FKIP Siap Implementasikan KPT di Tahun Ajaran 2017-2018

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan Kurikulum Perguruan Tinggi (KPT) agar segera diberlakukan di kegiatan belajar mengajar. Sebelumnya, UMM giat merevitalisasi KPT agar proses pembelajaran berjalan sesuai standar nasional. Terbaru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM memperkuat gagasan KPT melalui sosialisasi pelaksanaan KPT dan workshop Rencana Pembelajaran Semester (RPS), Jumat (13/01) di Auditorium UMM. FKIP bakal menjadi satu-satunya fakultas yang mengawali berjalannya KPT pada tahun akademik 2017-2018 mendatang. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menyatakan, implementasi KPT tidak bisa dilakukan secara instan. Setelah melakukan pengkajian KPT dan pembentukan tim percepatan KPT universitas, UMM yang diawali oleh FKIP akan segera mengaplikasikannya. “KPT yang dilaksanakan oleh FKIP ini nantinya akan menjadi acuan bagi fakultas dan program studi lainnya,” jelasnya. Penguatan akademik tidak hanya dilakukan di masalah kurikulum, namun menurut Syamsul, juga disertakan dengan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). “Jika kita berbicara tentang kurikulum, maka keberadaan dan keberlangsungan kurikulum itu harus ditopang keberlangsungan SDM yang mumpuni,” ungkapnya. Salah satunya, melalui produktivitas penulisan artikel dan jurnal internasional. Menurut Syamsul, dengan giatnya dosen menulis artikel dan jurnal berkelas internasional, semakin mudah bagi UMM meraih pengakuan internasional. Tidak hanya mengingatkan tentang kurikulum dan penguatan SDM, Syamsul juga berpesan implementasi KPT ini memiliki tujuan untuk membangun kualitas mahasiswa. “Semua yang dilakukan dosen, kembalinya untuk mahasiswa. Jika mahasiswa UMM berkualitas maka secara perlahan, kita juga akan turut membangun masyarakat yang berkualitas,” ungkap Syamsul. Selain itu, untuk penguatan kegiatan ilmiah yang dilakukan mahasiswa, UMM akan terus mengintegrasikan mata kuliah dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Menurut Syamsul, dengan integrasi tersebut, mahasiswa yang dihasilkan juga akan berkualitas. “Jadi ada dua hal yang akan menjamin kualitas mahasiswa, karya ilmiah dan juga penguatan kurikulum,”jelasnya. Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes menegaskan, FKIP optimis akan melaksanakan KPT pada tahun ajaran baru nanti. Secara bertahap, FKIP melakukan penguatan KPT, dimulai dari program studi (prodi) Biologi yang mempelopori penerapan KPT sejak 2016. Semua dosen FKIP dilibatkan dalam pembuatan dan pelaksanaan KPT ini. “FKIP sudah merumuskan setengah jalan terkait KPT ini, dan sekarang kami sudah memasuki tahap finishing untuk kemudian diaplikasikan,” jelasnya.
Tiga Problem Sosial-Ekonomi Jadi Fokus KKN UMM

DUA program Kementerian Sosial dan satu program Kemenristek Dikti menjadi fokus utama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Universitas Muhammadiyah Malang. Tiga program dimaksud yaitu perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Kelompok Usaha Bersama (Kube) dan Iptek bagi Wilayah (IbW). Hal itu disampaikan Kepala Divisi KKN dan Pengembangan Wilayah Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM Drs Amir Syarifuddin MP saat melepas 924 mahasiswa KKN UMM periode 2 tahun ajaran 2016/2017, Kamis (12/1). Mereka akan ditempatkan di 33 desa yang tersebar di wilayah Malang Raya, Pacitan, Probolinggo, dan Pasuruan. Tiga program yang disebut di atas merupakan program lanjutan yang sudah dilaksanakan KKN periode sebelumnya di samping program reguler KKN meliputi bidang keagamaan, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan kesehatan. Total, ada 6 desa yang akan mengimplementasikan IbW dengan beragam program sesuai potensi tiap desa. Dalam pembukaannya, Rektor UMM Fauzan menyatakan mahasiswa yang sedang melakukan KKN adalah salah satu