Terus Pelihara Cita-cita, Meski Terhalang Dana

Kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga yang seperti apa, miskin atau kaya. Tapi kita punya pilihan untuk memenentukan jalan hidup kita. Hal ini menjadi “pegangan” bagi Erfina Wisudawan Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) yang meraih Wisudawan Terbaik Pertama Tingkat Fakultas dan Wisudawan Terbaik Ketiga Tingkat Universitas. Fina lulus dengan IPK hampir sempurna, 3,95. Mengalami kendala finansial, tidak membuat Fina demikian panggilan akrabnya lantas putus harapan dalam mengenyam pendidikan. Usai lulus SMP, Erfina berusaha mencari “jalan” untuk terus dapat bersekolah. Pucuk dicinta, ulam tiba. Saat menjelang kelulusan, sekolah Fina, demikian panggilan akrabnya mendapat kunjungan dari sebuah SMA swatsa yang menawarkan beasiswa pendidikan, biaya hidup hingga pemodokkan. Ia pun kembali meneruskan mimpinya. “Usai SMA, ternyata ada pengumuman bahwa UMM yang kampus swasta ternyata menerima Beasiswa Bidik Misi juga. Saya pun mencoba. Dari sekitar 500 pendaftar, 20 diantaranya diterima dan saya salah satunya,”ujar Fina. Memutuskan mengambil Prodi Sosiologi, Fina yang sebelumnya belajar di jurusan IPA di SMA agak kesulitan dan ketinggalan dari teman yang lain. Ia pun  mencari jalan dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan kampus, yakni internet gratis. Maklum saja, uang saku yang diterima Fina dari orang tuanya hanya 50 ribu rupiah setiap bulannya. “Internet gratis di Perpustakaan sangat membantu. Dari sini saya mulai mencintai Sosiologi,”ujar anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Menempuh studi dengan dukungan beasiswa, tidak lantas membuat Fina berleha-leha. Smabil terus mempertahankan kualitas belajar, Fina juga mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler di kampus. Fina bertekad, meski ayahnya hanya seorang buruh pabrik dan kedua kakanya hanya sekolah hingga SMA, Fina harus terus mengayuh semangat untuk berbagai mimpi. “Saya ikut berbagai ektra, mulai dari IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiya.red.), Jamaah Al Faruq, hingga JF (Jmaah AR Fachruddin.red). Saya selalu ingat pesan ibu, Nduk sekolah sing pinter biar gak kayak bapak dan ibu yang hanya sekolah sampe SD. Ini makanya saya semangat ikut banyak kegiatan, ”tambah gadis yang bercita-cita menjadi tenaga pengajar ini. Tidak hanya mengikuti berbagai ektra di UMM untuk meningkatkan kualitas diri, wisudawati yang mengambil skripsi dengan judul Interpretasi maysarakat atas mitos ritual jaranan di Desa Wonojoyo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri ini juga bekerja mulai dari berjualan gorengan, menjadi driver makanan cepat saji, penjaga gerai minuman hingga menjadi karyawan home industry rujak teng-teng.   “Saya juga sekarang mengajar di sebuah LBB. Pengen dapet banyak pengalaman dan sebisa mungkin kita gak minta orang tua,”tambahnya. Fina percaya, berbagai hal yang terjadi dalam kehidupannya telah dijamin oleh Allah SWT. Ia pun tidak khawatir tentang apa yang terjadi, termasuk soal rezeki.. “PastinAllah nanti kasih jalan yang lebih indah. Seperti saat ini, sebelum lulus saya sudah diterima bekerja di PT Litera Media Taman di Belimbing sebagai editor  untuk naskah buku,” katanya. Di akhir, gadis yang gemar membaca ini berpesan kepada anak-anak dan remaja Indonesia untuk terus memelihara mimpi. Soal rezeki, asal mau berusaha jalan pasti ada. “Inget saja selalu orang tua untuk motivasi kita. Banyak kok beasiswa baik negeri maupun swasta. Asal mau usaha, karena kalau diam Allah tidak akan merubah nasib kita. Terakhir, jangan lupa berdoa,”pungkasnya. (sil)

