Mengapa harus repot mengurus sertifikasi halal, bukan sertifikasi haram saja? Menjawab kebingungan publik ini, seorang pakar dan asesor halal dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., memberikan penjelasan mendalam. Menurut Elfi, alasan utamanya adalah masalah kepatuhan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki undang-undang sejak tahun 90-an yang mewajibkan produsen mencantumkan label khusus jika produknya menggunakan babi. Namun, implementasinya di lapangan jauh dari harapan. “Tapi kira-kira (aturan itu) dipatuhi tidak? Hanya kurang dari satu persen (yang patuh). Karena itulah masyarakat muslim bingung dan galau,” jelas Elfi pada Selasa (4/11/2025). Karena kegagalan sistem pelabelan non-halal tersebut, sertifikasi halal hadir sebagai solusi untuk memberikan ketenangan dan jaminan bagi konsumen Muslim. Lebih jauh, Elfi menegaskan bahwa esensi dari sertifikasi halal jauh melampaui sekadar pemenuhan aspek legal dan syariat. Menurutnya, mutu tertinggi produk halal justru terletak pada aspek intrinsik yang tidak terlihat, yaitu niat dan kejujuran dari produsen. Ia menekankan bahwa produk halal tidak hanya harus terbebas dari bahan haram, tetapi juga wajib thayyib atau baik. “Maksudnya adalah mencakup gizi holistik. Proses pengolahan yang diiringi dengan niat baik akan menghasilkan produk yang membawa keberkahan dan bahkan menjadi makanan penyembuh,” tambahnya. Fakta menarik diungkap Elfi. Kepercayaan terhadap label halal ternyata tidak hanya datang dari kalangan Muslim. Saat ini, label halal telah dianggap sebagai standar global. “Kepercayaan ini bahkan meluas ke konsumen non-muslim yang menganggap label halal sebagai jaminan mutu, kebersihan, dan kualitas tertinggi,” ungkapnya. Sebagai seorang praktisi, yang produk olahan mawarnya pernah meraih penghargaan halal dunia di Malaysia, Elfi juga mendorong para pelaku usaha untuk berinovasi dan memaksimalkan bahan baku lokal. Ia mencontohkan bagaimana sumber daya alam di Kota Batu bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. “Misalnya bunga mawar yang berhasil ia olah jadi antioksidan. Ada juga bubuk bayam merah yang bisa digunakan sebagai suplemen zat besi atau juga kulit buah naga sebagai pewarna alami,” paparnya. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya terdekat ini tidak hanya lebih efisien secara biaya, tetapi juga sejalan dengan anjuran Rasulullah dan dapat memperkuat kemandirian pangan nasional. (dan/but)

UMM dan Shimonoseki City University Jepang Resmikan Japan Corner

Kota Malang, tagarjatim.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menjalin kerja sama internasional dengan Shimonoseki City University (SCU) Jepang. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner, Rabu (5/11/2025). MoU tersebut juga menjadi kerja sama akademik pertama bagi SCU dengan perguruan tinggi di Indonesia. Melalui perjanjian ini, kedua universitas sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian pusat kebudayaan Jepang di UMM. Japan Corner akan berfungsi sebagai pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang, serta wadah penelitian dan inovasi bersama. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, menyampaikan apresiasi atas kerja sama tersebut. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan SCU merupakan langkah strategis memperkuat hubungan pendidikan dua negara. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ujar Kaori. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, menuturkan bahwa kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara sekaligus universitas berbasis Islam. Ia menilai, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, pendidikan berbasis kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ungkap Prof. Chang. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menyebut kerja sama ini sebagai langkah konkret internasionalisasi kampus. Menurutnya, MoU tersebut membuka jalan bagi kolaborasi riset, program gelar ganda, hingga dialog kebudayaan antarnegara. baca juga : Menteri Diktisaintek Tegaskan Riset Harus Hidup dan Bermanfaat bagi Masyarakat “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang belajar, berdialog, dan berkolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Acara peresmian juga dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian “Senbonzakura”, kolaborasi antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Pertunjukan tersebut menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini kian erat melalui dunia pendidikan.(*)

Label Halal Adalah Kualitas Tertinggi: Profesor UMM Jelaskan di Sertifikasi Halal MUI Kota Batu

