Kemenristek Dikti Sediakan 1000 Beasiswa ke Timur Tengah

BEKERJASAMA dengan Kementrian Pendidikan Saudi Arabia, Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) RI menyediakan 1000 beasiswa bagi program magister dan doktoral. Kerjasama tersebut dilakukan dalam rangka merespon perkembangan pendidikan yang semakin pesat. Staf khusus Kemenristek Dikti KH. Dr. Abdul Wahid Maktub menyatakan solusi yang inovatif dapat muncul ketika lingkungan sudah bagus dan sangat mendukung. Lingkungan yang dibentuk seharusnya bukan hanya lingkungan formal, namun dibutuhkan juga lingkungan informal. “Semua beasiswa yang disediakan bertujuan agar bisa menghadirkan inovasi-inovasi yang cepat untuk permasalahan Indonesia,” jelasAbdul Wahidsaat presentasi beasiswa Timur Tengah akhir pekan lalu (25/3) di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rancangan Kemenristek Dikti, pada 2015-2019 yang menjadi prioritas utama adalah peningkatan mutu pendidikan tinggi di setiap Perguruan Tinggi (PT). selain mutu pendidikan tinggi, relevansi, akses, daya saing dan juga tata kelola PT menjadi sasaran selanjutnya yang ingin diperbaiki Kemenristek Dikti hingga 2019 nanti. “Yang ingin meneruskan program magister dan doktoral harus rajinmengecek lamankita dan kalau bisa juga memiliki jaringan,” terangWahid. Untuk mencapai mutu pendidikan yang ditargetkan, Kemenristek Dikti membuat grand design pendidikan tinggi 2015-2025. Konsep tersebut diantaranya memuat pemberian afirmasi pada PT yang masih lemah, pembedaan orientasi kampus menjadi konsep yang juga sedang digarap Kemenristek Dikti. “Perlu ada kampus yang diarahkan ke penelitian, kampus yang diarahkan ke pengajaran dan semacamnya,” imbuhnya. Selain itu, target Kemenristek Dikti untuk peningkatan mutu adalah masuknya PT di Indonesia dalam world class university. Paling tidak, lanjut Wahid, minimal ada limaPT di Indonesia yang bisa masuk 500 PT terbaik versi QS Ranking. Inovasi dan komersialisasi di segala bidang yang dilakukan PT juga semakin lama perlu ditingkatkan. “Penelitian yang dilakukan sebagian bisa diproduksi secara komersial. Jika berkaitan dengan regulasi, maka peraturan yang menghambat pengembangan PT harus diperbaiki dan dimaksimalkan,” paparnya. Menurut Wahid, selain gerakan strukturasi, gerakan kulturasi juga dibutuhkan di lingkungan PT. Gerakan kulturasi sendiri akan terbangun jika PT selalu memperbaharui caranya dengan metode yang lebih modern. Wahid berharap, penerapan gerakan kulturasi dapat menjadikan UMM sebagai father university atau universitas pelopor yang hidupnya diabdikan untuk orang lain atau life for other. (jal/han)

Zulfikar Bagas Anoraga, dari Papua hingga Eropa

BELUM genap tiga tahun Zulfikar Bagas Anoraga kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berbagai pengalaman internasional sudah direngkuhnya. Mulai dari proyek sosial di India selama dua bulan, program kredit transfer di Tongren University Cina selama satu semester, dan terakhir beasiswa Erasmus+ di Universidad de Murcia Spanyol selama enam bulan. Saat ini, Bagas tengah berada di Spanyol, karena sejak Januari hingga Juli mendatang ia mengikuti program Erasmus+ tersebut. Perjuangannya meraih beasiswa yang disebut terakhir ini tak mudah, karena saat pendaftaran program dibuka, ia sedang menjalani program kredit transfer di Cina. “Saya dapat kabar ada pendaftaran Erasmus+. Untuk mendaftar, saya agak kesulitan karena semua berkas saya di Indonesia, tidak dibawa ke Cina. Akhirnya, saya meminta bantuan teman kontrakan untuk mengurusi persyaratan, mulai dari transkrip hingga surat aktif kuliah,” kisah Bagas. Bahkan, saat pengumuman lolos beberapa bulan setelahnya, ia juga tidak sedang berada di Malang, karena sedang berlibur di kampung halamannya, Papua. “Kelolosannya saya tahu dari teman. Maklum saja, di sana (Papua) susah sekali sinyal internet. Sempat tidak percaya saya berhasil lolos, rasanya seperti mimpi. Bahkan, orang tua saya sampai menitikkan air mata,” cerita Bagas haru. Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini berujar, motivasi utamanya meraih beasiswa luar negeri ialah orang tuanya. “Saya termotivasi belajar menjadi lebih baik demi orang tua saya,” ujarnya. Siapa sangka, awalnya Bagas ternyata bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun, keputusannya melanjutkan pendidikan selepas SMA membulatkan tekadnya untuk belajar sungguh-sungguh. Kini, Bagas bermimpi menjadi dosen. Di mata Bagas, meraih beasiswa luar negeri bukan hal sukar bila dibarengi niat yang kuat. “Asalkan kita ulet dan mau bersusah-payah berjuang. Yang paling penting ialah mencari informasi selengkap-lengkapnya, sehingga lebih mudah mempersiapkan persyaratan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (ich/han)

