Buka Ruang Komunikasi, UMM Gelar Pertemuan dengan Orang Tua Wali Camaba

Tradisi silaturrahim Pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan orangtua/wali calon mahasiswa baru (camaba) Periode I kembali digelar Minggu, (27/5). Kali ini bagi camaba tahun akademik 2018/2019. Dipenuhi antusiasme, orang tua/wali dari sekitar 3000 mahasiswa yang menghadiri undangan mendengarkan pesan rektor dengan seksama. Rektor menyampaikan tujuan silaturrahim ini tidak hanya memanjangkan umur tetapi juga untuk memudahkan rezeki. Yang tidak kalah penting, acara ini juga menjadi media untuk orang tua atau wali lebih mengenal UMM. “Tujuan kita bersilaturrahim di sini tidak lain ingin agar bapak ibu tahu tentang UMM dari dekat,” ujar Rektor UMM Fauzan. Selain menginfokan bahwa pihak universitas membuka ruang komunikasi seluas-luasnya, Fauzan juga menginformasikan sejumlah larangan yang tidak boleh dilakukan mahasiswa UMM. Larangan-larangan tersebut antara lain perkelahian, tindak kriminal, miras dan narkoba, serta tindakan asusila. Untuk mengantisipasi mahasiswa melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut, Fauzan menghimbau para orang tua/wali mahasiswa agar turut menyemangati putera-putrinya untuk aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler seperti mengikuti organisasi-organisasi intra kampus ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Kami berharap bapak ibu sekalian mendorong putra putrinya untuk ikut kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Jangan sampai putra putri bapak ini hanya kuliah saja,” pesan rektor pada wali mahasiswa. Fauzan mengatakan, dewasa ini kuliah dan berprestasi saja tidak cukup bagi mahasiswa. Prestasi akademik, harus diimbangi dengan keaktifan dalam organisasi atau kegiatan mahasiswa lain. Di akhir Fauzan menyampaikan, setiap tahunnya tidak kurang dari 600 mahasiswa UMM berprestasi tingkat regional, nasional, dan internasional. Sebagai bentuk dukungan, pihak kampus pun memberikan berbagai bentuk apresiasi. “Prestasi tersebut akan diapresiasi dengan pengurangan pembayaran SPP atau bahkan pembebasan SPP,”pungkasnya. (Humas UMM)
Budaya Unggul Jadi Akselerasi Kualitas UMM dari Generasi ke Generasi

Hati yang gembira melahirkan pikiran-pikiran yang besar.Dari sinilah kekuatan yang membangun Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) muncul. Dirintis sejak tahun 1964, UMM terus melaksanakan akselerasi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Imam Suprayogo, generasi perintis yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor di UMM mulai tahun 1975-1996 menyampaikan, bahwa semangat keikhlasan menjadi fondasi kokoh yang menguatkan UMM. “Tatkala Bismillah ada dalam hati, maka sidiq dan amanah serta fatonah akan menyertai dan Insyallah akan sukses mempertahankan budaya unggul,”urainya pada Dialog Lintas Generasi “Mempertahankan Budaya Unggul “ di Dome UMM, (26/5). Menambahkan paparan Imam, Wakil Rektor II UMM Nazaruddin Malik menyampaikan, bahwa ada satu ciri khas yang menonjol dari kampus putih ini yaitu bagaimana UMM memadukan nilai tauhid nilai kemanusiaan. Hal ini diterjemahkan dalam upaya UMM mempertahankan budaya unggulnya dan terus mengembangkan manajemen yang kuat dari generasi ke generasi. “Sehingga ini melahirkan orang-orang yang tangguh sampai generasi milenialnya dan generasi berikutnya dapat menjadi pilar penopang yang berkelanjutan,”tambahnya. Lebih lanjut Nazar menegaskan bahwa konsolidasi menjadi hal lain yang sangat berpengaruh dalam membangun komitmen kebersamaan agar apa yang menjadi cita-cita bersama dapat segera tercapai. Konsolidasi ini mencoba memformat SDM agar mempercrpat akselerasi lebih dari yang dibutuhkan agar mencapai tujuan yang diinginkan. “Dalam waktu tiga tahun, antara 1983-1986 terjadi akselerasi yang sangat cepat. Ini berulang di juga di tahun 19986-1990. Mestinya kita dapat mewujudkan nilai-nilai Islam dalam nilai-nilai manajemen untuk mempercepat akselerasi kemajuan seperti saat ini,” katanya. Nazarkan menambahkan, dalam