Produksi Jamu Pace Kualitas Super, Mahasiswa UMM Raih Omzet Puluhan Juta

Jika biasanya jamu lekat dengan orang yang sudah tua, berbeda dengan anak muda yang satu ini. Shoffie Bunga Navandia, atau yang akrab disapa Shoffie mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mencetuskan ide brilian dengan memproduksi jamu tradisional yang berkhasiat membantu penyembuhan berbagai macam penyakit. Dara 20 tahun tersebut mengatakan bahwa idenya untuk membuat jamu muncul sekitar lima tahun lalu. Saat itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya mengidap penyakit liver stadium C. “Saya bingung harus bagaimana. Biaya berobatnya mahal sekali,”ujar Shoffie. Saat Soffie mulai “galau” dengan biaya pengobatan sang ayah, salah satu kawan sang ayah dari Korea datang menjenguk dan membawakan jamu tradisional untuk dikonsumsi setiap hari. Tak disangka, setelah meminum jamu tersebut, lambat laun, penyakit ayahnya membaik. Sayangnya, Soffie tak punya cukup uang untuk terus membeli jamu berbahan dasar mengkudu tersebut. Ia pun berinisiatif untuk membuat sendiri jamu dengan bahan yang sama. “Jadi awalnya saya buat untuk dikonsumsi ayah saya yang sedang sakit waktu itu, tidak ada pikiran sama sekali untuk menjualnya ke masyarakat,”urainya. Jamu yang diproduksi Soffie adalah jamu tradisional yang terbuat dari 100% fermentasi buah mengkudu tanpa campuran apapun. Buahnya juga dipilih melalui proses seleksi. “Harus benar-benar dipilih kualitas terbaik,”tambahnya. Setelah dibersihkan dengan baik, mengkudu kemudian diproses untuk diambil airnya. Sari buah mengkudu tersebut lalu difermentasi selama 6-12 bulan. Usai masa fermentasi, jamu mengkudu kemudian akan dikemas dalam botol ukuran 500 ml. Setiap botol dihargai Rp 65.000,-. Selain menjual eceran per botol, Soffiee juga menyediakan paket hemat yang berisi enam botol pada setiap paketnya. Setiap paket dibandrol dengan harga Rp 350.000,-. “Kalau paketan lebih hemat. Satu paket hanya 350.000 rupiah,”tambahnya. Mencari pasokan mengkudu dengan jumlah yang banyak diakui Soffie bukan hal yang mudah. Jika awalnya hanya mencari dari satu daerah ke daerah yang lain, kini Soffie sudah memiliki lahan khusus untuk menanam mengkudu. Ia bahkan bekerjasama dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk ikut serta mengajak masyarakat menanam pekarangan rumah. ”Lumayan bisa bantu para tetangga. Mereka saya kasih bibit, nanti kalau sudah panen saya beli Rp 2.000,-/kg nya,”tambahnya. Bukan bisnis namanya jika tidak ada rintangan menghadang. Meskipun sudah mematenkan merk dagangnya, kesulitanpun juga pernah dialami Soffie dalam menjankan bisnisnya yang sudah dimulai sejak tahun 2014 ini. Ia belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meski telah mendapatkan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). “Saya juga sudah mengantongi hasil uji laboratorium. Tapi masih belum terdaftar di BPOM,ada beberapa syarat yang perlu ditambahkan misalnya masalah lahan produksi. Saat ini saya masih produksi di rumah,”katanya. Agar dikenal lebih luas oleh masyarakat, Soffie sudah memasarkan produknya melalui iklan komersial di stasiun TV lokal, brosur, serta pameran-pameran UMKM di daerahnya. Jamu pace ini juga sudah banyak dipesan konsumen dari berbagai daerah mulai Gresik, Jakarta hingga Palembang. Tak tanggung-tanggung, omzet yang didapatnya mencapai puluhan juta pada setiap periode pengemasan. “Sekali pengiriman untuk proses fermentasi, ada enam ember. Setiap ember berisi sepuluh liter sari mengkudu,”pungkasnya.
