Miliki 61 Asosiasi Program Studi, Muhammadiyah Wujudkan Pendidikan Berkemajuan

TERBENTUKNYA asosiasi-asosiasi program studi (APS) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTM/A) se-Indonesia disebut Ketua Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Lincolin Arsyad MSc sebagai salah satu usaha mewujudkan pendidikan yang berkemajuan. APS membuat kualitas prodi di PTM/A masing-masing wilayah meningkat karena pengembangan akademik didasarkan pada capaian yang terstandar nasional. “Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki 61 APS yang kesemuanya akan dijalankan sesuai dengan amanah majelis,” jelas Lincolin pada seremoni penutupan kegiatan Workhsop Pembentukan Asosiasi Prodi PTM/A se-Indonesia, Kamis malam (27/1). Acara ditutup dengan pembacaan deklarasi pembentukan 29 APS baru serta pengesahan dokumen dan capaian pembelajaran lulusan PTM /A. Lincolin menjelaskan, APS menjadi tempat untuk sharing ilmu dan sharing pengalaman antar PTM. “APS yang sudah dibentuk sekarang juga dapat menjadi resource sharing dalam berbagai hal nantinya,” ungkap Lincolin. Menurutnya, pembentukan APS merupakan salah satu cara yang dilakukan Muhammadiyah untuk meningkatkan budaya akademik di lingkungan PTM. Lincolin mengharapkan adanya langkah-langkah strategis yang akan di implementasikan. “Nantinya setiap APS akan mengadakan pertemuan dua kali dalam setahun untuk konsolidasi dan pertemuan ilmiah,” tambahnya. Dalam jangka panjang, setiap APS akan membuat jurnal ilmiah secara kolektif dan akan dipergunakan untuk peningkatan akreditasi prodi. Lincolin menyatakan, dengan memberi dampak yang besar bagi dunia pendidikan, maka Muhammadiyah telah melakukan esensi dari rahmatan lil alamin. “Jika tradisi ilmiah tersebut sering dilakukan, maka PTM akan berdaya saing dan berkemajuan sehingga ke depannya bisa memberikan dampak yang besar bagi pendidikan di Indonesia,” harapnya. Senada dengan Lincolin, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Prof. Dr. Malik Fadjar, M.Sc menyatakan, konsolidasi yang dibangun APS akan menjadi sarana untuk peningkatan kualitas setiap prodi. Tidak hanya itu, Malik juga menilai penulisan jurnal secara kolektif dapat menjadi wadah gotong royong. “APS yang sudah terbentuk ini merupakan sumber inspirasi pemikiran sekaligus dapat memotivasi pembangunan yang berorientasi pada kemajuan,” jelas Malik yang juga Ketua Badan Pembina UMM ini. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan berharap setiap APS berkomitmen dan sanggup mengemban amanah persyarikatan melalui prodi. “Terbentuknya APS bukan berarti kita membangun eksklusifisme. Akan tetapi dengan terbentuknya APS dapat memberikan wawasan yang luas dan luwes di setiap prodi,” ungkap Fauzan sekaligus menutup acara itu. (jal/han)

Per Januari 2017, UMM 15 Besar Konten Publikasi Ilmiah Elektronik Terbanyak se-Indonesia

