Festival Produk Perikanan UMM, Cetak Wirausaha Muda Kreatif

Berbagai hal menarik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum dalam dunia perikanan, menjadi salah satu alasan digelarnya Festival Ikan Hias dan Pameran Produk Perikanan. Acara yang diiniasi oleh Jurusan Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, juga menjadi wadah bagi mahasiswa membuka peluang dan membangun jaringan promosi usaha. Khususnya yang berintegrasi dengan teknologi terbaru dan ramah lingkungan. “Kegiatan ini mendukung peran perikanan untuk mengenalkan produk yang berintegrasi pada teknologi ramah lingkungan,” ungkap Ketua Program Studi Akuakultur, Riza Rahman Hakim, Senin (4/12). Pada festival ini banyak usaha kreatif mahasiswa yang dipamerkan. Diantaranya budidaya ikan kerapu, budidaya aquascape serta produk olahan perikanan seperti Bandeng Bebas Duri, Cumi Crispy, Ricebowl, dan Captain Fish. Yang menyenangkan, sambutan pengunjung stan ternyata luar biasa. Banyak dari produk perikanan yang bahkan laris terjual sebelum pameran resmi dibuka. “Hari ini banyak produk yang sudah habis sebelum festival resmi dibuka. Sejak hari pertama anak-anak sudah kewalahan memenuhi animo mahasiswa dan dosen yang berkunjung,” tambah Riza. Festival yang berawal dari kegiatan mata kuliah Praktik Usaha Perikanan ini diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih percaya diri untuk membuka dan meningkatkan peluang usaha kreatif. Selain itu, acara ini juga diharapkan mampu menjadi wadah mahasiswa mengembangkan hasil Praktik Kerja  Lapang (PKL) untuk diaplikasikan pada bidang usaha masing-masing. Mendapatkan ruang untuk saling bertukar pikiran serta bimbingan langsung dari dosen dan para ahli pada bidang wirausaha, festival ini juga diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat . “Harapan saya UMM bisa memiliki inkubator bagi para pengusaha muda seperti mahasiswa perikanan yang saat ini mengikuti kegiatan pameran ini. Kegiatan ini bisa jadi ladang untuk menciptakan lahan pekerjaan baru bagi kita,” ungkap M. Andy Afnan Pengusaha Cupy (Cumi Crispy). (nis/sil)

UMM Raih Tujuh Konsorsium Erasmus+

KERJASAMA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan konsorsium Uni Eropa, Erasmus+ semakin meningkat. Pada 2017 ini, UMM berhasil mendapatkan tujuh kerjasama konsorsium dari tujuh perguruan tinggi di Eropa. Hal ini kian memperkuat kemitraan yang telah berlangsung sejak 2009 itu. Secara rinci ada empat perguruan tinggi Eropa baru yang bekerjasama dengan UMM, yakni Universidade do Minho Portugal, Politehnica University of Timisoara Romania, University of Opole Polandia dan WSB University in Poznan Polandia. Selain itu ada tiga perguruan tinggi yang memperbaharui kerjasama konsorsiumnya yakni University of Murcia Spanyol, University of Latvia dan Lublin University of Technology Polandia. Melalui program-program ini, mahasiswa, dosen maupun staf UMM berkesempatan mengikuti program pertukaran di berbagai kampus di Eropa. Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri UMM, Soeparto, menegaskan bahwa tujuh kerjasama konsorsium yang diperoleh UMM ini sangat membanggakan. “Ini sudah melampaui target,” ujarnya. Semula, target awal UMM adalah lima proposal yang diterima dari sepuluh proposal yang diajukan, namun nyatanya ada tujuh proposal konsorsium yang diterima. “Kini UMM sudah memiliki total sepuluh konsorsium pada program Erasmus+. Dan untuk tahun depan, kami akan mengirim 15 proposal kerjasama konsorsium Erasmus+ untuk lebih memperluas kerjasama internasional UMM, khususnya di Eropa,” jelasnya. Selain itu, tambah Soeparto, di Jawa Timur UMM bisa disebut sebagai ahlinya. Karena sampai saat ini di wilayah Jawa Timur, jumlah alumni Erasmus Mundus dan Erasmus+ UMM merupakan yang terbanyak dibandingkan seluruh universitas swasta maupun negeri. Secara rinci UMM sudah mengirim 10 orang staf, 19 dosen dan 56 mahasiswa untuk mengikuti pelatihan, mengajar, melakukan penelitian maupun yang berkuliah di berbagai perguruan tinggi di Eropa lewat program ini. (iel/han)