Himatekpa UMM Ajak Masyarakat Kenali Kopi Lebih Dalam

Siapa yang tidak mengenal kopi? Biji yang umumnya banyak disajikan dalam bentuk minuman ini seringkali menjadi teman terbaik untuk menghangatkan suasana dikala santai maupun bekerja. Minuman yang satu ini banyak digemari oleh berbagai kalangan mulai muda hingga tua. Selain itu, berbagai jenis kopi hasil perkebunan Indonesia juga telah menjadi primadona di berbagai negara karena mutu dan kenikmatannya yang tidak diragukan lagi. Kopi Gayo asal Aceh misalnya, ia telah tersohor hingga mancanegara dan bahkan di ekspor ke berbagai negara Eropa serta Amerika. Kualitas dan kepopuleran kopi di tengah masyarakat tersebutlah yang mendasari para mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Teknologi Pangan(Himatekpa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat acara bertajuk Story About Coffee. Berlokasi di Basecamp Kopi Karlos , Karangploso Malang Sabtu (24/3) acara ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, pemilik kedai kopi, dan juga masyarakat penggemar kopi. Acara tersebut diawali dengan pengenalan dasar seputar kopi, diskusi seputar kopi, mencicipi berbagai jenis kopi, dan tata cara pengolahan kopi serta proses penyeduhan kopi. Siti Hariyani mahasiswi anggota Himatekpa UMM yang juga merupakan Ketua pelaksana dari acara tersebut menyampaikan, acara ini dapat menjadi “perkenalan” bagi para pecinta kopi untuk mengenal komuditas yang sudah dikembangkan di lebih dari 50 negara . Siti Hariyani mahasiswi anggota Himatekpa UMM yang juga merupakan Ketua pelaksana dari acara tersebut. “Harapan kami para penikmat kopi tidak hanya sekedar menikmati kopi saja, tapi juga mengetahui seluk beluk kopi tentang kualitas kopi yang baik itu seperti apa, jenis-jenis kopi itu apa saja, dan bagaimana proses pengolahannya” ungkapnya. Berdiri sejak tahun 2013 Basecamp Kopi Karlos mengolah berbagai jenis kopi yang dihasilkan oleh petani dari lereng Gunung Arjuno. Setiap tahunnya, panen dilakukan antara Mei hingga September. Dalam satu kali panen, Basecamp Kopi Karlos biasanya menampung sekitar 10 ton biji kopi. Kopi yang diolah di Basecamp ini diantaranya yakni kopi Luwak, Arabica, Robusta, Liberika dan Cascara. Pandu Prabowo pria 45 tahun yang merupakan pemilik Basecamp Kopi Karlos menyampaikan, dirinya mendirikan basecamp tersebut untuk mengangkat citra petani lokal khususnya di wilayah Karangploso sendiri. Selain itu basecamp ini juga diharapkan dapat menjadi tempat berkumpulnya komunitas pecinta kopi, dan sarana edukasi tentang kopi,” ujar Pandu. Menanggapi terselenggaranya acara Himatekpa tersebut, Ketua Jurusan Program Studi Ilmu Teknologi Pangan UMM, Mochammad Wachid menuturkan bahwa kegiatan tersebut baik untuk berwirausaha. Selain itu, melalui acara ini sisi keilmuan pengolahan pangan juga mereka lebih terasah. “Apalagi bertemu dengan narasumber langsung, tentunya banyak pengalaman yg menjadi inspirasi,”tandasnya. (ani/sil)
HMJ Manajemen UMM Ajak Mahasiswa Cetuskan Gagasan Kurangi Ketimpangan Ekonomi Jatim