LEMBAGA penelitian terbesar di Spanyol, Cybermetric milik The Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC) baru-baru ini melansir hasil penilaian terhadap kemajuan seluruh universitas atau perguruan tinggi terbaik di dunia lewat perangkat Repository atau pemeringkatan perguruan tinggi berdasarkan konten publikasi ilmiah elektronik melalui website universitas. “Per Januari 2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berada di posisi 13 di antara perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Sementara di Jawa Timur UMM berada di posisi 3 di bawah Universitas Negeri Jember dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Di Malang, UMM jadi ranking 1,”terang Kepala Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom) UMM, Ir. Suyatno, M.Si. saat ditemui Kamis (25/1). Setidaknya erdapat 4 indikator dalam melakukan pemeringkatan tersebut. Pertama Size, yakni banyaknya halaman yang memuat konten ilmiah di website UMM Institusional Repository yang beralamatkan eprints.umm.ac.id. “Di situ akan dihitung banyaknya ruang yang memuat konten publikasi ilmiah.  Bobot penilaiannya 10 persen,” kata Suyatno. Indikator kedua sekaligus aspek yang memiliki bobot penilaian terbesar yakni visibility, dengan bobot nilai 50 persen. “Indikator ini mengukur berapa banyaknya tautan ke UMM, tapi khusus ke UMM  Institusional Repository itu. Dengan banyaknya orang yang me-link-kan ke kita (baca: website UMM), pengakuannya lebih tinggi,” lanjut Suyatno. Indikator ketiga yakni Rich Files. Aspek ini menghitung berapa banyaknya judul atau dokumen di website tersebut. IndikatorRich Files, kata Suyatno, memiliki bobot nilai sebesar 10 persen. Indikator terakhir yakni Scholar atau berapa banyak orang yang mensitasi. “Karya Ilmiah yang kita unggah kan akan di pakai orang lain untuk di sitir sebangai tinjauan pustaka dan lain sebagainya. Siapapun yang mengambil dari website UMM, Googlesecara otomatis akan mendeteksi sumber dokumen tersebut. Bobot penilainnya 30 persen,” paparnya. Pemeringkatan lewat perangkat Repository ini, dijelaskan Suyatno, yang sesungguhnya mencerminkan tolak ukur kemajuan perguruan tinggi. “Karena yang dinilai bukan dari profil universitas atau berapa banyak konten berita yang dimuat di websitetersebut. Melainkan publikasi ilmiah dalam bentuk elektornik itu,” tukasnya. (can/han)

UMM Segera Bentuk 48 Asosiasi Prodi PTM se-Indonesia

SELAMA tiga hari (25-27/1)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkerja sama dengan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (DiktiLitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan kegiatan “Pembentukan Asosiasi Program Studi (Prodi) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Aisyiyah (PTA)”. Gelaran ini diikuti delegasi dari 180 PTM dan 6 PTA. Ditargetkan, kegiatan ini dapat membentuk 48 Asosiasi Prodi. Wakil Ketua Majlis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam sambutannya mengungkapkan,upaya pembentukan asosiasi prodi ini merupakan respon terhadap Peraturan Menteri (Permen) nomor 44 tahun 2016 Kemenristek Dikti tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT). Dijelaskan Edy, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjamin mutu pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga sekaligus mendorong perguruan tinggi melaksanakan SNPT. “Ini yang ingin kita tekankan betul. Jadi kalau kita bicara tentang capaian pembelajaran, itu juga terkait dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan juga Kerangka Kualifikasi Nasional Indoensia (KKNI),” tambah Edy. Edymenekankan, target dari Majlis Diktilitbang tidak hanya memenuhi standar tersebut. Edy berharap PTM dan PTA juga mampu melampauinya. Visi tersebut, lanjut Edy, sesuai dengan visi yang ditargetkan Majlis DiktiLitbang periode 2015-2020. “Yakni setiap penilaian reakreditasi perguruan tinggi harus meningkat. Diharapkan periode ini tidak ada lagi PTM yang terakreditasi C,” tegas Edy. Berdasarkan catatannya, akreditasi nasional PTM berada di atas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) maupun Perguruan Tinggi (PT) Indonesia lainnya. “Kalau dilihat, yang baru Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi(AIPT), hanya sekitar 900-an dari 4532 perguruan tinggi di Indonesia. Artinya, tidak sampai 20 persen perguruan tinggi yang terakreditasi institusi,” ungkap Edy yang merupakan mantan ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) ini. Sedangkan PTM, dari sekitar 175 sudah hampir 100 persen yang melaksanakan AIPT. “Hal ini menggambarkan, secara kualitas kita relatif baik dari rata-rata nasional,” ungkap Edy. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan berharap dengan diselenggarakannya kegiatan ini akan melahirkan asosiasiyang bentukannya tidak sama dengan asosiasi yang lain. “Tentu kita mengetahui pembentukan asosiasi ini bukan untuk mencari keseragaman, tetapi kami berharap dengan dibentuknya asosiasi ini masing-masing ketua prodi ini akan mampu berimprovisasi yang berangkat dari keseragaman itu,” kata Fauzan. “Muhammadiyah harus memberi ciri khas. Oleh karena itu kami berharap dalam waktu yang hanya 2 hari ini akan melahirkan pikiran-pikiran yang inovatif,” tutup Fauzan dalam sambutannya. (can/han)

