Asah Kemampuan Wirausaha Mahasiswa, UMM Gelar Bazar Murah Ramadan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya mengedukasi mahasiswa melalui teori tetapi juga dengan praktik di lapangan. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) angkatan 2017 misalnya, yang dituntut untuk dapat melakukan praktik kewirausahaan. Meskipun masih menempuh semester dua, para mahasiswa ini sudah mulai diajak untuk mengasah kreatifitas. Tidak hanya itu, para mahasiswa ini juga dilatih untuk jeli melihat peluang usaha yang dapat dijalankan. Mereka bahkan harus melakukan observasi pasar untuk mengidentifikasi dan membandingkan antara pasar tradisional dan pasar modern. “Dari semua praktikum itu kita disuruh untuk mencari peluang usaha baru dengan ide kita sendiri lalu dibuat sendiri dan dijual di area kampus,” jelas Dendy Purwedi, salah satu mahasiswa semester dua Agribisnis UMM. Memperkuat semangat tersebut, hari ini Selasa (5/6) berlokasi di depan Laboratorium Biologi UMM, Laboratorium Agribisnis dan Prodi Agribisnis menggelar Bazar Murah Romadhon 1439 Hijriyah. Terhitung sebanyak empat kelas mahasiswa Agribisnis membuka stand untuk menjual berbagai produk, mulai dari kuliner seperti lumpia, kurma, kopi, aneka kripik hingga pakaian dan aksesoris lainnya. Bersemangat menjajakan produknya, beberapa barang di stand mahasiswa ini laris terjual, utamanya produk parfum dan makanan ringan. Salah satu peserta bazar Rafiudin Fahri juga merasakan bahwa antusias pengunjung cukup besar. Mahasiswa ini menjual kopi olahan sendiri yang terdiri dari tiga macam yaitu arabica yang memiliki rasa kecut dan asam, kopi robusta yang memiliki rasa pahit, dan kopi excelsa dengan rasa buah-buahan. Dia pun mengaku bersemangat mengikuti bazar hari ini. “Saya berjualan kecil-kecilan, yang memproses kakak saya sedangkan yang bermitra dengan petani saya dan kakak,” ungkap Fahri saat ditanyai perihal proses pengolahan kopi hingga menjadi kemasan yang siap dijual. Tidak main-main dengan usahanya, di akhir Fahri mengaku bahwa kini ia sudah berhasil mendistribusikan kopinya ke 15 kafe di Malang “Sudah ada di 15 kafe di Malang Raya,”pungkasnya.
UMM Gelar Bedah Buku Media Politik, Politik Media

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar dan bedah buku berjudul: Media Politik, Politik Media karya Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad di Aula BAU, Senin (4/6). Bedah buku ini dihadiri pengamat komunikasi politik, Dr Suko Widodo dosen Universitas Airlangga dan Dr. Rinikso Kartono M,Si pengamat politik sekaligus Dekan FISIP UMM. Buku ini berisi tentang bagaimana memahami perilaku memilih, apa saja yang memengaruhi faktor memilih, dan sejauh mana media massa bisa memengaruhi perilaku memilih. Menariknya, Kurniawan juga mengungkapkan beberapa data-data terkait bacaan yang paling disukai pembaca. “Ternyata yang paling disukai adalah berita tentang tokoh atau pemimpin parpol, perbandingannya itu cukup ekstrim. 70,2 persen menyukai berita parpol dan rubrik yang paling banyak tidak disukai adalah fatwa ulama 22,5 persen,” terangnya. Fatwa ulama yang dimaksud seperti berita-berita yang menginformasikan untuk memilih orang tertentu. “Itulah malah yang tidak disukai pembaca,” lanjutnya. Kepala Pusat Kajian Sosial Politik (KPKSP), Nurudin mengatakan bahwa buku tersebut bisa menjadi literatur mahasiswa. Selain itu, buku ini berisikan penjelasan tentang pengaruh tingkat keterbacaan rubrik khusus di harian Jawa Pos terhadap perilaku memilih konsumen media dalam pemilu 2009. “Penulis memang menginginkan launching buku Media Politik, Politik Media ini di kampus-kampus. Dan UMM mendapat kesempatan pertama untuk tempat launching,” pungkas Nurudin. (apn/sil)
Tadarus Ramadhan, Kobarkan Spirit Dakwah Muhammadiyah