MALANG POST – Tak ada waktu tanpa berbagi ilmu. Ini menjadi bahan bakar sivitas akademika Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengabdi bagi negeri. Salah satunya seperti yang dilakukan pakar sekaligus asesor halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. Ia didapuk menjadi pembicara utama dalam acara bertajuk ‘Sosialisasi dan Akselerasi Sertifikasi Halal untuk Hotel dan Rumah Makan’ yang dilaksanakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batu, akhir Oktober lalu. Elfi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa esensi dari sertifikasi halal melampaui sekadar pemenuhan aspek legal dan syariat. Mutu tertinggi produk halal justru terletak pada aspek intrinsik yang tidak terlihat, yaitu niat dan kejujuran dari produsen. Menurutnya, produk halal tidak hanya harus terbebas dari bahan haram, tetapi juga harus thayyib atau baik. Maksudnya adalah mencakup gizi holistik, di mana proses pengolahan yang diiringi dengan niat baik akan menghasilkan produk yang membawa keberkahan dan bahkan menjadi makanan penyembuh. Elfi juga menjawab sederet keraguan yang dirasakan oleh pengusaha terkait penting tidaknya sertifikasi halal. Salah satunya pertanyaan mengapa harus mengurus sertifikasi halal, bukan sertifikasi haram. “Di Indonesia sudah ada undang-undang sejak tahun 90-an yang mewajibkan produsen mencantumkan label jika menggunakan babi.” “Tapi kira-kira dipatuhi tidak? Hanya kurang dari satu persen. Karena itulah masyarakat muslim bingung dan galau,” jelasnya. Menurutnya, sertifikasi halal hadir memberikan ketenangan. Menariknya, kepercayaan ini bahkan meluas ke konsumen non-muslim. Lantaran mereka menilai, label halal sebagai jaminan mutu, kebersihan dan kualitas tertinggi. Ia juga terus mendorong para pelaku usaha untuk memaksimalkan penggunaan bahan baku lokal. Sesuai dengan anjuran Rasulullah untuk memanfaatkan sumber daya terdekat. Langkah ini dinilai tidak hanya lebih efisien secara biaya. Tetapi juga dapat memperkuat kemandirian pangan nasional. Sebagai praktisi yang produk olahan mawarnya pernah meraih penghargaan halal dunia di Malaysia, Elfi mengajak para pengusaha untuk menciptakan keunikan dan nilai tambah pada produk mereka. Misalnya memanfaatkan bahan-bahan yang ada di Batu. Termasuk bunga mawar yang berhasil ia olah jadi antioksidan. Ada juga bubuk bayam merah yang bisa digunakan sebagai suplemen zat besi atau juga kulit buah naga sebagai pewarna alami. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Japan Corner UMM Jadi Babak Baru Hubungan Lintas Negara

Malang, VIVA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang pada Rabu, 5 November 2025. Dengan MoU ini UMM dan SCU resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. MoU ditandai denga peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner sebagai wujud nyata kerja sama kedua universitas. Penandatanganan ini tidak hanya menandai kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia. Tetapi juga meneguhkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Melalui kerja sama ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di UMM. Berdirinya Japan Corner diharapkan menjadi wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa, sekaligus pusat kegiatan penelitian dan inovasi bersama antara UMM dan SCU. Fasilitas ini juga disiapkan sebagai tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, mengatakan bahwa hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam memperkuat masa depan kedua negara. Kaori menyebut pemerintah Jepang memandang kerja sama akademik sebagai langkah strategis dalam membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan Shimonoseki akan menjadi model kerja sama yang berorientasi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, MoU ini menjadi peluang untuk mendorong generasi muda agar mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang mereka miliki. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” kata Kaori. Presiden Shimonoseki City University, Prof Chang Wan Han mengaku rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara, sekaligus kerjasama pertama dengan universitas berbasis Islam