Acara bertajuk Meneropong Arah Pembangunan Jawa Timur ini dihadiri sederet tokoh-tokoh di Jawa Timur (Jatim). Mereka adalah Staf Ahli Bidang Sosial dan Pengentasan Kemiskinan Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Rahma Iryanti, Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro Sally Atyasasmi, Sekretaris Jendral Asosiasi Pengusaha Industri Limbah Indonesia (Aspelindo) Budiyanto dan Dosen Manajemen FEB UMM Wiyono. Megi Prima Yudha mahasiswa Program Studi Manajemen FEB UMM yang juga ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa acara ini diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran untuk mencetuskan gagasan ekonomi dalam lingkup Jatim guna mengurangi ketimpangan ekonomi. “Harapannya setelah acara ini usai, peserta mampu mengangkat permasalahan setiap daerah dan bisa memberikan pandangan bagi pemerintahan untuk mengambil kebijakan,”urainya. Tidak hanya itu, Megi juga menjelaskan bahwa para pemateri yang dihadirkan sengaja dipilih untuk memberikan tips-tips cara menjadi pengusaha dan mendirikan badan usaha sendiri. Hal ini agar para mahasiswa mampu berkarya saat sudah terjun di masyarakat. Sekretaris Jendral Aspelindo Budiyanto salah satunya. Pria ini membagikan tips bagaiman cara memulai usaha sedini mungkin. Ia juga menekankan, bahwa belajar bisnis tidak hanya dapat dilakukan di bangku kuliah, namun juga di dunia nyata secara lebih luas. “Jika yang bukan sarjana saja bisa menjalankan bisnis dan usaha apalagi mahasiswa yang telah ditempa selama empat tahun tentang teori dan praktek bisnis,”ujarnya. Lebih lanjut Budiyanto juga menjelaskan empat langkah yang perlu ditempuh untuk mempunyai badan usaha sendiri. Yang pertama yaitu menyusun perencanaan, kedua meluaskan jaringan karena setiap usaha pasti butuh networking dan yang ketiga konsisten serta pantang menyerah. Budiyanto juga mengingatkan para mahasiswa untuk tidak berlama-lama dengan proses yang tidak dipahami. “Selain itu, amati, tiru dan modifikasi perusahan-perusahan yang terkait dengan usaha yang sedang di bangun. Kita lihat Cina, mobil dan teknologi apa yang tidak bisa mereka buat. Semua bisa dan itu ilmunya dari ilmu nyontek semua,” tukasnya. Tak lupa Budiyanto berpesan kepada para peserta yang hadir agar terus berupaya turut mensukseskan orang lain saat menjalankan bisnis. “Kalau orang ingin berkembang maka kembangkanlah orang lain. Jika ingin menjadi hebat, maka buatlah orang lain menjadi hebat,” simpulnya. Selanjutnya, pembicara kedua Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro Sally Atyasasmi menyampaikan panjang lebar terkait permasalahan di tanah kelahirannya yaitu Bojonegoro. Ia mengungkapkan bahwa Bojonegoro merupakan kabupaten termiskin ke 11 di Indonesia meskipun menjadi kabupaten penyumbang minyak nasional sebanyak 30% dan pemilik APBD tertinggi ke empat di Jatim setelah Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Menilik keadaan tersebut Sally berharap, mahasiswa dapat ikut berkontribusi dalam menelurkan ide serta gagasan agar masyarakat Jawa Timur, khususnya Bojonegoro dapat memperbaiki tingkat ekonominya. “Saya ingin mengajak teman-teman mahasiswa untuk bersama-sama memikirkan hal tersebut,”pungkas Sally.