Universitas Lampung Prodi Kunjungi Pendidikan Bahasa Inggris UMM

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kunjungan akademik dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Lampung (Unila) (25/01). Kunjungan ini dalam rangka Kuliah Kerja Lapang (KKL) mahasiswa Unila. Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unila, Prof. Dr. Ujang Suparman menjelaskan alasannya memilih UMM sebagai kampus yang dikunjungi. Menurut Ujang, UMM merupakan salah satu kampus Muhammadiyah terbesar. “Saya melihat Pendidikan Bahasa Inggris di UMM sangat bagus, jadi kami tak segan untuk belajar banyak dari sini,”jelas Ujang. Pada kesempatan ini, Prodi Bahasa Inggris UMM memberikan informasi berkaitan dengan suasana kampus, informasi akademik beserta sistem pembelajaran. Semua informasi dijelaskan dengan lengkap di hadapan 64 mahasiswa semester 5 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unila yang mengikuti KKL. Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Dr. Sudiran, M.Hum menyatakan, dengan adanya kunjungan tersebut, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM berkesempatan menjelaskan tentang sistem akademik yang sudah dijalankan oleh prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, suasana kampus, prestasi dan sejarah UMM juga dipresentasikan. “Untuk suasana, sejarah dan prestasi kampus dijelaskan oleh kepala Humas UMM,” jelasnya. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed selaku kepala Humas UMM menjelaskan sejarah, prestasi dan juga segala hal tentang UMM. Kemudian, kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris menjelaskan tentang akademik dan yang terakhir dijelaskan juga terkait peran dan kiprah alumni prodi pendidikan Bahasa Inggris. (jal/han)

UMM Inisiasi Pembentukan Asosiasi Prodi PTM dan PTA se-Indonesia

IMPLEMENTASI Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) sebagai prasyarat perguruan tinggi dalam meraih rekognisi internasional menjadi momentum bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membentuk asosiasi program studi (prodi) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA) se-Indonesia. Hal itu diwujudkan UMM melalui gelaran “Pembentukan Asosiasi Program Studi PTMdan PTA” yang berlangsung selama tiga hari (25-27/1) di UMM Dome UMM. Kegiatan ini diikuti 180 PTM dan 6 PTA di mana masing-masing perguruan tinggi mengirimkan delegasi sesuai dengan kondisi prodi di kampusnya. Menurut ketua pelaksana kegiatan ini Drs Nur Widodo MKes, sebagian besar prodi di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS), termasuk PTM dan PTA,masih mengabaikan KPT, Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT), dan Undang-undang Perguruan Tinggi (UUPT). Hal itu terbukti dari masih sedikitnya perguruan tinggiyang meratifikasi KPT, SNPT, dan UUPT. “Alhamdulillah, UMM termasuk satu di antara sedikit perguruan tinggi yang telah memiliki Keputusan Rektor untuk memberlakukan KPT, yaitu Keputusan Rektor no 35 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan KPT bagi seluruh Prodi di UMM baik S1, S2 maupun S3,” jelas NurWidodo yang juga dosen Prodi Pendidikan Biologi ini. Dalam rangka mewujudkan KPT, Nur Widodo menguraikan 8 standar yang digunakan, yakni standar kompetensi lulusan ataui kerap disebut capaian pembelajaran, standar proses, standar materi, standar evaluasi, standar sarana prasarana, standar sumber daya manusia, dan standar pengelolaan. Hal itu disebut Nur Widodo sejalan dengan fungsi asosiasi prodi, yaitu pembentukan standardisasi kualitas,penyusunan profil lulusan, perkembangan Iptek terkait bidang keilmuan, kurikulum yangmengacu pada capaian pembelajaran lulusan, dan penyusunan bahan ajar. “Sehingga, tujuan jangka panjangnya, prodi di lingkungan PTM dan PTA akan bersama-sama menuju proses pendidikan berkemajuan,” jelas Nur Widodo.Dalam membentuk asosiasi-asosiasi ini, UMM berada di bawah bimbingan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di lain kesempatan, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyatakan, KPT perlu dijadikan momentum untuk merevitalisasi pendidikan di UMM agar sebisa mungkin melampaui standar pendidikan perguruan tinggi. Dijelaskan Syamsul, ada  empat  dokumen yang mendasari hal ini, pertama Permenristek Dikti tentang SNPT, kedua Panduan Penyusunan KPT dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa), ketiga Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) PTM, dan terakhir ialah Profil Publikasi Terindeks Scopus. “Bagian-bagian itulah yang tengah ditingkatkan untuk mendongkrak mutu akademik UMM,” tukasnya. (ich/han)