Harnold, “Calon Diplomat Muda” UMM yang Jelajah Beberapa Benua

Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya sekali, pria asal Tarakan itu berkesempatan menjadi salah satu delegasi dari Indonesia di Jerman, Kanada, dan terakhir di Bangkok awal tahun 2018. Bahkan, pria yang aktif di klub UMM MUN ini juga mendapatkan penghargaan Honourable Mention saat di Jerman. “Kita menyimulasikan bagaimana sidang PBB terjadi. Kita seolah-olah merepresentasikan negara kita seperti apa, jadi presiden, jadi diplomat, atau jadi menteri luar negeri membahas suatu isu,” ujarnya. MUN sendiri merupakan ajang mengasah kemampuan seperti public speaking, debat, kerjasama tim, dan keterampilan menulis. Ia mulai aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang menggiringnya ke luar negeri tersebut sejak berada di semester empat. “Itu awalnya coba-coba,”akunya. Mulai dari sekedar coba-coba, Harnold kini justru sadar bahwa hadirnya berbagai peluang justru dari kenekatan niat untuk  menjajal sesuatu.“Karena ketika mendaftar lalu diterima, peluang untuk mundur itu akan hilang. Ini real saya rasain waktu di Kanada. Sampai di sana saya takut, mau gimana lagi masak mau pulang. Sehingga mau nggak mau saya harus jalani. Jadi cari kegiatan yang memang memaksa kita melawan rasa takut itu,” tambahnya lagi. Kerap menjadi “diplomat muda” Harnold membagi tips yang menunjang aktivitas-aktivitas seputar dunia diplomasinya. Pria yang telah puluhan kali menjadi delegasi konferensi dan mengerjakan proyek internasional ini mengaku tidak suka membaca buku. Ia justru gemar membaca berita-berita online internasional. “Saya buka portal berita seperti BBC, newspaper, dan itu saya download aplikasinya. New York Times juga untuk anak HI ini cukup membantu,” tutup mahasiswa yang bercita-cita segera melanjutkan studi Strata 2 nya melalui beasiswa Strata 2 nya di luar negeri ini. Saat ini, setelah menyelesaikan studinya di UMM Harnold berencanakan untuk segera mengambil jenjang pendidikan selanjutnya dengan konsen baru yakni Politik Lingkungan. Pria yang sangat lekat dengan dunia politik ini mengaku sangat tertarik dengan isu lingkungan yang kini sudah mulai menjadi konsen banyak negara dan menurutnya Indonesia membutuhkan banyak ahli pada bidang politik lingkungan ini. “Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan jenjang master saya. Saya mau ambil Politik Lingkungan karena saya rasa Indonesia sangat butuh banyak SDM untuk konsen di bidang ini,” tutupnya. (ani/ sil)

Hadiri Wisuda ke 88, Puan Maharani Ajak UMM Turut Serta Bangun SDM Indonesia yang Berkualitas

