Sisihkan 56 Kampus se-Indonesia, UMM FM Juara 1 Lomba Siaran Radio

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Radio Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), UMM FM berhasil menyabet juara pertama pada kompetisi nasional siar radio bertajuk “Galaksiar 2017” di Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang berlangsung pada 2 April lalu. Lomba ini diadakan oleh UKM Radio New PLBS FM Polines memperingati hari jadinya yang ke-28. Sebelum menjadi juara, UMM FM semula masuk dalam lima besar finalis dari total 56 tim dari berbagai kampus di Indonesia. Dua orang yang mewakili UMM FM yakni Aan Marenda dan Nata Renaldi, keduanya adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2015. Nata mengungkapkan, ia dan Aan harus melewati proses panjang untuk akhirnya menjadi juara. “Lomba diadakan setelah workshop kepenyiaran radio di hari Sabtu. Baru selepas shalat dhuhur lomba dimulai sampai jam 10 malam. Waktu yang sangat lama, sampai bosan, lelah menunggu antrean,” kisah Nata. Untuk menuju lima besar, mereka harus membawakan sebuah program bernama ‘Sore dalam Gembira’. Program ini berdurasi tujuh menit yang dibawakan oleh dua penyiar. Tiga penyiar senior dari radio di Semarang didapuk jadi juri. Jika rata-rata tim lain siaran sambil membawa kertas berisi catatan, UMM FM hanya menuliskan poin-poin yang akan dibicarakan di kertas. Selebihnya, mereka siaran tanpa membaca catatan. “Kami menilai juri akan bosan kalau harus menyaksikan penyiar yang membaca. Kami siaran seperti ngobrol. Jadi santai dan ekspresi pun keluar dengan natural. Mungkin ini salah satu hal yang menjadi nilai tambah,” ujar Aan. Dinyatakan lolos lima besar, keesokan harinya mereka mesti mengikuti babak final. Tema siaran di babak ini ditentukan oleh panitia, yakni hangout. Bangga sebagai warga Malang sekaligus mengenalkan produk UMM, maka Nata dan Aan sepakat membahas dua tempat hangout yang tenar di kota Malang, Kampung Warna-warni Jodipan dan Wisata Gunung Banyak (Paralayang). Mereka pun akhirnya sukses memenangi ajang ini. (ich/han)
Film Pendek Karya Mahasiswa UMM Rajai Lomba Videografi Nasional Ekonomi Syariah

Pogram Studi (Prodi) Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut berbangga, dua tim delegasinya yang terlibat dalam lomba Videografi Nasional Ekonomi Islam pada acara Shariah Economic Week (SEW) V, 31 Maret-1 April 2017 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menjadi juara 1 dan 2 sekaligus. Juara satu disabet oleh tim yang terdiri dari Amilia Aprilia, Fatiqe Ridho dan Hilva Kurnia dengan film berjudul “Masih Ada Jalan”. Sementara juara dua diraih oleh tim yang terdiri dari Juliani Pradipta, Daniel Firman dan Dwi Kurniawati dengan film berjudul “Sukses”. Aprilia menceritakan, film yang dibuatnya bercerita tentang seorang ayah yang ingin mewujudkan impian anaknya untuk menjadi dokter. Melalui film tersebut, April bersama tim mencoba menyampaikan pesan tentang praktek keuangan syariah yang sejatinya dapat menguntungkan semua masyarakat, termasuk di antaranya masyarakat miskin. “Asuransi syariah itu dapat mempermudah masyarakat, karena kedua belah pihak dapat diuntungkan,” jelas April. Penyampaikan pesan melalui video dapat menjadi salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang transaksi ekonomi syariah. Fenomena yang terjadi saat ini, lanjut April, tidak semua masyarakat mengetahui apa itu ekonomi syariah dan praktek-prakteknya. Sebagian besar orang masih menganggap ‘syariah’ hanya embel-embel saja. Padahal jika didalami, sistemnya juga beda dengan bank atau badan asuransi konvensional. “Besar harapan kami masyarakat dapat terbiasa dengan istilah asuransi syariah, sehingga mereka dapat terbantu secara finansial,” ungkap mahasiswa semester 4 tersebut. Pada film yang berdurasi 4 menit 57 detik itu, pesan tentang manfaat keberadaan asuransi syariah sangat ditekankan. Menurut April, pemenuhan kebutuhan pendidikan menjadi yang paling urgent. Keberadaan asuransi syariah menjadi salah satu cara untuk membantu orang yang tidak mampu khususnya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi keluarganya. Sementara itu film berjudul “Sukses” menyampaikan pesan bahwa tidak hanya muslim saja yang bisa menabung di bank syariah. Non muslim juga dapat memanfaatkan keunggulan bank syariah. Dapat film tersebut dijelaskan, bahwa semua orang bisa berkembang dengan sistem keuangan syariah tanpa melihat ras, suku maupun agama. (jal/han)