UMM dan SCU Jepang Jalin Kerja Sama Akademik Internasional

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jejaring internasionalnya. Kali ini, Kampus Putih ini resmi menjalin kerja sama dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang. Kesepakatan ini dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang digelar di Kampus UMM, Rabu (5/11/2025). Penandatanganan ini menjadi kerja sama akademik pertama SCU dengan perguruan tinggi di Indonesia. Selain MoU, acara juga dirangkai dengan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di lingkungan kampus UMM. Fasilitas ini akan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menyebut kerja sama ini bagian dari upaya internasionalisasi kampus. Melalui kemitraan dengan SCU, UMM membuka peluang penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, hingga pengembangan program pascasarjana di bidang agribisnis. “Japan Corner akan menjadi ruang belajar dan dialog budaya. Kami berharap kolaborasi ini menghasilkan riset dan kegiatan akademik yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Bukan Sekadar Kolaborasi Pertama Presiden SCU, Prof. Chang Wan Han, menyambut baik kemitraan ini. Ia menilai UMM sebagai mitra strategis dalam memperkuat pendidikan lintas budaya dan riset global. “Ini kerja sama pertama kami di Asia Tenggara. Kami ingin membangun pendidikan yang menempatkan manusia di pusat kemajuan, meski teknologi dan kecerdasan buatan terus berkembang,” katanya. Konsulat Muda Konjen Jepang di Surabaya, Kaori Marohira, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. Ia menilai kerja sama antara UMM dan SCU menjadi langkah penting memperkuat hubungan pendidikan antara Indonesia dan Jepang. “Kolaborasi ini membangun jembatan pemahaman antarbangsa dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan global,” ujarnya. Acara penandatanganan MoU turut dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian Senbonzakura, perpaduan antara budaya Jepang dan Indonesia.

https://pwmu.co/umm-resmikan-japan-corner-babak-baru-kolaborasi-akademik-indonesia-jepang/

pwmu.co –Semangat inovasi dan ketekunan khas Negeri Sakura kini hadir di Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, kedua institusi resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. Penandatanganan kerja sama ini berlangsung di UMM, Rabu (5/11/2025), disertai peresmian Japan Academic and Cultural Center (Japan Corner) sebagai simbol nyata sinergi akademik dan kebudayaan antara UMM dan SCU. Kerja Sama Perdana Shimonoseki dengan Indonesia Menariknya, kolaborasi ini menjadi kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus menegaskan komitmen kedua institusi dalam memperkuat pertukaran ilmu, riset, dan kebudayaan lintas negara. Melalui MoU ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kerja sama dalam bidang penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pengelolaan Japan Corner di kampus UMM. Kehadiran Japan Corner diharapkan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang, serta wadah bagi riset dan inovasi bersama. Fasilitas ini juga disiapkan untuk membekali mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Dukungan Pemerintah Jepang Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin. Ia menegaskan, hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting untuk membangun masa depan kedua bangsa. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda dalam membentuk masyarakat berkelanjutan,” ujarnya. Kaori juga menyebut, kemitraan UMM dan SCU menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemahaman lintas budaya. “Kolaborasi ini bukan sekadar pertukaran ilmu, tapi juga pembelajaran nilai—bagaimana generasi muda menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas budayanya,” imbuhnya. Kebanggaan Shimonoseki City University Presiden SCU, Prof. Chang Wan Han, menuturkan rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama universitasnya dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara, sekaligus universitas berbasis Islam. “SCU sudah berdiri lebih dari tujuh dekade dan memiliki sejarah panjang dalam membangun inovasi pendidikan di Jepang. Kerja sama dengan UMM menjadi bagian dari misi global kami untuk menjangkau mitra akademik di berbagai kawasan dunia,” ungkapnya. Ia juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan berbasis kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. “Di tengah kemajuan teknologi, kami ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan—menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” tegasnya. Langkah Internasionalisasi Kampus Putih Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan, kerja sama ini menjadi bagian penting dari agenda internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. “MoU ini tidak hanya membuka peluang akademik lintas negara, tetapi juga menciptakan ruang dialog kebudayaan dan kolaborasi riset yang inovatif. Kerja sama ini sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya. Nazaruddin juga mengapresiasi dukungan Kedutaan Besar Jepang dan SCU dalam mewujudkan berdirinya Japan Corner. “Kami berharap Japan Corner menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan berkolaborasi. Dari sini akan lahir ide-ide besar yang memperkuat hubungan antarbangsa,” tambahnya. Simbol Harmonisasi Dua Budaya Acara peresmian Japan Corner ditutup dengan penampilan memukau dari UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian Senbonzakura—kolaborasi unik antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Penampilan itu menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini semakin erat terjalin melalui kerja sama akademik dan kebudayaan antara UMM dan Shimonoseki City University. Dengan langkah ini, UMM kembali menunjukkan perannya sebagai kampus Muhammadiyah yang terus memperluas jejaring global, membawa semangat dari Malang untuk dunia.