  Dalam orasi ilmiah yang disampaikannya, Puan mengatakan bahwa era globalisasi saat ini menuntut sebuah negara untuk memiliki kapasitas daya saing yang memadai. Hal itu ditentukan oleh kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola potensi yang ada. “Pembangunan SDM yang berkualitas, tentu saja tidak terlepas dari peran pendidikan tinggi,”tandasnya di hadapan 1.264 wisudawan UMM. Pada kesempatan kali ini, Puan juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pegiat Muhammadiyah yang memiliki perhatian luar biasa besar dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. “Universitas Muhammadiyah Malang telah ikut bergotong royong dalam menyediakan pendidikan tinggi serta membangun SDM Indonesia yang berkualitas”, tegasnya. Demi menghadapi perkembangan dunia usaha dan industri yang cepat dan dinamis, seorang sarjana diharapkan mampu menjadi pelopor kemajuan di dalam masyarakat. Karenanya Puan juga mengajak lulusan UMM untuk selalu menjaga perilaku demi menjaga nama baik universitas. “Lulusan UMM harus memegang teguh karakter dan menjaga integritas sebagai almamater UMM,”tandasnya. Pada kesempatan kali ini, dilakukan juga penyerahan sertifikat lisensi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Sumarna F. Abdurahman kepada Lembaga Sertifikasi Profesi UMM. Menurut Rektor UMM, Fauzan penyerahan lisensi dari BNSP ini dapat membantu lulusan UMM memperoleh pengakuan nasional dan internasional. “Mulai sekarang UMM berhak menyelenggarakan sertifikasi profesi lulusannya dengan skema yang telah ditentukan,” tegas Fauzan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhajir Effendy yang juga hadir dalam wisuda kali ini menyampaikan pesannya untuk wisudawan dan wisudawati, bahwa sarjana UMM adalah bagian dari mahkluk yang akan disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan. Ia pun berharap untuk terus berkarya dan membawa nama besar UMM dimanapun berada. “Pamerkan kepada siapa saja dengan percaya diri bahwa UMM bisa melahirkan generasi muda yang sanggup menegakkan kedaulatan dan kebesaran bangsa Indonesia ini,” tambahnya. Usai menghadiri wisuda, Puan menghadiri Lomba Mewarnai dan Menggambar Se-Jawa Timur di Taman Sengkaling UMM.  Lomba yang mengangkat tema “Indonesia Pintar Budaya dalam Warna” ini hasil kerjasama UMM, Kemendikbud dan Kemenko RI. Total peserta yang hadir mencapai 1.512 orang yang terdiri dari siswa TK dan SD. Berada diantara keriangan anak-anak, Puan menyampaikan harapannya agar acara serupa dapat rutin digelar karena penting untuk menumbuhkembangkan imajinasi anak-anak. “Acara seperti ini perlu terus diadakan, terus meningkatkan keceriaan anak-anak, bahkan dengan lomba menggambar anak-anak bisa menuangkan imajinasinya serta mewujudkan keberanian untuk mewarnai,”ujarnya. Bu Puan pun tak lupa memberi  nasehat kepada para mahasiswa penerima bantuan bidikmisi untuk memanfaatkan beasiswa yang diperoleh dengan bijaksana. “Bidikmisi itu harus kalian manfaatkan dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan menjadi mahasiswa cermerlang dan membuat Indonesia bangga,”pungkasnya.

Haedar Nasir Ajak Dosen dan Karyawan UMM Beramal Lewat Mencintai Pekerjaan

Pada kesempatan kali ini, Haedar menyampaikan bahwa sebagai manusia, kita tidak boleh mencari kehidupan dunia saja. Sebaliknya, juga harus selalu dipersiapkan.Hal tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan selalu besikap baik kepada orang lain. “Berbuat baiklah dan jangan berbuat kasar kepada sesama, karena sesungguhnya Allah SWT. tidak menyukai orang yang kasar,”tandasnya. Di akhir Haedar berpesan, menyambut bulan suci Ramadhan, hendaknya umat islam meningkatkan kualitas ibadahnya, salah satu wujudnya dengan terus berperilaku dan beramal sholeh. “Sehingga kita menjadi orang yang bersih”, ujar Ketua PP Muhammadiyah tersebut. Haedarpun berpesan, hendaknya para dosen dan karyawan dapat menikmati pekerjaan untuk memberikan pengabdian kepada kampus putih tercinta. “Harus menikmati pekerjaannya untuk menjadikan UMM yang penuh kemajuan,”pungkasnya.