UMM Tindaklanjuti Kerjasama dengan Harper Adams University

MENINDAKLANJUTI kunjungan Steve Buckle, perwakilan Harper Adams University, United Kingdom (UK) ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Oktober 2016 silam, perwakilan Harper Adams kembali ke UMM,Selasa (24/1), untuk membicarakan tindak lanjut penelitian bersama dibidang probiotik, juga pembahasan peluang kerjasama lainnya. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto menjelaskan, skema kerjasama yang dibangun lewat penelitian dan jointdegree. “Untuk dapat dibiayai pihak sana, penelitian harus ada mitra dari Inggris. Selain itu, juga harus dipastikan penelitian itu akan ada perusahaan yang akan memakai. Sekarang tinggal cari mitranya dari Inggris,” kata Soeparto. Pertemuan tersebut sekaligus mempromosikan sejumlah peneliti dari UMM untuk bisa melakukan jointresearch juga dengan Harper Adams University. Seperti proposal penelitian di bidang pertanahan yang diajukan Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). “Prof. Indah sudah kirim proposal ke sana dan sudah dikomentari. Pihak Harper Adamsakan ke sini untuk menjadi mitra penelitian itu,” lanjut Soeparto. Selain itu, skema kerjasama yang dijalin antara Harper Adamsdan UMM yakni dengan adanya join degree untuk program magister dan post-doktoral. Soeparto menyatakan, untuk mengawali program joint degree tersebut UMM mengadakan program kredit transfer. “Kalau joint degree itu khususnya S2 untuk kuliah di sana, sisanya di UMM. Mereka akan dapat ijazah dari Harper Adams University dan UMM,” terang Soeparto. Pertemuan tersebut sekaligus mempromosikan sejumlah peneliti dari UMM untuk bisa melakukan join researcht juga dengan Harper Adams University (can/han)

Bermitra dengan BNN, UMM Cetak Calon Guru Bebas Narkoba

GURU tak hanya dituntut memiliki keterampilan mengajar dan mengelola kelas. Sebagai tauladan, guru juga harus bebas dari tindakan kriminal dan narkoba. Untuk itu, sebelum kembali ke kota asal, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Malang menyelenggarakan tes urin bagi lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), Jumat (20/1). Sebelum melakukan prosesi Yudisium pada Sabtu (21/1), sebanyak 30 lulusan PPG yang sebagian besar berasal dari Manado dan kota-kota di Nusa Tenggara Timur itu diharuskan melalui tes ini. Mereka wajib dinyatakan bebas narkoba sebelum kembali ke kota asal dan menjadi guru di sana. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Dr Poncojari Wahyono MKes menyatakan, selain menjadi syarat wajib, harus disadari bahwa PPG calon guru adalah agen pembentukan karakter siswa. “Guru adalah agen pembentuk karakter siswa, sehingga kalau diketahui menggunakan narkoba, akan sangat berbahaya untuk anak didik,” terangnya. Poncojari berharap, seorang guru harus bebas dari narkoba. Karena, guru pada dasarnya untuk digugu dan ditiru dan membentuk karakter bukan hal yang main-main. PPG adalah syarat wajib bagi calon guru di Indonesia yang sudah diterapkan empat tahun lalu. Meski begitu, UMM baru berkesempatan menjadi penyelenggara PPG sejak setahun terakhir. Sejauh ini, penyelenggara PPG mayoritas adalah perguruan tinggi negeri. Selebihnya, hanya ada empat kampus swasta di Indonesia yang menyelenggarakan PPG, yakni UMM, Universitas Sanatha Dharma Yogya, IKIP PGRI Semarang, dan Universitas Nusantara Bandung. Sebagai syarat, lulusan sarjana yang bisa mengikuti PPG haruslah yang sudah menjalani program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T).Ke depan, UMM akan menyelenggarakan tes urin secara rutin bagi lulusan PPG untuk mencetak guru yang siap diproyeksikan menjadi guru masa depan. (ich/han)