Tim Robot UMM Juarai Kontes Robot Internasional di Amerika Serikat

PERJUANGAN mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) yang mewakili Indonesia untuk tampil dalam kontes robot internasional di Trinity College Amerika Serikat, 1-2 April 2017 ini tak sia-sia. Dalam kontes bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) itu, dua tim dari UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang juara 2. “Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik,” terang dosen pembimbing sekaligus ketua rombongan, Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (3/4). Di final, tim dari UMM harus bersaing dengan sejumlah kontestan lainnya yang telah diseleksi di negaranya masing-masing, di antaranya dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Ada dua hal yang menjadi keunggulan robot-robot UMM, yaitu kecepatan dan ketepatan. Hal itu lantaran robot UMM dibekali dengan sepuluh sensor, yaitu delapan sensor ultrasonik dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak. Sensor-sensor tersebut digunakan agar mudah mendeteksi posisi lilin dan dapat menjangkau lilin dengan cepat dan tepat. Selain itu, robot UMM juga dibekali sensor flame UVTRON-R9454 untuk mendeteksi api lilin. Sensor ini sangat baik jika dibandingkan dengan sensor flame yang lain, karena mampu menangkap cahaya ultraviolet dengan jangkauan spektrum185 nanometer (nm) sampai 260 nm, di mana jangkauan itu hanya dimiliki oleh gas api. Merespon hal ini, Rektor UMM Fauzan mengatakan, semua mahasiswa yang bertanding ke tingkat apapun akan diapresiasi oleh UMM. Semuanya diberikan beasiswa berupa bebas tanggungan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Selain itu, semua karya yang telah dibuat oleh mahasiswa ini nantinya akan dipamerkan dalam festival inovasi dan karya. “Agustus nanti akan digelar festival itu untuk memacu semangat yang lain agar terus menciptakan inovasi dan karya,” jelas Fauzan. (can/han)
DPPM Targetkan Lebih dari 60% Proposal Riset dan Pengabdian Masyarakat Lolos Pendanaan Dikti

KEMENTERIAN Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) meluncurkan panduan usulan penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XI di tahun 2017. Merespon hal tersebut, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi panduan pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat edisi XI ke semua dosen tetap, Sabtu (1/4) di Auditorium UMM. Kepala DPPM, Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes menyatakan, beberapa peraturan yang ditambahkan adalah proposal yang diunggah merupakan rancangan penelitian dan pengabdian masyarakat yang Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 106 tahun 2016. Peraturan tersebut, lanjut Sujono, mengatur tentang Standar Biaya Keluaran (SBK). Semua pengeluaran yang dirancang oleh dosen diharapkan dapat meningkatkan pencapaian target luaran yang telah ditetapkan. Perubahan lainnya yang diakomodir panduan edisi XI ini adalah pengelompokan skema penelitian dan rancangan pengaturan untuk luaran tambahan. Pembiayaan luaran dipisahkan dengan biaya penelitian itu sendiri. “Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Sujono saat ditemui kemarin. Buku panduan edisi XI juga menjelaskan tentang uraian setiap skema program penelitian dan pengabdian masyarakat. Secara rinci dijelaskan tentang tata cara pengajuan, seleksi proposal, monitoring dan evaluasi pelaksaan serta tata cara penulisan hasil kegiatan. Tidak hanya itu, lebih baru, panduan edisi XI juga menjelaskan tentang Tingkat Kesiapterapan Tekhnologi (TKT). TKT mulai digunakan oleh Kemenristek Dikti untuk memetakan kegiatan riset yang dikaitkan dengan tingkat kesiapan tekhnologinya. “TKT digunakan untuk mendukung program hilirisasi dan komersialisasi hasil riset,” ungkap Sujono. Sampai sejauh ini, belum banyak hasil penelitian dosen yang bisa dikomersialisasikan. DPPM mendorong seluruh dosen untuk mengajukan proposal penelitian eksternal. “Sejauh ini, penelitian eksternal baru mencapai 60%, kita terus mendorong agar cluster mandiri yang sudah didapatkan UMM dapat terus dipertahankan,” imbuhnya. (jal/han)
