Refleksi di UMM, Taufiq Ismail Ingin Bangkitkan Literasi Sastra Pelajar Indonesia

Sastrawan legendaris Indonesia, Taufiq Ismail mengaku miris dengan menurunnya tingkat literasi pelajar Indonesia dewasa ini. Dahulu, Taufiq bercerita, saat ia masih muda, siswa SMA sederajat diwajibkan menamatkan 25 judul buku dan membuat 108 karangan selama tiga tahun masa sekolah. Hal ini disampaikan Taufiq saat menjadi pembicara pada Cangkrungan Multidisipliner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Gazebo Forum yang digelar di area gazebo perpustakaan pusat UMM, Sabtu (29/4). Sastrawan bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah ini memberi apresiasi pada UMM Gazebo Forum sebagai wahana penguatan literasi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Humas UMM dengan program studi Pendidikan Bahasa Indonesia dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional yang jatuh pada 28 April. Acara ini selanjutnya dirangkai dengan lomba cipta puisi dan baca 1000 puisi oleh para siswa SMA sederajat se-Jawa Timur yang digelar malam harinya. Di forum ini, Taufiq Ismail mengeluarkan ‘unek-uneknya’ tentang dunia literasi sastra. Indonesia, lanjutnya, terhitung sudah separuh abad menderita akibat miskin membaca. “Paradigma baru yang berkembang sekarang mengarahkan pelajar lebih banyak gandrung pada media sosial. Kebiijakan terbaru, siswa SD diwajibkan menamatkan 3 judul buku sastra selama masa sekolah, SMP 6 judul buku, dan SMA 15 judul buku. Tapi nyatanya, ini jauh dari tercapai, bahkan 0 buku yang dibaca siswa. Ini menyedihkan sekali,” ujar pria kelahiran Bukittinggi ini. Padahal, melalui sastra manusia tak hanya menuliskan untaian kata-kata, tapi juga pengungkapan isi pikiran. Pikiran akan terbarukan dengan menulis dan membaca karya sastra, puisi misalnya. Puisi sarat akan nilai-nilai moral, intelegensi, dan estetika. Puisi masuk dalam tiap ruang kehidupan. “Definisi, sejarah, dan teori sastra itu bukan yang utama, tapi minat membaca dan nilai yang didapatnya,” tukas Taufiq. “Bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa yang rugi karena mengalami penurunan yang jauh dalam hal literasi sastra. Pelajar mesti mengembalikan hal ini melalui transformasi literasi. Mulailah membaca dan menulis sastra, Melalui kebiasaan menulis buku harian, ini akan memupuk semangat menulis. Membaca, membaca, membaca. mengarang, mengarang, mengarang,” pesan Taufiq pada para pelajar. Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Arif Budi Wurianto mengisahkan tentang Kartini yang dipingit pada zamannya. Kakak kandung Kartini, Sosrokartono miris melihat adiknya tak bisa mengenyam pendidikan seperti dirinya akibat terbelenggu budaya yang mengimani bahwa perempuan harus dipingit sampai menikah. “Tubuhmu boleh dipingit, tapi yang bebas adalah pikiranmu. Bebaskan pikiranmu dengan membaca,” pesan Sosrokartono pada Kartini disampaikan Arif Budi di hadapan ratusan siswa SMA se-Malang Raya dan mahasiswa yang hadir. Sastra di mata Arif yang juga kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) adalah sebuah gejala kebudayaan. Berbicara budaya berarti berbicara nilai humanisme dan pengharkatan manusia. Melalui aktivitas membaca dan menulis sastra, manusia akan terhalau untuk menjadi insan bermartabat. Menulis sastra adalah peluang mengekspresikan diri tanpa tekanan. (ich/han)
364 Mahasiswa Elektro UMM Terima Sertifikat Profesi Bertaraf ASEAN