emmpertahankan budaya unggul bagaimama caranya menyambung yang diyakini oleh generasi terdahulu, agar mampu diterjemahkan dari masa ke masa sampai dengan generasi terakhir di UMM ini. “Seperti yang didengungkan para founding father terus jaga kekompakan dan merapatkan barisan agar kepemimpinan yang amanah dan fatonah terwujud dan jika nanti UMM generasi pendahulunya sudah tidak ada lagi, UMM tetap ada,”tandasnya. Sementara itu Ketua PUSAT Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Pradana Boy ZTF menyampaikan bahwa dalam membangun kekuatan dunia di berbagai masa, ilmu menjadi hal utama yang wajib menjadi fokus. Ia mencontohkan saat dunia pernah dikuasai oleh tiga kekuatas besar pada masanya, yakni Romawi, Eropa dan Amerika. “Kekuatan dunia itu tidak mungkin dibangun kalau tidak dibangun di atas ilmu,” tegasnya. Karenanya Boy berharap UMM ke depannya dapat menjadi semakin besar, bukan hanya secara fisik namun juga secara khusus dalam pemikiran tertentu. “Jadi orang fanatik ke UMM karena memang ada sesuatu yg dicari disini,”pungkasnya.
UMM Siapkan Mahasiswa Terjun ke Dunia Ekspor Impor
Kegiatan ekspor dan impor merupakan salah satu proses ekonomi yang dilakukan sebuah negara. Kedua proses tersebut melibatkan pelbagai kerjasama dengan negara-negara luar untuk melakukan jual dan beli. Bagi mahasiswa prodi D-III Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammmadiyah Malang (UMM) mengetahui perihal ekspor impor ini sangat berguna di dunia kerja nanti. Hal tersebut diungkapkan oleh Dekan feb Dr. Idah Zuhroh, MM saat membuka acara workshop Ekspor Impor, Jumat (25/5). “Pihak laboratorium menyelenggarakan kuliah tamu ini dengan melibatkan praktisi ekspor impor langsung. Harapannya agar dosen mamupun mahasiswa akan memperoleh informasi bagaimana praktek ekspor impor dan bagaimana transaksi pembayaran ke luar negeri saat kita melakukan ekspor impor,” imbuh Idah di Aula GKB III UMM. Workshop ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama merupakan pengenalan tentang ekspor impor oleh praktisi ekspor impor, Ahmad Musyafak, S.Pd., MM dan sesi kedua tentang pembayaran luar negeri yang akan dibawakan oleh pimpinan BCA KCP Sukun Malang, Indra Agus Wantoko. Di hadapan 117 mahasiswa, Ahmad Musyafik menjelaskan cara-cara pembayaran internasional yang biasa digunakan dalam proses ekspor impor. Terdapat 7 cara pembayaran yakni, tunai, transfer telegrafis, clearing internasional, wesel (Bill of exchange), Letter of credit, private compensation, dan open account. Lebih lanjut Ahmad menjelaskan, bahwa selain sistem pembayaran mata uang yang digunakan juga beragam. Bisa menggunakan rupiah maupun mata uang asing. “Bisa dilakukan dengan menggunakan mata uang asing yang disebut valas (valuta asing.red) atau bisa juga dengan mata uang dalam negeri. Tergantung kesepakatan kedua belah pihak,” jelas Ahmad. Selain tunai,ada pula Telegraphist Transfer (TT) atau cable order. Ini adalah cara pembayaran yang dilakukan bank atas perintah nasabah dengan mengirimkan telegram, telex atau telepon kepada bank di luar negeri, agar membayar sejumlah uang kepada orang atau badan yang berhak menerimanya. Selain itu, ada juga clearing internasional adalah pembayaran yang terjadi antar bank di negara yang berlainan dengan cara memindahkan saldo kepada pihak yang berhak sebagai hasil rekapitulasi (pengumpulan) transaksi tiap akhir hari kerja. Sementara itu Letter of Credit (LC) adalah surat pernyataan tertulis yang dibuat bank atas permohonan nasabah (importir) untuk menyediakan sejumlah uang sebagai pembayaran kepada eksportir. Dalam sistem ini diperlukan satu lembaga yang bertugas mengatur tata cara transaksi yang disebut clearing house. Sedangkan private compensation adalah cara pembayaran yang dilakukan importir dan eksportir dengan cara menukarkan utang piutang. “Yang terakhir adalah open account adalah cara pembayaran dengan terlebih dulu mengirimkan barang kepada importir tanpa disertai surat perintah membayar dan dokumen pengiriman,”pungkasnya.
