Intip Persiapan Peserta Sambut ON MIPA di UMM

Banyak cerita muncul pada penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA PT) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI) di Unversitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah seorang peserta ON MIPA Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Ali Bahri Lubis mengaku setelah terpilih oleh jurusan, ia belajar secara otodidak untuk menghadapi kompetisi ini. Tidak hanya itu, untuk memberikan penampilan terbaik ia juga rela mengorbankan hari liburnya untuk belajar lebih bersama kawan dan pembimbing dari pihak kantor jurusan. “Ada juga pelatihan antar mahasiswa dan dosen, dilaksanakan bahkan pada hari libur dan malam hari,”tandasnya. Lebih lanjut Ali, demikian panggilan akrabnya mengaku bahwa ini olimpiade kali ini menjadi momen ketiga dirinya bergabung. Sebelumnya, saat digelar di Jakarta ia juga sempat mengikuti even yang sama. “Sudah pernah dua kali. Tahun pertama di Jakarta, saya gak menang. Tahun kedua di Semarang, Alhamdulillah saya dapat perunggu dan ini tahun ketiga,”tandasnya.

ON MIPA-PT 2018 Media Pembentukan Kohesi Sosial Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kehormatan karena terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) 2018. Acara ini merupakan perhelatan akbar Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI) yang diselenggarakan setiap tahunnya. ON MIPA-PT digelar sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa untuk meningkatkan daya saing bangsa melalui peningkatan kualitas bidang MIPA. Digelar sejak 2009, olimpiade ini meliputi bidang Matematika, Kimia dan Fisika dan Biologi. Sekertaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof Rina Indriastuti SE MS menyampaikan, pada gelaran ON MIPA 2018 terdapat 256 dari 85 perguruan tinggi  swasta dan negeri. Jumlah ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Rina Indriastuti juga menyampaikan, tidak hanya sekedar lomba, olimpiade kali ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi untuk melahirkan tenun kebangsaan. Peserta diharapkan tidak hanya dapat bersaing, namun juga mengambil banyak hal positif untuk dibawa pulang ke kampus masing-masing. “Jadi ada semacam penyatuan dan kohesi sosialnya menjadi lebih baik. Lesson learned mereka akan dibawa kembali lagi ke kampus, ini bisa menularkan kepada teman-temannya yang belum bisa ikut disini,”tambah Rina. Menjadi tempat penyelenggaraan acara, UMM  yang baru saja meraih Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) Konter Robot Indonesia (KRI) Regional IV ini, telah mempersiapkan fasilitas terbaik yang dimiliki untuk acara yang digelar mulai Jumat-Senin (4-7/5) ini. Dipilihnya UMM sebagi tempat penyelenggaraan acara diakui Rina bukan tanpa alasan. Menurutnya, iklim kampus termasuk seperti yang ada di UMM dapat memberikan banyak dampak positif bagi peserta ON MIPA. “Sebetulnya kalau olimpiade itu lebih baik di kampus hanya kadang-kadang kita juga mencari formatnya. Saya punya keyakinan di kampus itu hasilnya lebih baik contohnya saja dari perguruan Kampus UMM ini. Mereka bisa kenal kampus lain, ini lebih,”tambahnya. Menyiapkan fasilitas terbaiknya, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana sesuai dnegan standart yang diharuskan. “Sarana prasarana sudah kita siapkan semua sesuai dengan standart. Upaya ini dalam rangka untuk meminimalisasi problem-problem yang akan timbul,”pungkasnya. (ani/gan/sil)

FEB UMM Ajak Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Maksimalisasi Sumber Daya Maritim

Sejumlah masalah di berbagai sektor dihadapi pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan bangsa, salah satunya yakni masalah pangan. Bagaimana tidak, ketika jumlah populasi penduduk bumi semakin meningkat, luas lahan justru semakin sempit tergerus oleh pembangunan infrastruktur. Salah satu akibatnya, produksi pangan pun juga semakin berkurang. Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Dr. Widayat, MM mengatakan, di tengah pesatnya pembangunan bangsa masalah  ketahanan pangan menjadi isu yang masih sering diperdebatkan. Ia juga menyampaikan, selama ini kebijakan pemerintah dinilai cenderung berasentris. “Kita sebagai next generation dari bangsa ini harus merubah orientasi tersebut, membangun ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada swasembada beras,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin M.Sc Guru Besar FEB UMM menyampaikan, idealnya bumi hanya mampu menampung 3 sampai 4 milyar penduduk. Namun pada tahun 2017 jumlah populasi penduduk bumi sudah mencapai 8 milyar. “Dan lahan juga semakin banyak yang digunakan sebagai bangunan,” tandasnya pada kuliah tamu yang diadakan oleh Program Studi Ilmu ekonomi  dan Studi Pembangunan (IESP) di Aula BAU, Rabu (2/5). Selain penyempitan lahan, masalah mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di bidang pangan adalah tingginya tingkat ketergantungan Indonesia pada produk impor  terutama benih holtikultura dan pakan ternak. “Saat ini,   beberapa bahan pangan seperti  beras, daging sapi, gula, gandum, bawang putih kedelai, dan garam masih harus diimpor dari luar,” tambahnya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah pengembangan pedesaan sebagai upaya memakmurkan masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan sumber daya alam, khususnya sumber daya maritim dan agraris sehingga hasil-hasil pertanian tersebut menjadi produk industri utama di tengah masyarakat. “Tidak akan mandiri suatu bangsa jika pangannya masih dikuasai negara lain”, ujar Prof Laode menandaskan.

