Gelar Muhammadiyah Update, PSIF Ulas Etika dan Spirit Gerakan Muhammadiyah

PUSAT Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan Muhammadiyah Update. Kali ini melalui bedah buku karya Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy dan Azaki Khoirudin berjudul “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban” yang digelar pada Rabu (1/11) di Aula Masjid AR Fachruddin UMM. Ketua PSIF, Dr. Pradana Boy ZTF, M.A. menyampaikan, kegiatan literasi semacam ini sangat penting, terlebih lagi dalam ruang lingkup akademik. Ia juga menjelaskan, pemilihan nama kegiatanMuhammadiyah Update ini juga bukan tanpa alasan. “Muhammadiyah Update ini ada karena kami sadar harus ada yang menjaga pola pikir kemuhammadiyahan sebagai kajian ilmiah, dalam hal ini menjaga mahasiswa dan civitas akademika UMM agar selalu up to date dengan kajian keilmuan di lingkup Muhammadiyah,” jelas Pradana. Dalam buku yang juga diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah ini, lanjut Pradana, selain menjelaskan tentang etos Al-Maun, Muhammadiyah juga digambarkan dalam tiga bentuk, yakni Muhammadiyah sebagai gerakan, Muhammadiyah sebagai pola pikir dan Muhammadiyah sebagai organisasi. “Sebagai gerakan, kita bisa ambil contohnya dari mata kuliah Al-Islam dan Kemuhamadiyahan yang diajarkan di berbagai sekolah Muhammadiyah. Sebagai pola pikir, kita bisa lihat hampir semua masjid di Indonesia saat ini menggunakan sistem takmir, yang notabenenya sistem tersebut merupakan inovasi Muhammadiyah di masa lampau. Dan sebagai organisasi, bisa kita lihat saat ini, Muhammadiyah sudah berkembang dengan strukutur yang menjangkau daerah-daerah dan mempunyai banyak capaian tiap tahunnya,” terangnya. Dengan mengulas bukunya, Zakiyuddin mengungkapkan, seorang cendikiawan harus punya tanggung jawab intelektual atas polemik-polemik di sekitarnya. “ Ilmuan atau cendikiawan harus punya tanggung jawab intelektual, jadi harus bisa memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan. Buku ini merupakan ikhtiar intelektual yang semoga bisa menginspirasi banyak orang,” pungkasnya. (iel/han)
Sertifikasi Keselamatan Kerja Tingkatkan Kualitas Dokter Alumni FK UMM

PEMBEKALAN pengetahuan tentang problematika dan keselamatan tentang Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja (HIPERKES) merupakan hal yang sangat penting bagi para tenaga medis terutama dokter. Untuk itu, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) berupaya menyiapkan keterampilan HIPERKES dan Keselamatan Kerja bagi seluruh alumni yang berminat menjadi dokter perusahaan. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama antara Unit Pelaksana Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (UPT K3) Provinsi Jawa Timur bersama dengan FK UMM. Peserta yang mengikuti kegiatan ini mayoritas adalah dokter alumni UMM yang telah melakukan sumpah dokter. “Kegiatan ini awalnya hanya diperuntukkan bagi dokter alumni FK UMM dan ternyata peminat dari luar FK UMM cukup banyak ” tutur Ketua Pelaksana Kegiatan, dr Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes. Rangkaian kegiatan pelatihan ini di antaranya penyampaian materi dari beberapa dokter yang telah tersertifikasi Hiperkes dan juga para ahli K3. Selanjutnya, para peserta diajak untuk melakukan factory visit. Peserta akan diajak untuk mengunjungi dan mengamati kesiapan dan kelengkapan K3 di PG Krebet Baru Malang. Luaran kegiatan ini adalah diperolehnya sertifikat kompetensi dibidang HIPERKES dan Keselamatan Kerja. (nis/han)
Milad Pertama, Klinik Surya Medika Sumbawa Siap Beralih Menjadi RS PKU

Merayakan milad pertama Klinik Surya Medika Sumbawa menggelar serangkaian kegiatan Seminar Sumbawa Bebas Narkoba dan Jalan Sehat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (31/10) di pelataran lingkungan dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs Fauzan MPd dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumbawa. Menjajaki pencapaian yang memuaskan, saat ini Klinik Surya Medika telah memiliki 51 orang pegawai operasional, empat dokter umum, delapan dokter spesialis, enam poliklinik, enam belas ruang rawat inap, satu ruang bersalin dan satu ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan pencapaian tersebut, Klinik Surya Medika yang saat ini pengelolaanya ada di bawah naungan UMM, tengah bersiap untuk berubah status menjadi Rumah Sakit Pelayanan Kesejahteraan Umum (RS PKU). “Fokus kami saat ini ingin merubah status Klinik Surya Medika menjadi Rumah Sakit PKU Surya Medika. Hal tersebut didukung dengan keberadaan tenaga ahli kesehatan kami yang telah memenuhi standart” jelas Direktur Klinik Surya Medika, Yogi Triatma Kusuma. Sebagai bagian dari amal usaha UMM, Klinik Surya Medika saat ini juga berupaya terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan home care bernama Pintu Surya Medika. Selain itu, bekerjasama dengan BNN kinik tersebut juga berfokus menyusun rancangan kegiatan rehabilitasi. (nis/sil)
Perguruan Tinggi Muhammadiyah Satukan Langkah, Ciptakan SDM Guru Berkualitas