UMM Pecahkan Rekor Penonton Terbanyak Talkshow I’m_Possible

TAK heran jika host Talkshow I’m_Possible garapan televisi swasta Metro TV, Merry Riana, berkali-kali meluapkan kegembiraannya atas gelaran I’m_Possible di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/3). Bagaimana tidak, event yang diadakan di hall UMM Dome ini diikuti 3.750 penonton, yang merupakan jumlah penonton terbanyak dibanding tour-tour I’m_Possible sebelumnya. Selain Merry Riana dan duet host-nya yaitu komedian Setiawan Tiada Tara, talkshow I’m_Possible kali ini menghadirkan bintang tamu para punggawa klub sepakbola asal Malang, Arema, yaitu kiper Kurnia Sandi, kapten Ahmad Al-Farizi dan coach Aji Santoso. Para punggawa Arema tersebut bercerita tentang penjalanan dan lika-liku perjuangan Arema mulai dari klub gurem hingga klub penuh prestasi seperti sekarang ini. Dari talkshow ini, Merry Riana menuturkan, masing-masing peran dari para punggawa Arema tersebut bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita dalam meraih mimpi. Posisi kapten memuat pelajaran agar kita mampu menjadi kapten atau pemimpin bagi diri kita sendiri, posisi kiper adalah tentang menjaga integritas agar jangan sampai kebobolan, dan peran coach menandai bahwa bila kita sudah mencapai mimpi, jangan lupa untuk berbagi ilmu pada yang lain. Tak lupa, Merry juga sempat memberi pesan spesial bagi civitas akademika, ia meminta agar mahasiswa UMM berhenti taking notes dan segera beranjak pada taking action. “Stop taking notes and start taking action, karena gak ada gunanya dicatet-catet kalau gak dipraktekkan. Nyatet boleh, tapi yang lebih penting lagi harus take action karena itulah kunci sukses Merry Riana. Kalau saya bisa, mahasiswa UMM juga pasti bisa. I Love UMM,” ucapnya. Sebelum dimulainya talkshow, Rektor UMM Fauzan sempat memotivasi para mahasiswa agar menjadi mahasiswa maximize, dan jangan menjadi mahasiswa minimize. “Mahasiswa minimize itu yang suka datang telat dan suka cari-cari alasan atas kegagalannya, sementara mahasiswa maximize itu mahasiswa yang disiplin dan selalu mencari cara agar sukses,” papar Fauzan. Selain itu, event kali ini juga menampilkan sejumlah talenta mahasiswa UMM, di antaranya penampilan UKM Paduan Suara UMM Gita Surya dan StandUp Comedian yang juga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM Vito Ditapradja. Sehari setelahnya (24/3), UMM Dome dimeriahkankan oleh talkshow Kick Andy yang merupakan rangkaian dari Metro TV on Campus 2017 di UMM. Talkshow Kick Andy mengangkat tema “Yang Muda, Yang Peduli” menghadirkan bintang tamu duta pariwisata Nadine Chandrawinata, pendiri café tunarungu Fingertalk Indonesia Dissa Syakina Ahdanisa, dan para personil group band Cokelat. Selain Kick Andy pada 2008 dan Metro TV on Campus pada 2017 ini, untuk kesekian kalinya Metro TV telah menggandeng UMM menyukseskan event besarnya, beberapa di antaranya yaitu Talkshow Mata Najwa pada 2012, 2013, dan 2015, belum lagi rangkain event yang menyertainya seperti Wide Shot dan StandUp Campus Tour. (ich/han)

