Ketua MPR Apresiasi Kiprah Relawan Muhammadiyah Bantu Korban Rohingya

MENJELANG berlangsungnya Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah yang diprakarsai Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) pada 1-4 Desember 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang, kegiatan diawali dengan Silaturahim Kebangsaan bersama Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Jumat pagi (1/12) di hall UMM Dome. Kehadiran Zulkifli Hasan, selain silaturahim dengan relawan Muhammadiyah se-Indonesia, sekaligus sebagai ajang sosialisasi Empat Pilar Republik Indonesia. Pada kegiatan ini, Zulkifli menyampaikan rasa bangganya pada MDMC yang telah memberangkatkan sejumlah relawannya untuk mengawal korban krisis kemanusiaan Rohingya di Bangladesh. “MDMC itu keren. Yang lain belum nyampe Rohingya mereka udah sampai duluan ke sana,” ungkap Zulkifli. Senada dengan prinsip relawan MDMC, Zulkifli mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi masyarakat yang peduli terhadap persoalan-persoalan sosial di sekitar. “Menjadi relawan itu bisa dilakukan siapa saja. Pendidikan Indonesia tidak akan membaik jika masyarakatnya tidak peduli sehingga perlu sebagai masyarakat untuk ambil peran,” jelas Zulkifli. Selain itu, Zulkifli juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah melalui berbagai organisasi dan lembaganya, salah satunya MDMC, telah mengamalkan butir-butir Empat Pilar Kebangsaan RI, salah satunya Pancasila. “Pancasila adalah alat pemersatu dan perilaku yang mempersatukan kita. Menjadi relawan, berbakti, dan memiliki rasa senasib sepenanggungan merupakan cerminan sikap Pancasilais yang dimiliki oleh seluruh anggota MDMC,” jelas Zulkifli. Kegiatan Silaturahim Kebangsaan ini kemudian dilanjutkan pembukaan Jambore Nasional siang harinya yang secara resmi dibuka oleh Mendikbud RI, Muhadjir Effendy. (nis/han)

Rektor UMM Ingin LBH Muhammadiyah Jadi Pelopor Pemartabatan Hukum

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi sejarah pembentukan Lembaga Bantuan Hukum Muhammadiyah (LBHM), Jumat (30/11). Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd., menyampaikan keinginannya agar pendirian LBHM bisa menjadi pelopor dalam pemartabatan bangsa di ranah penegakan hukum. Saat ini, kata Fauzan, banyak terjadi malpraktik-malpraktik, baik itu di bidang hukum, sosial, politik, dan lainnya. Sebagai contoh, vonis Mahkamah Agung (MA) terhadap Baiq Nuril misalnya, adalah satu di antara malpraktik itu. “Nah, pendirian LBHM ini harus jadi pelopor dalam upaya pemartabatan bangsa di bidang hukum,” kata Fauzan. Oleh karena itu, ia berharap, apa yang dilahirkan dalam forum yang dikemas dalam Sarasehan Nasional ini memiliki ciri khas karena itu merupakan bagian dari etalase gerakan Muhammadiyah di masa mendatang. “Jangan sampai apa yang kita lahirkan di era milenial ini, tapi sepak terjangnya tidak bisa acceptable,” ungkapnya. Fauzan mengingatkan, agar tidak menjadikan hukum sebagai satu-satunya cara untuk mengambil solusi dari sebuah permasalahan. “Penegakan hukum penting. Tapi banyak cara lain yang juga bisa kita lakukan,” tuturnya. Sementara, Budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun menyampaikan harapannya agar para pelaku bantuan hukum Muhammadiyah bisa mendasari dirinya dengan memperkaya wawasan, memperkuat mental, memastikan akidah dan memastikan bahwa Allah bersamanya. Pasalnya, masyarakat bangsa ini sedang dikepung oleh Dajjal, yang mengaku paling syar’i dan lainnya. Padahal itu semua serba palsu. “Jadi, sebelum mengamalkan surat Al Maun, para pelaku bantuan hukum harus mendasari dirinya dengan surat Al Quraisy agar lebih produktif,” katanya. Secara simbolis, peresmian LBHM ini ditandai dengan pembubuhan tanda tangan oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr M. Busyro Muqoddas, Ketua MHH PP Muhammadiyah Trisno Rahardjo, Rektor UMM Dr Fauzan, dan Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun). Dijelaskan Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum. bahwa Inisiasi LBHM sendiri sebenarnya telah dimulai sejak Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MHH PP Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 2015. “Keinginan untuk mendirikan LBHM ini didasari atas fenomena pembangunan demokrasi di Indonesia, yang menunjukan masih ada masyarakat yang perlu dukungan dan sentuhan advokasi di bidang hukum,” katanya. Menurut dia, selama ini, advokasi yang telah banyak dilakukan oleh Majelis-Lembaga Muhammadiyah baru sebatas pada ranah pemberdayaan an sich. Tapi, belum menyentuh advokasi di ranah hukum. Padahal, lanjut dia, advokasi juga perlu menyentuh dan mendapat dukungan dari profesional di bidang hukum. “Saya berharap semua pihak di internal Persyarikatan bisa saling berkoordinasi dan bersinergi untuk melakukan kegiatan advokasi di bidang hukum. Sebab, kita butuh advokasi yang utamanya berkenaan dengan persoalan hukum, khususnya di internal Muhammadiyah,” tandasnya. Selain Budayawan Emha Ainun Najib, turut hadir sebagai pembicara Akademisi Fakultas Hukum UII, Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.H.; Advokat dan Aktivis HAM, Dr. Bambang Widjojanto, S.H., M.H.; Divisi Komunikasi dan Advokasi Amnesty Internasional Indonesia, Haeril Halim. Serta hadir pembicara lain dari kalangan Muhammadiyah sendiri, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik, Dr. H.M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. (*mir/hnd/can)