Febri Sosok di Balik Tim Debat UMM yang Menjuarai Debat MK Mahasiswa 2018

Mengukir berbagi prestasi dalam bidang penulisan dan debat, menjadi cita-cita Febriansyah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) sejak awal. Wisudawan Periode ke 88 UMM ini telah banyak mengikuti berbagai even debat hukum nasional diantaranya Legal Expo yang diselenggarakan Universitas  Katolik Atmajaya Jakarta, Diponegoro Law Fair dan Debat Hukum Nasional yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang. Puncaknya, Febri demikian panggilan akrabnya yang menjadi pendamping tim, berhasil mengantarkan Tim Debat UMM meraih Juara pada Kompetisi Debat Konstitusi Mahasiswa Antar Perguruan Tinggi Se Indonesia Tahun 2018. Pada gelaran ini, UMM berhasil menjadi wakil untuk maju ke tingkat nasional setelah dinobatkan sebagai juara di tingkat regional timur. “Saya menjadi pembina atau pendamping tim debat MK 2018 ini sejak nol, mulai dari pembentukan komposisi tim, perjalanan pelatihan, debat MK regional timur  sampai sekarang. Kita baru saja meraih Juara 3 Debat MK Tingkat Nasional,” urainya. Febri menyampaikan, ketekunannya mendalami dunia debat dan menulis menjadi bekal berbagai prestasi yang diraih. “Kemampuan debat dan menulis adalah dua kompetensi dasar yang harus dikuasai. Saya benar-benar tekun mendalami itu karena sudah niat sejak awal masuk universitas,” ujarnya. Keinginan untuk menekuni debat datang bukan tanpa alasan. Febri sendiri mengaku terinspirasi oleh seorang senior yang sudah mengikuti kompetisi lebih dahulu. “Senior terdahulu saya ada yang namanya Sunarto Effendi, dia mahir menulis dan berargument. Akhirnya ada niat untuk ingin seperti beliau,”  tambah pria kelahiran Lampung ini. Selama membina tim debat UMM, pria yang bersama timnya tahun lalu berhasil menyabet Juara 1 Debat Hukum Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Atmajaya Jakarta ini selalu menekankan kepada mahsisawa binaannya untuk istiqomah, berhati bersih, rajin berdoa dan selalu ikhlas. “Niatkan semuanya hanya demi almamater,”tandasnya. Dalam Kompetisi Debat Konstitusi Mahasiswa 2018 UMM berhasil membawa pulang gelar Juara 3 setelah mengalahkan tim debat Universitas Tarumanegara Jakarta. Pada perebutan juara ini, delegasi UMM danTarumanegara memperdebatkan tema tentang Hak Angket DPR terhadap KPK. Persiapan yang dilakukan tim binaan Febri ini sudah dimulai sejak proses awal seleksi pada bulan Desember 2017. Meskipun hasil yang diperoleh sedikit melenceng dari yang ditargetkan, tetapi prestasi ini tetap membanggakan. “Walaupun nggak sampek langit, tapi bisa nyantol di bintang-bintang”, ungkap Febri. Setelah berakhirnya kompetisi ini, Febri berharap agar mahasiswa binaannya tidak terlena dengan euforia kemenangan. Ia tidak ingin delegasi UMM kedepannya akan larut dalam romantisme masa lalu dan manisnya sejarah. Ia pun berpesan agar mahasiswa UMM tak lelah terus mencetak prestasi. “Jadilah mahsaiswa bermental pencetak sejarah, bukan sekedar pengingat sejarah. Ke depannya, kita akan terus melakukan regenerasi sambil terus menjaga niat dan orientasi,”pungkas mahaiswa yang menjadi Lulusan Terbaik ke 2 Tingkat Fakultas tersebut.