UMM Ajak Orang Tua Zaman Now Kuatkan Karakter Anak melalui Optimalisasi Pola Asuh
Perkembangan zaman turut mempengaruhi pola asuh anak pada sebuah keluarga. Anak-anak yang sehat, tangguh, dan bahagia merupakan dambaan setiap keluarga. Namun, seiring dengan perkembangan waktu orang tua bimbang dalam menentukan bentuk pola asuh yang tepat. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga dan Anak Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (LPTKA FPSI UMM) megawal pendidikan peran keluarga dalam tumbuh kembang anak melalui kegiatan Seminar Nasional bertajuk Optimalisasi Peran Keluarga dalam Tumbuh Kembang Anak yang diselenggarakan di Hall GKB IV UMM, Sabtu (24/03). Pada prosesi pembukaan, Dekan FPSI Salis Yuniardi mengungkapkan bahwa orang tua tidak perlu mengkhawatirkan model parenting yang tepat bagi anak. Menurutnya, dengan mengikutsertaan seluruh anggota keluarga, ayah dan ibu utamanya, dalam proses tumbuh kembang anak adalah cara yang tepat untuk memberikan pola asuh pada anak. “Pola asuh yang tepat untuk anak adalah dengan mengikutsertakan seluruh anggota keluarga dalam proses mendidik,” jelas Salis. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan lebih memilih untuk melontarkan pertanyaan kepada hadirin tentang makna dari “optimalisasi” yang ada pada tema Seminar Nasional ini. “Saya lebih ingin menyampaikan pertanyaan tentang makna dari optimalisasi dalam pola asuh,” ungkapnya. Ditambahkan Fauzan, optimalisasi pola asuh ini juga harus dipahami oleh seluruh kalangan tidak hanya yang sudah berkeluarga dan punya anak, namun juga mahasiswa. “Pengetahuan pola asuh anak juga harus diketahui oleh mahasiswa sebagai bekal,” tandas Fauzan. Hadir pula dalam kegiatan ini, Tina Afiatin dosen sekaligus pemerhati Psikologi Masyarakat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menyampaikan tentang Peran Keluarga dalam Mendidik Anak Zaman Now. Tina menyampaikan tantangan orang tua dalam mengasuh anak. Ia juga memaparkan jawaban atas pertanyaan Rektor UMM tentang bentuk optimalisasi pola asuh yang sebenarnya. Menurut Tina, kriteria dalam pola asuh yang optimal itu harus menjadi kriteria bersama seluruh orang tua. Optimalisasi pola asuh menurutnya menjadi dasar kesuksesan proses orangtua dalam mendidik anak-anaknya untuk membentuk ketangguhan karakter anak. Ketangguhan karakter ini yang kelak akan menjadi bekal terkuat untuk anak-anak menjalani kehidupan di masa mendatang. “Kesuksesan optimalisasi pola asuh adalah ketika anak sudah memiliki karakter yang kuat,” jelas Tina. Selain itu, Tina juga mengimbau kepada orang tua untuk melatih dan mengembangkan lima kecerdasan alami yang harus terus diasah pada diri anak. Lima kecerdasan itu diantaranya adalah kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, dan kecerdasan fisik. “Lima dasar kecerdasan alamiah ini harus terus diasah agar menjadi kuat dan tidak salah pembinaan pengembangannya,” jelas Tina. Selain memberikan padangan tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik, Tina juga menyampaikan tentang bagaimana cara menjadi orang tua di era modern dimana teknologi berpengaruh terhadap tingkah laku anak, seperti menjadi cenderung pendiam dan menyendiri. Hal ini harus menjadi perhatian utama orangtua. “Dampak yang dihasilkan oleh teknologi juga harus diwasapai oleh orangtua,” jelas Tina. Senada dengan ungkapan Tina, Kepala Laboratorium Psikologi Terapan Keluarga dan Anak Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (LKPTA) UMM Iswinarti menyatakan bahwa sudah saatnya anak-anak dikenalkan kembali ke model pengasuhan tradisional seperti mengajak anak-anak untuk lebih aktif bermain di luar rumah dan bersosialisi dengan teman sebaya. “Sekarang ini orang tua sudah harus tahu bagaimana mengembalikan prinsip belajar anak yaitu belajar dari lingkungan sekitar,” ungkap dosen Psikologi UMM. Ditambahkan Iswinarti, paparan teknologi semacam smartphone utamanya bagi anak usia di bawah lima tahun merupakan cara salah yang dilakukan orang tua dalam mengenalkan teknologi pada anak. “Anak usia di bawah lima tahun boleh dikenalkan teknologi, namun bukan dengan memberikan teknologi itu secara bebas,” jelas dosen yang aktif dalam pengembangan Permainan Tradisional dalam perkembangan Psikologi Anak. Selain itu, hal lain yang paling penting dalam pola asuh anak adalah pendampingan secara khusus. Orangtua boleh bekerja dan meninitipkan anak pada orangtua pengganti, namun pendampingan secara intensif akan lebih baik. “Pendampingan insentif dapat mengajarkan anak untuk membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan orang-orang di sekitarnya,”pungkasnya. Selain seminar, acara hari ini juga sekaligus menjadi tanda diresmikannya LPTKA FPSI UMM. Lembaga ini didirikan untuk membantu keluarga yang membutuhkan bantuan konseling, khususnya dalam pemilihan pola asuh anak.
