OJK Gandeng UMM dan Muhammadiyah Tingkatkan Literasi Keuangan

KOLABORASI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkat. Setelah sebelumnya pada 2012 UMM menjadi perguruan tinggi pertama yang menjalin kerjasama dengan OJK, kali ini kemitraannya meluas hingga pengembangan keuangan syariah, peningkatan literasi keuangan, serta perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan. Penandatangan nota kesepahaman (MoU) dilakukan di Auditorium UMM, Selasa (18/4) oleh Rektor UMM Fauzan dan Ketua Dewan Komisioner OJK Dr. Mulaiaman D. Hadad. Selain dengan UMM, MoU juga dilakukan OJK dengan Muhammadiyah yang diwakili langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir M.Si. “OJK sangat tepat bekerjasama dengan UMM. Semoga kerjasama ke depan bisa lebih real, utamanya berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya dilakukan mahasiswa, tapi juga dosen,” kata Fauzan. Bagi Fauzan, peran perguruan sangat strategis, utamanya dalam upaya mensosialisasikan jasa keuangan. Fauzan lebih lanjut juga menawarkan pendirian pusat kajian jasa keuangan di Perpustakaan Pusat UMM bernama OJK Corner. Sementara bagi Muhammadiyah, ungkap Haedar, kerjasama ini setidaknya memberikan tiga keuntungan. Pertama, kata Haedar, yakni semakin memperkuat sistem tata kelola keuangan, pengawasan dan pembinaan di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, kerjasama ini juga mendukung pengembangan ekonomi utamanya pada tingkat mikro kecil dan menengah. “Terakhir, pengembangan Muhammadiyah dalam pilar ekonomi yang saat ini menjadi perhatian Muhammadiyah,” tukas Haedar. Selain penandatangan MoU, kegiatan juga diisi dengan kuliah umum bertajuk “Peran Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan dalam Pengembangan Keuangan Syariah di Indonesia” . (can/han)
Gebyar Enam Bahasa Asing di Car Free Day ala KBA UMM

SEBAGAI kota pendidikan dan pariwisata, kota Malang menjadi jujugan wisatawan maupun perantau dari berbagai negara. Untuk itu, masyarakat di kota Malang mesti dinamis dan mampu berkomunikasi dengan pendatang yang berbicara dalam ragam bahasa. Menyikapi hal tersebut sekaligus sebagai peringatan hari jadi kota Malang ke-103 di bulan April, unit Kursus Bahasa Asing (KBA) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) mengadakan Gebyar Budaya dan Pelatihan Singkat bahasa asing di kawasan Car Free Day (CFD) jalan Ijen, Ahad (16/4). Kepala KBA UMM, Dr. Sri Hartiningsih, MM menyatakan warga Malang penting untuk belajar bahasa asing. “Kota Malang tak hanya jadi tuan rumah bagi mahasiswa, tapi juga wisatawan asing. Selain itu, kemajuan zaman menuntut kita untuk belajar tak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri,” terang Harti. Pada gebyar budaya ini, sebanyak 140 mahasiswa KBA unjuk penampilan dari 6 negara, yakni Korea, Mandarin, Jepang, Perancis, Jerman, dan Arab. Tak hanya menyaksikan penampilan lewat panggung, KBA juga menyiapkan stan bagi pengunjung CFD untuk belajar ke-enam bahasa negara tersebut. “Ini adalah warming-up, pengenalan pada masyarakat bahwa belajar bahasa itu penting. Ibaratnya, hukum untuk belajar bahasa asing itu sunnah muakad,” ujar Harti menganalogikan. Tak sekadar tampil, mahasiswa KBA juga akan mendapatkan penilaian. Nantinya, kelas dengan nilai tertinggi akan berkesempatan tampil pada malam inagurasi yang diselenggarakan Mei mendatang. (ich/han)
Lomba Kicau Burung Nasional di UMM, Antusias Diikuti Ribuan Peserta Se-Indonesia