martil UMM yang masuk ke jantung-jantung pedesaan. Oleh karena itu, mahasiswa patut menunjukkan bahwa mereka memiliki kompetensi yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. “Konsekuensi logis dari mahasiswa yang ada di desa adalah anggapan sebagai kaum elit dan terpelajar. Oleh karenanya, manfaatkan imej itu untuk mempengaruhi dan memberdayakan masyarakat sesuai program yang kalian usung,” pesan Fauzan sebelum meresmikan pelepasan. Fauzan juga menegaskan pada mahasiswa untuk tidak melakukan perbuatan yang berlawanan dengan misi KKN dengan tetap menjunjung tinggi sopan santun dan adat masyarakat desa. “50 persen keberhasilan KKN kalian ditentukan oleh keberhasilan kalian beradaptasi dengan masyarakat. Adaptasi berhasil, maka program akan berhasil. Sebaliknya jika adaptasi gagal, jangan harap program akan terlaksana dengan baik,” tuturnya. (ich/han)
Universitas Islam Riau Belajar Penjaminan Mutu Akademik di UMM

SEBAGAI salah satu universitas jujukan tata kelola perguruan tinggi yang baik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) banyak mendapat kunjungan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kamis (12/1), UMM kembali mendapat kunjungan dari pimpinan Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau (UIR). Rombongan yang terdiri dari dosen dan staf fakultas tersebut dimaksudkan mempelajari tata kelola universitas, khususnya penjaminan mutu akademik. Kepala Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA), Prof. Dr. Noor Harini, MS menyambut baik kedatangan rombongan salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terkemuka tersebut. Dijelaskan Noor, Salah satu aktivitas BKMA UMM ialah audit mutu akademik internal (AMAI) dan evaluasi standar yang saat ini telah memanfaatkan sistem informasi manajemen mutu akademik (SIMUTU), sehingga mampu mengevaluasi serta meningkatkan 13 standar turunan secara online di setiap semester. “Seluruh mekanisme yang dijalankan UMM dalam pengelolaan penjaminan mutu akademik sesuai dengan kaidah Kaizen, yakni continuous quality improvement (peningkatan mutu berkelanjutan, Red.). Hasil audit dan evaluasi dilaporkan secara berkala ke pimpinan universutas,” terang Noor. Di setiap aktivitasnya, lanjut Noor, BKMA didukung gugus kendali mutu akademik yakni Komisi Kendali Mutu Akademik (KKMA) di tingkat Fakultas dan Tim Koordinasi Kegiatan Akademik (TKKA) di tingkat program studi. Lebih jauh Noor menjelaskan, BKMA juga melaksanakan fungsi pelayanan dalam bidang training seperti penyelenggaraan pelatihan Peningkatan Keterampilan Teknik Instruksional (PEKERTI) dan pelatihan Applied Approach (AA), memberikan konsultasi, pendampingan dan kerjasama di bidang kendali mutu akademik di lingkup internal UMM serta dapat beraktivitas di tingkat eksternal atas persetujuan pimpinan universitas. Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Hukum UIR, Prof. Syafrinaldi menerangkan, beberbeda dengan UMM, di UIR tata kelola penjaminan mutu akademik dikonsentrasikan di masing-masing fakultas. “Meski lahir 2 tahun lebih dulu dari UMM, UIR masih butuh banyak belajar dari universitas swasta lainnya seperti UMM dalam pengelolaan perguruan tinggi, khususnya dalam hal penjaminan mutu akademik. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di UIR, lebih khusus di Fakultas Hukum,” pungkas Syafrinaldi saat menutup lawatannya ke UMM. (can/han)
Haedar Nashir Ingin Mahasiswa UMM Menjadi Manusia Berkemajuan