Mendikdasmen RI Pidato Bahasa Indonesia di UNESCO, Begini Kata Dosen UMM

Hal menarik terjadi di Sidang Umum UNESCO di Samarkand, Uzbekistan, beberapa waktu lalu. Dalam forum internasional itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti menyampaikan pidato perdananya menggunakan Bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa bahasa nasional Indonesia kini diakui secara resmi di panggung dunia, sekaligus menandai babak baru diplomasi kebahasaan Indonesia di tingkat global. Terkait hal itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia merupakan tindak lanjut dari Resolusi 42 C/28 yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO sejak tahun 2023. Langkah tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperjuangkan keberagaman bahasa dan budaya dunia. Maka dari itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMM juga terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten dalam bidang pendidikan bahasa serta memiliki kesiapan menjadi tenaga profesional pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Upaya ini sejalan dengan visi UMM untuk mengantarkan bahasa nasional tampil di kancah global sebagai bahasa diplomasi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut, Krisna, sapaannya, menilai bahwa keputusan UNESCO menjadi bukti keberhasilan diplomasi budaya Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM memandang peristiwa ini bukan hanya sebagai bentuk pengakuan, tetapi juga peluang besar bagi lembaga pendidikan bahasa untuk berperan dalam internasionalisasi bahasa nasional. Ini adalah langkah dan upaya yang sangat baik karena menjadi bagian dari penguatan diplomasi bangsa melalui bahasa dan budaya Indonesia. “Diplomasi bahasa merupakan instrumen penting dalam memperkuat citra bangsa di dunia internasional. Penyebaran Bahasa Indonesia di berbagai negara dapat menumbuhkan pemahaman lintas budaya sekaligus membangun hubungan antarbangsa yang lebih harmonis,” katanya. Ia juga menyebut bahwa langkah UNESCO tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 44, undang-undang itu menegaskan pentingnya peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa implementasi konkret dari kebijakan ini salah satunya diwujudkan melalui pengembangan program BIPA oleh lembaga pendidikan tinggi, termasuk UMM. Melalui program BIPA, pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga media diplomasi budaya. UMM sendiri terus mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan pedagogis, linguistik, dan interkultural yang mumpuni untuk menjadi pengajar bahasa di luar negeri. “Kami ingin lulusan UMM menjadi bagian dari tenaga profesional yang dapat mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, baik melalui program pemerintah maupun kerja sama internasional,” ujarnya. Lebih lanjut, pengakuan UNESCO terhadap Bahasa Indonesia juga mencerminkan meningkatnya minat dunia terhadap pembelajaran bahasa ini. Banyak universitas asing dan komunitas diaspora Indonesia kini membuka kelas Bahasa Indonesia sebagai bagian dari studi budaya Asia Tenggara. Selain menjadi kebanggaan nasional, penggunaan Bahasa Indonesia di forum UNESCO juga menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga identitas kebahasaan di tengah arus globalisasi. Menurutnya, internasionalisasi bahasa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif perguruan tinggi dalam mencetak tenaga pengajar yang berkualitas. “Kami melihat peluang besar bagi para lulusan fresh graduate untuk menjadi tutor dan pengajar Bahasa Indonesia bagi penutur asing di berbagai belahan dunia. Melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pelatihan pengajaran BIPA, UMM bertekad menjadi pusat pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia yang berdaya saing global,” ujarnya. Dengan optimisme bahwa Bahasa Indonesia akan terus memperluas pengaruhnya di dunia internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi, lembaga bahasa, dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan diplomasi kebahasaan di masa depan. Harapannya, Bahasa Indonesia terus mendapatkan ruang yang lebih luas di dunia internasional. (vin/wil)