UMM Sharing Kondisi Ekonomi Internasional dengan 4 Dosen Asal 4 Negara Berbeda

Dalam rangka mempelajari pesatnya perkembangan ekonomi di berbagai belahan dunia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin International Relations Affair (IRA) pertama kalinya dengan mengadakan kuliah tamu bertemakan “International Economic and Bussiness” di Aula GKB IV, Selasa (9/5) kemarin. Acara tersebut mengundang 4 pemateri yang merupakan dosen dari 4 negara yang berbeda, mereka adalah Aurelija Rimkute dari Vilnius University (Lithuania), Priya Rani Bagat dari Manipal University (India), Dr.Magdalena Sztukiel dari WSB University (Polandia), dan Albina Gaisina dari Bournemouth University (Rusia). Disamping itu, kuliah tamu ini dihadiri oleh mahasiswa semester 6 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kepala penyelenggara International Guest Lecture Ratih Juliati, Dra., Msi menyampaikan bahwa tujuan kuliah tamu ini adalah agar mahasiswa sebagai agent of change dalam bidang ekonomi dan bisnis, bisa lebih dalam mengetahui posisi Indonesia. “Agar mahasiswa menyadari dan lebih menggali lagi sudah sampai mana pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam bersaing dengan negara-negara asing,” ujar Ratih. Membahas lebih lanjut mengenai perkembangan ekonomi dan bisnis di kancah Internasional, salah satu pemateri yang berasal dari Polandia, Dr.Magdalena Sztukiel menjelaskan bahwa fondasi terpenting dalam membangun sebuah bisnis terletak pada strategi, bagaimana menyusun strategi yang tepat agar menarik dan bernilai di mata pelanggan. “Setelah pelanggan percaya pada produk kita, disitu baru menjalin kerjasama dan terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas produk yang dipasarkan,”tandasnya. Sementara itu, pemateri dari India Priya Rani Bagat juga menyampaikan kondisi ekonomi di negaranya. Ia menyampaikan bahwa, karakteristik ekonomi India saat ini lekat dengan distribusi pendapatan per kapita yang rendah, populasi yang tumbuh dengan cepat dan tingkat pembentukan modal yang rendah. “Dan sifat ekonomi dualistik, baik metode industri modern maupun tradisional,”tandasnya. (dya/sil)

TECSID dan UMM 2018 Gelar Taiwan Educational Showcase

The Indonesia Taiwan Education Center in Surabaya (TECSID) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan acara bertajuk beasiswa Taiwan. Melalui tema ‘2018 Taiwan Educational Showcase’ yang berlokasi di Aula BAU UMM, mahasiswa ditawarkan beasiswa di enam universitas ternama di Taiwan. Enam Universitas tersebut adalah Asia University, China Medical University, Fujen Catholic University, National Formosa University, National Sun Yat-sen University, dan Vanung University. Ke enam universitas tersebut memberikan tawaran beasiswa studi di Taiwan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris untuk S1/S2/S3 dan program internasional lainnya. Selain itu Taipe Economy and Trade Office (TETO) Surabaya juga memberikan penjelasan tentang visa di Taiwan. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Soeparto menyampaikan digelarnya acara ini menjadi salah satu bentuk dukungan UMM untuk meningkatkan minat mahasiswa baik internal UMM maupun eksternal untuk menempuh studi lanjutan dengan iklim internasional, khususnya di Taiwan. “Semoga ini menjadi pemantik semangat mahasiswa untuk merasakan iklim internasional dan belajar di luar negeri serta jalan untuk memperkuat kerjasama UMM dengan The Indonesia Taiwan Education Center in Surabaya,” tegasnya. Berlangsung meriah, acara tersebut berhasil menarik antusias mahasiswa untuk hadir. Salah satunya Lissari Albar, mahasiswa yang sedang menempuh Magister Kebijakan Pengembangan Pendidikan (MKPP)  di sebuah universitas swasta ini  mengaku tertarik dengan pendidikan di Taiwan karena  pendidikan dan teknologinya yang maju. “Saya tertarik ke Taiwan karena Taiwan itu kan sudah menjadi negara maju, terus pendidikannya sudah bagus, teknologinya sudah bagus juga. Itu yang membuat saya tertarik kenapa saya mau ke Taiwan,”urainya. Hal berbeda diungkapkan Pambudiono, mahasiswa jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP) UMM juga tertarik melanjutkan sekolah ke Taiwan. Pambudiono mengaku, besarnya peluang untuk menempuh studi di Taiwan dari pada universitas di Eropa membuatnya tertarik untuk belajar di negara yang menggunakan bahasa Mandarin ini.  “Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, kuliah di  Eropa  itu persyaratannya sulit sekali sedangkan di Taiwan tidak,” ujar mahasiswa semester akhir tersebut. Sedangkan Nava Almaulidiah, salah satu mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang pernah singgah ke Taiwan mengatakan Taiwan adalah negara yang pendidikannya cukup bagus. Ia pun ingin kembali dan melanjutkan S2 dengan mengambil Chinese Language di sana. “Kalau saya pribadi pengen ambil Bahasa Mandarin. Soalnya bagi anak Hubungan Internasional, bahasa itu kan penting,” ungkapnya. Baginya, tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi termasuk kendala budaya maupun bahasa yang  berbeda. “Culture shock pasti ada, tapi kalau kita sudah menyiapkan mental untuk langsung ke lapangan, dan langsung berkecimpung di sana, insyaallah bisa,” tutur gadis berdarah Malang itu. (apn/sil)