SEBANYAK 364 mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima sertifikat profesi elektronika dari Lembaga Sertifikasi Profesi Elektronika Nasional (LSPEN) yang berlaku di tingkat Asia Tenggara, Rabu (26/4). Sebelumnya, mahasiswa dari sejumlah angkatan itu telah melalui uji kompentensi yang diselenggarakan LSPEN November 2016 lalu. Raihan sertifikasi ini sejalan dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di awal 2016 silam yang menuntut angkatan kerja Indonesia bersaing dengan angkatan kerja dari luar negeri. Dengan berlakuknya MEA, sertifikasi berbasis keprofesian dinilai penting guna mendukung serta memberikan pengakuan secara formal untuk bersaing di dunia kerja secara global. “Tujuan sertifikasi merupakan bagian dari mandatori atau kewajiban bahwa setiap tenaga kerja diwajibkan untuk memiliki sertifikasi sesuai dengan bidang keahliannya yang ditunjukan melalui sertifikat kompetensi,” terang Asesor LSPEN Sunardi, S.H. saat penyerahan secara simbolik sertifikat profesi elektronika di Ruang Sidang Teknik Elektron FT UMM. Untuk memperoleh sertifikat tersebut, imbuh Sunardi, seseorang yang akan tersertifikasi harus lolos uji tiga aspek indikator penilain, yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap. “Tidak lengkap kalau seseorang hanya memiliki pengetahuannya, tapi tidak memiliki keterampilannya. Demikian juga tidak lengkap kalau seseorang memiliki pengetahuan dan keterampilan tapi sikapnya tidak dibenahi,” terang Sunardi. Sertifikat tersebut bakal tetap berlaku selama 3 tahun dan tidak butuh diperbarui ketika dalam rentang waktu tersebut, seseorang yang tersertifikasi masih melakukan kegiatan sesuai kompetensi profesi yang dimilikinya. Sementara, Kepala Laboratorium Teknik Elektro, Ir. Diding Suhardi, MT. menerangkan, bahwa prodi Teknik Elektro bakal terus menambah pengadaan uji kompetensi lainnya bagi mahasiswa prodi Elektro. “Kesempatan untuk memperoleh sertifikat profesi eletronika di UMM masih gratis karena masih termasuk program subsidi dari pemerintah,” pungkas Diding. (can/han)
Pengelolaan Sampah Jadi Fokus Aksi Hari Bumi DIMPA UMM

PENGELOLAAN sampah menjadi tema besar rangkaian peringatan Hari Bumi yang berlangsung lebih dari sepekan (18-25/4). Rangkaian kegiatan yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu diawali dengan lomba mengumpulkan sampah dan foto bertema lingkungan yang selanjutnya ditutup dengan talkshow bertema “Satu Aksi Selamatkan Bumi” di depan area panjat dinding (wall climbing) DIMPA UMM, Selasa (25/4). Ketua panitia kegiatan, Bias Riantaka menjelaskan, kategori sampah yang dilombakan yakni botol kaca, plastik, dan kemasan makanan ringan berbahan aluminium foil. Dari kedua jenis lomba, diambil dua pemenang, yang masing-masing mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan senilai 500 ribu dan 250 ribu. Selama lima hari pelaksanaan lomba, kata Bias Riantaka, terkumpul hingga 40 karung sampah. Nantinya, setelah dipisahkan sesuai jenisnya, sampah-sampah ini akan dijual. Uang hasil penjualan akan didonasikan pada korban bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Sementara itu, hadir sebagai pembicara talkshow kepala bidang pengelolaan sampah Dinas Kebersihan Kabupaten Malang, Renung Rubiyatadji, MM, Project Officer Klinik Asuransi Sampah, Taufiqurrahman, dan anggota luar biasa DIMPA sekaligus praktisi pengolah sampah probiotik, Parwito. Kedua narasumber ini akan mengupas habis persoalan sampah dan pengelolaannya. Parwito misalnya, selama ini bergelut mengelola sampah hasil pertanian menjadi pupuk organik. Sementara Renung telah berhasil membimbing Desa Talangagung di Kabupaten Malang untuk mengolah sampah hingga menghasilkan gas