Robot DOME UMM Sabet Juara I Regional IV Kontes Robot Indonesia 2018

  Pada pertandingan penyisihan di Wilayah Regional IV yang terdiri dari Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, DOME yang memiliki tingkat akurasi tinggi dan kecepatan stabil keluar sebagai Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Keunggulan ini membuat robot canggih tersebut berhasil menggeser 32 peserta lain dari berbagai universitas. Selanjutnya, Robotika UMM tengah menyiapkan diri untuk berlaga di tingkat nasional. Menyambut even berikutnya, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Robotika UMM, salah satunya meningkatkan kecepatan dan keakuratan DOME. Ketua Tim Alfan Achmadillah Fauzi menyatakan walaupun DOME telah pada posisi aman untuk maju ke tingkat nasional, masih banyak hasil evaluasi yang harus diselesaikan. “DOME memang sudah aman akan maju ke nasional, tapi kita tidak bisa bersantai. Justru dengan semakin ketatnya kompetisi, kita harus semakin kompak,” tegas mahasiswa Teknik Elektro tesebut. Setelah melewati tiga tahapan dalam KRI 2018 Regional IV, Robotika UMM akan berlaga bersama 24 tim lainnya di tingkat nasional pada Juli mendatang. Pembina Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM Nur Alif Mardiyah mengaku bahwa Robotika UMM sudah sangat prima dan siap untuk melenggang ke nasional. “Walaupun sudah memperoleh juara tapi kita masih harus menyiapkan diri, karena jalan masih panjang untuk meraih prestasi lebih gemilang,” jelasnya. Keluar sebagai Juara I pada kompetisi ini, UMM berhasil mengungguli dua universitas negeri  yakni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) di Peringkat II dan Universitas Brawijaya (UB) di Peringkat III. Selain berlomba pada kategori KRPAI, pada kompetisi tahun ini UMM juga mengeluarkan tim untuk berlaga pada kategori Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda. (nis/ sil)

Gelar Expo Kewirausahaan, Mahasiswa FEB UMM Kampanyekan Percaya Diri Jadi Pengusaha

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelengarakan Pameran Produk Kreatif dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bertajuk “ Let’s Start by Entrepreneur” di Area Dome UMM, (3/5). Acara ini digelar sebagai langkah menumbuhkan jiwa entrepreneurship sejak dini mahasiswa FEB UMM. “Mengembangkan jiwa entrepreneur harus mulai sejak dini,” ujar Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si  Kamis (03/05). Expo produk ini merupakan kolaborasi Program Studi Managemen, Akuntasi dan Ekonomi Studi Pembangunan (ESP) FEB. Pameran diikuti peserta sebanyak 21 kelas dan 205 kelompok wirausaha mahasiswa. Tidak hanya sebagai jalan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa, melalui acara ini FEB juga ingin memupuk rasa percaya diri mahasiswa untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Ketua pelaksana Expo Kewirausahaan Sulfian menegasakan, pameran ini juga sebagai ajang mahasiswa untuk menampilkan produk inovasi mereka setelah mengampu mata kuliah Kewirausahaan. ”Acara ini merupakan bentuk praktik nyata dari mata kuliah kewirausahaan,”ujar mahasiswa Program Studi Manajemen tersebut.