LEMBAGA Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (LPTK PTM) menggelar Workshop Pra-jabatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada Selasa-Rabu (31/10-01/11) di Aula Hotel UMM Inn, Malang. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama LPTK PTM bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM). Kegiatan dihadiri perwakilan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), di antaranya Universitas Prof Dr Hamka (UHAMKA), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), STKIP Muhammadiyah Sorong, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua ALPTK PTM Prof Harun Joko Prayitno. Pada sambutannya, Harun menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal bagi PTM di Indonesia untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia guru PPG yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. “Rangkaian kegiatan-kegiatan yang akan bapak ibu ikuti selama dua hari ini diharapkan dapat menyelaraskan pengkoordinasian dan penyamaan persepsi untuk peningkatan kualitas lulusan PPG,” jelas Harun. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini akan membahas beberapa hal yang akan menjadi kesempatan bersama oleh seluruh PTM yang hadir, di antaranya sistem pembelajaran dan evaluasi, bentukan kurikulum, susunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sistem Program Pengalaman Lapangan (PPL), peningkatan keterlibatan guru pamong, dan upaya peningkatan kualitas pedagogik guru pamong. Di akhir kegiatan ini, diharapkan akan menghasilkan format resmi yang akan digunakan oleh seluruh PTM di Indonesia. (nis/han)
Di UMM, 24 Peneliti HAM Suarakan Hak-hak Minoritas di Indonesia

SEBANYAK 24 peneliti muda hak asasi manusia (HAM) dari berbagai daerah di Indonesia mempresentasikan hasil risetnya tentang hak-hak kelompok minoritas di Indonesia, Selasa (31/10) di Hotel UMM Inn, Malang, Jawa Timur. Presentasi riset ini merupakan kelanjutan dari kursus selevel-master (Master-Level Course/MLC) on Human Rights and Sharia yang diadakan atas kerjasama Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Oslo Coalition Norwegia dan The Asia Foundation (TAF) pada bulan Juli lalu. Selepas MLC, para peneliti itu selanjutnya melakukan mikro riset selama tiga bulan tentang berbagai isu dan persoalan yang dihadapi kelompok minoritas di Indonesia. Hasil riset itulah yang kemudian direview oleh perwakilan PUSAM UMM, Dr Vina Salviana, dan TAF, Dr Budhy Munawar-Rachman. Budhy mengatakan, program MLC yang telah berlangsung sejak 2011 ini sangat menarik karena selalu menghasilkan temuan-temuan yang bermanfaat bagi penegakan HAM di Indonesia. “Tahun ini yang menjadi fokus yaitu kelompok minoritas di Indonesia. Saya tadi baca-baca hasil risetnya menarik sekali. Banyak perspektif. Berbagai problemnya juga menyebar di berbagai daerah di Indonesia,” tutur Budhy. Jika dilihat dari daftar topik riset yang dilakukan para peneliti muda itu, beberapa topik menarik yang diangkat semisal tentang kelompok Dayak Kaharingan di Kalimantan Selatan, hukuman cambuk bagi non-Muslim di Aceh, kasus penutupan patung Kwan Sing Tee Koen di Tuban, studi pemimpin non-Muslim di Pilkada Jakarta, hingga kerjasama Muslim dan Kristiani dalam membangun masjid di Nusa Tenggara Timur. (iel/han)
Jejaring Media UMM dan Muhammadiyah Perkuat Literasi Digital