UMM Wakili Indonesia di Kontes Robot Internasional di Amerika Serikat

ETELAH sebelumnya menjadi 10 besar dalam lomba mobil listrik pada kompetisi International Shell Eco Marathon Asia 2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mewakili Indonesia untuk tampil dalam kontes robot internasional di Trinity College Amerika Serikat. Dalam kontes bertajuk Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) tersebut sebanyak tiga tim dari UMM akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi di kategori robot pemadam kebakaran. Tiga tim yang akan bertanding yaitu Tim Dome_Mu, Tim Unmuh Malang dan Tim InaMuh. Diutusnya UMM mewakili Indonesia dalam ajang internasional tersebut merupakan kelanjutan dari perlombaan Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Pada KRPAI Berkaki 2016 UMM berhasil meraih juara satu sekaligus penghargaan desain dan artistik terbaik. “Sebanyak lima mahasiswa dan dosen pembimbing akan berangkat ke Amerika pada 29 Maret 2017 nanti,” jelas Ketua Rombongan, Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. Selain Alik Ansyori, empat orang lainnya yang ikut rombongan yaitu Ir. Muhammad Irfan, M.T. sebagai pembimbing, serta Ikhlal Aldhi Wijaya, Imam Fatoni dan Salis Muchtar Fadhilah sebagai perwakilan dari setiap tim. Robot UMM memiliki beberapa keunggulan dilihat dari beberapa aspek. Dari segi desain, kata Alik, robot UMM memiliki dimensi yang sangat kecil jika dibandingkan robot lain. Alik menjelaskan, dengan dimensi yang kecil, robot UMM akan dengan mudah menghindari halangan yang berada dalam arena. “Setiap tahunnya robot UMM selalu mendapatkan penghargaan desain terbaik karena dimensi yang kecil itu,” ujar Alik lebih lanjut. Pada kompetisi TCFFHRC nanti, misi yang harus dilakukan adalah mencari dan memadamkan api lilin di arena lapangan. Robot yang paling cepat memadamkan lilin akan dinyatakan sebagai pemenang. “Dengan kecepatan robot yang sudah teruji pada KRI 2016, di perlombaan internasional ini robot UMM optimis akan menjadi yang tercepat lagi,” ujar Alik. Dalam hal ketepatan, robot yang akan dilombakan selama satu minggu (1-7 April2017) tersebut dinekali dengan delapan sensor ultrasonik dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak. 10 sensor ini dibekali agar mudah mendeteksi posisi lilin dan dapat menjangkau lilin dengan cepat. Selain itu, robot UMM juga dibekali sensor flame UVTRON-R9454 untuk mendeteksi apililin. Sensor ini sangat baik jika dibandingkan dengan sensor flame yang lain, karena sensor ini hanya menangkap cahaya UV dengan jangkauan spectrum 185 Nanometer (nm) sampai 260 nm, dimana jangkauan itu hanya dimiliki oleh gas api. “Artinya robot UMM nantinya tidak akan salah dalam mendeteksi api lilin yang ada,” ungkap Alik saat pelepasan tim bersama Rektor UMM. Rektor UMM Fauzan mengatakan, semua mahasiswa yang bertanding ke tingkatan apapun akan diapresiasi oleh UMM. Semuanya diberikan beasiswa berupa bebas tanggungan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Selain itu, semua karya yang telah dibuat oleh dosen dan mahasiswa ini nantinya akan dipamerkan dalam festival inovasi dan karya. “Agustus nanti akan digelar festival itu untuk memacu semangat yang lain agar terus menciptakan inovasi dan karya,” jelas Fauzan. (jal/han)