metan sehingga telah berhenti menggunakan LPG sepenuhnya. Pembina DIMPA UMM Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed. mengatakan, kegiatan DIMPA yang bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM dan Climate Change Frontier ini juga sebagai salah satu dukungan terhadap program kampus. “Kegiatan ini sebagai bentuk dukungan DIMPA untuk menyukseskan program Green and Clean yang digagas UMM,” ujarnya. Selain mengadakan lomba dan talkshow, DIMPA juga menyusun program jangka panjang. DIMPA akan berkolaborasi dengan mahasiswa Public Relation Ilmu Komunikasi UMM untuk membentuk Polisi Sampah. Polisi sampah yang dimaksud yakni mahasiswa yang secara diam-diam (candid) mengambil gambar mahasiswa yang membuang sampah sembarangan di area kampus. Mahasiswa yang tertangkap kamera membuang sampah sembarangan ini, fotonya akan dicetak pada sebuah spanduk dan dipasang di area kampus yang banyak dilewati mahasiswa. “Ini adalah bentuk sanksi sosial pada mereka yang membuang sampah sembarangan tersebut. Dengan begitu, kami berharap mereka tidak mengulangi membuang sampah sembarangan,” imbuh Bias yang juga mahasiswa program studi Kehutanan 2014 itu. (ich/han)
Kunjungi UMM, Dubes Inggris: Indonesia Penting untuk Masa Depan Dunia

POTENSI besar Indonesia mendapat perhatian khusus dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia, HE Mr Moazzam Malik. Hal itu diakui Malik saat menghadiri kuliah tamu bertema “Islam, Education, and The UK” yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (25/4) di Auditorium UMM. Malik menyebutkan, Indonesia merupakan negara yang sangat luas dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, negara demokrasi ke-3 di dunia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia, ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dan menempati urutan ke-5 dunia dalam mengeluarkan misi green house. Untuk itu, menurut Malik, Indonesia menjadi negara yang penting untuk masa depan dunia. Menariknya, menurut Malik, dibandingkan negara lain, Indonesia dipandang lebih bisa mengendalikan ekstremis. “Ketika saya menceritakan kehidupan Islam di Indonesia pada warga Inggris, mereka amat tertarik. Sayangnya, lokasi Indonesia yang strategis dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah belum diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik,” ungkapnya. Menurut Malik, untuk mencapai kompetensi dan mimpi besar Indonesia, ada beberapa hal yang perlu perhatian dan kerja keras. Dua di antaranya yaitu kualitas perguruan tinggi (PT) dan kebudayaan agama. “Banyak universitas ternama di Indonesia, tapi belum ada satu pun yang termasuk dalam 300 kampus terbaik di dunia,” ujar Malik. Oleh karenanya, Malik mengungkapkan salah satu tujuannya ketika ditempatkan di Indonesia adalah menjalin kerja sama dengan berbagai kampus di Indonesia. “Saya ingin menarik mahasiswa cerdas Indonesia untuk kuliah di Inggris, tujuan jangka panjangnya untuk meningkatkan kualitas PT di Indonesia,” paparnya. Selain itu, duta besar yang fasih berbahasa Indonesia ini juga mewadahi para peneliti Indonesia untuk berkolaborasi dengan peneliti negaranya. Hal ini tak hanya bermanfaat untuk kedua negara, tapi juga meningkatkan pengalaman internasional peneliti. Namun, tak melulu urusan pendidikan, Malik juga menaruh perhatian pada Islam di Indonesia. Kekagumannya bertambah ketika pada pembukaan sebuah peringatan hari besar Islam di Istana Negara, Malik dibuat terpukau atas pembacaan ayat Al-Quran yang dibacakan oleh perempuan. Hal ini belum pernah ditemuinya di negara manapun. “Indonesia mungkin belum menyadari potensi Islam yang kuat dan spesial menyangkut gaya hidup beragama. Contohnya, ulama perempuan yang membaca Al-Quran di hadapan para tamu, saya belum menemukan ini di luar negeri. Oleh karena itu, saya juga punya tujuan untuk meningkatkan peran Indonesia di luar negeri,” kata Malik di hadapan 400 mahasiswa. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya mengungkapkan kehadiran duta besar Inggris untuk Indonesia sebagai langkah untuk melanjutkan tradisi UMM menghadirkan tokoh internasional dan menjalin kerja sama dengan berbagai negara Eropa. Ke depan, kerja sama ini bermuara pada meningkatknya pengakuan UMM di ranah internasional. Kehadiran duta besar berkacamata ini menarik antusias mahasiswa. Hal ini tampak dari banyaknya pertanyaan yang diajukan pada sesi tanya jawab. Selain itu, mahasiswa juga berebut melakukan swafoto ketika Malik bersiap meninggalkan auditorium. (Humas UMM)
Hadirkan Pakar Lintas Negara, UMM Lakukan Kontekstualisai Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Digital

SEJUMLAH pakar bahasa Inggris dari berbagai negara hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membincangkan kontekstualisasi pengajaran bahasa Inggris di era digital, Sabtu (22/4). Mereka di antaranya yaitu Robert John Pope dari Autralia, William Little dari Amerika, Aleksandra Skrzynecka dari Polandia, Flavia Iona Butu dari Rumania, Richard John Wesley dari Kanada, Ibrahim Bosha dari Sudan, Mick Jethro Miqallos Basa dari Filipina, sementara dari UMM diwakili Dwi Poedjiastutie. Bertempat di Aula Ahmad Dahlan UMM Inn, Seminar Internasional yang diadakan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini berupaya menyusun strategi agar pembelajaran bahasa Inggris relevan dengan kebutuhan zaman. Ketua pelaksana Seminar Internasional tersebut, Drs Djarum MEd menyatakan, era digital menjadikan siswa sedikit abai dengan keberadaan guru. Hal tersebut dikarenakan, apa yang disampaikan guru dalam mengajar, sudah banyak tersedia di berbagai situs internet. “Jika keadaan tersebut tidak ditangani, maka guru akan semakin diabaikan dan siswa menjadikan internet sebagai sumbernya. Padahal belum tentu internet benar seluruhnya,” jelas Djarum. Akhirnya, lanjut Djarum, guru juga harus mengikuti perkembangan zaman termasuk era digital ini. Menurutnya, sebelum mengajar guru tidak hanya mempersiapkan bahan ajar dan metode ajar. Namun, sebelum mengajar guru juga harus tersiapkan. “Artinya diri guru sendiri harus dipersiapkan juga sebelum menghadapi siswa,” ujarnya. Dalam seminar internasional tersebut juga dihadiri berbagai pemateri dari berbagai negara. Diantaranya, Yuta Otake sebagai salah satu praktisi dari Regional English Language Office (RELO) dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (KBAS), Dr. Ikhsanudin, M. Hum sebagai presiden English Language Teaching Materials (ELTeaM) Association. Yuta Otake menjelaskan, teknologi telah merubah gaya guru dalam menyampaikan materinya. Otake menyampaikan metode pengajaran temuannya. Ia menyebutnya Flipped Clasroom. Flipped Classroom adalah metode yang mewajibkan siswa untuk melihat dan mempelajari materi dirumah kemudian didiskusikan dalam kelas hasil belajarnya. Otake menjelaskan, materi yang diberikan bisa dalam bentuk video maupun slide presentasi. “Dengan metode Flipped Classroom tersebut, siswa dapat lebih aktif dan memperhatikan guru secara seksama. Karena siswa saling berdiskusi bahkan berdebat dalam kelas,” jelasnya dihadapan 200 lebih peserta seminar. (jal/han)