Sebagai kampus bernafaskan Islam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengupayakan agar seluruh civitas akademika baik dosen maupun karyawan mempunyai pengetahuan Islam yang utuh. Setiap tahun di Bulan Ramadhan, UMM menggelar Tadarus Ramadhan dengan konsep kajian yang rutin dilaksanakan setiap minggu. Selain sebagai kegiatan me-recharge ulang iman di Bulan Ramadhan, acara ini juga sebagai upaya merekatkan kembali silaturrahim yang sempat terputus di saat-saat kesibukan kerja. Rektor UMM Fauzan berharap kegiatan ini tidak hanya terlaksana saat Bulan Ramadhan saja, tetapi juga di bulan-bulan yang lain. “Tadarus Ramadhan kali ini bisa dikonsep dua minggu sekali, dan berkelanjutan meskipun bukan Bulan Ramadhan,” ujarnya saat sambutan. Dalam acara yang berlangsung Sabtu (2/6) Fauzan menyampaikan bahwa keberlangsungan UMM ada di tangan civitas akademika kampus. Oleh karenanya Fauzan mendorong para dosen dan karyawan untuk memegang tanggungjawab moral serta ideologi Muhammadiyah. Sementara itu, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jatim Moh Nur Hakim mengatakan bahwa segala bentuk usaha yang dilakukan Muhammadiyah tidak lain adalah misi dakwah gerakan Muhammadiyah sendiri. Demikian juga dengan UMM yang merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah. “Apapun profesi kita di Muhammadiyah, ingatlah bahwa kita membawa misi dakwah Muhammadiyah,” pungkasnya. (apn/sil)
19 Jam Berpuasa, 3 Mahasiswa UMM Rasakan Istimewanya Ramadhan di Polandia

Memeriahkan Ramadhan di Poznan, Tata bersama teman-teman PPI Poznan gelar bazar makanan khas Indonesia saat jelang waktu berbuka. Naiknya suhu udara di Poznan menandakan bahwa musim panas akan segera tiba. Di tengah kesibukkan untuk mengatur waktu istirahatnya, Tata Budhi Prasetyo mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbagi kisahnya menjalani puasa di salah satu kota di Polandia tersebut. Dalam suasana perbedaan waktu hampir lima jam, Tata sangat bersemangat membagi kisah puasa di negara rantauannya itu. “Alhamdulillah dengan banyak halangan dan rintangan bisa menjalani puasa hampir dua minggu ini,” ungkapnya dengan nada bercanda. Setelah hampir empat bulan berada di Polandia, Tata telah sejak lama mempersiapkan dirinya untuk bisa menjalankan ibadah puasa di negara dengan empat musim. Walaupun puasa kali ini bukan puasa pertamanya di negara lain, namun Tata mengaku sangat kualahan mengatur waktu istirahatnya dengan waktu santap sahurnya. “Dulu sudah pernah puasa di Singapura tapi gak sesulit ini atur waktu tidur sama sahur,” tuturnya. Mahasiswa asal Malang, Indonesia ini mengaku hanya memiliki waktu enam jam untuk berbuka, sholat tarawih, istirahat, dan sahur. “Lumayan berat atur waktu berbuka dan sholat tarawihnya soalnya singkat banget waktunya,” ucapnya. Semakin mendekatnya musim panas menjadikan waktu siang di negara tersebut semakin lama, yakni sekitar 19 jam. Tata mengakui bahwa di awal puasa ia lebih sering menghabiskan waktu siangnya di area perpustakaan kampus untuk mencari udara dingin. “Paling gak produktif itu awal-awal tiga empat hari puasa, kerjaanku cuma diam di perpustakaan cari angin dingin dari AC,” ceritanya dengan tertawa. Menjadi minoritas di Negara Renaissance ini tidak menyurutkan semangat beribadah Tata. Bersama teman-teman yang tergabung di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Poznan, Tata membuat acara buka bersama warga Poznan. “Ini biar gak mager terus dan semangat puasa akhirnya buat bazar makanan khas Indonesia untuk dinikmati bersama warga Poznan saat waktu buka puasa,” jelasnya. Sementara itu, berbeda dengan Tata, dua dara cantik yang juga mahasiswa UMM Elisa Kusno dan Rosida Dewi Faizatul juga memiliki kisah unik puasa bersama warga Polandia dan Romania. Setelah