PARA pekerja media yang bergiat di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) maupun di persyarikatan Muhammadiyah se-Indonesia berkonsolidasi memperkuat literasi digital. Hal itu dikakukan atas kerjasama UMM dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI melalui Workshop Penguatan Jejaring Pegiat Media yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Senin (30/10). Workshop ini menghadirkan penulis dan konsultan media kreatif Fahd Pahdepie serta staf khusus Kemdikbud Nasrullah. Hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi. Syamsul Arifin mengatakan, berbagai peristiwa di dunia ini memiliki ragam makna, karena itu ia berupaya menggali dan memaknai setiap hal-hal yang berada di sekitarnya. “Belakangan saya cukup rajin menulis hal-hal menarik di sekitar saya. Setelah terlalu sering menulis riset dan publikasi yang serius, ternyata asyik juga menulis hal-hal sederhana. Dengan kekuatan media digital, tulisan-tulisan ringan itu justru menarik minat banyak orang,” kata Syamsul. Sementara bagi Fahd Pahdepie, kunci dalam menguasai literasi digital adalah kemampuan bercerita. Baginya, dunia ini dipenuhi dengan cerita. Cara bercerita itulah yang dapat mempengaruhi banyak orang. “Politik itu cerita, ekonomi itu cerita, agama itu cerita. Peradaban dan kitab-kita suci juga berisi rangkaian cerita,” kata Fahd sejumlah novelnya menjadi best-seller ini. Fahd menuturkan, menjadi seorang pekerja media dan public relations (PR) juga harus memiliki kekuatan menghadirkan narasi yang menarik. Di era sekarang ini yang menarik minat banyak orang bulanlah argumen melainkan cerita. “Lebih luas lagi, saat ini orang lebih suka hal-hal yang mengandung empati ketimbang yang logis. Sama halnya, orang jenuh pada hal serius dan lebih menyukai permainan. Semua dimensi itu harus dimiliki oleh seorang pekerja media dan PR.” Di sisi lain, Nasrullah menerangkan, sebagai seorang PR penting halnya untung menyeragamkan suara. Khususnya terkait berbagai berita yang keluar dari institusi ke pihak eksternal. “Kalau kita mengeluarkan data, semua harus kompak. Ini bentuk pertangggungjawaban kita pada publik. Sekarang ada jurnalisme baru yakni quick checker. Para pesaing kita akan mengecek itu, jadi jangan sampai salah menyampaikan data,” tambahnya. Selain memastikan akurasi data, Nasrullah juga menyampaikan pentingnya membina hubungan baik dengan media, baik secara personal, institutional maupun bisnis. Selain itu, keunikan nilai berita juga menjadi hal yang harus diperhatikan. “Yang penting kita bermedia dapat menimbulkan awareness masyarakat bahwa kita unik, berkualitas dan memilikivalue. Jadi misalnya dengan satu berita unik, dapat menarik mahasiswa berduyun-duyun datang kemari,” pungkas Nasrullah. (sil/han)
UMM Gazebo Forum, Maknai Spiritualitas Melalui Sastra

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar cangkrukan multidisipliner UMM Gazebo Forum, Sabtu (28/10) di area taman Perpustakaan Pusat UMM. Bertepatan dengan Bulan Bahasa Nasional dan Hari Sumpah Pemuda, UMM Gazebo Forum kali ini mengangkat tema “Sastra dan Spiritualitas”. Tiga narasumber yang dihadirkan yaitu penulis buku “Spiritual Enlightenment”, Ikhwan Marzuki, Direktur ATV Drs Nurbani Yusuf MSi, dan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM, Dr Ajang Budiman MSi. Ikhwan Marzuki menilai, sastra dan spiritualitas ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dan spiritualitas tidak melulu tentang religiusitas. “Spiritualitas adalah bagaimana kita memaknai sesuatu dan sastra merupakan salah satu bentuk pengungkapan dari spiritualitas tersebut,” terangnya mahasiswa Pendidikan Dokter UMM ini. Senada dengan Ikhwan, Ajang menambahkan, perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW juga merupakan bentuk spiritualitas dan itu merupakan bentuk spiritualitas yang paling sempurna. “Spiritualitas dan religiusitas harus menjadi cara hidup dari orang itu sendiri. Jadi dari spiritualitas itu tidak hanya mencerahkan pada diri sendiri namun juga harus bisa mencerahkan orang lain,” tegas Ajang. Pemateri ketiga, Nurbani Yusuf mengatakan, kita sebagai generasi penerus harus banyak bersyukur dan menerima dengan apa yang ada di Indonesia seperti para pemuda yang dahulu mendeklarasikan Sumpah Pemuda. “Dalam momen sumpah pemuda ini, kita juga harus bisa memaknainya atau mengambil sisi spiritualitasnya, yakni tidak melupakan sejarah seperti kata Bung Karno dan mensyukuri Indonesia apa adanya,” tutupnya. Kegiatan ini semakin semarak dengan penampilan akustik dari mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM yang menawan. (iel/han)
Kemenristekdikti Apresiasi Peran UMM sebagai Universitas Asuh