UMM dan Shimonoseki City University Luncurkan Japan Corner

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi memperluas kolaborasi akademiknya hingga ke Negeri Sakura. Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, Kampus Putih kini memiliki pusat studi baru. Acara strategis yang digelar pada Rabu (5/11/2025) ini ditandai dengan peresmian “Japan Academic and Cultural Center” atau yang dikenal sebagai Japan Corner di lingkungan UMM. Kemitraan ini menjadi tonggak sejarah, menandai kerjasama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia. Fokus utama MoU ini adalah penguatan pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Kedua universitas sepakat untuk berkolaborasi dalam beberapa bidang utama, meliputi penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, serta pengembangan program pascasarjana di bidang agribisnis. Kehadiran Japan Corner ini diharapkan berfungsi sebagai hub sentral bagi mahasiswa UMM. Fasilitas ini dirancang tidak hanya sebagai wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan penelitian bersama antara UMM dan SCU. Lebih lanjut, Japan Corner akan difungsikan sebagai tempat pembekalan khusus bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar atau melanjutkan studi ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, yang turut hadir dalam peresmian, menyambut hangat kerja sama ini. Ia menegaskan bahwa hubungan pendidikan antara Indonesia dan Jepang adalah fondasi krusial untuk masa depan kedua negara. Menurutnya, kolaborasi UMM dan SCU dapat menjadi model kerja sama strategis untuk membangun jembatan pemahaman antarbangsa dan mendorong adaptasi generasi muda terhadap tantangan global. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ungkap Kaori. Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, mengungkapkan kebanggaannya. Ia menyoroti bahwa ini bukan hanya kemitraan pertama SCU di Asia Tenggara, tetapi juga yang pertama dengan universitas berbasis Islam. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), Prof. Han menekankan pentingnya pendidikan yang berfokus pada kemanusiaan. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah wujud nyata dari upaya internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. Menurutnya, kerja sama dengan SCU sejalan dengan visi UMM untuk memberikan dampak global melalui penguatan riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan mengembangkan kolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” tegas Nazaruddin. Acara peresmian ini turut dimeriahkan dan ditutup dengan penampilan dari UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian ‘Senbonzakura’, sebuah kolaborasi unik yang merepresentasikan harmonisasi dua budaya. (dan/but)

UMM Resmikan Japan Corner, Hasil Kerja Sama dengan Kampus Jepang

KLIKMU.CO – Dari Negeri Sakura yang dikenal dengan inovasi dan ketekunannya, semangat kolaborasi akademik kini menjangkau Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, kedua institusi resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. Acara yang digelar pada Rabu (5/11/2025) itu dirangkai dengan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner sebagai wujud nyata kerja sama kedua universitas. Penandatanganan ini tidak hanya menandai kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga meneguhkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Melalui kerja sama ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di UMM. Keberadaan Japan Corner diharapkan menjadi wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa, sekaligus pusat kegiatan penelitian dan inovasi bersama antara UMM dan SCU. Fasilitas ini juga disiapkan sebagai tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang Kaori Marohira turut menyampaikan ucapan selamat atas kerja sama yang terjalin. Ia menegaskan bahwa hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam memperkuat masa depan kedua negara. Dalam sambutannya, Kaori menyampaikan bahwa pemerintah Jepang memandang kerja sama akademik sebagai langkah strategis dalam membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan Shimonoseki akan menjadi model kerja sama yang berorientasi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, MoU ini juga menjadi peluang untuk mendorong generasi muda agar mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang mereka miliki. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ungkapnya. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University Prof Chang Wan Han mengungkapkan rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara, sekaligus kerja sama pertama dengan universitas berbasis Islam. Ia menuturkan bahwa SCU yang telah berdiri selama lebih dari tujuh dekade memiliki sejarah panjang dalam membangun inovasi pendidikan di Jepang. Karena itu, kerja sama dengan UMM menjadi bagian dari misi global universitasnya untuk menjangkau mitra akademik di berbagai kawasan dunia. Dia juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan berbasis kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi. Melalui kerja sama ini, SCU ingin berfokus pada pengembangan manusia yang berdaya saing sekaligus menjunjung tinggi keberagaman. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Lebih lanjut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik MSi menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata upaya internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. MoU ini tidak hanya membuka jalan bagi kegiatan akademik lintas negara, tetapi juga menciptakan ruang baru untuk dialog kebudayaan dan kolaborasi riset yang inovatif. Menurutnya, kerja sama dengan SCU sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui penguatan riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Nazaruddin juga mengapresiasi dukungan penuh dari Kedutaan Besar Jepang dan SCU dalam mewujudkan berdirinya Japan Corner yang akan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang di kampus UMM. “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan mengembangkan kolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Acara ini turut dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian ‘Senbonzakura’, kolaborasi unik antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Penampilan tersebut menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini semakin erat terjalin melalui kerja sama akademik. (Wildan/AS)