Raker Akademik, Siapkan Langkah Strategis Tingkatkan Daya Saing UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Rapat Kerja Terbatas Bidang Akademik, Kamis (30/11). Raker ini sebagai upaya membangun kekuatan akademik, mulai tingkat program studi hingga universitas, baik jenjang sarjana maupun pascasarjana di lingkungan UMM. Dilaksanakan di Sengkaling Convention Hall, Raker Bidang Akademik dihadiri Rektor, Wakil Rektor I, II, III, dan anggota Komisi I Bidang E-Learning, Komisi II Bidang Kewirausahaan, Komisi III Bidang Publikasi Ilmiah, Komisi IV Bidang Layanan Akademik, dan Komisi V Bidang Best Practice. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menghimbau agar UMM ikut ambil bagian dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Menambahkan hal itu, Fauzan turut berpesan agar dalam mengampil keputusan sebaiknya memperhatikan dua aspek, yaitu memutuskan secara strategis dan harus prestisius. “Membawa UMM menjadi bagian tak terpisahkan dari dimensi masyarakat, juga meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa dalam konteks proporsional dengan cara yang humanis,” tandas Fauzan. Raker ini terbagi dalam tiga sesi, yaitu strategi peningkatan kualitas pembelajaran menuju internasionalisasi, manajemen tata kelola bidang akademik dalam upaya mencapai outcome pendidikan yang berdaya saing, serta sidang komisi. Sebelum masuk pada tiga sesi tersebut, lebih dulu Wakil Rektor I, II, dan III menyampaikan arah kebijakan masing-masing bidang. Wakil Rektor I bidang akademik yaitu terkait pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor II pada bidang administrasi umum, keuangan, sarana prasarana dan kepegawaian. Sementara Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan alumni. (nim/han)

Jambore Relawan Muhammadiyah di UMM, Sediakan Dapur Umum Ramah Lingkungan

KEHADIRAN dapur umum pada Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 yang diadakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipandang penting untuk mengedukasi relawan  dalam menejemen logistic. Dapur UMM berpusat di UMM Dome. Untuk dapur umum ini, MDMC menggandeng Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Kota Malang dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang. Disampaikan Koordinator Dapur Umum Jambore Eko Harimursanto, keberadaan fasilitas ini sebagai upaya meningkatkan keterampilan menejemen dapur umum. Hal itu, dikatakan Eko, agar saat penanggulangan bencana, kemampuan tersebut dapat diaplikasikan. “Kami ingin mengedukasi ibu-ibu Aisiyah Malang Raya dalam mengelola dapur umum,” kata Eko. Dengan adanya dapur umum, para relawan akan dididik tentang manajemen, standar makanan, jenis makanan dan sebagainya. Sehingga, kegiatan jambore akan memberikan pengalaman berharga dalam menghadapi situasi kedaruratan. Dapur Umum Jambore Nasional kali ini mengusung konsep ramah lingkungan. Personil dapur umum tidak akan menyajikan makanan bungkus untuk mengurangi sampah dan penggunaan kertas atau plastik. Selain itu, makanan yang disediakan akan disajikan dengan konsep semi prasmanan dan peserta membawa peralatan makan masing-masing. Makanan yang disediakan dapur umum akan dikelola langsung oleh chef yang berpengalaman. Sehingga, makanan yang disediakan akan sesuai standar makanan sehat. Menu makanan yang disediakan pun tiap hari berbeda mulai dari nasi goreng, lodeh, ikan gembung, ikan bandeng dan sebagainya. “Jambore kali ini tidak lepas dari dapur umum. Apabila nanti terlambat semua kegiatan berikutnya juga akan terlambat, makanya kami support teman-teman dapur umum untuk dapat memberikan pelayanan terbaik,” tutup Eko. (*/han)