Sharing SPMI, UMM Ajak PT Asuhan Kembangkan Potensi Khas yang Dimiliki

Lokakarya yang berlangsung pada Selasa (8/5) ini membahas tentang Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi dengan fokus pembahasan Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Eksternal. Prof. Dr. Noor Harini, M.S, Kepala Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) UMM menyampaikan  bahwa adanya lokakarya ini bukan berarti membuat para PT harus mengikuti sistem yang dimiliki oleh UMM. Masing-masing PT perlu mengeksplorasi sumber daya yang mereka miliki untuk kemudian dikembangkan. “Penjaminan mutu sebenarnya bukan hanya soal sistem penjaminan mutunya saja, tetapi juga soal standar pendidikan tinggi, akreditasi, pangkalan data pendidikan tinggi serta yang terakhir terkait lembaga layanan pendidikan tinggi,” ujarnya. Mendapat banyak uraian dan penjelasan Noor, Kepala Penjaminan Mutu Universitas Kahuripan Kediri Kartika Kusumaningtyas, S. Si, M. Pd, mengaku bahwa pihaknya senang mendapat banyak ilmu baru untuk peningkatan kualitas dan mutu PT nya. “Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru untuk menyusun dan menetapkan dokumen-dokumen yang lebih baik. Ini nanti bisa disosialisasikan sehingga bisa dilaksanakan dan dievaluasi,”tandasnya. Kartika demikian panggialn akrabnya juga mengaku belajar banyak tentang audit mutu secara internal. Hal tersebut lantaran pada momen ini, seluruh proses terkait SPMI dikupas habis. “Selain itu, kami juga mendapat pengetahuan terkait Audit Mutu Internal itu seperti apa. Karena selama ini kami memang belum paham betul tentang hal itu,” pungkasnya. Kewajiban PT untuk melaksanakan sistem penjaminan mutu tercantum pada undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 53 tentang sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi. Ini menjelaskan bahwa setiap PT harus menjalankan SPMI yang dapat disesuaikan dengan karakeristik PT yang bersangkutan. Selain sebagai upaya pemenuhan standar nasional Dikti, langkah ini juga sebagai usaha untuk melaksanakan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) yang merupakan penentu akreditasi bagi PT yang bersangkutan. (vin/sil)