Lulusan Twinning Program Syariah dan Ilmu Hukum UMM, Kuat Dalam Analisis

Meraih dua gelar dalam satu masa kuliah menjadi hal yang menarik. Tidak hanya mempersingkat waktu tempuh studi, Twinning Program atau program kuliah ganda menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari lebih banyak ilmu dalam waktu yang lebih singkat. Salah satu Twinning Program di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Jurusan Syariah Fakultas Agama Islam (FAI). Program ini memungkinkan mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Prodi Ahwal Syakhshiyyah dan Fakultas Hukum secara bersamaan. Berdiri sejak tahun 1988, program ini di prakarsai oleh Alm. Drs. Abdul Majid Fadjar SH MAg yang pada saat itu juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Syariah. Awalnya, Sarjana Ahwal Syakhshiyyah bergelar Sarjana Agama Islam (S.Ag), sehingga lulusan dari syariah tidak bisa mengikuti tes ujian calon hakim dimana syarat peserta ujian calon hakim (cakim) pada tahun 1980-an adalah sarjana hukum. Dari sinilah, inisiatif untuk mengadakan program transfer mahasiswa jurusan syariah ke jurusan ilmu hukum muncul. “Gayung bersambut, hal tersebut kemudian difasilitasi oleh Fakultas Hukum,” urai Idaul Hasanah, S.Ag. M. HI Ketua Jurusan Syariah UMM, Jumat (23/3). Ida melanjutkan, meskipun saat ini lulusan Program Studi Syariah memiliki gelar sarjana SH, namun hal itu tidak menjadi masalah karena sesuai dengan profil jurusan syariah adalah menjadikan mahasiswa syariah sebagai praktisi dan akademisi yang memiliki dasar ilmu ke-syariahan dan dasar ilmu hukum. “Sarjana syariah dapat menjadi praktisi seperti hakim, jaksa, ataupun pengacara. Sedangkan yang akademisi dapat menjadi dosen dan pengajar,”tambahnya. Mahasiswa yang mengambil program ini akan mendapat mata kuliah di kedua prodi yang jadwalnya dapat disesuaikan oleh mahasiswa sendiri. Meski demikian mereka hanya perlu membuat satu penulisan hukum (skripsi). “Gelar yang diperoleh sama di ijazah yakni sarjana hukum,”katanya. Di akhir Ida menyampaikan, banyak sekali kuntungan yang didapat mahasiswa Twinning Program Syariah, mulai dari menambah basic ilmu untuk menganalisis kasus hingga mendapatkan bekal pengalaman di dunia hukum. “Ketika keilmuan hukum dan keilmuan syariah dipadukan, maka akan menjadi kuat. Hal tersebut terbukti dengan mahasiswa twinning program yang lebih kuat dalam analisis,”pungkasnya. (mif/sil)
Meriah, Final Bola Basket Rektor Cup UMM Jadi Kompetisi Paling Dinanti

Bola basket menjadi salah satu olahraga paling popular di dunia. Penggemarnya berasal dari berbagai usia, terutama para remaja. Berlangsung seru dan menyenangkan, pertandingan cabang olah raga ini selalu menarik banyak penonton. Keterampilan-keterampilan perorangan seperti tembakan, umpan dribel, dan rebound juga kerja tim setiap detiknya menarik untuk disaksikan. Seperti hari ini, ratusan supporter memadati Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kamis, (22/3). Para mahasiswa, dosen hingga alumni dari berbagai jurusan berbondong-bondong datang untuk menyaksikan Final Pertandingan Bola Basket Piala Rektor Cup UMM. Mengusung tema Get Your Own Victory Arief Andrian Nur selaku Wakil Ketua Pelaksana Cabang Perlombaan Bola Basket Rektor Cup UMM 2018 mengatakan, rangkaian acara ini merupakan upaya untuk menjaring minat dan bakat dari mahasiswa khususnya bola basket. Kompetisi ini juga diharapkan dapat menjaring bibit-bibit unggul untuk tim bola basket UMM kedepannya. “Ini juga untuk memperkuat tim bola basket UMM ketika mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional maupun internasional,” ujar