SEBAGAI universitas asuh bagi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dinilai Kementrian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki rapor baik. “Terima kasih kepada UMM telah menjalankan program asuh. Kami sangat mengapresiasi semua kerja keras seluruh pihak,” ungkap Masluhin Hajaz, Kepala Seksi Revitalisasi Program, Direktorat Penjaminan Mutu, Kemenristekdikti. Pada kegiatan Monitoring dan Evaluasi oleh Dirjen Belmawa Kemenristekdikti di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (26/10), Umsida dan Unirow menyampaikan hasil perkembangan dan pencapaian masing-masing universitas atas asuhan UMM. Melalui program penyebaran penjaminan mutu, UMM berkomitmen untuk terus berkarya dan berkontribusi untuk bangsa. “Ketika kami mengikuti workshop program penjamin mutu Kemenristekdikti pada beberapa kesempatan, seringkali saya berharap UMM dapat diberi kepercayaan dan alhamdulillah tahun ini UMM dapat berkontribusi,” jelas Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi. Selain itu, UMM terus berupaya terus bersama membangun mutu dan akreditasi perguruan tinggi demi penjaminan kualitas sumber daya manusia. Penjaminan mutu dan pertahanan akreditasi perguruan tinggi menjadi salah satu poin penting untuk memberikan citra pada masyarakat. (nis/han)
Mahasiswa Asing Citarasa Tradisional Meriahkan Sumpah Pemuda di UMM

SEBANYAK 20 mahasiswa asing peserta program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut meramaikan kegiatan Rampak Budaya dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa Nasional, Jumat (27/10). Para mahasiswa asing itu mengenakan pakaian adat yang mewakili berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, mereka dengan cukup lihai juga turut menampilkan berbagai kesenian tradisional Indonesia, salah satunya permainan angklung. Selain itu, mereka juga menjajakan jajanan dan minuman tradisional Indonesia yang terdiri dari sejumlah stan. Uniknya, untuk mendapatkan jajanan dan minuman di stan stan itu para pengunjung harus menjawab pertanyaan seputar Indonesia dari mahasiswa asing. Keunikan kegiatan yang diadakan atas kerjasama BIPA UMM dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMJ Bahtera) ini selaras dengan tema yang diangkat, yaitu “Gunakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah dan Kuasai Bahasa Asing”. Salah satu mahasiswi asing, Sarah Kim, mengakui meski awalnya sempat malu dan kikuk harus tampil di muka umum, ia merasa berkesan dengan kegiatan ini. “Indonesia sangat luas, memiliki banyak bahasa dan suku, namun tetap bisa dipersatukan dengan satu bahasa,” ungkap mahasiswi Korea Selatan yang mahir menyanyikan berbagai lagu berbahasa Indonesia ini. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi terkait kegiatan ini mengatakan, Indonesia mempunyai banyak alat pemersatu, contohnya dalam aspek ideologi, Indonesia mempunyai Pancasila. Menurutnya, alat pemersatu yang paling efektif mempersatukan bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia. “Karena jika kita berbicara tentang Indonesia, kita tidak hanya bicara tentang kebhinekaan, tetapi juga tentang kesatuan”, jelas Syamsul. Kegiatan ini juga turut diramaikan dengan penampilan karya sastra Indonesia yakni musikalisasi puisi, tarian Cendrawasih asal Bali dan akustik dari HMJ Bahtera. Ada pula penampilan dramatisasi puisi Kerawang Bekasi oleh Lembaga Semi Otonom (LSO) Teater Kata Mati serta penampilan mahasiswa dari Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Kamboja, Thailand, India, Palestina, Sudan dan Sierra Leone. (iel/han)
Hutan Pujon Akan Dikelola UMM sebagai Eco-Education

MELALUI hibah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipercaya mengelola lahan hutan produksi dan lahan hutan konservasi seluas 258 hektar yang berlokasi di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang Ketua Program Studi Kehutanan UMM Tatag Muttaqin mengatakan, hibah lahan hutan yang diterima UMM ini direncakan akan menjadi kawasan khusus untuk kegiatan pendidikan seperti penelitian, konservasi, pengembangan wilayah penanaman tanaman herbal, eco-education dan penciptaan lahan inovasi alternatif pengelolaan hutan. Bagi Rektor UMM Fauzan, kepercayaan ini merupakan sebuah kehormataan bagi UMM untuk ikut andil dalam pelestarian kawasan hutan mengingat luas wilayah hutan di Indonesia semakin berkurang. “Posisi UMM sebagai perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas dan manfaat hutan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan,” ungkap Fauzan, Kamis (26/10). Sugeng Triharyadi, analis penggunaan wilayah hutan dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI Jawa-Madura menyatakan pihaknya menyambut baik hal ini. Menurutnya, akan lebih baik jika hutan wilayah tersebut digunakan bagi pendidikan dan penelitian yang sifatnya melestarikan. “Apalagi jika bisa mensejahterakan masyarakat sekitar,” tandasnya. Selain pengelolaan wilayah hutan di Pujon, saat ini UMM juga tengah dalam proses mengajukan pengelolaan wilayah hutan di Malang Selatan. Wilayah-wilayah hutan yang diajukan oleh UMM sekaligus merupakan wilayah pengabdian mahasiswa dan dosen UMM kepada masyarakat. (nis/sil/han)