Kedua Kalinya, Talkshow Kick Andy Meriahkan UMM Dome

UNTUK kedua kalinya, event talkshow garapan televisi swasta Metro TV, Kick Andy, menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/3) di UMM Dome. Sebelumnya, pada 2008 gelaran yang sama juga diadakan di UMM menghadirkan bintang tamu utama penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Kali ini, tema yang diangkat Kick Andy yaitu “Yang Muda, Yang Peduli” menghadirkan bintang tamu duta pariwisata Nadine Chandrawinata, pendiri café tunarungu Fingertalk Indonesia Dissa Syakina Ahdanisa, dan para personil group band Cokelat. Rektor UMM Fauzan berharap, Kick Andy tidak berhenti menebar virus kebaikan melalui inspirasi para bintang tamu yang dihadirkan. Mengamini hal tersebut, host Kick Andy, Andy Flores Noya, menyebut dukungan dan fasilitas yang diberikan UMM dalam penyelenggaraan acara ini merupakan berkah bagi Kick Andy sehingga dapat terus bersama-sama menebar virus kebaikan. “Ini kedua kalinya saya berada di UMM, terima kasih atas dukungannya yang luar biasa. I Love UMM,” kata Andy. Tema “Yang Muda, Yang Peduli” sengaja diangkat dalam talkshow kali ini karena sesuai dengan karakter UMM sebagai kampus yang melahirkan inspirasi bagi kaum muda. Salah satu yang disebut Andy yaitu keberhasilan kelompok Guys Pro UMM dalam merubah daerah kumuh menjadi kampung warna-warni Jodipan. Di akhir acara, Andy turut mengundang Nabila dkk dari Guys Pro UMM untuk tampil di atas panggung bersama inspirator Malang lainnya. Sebelumnya, pada 18 November 2016, Andy mengundang Nabila dkk untuk berbagi inspirasi di acara Kick Andy. Bintang tamu pertama pada gelaran Kick Andy kali ini, Nadine, pada kesempatan kali ini mengajak lebih dari 5000 penonton yang memadati UMM Dome untuk pada menjaga kesegaran lingkungan. Nadine bercerita tentang perjuangan yang ia lakukan melalui komunitas peduli lingkungan yang ia dirikan, yaitu Sea Soldiers, di mana ia meyakini laut adalah pusaran dari kepedulian manusia pada lingkungannya. Sementara itu pendiri café tunarungu Dissa menceritakan tentang usahanya agar para penyandang tunarungu dapat memperoleh hak dan kesempatan bekerja yang setara dengan orang pada umumnya. Setelah melanglang ke berbagai negara untuk membantu kaum tunarungu, Dissa mengisahkan, ia akhirnya kembali ke Indonesia untuk berkiprah bagi bangsanya. Dissa tak lupa mengisahkan tentang penghargaan yang secara khusus diberikan mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama atas kiprahnya tersebut. Suasana talkshow kian seru karena menghadirkan para personil band Cokelat yaitu vokalis Jackline Rossy Natalia, gitaris Edwin Marshal Sjarif dan bassist Ronny Febry Nugroho. Di awal talkshow, Cokelat menyanyikan lagu “Bendera” diiringi lambaian ribuan bendera mini merah putih oleh para penonton. Lagu ini menandai kecintaan dan kepedulian anak Indonesia pada bangsanya. Di sela-sela itu, vokalis band Cokelat Jackline Rossy sempat mengungkapkan kekagumannya pada UMM. Ia menilai UMM sebagai kampus yang sangat indah dan menyenangkan. “Wah sayang sekali dulu saya tidak kuliah di sini. Kalau suatu saat saya ada kesempatan untuk kuliah lagi, pasti saya pilih UMM,” kata Jackline yang disambut applause penonton. Sehari sebelumnya (23/3), UMM Dome juga dimeriahkan oleh Talkshow I’m_Possible yang menjadi rangkaian dari Metro TV on Campus 2017 di UMM. Selain Kick Andy pada 2008 dan 2017, untuk kesekian kalinya Metro TV telah menggandeng UMM menyukseskan event besarnya, beberapa di antaranya yaitu Talkshow Mata Najwa pada 2012, 2013, dan 2015, belum lagi rangkain event yang menyertainya seperti Wide Shot dan StandUp Campus Tour. (can/han)