Prof. Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si.: Perlu Rekayasa Sosial Tingkatkan Komoditas Tani Indonesia

SEBAGAI negara agraris, pertanian merupakan komoditas utama Indonesia. Pembangunan di sektor pertanian memberikan kontribusi besar bagi perkembangan perekonomian nasional. Hal itu menjadi motivasi Guru Besar Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Prof Dr Ir Jabal Tarik Ibrahim MSi menekuni bidang ini. Lahir dari keluarga petani di daerah Probolinggo, Jabal muda sudah sangat tertarik untuk mengembangkan pertanian di Indonesia. Kondisi petani dan kurangnya pengetahuan petani tentang bagaimana mengatur pertanian mereka menjadi titik fokus Jabal saat itu. Karena itulah, harapan yang telah dipupuknya sejak kecil kini diwujudkannya. Kondisi pembangunan pertanian saat ini dirasakannya masih begitu-begitu saja. Walaupun sudah ada peningkatan dalam hal pengelolaan produk pertanian, namun peningkatan pembangunan masih perlu dilakukan. “Keinginan untuk lebih meningkatkan pembangunan pertanian dan kesejahteraan petani itu selalu ada, agar berkembang lebih baik lagi dan lagi,” ujarnya. Keinginan Jabal ini mendapat sambutan dari banyak pihak, termasuk dukungan pendanaan dari Food Agriculture Organisation (FAO) di bawah koordinasi PBB. Risetnya pada 2012 ini bermula dari mandat yang diberikan Bank Indonesia Kediri untuk mengembangkan wilayah dengan komoditas unggulan cabai. Laporannya lantas dipercaya pemerintah daerah dan pihak Bank Indonesia Kediri untuk ditunjukkan pada perwakilan FAO di Indonesia. Hingga akhirnya, dia dipercaya untuk melanjutkan penelitiannya pada komoditas lain dengan bantuan dana dari FAO. Riset lanjutan yang dilakukannya tidak terbatas pada daerah Kabupaten Kediri saja, tetapi daerah lain seperti Blitar dan Tulungagung. Kajiannya pun lebih luas, yakni berkaitan dengan rantai nilai komoditas cabai. Mulai dari tahap pembibitan, budidaya, hingga panen dan pengelolaan yang baik. Tak hanya itu, manajemen rantai nilai komoditas ini juga diteliti oleh Jabal. Penelitian Jabal ini memiliki dampak luar biasa bagi petani. Pasalnya, melalui desain pertanian ini, petani mampu memperkirakan harga produknya di pasaran. Sehingga, mereka juga bisa memperkirakan waktu tanam yang lebih efektif, yaitu saat kondisi alam mendukung dan harga produknya sedang tinggi di pasaran. Secara tidak langsung, petani lebih mudah ‘balik modal’ dan kesejahteraannya ikut meningkat. Hasil riset ini kemudian juga diterapkan pemerintah daerah Kabupaten Kediri dan Blitar, bahkan FAO juga menerapkannya untuk pertanian Indonesia di sektor Jawa Barat dan Sumatra. Lantaran riset ini, perkembangan petani tidak lagi hanya mengikuti arus, namun bisa lebih berkembang. Sebab, ada rekayasa sosial yang membuat mereka lebih berkembang. Alumnus program doktoral Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Penyuluhan Pembangunan ini juga pernah melakukan riset terkait Irigasi di Sulawesi Tengah. Risetnya itu lebih mengarah pada proses pengembangan perairan, memilah daerah-daerah yang belum dan yang sudah terairi dengan baik. Untuk melakukan riset ini, dia tidak sendiri. Bekerjasama duarekannya dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dia menerapkan teknologi pengindraan jarak jauh. Dengan drone, ia memetakan sistem perairanwilayah Sulawesi Tengah. Melakukan riset dengan terjun langsung ke lahan pertanian bukanlah perkara mudah. Minimnya akomodasi serta kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi pria kelahiran 16 Juli 1966 ini. Terlebih, ditambah ketidaksabaran petani yang ingin mengetahui hasil riset dalam waktu singkat. “Disangka sebagai perwakilan perusahaan yang akan mengganggu mereka juga pernah, tapi ya dijalani saja,” imbuhnya. Tidak hanya melalui riset dan pengabdian masyarakat, peraih dosen berprestasi FPP UMM tahun 2015 ini juga membuktikan keahliannya dengan meraih Penulisan Abstrak Seminar Terbaik dalam forum International Conference on Green Development in Tropical Regions (Andalas University dan USAID, 2015). Selain itu, Jabal juga pernah terlibat dalam Irrigation Area Survey Using Micro Unmanned Aerial Vehicle (Gumbasa Irrigation Area Case Study), USAID, 2015. (nai/han)