UMM Resmikan Japan Corner

Dari negeri Sakura yang dikenal dengan inovasi dan ketekunannya, semangat kolaborasi akademik kini menjangkau kampus putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang, kedua institusi resmi membuka babak baru hubungan pendidikan lintas negara. Acara yang digelar pada 5 November 2025 itu dirangkai dengan peresmian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner sebagai wujud nyata kerja sama kedua universitas. Penandatanganan ini tidak hanya menandai kerja sama akademik pertama Shimonoseki City University dengan perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga meneguhkan komitmen kedua institusi untuk memperkuat pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan riset lintas negara. Melalui kerja sama ini, UMM dan SCU sepakat menjalin kolaborasi di bidang penelitian bersama, program pertukaran mahasiswa, pengembangan pascasarjana bidang agribisnis, serta pendirian Japan Academic and Cultural Center atau Japan Corner di UMM. Adapun keberadaan Japan Corner diharapkan menjadi wadah pembelajaran bahasa dan budaya Jepang bagi mahasiswa, sekaligus pusat kegiatan penelitian dan inovasi bersama antara UMM dan SCU. Fasilitas ini juga disiapkan sebagai tempat pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengikuti program pertukaran pelajar dan studi lanjut ke Jepang. Konsulat Muda Konjen Jepang, Kaori Marohira, turut menyampaikan ucapan selamat atas kerja sama yang terjalin. Ia menegaskan bahwa hubungan pendidikan antara Jepang dan Indonesia merupakan fondasi penting dalam memperkuat masa depan kedua negara. Dalam sambutannya, Kaori menyampaikan bahwa pemerintah Jepang memandang kerja sama akademik sebagai langkah strategis dalam membangun jembatan pemahaman antarbangsa. Ia menilai kolaborasi antara UMM dan Shimonoseki akan menjadi model kerja sama yang berorientasi pada kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, MoU ini juga menjadi peluang untuk mendorong generasi muda agar mampu beradaptasi dengan tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang mereka miliki. “Atas nama Pemerintah Jepang, saya menyampaikan selamat kepada kedua universitas. Kerja sama di bidang pendidikan dan akademik ini menjadi fondasi bagi generasi muda yang akan membentuk masyarakat berkelanjutan. Kami berharap penandatanganan hari ini menjadi langkah awal bagi hubungan yang lebih luas di masa mendatang,” ungkapnya. Sementara itu, Presiden Shimonoseki City University, Prof. Chang Wan Han, mengungkapkan rasa bangga karena kemitraan ini menjadi kerja sama pertama SCU dengan universitas di Asia Tenggara, sekaligus kerjasama pertama dengan universitas berbasis Islam. Ia menuturkan bahwa SCU yang telah berdiri selama lebih dari tujuh dekade memiliki sejarah panjang dalam membangun inovasi pendidikan di Jepang. Karena itu, kerja sama dengan UMM menjadi bagian dari misi global universitasnya untuk menjangkau mitra akademik di berbagai kawasan dunia. Ia juga menyoroti pentingnya membangun pendidikan berbasis kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi. Melalui kerja sama ini, SCU ingin berfokus pada pengembangan manusia yang berdaya saing sekaligus menjunjung tinggi keberagaman. “Kami sangat senang dapat bermitra dengan UMM, salah satu universitas terbaik dunia di bawah Muhammadiyah. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, kami tetap ingin menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan, menghargai keanekaragaman budaya, agama, dan bangsa,” ujarnya. Lebih lanjut, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk nyata upaya internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMM. MoU ini tidak hanya membuka jalan bagi kegiatan akademik lintas negara, tetapi juga menciptakan ruang baru untuk dialog kebudayaan dan kolaborasi riset yang inovatif. Menurutnya, kerja sama dengan SCU sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Putih yang berdampak global melalui penguatan riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Nazaruddin juga mengapresiasi dukungan penuh dari Kedutaan Besar Jepang dan SCU dalam mewujudkan berdirinya Japan Corner yang akan menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Jepang di kampus UMM. “Melalui MoU ini, kami berharap dapat membuka pintu yang lebih luas untuk penelitian bersama, program gelar ganda, dan inisiatif budaya yang menumbuhkan saling pengertian. Japan Corner akan menjadi ruang untuk belajar, berdialog, dan mengembangkan kolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya. Acara ini turut dimeriahkan oleh penampilan UKM Sansekerta UMM yang membawakan tarian ‘Senbonzakura’, kolaborasi unik antara tarian tradisional Jepang dan tari daerah Indonesia. Penampilan tersebut menjadi simbol harmonisasi dua budaya yang kini semakin erat terjalin melalui kerja sama akademik. (vin/wil)