Kekinian, Camaba Bisa Daftar UMM via Android

KINI, calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bisa mendaftar via android. Hal itu bisa dilakukan melalui “UMM E-Brochure” dan “My UMM PMB” yang dapat diunduh di Playstore. Aplikasi “My UMM PMB” menyediakan informasi terkait penerimaan mahasiswa baru UMM. “Pada aplikasi ini, calon mahasiswa baru dapat melakukan pendaftaran secara online dengan login melalui email,” jelas Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) UMM Dr Rahmad Wijaya MM. Sementara UMM E-Brochure memuat informasi biaya perkuliahan, suasana kampus, sarana prasarana, dan program studi di UMM dari jenjang diploma, sarjana, pascasarjana, dan profesi. “Sehingga calon mahasiswa yang berdomisili di luar Jawa misalnya, cukup mendaftar online melalui aplikasi ini, tidak perlu ke Malang dan membuang banyak biaya,” tukas Rahmad. Dua aplikasi ini disebut Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi dibuat agar UMM menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Namun, selain via online, unit Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tetap membuka pendaftaran offline di UMM. (nim/han)

Ardian Syah Ngaba: Jadi Minoritas di Papua, Kenalkan Indonesia di AS

INISIASI dan kuatnya jiwa kepemimpinan membuat Ardian Syah Ngaba memiliki banyak pengalaman berharga selama menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejumlah beasiswa dan pengalaman internasional telah mampu diraih mahasiswa asal Kota Sorong, Provinsi Papua Barat ini. Di antara pengalaman berharga tersebut yaitu terlibat dalam program Learning Express (LEx) hasil kerjasama UMM dengan Singapore Polytechnic dan menjadi perwakilan Indonesia pada Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang berlangsung di Amerika Serikat (AS). Tak heran, pengalaman multikultural Ngaba memang menarik dicermati. Di Papua, Ngaba tinggal selama 18 tahun sebagai minoritas. Ngaba mengaku sangat sulit baginya untuk membuktikan bahwa minoritas juga memiliki hak yang sama di negeri multikultural seperti Indonesia. Bahkan, keputusannya untuk hijrah ke Jawa selepas SMA ternyata bukan tanpa perjuangan. “Setelah pindah ke Jawa, eh ternyata saya harus struggle dengan stigma bahwa orang Papua harus kasar, keras, dan tidak terlalu pintar di kelas. Walaupun, saya memang tidak terlalu pintar di kelas,” jelas pemuda berusia 23 tahun ini. Belajar memahami dan terus membangun kepercayaan diri atas pengalaman pribadi dengan kehidupan minoritas, Ngaba tergerak untuk membangun wadah untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Hal itulah yang ia lakukan pada program YSEALI di AS. “Jadi waktu kemarin presentasi itu, saya membuat plan project yang berhubungan dengan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap budaya dan suku yang ada di Indonesia sendiri. Lebih ke arah mengedukasi masyarakat bahwa Indonesia itu kaya dengan kebudayaannya, namun media kurang mengeksploitasinya,” kata mahasiswa Teknik Sipil UMM ini. Selama menjalani rangkaian kegiatan YSEALI, ia belajar banyak hal tentang politik, masyarakat, feminisme, dan pluralisme. “Waktu kemarin di Amerika itu, saya merasa terintimidasi. Persoalannya bukan karena minortas lagi, tetapi saya merasa bahwa sangat banyak orang di luar sana yang sangat peduli terhadap negaranya, terutama pemuda ASEAN,” jelas Ngaba. (nis/han)