Tak Hanya Kompetisi, ON MIPA PT Juga Jadi Proses Pembelajaran

Setelah berlangsung selama tiga hari, Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) tahun 2018 resmi ditutup Senin, (7/5/2018). Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendiikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI), Misbah Fikrianto membuka acara penutupan ON MIPA dengan memberikan motivasi pada peserta agar tidak berhenti berprestasi. Ada dua hal yang disampaikan Misbah dalam pidatonya, pertama ia menyampaikan pada para pemenang agar prestasi yang diraih terus dikembangkan. Di samping itu, para peserta juga harus mensyukuri pengetahuan dengan mengaplikasikan dan mengamalkannya di kehidupan. Kedua, ia juga berpesan pada mahasiswa baik yang keluar sebagai finalis maupun tidak, agar tetap menjadikan kompetisi tersebut sebagai proses pembelajaran. “Proses pembelajaran dalam kehidupan tidak hanya pada pencapaian prestasi saat kuliah tetapi banyak lagi prestasi dalam kehidupan yang nantinya akan menunjukkan Anda pada perubahan-perubahan,” tutur Misbah. Misbah juga menyampaikan, selanjutnya Kemenristek DIKTI akan selalu menyelenggarakan olimpiade di kampus. Hal ini kata Misbah, karena kampus memberikan energy positif yang baik utamanya bagi para peserta olimpiade.  “Karena di kampus itu fasilitasnya lengkap, interaksinya nggak hanya dengan ruangan. Tahun depan peserta akan meningkat dan olimpiade akan dilaksanakan di perguruan tinggi lain secara bergantian,” ungkap Misbah. Ditemui usai acara, peraih medali emas bidang kimia, Zulfa Hilmi Kautsar asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Kimia mengaku ini adalah kali ketiga ia ikut olimpiade ON MIPA. Mahasiswa asal Semarang yang masih semester 6 tersebut juga mengaku, mendapat peningkatan prestasi tiap tahunnya.  Di tahun pertama mengikuti olimpiade, ia mendapat perunggu, tahun kedua perak, dan tahun ini berhasil meraih medali emas. “Ini ketiga kalinya ikut. Dulu pernah dapat perunggu, terus perak,” katanya. Sementara itu, peraih medali Emas Bidang Biologi, Siswadi Aji Hutomo asal Universitas Pertanian Bogor tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia memberitahukan tentang rahasia menjuarai olipiade nasioal yaitu dengan kekuatan doa. “Banyak berdoa dan terus berupaya mengetahui dimana kelemahannya. Yang penting berikutnya tawakkal dan ikhtiar,” ujar Siswadi.

Kali Kedua, UMM Dipercaya Kemenristekdikti jadi Kampus Asuh 6 PTS

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kepercayaan sebagai pelaksana Program PT Asuh sesuai dengan surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti) RI Nomor 99/b/sk/2018 tentang PT Pelaksana Program Penjamiin Mutu. UMM membina lima PTS Asuh di Kopertis Wilayah VII dan satu PTS di kopertis Wilayah VIII. Menindaklanjuti hal tersebut, pada hari ini Senin (7/5) UMM melaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman, Sosialisasi, dan Need Assasment Program Asuh PT Unggul Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI dengan ke enam PT, yakni Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Islam Balitar, Universitas Kahuripan Kediri, Akademisi Farmasi Putra Indonesia Malang, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang, serta Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Bumigora Mataram. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin Msi menyampaikan, UMM dan ke enam PT asuhan adalah mitra yang saling belajar dan melengkapi. Kedua kalinya mendapat kepercayaan sebagai PT asuhan, Syamsul mengajak seluruh PT mitra untuk saling belajar guna memperbaiki kualitas PT masing-masing. “Terimakasih atas kesediaan bapak ibu bermitra dengan UMM, mudah-mudahan ke depan kita bisa terus bisa memilihara silaturahmi untuk saling belajar dan memperkuat kualitas PT,”tandasnya. Membahas lebih peningkatan kualitas PT khususnya dalam bidang akademik, Syamsul menyampaikan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam kriteria SDM. Pertama yaitu ketersediaan dan ketercukupan. Kriteria kedua yaitu kualifikasi. Kualifikasi akademik minimal yaitu tidak ada lagi dosen yang bergelar S1. “Dan hal terakhir yaitu, kompetensi. Kompetensi ini dilihat dari jabatan fungsional mulai dari tenaga pengajar, asisten ahli, lektor, lektor kepala sampai guru besar. Selama ini UMM selalu menerapkan keteladan, keseriusan, karena cinta itu membutuhkan sebuah keteladanan. Hal itu penting sehingga membantu mengembangkan perguruan tinggi,”tambahnya. Sementara itu, Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing (STIBA) Bumigora Mataram Wiya Suktiningsih, M. Hum. menyampaikan, sebagai PT asuh pihaknya ingin banyak belajar dari UMM, utamanya mengenai pengetahuan  penjaminan mutu, karena selama ini STIBA hanya mengikuti workshop yang sifatnya tidak langsung ke assessment yang dibutuhkan. “Selain itu kami berharap dari sini dapat meningkatkan akreditasi STIBA. Karena kebetulan sampai saat ini akreditasi kami masih C. Kami juga berharap bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana caranya untuk berkembang agar bisa seperti UMM nanti kedepannya,”pungkasnya. (Humas UMM)