mahasiswa yang juga merupakan anggota dari Civitas Bola Basket Muhammadiyah Malang (CIBBM) tersebut. Babak final pertandingan berlangsung meriah. Pada menit kelima ronde pertama pertandingan tim putri Fakultas Psikologi memimpin dengan score 9, sedangkan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) tertinggal tujuh angka dengan score 2. Pada akhir pertandingan, Fakultas Psikologi keluar sebagai juara dengan skor 40-44. Sementara itu pada tim putra, ada Fakultas Teknik (FT) melawan Fakultas Hukum (FH) dimana FH keluar sebagai juara dengan skor 39-41. Suara gemuruh dari supporter kedua tim terdengar disepanjang pertandingan berlangsung. Tidak hanya menarik animo mahasiswa dan civitas akademika, gelaran Rektor Cup juga menjadi ajang yang dirindukan para alumni. Menanti final kompetisi terbesar di UMM tersebut, para alumni rela datang untuk menyaksikan tim fakultasnya bertanding. “Saya sudah alumni, tapi saya sengaja menyempatkan waktu untuk menonton final pertandingan ini. Tiap tahun perlombaannya makin ramai, rasanya saya merasa rugi kalau nggak nonton”, ujar Nur Laili Tsani Maulida alumni FPP UMM. Ketua pelaksana Rector Cup 2018, Nur Subekhi memaparkan, Rector Cup merupakan ajang tahunan UMM yang ditujukan sebagai wadah kreasi dan prestasi bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa semester dua, empat dan enam. Mengusung tema Smart and Elegant Competition to be Great Generation gelaran ini menjadi cerminan semangat UMM dalam meningkatkan bakat dan minat mahasiswa. “Ini juga mencerminkan proses edukasi yang dikembangkan UMM dalam rangka membangun kualitas pribadi dan mental mahasiswa yang mampu berkompetisi secara sehat dan jujur,” ungkap Subekhi.
UMM dan Singapore Polytechnic Kreasikan Project Out of The Box

SATU pekan sudah 56 peserta Learning Express (LEx) dari Singapore Polytechnic (SP) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dalam penyelesaian masalah di unit usaha masyarakat Desa Temas Kota Batu. Hari ini, Selasa (20/3) 56 peserta yang terbagi dalam empat kelompok menghadiri Gallery Work sebagai rangkaian terakhir dari kegiatan LEx. Gallery Work yang juga sebagai Closing Ceremony Learning Express Malang ini memfasilitasi peserta untuk menampilakan hasil projek dalam bentuk prototype. Dalam menciptakan produk atau program, peserta LEx yang terbagi menjadi empat kelompok ini lebih dulu menggali informasi tentang unit usaha melalui observasi. Informasi ini dibutuhkan guna merumuskan suatu program atau produk dengan tepat sesuai apa yang menjadi kebutuhan unit usaha milik masyarakat. Keempat kelompok LEx ini masing-masing melakukan observasi ke empat unit usaha masyarakat, yaitu usaha lontong, bakso, bumbu masakan, dan buah apel. Dari observasi dan diskusi dengan pemilik usaha, peserta LEx kemudian merumuskan ide dan projek yang efektif dan efisian dalam penyelesaian masalah. Ide-ide ini selanjutnya dituangkan dalam prototype. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto, mengaku LEx merupakan kegiatan yang penting untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa kedua perguruan tinggi. Selain memperoleh international exposure, peserta akan belajar berpikir out of the box. “LEx ini akan mengajarkan banyak hal tentang pengetahuan, teamwork, menciptakan inovasi untuk kepentingan masyarakat. Selain itu mahasiswa juga belajar hal-hal baru dan melatih pola pikir yang berbeda dari kebanyakan orang,” terang Soeparto. Sejalan dengan harapan yang diungkapkan Soeparto, peserta LEx membuktikan hasil prototipe yang dipamerkan dalam Gallery Work merupakan produk-produk yang inovatif dan