RIBUAN peserta Lomba Kicau Burung Tingkat Nasional “Walikota Malang Cup II” dari berbagai daerah se-Indonesia tampak antusias menikmati suasana kompetisi yang berlangsung di Stadion Sepakbola Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (16/4). Selain sebagai wadah bagi para pecinta burung, lomba ini juga sekaligus untuk memperingati hari jadi kota Malang ke-103. Lomba yang merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Kota Malang, UMM, komunitas burung berkicau BNR Indonesia, dan Juri BNR Indonesia ini diikuti lebih dari 2000 jenis burung. “Pesertanya ini datang dari seluruh nusantara, ada dari Palembang, Sampit, Bali, bahkan ada yang dari Makassar,” ujar ketua panitia, Wibi Dwi Andrias. Dijelaskan Wibi, lomba kali ini memuat enam kategori lomba. Mulai dari kategori ‘Walikota’ yang hanya bisa diikuti jenis burung Murai Batu Ring, kemudian ada katergori ‘Rektor’ yang bisa diikuti jenis burung Murai Batu, Cucak Hijau dan Punglor Merah. Empat kategori lainnya yaitu kategori ‘BNR’, ‘JBI’, ‘Arema Bersatu’ dan ‘Rakyat’ yang melombakan jenis burung tertentu juga. Kompetisi kian meriah lantaran didukung oleh komunitas-komunitas pecinta burung dari berbagai daerah, di antaranya Peacock Bird Club Cabang Gresik dan KJR Majoret Pasuruan. Tak hanya disukai laki-laki dewasa, lomba kicau burung kali ini juga diikuti menarik minat perempuan dan anak-anak, misalnya KJR Majoret yang mendelegasikan 8 orang, di mana di antaranya terdapat peserta perempuan dan seorang anak. Wibi menjelaskan, hal itu membuktikan bahwa lomba kicauan burung tidak hanya untuk orang dewasa dan laki-laki, tapi bisa juga dinikmati oleh semua kalangan. Saat ditanya mengenai mengapa KJR Majoret mengikuti lomba ini, Angga, salah satu anggotanya mengatakan jika lomba kali ini bergengsi tinggi disertai hadiah yang cukup menggiurkan. “Kami ikut lomba kali ini karena gengsinya, karena sudah tingkat nasional,” tutur Angga. Menurut Wibi, hadiah yang diberikan pada pemenang lomba ini tidak tanggung-tanggung, yaitu total lebih dari 200 juta rupia. “Untuk lomba cabang ‘Walikota’ saja, untuk juara pertama mendapatkan hadiah hingga 12 juta,” tutur Wibi yang juga alumni UMM ini. Selain itu, panitia juga menyediakan doorprize yang tidak kalah menarik, di antaranya dua sepeda motor matic untuk peserta lomba dan 10 sepeda gunung untuk penonton, serta sejumlah hadiah hiburan lainnya. Rektor UMM Fauzan yang turut hadir pada acara ini berharap acara ini tak hanya menjadi ajang menyalurkan hobi, namun juga menjadi komunitas yang saling mendukung dan membangun jejaring. (rul/han)
Inisiasi Sahabat LP3A, Sosialisasikan Gerakan Anti-Kekerasan Perempuan dan Anak

MENINDAKLANJUTI peran dan fungsi Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), LP3A membentuk sahabat LP3A. Perannya, sahabat LP3A akan membantu lembaga ini untuk mensosialisasikan gerakan anti-kekerasan pada perempuan dan anak ke masyarakat luas. Kepala LP3A, Thatit Manon Andini menyatakan, sahabat LP3A ada untuk mengefektifkan dan mengefesiensikan kinerjanya LP3A. “Lingkup kerja kita sangat luas, oleh karena itu kita akan membutuhkan banyak tenaga untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bahayanya kekerasan pada perempuan dan anak,” jelas Thatit. Tidak hanya berfokus pada kekerasan perempuan dan anak. Sebanyak 180 sahabat LP3A juga akan melakukan penanganan serta mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS serta pemberdayaan perempuan dan anak. Kelebihan lainnya, sahabat LP3A akan lebih mudah mendekati mahasiswa untuk mensosialisasikan tugasnya. Untuk target awal, lanjut Thatit, LP3A hanya membutuhkan 100 orang saja. Namun, antusiasme mahasiswa sangat tinggi sehingga yang mendaftar lebih dari yang ditargetkan. “Sahabat LP3A berasal dari mahasiswa, maka akan lebih mudah untuk menyasar mahasiswa dalam mensosialisasikan tugasnya,” ujar Thatit. Tidak berhenti sampai disitu, selain tugas sosialisasi, sahabat LP3A juga akan melaporkan hingga mengatasi permasalahan yang sangat penting tersebut. Dalam rangka membekali sahabat LP3A dalam melaksanakan tugasnya, LP3A UMM menggelar Training of Trainer (ToT) sahabat LP3A, Sabtu (15/4) di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM. Menurut Thatit, dengan membekali sahabat