Tim Teknik Sipil UMM Raih Dua Piala Pada Kompetisi KJI-KGBI Nasional

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran Lembaga Semi Otonom (LSO) Teknik Sipil Fakultas Teknik, yaitu Tim Surya UMM yang meraih Juara III Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KGBI) dan Juara III Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) kategori canai dingin pada perhelatan lomba KJI & KGBI ke-9 yang digelar Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada 9-12 November 2017 lalu di Politeknik Negeri Malang. Ketua Tim KJI canai dingin Surya UMM, Trihartadi Panggah Santoso, mengungkapkan kegembiraanya atas pencapaian bersama timnya. Selain Trihartadi, mahasiswa Teknik Sipil UMM yang menjadi anggota tim ini yaitu Fendi Widagdo, Riski Anita Hawari dan Mahendra Aziz. Tim berjuluk Pandawa Anderpati ini berhasil membuat jembatan berjenis Deck Type Trust, sepanjang 4,3 meter dan lebar 0,9 meter untuk pejalan kaki yang saat penilaian mendapat predikat terkuat ketiga dan jembatan teringan. “Untuk menyesuaikan dengan tema kompetisi yaitu ringan, kuat, estetis dan berwawasan nusantara, kami mengaplikasikan batik Parang Kusumo di bagian pegangan pejalan kaki. Oleh karena itu jembatan kami ini diberi nama Parang Kusumo Bridge,” jelas Trihartadi. Di sisi lain, gedung rancangan tim KGBI Surya UMM yang berjuluk Arghani Squad ini tak kalah menarik. Tim yang beranggotakan Ashari Eria Filateli, Moh. Irfan Al-Anshori dan Pramesta Armanisag Pangestuti ini berhasil membuat bangunan model dua lantai tahan gempa yang ukurannya enam kali lebih kecil dari bangunan asli. Ketua Arghani Squad, Ashari Eria Filateli, menjelaskan bahwa timnya merancang bangunan yang berbudaya nusantara dan berwawasan lingkungan. “Senada dengan konsep tim KJI, kami mencoba mengaplikasikan budaya-budaya yang ada di Indonesia dengan bangunan modern yang kami buat. Karena itu, kami beri nama bangunan kami Sasana Kresnapaksa,” jelas Eria. Pembina Tim Surya UMM, Khairil Saleh, mengungkapkan sejak aktif mulai 2006, Tim Surya UMM hampir setiap tahunnya selalu mendapatkan juara pada setiap kompetisi yang diikuti. Lebih dari itu, dengan diraihnya prestasi ini, Tim Surya UMM semakin mengukuhkan UMM sebagai universitas yang diperhitungkan dalam kompetisi bergengsi KJI dan KGBI yang digelar setiap tahunnya. “Kami salah satu yang ditakuti, termasuk perguruan tinggi negeri yang sudah terkenal seperti ITB dan ITS,” tegas Khairil. Khairil menambahkan, tidak ada kiat-kiat khusus dari Tim Surya UMM saat mengikuti suatu perlombaan. “Kami hanya berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan apa yang kami punya. Tentu dengan semangat dan kemauan yang kuat untuk menang,” tegasnya. Khairil juga berpesan pada seluruh anggota Tim Surya UMM agar tetap menjaga kemauan dan semangat untuk menang agar prestasi Tim Surya UMM bisa lebih baik lagi, tidak hanya di tingkat nasional namun juga internasional. Dalam waktu dekat, Tim Surya UMM akan mengikuti lomba gambar desain bangunan kantor, tender pembangunan jeti dan tender jembatan pada Desember ini. (iel/han)

Kemristekdikti Minta Para Peneliti UMM Lakukan Riset Berbasis Kebutuhan Masyarakat