Kalahkan Rasa Takut dengan Berjuang Menjadi Guru Minoritas di China

Memiliki keinginan besar untuk bisa mengajar di luar negeri adalah salah satu impian dari Dessy Maria Ulfa. Gadis yang lahir dan besar di tanah Maluku ini memulai perjalanan mengajarnya di luar negeri sejak tahun 2016. ”Pertama kali mewujudkan cita-cita untuk pergi ke luar negeri ya ke Vietnam,” tutur mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut. Meski membutuhkan percobaan dan usaha berulang untuk mencapai keinginannya, Dessy tidak surut semangat. Ia bahkan menjadi lebih percaya diri lantaran dapat mengumpulkan bekal ilmu yang lebih banyak. “Ini lebih bagus karena saya punya bekal teori mengajar yang semakin banyak,”ujarnya. Dessy mengisahkan, perjalanan internasionalnya dimulai saat ia mendaftarkan diri pada sebuah program mengajar di negeri Sakura. Sayangnya, kala itu ia tidak berhasil lolos. Tidak patah arang, gadis cantik ini kembali mencari peluang baru untuk menimba pengalaman mengajar internasional. “Setelah gagal apply ke Jepang, aku langsung set goals ini itu untuk meningkatkan skillku,” ungkapnya. Tidak sia-sia usaha dan kegigihannya berbuah manis. Pada akhir 2016 Dessy terpilih menjadi salah satu volunteer pada proyek sosial Hope for Children di Vietnam. Tidak pernah puas dengan satu pengalaman, di tahun berikutnya ia kembali mengambil peluang menjadi pengajar di Footprints International School Kamboja. Selama tiga bulan berada di negeri Angkor Wat ini, Dessy sempat mengalami kesulitan dalam berbahasa. “Di Kamboja kesulitan yang aku hadapi cuma dari segi bahasa, terutama saat berkomunikasi dengan masyarakat umum,” akunya. Tidak puas dengan pengalaman mengajar di kawasan Asia Tenggara, mahasiswa yang juga aktif di organisasi AIESEC ini pada awal tahun 2017 kembali mengikuti program mengajar di China. Menjadi salah satu pengajar di Shenyang Forest International Kindergarten China, Dessy mendapat banyak pelajaran hidup yang luar biasa. Dessy mengisahkan, saat menjadi minoritas dan sempat dianggap tidak memiliki kemampuan mengajar yang bagus, rasa putus asanya pun muncul. Saat itu ia bahkan sempat ingin kembali ke tanah air. “Setelah ada salah satu wali murid yang gak memperbolehkan anaknya ikut kelasku, rasa putus asa dan mau balik ke Indonesia itu besar sekali,” paparnya. Untungnya berkat dukungan sang bunda, semangat Dessy kembali berkobar. Ia pun bertekad menyelesaikan kontrak kerjanya di negeri Tirai Bambu tersebut. Di akhir, usai berbagai pengalaman internasional ini Dessy mengaku senang dapat memaksimalkan waktu belajarnya di UMM dengan menimba ilmu di luar negeri. “Sekitar dua tahun belajar di UMM, hidup saya diwarnai dengan berbagai pengalaman organisasi dan membuat saya mewujudkan cita-cita untuk pergi ke luar negeri,”pungkasnya (nis/sil)
JIMM Gandeng PSIF UMM Siapkan Kader Intelektual Muda yang Inovatif

Dalam rangka menghimpun kader-kader intelektual, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) bekerjasama dengan Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM) menggelar Tadarus Pemikiran Nasional bertemakan Rebranding Muhammadiyah: Dialetika Otentisitas dan Perubahan dalam Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah di RSS UMM Rabu, (23-24/5) 2018. Rektor UMM Fauzan menilai kegiatan intelektual seperti ini sangat penting bagi Muhammadiyah, karena dalam internal persyarikatan selalu muncul perdebatan tentang hal-hal yang bersifat ideologi, baik berkaitan dengan pemikiran maupun gerakan. “Muhammadiyah membutuhkan kegiatan intelektual seperti ini. Sebaiknya acara