Sambut Jambore Nasional, Relawan Muhammadiyah Bakti Kesehatan di Kedung Kandang

SENADA dengan tema Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada 1-4 Desember 2017 yaitu ‘Merekat Kebersamaan, Meningkatkan Ketangguhan’, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) melakukan pemeriksaan kesehatan untuk warga Kedung Kandang Bumiayu, Malang. Pada kegiatan yang telah dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 15 pada 30 November 2017 itu, MDMC bersinergi dengan RSI Aisyiyah Malang. Disampaikan Ketua MDMC Budi Setiawan, pada jambore ini MDMC turut merangkul warga di sekitar lokasi jambore untuk perduli dengan kesehatan. Terlebih, kata Budi, lokasi yang digunakan untuk pemeriksaan kesehatan merupakan wilayah yang sulit untuk akses kesehatan. “Pemeriksaan kesehatan sebagai wujud kebermanfaatan bersama di tengah masyarakat dan momentum jambore ini bukan hanya milik relawan tapi milik semua masyarakat,” tutup ketua MDMC. Herman Setiawan, relawan Muhammadiyah Kota Malang menyampaikan bahwa RSI Aisyah telah berpartisipasi penuh dalam kegiatan jambore. Dalam hal ini MDMC bersinergi bersama RSI Aisyiah memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. “Di sini kita melakukan screening awal pada warga yang datang, kemudian jika dirasa memerlukan tindakan lanjut kita rujuk ke RSI Aisyiah Malang,” pungkas Herman. (*/han)

UMM Tuan Rumah Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah MDMC

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tengah bersiap menjadi tuan rumah Jambore Nasional yang diadakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, yaitu 1-4 Desember 2017 ini akan dihadiri kurang lebih 2000 relawan yang berasal dari perwakilan anggota Muhammadiyah dan Aisyiah. Kegiatan ini dijadwalkan akan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan. Mengusung tema ‘Merekat Kebersamaan, Meningkatkan Ketangguhan’, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh anggota siaga bencana Muhammadiyah dan Aisyiah dari Sabang hingga Merauke. Selain itu, kesiapan setiap daerah untuk menangani bencana dengan cepat juga perlu untuk diasah. Wakil Ketua Panitia Kegiatan, Zakarija Achmat, memamaparkan bahwa kegiatan ini juga sebagai sarana peningkatan kapasitas dan kredibiltas tim relawan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang tergabung dalam tim relawan naungan Muhammadiyah lainnya. “Kegiatan ini memang awalnya sebagai sarana silaturahim antar anggota MDMC, namun dalam rangkaian kegiatan silaturahim juga harus dapat meningkatkan kapasitas dan kredibilitas anggota,” ungkap Zakarija. Rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama empat hari ini di antaranya adalah seminar tentang kebencanaan, lomba-lomba penanganan bencana, dan simulasi penanganan bencana. (nis/han)

UMM-Pemkab Probolinggo Teken MoU Pengembangan Sumber Daya Alam

BANYAKNYA potensi sumber daya alam Kabupaten Probolinggo yang minim pemanfaatannya membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mengajak Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bermitra. Ditandai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) di Aula Teknik UMM (27/11), kedua pihak bersapakan menjalin kerjasama. Hadir pada kegiatan ini, Asisten Sekertaris Bupati Probolinggo sebagai perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Penandatanganan MoU turut dihadiri perwakilan dosen dari seluruh fakultas di lingkungan UMM. MoU ini menjadi sebuah nilai plus bagi UMM melalui DPPM atas terus berkembangnya kerjasama di bidang pengabdian masyarakat. Sementara itu, Sujono, Kepala DPPM UMM, menyampaikan bahwa kerjasama yang terus dibangun oleh DPPM dapat menjadi jalan pintas bagi mahasiswa atau dosen yang ingin melaksanakan pengabdian masyarakat. “Kerjasama yang sekarang telah dibangun dapat menjadi sebuah sarana mempermudah kita semua civitas akademika UMM untuk dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas pengabdian masyarakat,” ungkap Sujono. Sementara bagi Pemkab Probolinggo, kerjasama ini diharapkan dapat terus membawa dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat Probolinggo. “Probolinggo itu punya sumber daya alam yang melimpah, mungkin saja angin gending bisa membantu untuk membangun PLTAN,” kata Asy’ari, Asisten Administasi Pemerintah dan Kesra Pemkab Probolinggo,. Selepas MoU, DPPM dan Pemkab Probolinggo melanjutkan pembahahasan MoU melalui rapat perjanjian kerjasama. Pada kesempatan ini pula, para dosen yang sudah melaksanakan penelitian atau pengabdian masyarakat juga mendapatkan pelatihan khusus terkait sistem informasi baru milik Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). (nis/han)