LP3A UMM Sadari Perlunya Kartini Kekinian

PERJUANGAN perempuan zaman dahulu dan sekarang jelas berbeda. Dulu, yang diperjuangkan adalah agar perempuan bisa menuntut ilmu dan mengenyam pendidikan layaknya pria. Sementara sekarang, pendidikan tak lagi jadi soal. Tantangan saat ini adalah bagaimana perempuan tetap berjuang dan memperbarui kemampuannya di era kekinian, yang serba modern, kecanggihan teknologi, dan menyesuaikan diri dalam dinamika kehidupan yang pesat. Demikian dikatakan kepala Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra. Thathit Manon Andini, M.Hum terkait peringatan Hari Kartini yang jatuh tiap 21 April. Sebagai refleksi, LP3A pada momen ini melakukan aksi bagi-bagi bunga mawardan stiker berbentuk persegi berisi kalimat motivasi agar perempuan terus bergerak dan berkemajuan. “Tujuannya, baik perempuan maupun laki-laki agar terus mengingat perjuangan RA Kartini dulu untuk membuat perempuan bisa berkarya sebebas sekarang. Juga memberi motivasi untuk wanita-wanita agar berkarya di lebih banyak bidang,” ungkap Thathit. Aksi bagi bunga dan stiker ini dilakukan di area kampus 2 dan 3 UMM. Sebanyak 200 tangkai bunga dan stiker dibagikan pada dosen, staf, dan mahasiswa di berbagai titik di kampus. Selain pembagian bunga mawar pada 21 April, menyambut Hari Kartini, LP3A juga mengadakan pelatihan “Training of Trainer (ToT)” pada Sabtu hingga Senin (15-17/4) lalu. Sebanyak 180 sahabat LP3A dari berbagai jurusan, baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan pembekalan mengenai HIV, AIDS, narkoba, kekerasan pada perempuan dan anak, serta pemberdayaan perempuan dan anak. Thathit mengatakan, hal ini berguna sebagai pembekalan sejak dini untuk menjadi orang tua. “Karena orang tua adalah guru utama, sementara rumah adalah sekolah pertama. Oleh karena itu bekal yang dimiliki laki-laki dan perempuan sebagai calon orang tua harus cukup. Inilah emansipasi di zaman sekarang,” ujar Thathit. (ich/han)
Mahasiswa Agrisbisnis UMM Fasilitasi Entrepreneur Muda Memulai Usaha

UNTUK menyiapkan lulusan yang siap berwirausaha di bidang pertanian, mahasiswa program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (Popmasepi) menggelar talkshow dan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) “Padma Ksatria 8”, Rabu hingga Sabtu (19-22/4). Ketua pelaksana kegiatan, Andy Yani menyatakan Padma Ksatria merupakan agenda tahunan Popmasepi. Tahun ini, UMM berkesempatan menjadi tuan rumah dari 250 peserta dari 58 kampus se-Indonesia. Kegiatan yang mengangkat tema “Kredit Usaha Rakyat” ini, bertujuan agar mahasiswa Agribisnis tak merasa kesulitan saat ingin memulai usaha, utamanya untuk urusan modal. “Kali ini kita mendatangkan narasumber dari bank BRI, kementerian Koperasi dan UKM, dan praktisi yang sukses berwirausaha melalui KUR. Kami ingin mahasiswa bukan bingung mencari pekerjaan, tapi berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar mahasiswa semester 6 tersebut. Andy menuturkan, selain mendapatkan modal dari bank, mahasiswa juga bisa mendapatkan modal dari Dinas Koperasi setempat. “Tak hanya mendapatkan modal usaha, tapi juga bisa mendapatkan pelatihan trik memulai dan mengembangkan usaha, sehingga mahasiswa tak perlu bingung memulai usaha dari mana atau akan melakukan apa untuk UKM-nya,” imbuh Andy. Selain talkshow, Padma Ksatria 8 juga menggelar bazar wirausaha di bidang pertanian, peternakan, perikanan, maupun Usaha Kecil dan Menengah (UKM), donor darah, pengobatan gratis, pembagian bibit tanaman dan buah, serta edukasi untuk murid TK. “Kita memberi edukasi pada anak-anak