KETUA Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si, menyempatkan diri mengisi kajian di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) usai menjenguk mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ahmad Hasyim Muzadi yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Malang, Selasa (10/1). Haedar menyampaikan, lulusan perguruan tinggi yang mapan seperti UMM selayaknya mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai di atas rata-rata. Dengan mengutip kriteria dalam buku Indonesia Berkemajuan, Haedar mengurai kriteria yang mutlak dimiliki lulusan UMM, yang kemudian disebutnya sebagai ciri Manusia Indonesia Berkemajuan. Satu di antaranya yakni religiusitas. “Tentu religiusitas yang dipahami Muhammadiyah adalah religiusitas yang dinamis. Artinya, lulusan UMM harus mampu menyebarkan kasalehannya untuk kebermanfaatan lingkungannya,” papar Haedar. Selain religiusitas, karakter lain yang wajib dimiliki Manusia Indonesia Berkemajuan adalah karakter mandiri. “Karakter mandiri yakni karakter yang mampu mengangkat harkat martabat diri dan bangsanya. Juga tidak memposisikan diri sebagai tangan yang berada di bawah,” tegas Haedar. Karakter cerdas berilmu juga patut dimiliki Manusia Indonesia Berkemajuan. Al Quran sendiri, lanjut Haedar, sebenarnya telah jelas menyebut karakter ini dengan istilah “Ulul Albab”. Karakter tersebut bagi Haedar, hanya dimiliki oleh mereka yang terbuka terhadap berbagai pandangan dan pemikiran. “Orang berkarakter ulul albab akan menyeleksi berbagai pandangan dan pemikiran yang menurutnya terbaik,” ungkapnya. Ciri terakhir manusia Indonesia berkemajuan menurut Haedar yakni manusia yang memiliki karakter serta watak solidaritas sosial. Haedar menilai,tradisi gotong royong yang selama ini digadang sebagai ciri manusia Indonesia makin luntur. “Sebaliknya, di tengah banyaknya ujian kehidupan berbangsa dan bernegara kita, watak solidaritas sosial tersebut harus kita junjung,” pungkasnya. Dalam lawatannya tersebut, Haedar juga berpesan agar menjadikan UMM sebagai pusat keunggulan umat dan bangsa. “UMM harus menjadi representasi amal usaha atau perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya dengan memenuhi sejumlah prinsip unggulan, yakni mandiri, profesional, maju, modern dan unggul,” tutup Haedar. (can/han)
Pendaftaran Mahasiswa Baru Pascasarjana UMM Akan Segera Ditutup

DIBUKA sejak akhir tahun lalu, pendaftaran bagi mahasiswa baru Program Pascasarjana (PPs) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan ditutup pada 12 Januari 2017. Berbeda dengan S1, pendaftaran S2 dan S3 di UMM dibuka dua kali, yaitu semester ganjil dan genap. Pada semester ganjil nanti, pendaftaran akan dibuka kembali pada bulan April hingga Agustus. Wakil Direktur I PPs UMM Ahsanul In’am PhD menyatakan, UMM memiliki 11 program studi (prodi) magister dan 3 program doktor. In’am menambahkan, semua prodi PPs dibuka kecuali profesi dan sains Psikologi. Dua program itu baru akan dibuka pada Mei 2017. Adapun program magister di UMM yaitu Magister Manajemen, Magister Sosiologi, Magister Ilmu Agama Islam, Magister Agribisnis, Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, Magister Ilmu Hukum, Magister Psikologi, Magister Profesi Psikolog, Magister Sains Psikologi, Magister Pendidikan Matematika, Magister Pendidikan Bahasa Inggris, serta Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. UMM juga memiliki program Magister Psikologi double degree sains dan profesi, serta double degree Magister Manajemen dan Profesi Akuntan. Sementara program doktor meliputi Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Doktor Pendidikan Agama Islam, dan Doktor Ilmu Pertanian. Cara pendaftaran cukup mudah, yaitu via online melalui situs pmb.umm.ac.id, sehingga masyarakat dari di luar Jawa pun bisa mendaftar tanpa perlu ke Malang. Prosedur yang perlu diperhatikan adalah, setelah mendaftar online, calon mahasiswa baru (camaba) harus mengirimkan berkas. Semua pesyaratan pendaftaran juga bisa diakses secara online di situs pascasarjana.umm.ac.id. Minat mahasiswa yang tinggi membuat PPs UMM sangat selektif. “Pada semester genap ini, PPs UMM hanya membuka dua kelas untuk setiap prodi, “ jelas In’am. Setelah ditutup pendaftaran pada 12 Januari nanti, akan dilakukan tes masuk pada 14 