seperti ini sering-sering diadakan, jangan hanya ketika Ramadhan,” tambahnya. Salah satu keynote speech, Sudarnorto Abdul Hakim, M.A dari Majelis Dikti PP Muhammadiyah menyampaikan dalam mengawal masa depan, Muhammadiyah, khususnya para pemudanya harus menyiapkan berbagai bekal. Meski demikian, nilai-nilai kemurnian lembaga harus terus dipegang. “Otentik atau authenticity merupakan bagian penting yang dimiliki organisasi Muhammadiyah. Otentik secara harfiah berarti orisinal, keaslian, dan kemurnian,” sampainya. Lebih lanjut Sudarnorto menyampaikan, hal berikutnya yang perlu menjadi fokus adalah bagaimana Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dapat memberikan kontribusi yang inovatif terutama dalam menghadapi problem-problem atau tantangan-tantangan besar yang menerpa. “Baik itu menerpa umat, bangsa bahkan masyarakat internasional,”tegasnya. Di akhir Sudarnorto menggaris bawahi bahwa saat ini banyak organisasi atau gerakan Islam yang minimalis dan sekedar mencukupkan diri untuk survive sehingga hanya menggelar acara rutin-rutin saja. Kebanyakan diantara mereka, tidak memiliki hal-hal baru yang bisa dikontribusikan ke masyarakat. “Bahkan kita pernah mencatat juga banyak organisasi-organisasi kemasyarakatan bahkan politik tiba-tiba bangkrut dan tidak lagi muncul lagi,”pungkasnya. Tercatat 218 peserta mengikuti acara ini dan 32 diantaranya akan mempresentasikan makalah. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Timur, Barat, Papua hingga Sulawesi. Sementara itu. Topik-topik yang diangkat antara lain, Era Baru Gerakan Muhammadiyah: Peluang dan Tantangan, Muhammadiyah dan Internasionalisasi Pemikiran Islam, Gerakan Perdamaian dan Kontra-Radikalisme, serta Aktualisasi Jihad Digital Muhammadiyah di Era Kekinian. (apn/sil)
Safari Ramadhan UMM, Kupas Nikmatnya Hidup Berkhidmat

Dalam bekerja bukan lamanya masa kerja yang penting tapi masa berkhidmat. Berkhidmat di sini berarti bekerja dan melayani dengan ikhlas. Semangat ini digaungkan dalam Safari Ramadhan yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk para civitas akademikanya. Safari Ramadhan berlaku untuk semua dosen, karyawan, maupun partimer UMM selama tiga hari mulai Senin sampai Rabu (21-23/5). Dalam suasana kehangatan Ramadhan, Asisten Khusus Rektor Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan Dr. Abdul Haris menyampaikan bahwa dalam bekerja terdapat lima prinsip yang perlu dikembangkan guna menghidupkan budaya kerja Islami di UMM. Lima prinsip itu yakni, kerjaku adalah ibadahku, kerjaku adalah wujud kemanfaatan diriku untuk orang lain, kerjaku adalah cermin diriku sebagai muslim dan prestasi kerjaku adalah sumbangan untuk kemajuan umat Islam dan Islam. “Terakhir, tanamkan dalam diri kita bahwa hasil kerjaku adalah untuk kehidupan dunia dan akhiratku,”tandas Haris. Di samping itu Haris juga meyampaikan bahwa dengan berkhidmat harapannya para civitas akademika UMM dapat menjadi umat yang mendapat simpati Allah. Adapun ciri-ciri orang yang mendapat simpati Allah menurut Haris yaitu, selalu mengembangkan dan memperbaiki kualitas iman dan takwanya, selalu membudayakan kebaikan, segera menyadari kesalahan dan melakukan istighfar serta selalu membudayakan syukur terhadap nikmat Allah. “Kita juga harus saling mencegah kemungkaran,”tegasnya. Safari Ramadhan merupakan rangkaian acara dari Syiar Ramadhan yang digelar selama sebulan penuh Ramadhan 1439 Hijriyah ini. Selain Safari Ramdhan, terdapat pula agenda lain seperti Semarak Masjid, Tadarus Ramadhan, Dialog Lintas Generasi, Baitul Arqam dan Bakti Sosial.