Rayakan Hardiknas, Ratusan Siswa SD Kuliah di UMM

  Mengusung tema Penguatan Karakter dan Kebudayaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 dengan cara unik. Bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Malang, UMM merayakan Hardiknas 2018 dengan menghadirkan kurang lebih 460 siswa sekolah dasar (SD) di Malang Raya untuk menikmati pengalaman belajar di perguruan tinggi. Kegiatan dikemas menarik  dalam bentuk eksplorasi kampus. Seluruh peserta diajak mengikuti upacara peringatan Hardiknas bersama seluruh civitas akademika UMM. Pada momen ini, setiap perwakilan sekolah mendapat kesempatan untuk disematkan toga oleh Rektor UMM Fauzan. Mereka lalu berkunjung ke beberapa laboratorium yang ada di UMM dan merasakan pengalaman diajar oleh profesor, diantaranya Laboratorium Jalan Raya, Laboratorium Drama, Laboratorium Terpadu Pertanian dan Peternakan, Laboratorium Ilmu Komunikasi,  Laboratorium Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPA IPTEK), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), dan Panel Surya. Selain memperingati Hardiknas, acara ini juga digelar sebagai bentuk tanggungjawab UMM untuk memupuk mimpi dan cita-cita generasi muda Indonesia yang merupakan para calon pemimpin bangsa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sidik Sunaryo pada pembukaan upacara menyampaikan bahwa ia berharap, acara ini dapat memberikan semangat kepada anak-anak untuk terus melanjutkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Ia pun mengapresiasi semangat para siswa yang datang ke UMM. “Saya ucapkan selamat kepada adik-adik SD yang hari ini turut serta merayakan Hardiknas di Kampus Putih,” jelasnya. Ratusan siswa SD berbondong-bondong mengunjungi satu laboratorium ke laboratorium lainnya. Salah seorang guru pendamping dari SD Kristen Petra Feri Ferdiansyah mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini. Baginya UMM merupakan kampus yang sangat menjunjung tinggi makna perbedaan kebudayaan sesuai dengan semangat perayaan Hardiknas 2018. “Saya sebagai perwakilan dari sekolah non-muslim sangat senang dan mengapresiasi kegiatan ini. Ini merupakan bukti nyata bahwa UMM sangat menjunjung tinggi perbedaan,” tegasnya. Tidak hanya menyajikan wisata mengelilingi UMM, agenda bertajuk Kids on Campus ini juga menghadirkan Mobil KaCa di tengah waktu peserta menunggu giliran masuk ke dalam setiap laboratorium.  Syaqif Jalaludin Ahmad salah satu siswa dari SD As-Salam mengaku sangat senang saat diajak berkunjung ke Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. “Tadi ke pabrik roti dan nata de coco, belajar buat roti tapi gagal. Tapi gak masalah saya senang sekarang bisa buat roti di pabrik,” kata siswa kelas lima ini. Acara ditutup dengan gelaran wisuda bagi seluruh siswa-siswi sekolah dasar. Setiap siswa disematkan gordon layaknya wisudawan universitas sebagai tanda mereka telah lulus kuliah satu hari di UMM. (nis/ sil)

Reaktualisasi Pancasila, Prodi PPKN UMM Selamatkan Karakter Generasi Muda

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia dan merupakan pedoman dan pandangan hidup bagi masyarakat. Namun pada saat ini masyarakat Indonesia khususnya generasi muda hanya sedikit yang paham dan mengerti hakikat dari Pancasila, sehingga perilaku dan moral mereka tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada di Pancasila. Situasi tersebut membuat Program Studi  (Prodi) PPKN (Civic Hukum)  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tergerak mengadakan Seminar Nasional Pancasila bertemakan ‘Reaktualisasi Pancasila sebagai Roh Penguatan Pendidikan Karakter’ yang digelar di Aula GKB 4 lantai 9 pada Sabtu (28/4). Seminar ini merupakan serangkaian kegiatan dari Festival Pancasila II yang diadakan Prodi PPKN UMM. Lewat seminar ini para pembicara yaitu Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono, M.S, Wakil Ketua DPRD dan Budayawan  Jatim Dr. H.M. Soenarjo, M.Si  dan Dosen Prodi PPKN UMM dan Ketua PDM Kota Batu Drs. Nurbani Yusuf, M.Si mengajak generasi muda Indonesia untuk berperilaku sesuai dengan Pancasila karena Pancasila merupakan ideologi bangsa. Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono juga merinci Pancasila sesungguhnya ada didalam diri para manusia, oleh karena itu negara-negara yang tidak punya Pancasila pun sebetulnya memiliki nilai-nilai tersebut. Sayangnya, bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara justru kehilangan hal ini. “Bangsa Indonesia masih belum bisa menerapkan nilai-nilai tersebut, maka dari itu kita harus bisa mengamalkan Pancasila yang merupakan ideologi bangsa kita sendiri,” ujar Warsono. Mengamini Warsono, Ketua Prodi PPKN UMM, Drs. M. Mansur Ibrahim, M.Hum. menyampaikan bahwa saat ini para generasi muda telah megalami degradasi moral. Untuknya, pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat perlu dilakukan. “Kegiatan ini bagian dari kepedulian Prodi PPKN untuk mereaktualisasi yang mana sekarang banyak persoalan seperti anak-anak kecil degradasi moralnya sudah tidak bagus lagi,” pungkasnya. (gan/sil)