Januari dan pengumuman pada 18 Januari 2017. Guna menunjang proses pembelajaran mahasiswa PPs, UMM juga menambahkan gedung kuliah baru berlantai 10, yaitu Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 yang terletak di kampus terpadu UMM Jl. Raya Tlogomas. “Kemungkinan, kalau GKB 4 sudah jadi, perkuliahan akan dialihkan ke sana,” jelas In’am. In’am memaparkan, proses perkuliahan semester genap 2017 akan berfokus pada penulisan artikel dan jurnal akademik. “Semua tugas akan difokuskan pada penulisan artikel dan jurnal yang terindeks internasional,” paparnya. (Humas UMM)
Rektor RAC Kamboja Sediakan Beasiswa Bagi Mahasiswa UMM

SEJAK tiga tahun terakhir, telah banyak warga Kamboja yang belajar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), baik sebagai mahasiswa reguler maupun maupun melalui jalur beasiswa Dharmasiswa. Hal itu menjadi salah satu alasan kedatangan RektorRoyal Academy of Cambodia (RAC), H.E. Dr. Khlot Thyda ke UMM, Jumat (6/1). Lawatannya ini ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara UMM dan RAC. Beberapa poin MoU di antaranya program pertukaranstaf, dosen dan mahasiswa untuk studi banding, mengajar maupun penelitian. Selain itu, para sarjana dan peneliti dari kedua universitas dapat saling mengunjungi untuk kebutuhan pelatihan jangka pendek dan panjang. Khlot Thyda mengatakan, pihaknya juga menyediakan pelatihan bahasa Khmer (bahasa nasional Kamboja) bagi staf UMM. Begitu juga sebaliknya, pihak RAC juga berkesempatan untuk belajar bahasa Indonesia. Tak kalah penting, RAC juga bakal mengirim 5 mahasiswa yang memperoleh beasiswa untuk menempuh studi di UMM. Serta kerjasama strategis lainnya berupa pertukaran informasi dan publikasi. Pada kesempatan ini, Khlot Thyda juga menyampaikan penghargaannya terhadap Indonesia atas keberhasilannya menangkal dampak negatif modernisme. Apresiasi tersebut disampaikannya saat didaulat mengisi kuliah tamu di hadapan sejumlah mahasiswa Program Pasca Sarjana (PPS) dan dosen UMM. Menurut Khlot, di tengah gencarnya modernisasi global, Indonesia tetap bisa mempertahankan budaya aslinya. “Kamboja perlu belajar kepada Indonesia dalam hal menjaga kebudayaannya,” kata perempuan yang telah berusia lebih dari 60 tahun tersebut. Selain keberhasilan Indonesia menangkal dampak buruk modernisasi, Khlot juga mengakui keunggulan Indonesia pada aspek kualitas kepemimpinannya. “Pengalaman Indonesia jadi guru untuk Kamboja,” ungkapnya. Rektor UMM, Fauzan berharap, kerjasama yang dibangun dalam bidang akademik ini dapat berjalan dengan nyata dan memberi manfaat bagi kedua belah pihak. (Humas UMM)
UMM Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Undangan

SEJAK Senin (2/1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur undangan. Jalur yang berlangsung hingga 7 April 2017 ini dikhususkan bagi siswa lulusan SMA sederajat yang memiliki prestasi akademik maupun non-akademik. Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menjelaskan, untuk kriteria prestasi akademik, siswa yang mendaftar minimal harus mempunyai nilai rata-rata rapor 80 mulai dari semester 1 hingga semester 5. Nilai rata-rata ini meningkat ketimbang setahun sebelumnya, yaitu 75. Peningkatan syarat nilai rata-rata ini, terang Syamsul, menunjukkan bahwa UMM kian selektif lantaran daya tarik kampus ini yang kian kuat. Sementara untuk jalur non-akademik atau minat bakat yaitu siswa yang berprestasi di bidang olahraga, seni, karya ilmiah, atau keagamaan minimal di tingkat kota atau kabupaten dan dibuktikan dengan piagam penghargaan. Bagi camaba yang lolos melalui jalur undangan, akan dibebaskan dari tes tulis. Sementara untuk wawancara tetap dilakukan untuk mengetahui kualitas dan motivasi calon mahasiswa baru (camaba). Cara pandaftarannya juga mudah, yaitu via online, sehingga memudahkan camaba yang berasal dari luar Jawa agar tak perlu jauh-jauh datang ke