Bayu Dharmala: Langganan Juara Debat, Raih Beasiswa ke Eropa

AKTIF terlibat di berbagai kegiatan kampus membuat Bayu Dharmala tak hanya sukses secara akademik, namun juga memiliki prestasi dan pengalaman internasional. Selama menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bayu pernah menjuarai ESP Open Debate Championship 2014 serta Maliki National Debate Tournament 2015 dan 2016. Bayu juga berhasil lolos beasiswa pertukaran Erasmus+ di University of Murcia, Spanyol. Selama enam bulan belajar Linguistics and Literature di Murcia, Bayu banyak mendapat pengalaman dan tantangan baru lantaran perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Spanyol. Tak lama setelah kembali dari Spanyol, Bayu pun lulus dan diwisuda (25/11) dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) 3,97. Di UMM, beberapa organisasi yang diikuti Bayu yaitu International Language Forum (ILF) sebagai anggota dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris sebagai wakil ketua. Tak hanya itu, secara bersamaan ia pun aktif mengajar di sejumlah lembaga pendidikan di kota Malang, baik itu di SD, SMA maupun lembaga bimbingan belajar. Di jurusannya pun, yaitu program studi Bahasa Inggris UMM, Bayu memiliki pengalaman sebagai mentor mahasiswa semester dua. “Belajar di kelas menambah ilmu dan pengetahuan. Sedangkan ikut organisasi bisa meningkatkan skill manajemen waktu. Selain itu juga bisa bertemu banyak orang dengan berbagai karakter dan latar belakang yang tidak didapatkan di kelas,” ujar Bayu. Sementara itu selama di Spanyol, Bayu mengaku berusaha ekstra keras karena di sana kuliahnya tidak hanya teori di kelas, tapi juga ada praktik. Dalam satu minggu, ada empat mata kuliah yang diambil sehingga ada empat praktik yang harus dikerjakan. “Aku sering ke dosen untuk dijelaskan ulang kalau ada materi yang kurang paham, juga pinjam buku-buku di perpustakaan,” ujar penyuka novel ini. Bagi Bayu, segala kesuksesannya itu tak lepas dari doa orang tuanya. “Orang tua selalu memberi wejangan agar bisa go international. Motivasi melakukan semua ini ya untuk orang tua, untuk membahagiakan mereka,” tutup mahasiswa asal Pasuruan ini. (nim/han)  

Uniknya Perayaan Hari Guru di UMM, Civitas Akademika Kompak Nyanyikan Hymne Guru

SETIAP tahun, mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati Hari Guru dengan perayaan yang unik. Ribuan mahasiswa, karyawan, dan dosen, khususnya yang kuliah di Fakultas Pendidikan dan Keguruan (FKIP), bersama-sama melantunkan “Hymne Guru” di pelataran Gedung Kuliah Bersama I (GKB I) UMM dan balkon-balkon di masing-masing lantai di gedung berlantai enam itu. Perayaan yang berlangsung Senin (27/11) ini digelar atas inisiasi FKIP UMM bersama Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP UMM. Jajaran civitas akademika dan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Civic Hukum dan Pendidikan Agama Islam kompak mengenakan atribut batik dan memenuhi gedung perkuliahan itu. Wakil Dekan I FKIP Sudiran mengungkapkan, ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh guru, yaitu kualitas guru, pemerataan, dan kesejahteraan mereka. Sudiran menerangkan, kualitas guru harus terus ditingkatkan, salah satunya melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dapat diikuti mahasiswa setelah menyelesaikan jenjang sarjana. Sementara pemerataan guru, lanjut Sudiran, dapat dilakukan melalui program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T). Adapun tantangan ketiga terkait kesejahteraan dan kemakmuran guru yang tidak merata di Indonesia. “Kita semua di sini terpanggil memperingati Hari Guru Nasional dalam rangka membantu menyejahterakan guru melalui upaya yang kita bisa. Pohon beringin di hutan rimba, pohonnya menjulang ke atas awan. Jadilah guru harapan bangsa, karena guru pencerah peradaban,” pungkas Sudiran sembari berpantun. Suasana haru menyeruak saat dosen dan mahasiswa secara bersamaan menyanyikan lagu “Hymne Guru”. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Fatin Naja, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Melalui acara ini, Wakil Dekan III FKIP Rohmad Widodo berpesan kepada mahasiswa untuk dapat menghayati nilai-nilai peringatan Hari Guru agar dapat menjadi guru yang profesional. “Mahasiswa UMM harus bisa memenuhi empat kompetensi guru profesional, yaitu pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian sehingga kekurangan guru saat ini bisa dipenuhi mahasiswa FKIP UMM nantinya,” tukas Rohmad. Sementara itu, Ketua BEM FKIP Ahmad Rofiuddin mengaku perayaan Hari Guru Nasional ini menjadi refleksi untuk dirinya dan juga mahasiswa FKIP lainnya tentang perjuangan guru dan bagaimana menjadi guru pada masa depan. Hal senada diungkapkan Lia selaku mahasiswa semester lima Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Semoga peringatan ini menjadi budaya di UMM agar kami mahasiswa FKIP terus diingatkan akan jasa-jasa guru, karena tanpa mereka, tanpa guru-guru, mungkin tidak akan ada profesi-profesi lain,” tutur Lia. (nim/han)