Tugas UAS, 150 Mahasiswa Pentaskan Puisi Penyair Ternama

TAK hanya menguasai khazanah budaya dan bahasa Indonesia, mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rupanya juga pandai membawakan puisi para penyair-penyair ternama. Selama 3 hari (16-18/1), sebanyak 150 mahasiswa membawakan 45 puisi dari sejumlah penyair masyhur. Pementasan dan musikalisasi puisi ini berlangsung di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 UMM. Kegiatan ini merupakan inovasi Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah membaca puisi. Dosen pengampu mata kuliah tersebut, Dr Hari Sunaryo MSi menyatakan, pementasan ini mengajarkan mahasiswa untuk bisa ‘membaca’ sastra. Bukan hanya membaca secara tertulis saja, tapi juga membaca subtansinya. Menurut Hari, jika hanya belajar teori tanpa praktek, maka puisi tidak akan bisa hidup. Calon guru bahasa dan sastra Indonesia memang harus bisa menguasai pertunjukkan puisi. Baginya, di sekolah nantinya, guru dituntut menyelenggarakan pementasan puisi. Pementasan merupakan salah satu bentuk ketrampilan riil yang difasilitasi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tujuannya, untuk membekali calon guru agar lebih profesional. “Tidak mungkin seorang guru bahasa Indonesia tidak bisa membaca puisi. Nah, di prodi ini kita tempa mahasiswa untuk menjadi profesional,” ungkapnya. Hari menuturkan, mahasiswa juga ditingkatkan kreativitasnya melalui pementasan ini, karena semuanya dikerjakan mahasiswa; desain ruangan, alur cerita puisi, pemilihan puisi hingga kostum dan make-up. “Jadi, selama 30 menit setiap kelompok akan menampilkan puisi dengan hasil usaha mereka sendiri,” jelas dosen yang juga Wakil Dekan III FKIP UMM itu. Salah satu mahasiswa yang turut serta dalam pementasan tersebut, Indah Rahayuning Tyas menyatakan, meskipun sudah satu bulan menjalani masa latihan, dirinya tetap sedikit grogi karena akan ditonton banyak orang. “Rasanya campur aduk antara senang akan tampil dan grogi karena takut tidak bisa menyampaikan pesan dari puisi karya Kahlil Gibran,” jelas Tyas, sapaan akrabnya. (jal/han)

Farewell Party 20 Mahasiswa Tiongkok, Terkesan Keramahan UMM

SEBANYAK 20 mahasiswa asal Tiongkok, yaitu dari Tongren University, baru saja menyelesaikan masa studinya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama satu semester melalui program kredit transfer pada Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Melepas para mahasiswa yang akan kembali ke negara asalnya itu, UMM menggelar seremonial perpisahan, Farewell for Academic Exchange, Sabtu (14/1) di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM. Selain 20 mahasiswa Tiongkok itu, gelaran tersebut sekaligus melepas 1 staf International Relations Office (IRO) dari Universidad de Murcia Spain, Juan Antonio yang mendapatkan grant dari Erasmus+. Sebaliknya, UMM melalui IRO juga telah mengirimkan staff-nya dengan grant  yang sama ke beberapa negara di Eropa. Terakhir, Very Kurnia Aditama dan Lailatul Rif’ah, mengikuti program tersebut di University of Crete, Yunani. Beberapa dosen, mahasiswa, dan staf UMM juga akan menyusul ke Eropa melalui program yang dibiayai Uni Eropa tersebut. Kuliah selama satu semester meninggalkan kesan mendalam bagi ke-20 mahasiswa Tiongkok. Seperti diungkapkan salah satu peserta exchange, Rooster Jie. Menurutnya, keramahan dari mahasiswa dan dosen membuatnya betah belajar di UMM. “Selain itu, saya juga suka dengan keindahan danau yang dimiliki UMM. Meskipun di Universitas Tongren juga ada danau, tapi tidak seindah danau UMM, apalagi ada air mancurnya,” kata pria yang akrab dipanggil Jie ini. Senada dengan Jie, staf asal Spanyol, Juan Antonio mengaku sedih harus meninggalkan UMM. baginya pengalaman tersebut begitu membekas di hatinya. “Hari ini merupakan hari yang membuat sedih bagi saya karena saya harus meninggalkan negara yang sangat indah, orang-orang yang ramah, dan kampus yang sangat bagus ini,” aku Juan. Di sisi lain, Juan mengaku sangat senang dapat berada di UMM karena merasa berada di rumah sendiri. “Perlu kalian tahu, bahwa kalian semua akan selalu menjadi bagian dari hati saya. Kalian semua telah membagi informasi yang saya perlukan selama saya di sini. Saya tidak dapat berkata apa-apa selain berterimakasih. I Love UMM,” seru Juan menutup pidatonya. Sementara itu, Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si berharap, kerjasama yang selama ini telah dibangun dengan Tiongkok, baik melalui program pertukaran pelajar maupun program-program akademik, salah satunya kursus bahasa Mandarin yang tengah berjalan di China Corner di perpustakaan UMM, dapat berlanjut. Acara ditutup dengan gelaran seni yang dipersembahkan 20 mahasiswa asal Tiongkok. Lewat pakaian tradisional khas Negeri Tirai Bambu itu menampilkan Bamboo Dance yang merupakan tarian tradisional suku Zhuang di Tiongkok yang hampir serupa dengan tarian Suku Dayak di Kalimantan. Syamsul Arifin beserta Juan Antonio juga ikut memeriahkan dengan turut menari bersama mahasisa Tiongkok tersebut. (can/han)