PENINGKATAN jumlah penelitian yang telah dilakukan para peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu alasan Dirjen Penguatan Riset Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengunjungi UMM pada kegiatan “Ngobrol dengan Peneliti” Ahad (3/12) di Ruang Sidang Senat UMM. Pada kegiatan sharing ini, Dimyati mengingatkan pada peneliti untuk dapat melakukan penelitian sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut diharapkan dapat  segera diimplementasikan mengingat ada banyak hal yang dapat diciptakan di tengah masyarakat modern. “Anda semua pasti mengetahui Go-Jek yang tercipta dari problem yang terjadi di tengah masyarakat,” ungkap Dimyati. Ditambahkan Dimyati, hal yang harus diingat dalam melakukan penelitian adalah bukan hanya sekedar menulis namun perlu dilakukannya pengakuan kekayaan intelektual. Hal tersebut didukung oleh status perguruan tinggi swasta yang memiliki kesempatan besar melakukan penelitian sehingga dapat membantu kebutuhan masyarakat. “UMM sebagai salah satu universitas swasta yang luar biasa harus bisa masuk dalam arus penelitian untuk mendukung kedudukan jumlah penelitian Indonesia di tingkat ASEAN,” jelas Dimyati. Bagi Rektor UMM Fauzan, kehadiran Dirjen Penguatan Riset Kemristekdikti ini menjadi angin segar dan semangat positif bagi para peneliti UMM. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran Dirjen Riset Kemristekdikti. Kegiatan ini merupakan sebuah bentuk semangat positif bagi kami peneliti UMM,” ujar Fauzan. UMM melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) menghadirkan seluruh peneliti terbaik milik UMM untuk berbagi ide dan inovasi tentang penelitian. (nis/han)

Mensos Khofifah: Indonesia Rawan Bencana, Mitra MDMC-Pemerintah Amat Strategis

JAMBORE Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 yang digelar oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditutup dengan kehadiran Menteri Sosial (Mensos) RI Khofifah Indar Parawansa, Ahad (3/12) di hall UMM Dome. Kehadiran Mensos mengakhiri rangkaian kegiatan jambore yang telah berlangsung sejak Kamis (30/11). Disebut Khofifah, kehadiran MDMC atau Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah ini merupakan bagian dari public-private partnership yang harus dibangun bersama antara Muhammadiyah dan pemerintah lantaran menurutnya, ada 232 kota dan kabupaten se-Indonesia yang beresiko terdampak bencana alam. “Apalagi, 80 persen yang terdampak itu akan mengalami jamila, atau jadi miskin lagi,” ungkapnya. Khofifah juga sangat mengapresiasi kiprah MDMC. Ia mengisahkan, tahun lalu, ketika dilakukan deklarasi Hari Relawan Sedunia, MDMC menjadi salah satu elemen yang berada di garda depan. “MDMC juga menjadifrontliner waktu itu dalam menginisiasi deklarasi sekaligus membangun komitmen dan strategi internasional mengatasi berbagai persoalan kebencanaan.” Tak lupa, Khofifah juga hendak menyerahkan mobil dapur umum lapangan pada MDMC sekaligus mengundang untuk hadir bersama pemerintah dan berbagai elemen memperingati Hari Relawan pada 7-8 Desember di Pacitan. “Kita adakan di Pacitan karena mereka tengah mengalami banjir bandang dan longsor. Semoga dengan kehadiran kita masyarakat tidak panik, namun kita tetap sigap,” paparnya. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Syamsul Arifin mengatakan, dengan situasi Indonesia yang rawan bencana, kehadiran MDMC sangat dibutuhkan bagi penanganan bencana alam dan kemanusiaan. “Semoga jambore nasional ini membuat relawan Muhammadiyah lebih peka dan terampil dalam menangani bencana,” ujarnya. Kegiatan MDMC yang berlangsung empat hari ini turut didukung Lazismu, UNICEF, UMM, dan sejumlah organisasi otonom Muhammadiyah. Kegiatan pra-pembukaan diawali dengan Bakti Sosial berupa donor darah dan pemeriksaan kesehatan di Kedung Kandang, Malang pada Kamis (30/11). Lalu dilanjutkan dengan Silaturrahim Kebangsaan oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan pada Jumat pagi (1/12). Sementara pembukaan dilakukan pada Jumat siang (1/12) yang dihadiri Mendikbud RI Muhadjir Effendy dan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. Jambore juga diwarnai dengan kegiatan-kegiatan seru dan menantang melalui sejumlah lomba yang berlangsung Sabtu (2/12) di antaranya Lomba Navigasi Darat dan Penyelamatan Bawah Air “Water and Jungle Rescue Challenge” Lomba Medis “Emergency Medical Team”, Lomba Penanganan Psikososial “Psychosocial Intervention Challenge”, Lomba Cerdas Tanggap “Disaster Challenge” dan juga Lomba Foto “Jambore Photo Challenge”. Para relawan juga dapat mengikuti kelas-kelas pengurangan resiko bencana dan Geladi Penanganan Bencana. (han)