Mahasiswa UMM Buat Aplikasi Majas Berbasis Android

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (PBSI UMM) menciptakan sebuah aplikasi yang dapat membantu pelajar memahami jenis-jenis majas atau gaya bahasa. Majas biasanya menjadi salah satu materi di pelajaran Bahasa Indonesia siswa SD-SMA. Berangkat dari sini Dini Anggita Sumantri dan Wulan Ria Anggraini menciptakan aplikasi majas berbasis android guna menunjang pembelajaran siswa. “Nama aplikasinya 1001 Majas. Tujuan aplikasi ini untuk membantu murid, terutama anak SD agar mereka mudah mengenali majas,” ujar Dini penggagas aplikasi itu. Dini menambahkan, ide pembuatan aplikasi ini muncul dari fenomena akrabnya anak zaman sekarang dengan gadget atau android dibanding buku. Untuk mewujudkan inovasi aplikasi majas tersebut, Dini dan Wulan mengajak seorang mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik UMM bernama Shodiq Imam Purnomo ke dalam tim untuk mematangkan konsep. Menyadari bahwa ketiganya belum begitu mahir membuat dan menyempurnakan isi dalam aplikasi, mereka pun berinisiatif mencari bantuan. Untuk pembuatan aplikasi, ketiganya menggandeng mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Farih Nazihullah sedangkan konsep isi aplikasi maupun komik mereka dibantu oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Faisal Hidayat. Berkat kolaborasi apik ini, aplikasi yang direncanakan pun berhasil terwujud. Wulan mengurai, aplikasi yang digagasnya bersama tim memiliki tiga menu utama, yaitu materi, permainan, dan komik. Tiga menu utama tersebut sengaja mereka kemas ke dalam satu aplikasi guna membuat pengguna betah belajar majas. Dalam menu permainan terdapat tiga pilihan yaitu, Sang Jagoan, Teka-Teki Silang, dan Jodoh Kata. Sedangkan dalam menu komik disediakan jenis lain yang tak kalah menarik. “Yang ini, majasnya di masukkan ke dalam cerita,” kata Dini mahasiswa asal Sangatta Kalimantan Timur ini. Saat ini, tim tersebut kini sedang menyiapkan 20 cerita untuk dimasukkan dalam aplikasi komiknya. Komik yang sudah terangkai nantinya akan disusun dalam aplikasi. “Aplikasi ini kami ajukan dalam PKM 2018 Bidang Karsa Cipta. Kami juga mengusahakan aplikasi ini bisa di download di play store dan app store segera,” kata Wulan. (apn/sil)
Sempat Jadi Penerjemah Tentara Amerika, Anno Raih Beasiswa Studi Master di Kanada

Berbekal pengalaman internasional, usal lulusAnno raih Beasiswa LPDP di McGill University, Kanada Septifa Leiliano Ceria tak pernah menyangka sebelumnya, penelitiannya di strata satu (S1) jurusan Syariah tentang imigran Suriah di Kanada bakal benar-benar membawanya terbang ke negara paling utara di Amerika Utara itu. Melalui seleksi penerimaan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Anno, begitu ia akrab disapa, pada akhir tahun ini bakal memulai petualangan barunya studi master di McGill University, Kanada. “Saya ngambil Hukum Islam di Kanada karena ingin tahu perspektif lain. Soalnya kalau belajar hukum Islam di Indonesia sama aja kayak di Timur Tengah,” terang perempuan kelahiran Blitar dua puluh empat tahun silam ini. Semasa kuliah S1 di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM), Anno memang sudah banyak ditempa dalam berbagai agenda internasional. Ia pun mengaku lebih siap untuk hidup berdampingan dengan masyarakat internasional yang bakal dijumpai saat memulai studi masternya nanti. Sebutlah