selesai mengikuti kelas bahasa Romania, Oci sapaan akrab Rosida Dewi dengan semangat menuturkan kisahnya saat diajak berdiskusi tentang sejarah puasa. “Mereka baru sadar aku puasa itu hari ke dua atau ke tiga yah, aku lupa, tapi waktu mereka tahu mereka langsung tanya-tanya soal puasa,” cerita mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM ini. Berbeda halnya dengan Oci, Elisa mahasiswa Program Studi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) mendapatkan perhatian lebih dari teman-teman asrama dan kelasnya. Ia juga mengaku bisa sampai setiap menit menjawab pertanyaan teman-temannya tentang kondisinya selama berpuasa. “Mereka jadi lebih perhatian gitu ke aku, tiap menit aku jawab pertanyaan mereka tentang kondisiku yang masih sehat atau gak karena puasa,” terang Elisa sambil tertawa. Meskipun, jauh dari sanak keluarga, ketiga mahasiswa UMM Program Erasmus+ ini mengaku puasa mereka di negeri Eropa sangat berkesan. Mulai harus melupakan jauh-jauh agenda buka bersama dengan teman-teman kelas, sahur on the road, hingga antri takjil gratis di Masjid. “Sedih banget waktu lihat grup kelas mengagendakan buka bersama tapi aku harus absen. Untungnya di sini suasana kekeluargaanya sangat terasa,” ungkap Oci. (nis/sil)
Rawat Kebhinekaan, UMM Gelar Pengabdian di Wilayah Multikultural

Adalah tugas dan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat untuk memastikan bahwa Pancasila selalu hadir dalam setiap sudut kehidupan. Semangat ini pun dimaknai secara konkrit oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kemajemukan kepercayaan, adat istiadat, dan budaya di Desa Jambuwer Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang menjadi daya tarik tersendiri bagi UMM untuk mengabdi di tempat tersebut. “Wilayah ini dipilih karena kami (red. panitia) memaknai agenda ini sebagai upaya konkrit UMM dalam merawat Pancasila,” tutur ketua pelaksana kegiatan Bakti Sosial Syiar Ramadan UMM Zakarija Achmat. Kehadiran UMM dalam agenda Bakti Sosial ini mendapatkan sambutan hangat dari seluruh masyarakat. Sekitar 200 orang yang merupakan masyarakat kurang mampu hadir dalam pembagian sembako dan pemeriksaan kesehatan gratis. Menurut Kepala Urusan (Kaur) Bidang Kesejahteraan Masyarakat Desa Jambuwer Mochammad Asrori kehadiran UMM adalah berkah bagi seluruh warga Jambuwer baik muslim maupun non-muslim. “Kehadiran UMM ini memberikan berkah bagi seluruh warga di Jambuwer, yang muslim iya yang enggak juga iya,” jelasnya. Desa Jambuwer dipilih sebagai lokasi pengobatan gratis dan konsultasi kesehatan karena jarak akses kesehatan di wilayah ini cukup jauh. Masyarakat harus menempuh kurang lebih 10-12 kilometer untuk dapat sampai di balai kesehatan terdekat seperti rumah sakit atau puskesmas. “Sangat sulit, dari rumah saya saja untuk ke bidan terdekat jaraknya 10 kilo kalau mau ke rumah sakit makin jauh,” cerita salah satu warga Jambuwer Ira Setyowati. Menyempurnakan gelaran baksos, Mobil Pintar milik UMM juga turut hadir memeriahkan agenda tersebut. Misi utamanya, untuk mendampingi putra-putri masyarakat sekitar yang mengikuti agenda bakti sosial. “Kami juga mengajak anak-anak disana untuk mewarnai bersama-sama. Ketika selesai mewarnai, mereka meminta pensilnya di bawa pulang dan memang kita kasih free perlengkapan menggambarnya,” ujar Koordinator Acara Menggambar Mobil KaCa UMM Hana Rosmalia Alfia. (nis/sil)
Ngabu Bookread Ala Mobil KaCa UMM Bersama Novelis Luluk HF