32 Kontingen MDMC Ramaikan Lomba Navigasi Darat dan Penyelamatan Bawah Air

SEBANYAK 32 kontingen relawan Muhammadiyah yang tergabung dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) saling bersaing dalam kompetisi SAR Challenge bertajuk “Water and Jungle Rescue Challenge”. Kompetisi ini merupakan salah satu dari sekian lomba yang diadakan dalam rangka Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (2/12). Selain Water and Jungle Rescue Challenge, lomba yang dikompetisikan yaitu Lomba Medis “Emergency Medical Team”, Lomba Penanganan Psikososial “Psychosocial Intervention Challenge”, Lomba Cerdas Tanggap “Disaster Challenge” dan juga Lomba Foto “Jambore Photo Challenge”. Koordinator Lomba SAR Challenge Fatkhul Faruq menjelaskan, “Water and Jungle Rescue Challenge” terbagi dua kategori yaitu Jungle Rescue Challenge di mana peserta harus menjawab beberapa soal tertulis dari panitia, menyelesaikan navigasi darat dengan peta dan membuat simpul dasar. Sementara kategori kedua yaitu Water Rescue Challenge di mana setiap tim akan melakukan prosedur penyelamatan di air. Lomba diadakan di Danau Kampus Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM dan sekitarnya. Selepas lomba, dilakukan evaluasi prosedur penyelamatan oleh juri dan panitia. “Keterampilan Water Rescue dan Jungle Rescue sangat penting bagi anggota MDMC. Karena menurut data, di Jawa Tengah saja pada tahun 2017 ada lebih dari 130 kasus yang diterima MDMC yang sangat membutuhkan keterampilan tersebut,” jelas Faruq. Faruq menambahkan, kegiatan ini tidak berfokus pada lomba saja, namun yang lebih penting adalah setiap tim yang bertanding mengetahui kekurangan dalam melakukan prosedur penyelamatan dan bisa melakukan perbaikan ke depannya. “Harapannya, kompetisi ini bisa menjadi tolak ukur kompetensi setiap kontingen yang berlomba dan bisa meningkatkan keterampilannya,” pungkas anggota Bidang Diklat Pimpinan Pusat (PP) MDMC tersebut. Salah satu peserta jambore, Kawir, juga menyadari pentingnya kompetensi setiap anggota MDMC dalam dua hal tersebut. Ia juga mengakui, kompetensi itu lebih penting daripada kemenangan lomba. Selain menjadi ajang silaturahmi dan reuni MDMC seluruh Indonesia, bagi Kawir kegiatan ini juga merupakan alat untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan tim yang berlomba. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Saya harap, ke depan MDMC bisa menjadi lebih baik lagi dalam mengcover kasus-kasus bencana alam di Indonesia. Karena itu sudah menjadi tanggung jawab kami terhadap umat,” tegas anggota MDMC Kudus itu. (iel/han)