Sukses Digelar, Rektor Cup UMM jadi Kompetisi Elegan untuk Lahirkan Generasi Hebat

Sabtu (28/4), menjadi hari terakhir penyelenggaraan rangkaian kegiatan Rektor Cup 2018 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah berlangsung (10/3-28/4) akhirnya hari ini Rektor Cup mencapai puncaknya. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. H. Fauzan, M. Pd menutup secara resmi rangkaian kegiatan Rektor Cup 2018 di Helypad kampus III UMM. “Hari ini saya lihat, tahun ini masa saya pelaksanaan rektor cup cukup menggembirakan, tidak menyisahkan ketegangan, tidak menyisakan dendam, tidak menyisakan hal-hal yang negatif, tetapi semuanya dijalaankan dengan fair dan Alhamdulillah berakhir dengn husnul khotimah (berakhir dengan baik.red)”, ujar Drs. H. Fauzan, M. Pd selaku rektor umm sekaligus menutup kegiatan Rektor Cup 2018. Dimeriahkan oleh penampilan pemenang delegasi pada kompetisi Rektor Cup 2018 diantaranya Perform Solo Vokal Pop (Pa/Pi), Perform Vokal Dangdut dan tampilan-tampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) acara berhasil menarik animo mahasiswa dan sebagian besar civitas akademika. Dengan mengusung tema “Smart And Elegant Competition to be Great Generation” Ketua pelaksana Rektor Cup 2018, Dr. Nur Subeki, MT memaparkan bahwa Rektor Cup merupakan kesatuan program yang tidak dapat dipisahkan dari garis kebijakan UMM sebagai lembaga pendidikan. “Seluruh program kegiatan senantiasa diarahkan pada penggalian dan pengembangan potensi mahasiswa demi terciptanya insan yang utama,”tandasnya. Bekerjasama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mempertandingkan dan memperlombakan bidang olahraga, kesenian, penalaran dan keagamaan rangkaian kompetisi tertinggi di tingkat universitas ini diikuti oleh kontingan dari 10 fakultas dan didampingi oleh 34 UKM di UMM. Mengumpulkan medali emas terbanyak, pada Rektor Cup 2018 ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP0 ) kembali meraih juara umum, diikuti dengan Juara II dari Fakultas Teknik dan Juara III diraih Fakultas Psikologi.

Mahasiswa UMM Motivasi Korban Bullying Hingga ke AS

Publikasi data yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada akhir tahun 2017 menyatakan bahwa hampir satu juta orang pada setiap bulannya meregang nyawa karena gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang dialami oleh orang-orang tersebut pada umumnya adalah berakar dari depresi dan rasa kecewa akibat bullying. Fenomena tersebut menggugah, Rizka Aliya Putri untuk mengampanyekan kesadaran masyarakat pada korban gangguan kesehatan mental yang berujung pada tindakan bullying. Rizka mengaku bahwa isu ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun di luar sana juga menjadi isu utama dalam penanganan kesehatan jiwa. “Isu ini, isu yang legit untuk diselesaikan soalnya ini kan berhubungan dengan kehidupan manusia yang bukan sekedar how to manage people orang sakit terus biar jadi nurut,” jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Melalui Teman Bicara yang merupakan hasil praktikum pada salah satu mata kuliah di Ilmu Komunikasi, Rizka melanjutkan projek ini untuk bisa menjangkau lebih luas individu dengan gangguan kesehatan jiwa ini. “Aku udah minta restu ke temen-temen pas ngerjakan praktikum ini buat terus jalan dan pengen ngerangkul banyak orang untuk sharing lagi,” tegasnya. Menjadi salah satu dari 37 delegasi seluruh dunia pada ajang Global Engagement Summit (GES) 2018 di Chicago, Amerika Serikat menjadikan Rizka satu-satunya perwakilan Indonesia yang hadir dalam ajang bergengsi tersebut. GES merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh anggota organisasi GES dari North Western University, Evanston, Amerika Serikat. Rizka yang juga pernah menjadi korban bullying ini menjelaskan lebih jauh tentang pengalamannya saat ia menjadi korban dan bagaimana dia menyelesaikannya. “Aku tuh korban bullying pas SMP dan bullying yang aku rasain itu lewat ucapan yang orally dan itu kan lebih membekas yah,” jelas gadis asal Malang ini. Ia juga mengaku Teman Bicara merupakan projek sosial yang memfasilitasi individu dengan gangguan kesehatan jiwa untuk dapat berbagi dan mendapatkan motivasi. Kehadirannya pada ajang GES ini semakin membulatkan tekatnya untuk membentuk social support campaign. Selain itu, projek ini juga mendapatkan sambutan hangat dari tim sukses Barack Obama yang saat itu menjadi mentornya pada salah satu sesi di GES. “Mereka itu appreciate banget sama kerja keras temen-temenku lewat Teman Bicara ini, bahkan ada yang bilang kalau aku adalah orang yang unik karena mau ngurusin ginian,” papar Rizka. Lebih lanjut, Rizka juga menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri banyak individu yang membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya untuk menyelesaikan permasalahan yang menganggu kesehatan jiwa individu tersebut. Namun, ia mengaku bahwa di Indonesia stigma bahwa mereka yang pergi ke psikolog adalah orang yang gila dan harus ditempatkan di suatu kelompok berbeda. “Karena mereka gak dapat tempat di lingkungan sosialnya, orang-orang itu milih memendam dan terus menjadi introvert tanpa tahu sebenarnya ada masalah apa pada dirinya,”tambahnya. Gadis berhijab ini berpesan kepada siapapun untuk tidak melakukan tindankan perudungan dan intimidasi pada orang-orang yang diduga memiliki gangguan kesehatan jiwa. Baginya, gangguan jiwa yang terjadi pada diri individu seseorang mayoritas diciptakan oleh lingkungan yang tidak memberikan dukungan dan cenderung mengasingkan individu tersebut. “Jadi waktu jalan event ini waktu buat praktikum, aku nemuin ratusan manusia dengan berbagai masalah kesehatan jiwa yang kebanyakan karena lingkungan sosial yang gak aware dan support,” pungkasnya.