Masih ingat dengan film EL yang tayang bulan April hingga awal Mei lalu? Nah, Kali ini Mobil KaCa (Kamis Membaca) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajak penulis novel EL yang difilmkan tersebut untuk “Ngabu bookread” bersama. Ngabu Bookread merupakan salah kegiatan literasi spesial Ramadhan dari Mobil KaCa UMM yang memfasilitasi para pengunjung dari berbagai kalangan untuk membaca santai sembari menunggu waktu berbuka puasa. Bertempat di depan Taman Krida Budaya Jl. Soekarno Hatta Kota Malang, Mobil KaCa mulai mengaspal Kamis, (31/5) pukul 15.30 WIB. Bersama penulis Novel EL, Luluk HF, acara berlangsung meriah dan menyenangkan. Pengunjung tidak hanya dapat membaca buku tetapi juga mendapat ilmu seputar menulis buku langsung dari Luluk HF. Penulis yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomindn Bisnis UMM ini berbagi banyak pengalaman dan tips menulis cerita kepada para pengunjung. Pada kesempatan kali ini, sebagian besar pengunjung merupakan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka adalah pengagum Luluk dan novel-novel tulisan Luluk di Wattpad, Firi dan Cindy contohnya. Dua anak SMPN 3 Malang ini tak tanggung-tanggung pergi ke Taman Krida usai pulang sekolah untuk menemui penulis kesukaannya. “Aku suka baca tulisannya Kak Luluk karena alurnya yang nggak mudah ditebak,” jawab Firi siswi yang masih duduk di kelas 1 SMP. Selain Firi dan Cindy, ada juga Yuandani siswi kelas 2 SMP Wahid Hasyim yang sejak awal datang duduk manis membaca buku di bangku yang disediakan mobil KaCa UMM. Yuandani mampir membaca buku sembari menunggu ibunya yang berjualan takjil di pinggir jalan Taman Krida. Melalui semangat literasi Luluk berpesan pada pengunjung untuk terus mengasah kemampuan menulis selagi masih muda. Baginya, menulis bukanlah perkara sulit jika sering diasah. Banyak berlatih menulis dan juga sering membaca adalah dua hal yang ia tekankan pada pengunjung. “Kalau mau nulis tetap harus baca dulu, karena setinggi apapun imajinasi kita tapi kalau tidak pernah membaca akan susah mengawali tulisan,” pungkasnya. (apn/sil)
Direktur Rumah Sakit Baptis Batu Paparkan Peluang Pekerja Sosial Medis

Masalah sosial banyak terjadi di masyarakat, tapi sedikit sekali yang mengetahui masalah sosial yang terjadi di lingkungan rumah sakit. Di sinilah para pekerja sosial memiliki andil yang besar dalam mengelola maupun memecahkan masalah pasien. “Pekerjaan sosial adalah sebuah proses yang diperoleh melalui pendidikan. Memiliki nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan dalam peningkatan individu dan masyarakat,” ujar direktur Rumah Sakit Baptis Batu, dr. Dolly Irbantoro, MMRS pada kuliah tamu program studi (prodi) Kesejahteraan Sosial (Kesos). Menurutnya, peran pekerja sosial sangat penting dalam hal medis, sehingga ilmu pekerja sosial menjadi salah satu konsentrasi di jurusan ilmu kesejahteraan sosial. Berkaitan dengan tema Prospek Pekerja di Bidang Kesehatan, Rabu (30/5) Irbantoro mengungkapkan bahwa banyak penyakit tidak hanya diakibatkan oleh biologis atau psikis tapi juga karena masalah sosial. Di situlah peranan pekerja sosial terutama alumni Kesos diharapkan mampu mengatasi maupun meminimalisir masalah pasien. “Sebenarnya, penyakit itu muncul bukan hanya karena faktor fisik, biologis semata, melainkan juga dari faktor sosial budaya,” jelasnya. Selama ini pihak rumah sakit merasa kesulitan dalam menangani permasalahan sosial yang terjadi pada pasien. Kemampuan pekerja kesehatan sangat kurang bila dituntut untuk menangani masalah sosial pasien. Namun, dengan adanya pekerja sosial medis, hal tersebut dapat lebih mudah diatasi. Kuliah tamu yang diawali dengan penandatanganan MOU itu bertujuan menjalin kerjasama dalam hal penempatan praktikum mahasiswa Kesos di Rumah Sakit Baptis Kota Batu. Pihak Rumah Sakit senang atas terjalinnya kerjasama antara prodi Kesos dengan Rumah Sakit. Begitu pun dengan ketua program studi (prodi) ilmu kesejahteraan sosial, Dr. Oman Sukmana, M.Si. yang mengharapkan bahwa kerjasama ini menguntungkan baik bagi jurusan maupun rumah sakit. “Dari kerjasama ini kami berharap antara prodi dan pihak rumah sakit akan sama-sama saling memberikan keuntungan,” tutur Oman Sukmana, Kaprodi Kesejahteraan Sosial UMM. (apn/ sil)