Forum Alumni Prodi Agribisnis Siap Angkat Citra UMM

PROGRAM Studi (prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki cara unik dalam mengenang masa-masa kuliah. Alumni Prodi Agribisnis mulai angkatan 1984 sampai 2013 itu melaksanakan reuni dengan mengusung tema ‘Helom Ngalam Ker’ yang berarti ‘Moleh Malang Rek’ dalam Bahasa Walikan Malang. Bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah ‘Pulang Malang Rek’. Pemilihan tema ini lantaran alumni prodi Agribisnis UMM berasal dari berbagai penjuru tanah air. Sehingga, ketika reuni diselenggarakan, para alumni seakan dibuat kembali pulang ke Malang, di mana Kota Malang dan UMM pernah menjadi tempat tinggal selama sedikitnya empat tahun. “Menjalin silaturahmi, juga sekaligus menginformasikan pada para alumni bahwa prodi Agribisnis kini telah berakreditasi A. Ini yang perlu kita jual, sekarang tidak lagi kampus negeri atau swasta tapi meski swasta kalau akreditasinya A seperti UMM bisa berpotensi mencetak lulusan yang memiliki daya saing,” tukas Lukito Hari Sediarto selaku Ketua Pelaksana Reuni pada kegiatan reuni yang berlangsung Sabtu (2/12) di Auditorium UMM. Lukito yang juga alumni Agribisnis angkatan 1992 ini menambahkan harapannya melalui reuni ini agar bisa menjadi tonggak awal terbentuknya ikatan alumni jurusan Agribisnis. “Dengan terbentuknya ikatan alumni dalam forum ini, secara tidak langsung kita sudah berupaya membanggakan almamater jas merah kampus putih,” tandas alumni asal Banyuwangi. Dalam reuni ini, juga ada kegiatan sharing story alumni yang memfasilitasi para alumni bercerita pengalaman-pengalaman berkuliah di UMM dan kesuksesannya menyandang gelar sebagai alumni UMM khususnya prodi Agribisnis. Melalui sesi sharing story, alumni bisa menstransfer informasi-informasi yang menginspirasi. (nim/han)

Tim SAR Muhammadiyah Dinilai Krusial Bagi Penanganan Bencana di Indonesia

Kehadiran Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) dinilai Mendikbud RI Muhadjir Effendy menjadi kekuatan kelima bagi Muhammadiyah. MDMC dipandang melengkapi kekuatan pertama yaitu bidang pendidikan, kekuatan kedua bidang kesehatan, ketiga bidang kesejahteraan sosial, dan kekuatan keempat bidang ekonomi seperti diperankan Lazismu. Hal tersebut disampaikan Muhadjir pada pembukaan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (1/12). Muhadjir menuturkan, perlu ada revitalisasi peran Muhammadiyah dengan menempatkan bidang penanggulangan bencana sebagai kekuatan baru. “Karena itu, saya sangat mendukung bila amal usaha Muhammadiyah yang besar-besar ini menaruh kepedulian di bidang kebencanaan ini dan bila perlu dibuka program studi kebencanaan di beberapa universitas,” tukas mantan Rektor UMM ini. Disamping itu, penambahan fasilitas dirasa perlu untuk memaksimalkan tim SAR Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana, mengingat pula bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana. “Dalam kaitannya dengan bencana, saya kira Muhammadiyah harus selalu berada di depan untuk mempelopori pendekatan sainstifik dalam penanggulangan kebencanaan sehingga setiap bencana dapat ditangani dengan baik melalui perencanaan yang baik,” tambah Muhajir. Semangat berbagi dan peduli sesuai jiwa Muhammadiyah turut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nasir dalam sambutannya. “Tugas moral Muhammadiyah adalah bagaimana semangat berbagi dan peduli tanpa pamrih bisa menjadi spirit para elit bangsa sehingga mengurus bangsa ini dengan tulus, dengan jujur dan ikhlas. Bangsa ini bisa maju jika para elit bangsanya tulus dan ikhlas,” kata Haedar Nasir. Seremoni pembukaan ini juga ditandai dengan Deklarasi Pelajar Tangguh Bencana oleh perwakilan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia. Deklarasi dipimpin oleh Ketua Bidang Media dan Komunikasi Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Maharina Novia Zahro. Selain itu, para peserta juga dibuat terpukau dengan simulasi penyelamatan bencana dari Tim SAR Medis Muhammadiyah yang dilakukan di Hall UMM Dome. Simulasi penyelamatan bencana kebakaran ini menggunakan teknik vertical rescue, dengan menggunakan tali-temali yang menghubungkan antara Gate A dan Gate C. Kemudian salah satu tim SAR disimulasikan menyelamatkan korban kebakaran melalui gedung yang tinggi. Kegiatan Jambore Nasional ini dilanjutkan dengan paparan umum dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diwakili Deputi Logistik dan Peralatan, Rudi Phadmanto. Melalui paparannya, Rudi menjelaskan peran pentingnya relawan saat terjadi bencana. (nim/han)