Gelar Semnas, Psikologi UMM Ajak Optimalkan Pendidikan ABK

Pendidikan menjadi hal krusial yang harus diperhatikan dalam fase hidup seseorang. Sebab, pendidikan adalah kunci peradaban untuk menjadikan tata bangsa menjadi lebih baik. Hal tersebut berlaku juga untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, maka hal itu berlaku bagi siapapun tanpa harus membeda-bedakan. Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dra. Poppy Dewi Puspitawati, M. menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menggalakkan program Gerakan Indonesia Pintar, Sekolah Vokasi dan Pendidikan Karakter. Untuk sekolah vokasi khususnya, perlu terus dikembangkan dengan maksimal untuk memberikan bekal keahlian khusus pada siswa termasuk siswa ABK. Selama ini, setelah menempuh sekolah luar biasa (SLB) mereka tidak tahu harus melangkah kemana. Padahal para siswa ini juga perlu memiliki keahlian khusus untuk berpartisipasi dalam membangun negeri. “Bagaimanapun, ABK tidak boleh ketinggalan menjadi bagian dalam pembangunan Indonesia,” tandas Poppy pada Seminar Nasional tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Aula BAU, Sabtu (28/4). Senada dengan Poppy, Senior Staff Fakultas Psikologi UMM Dr. Tulus Winarsunu dalam materinya memaparkan, peran aktif orang tua dalam penyediaan layanan pendidikan yang fleksibel serta keterlibatan tenaga profesional merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam mengatasi masalah-masalah anak berkebutuhan khusus. “ABK seharusnya memperoleh pendidikan yang dapat membantu mengaktualisasikan potensi-potensi spesialnya sehingga berguna bagi bangsa dan negara,” tuturnya. Dihadiri oleh guru dan praktisi  terapis di bidang ABK yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur seminar ini digelar utnuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei nanti. Mengusung tema “Optimalisasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang Humanis dan Aksesibel di Sekolah” seminar dimeriahkan dengan tari merak oleh siswa ABK dari SMK 2 Malang,  penampilan angklung oleh siswa-siswi SLB River Side Malang. Selain itu,  jaga dilakukan launching Laboratorium Psikologi Terapan Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus (LPT-PIBK) UMM yang digagas untuk memberikan layanan profesional untuk membantu mengembangkan potensi individu berkebutuhan khusus. Ketua Pelaksana Acara, Putri Saraswati  menuturkan atraksi yang disajikan menjadi bukti bahwa ABK juga dapat berkarya. Meski dalam keterbatasan, mereka mempunyai banyak potensi yangd apat terus dikembangkan. “Harapannya kita mampu memfasilitasi dan menggali potensi-potensi tersebut,” tutup dosen  Fakultas Psikologi UMM tersebut. (Humas UMM)