LP3A, mereka akan lebih percaya diri dalam melaksanakan tugasnya. Bekerjama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang dan Polres Kota Malang, LP3A membekali sahabat LP3A mengenai narkoba, kesehatan dan kekerasan pada perempuan dan anak. Sejauh ini, LP3A akan terus memperkaya pengetahuan sahabat LP3A agar dapat dengan mudah mensosialisasikan pada masyarakat nantinya. Selain pembekalan, ke depan sahabat LP3A akan diturunkan ke masyarakat langsung untuk menangani berbagai permasalahan. Salah satu pemateri dalam acara ToT, Kepala BNN Kota Malang, AKBP Ir. Bambang Sugiharto, M.Si menyampaikan tentang antisipasi penyalahgunaan narkoba. Bambang menjelaskan, pengedaran narkoba saat ini sudah tidak terbatas, ia dapat terjadi di mana saja dan dapat menjerat siapa saja. Kampus juga bisa menjadi salah satu tempat pengedaran barang haram tersebut. “Sepanjang 2010-2015, ada 103 sindikat yang mengedarkan narkoba yang tersebar pada lingkungan kerja, lingkungan pendidikan dan masyarakat,” ungkapnya. (jal/han)
Muhadjir Effendy: UMM Perlu Ekspansi Dakwah ke Pelosok Indonesia

WAKIL Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., dalam pengajian bulanan yang diadakan di Auditorium UMM, Sabtu (15/4) mendorong UMM untuk memperluas ekspansi dakwahnya ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Muhadjir mengatakan, selain potensi wisata, daerah yang berada di zona 3T itu sangat mungkin untuk diberdayakan masyarakat muslimnya. Meski tidak banyak, Muhammadiyah di daerah tersebut memiliki potensi strategis untuk berkembang. Beberapa daerah yang disebut Muhadjir di antaranya Kepuluan Aru dan Wakatobi. Selain penguatan internal lewat konsolidasi, UMM juga didorong untuk melakukan ekspansi dakwah. Selain sebagai bentuk pengembangan UMM secara institusi, juga sebagai bentuk peningkatan serta perluasan peran di masyarakat. “Konsolidasi terus tanpa ekspansi akan macet. Kalau ekspansi terus tanpa konsolidasi akan kropos. Keduanya harus berjalan secara harmonis,” kata Muhadjir di hadapan civitas akademika UMM. Dengan mengutip al-Quran surat at-Taubah ayat 111, Muhadjir menegaskan, spirit Masyayikh atau pelawat yang terkandung dalam ayat tersebut juga mesti mulai digalakan oleh UMM. “Dulu, karena kondisinya darurat, maka muslimin diminta berjihad lewat jalan perang. Tapi dalam konteks kekinian, Indonesia misalnya yang tidak dalam kondisi darurat atau perang, ekspansi berupa perluasan peran di masyarakat menjadi jalan yang ditempuh. Para pendahulu Muhammadiyah seperti AR. Fachruddin juga mengembangkan sayap dakwahnya sampai ke Sulawesi Selatan, juga Syafi’i Ma’arif ke Bima,” ungkapnya. Merespon tawaran tersebut, Rektor UMM Drs. Fauzan, M.Pd. menyatakan bakal menindaklanjutinya dengan mengerahkan potensi yang dimiliki UMM untuk turut mengembangkan daerah yang berada di zona 3T tersebut. (can/han)
Konsultan Periklanan AS Kenalkan Mahasiswa UMM Dinamika Dunia Periklanan

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi (Prodi Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kedatangan tamu spesial. Tiga praktisi dari salah satu agensi periklanan ternama dan tertua di dunia yang berkantor pusat di New York Amerika Serikat (AS) J. Walter Thompson (JWT), secara khusus datang ke UMM untuk berbagi pengalaman seputar dunia periklanan (advertising), Kamis (13/4). Ketiga pemateri tersebut yaitu Strategy Manager JWT Jakarta Maria Angelica, Associate Account Director Niken Angganawati, dan Digital Art Director Wedhatama Pertiwi. Agar iklan tidak berhenti sebatas media promosi produk, dijelaskan Maria, setidaknya sebuah iklan harus memuat tiga komponen utama, yang ia sebut sebagaipioneering solutions. Komponen pertama yaitu what is the business challenge? atau apa permasalan dan tantangan yang dihadapi klien? Sementara komponen kedua, urai Maria, yakni apa masalah yang dihadapi target audiens. Terakhir, brand motivations, yakni bahwa setiap brand itu harus memiliki fungsi atau guna untuk umat manusia. “Dari ketiga komponen itu kita akan mendapatkan ide. Eksekusinya tidak hanya berupa iklan di televisi atau media cetak, tapi harus beyond communications ideas. Misalnya kita bisa bikin bisnis model baru atau packaging baru,” imbuhnya di hadapan mahasiswa peminatan Public Relations (PR) di Aula Masjid AR Fachruddin lantai 1 UMM. Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMM Sugeng Winarno MA menerangkan, dunia iklan adalah dunia kratif yang menyenangkan. Selain memiliki tiga peminatan, yakni jurnalistik, audio-visual dan public relations, mahasiswa juga didorong untuk mendalami periklanan. (can/han)
Tata Kelola Perpustakaan UMM Menarik Minat Kementerian Pertanian

PERPUSTAKAAN pusat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya memberikan pelayanan dan manfaat pada civitas akademika saja, tapi juga instansi lain. Hal itu salah satunya tampak pada kunjungan 120 pengelola perpustakaan di lingkungan Kementerian Pertanian RI se-Indonesia, Rabu (12/4) di Perpustakaan Pusat UMM.. Kunjungan selanjutnya diisi dengan diskusi dan saling berbagi informasi terkait perpustakaan UMM dengan para peserta. Perwakilan perpustakaan UMM Arif Yuni Ismanto menjelaskan tentang tata kelola perpustakaan, fasilitas, sistem informasi dan juga layanan yang dijalankan di perpustakaan pusat UMM. Dalam pemaparannya, Arif menyatakan bahwa perpustakaan UMM masih terus melakukan pembenahan untuk memenuhi kebutuhan civitas akademika UMM. Fasilitas terbaru yang sedang dijalankan adalah penambahan fasilitas jurnal internasional. “Setidaknya perpustakaan UMM bekerjasama dengan empat lembaga jurnal yang menyediakan banyak jurnal internasional yang multidisipliner,” jelas kepala bagian pelayanan perpustakaan pusat UMM. Di antara empat lembaga penyedia jurnal tersebut merupakan konsorsium seluruh perpustakaan perguruan tinggi Indonesia Jawa Timur. Proquest namanya, lanjut Arif. Tiga lembaga lainnya, seperti Ebso yang berpusat di Amerika Serikat, Emerald Journal yang berpusat di Inggris dan Gale Change Learning yang juga berpusat di Amerika. Ketiganya tidak dihadirkan dalam bentuk konsorsium, namun UMM secara mandiri untuk menyediakan fasilitas bagi mahasiswa dan dosen. Namun yang menjadi kekurangan, lanjut Arif, hingga saat ini mahasiswa dan dosen masih belum memaksimalkan fasilitas tersebut untuk keperluan akademik. “Semua fasilitas tersebut sudah disediakan di perpustakaan pusat lantai satu,” imbuh Arif yang saat ini menjabat sebagai ketua koordinator Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur. Kedatangan pengelola perpustakaan di UMM merupakan salah satu langkah perpustakaan untuk mengambil pelajaran dan diterapkan di perpustakaan UMM. Kedepannya, kita akan menerapkan perpustakaan mobile yang bisa diunduh di gawai pintar seluruh mahasiswa UMM. “Semuanya dalam masa penjajakan, kedepan mahasiswa UMM lebih mudah lagi meminjam maupun mengecek buku ataupun mengakses jurnal yang ada di Perpustakaan,” ungkapnya. (jal/han)
UKM-K JF Ajak Mahasiswa UMM Menulis tentang Nilai-nilai Interdisipliner Al-Qur’an

AL-QURAN memiliki kandungan nilai-nilai yang sangat mulia dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Namun, terkadang hal itu tak banyak diketahui masyarakat. Untuk itulah, Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian (UKM-K) Jamaah Masjid AR Fachruddin (JF) UMM mengajak mahasiswa menggali nilai-nilai itu dan menulisnya untuk dilombakan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Quran (LKTIA). Wakil ketua pelaksana LKTIA Fitra Parlindo menjelaskan, kompetisi ini diangkat agar semua mahasiswa UMM dapat mengenal dan mendalami Al-Quran lebih mendalam lagi. Dengan mengangkat tema ‘Bangkitkan Prestasi Pemuda dengan Akhlaq yang