pada tahun 2015, Anno terpilih sebegai penerima beasiswa dari Kementerian Agama dalam Student Mobility Program di Universitas Western Australia, Perth, Australia. Tak kalah hebat, di tahun 2016 Ia juga sempat menjadi salah satu penerjemah bagi tentara Amerika Serikat (US Army) saat melakukan latihan gabungan dengan tentara Indonesia. Anno yang berlatar pendidikan Hukum Keluarga Islam serta sudah memiliki berbagai pengalaman sukarelawan itu, seberes kuliah di Kanada, setidaknya mempunyai tiga target. Target pertama yakni akan melanjutkan mengajar di perguruan tinggi dalam bidang Hukum Islam sekaligus menjadi agen perdamaian antar agama. Kedua, Anno bertekad untuk ikut membantu mengatasi permasalahan agama di berbagai daerah terpencil khususnya bidang keluarga Islam. Ketiga, Ia ingin mendirikan lembaga sosial yang bergerak di bidang keluarga Islam untuk memperbaiki hukum perkawinan di Indonesia. Serta, lewat aksinya itu diharapkan bakal turut mengurangi angka perceraian untuk mengurangi dampak negatif terhadap anak-anak. Saat ini, Anno masih tercatat sebagai pengajar English for Sharia dan English For Islamic Studies di Lembaga Bahasa UMM. Menariknya, Anno merupakan satu-satunya pengajar dari bidang non bahasa Inggris, mengingat mahasiswa jurusan agama membutuhkan pemahaman Bahasa Inggris yang lebih guna menunjang mereka dalam memahami literatur asing. Bagi Anno, hidup selalu didasari dengan tujuan-tujuan terorganisir yang ingin dicapai. Dahulu Ia merasa bahwa seseorang yang sukses itu adalah yang memiliki pekerjaan terpandang, dapat memiliki apapun dan hidup tanpa masalah. Namun dari sang Ayah, Ia belajar bahwa rahasia sukses adalah belajar bagaimana mengelola penderitaan dan kesenangan. “Kesuksesan adalah proses panjang melewati kegagalan dan kebahagiaan untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kita,” tutup Anno di akhir wawancara. (can/ sil)
Rawat Toleransi Suku, Budaya, dan Etnis UMM Eratkan Tali Persatuan Bangsa

Di tengah maraknya isu-isu keamanan yang menyangkut intoleransi hidup dalam beragam suku, budaya, dan etnis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pionir untuk merawat toleransi tersebut. Berlangsung hangat, kegiatan silaturahim dan berbuka puasa bersama masyarakat etnik Tionghoa yang tergabung pada Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) Malang dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjadi energi ekstra bagi UMM untuk membangun kekuatan di tengah keberagaman. Hadir dalam acara ramah-tamah ini, Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) RI Abdul Malik Fadjar yang menekankan bahwa keragaman adalah kunci untuk menyusun kekuatan dalam berbagai aspek kehidupan. “Keberagaman adalah rahmat yang harus disyukuri dengan merawat toleransi sebagai kunci utamanya,” papar Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) periode 2001-2004 tersebut. Kegiatan yang telah dilaksanakan untuk kedua kalinya ini, memberikan kesan tersendiri bagi keluarga INTI Malang Raya. Perwakilan INTI Malang Raya Widodo Harsono mengharapkan agenda ini tidak hanya menjadi sebuah seremonial, namun juga sebuah langkah awal bagi kedua belah pihak untuk membuka jalan kerjasama dan menjadi keluarga besar. “Semoga dengan dilaksanakannya acara ini tidak hanya menjadi sebuah seremonial semata, namun juga akan menjadi langkah awal bagi kami (red. keluarga INTI Malang Raya) untuk bisa membangun tali persaudaraan,” tutur Widodo. Melengkapi kekhidmatan acara, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Malang Taufiq Kusuma menyampaikan apresiasinya pada UMM yang telah menghelat acara dengan tujuan merawat toleransi beragam suku, budaya, dan etnis. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada UMM atas digelarnya acara ini menunjukkan kampus Islam sangat berperan besar dalam menegakkan toleransi sebenarnya,” paparnya. Menjadi bagian dari pemegang estafet perbadaban bangsa, Muhammadiyah melalui wadah pendidikannya UMM terus merawat toleransi yang selaras dengan amanat sila ketiga yakni “Persatuan Indonesia”. (nis/ sil)
Disiplin Organisasi Menjadi Kunci Pesatnya Perkembangan Muhammadiyah

Setelah mengikuti diskusi yang dihadiri Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014 Hajriyanto Y. Thohari, Cagub Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf serta beberapa tokoh lain Sabtu kemarin, peserta Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur hari ini mendapat kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2015-2020 Bidang Pendidikan Tinggi Muhadjir Effendy. Muhadjir yang saat ini juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ini mengupas masalah ideologi pada setiap individu yang sudah mati dan berganti menjadi ideologi uang. Hal ini berlaku di berbagai bidang, termasuk di dunia politik. “Politik itu kan urusan keduniaan, dan urusan keduniaan salah satunya adalah materi,”ujarnya di UMM Dome, Minggu (20/5). Lebih dalam Muhadjir menyampaikan, jika Muhammadiyah ingin turut serta terjun ke dunia politik maka mau tidak mau juga harus kuat secara materi. Meski demikian, hal-hal substansial yang menjadi pedoman organisasi tidak boleh ditinggalkan. “Tentu saja dengan nilai-nilai yang tetap menjadi pegangan Muhammadiyah,” paparnya. Muhadjir juga menyampaikan, saat ini warga Muhammadiyah masih banyak yang menganggap materi bukan hal utama yang harus diraih. Ia pun menyayangkan, jika karena pandangan tersebut di era ini Muhammadiyah belum memiliki kekuatan materi yang cukup besar besar. Padahal kekuatan materi menjadi kunci bagi Muhammadiyah dapat melakukan banyak hal. “Tapi di sisi lain, Muhammadiyah itu punya modal yang luar biasa yaitu disiplin organisasi,” ungkapnya. Selanjutnya, Muhadjir juga menyampaikan jika organisasi Muhammadiyah mampu berkembang hingga saat ini lantaran ditunjang oleh berbagai amal usaha. Amal usaha ini tidak lain merupakan buah dari kedisiplinan organisasi. “Kalau mendengar Muhammadiyah kaya, itu yang kaya pasti organisasinya. Terutama amal-amal usahanya,”tegasnya. Masih membahas hal yang sama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2005 – 2015 Din Syamsudin menekankan bahwa sebelum terjun ke dunia politik, Muhammadiyah harus mengerti terlebih dahulu tentang apa itu politik nilai. Ia pun memaparkan, sebuah definisi yang sudah meluas dan dipraktikkan hingga sekarang oleh partai-partai politik dan para politisi dalam hal merebut posisi-posisi strategis di arena kekuasaan. Definisi tersebut dikutipnya dari pakar politik Amerika Serikat, Harold D. Laswel yang berbunyi, Politics is who gets what, when, how. Ia pun berharap hal ini dapat menjadi referensi sepak terjang Muhammadiyah dalam dunia politik. “Politik berhubungan dengan siapa, mengambil atau merebut apa, kapan, dan bagaimana,” pungkas Din.