Komisi X DPR RI Gelar Uji Publik RUU Sistem Perbukuan di UMM

MASIH beredarnya buku-buku yang tidak menjunjung nilai-nilai Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, belum optimalnya kepastian hukum bagi pelaku perbukuan, serta belum adanya kerangka hukum mengenai perbukuan berdampak luas terhadap keterbatasan akses masyarakat akan buku bermutu, murah, dan mencerdaskan. Dengan demikian, tata kelola perbukuan melalui Sistem Perbukuan secara terpadu mutlak diperlukan untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sebagai jembatan menuju tercapainya kecerdasan bangsa. Demikian disampaikan Ketua Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Perbukuan 2017 Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ir HAR Sutan Adil Hendra MM dalam uji publik RUU Sistem Perbukuan 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (22/3). “Saat ini pengaturan perbukuan masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan sehingga dibutuhkan pengaturan perbukuan yang sistematis dan komprehensif. Pengaturan dimaksud mencakup seluruh komponen Sistem Perbukuan, yaitu penulis, penerjemah, penyadur, editor, desainer, ilustrator, pencetak, pengembang buku elektronik, penerbit, dan toko buku,” jelas Sutan. Selain komponen perbukuan tersebut, dilanjutkan Sutan, Undang-Undang ini juga mengatur bentuk, jenis, dan isi buku, hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku perbukuan, wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, pemerolehan naskah buku, penerbitan, pencetakan, pengembangan buku elektronik, pendistribusian, penggunaan, penyediaan, dan pengawasan. Untuk menjamin pelaksanaan penegakan hukum, diatur pula sanksi administratif bagi setiap orang yang melanggar beberapa ketentuan dalam Undang-Undang ini. Kegiatan uji publik ini menghadirkan Pakar Hukum dari UMM, Dr Sidik Sunaryo MHum dan Akademisi Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Djoko Saryono MPd yang memberikan sejumlah daftar catatan terhadap pengajuan undang undang sistem perbukuan oleh Komisi X DPR RI itu. Adapun pembicara kunci pada acara ini yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudyaan Repubik Indonesia Prof Dr Muhadjir Effendy MAP. Selain itu, Kabalitbang Kemendikbud RI Ir Totok Surayitno PhD serta staf ahli Mendikbud bidang regulasi Chatharina Girsang MH juga hadir memberikan komentar atas masukan pakar hukum dan akademisi terhadap draft undang-undang Sistem Perbukuan ini. Sementara, Rektor UMM Drs Fauzan MPd menyambut baik penyelenggaraan Uji Publik RUU Sistem Perbukuan 2017 di kampus ini. UMM, kata Fauzan, siap sedia dan terbuka untuk senantiasa dilibatkan dalam segala hal yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara. (Humas UMM)

Dialog dengan Mahasiswa UMM, Mendikbud Ungkap Strategi Kembangkan Minat-Bakat Siswa

SELEPAS menjadi pembicara kunci pada kegiatan uji publik RUU Sistem Perbukuan 2017, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyempatkan diri memberi kuliah umum pada mahasiswa di masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (22/3). Pada kuliah umum ini, Muhadjir memberi kebebasan pada mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan tentang sistem pendidikan Indonesia. Antusiasme tampak jelas pada beragam pertanyaan yang muncul. “Mengapa di Indonesia siswa mesti mempelajari banyak mata pelajaran, Pak? Sementara di negara lain, siswa diarahkan untuk fokus pada bakat dan minatnya sejak di bangku sekolah,” tanya salah satu mahasiswa. Menanggapi hal ini, Muhadjir mengakui bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih perlu dibenahi. Muhadjir menyadari pentingnya untuk memfokuskan bakat dan minat siswa. Tapi, di sisi lain, banyaknya mata pelajaran yang diberikan sejak di bangku sekolah dasar hingga menengah juga bertujuan untuk memberi kesempatan pada siswa memilih dan mengarahkan minat dan bakatnya sendiri. Tetapi, Kemendikbud juga tak begitu saja tinggal diam. Ke depan, Muhadjir akan mengkaji lagi mata pelajaran dan mengurangi mata pelajaran yang dinilai kurang efektif. Selain itu, pendidikan karakter juga akan dikuatkan pada siswa sejak dini. Salah satunya, pembelajaran di luar ruangan (outdoor). Tak hanya soal fokus bakat dan minat, mahasiswa juga mengkritisi maraknya kriminalitas yang pelakunya banyak dari remaja usia sekolah. “Kasus kriminalitas remaja disebabkan salah satunya oleh kesenjangan waktu antara sekolah dengan keluarga. Waktu di antara keduanya inilah yang sering membuat siswa lengah. Oleh karenanya, waktu berkegiatan di sekolah yang diperpanjang ini jadi salah satu strategi agar siswa memanfaatkan waktunya dengan positif,” papar Muhadjir. Selain kuliah umum oleh Mendikbud RI, wakil ketua Komisi X DPR RI Ir HAR Sutan Adil Hendra MM juga memberikan motivasi pada mahasiswa untuk menjadi insan yang cerdas. Menurutnya, masa-masa menjadi mahasiswa adalah kesempatan emas untuk mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan. “Salah satu ciri orang cerdas adalah bisa memanfaatkan momentum. Jadi mahasiswa adalah kesempatan emas, jangan sia-siakan,” pesan Sutan. (ich/han)