BEM UMM Dorong Gerakan Nasional 1000 Startup Digital

GERAKAN Nasional 1000 Startup Digital menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memotivasi mahasiswa membangun bisnis startup, Jumat (13/1). Kegiatan berformat talkshow ini digelar di Auditorium Biro Administrasi Umum (BAU), menghadirkan praktisi juga alumni UMM yang telah lama malang melintang bergelut di industri kreatif. Di antaranya Vicky Arief, koordinator Malang Creative Fusion; Dadik Wahyu, CEO Utero Grup; Mochammad Yusuf, CEO Paperplay Studi; juga turut menghadirkan Kepala Laboratorium Teknik Informatika UMM, Eko Budi Cahyo. “Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital,” papar Afrizal Novian,Head of Business Development, Beon Intermedia di hadapan puluhan mahasiswa UMM. Gerakan ini diinisiasi oleh KIBAR dan didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI). KIBAR sendiri merupakan sebuah perusahaan yang bertujuan membangun ekosistem teknologi di Indonesia melalui inisiatif-inisiatif pembangunan kapasitas, mentoring, dan inkubasi di berbagai kota. Pahlawan Digital ini, lanjut Afrizal, merupakan program untuk meningkatkan konten lokal yang positif untuk Indonesia yang lebih ‘melek’ teknologi. Salah satunya dengan cara meng-online-kan bisnis-bisnis UKM di Indonesia. Lewat program tersebut, mahasiswa juga didorong untuk turut membantu membuatkan sebuah website bisnis-bisnis UKM secara gratis. “Karena kebanyakan dari mereka, terutama yang berasal dari daerah pinggiran, tidak tahu bagaimana menggunakan internet. Apalagi bagaimana cara berjualan di internet dan memilih untuk fokus dengan cara bisnisnya sekarang,”terang Afrizal. Lebih jauh Afrizal menyayangkan, dari 4500 pelaku UKM di Malang, masih sedikit di antaranya yang menjual produknya lewat sistem startup. “Padahal, banyak yang bisa dan paham soal berjualan di internet, tapi tidak punya produk untuk di jual. Seperti kalian,” kata Afrizal. Jika ingin diseruisi menjadi pelaku bisnis start up, dijelaskan Afrizal, calon harus mengikuti 5 tahapan yang mutlak dilewati, yakni tahap Ignitionatau ajang penaman pola pikir interpreneurship. Tahap kedua yakni workshop, yaitu pembekalan keahlian dasar yang dibutuhkan dalam membuat startup digital. Tahap selanjutnya yakni Hackprint, atau  pembentukan tim yang saling melengkapi skill untuk membuat prototypeproduk. Keempat yakni tahap Bootcamp atau pembinaan mendalam bersama mentor untuk menyiapkan peluncuran produk. “Tahap terakhir yaitu tahap incubations.Yakni pembinaan lanjutan sampai akhirnya siap jadi bagian dari ekosistem startup digital. Kami tunggu ide luar biasa kalian,” tutupnya. (can/han)