TK di sekitar UMM tentang cara menanam tanaman di polybag, memberi makan hewan ternak, atau memelihara ikan di rumah. Tujuannya untuk mengajarkan anak sejak dini tentang dunia agraris di Indonesia,” papar Andy. Sementara itu, LKMM akan mulai digelar Rabu malam hingga Jumat mendatang. Materi yang diberikan beragam, antara lain kepemimpinan, negosiasi, pemasaran, hingga strategi lobbying. Pemateri pun didatangkan dari berbagai kalangan, yakni praktisi pengusaha, mahasiswa, maupun dosen. Puncaknya, di hari Sabtu akan ada peluncuran buku Popmasepi yang merupakan proyek bersama anggota. Kata pengantar buku ini ditulis oleh komisi IV DPR RI. Selain itu, di penghujung acara juga ada temu alumni Popmasepi yang sudah tersebar di berbagai penjuru Indonesia. “Alumni Popmasepi yang terbentuk sejak 2009 lalu akan hadir dalam reuni akbar ini,berbagi ilmu pada seluruh peserta, apa yang dilakukan atau diciptakan ketika sudah ‘alumni’ dari Popmasepi,” pungkas Andy. (ich/han)
Lomba Perencanaan Bisnis, Tantang Mahasiswa UMM Inovatif Berwirausaha

BERAGAM produk bisnis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditampilkan di lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM, Kamis (20/4). Pameran itu merupakan bagian dari lomba perencanaan bisnis (business plan) dan debat perkoperasian Rector Cup yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) UMM. Salah satu stan menamai dirinya Telimut, akronim dari Tempe Selimut. Salah satu penggagas Telimut, Nadia Amalia Rizkyta menyatakan ia dan ketiga temannya berpikir untuk mengolah tempe karena kekhasannya sebagai oleh-oleh kota Malang. Menurutnya, selama ini tempe di kota Malang masih dipasarkan dalam varian yang itu-itu saja. Oleh karena itu, mahasiswa program studi Pendidikan Matematika angkatan 2014 ini memutar otak agar tempe bisa dikemas dalam bentuk yang berbeda. Bersama kedua kawannya, Meri Dwi Septiana dan Harisandi, Nadia lalu menciptakan keripik tempe berselimut. Ada empat varian rasa, yaitu tempe selimut cokelat, teh hijau, stroberi, dan cokelat pedas. Meski dibuat hanya untuk lomba perencanaan bisnis, tapi ternyata peminatnya cukup banyak. Sehingga, ke depan Nadia berencana memasarkan produk ini hingga ke pusat oleh-oleh di Malang. Koordinator acara lomba, Diaz Saputra menyatakan lomba yang perencanaan bisnis bertujuan untuk memupuk jiwa wirausaha mahasiswa. Berbekal kemampuan perencanaan bisnis, maka mahasiswa akan mampu menciptakan usaha dan menyaring tenaga kerja. “Mahasiswa harus membuat proposal rencana usaha dulu. Lalu, hari ini mereka mempresentasikan bisnisnya di hadapan juri, sekaligus pameran produk,” terang Diaz yang juga mahasiswa prodi Pendidikan Matematika 2014 ini. Selain Telimut, berbagai inovasi usaha lain yaitu kerudung dan pakaian dari kain perca, bakso sayur, buket bunga, hingga cilok organik. Dari Sembilan tim, akan diambil 3 juara yang akan mendapatkan hadiah dari bagian Kemahasiswaan UMM. (ich/han)
IRO UMM Kenalkan Mahasiswa Budaya Eropa Melalui Film

MELALUI beasiswa Erasmus+, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi kesempatan bagi mahasiswa UMM untuk merasakan studi di Eropa selama satu hingga dua semester. Bagi yang akan mendaftar beasiswa tersebut, ada baiknya mulai mengenal budaya Eropa, salah satunya melalui film. Hal itulah yang mendasari International Relation Office (IRO) UMM mengadakan rangkaian movie screening and discussion yang berlangsung 19 April, 26 April, 3 Mei dan 10 Mei 2017. Staf IRO UMM, Arofiatus Sa’diyah menyatakan, kegiatan movie screening and discussion ini