Pacu Karya Unggul Dosen, UMM Adakan Seleksi Dosen Berprestasi

KUALITAS dan inovasi akademik dosen sangat diperlukan untuk kemajuan universitas. Bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satu cara memacunya yaitu melalui seleksi dosen berprestasi. Berada di bawah naungan Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) UMM, diharapkan seleksi dosen berprestasi dapat melengkapi pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi Ketua pelaksana seleksi Dr hari Windu Asrini, M.Si menjelaskan, gelaran seleksi dosen berprestasi ini merupakan salah satu cara UMM untuk memunculkan karya terbaik dosen dalam berbagai bidang. Dari sekian banyak karya unggul yang telah dihasilkan dosen, BKMA kembali menyaring yang paling bagus. “Karya unggul ini dibagi dua, penelitian dosen dan penemuan terbaru dosen,” jelas Rini. Ada beberapa penilaian yang ditentukan untuk mengukur apakah penelitian tersebut bagus atau tidak. Di antaranya adalah, penelitian tersebut diakui oleh pihak luar dan pihak stakeholder. Tidak hanya itu, dari sisi pengabdian masyarakat dan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi dosen tersebut juga sudah diakui. Rini melanjutkan, pengabdian, penelitian dan pengajaran yang dinilai adalah yang dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. “Jika sampai ke ranah internasional, maka itu merupakan point ples bagi dosen tersebut,” ungkapnya. Sebelumnya, dilakukan penyaringan sebelum ke tahap presentasi. BKMA melihat track record dari dosen di setiap fakultas. “Data awal kami ambil dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) dan dari Kantor Hak Kekayaan Intelektual (HKI),” lanjutnya. Kemudian, yang masuk dalam criteria maka akan diundang untuk mengikuti presentasi karya yang diunggulkan. Tidak hanya menampilkan karya unggul saja, dosen berprestasi juga di tes kepribadian dan tak ketinggalan materi Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi salah satu materi tes yang diujikan. Sebanyak 20 dosen dari 10 fakultas bertanding untuk mendapatkan predikat dosen terbaik pertama, kedua dan ketiga. Selanjutnya yang terpilih menjadi dosen terbaik pertama, lanjut Rini, akan dikirim untuk bertanding di tingkat provinsi dan selanjutnya di tingkat nasional. (jal/han)