Lancarkan Komunikasi Akademik dengan Orang Tua, UMM Luncurkan My UMMforParents

Tingginya peningkatan penggunaan aplikasi digital dalam berbagai aspek pekerjaan menuntut berbagai instansi, utamanya pendidikan untuk akrab dengannya. Begitupula dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setelah sukses menggunakan aplikasi PMB UMM dan UMM Booklet pada penerimaan mahasiswa Jalur Prestasi I dan II, kini UMM kenalkan aplikasi khusus orang tua wali mahasiswa. “Aplikasi ini dirancang untuk membuka komunikasi dua arah antara orang tua wali mahasiswa dan pihak kampus,” jelas kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Rahmad Wijaya. Hadirnya aplikasi yang diberi nama My UMMforParents ini merupakan pusat informasi bagi orang tua wali mahasiswa UMM. Dalam aplikasi ini tersedia sembilan informasi terkait aktivitas mahasiswa UMM sejak semester awal hingga semester akhir diantaranya informasi tentang Dosen Wali, Keuangan, Kartu Rencana Studi (KRS), Jadwal Kuliah, Presensi, Kartu Hasil Studi (KHS), Transkrip Nilai, Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Tugas Akhir. Diluncurkannya aplikasi ini juga memberikan banyak kemudahan bagi orang tua wali mahasiswa dalam mengenal lebih dalam aktivitas-aktvitas putra-putrinya dalam lingkungan kampus. Salah satu kemudahan untuk menjalin kerjasama baik dengan universitas adalah dengan disediakannya informasi kontak dosen wali. Para dosen wali tersebut pada setiap awal dan akhir semester, juga akan memberikan informasi tentang perkembangan belajar mahasiswanya. Tidak hanya itu, My UMMforParents juga menyediakan menu Keuangan. Orang tua dapat melihat status keuangan mahasiswa di semester awal hingga semester akhir. Menu ini mempermudah orang tua dan mahasiswa dalam merencakan keuangan selama proses belajar. Selanjutnya, menu KRS, pilihan menu kedua ini memberikan informasi tentang daftar mata kuliah yang akan diambil oleh mahasiswa dalam satu semester. Setelah merencakan mata kuliah dalam satu semester, mahasiswa akan memperoleh jadwal kuliah yang juga dapat diakses langsung oleh orang tua melalui aplikasi ini. Tidak hanya jadwal kuliah, orang tua juga dapat memantau kehadiran putra-putrinya melalui menu Presensi yang juga tersedia dalam aplikasi My UMMforParents. Sementara itu, jika sebelumnya UMM mengirimkan KHS setiap mahasiswa ke masing-masing alamat asal mahasiswa di akhir semester, kini orang tua tidak perlu lagi menunggu bentuk fisik KHS untuk dapat mengetahui hasil belajar putra-putrinya. Dengan mengakses menu KHS pada My UMMforParents informasi tentang hasil studi mahasiswa dalam satu semester dapat diakses sewaktu-waktu. Bahkan, aplikasi ini juga menyediakan akumulasi nilai sementara mahasiswa UMM dalam aplikasi Transkrip. Sebagai kampus yang unggul dalam bidang pengabdian, di semester tujuh mahasiswa UMM diwajibkan untuk memrogram mata kuliah KKN. Orang tua pun juga dapat mengakses informasi tentang wilayah dan jadwal putra-putrinya saat melaksakan kegiatan KKN. Selesai menjalankan pengabdian masyarakat melalui kegiatan KKN, mahasiswa pun harus kembali dan segera menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi. Aplikasi ini juga dapat membantu orang tua dalam memantau perkembangan tugas akhir mahasiswa. (nis/ sil)
Tahun Ajaran 2018/2019 Fikes UMM Buka Program Profesi Fisioterapi