Qurani’, panitia berharap mahasiswa yang notabenenya pemuda, dapat berprestasi dengan mengacu pada Al-Quran. “Kami berharap mahasiswa bisa mengeksplorasi tentang eksistensi Al-Quran,” jelas Fitra saat ditemui Selasa (11/4). Jika dilihat lebih mendalam, pemuda bisa menghubungkan antara teori-teori yang ada di Al-Quran dengan teknologi, keterhubungan ayat-ayat Al Quran dengan kondisi sosial, bahkan dalam bidang seni, korupsi dan ekonomi Al-Quran juga sudah mengatur. Kita ingin, lanjut Fitra, mahasiswa tidak hanya menjadikan Al-Quran hanya sebagai bacaan belaka, tapi menjadikan Al-Quran sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Dengan diikuti 8 tim dari 10 fakultas yang ada, UKMK JF UMM berusaha menghadirkan kembali Al-Quran dalam keseharian manusia terutama pemuda. LKTIA ini merupakan salah satu rangkaian perlombaan Rektor Cup yang diadakan oleh setiap UKM dalam rangka memacu kreatifitas dan memunculkan actor-aktor baru dalam berbagai bidang. Setelah penyetoran berkas karya, UKMK JF UMM menggelar presentasi ide dari setiap tim yang mengirimkan karyanya. Dengan mengangkat judul Animasi Qashas (ANIMAQ) inovasi media pembelajaran menggunakan animasi cerita dan metode sosiodrama untuk membentuk karakter siswa tingkat sekolah dasar, Fakultas Pertanian dan Peternakan(FPP) keluar sebagai juara 1. Disusul Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan juara ke tiga diraih oleh Fakultas Psikologi. Salah satu anggota tim Juara 1 LKTIA itu, Atidati An’umillah mengatakan, Al-Quran memang telah menyediakan solusi atas setiap permasalahan kehidupan saat ini. Ide mahasiswa yang berasal dari FPP ini adalah membuat animasi dalam rangka memberikan edukasi kepada anak seusia sekolah dasar. “Anak kecil lebih senang belajar melalui gambar, maka dengan belajar makna Al-Quran melalui animasi dapat dengan mudah paham dan pasti lebih tertarik,” ujarnya. (jal/han)
Kisah Ridlo Setyono, Staf UMM yang Kenalkan Muhammadiyah di Polandia

BADAN seakan ditusuk jarum es, telapak tangan serasa kram, lutut berdenyut dan mulut rasanya ngilu menahan dinginnya cuaca di bumi Eropa. Demikian kisah Ridlo Setyono mengilustrasikan suasana musim semi di Lublin, kota terbesar ke-9 di Polandia, saat mengikuti beasiswa pertukaran Erasmus+ atas sponsor Uni Eropa. Memang, bagi warga negara tropis seperti Indonesia, merasakan musim semi di Eropa adalah pengalaman mengasyikkan sekaligus menantang. “Kegiatan selama di Polandia berpusat di Lublin University of Technology (LUT). Selain saya yang dari Indonesia, peserta lainnya berasal dari Perancis, Spanyol, Rusia, Serbia, Libanon, Maroko, Tunisia, Aljazair, Kosovo, Kamboja, dan Honduras,” tutur Kepala Urusan Perlengkapan dan Inventaris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Ridlo menceritakan, di awal kedatangan, peserta disambut dengan welcoming remark dari International Exchange Education LUT yang diwakili oleh Małgorzata Wilczyńska. Ridlo sebagai wakil UMM tak hanya memanfaatkan momen itu untuk mengenalkan dirinya dan kampusnya saja, tapi juga persyarikatan Muhammadiyah, tentunya dengan bahasa Inggris. “ini adalah saat tepat bagi saya untuk mengenalkan kampus dan juga Muhammadiyah. Setelah perkenalan pribadi dan kampus, saya tambahkan dengan mengatakan kalau UMM adalah salah satu dari kampus besar yang dimiliki organisasi Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyah adalah pioner pendidikan di Indonesia sejak 1913 M. Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki ribuan sekolah dan perguruan tinggi yang menyebar di seluruh Indonesia, bahkan telah dibuka kampus Muhammadiyah di luar negeri seperti di Malaysia,” papar Ridlo. Oleh karena itu, lanjut Ridlo, untuk urusan pendidikan, pemerintah Indonesia mempercayakan kepada Muhammadiyah, terbukti Menteri Pendidikan sekarang berasal dari jajaran pimpinan Muhammadiyah. “Peserta terlihat terkesima, mereka menyimak sembari penasaran dengan penjelasan saya mengenai Muhammadiyah. Terlihat peserta dengan khidmat mengikuti apa yang saya sampaikan,” jelas sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang ini. Disaat Ridlo menjelaskan mengenai Muhammadiyah, salah satu peserta dari Maroko, Hanae, mengacungkan tangan sambil berkata “I am also from Muhammadiyah. That’s one of the names of city in Maroko”, kata Hanae. Hadirin semula tampak penasaran dengan apa yang disampaikan. Ternyata di Maroko, nama muhammadiyah sudah terkenal karena di sana ada kota yang bernama Mohammedia. Menutup presentasi singkat itu, Ridlo menyampaian bahwa UMM dan Muhammadiyah membuka pintu kepada semua delegasi kampus bila berkeinginan untuk research, studi banding, sharing dan diskusi mengenai UMM dan Muhammadiyah. “Semoga ini menjadi salah satu media untuk mengenalkan Muhammadiyah di belahan negara lain yang belum paham tentang organisasi ini,” ujarnya. Peserta tampak antusias dan penasaran dengan apa yang diceritakan Ridlo lantara ia merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia. “Mereka yang berasala dari Timur Tengah sangat appreciate dan mengagumi dengan mengatakan ‘Indonesia is a good country’. Jadi di mata mereka, kita bangsa Indonesia masih dipandang baik dan sukses pemerintahannya,” tutup Ridlo. (rid/han)
KDRT Meningkat, LP3A Dalami Akar Kekerasan Perempuan dan Anak

ANGKA Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) di Indonesia terus meningkat. Tahun 2016 lalu, sebanyak 259.150 kasus KDRT terlaporkan ke pengadilan agama. Menurut Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan 2007-2014 Dr Neng Dara Affiah MSi, sejak 2010, jumlah KDRT memang terus mengalami peningkatan hingga saat ini. Kekerasan pada perempuan ini banyak jenisnya. Menurut Neng Dara, data menunjukkan kekerasan yang paling menonjol adalah KDRT Ranah Personal (RP), yaitu hingga mencapai 75 persen atau sekitar 10.205 kasus. “Semua kasus tersebut adalah yang terlaporkan, masih banyak yang tidak terlaporkan,” jelasnya pada Seminar Nasional yang digelar Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Selasa (11/4) di Auditorium UMM. Neng Dara menjelaskan, 70 persen kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal dekat dengan korban. Pelaku kekerasan seksual tidak hanya melakukannya sendiri, kecenderungan dalam tiga tahun terakhir, perkosaan dilakukan secara berkelompok yang diakhiri dengan pembunuhan. “Pelakunya semakin banyak berasal dari usia anak dan akan menjadikan anak yang berumur di bawahnya sebagai korban,” ungkapnya. Narasumber kedua, yaitu dosen Fakultas Psikologi UMM Selain Neng Dara, Dr, Muhammad Salis Yuniardi, M. Psi menjelaskan, korban kekerasan perempuan dan anak biasanya berasal dari keluarga yang tidak mengajarkan masalah kepribadian kepada anak. Menurut Salis, keluarga merupakan akar dari segala permasalahan yang terjadi pada anak. Mulai dari awal, ayah dan ibu harus bekerjasama untuk membangun keluarga yang kokoh dengan membangun pribadi yang tangguh. “Berikan kesempatan pada anak untuk mengambangkan bakat dan minat. Banyak dari orang tua yang menekan anaknya supaya sesuai dengan keinginan orang tua. Jika anak tidak menghendaki hal tersebut, maka anak akan mencari tempat yang mendukung bakat dan minatnya,” jelas Salis. Kasus kekerasan pada anak dan perempuan hingga saat ini belum masuk dalam kasus delik pidana, tetapi masih dalam kategori kasus delik aduan. Salis memaparkan, jika delik pidana, maka tanpa ada laporan kekerasan polisi atau pihak berwajib boleh melakukan tindakan. Namun, karena kasus kekerasa pada perempuan dan anak masuk kategori delik aduan, jadi perlu ada yang melaporkan terlebih dahulu baru bisa diproses secara hukum. “Hal tersebut menambah panjang penyebab turunnya angka kekerasan pada perempuan dan anak,” ujarnya. (jal/han)