out of the box. Produk-produk tersebut antara lain Apple Box yang didesain kedap udara sehingga tidak membuat apel busuk, alat mencetak bakso untuk menghasilkan bakso dengan ukuran yang sama karena selama ini pemilik usaha bakso masih mencetak bakso dengan cara yang manual sehingga ukuran bakso seringkali berbeda. Adapun kelompok Lontong menciptakan Rantang Lontong, Pulley System dan Centong Maker. Rantang Lontong dan Pulley System ini merupakan inovasi keranjang pada panci pembuat lontong untuk memudahkan pemilik usaha saat memasak lontong. Sementara itu, ada pula Centong Maker yang didesain untuk memudahkan mencetak lontong, dan meminimalisir beras yang berceceran pada saat membuat lontong secara manual. Kemudian kelompok seasoning (bumbu) menciptakan Mixing Machine dan Handcrafted Handbag. Mixing Machine atau mesin pengaduk ini dirancang untuk memberikan kemudahan kepada pemilik home industri Koki Hoki. Melalui observasi, Innayatul Robaniah salah satu anggota kelompok seasoning mengungkapkan bahwa kebersihan merupakan alasan utama tercetus ide ini. “Jadi pemilik usaha masih menggunakan tangan dalam mengaduk bumbu-bumbu. Hal ini membutuhkan proses yang lama, selain itu juga kurang higienis. Mixing Machine ini untuk mempercepat dan menjaga kebersihan selama proses produksi,” ungkap mahasiswa UMM yang kerap disapa Naya ini. Sementara projek kedua, kelompok Seasoning berinovasi dalam menciptakan kerajinan berupa produk-produk tas melalui limbah plastik bekas. Naya menambahkan melalui mixer dan kerajinan limbah plastik, pemilik usaha selain hemat waktu dan higienis dalam proses produksi namun juga memperoleh tambahan pendapatan melalui penjualan olahan limbah plastik. Salah satu peserta Vincent Koh Wei Jie dari SP memyampaikan sangat senang dan bangga dapat mengikuti program ini. Ia merasa banyak manfaat yang didapat pada acara ini, terutama tentang teamwork. “Kita dituntut untuk bisa kerjasama dengan baik dengan anggota team. Kalau ada kesempatan lagi, saya mau datang lagi ke Indonesia. Orang Indonesia baik,” tandasnya. (nim/lus/sil)
KKN Internasional UMM 2018, Siap Kenalkan Budaya dan Pariwisata Indonesia

KESEMPATAN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk merasakan iklim belajar internasional sangat luas. Berbagai kerjasama internasional yang dijalin pihak universitas memperbesar peluang ini. Salah satu yang dapat diikuti yaitu program dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales UMM (AIESEC UMM) yakni Global Volunteer yang merupakan program tahunan AIESEC UMM yang bertujuan untuk menggalakan kegiatan sosial di luar negeri. Menariknya kini Global Volunteer yang diselenggarakan oleh AIESEC UMM dapat diekuavalensikan menjadi nilai Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk para pesertanya. Program tersebut bernama KKN Internasional. Wakil Direktur II Bidang Pengabdian Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Dr. Masduki, M.Si., memaparkan hal ini merupakan bentuk apresiasi universitas terhadap mahasiswa yang berkegiatan di luar negeri, tentunya dalam aspek sosial dan pengabdian masyarakat. Selain itu program ini memberikan pilihan terhadap mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan terutama untuk pelaksanaan KKN. “Selain seleksi yang ketat, ada beberapa misi yang harus dibawa mahasiswa peserta KKN Internasional, yakni memperkenalkan budaya, pariwisata dan tentunya UMM di dunia Internasional,” jelas Masduki. Perlu diketahui bahwa pelaksanaan KKN International UMM terbuka untuk mahasiswa dari berbagai program studi. Sama halnya dengan KKN di Indonesia, KKN International