Gus Solah Ajak Mahasiswa UMM Miliki Jiwa Humanis

PIMPINAN dan pengasuh pondok pesantren Tebuireng Jombang, KH. Salahudin Wahid hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (1/4). Ulama yang akrab disapa Gus Solah menyambangi kampus putih untuk memberi kuliah umum bertema “Humanisme Islam dalam Kehidupan Materialistik-Hedonistik” di Masjid A.R. Fachruddin UMM. Saat ini, kata Gus Solah, humanisme sering dimaknai sebagai bagian yang terpisah dari nilai-nilai spiritual transenden. Masyarakat seharusnya mempunyai harkat, martabat, dan kemampuan untuk memutuskan masa depannya. Namun, memasuki era posmodernisme, manusia malah menjadi kelompok mu’tazilah, memisahkan diri dari agama dan menentukan hidup dengan caranya sendiri. Humanisme dikenal sejak awal kehidupan Islam. Banyak ayat dalamAl-Quran yang juga menerangkan hal ini. Salah satunya yang sering diungkapkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yakni surat Al-Maun. Surat ini menyinggung bahwa manusia yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi humanisme. “Manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Dikirimkan ke bumi untuk menjadi khalifah, menjadi wakil Tuhan Tuhan, jadi lengkapilah dengan kemampuan untuk mempergunakan akal. Inilah humanisme Islam,” ujar Gus Solah. Sementara itu, lanjut Gus Solah, masyarakat Indonesia tak pantas menganut prinsip hedonisme dan matrealisme. Hedonisme adalah paham yang menganut bahwa hidup mesti digunakan untuk kepuasan diri. Sedangkan matreliasme beranggapan bahwa hidup adalah materi, tak ada yang selain itu. Selain bertentangan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, hal ini tentunya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Gus Solah juga mengungkapkan ketidaksetujuannya akan slogan yang sering terdengar “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga. “Indonesia akan mendapat bonus demografi pada 2020 sampai 2030 nanti. Ini adalah potensi yang luar biasa, jadi harus digunakan untuk berkarya lebih. Tidak mungkin lah, mudanya foya-foya tuanya kaya raya, matinya masuk surga,” tuturnya. Namun, ada hal-hal yang mengancam bonus demografi yang makin marak di Indonesia. Oleh karenanya, Gus Solah berpesan pada para pemuda untuk menjauhi ancaman itu. “Rokok, narkoba, gizi buruk, dan hedonisme ini,” pungkasnya. Sementara itu, dalam sambutannya Rektor UMM Fauzan menegaskan kuliah umum oleh tokoh agama ini adalah sebagian dari upaya UMM untuk berkontribusi dalam memperbaiki karakter mahasiswa. (ich/han)
Eskalator UMM Juarai Kompetisi PR Tingkat Nasional

TIGA mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kembali meraih torehan membanggakan dengan menjuarai ajang kompetisi Public Relations (PR) bergengsi tingkat nasional. Mereka menjadi juara pertama pada event Jogja Public Relations Days (JPRD) yang diselenggarakan organisasi profesi Perhumas Muda Yogyakarta pada 25 Maret lalu. Tiga mahasiswa yang tergabung dalam klub PR Eskalator UMM tersebut yaitu Hanny Dwi Rahmawati, Bertya Salama Mentari, dan Syahidah Nabilah Muslim. Ketiganya merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2015 yang mengambil konsentrasi PR. “Semula, kami sempat pesimis karena berhadapan dengan peserta lain yang notabene berasal dari perguruan tinggi ternama,” kata koordinator kelompok Hanny Dwi Rahmawati saat ditemui Sabtu (1/4). Bagaimana tidak, tim ini berhasil mengalahkan sembilan finalis lainnya yang di antaranya berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, London School of Public Relations, Universitas Islam Indonesia, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung, serta Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta. Selain berasal dari kampus ternama, para peserta JPRD sebagian besar memiliki pengalaman yang mumpuni dalam berbagai kompetisi PR tingkat nasional. “Mereka rata-rata