Rekat Kebersamaan, UMM Tiada Henti Mengabdi

DALAM ikhtiarnya mengabdi pada masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengajak berbagai lembaga maupun elemen lintas etnis, agama, dan golongan untuk bergerak bersama. Terlebih, hal itu sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menjadi jargon miladnya ke-105, yaitu “Merekat Kebersamaan”. Disebut Rektor UMM, Fauzan, saat ini UMM juga intens berjejaring dengan para pengusaha Tionghoa yang tergabung dalam komunitas Indonesia Tionghoa (INTI) membuka ruang bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik masyarakat maupun produk riset milik dosen dan mahasiswa agar bisa bersaing melalui dukungan investor. Hal itu pula yang menjadi spirit UMM menggelar Festival Kebangsaan bulan lalu. “Semangat yang kita bawa dalam festival itu adalah spirit untuk mengembalikan trah dan rasa nasionalisme di tengah krisis identitas yang sedang melanda bangsa Indonesia. Semangat itu dibangun dengan merekatkan berbagai elemen masyarakat dan suku bangsa untuk bergerak dan maju bersama,” jelasnya. Bagi UMKM, jejaring ini sangat bermanfaat agar usaha mereka bisa memasuki pasar yang lebih luas. Sementara bagi UMM, hal itu sekaligus menunjang hilirisasi dan komersialisasi hasil riset yang telah lama dijalankan. Untuk penguatan riset pun, kualitas laboratorium UMM sudah sangat mumpuni. Terakhir, laboratorium UMM baru saja meraih akreditasi ISO 9001 dan ISO 17025 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Rinciannya, empat laboratorim, yaitu Laboratorium Nutrisi, Laboratorium Bioteknologi, Laboratorium Biologi, dan Laboratorium Ilmu Teknologi Pangan (ITP) meraih ISO 9001. Sementara pengujian proxima, uji total gula, uji protein, uji total plate count (TPC), dan uji antosianin meraih ISO 17025. Kepala Laboratorium Sentral UMM Elfi Anis Saati menjelaskan, dengan adanya pengakuan ISO 9001 dan ISO 17025 tersebut, laboratorium akan lebih kredibel dalam mengeluarkan hasil uji laboratorium, terutama di luar aktivitas belajar mengajar. “Selain melayani pengujian oleh mahasiswa dan dosen, laboratorium juga melayani pengujian dari pihak luar, termasuk masyarakat umum, lembaga negara, swasta dan UMKM,” paparnya. Tak heran pula, jika UMM lantas kembali mendapat amanah dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk menyandang akreditasi institusi A. Raihan yang kian meneguhkan, bahwa kiprah UMM akan terus bermakna bagi masyarakat, bangsa dan peradaban. Sejalan dengan motto, dari Muhammadiyah untuk bangsa. Sementara itu dalam konteks yang lebih luas, UMM berupaya menjadi inisiator kebangkitan semangat Islam untuk perabadan dunia. Melalui kegiatan Annual International Conference on Islam and Civilization (AICIC) pada 17-19 November lalu, UMM mengajak umat Islam dari berbagai belahan dunia untuk duduk bersama dan memberikan solusi nyata terhadap pelbagai persoalan yang tengah dihadapi dunia saat ini. (han)