42 Laboratorium di UMM Siap Terakreditasi

KOMITE Akreditasi Nasional (KAN) melakukan assessment untuk Laboratorium Sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 16-17 Maret 2017 lalu. Di antara tim assessment yang hadir yakni asesor kepala Murtiningsih, M. App.Sc. dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KPP) Jakarta, anggota asesor Renata Iskandar, M. Phil dari Purnabakti, Bogor serta tenaga ahli Dr. Wahyu Purbowasito Setyo Waskito dari BSN-KAN. Diterangkan Kepala Laboratorium Sentral UMM, Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., kedatangan tim asesor tersebut sebagai assessment awal untuk mendapatkan pengakuan dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) ISO 17025. Elfi menargetkan, pada 2017 sejumlah laboratorium dari total 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium ilmu sosial yang berada di lingkungan UMM dapat terakreditasi. “Ikhtiar ini sudah kita perjuangkan mulai dari 2016 yang diawali dengan permintaan beberapa laboratorium yakni labolatorium nutrisi dan laboratorium bioteknologi,” kata Elfie yang juga merupakan dosen prodi ITP UMM ini. Berdasarkan hasil pengujian asesor, dilanjutkan Elfi, UMM dikelompokan dalam 6 lingkup pengujian dari 4 laboratorium yang ada di UMM. Di antara laboratorium yang diuji yakni laboratorium nutrisi melalui pengujian analisas proksimat atau metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Laboratorium kedua yang diuji yakni laboratorium bioteknologi yang mengusulkan dua pengujian , pengujian gula total dan protein. Ketiga, laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) yang mengusulkan pengujian total antosianin. Terakhir, laboratorium biologi mengusulkan ruang lingkup pengujian Total Plate Count (TPC) dari mikroba tertentu serta uji daya hambat antimikrobian yang diduga terdapat pada senyawa bioaktif. “Kita berharap dari 4 laboratorium ini ada yang berhasil mengibarkan bendera akreditasi KAN. Bahkan kami harap semuanya dapat lolos asesmen, sehingga pengujian kepada laboratorium yang lainnya juga bisa dilakukan,” ujar Elfi. Ke depan, jika laboratorium yang telah terekognisi KAN, laboratorium-laboratorium tersebut tidak lagi sekedar digunakan bagi kepentingan akademik seperti praktikum mahasiswa atau penelitan dosen saja. “Nantinya laboratorium-laboratorium yang telah terkognisi KAN ini akan dapat dipergunakan bagi kepentingan industri, pemerintah, masyarakat maupun UMKM,” terang Elfi. Selain melakukan asesmen terhadap sejumlah laboratorium, kedatangan asesor ke UMM juga sekaligus memberikan pengetahuan seputar standar ISO 9001 kepada seluruh kepala laboratorium di lingkungan UMM. Standar Internasional ini menetapkan beberapa persyaratan untuk Sistem Manajemen Mutu, untuk menunjukkan guna memenuhi persyaratan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. (can/han)

Dosen UMM Jadi Pengajar Bahasa dan Budaya Indonesia di Bulgaria

MENJADI pengajar bagi warga asing di Indonesia merupakan hal biasa. Tapi, apa jadinya kalau pengalaman mengajar bahasa Indonesia itu dilakukan untuk mahasiswa asing di luar negeri? Pengalaman tak biasa ini yang dirasakan Faizin, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diundang secara khusus Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia, Bulgaria. Faizin diminta untuk mengajar di kelas bahasa dan budaya Indonesia di Sofia University dan KBRI Sofia untuk periode semester genap tahun ajaran 2016/2017. “Di Sofia University Bulgaria, selain mengajar bahasa saya juga mengajarkan pencak silat untuk mereka sebagai pengetahuan dan wawasan budaya Indonesia. Selain itu, di KBRI saya juga mengajar kelas Bahasa Indonesia,” kata Faizin saat dihubungi lewat lini massa WhatsApp, Senin (20/3). Menariknya, minat pelajar Bulgaria khususnya mahasiswa Sofia University “St. Kliment Ohridski” untuk mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia kini makin meningkat. Salah satu buktinya, kelas bahasa dan budaya Indonesia di Sofia University berstatus “elective study”. Kelas tersebut berbobot 4 SKS atau 60 jam pelajaran dan berada di bawah Fakultas Classical and Modern Philology jurusan South, East and Shouthest Asian Studies. Hingga saat ini, tercatat kelas pemula berjumlah 30 mahasiswa dan kelas menengah berjumlah 16 siswa. Lawatan Faizin ke Bulgaria merupakan program Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) lewat program Scheme for Academic Mobility and Exchange Bahasa Indonesia dan Penutur Asing (BIPA). Selama satu semester, terhitung sejak 15 Februari hingga 9 Juni 2017. “Sebenarnya saya harus sudah sampai di Bulgaria sebelum 15 Februari. Tapi karena masih banyak pekerjaan di kampus, akhirnya baru bisa berangkat 11 Maret,” tutur Faizin yang juga merupakan alumni program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UMM ini. Kesempatan langka itu tidak diraih sembarang orang. Hanya mereka pengajar BIPA dari delapan universitas di Indonesia yang dapat memperoleh kesempatan berharga itu. “Selama proses mengajar orang Bulgaria, kita harus sering praktik bersama mereka di luar kelas. Soalnya jika hanya mengandalkan jam mengajar di dalam kelas, mereka akan lambat mengembangkan keterampilan bahasa Indonesianya. Karena di luar jam bahasa Indonesia mereka banyak menggunakan bahasa Bulgaria dan Inggris, sehingga kita sebagai pengajar harus kreatif memanfaatkan keadaan untuk mengajak mereka mengobrol dengan bahasa Indonesia agar mereka cepat terampil berbahasa Indonesia,” ungkapnya. (can/han)