berpengalaman, sedangkan bagi kami, ini merupakan debut perdana, makanya kami sempat pesimis. Namun, alhamdulillah semua pertanyaan juri bisa kami jawab dengan baik,” ujar mahasiswi asal Palu, Sulawesi Tengah ini. Adapun juri yang menilai yakni dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Client Service Director di Ogilvy Public Relations Jakarta, Rizanto Binol, serta Head of Corporate Reputation Department STIKOM The London School of Public Relations Jakarta Olivia Deliani Hutagaol. Hanny beserta kedua kawannya itu dituntut membuat strategi Public Relations sesuai tawaran tema panitia, yakni terkait Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dari 25 kawasan yang masuk dalam daftar KSPN, Pantai Morotai, Sulawesi Tenggara dipilih sebagai objek strategi komunikasi kelompok ini. “Kemarin kita buat proposal 15 halaman dengan tempo pengerjaan selama satu bulan. Sampai sana, katanya di sana ada brief 2-nya. Ternyata brief 2 itu cuma jebakan batman, kita cuma diminta presentasi brief 1 aja,” kata Hanny saat menceritakan pengalaman lombanya. Diakui Hanny, kerjasama antar anggota dan ide berbeda jadi kunci keberhasilan mereka. “Selain berkat bimbingan kakak-kakak tingkat kami, teamwork jadi hal yang penting dilakukan. Selain itu, bagi kami, ide sederhana itu justru bagus kalau realistis,” imbuh Hanny. “Pas awarding itu kami udah nggak mau datang karena pesimis bakal bisa menang, karena mau hujan juga. Tapi sampai akhirnya dinyatakan jadi juara itu bikin speechless banget,” tambah Syahidah yang turut diwawancarai. (can/han)
Muhammad Syukron Eko, Alumni UMM yang Terpilih Jadi Ketua PPI Polandia

MUHAMMAD Syukron Eko begitu lekat dengan Polandia. Sewaktu menjadi mahasiswa strata satu di Jurusan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syukron berkesempatan studi selama dua semester di Politechnika Lubelska Polandia pada 2013-2014 melalui beasiswa pertukaran Erasmus Mundus. Dua tahun setelahnya, yaitu pada 2016 lalu, tak lama selepas meraih gelar Sarjana Komputer (S.Kom) di UMM, Syukron kembali berangkat ke Polandia untuk menempuh studi master di University of Warsaw dengan beasiswa dari pemerintah Polandia, yaitu Ignacy Łukasiewicz Scholarship. Tak heran jika pada akhirnya Syukron dipercaya oleh para mahasiswa Indonesia yang saat ini tengah kuliah di Polandia untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Polandia. “Ini amanah yang tidak ringan bagi saya, namun berbekal pengalaman organisasi selama di UMM, serta dukungan teman-teman di sini, saya yakin PPI Polandia akan lebih maju,” tuturnya. Selama kuliah di UMM, Syukron memang sangat proaktif terlibat dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan maupun komunitas sosial dan internasional. Beberapa di antaranya yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), International Language Forum (ILF) UMM, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Informatika UMM. Ia juga aktif di organisasi internasional ASEAN Youth Leader Association (AYLA) serta komunitas belajar Akademos dan Rumah Inspirasi Malang. Syukron berharap, dengan terpilih sebagai ketua PPI Polandia, ia dapat lebih mengenalkan kesenian dan kebudayaan Indonesia pada masyarakat Eropa umumnya, dan warga Polandia khususnya. Setelah resmi dilantik pada 1 April 2017 ini, Syukron berencana merumuskan sejumlah gelaran budaya, bekerjasama dengan kedutaan besar Polandia, Warung Indonesia Polandia, lembaga kesenian gamelan serta berbagai instansi dan lembaga terkait. Dengan berbagai gelaran budaya, Syukron ingin berkontribusi langsung bagi kemajuan dan perkembangan PPI Polandia. Salah satu strateginya, lanjut Syukron, ialah memperkenalkan eksistensi PPI Polandia ke masyarakat luas melalui media massa. “Kami juga akan melakukan siaran pendidikan, termasuk mengadakan event sosial dan keagamaan melalui siaran langsung PPI TV Polandia,” jelas Syukron. (jal/han)
Puska-PB UMM Latih Masyarakat Terdampak Banjir Jadi Wirausaha