Malang. Tak heran, meski baru dua hari dibuka, jumlah pendaftar jalur undangan online sudah mencapai 209 orang, dengan asal daerah pendaftar yang sangat beragama. “Era sudah digital. Dengan tersebarnya asal daerah pendaftar online jalur undangan, berarti informasi tentang UMM sudah diketahui masyarakat luas,” ujarnya. Sementara untuk jalur reguler mulai di buka pada awal Maret. Untuk gelombang 1 dibuka 6 Maret hingga 7 Mei, gelombang 2 mulai 22 Mei hingga 14 Juli, sementara gelombang 3 mulai 24 Juli sampai 11 Agustus. UMM juga terus memperbaiki kualitas pelayanan terhadap camaba, terutama saat melakukan herregistrasi maupun pelayanan akademik lainnya. Saat ini, lanjut Syamsul, UMM tengah merencanakan sistem pembayaran herregistrasi yang akan dilakukan di UMM Dome, bukan di halaman depan Biro Administrasi Akademik seperti biasanya. “Ini supaya pelayanan akademik pada mahasiswa semakin cepat, tepat, nyaman, dan ramah,” tukasnya. Terbaru, ada satu prodi baru yang mulai dibuka, yakni Profesi Apoteker. Selain itu, pada Fakultas Agama Islam, terang Syamsul, juga akan dilakukan pemetaan potensi calon mahasiswa terkait pengetahuan pendidikan agama dan Bahasa Arab. Serta, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tes wawancara dilakukan dengan sistem one day service. Sehingga, setelah melakukan tes tulis, mahasiswa yang mendaftar jalur regular akan menjalani tes wawancara di hari yang sama. (ich/han)
Hadirkan Ketua Umum PP Aisyiyah, LP3A Kembali Adakan Kajian Perempuan dan Anak

KAJIAN tentang perempuan dan anak terus digalakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A). Isu-isu yang diangkat juga relevan dengan persoalan terkini. PadaSelasa (3/01), LP3A UMM kembali mengkaji isu perempuan dengan mendatangkan ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Dra Hj Siti Noordjannah Djohantini MM MSi. Dengan mengangkat tema optimalisasi peran Aisyiyah dalam mewujudkan perempuan berkemajuan, Noordjannah berbicara tentang pergerakan perempuan dan organisasi wanita Aisyiyah. Menurut Noordjannah, Aisyiyah yang merupakan bagian dari Muhammadiyah adalah organisasi yang sengaja dirancang untuk masa yang modern seperti saat ini. Menurutnya, dahulu kala, KH. Ahmad Dahlan yang belum mendapatkan gelar doktor ataupun guru besar sudah mempunyai pikiran yang berkemajuan. “Organisasi yang modern dibuktikkan oleh Aisyiyah salah satunya dengan administrasi yang berjalan di dalamnya,” jelas wanita yang mempunyai panggilan akrab Nunung itu. Salah satu bukti bahwa Aisyiyah merupakan organisasi wanita yang berkemajuan adalah Aisyiyah menjadi salah satu inisiator dalam kelahiran hari ibu. Aktifitas perempuan itu menjelaskan bahwa semangat yang dibawa di hari ibu adalah semangat pergerakan kaum perempuan. Dengan tujuan agar perempuan tidak lagi terpinggirkan, tidak lagi dikucilkan dan tidak lagi di marginalkan. “Sejarahnya dulu pada 22-25 Desember 1928 ada kongres perempuan yang mana isi pidatonya tentang pergerakan perempuan. Aisyiyah menjadi salah satu inisiator pada saat itu,” ungkap istri dari Dr. KH. Haedar Nashir itu. Selain itu, seharusnya hari ibu dimaknai sebagai hari dimana para perempuan menggelorakan semangat untuk merebut kembali kemerdekaan kaum perempuan. Pada kongres perempuan 1928 topik pembicaraan yang diangkat adalah marginalisasi perempuan. Lebih spesifik, lanjut Noordjannah, yang dibahas adalah tentang pernikahan dini yang sangat marak. “Hingga saat ini pernikahan dini masih berkembang di masyarakat dan Aisyiyah harus memprioritaskan permasalahan itu untuk diatasi,” jelasnya lebih lanjut. Bahkan, dalam persoalan sustainable development goals (SDGs), Aisyiyah juga mengambil peran untuk mencapai tujuan-tujuan yang sduah ditentukan. “Dengan kepemimpinan yang menggembirakan dan menggerakan, Aisyiyah pasti mampu menyelesaikan persoalan umat dan negara” jelas Noordjannah. (jal/han)