merupakan salah satu upaya IRO untuk mendekatkan dunia internasional pada mahasiswa. Menurut Ofi, sapaan akrabnya, film sangat efektif untuk pertukaran informasi dan budaya. Banyak sekali simbol dan kebudayaan yang ditampilkan melalui adegan-adegannya. Seperti melalui pakaian, makanan serta cara bersosialisasi dapat digambarkan melalui film. “Penonton juga dapat memahami lebih cepat, karena medianya audio visual,” ujarnya. Kegiatan yang rutin diadakan tiap semester ini mengangkat film berbagai genre. Pada semester ini akan ada empat kali pemutaran film dari negara beberapa negara. Salah satu film yang diputar yakni El Muno Es Nuestro, yang ditayangkan pertama kali pada Rabu (19/4). Film asal Spanyol tersebut berhasil membuat penonton tertarik tentang kebudayaan serta kebiasaan masyarakat Spanyol. Selain film asal Spanyol, akan diputar juga film Bogowie asal Polandia, film Boys Eating the Birds Food asal Yunani dan film asal Aferim asal Rumania. “Mahasiswa UMM diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal. Selain bertukar informasi, mahasiswa UMM juga dapat jaringan internasional untuk berprestasi di dunia internasional,” pungkas Ofi. (jal/han)
FEB Soroti Impelementasi Good Corporate Governance

FAKULTAS Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kolokium Doktor menghadirkan empat narasumber dari kalangan internal untuk mempresentasikan disertasi doktoralnya. Seminar dengan tema “Implementasi Good Corporate Governance (GCG) dalam Membangun Perkonomian” digelar di Theater Dome UMM, Rabu (19/4). Salah satu narasumber Dr Ihyaul Ulum dalam materi “Peran Pengungkapan Modal Intelektual dan Profibilitas dalam Hubungan antara Kinerja Modal Intelektual dan Kapitalisasi Pasar” memaparkan hasil temuan investigasinya tentang peran Intellectual Capital Disclosure (ICD) dan profitabilitas dalam hubungan antara Intellectual Capital Performance (ICP) dan Market Capitalization (MCAP). ICP sebelumnya telah diukur dengan model baru berlabel Modified Value Added Intellectual Coefficient (MVAIC). “MVAIC adalah model komprehensif untuk mengukur modal intelektual berdasarkan model dari VAIC. Data diambil dari perusahaan perbankan Indonesia yang terdaftar dalam Indonesia Stock Exchange dalam tiga tahun yaitu 2006, 2009 dan 2012,” jelas dosen yang fokus pada kajian Intellectual Capital, Akutansi Sektor Publik, dan Metodologi Riset ini. Dilanjutkan Ihyaul, penemuan ini menunjukkan bahwa ICD tidak menengahi hubungan antara ICP dan MCAP. Makin tingga capaian IC, maka semakin kurang informasi IC yang diungkapkan dalam laporan tahunan. Sebaliknya, Profit adalah sebuah variabel mediasi dalam hubungan antara ICP dan MACP,” imbuhnya. Ihyaul menemukan bahwa ICP dan Profit berefek pada MCAP. Selanjutnya, ICP dan Profit mempunyai sebuah tanda negatif terhadap ICD. Penemuan-penemuan tersebut menunjukkan bahwa semakin baik IC, maka semakin kurang informasi tentang IC yang diungkapkan dalam laporan tahunan. Narasumber lain yang turut mengisi seminar sehari ini di antaranya Dr Wahyu Hidayat Riyanto lewat bahasan “Determinant on Economic Growth, Disparity Income, And Poverty of Regencies/Cities in East Java Province”, Dr Ahmad Mohyi tentang “Membangun Komitmen Organisasional dan Kinerja dengan Etika Profesional, Motivasi Kerja dan Orientasi Sosial: Sebuah Fenomena pada Lembaga Pemerintahan”, serta Dr Eny Suprapti membahas “Pengaruh Struktur kepemilikan, Tekanan Keuangan, Kesempatan Rasionalisasi Keuangan Terhadap Penghindaran Pajak dengan Corporate Governance dalam Membangun Perekonomian”. (can/han)