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam waktu dekat segera melengkapi program pendidikan keprofesiannya. Setelah sebelumnya Profesi Ners dan Apoteker, kali ini giliran profesi fisioterapi bakal masuk dalam daftar program pendidikan keprofesian yang dimiliki Fikes UMM. Penyelenggaraan pendidikan profesi fisioterapi merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 80 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pekerjaan dan praktik fisioterapis. Ditargetkan mulai tahun ajaran 2018/2019, pendidikan profesi fisioterapi ini akan mulai menerima pendaftaran bagi mahasiswa baru atau lulusan sarjana fisioterapi UMM sendiri. “Kita saja (strata 1 fisioterapi.red) yang baru buka 2012 ini satu angkatan sudah lulus. Namun ketersediaan program profesi fisioterapi di Indonesia yang terbatas itu mengakibatkan lulusan strata 1 fisioterapi tidak diperbolehkan bekerja,” terang Kepala Program Studi yang merupakan ketua tim taskforce pendirian profesi Fisioterapi, Atika Yulianti, SST., Ft., M.Fis. Sementara di Indonesia sendiri, setidaknya baru lima perguruan tinggi yang memiliki program profesi fisioterapi. Di antaranya Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Solo, Universitas Udayana Bali, Universitas Hasanudin (Unhas) Makasar, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selain sarana dan prasarana sebagai syarat instrumen pendiriannya, juga dibutuhkan 12 staf pengajar yang berlatar belakang sarjana fisioterapis dan master fisioterapis dengan latar belakang biomekanik; olahraga; Keamanan, Kesehatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan lainnya. “Didirikannya pendidikan program profesi fisioterapi sebagai tantangan, juga lahan kami untuk menjadikan fisioterapi lebih berkembang lagi. Mahasiswa juga diharapkan mengenalkan fisioterapi ke daerah-daerah. Karena bagaimanapun di Jawa Timur sendiri profesi fisioterapi ini sangat terbatas, tidak seperti di daerah-daerah lainnya,” ungkapnya. Salah satu upaya yang juga dilakukan untuk menopang pendirian program ini, Fikes UMM mengirim staf pengajarnya ke sejumlah perguruan tinggi di luar negeri untuk mengambil studi doktoral. Di antaranya Dimas Sondang Irawan, SST.,Ft.,M.Fis di Mahidol University Thailand, dan Rakhmat Rosadi, SST. Ft., M.Sc. (PT) di National Cheng Kung University, Taiwan. (Humas UMM)
Inovasi Anjungan Informasi Mandiri UMM, Permudah Mahasiswa Selesaikan Skripsi

Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menyiapkan fasilitas baru bagi mahasiswanya. Prodi yang sudah ada sejak tahun 1983 ini baru saja meluncurkan sebuah alat yang diberi nama AIM (Anjungan Informasi Mandiri). Munculnya AIM ini disebut-sebut akan sangat memudahkan komunikasi antara pihak prodi dan mahasiswa. “Karena komunikasi adalah satu hal yang penting, maka kami sediakan alat ini,” ujar Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika UMM. Segala informasi terkait kegiatan-kegiatan prodi dimuat dalam sistem AIM, termasuk di dalamnya informasi jadwal bimbingan bagi mahasiswa yang sedang menempuh skripsi. “Mahasiswa bisa mengoperasiannya sendiri. Kalau mau daftar bimbingan bisa lewat situ tanpa harus menempel kertas secara manual,” tambahnya. Walaupun baru dioperasikan sejak Maret lalu, mahasiswa sudah mulai merasakan banyak manfaat dari kehadiran AIM. Mela Agustina salah satunya. Mahasiswa tingkat akhir yang tengah menyelesaikan tugas akhir ini mengaku, keberadaan AIM sangat menghemat waktu. Bukan hanya itu, akses informasi dari pihak jurusan utamanya, kini menjadi lebih mudah. Antrian untuk mengikuti bimbingan juga lebih teratur. “Kalau sebelumnya kan kita harus antri panjang. Ngantrinya juga manual nulis di kertas,” ujar mahasiswa angkatan 2014 ini. Sukses di awal masa oeluncurannya, pihak Prodi Matematika kini tengah mengusahakan AIM agar bisa diakses melalui aplikasi di telefon pintar. “Karena sekarang semuanya serba android, mangkanya kami sedang mengusahakan agar AIM bisa diakses mahasiswa lewat telefon pintarnya masing-masing,” tutup Mahfud. (Humas UMM)