PRIHATIN akan kondisi kelurahan Bareng, Malang, Jawa Timur, yang kerap menjadi lokasi langganan banjir, Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pelatihan peningkatan ekonomi masyarakat terdampak bencana, tepatnya di RW VII dan VIII. Pelatihan ini, menurut tenaga ahli bidang ekonomi Puska-PB UMM Eka Kadharpa Utama Dewayani, dimaksudkan untuk memberikan pengarahan, bekal, maupun ilmu untuk berwirausaha agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Lokasi yang dipilih disebutnya memang merupakan langganan banjir, dan sering sekali mereka harus menganggur ketika banjir tersebut datang. “Kebanyakan dari mereka bukan pengangguran tetapi pekerja musiman dan bahkan serabutan. Jadi kami ingin memberikan bekal wirausaha untuk mereka,” ujar tenaga ahli bidang ekonomi Puska-PB UMM Eka Kadharpa Utama Dewayani. Pelatihan yang diberikan berupa wirausaha di bidang konveksi, makanan-minuman, dan budidaya jamur. “Ketiga bidang wirausaha tersebut dipilih setelah mendapat persetujuan warga sebelumnya. Dalam pelatihan dihadirkan para pelaku bisnis tiga bidang tersebut, yang nantinya bersama dengan UMM akan membimbing masyarakat,” tambahnya. Tak hanya itu, konsep pelatihannya juga dilakukan lebih mendalam. Diawali dengan mendalami materi oleh akademisi yakni dalam hal manajemen pemasaran, operasional, akutansi pembukuan, pemasaran online, dan juga studi kelayakan bisnis. “Kami tak ingin hanya sekadar memberikan pelatihan produksi saja. Kami sepakat untuk mendampingi mulai dari produksi sampai dengan pemasaran, agar nantinya kegiatan ekonomi ini dapat benar-benar meningkatkan pendapatan masyarakat,” lanjutnya. Tak hanya itu, UMM juga akan mengadakan business visit atau berkunjung ke beberapa tempat produksi bidang-bidang tersebut. Hal tersebut demi meningkatkan produksi dan kualitas barang binaannya. “Kami nanti akan berkunjung ke Blitar dan Tulungagung, untuk belajar terkait ketiga bisnis ini,” lanjutnya. Program pelatihan wirausaha ini akan dilakukan selama lima bulan masa pendampingan, dengan 40 peserta dari warga sekitar. (yun/oci/han)
Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., Guru Besar Kaya Penelitian dan Pengabdian
DALAM berkarya, Guru Besar Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM Prof Dr Ir Indah Prihartini MPselalu berpikir tentang apa manfaatnya bagi masyarakat. Tak mengherankan jika riset yang dilakukan Indah selalu diawali keprihatinannya pada kondisi masyarakat. Salah satunya ketika ia menemukan bahwa air susu segar sapi perah mengandung 12 residu organoklorin paling berbahaya. “Ternyata, sumber residu susu berasal dari pakan hijau, konsentrat, dan air minum yang dikonsumsi sapi,” jelas peraih juara satudosen berprestrasi 2011 Kopertis Wilayah VII ini. Indah melanjutkan, pakan itu berasal dari tanaman, sementara tanaman dibudidaya dengan bahan kimia dan intensif pestisida-insektisida. Residu itu lalu tertinggal di buah, biji, dan daun, termasuk dichloro-diphenyl-trichloroethane (DDT), salah satu pestisida sintetis berbahaya yang baru bisa didegradasi 30 tahun di tanah. Melalui penelitian mendalam, Indah akhirnya menghasilkan temuan tentang mikroba atau bakteri yang bisa mendegradasi senyawa komplek organik dan anorganik, termasuk senyawa berbahaya DDT. “Tiap mikroba punya siklus hidup. Siklus inilah yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian, peternakan, dan perikanan, yang berkualitas dan aman dikonsumsi,” katanya. Di samping penelitian tersebut, beberapa proyek riset yang tengah dilakukan Indah di antaranya identifikasi antibakteri berbasis herbal dan implementasinya pada budidaya ikan nila dan mas, juga tentang senyawa aktif fungi sebagai biofungisida bagi proteksi tanaman. Ia pun tengah meriset pengembangan dan produksi starter untuk biogas berbasis rumput serta melakukan perakitan feed–food aditif alami berbasis potensi lokal. Selain itu, Indah aktif mengawal program pengembangan pembibitan sapi potong lokal berbasis kawasan di Brang Rea, Nusa Tenggara Barat, dan mendampingi pengembangan klaster sapi perah di Kabupaten Jember. Sebelumnya pada 2015 ia juga mengawal pengembangan teknologi pengawetan dan peningkatan kualitas pakan ruminansia di Bangkalan, Madura. Di tahun yang sama, Indah berperan aktif dalam pengembangan klaster sapi potong terpadu berbasis padi di Matang Segantar, Kalimantan Barat. (ich/can/han)