juga dilaksanakan selama satu bulan. Untuk dapat menjadi peserta KKN International, tidak ada kuota spesifik yang ditentukan. “Kami lihat animonya, tidak ada kuota khusus. Karena nantinya mereka tetap harus menjalani seleksi dulu,” pungkas Masduki. Vice President Outgoing Global Volunteer AIESEC UMM, Ika Risna, menambahkan nantinya peserta KKN Internasional akan disebar ke negara Thailand untuk menyelenggarakan kegiatan sosial di kota tujuan mereka. “Untuk jumlah kelompok di setiap kotanyanya tidak akan sama karena setiap kota memiliki masalah sosial budaya yang berbeda-beda. Dan setiap masalah membutuhkan solusi yang berbeda agar tepat sasaran dan efisien,” ujar Ika. Menetapkan negara Thailand sebagai lokasi KKN, Ika mengaku telah mempertimbangkan hal tersebut dengan matang,salah satunya mengingat bahwa biaya hidup di Thailand relatif lebih murah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. Disamping itu ada sebuah projek tentang pendidikan yang dapat mengembangkan skill mahasiswa UMM. Ketika berada di Thailand, peserta KKN International UMM akan melaksanakan project tentang Quality Education Sdgs 4 dengan nama projek Sawasdee. “Bisa buat negara di Asia dan Eropa, tapi memang yang kita suggest atau prioritasnya yang living cost nya murah dan project nya bagus seperti Sawasdee Thailand Project ini,” ungkap Ika. Meski begitu, Ika menjelaskan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan jika nantinya ada peserta yang memilih negara lain untuk KKN seperti Turki, Ukraina atau Polandia. (iel/sil)
LEx UMM Feat Singapore Polytechnic Selesaikan Problem Usaha Lokal

KERJASAMA yang dibangun antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Singapore Polytechnic (SP) sejak tahun 2014, terus gencar untuk membangun kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Dibalut dalam program Learning Express (LEx), mahasiswa UMM berkolaborasi bersama mahasiswa SP melalui pengembangan pembelajaran Design Thinking (DT). DT merupakan metode yang berfokus pada penyelesain masalah yang digali melalui observasi lapangan dan berorientasi pada terciptanya produk atau program. Pada LEx angkatan 2018 ini, mahasiswa UMM dan SP tersebar di beberapa unit usaha masyarakat yang ada di Desa Temas Kota Batu. Menurut Ambika Putri Co-Facilitator LEx, angkatan pertama tahun ini diikuti oleh 56 peserta, yakni 28 dari UMM dan 28 dari SP. Mereka dibagi menjadi empat kelompok. Jumlah ini bertambah dari angkatan sebelumnya, dengan tujuan agar program yang diciptakan lebih banyak, fokus serta dapat segera diaplikasikan di desa tempat observasi. “Ini ditujukan agar hasil kerja kita lebih maksimal sehingga dapat menyelesaikan banyak problem dan segera diaplikasikan di desa,” ungkap Ambika. Rangkaian kegiatan dibagi menjadi enam tahapan yang merupakan tahapan dari metode DT, yakni Sense and Sensibility, Define, Ideation, Prototyping, Co-Creation, dan Gallery Walk. Kegiatan-kegiatan tersebut akan diikuti oleh peserta mulai 11 Maret hingga 22 Maret. “Seluruh mahasiswa akan melewati enam tahap yang merupakan tahapan dari design thinking itu sendiri,” jelas Ambika. Pada tahapan Sense and Sensibility dan Define, mahasiswa turun ke lapangan lalu bersama masyarakat melakukan rembuk untuk membuat outline dari problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Pemandangan unik pun muncul saat mahasiswa asing bersama masyarakat, turun ke lapangan seperti pergi ke pasar tradisional lalu ikut menjajakan dagangan. Tan Zhi Yuan (Luke) salah satu mahasiswa SP menyatakan bahwa pengalaman istimewa ini dapat mengenalkannya lebih dengan kehidupan masyarakat setempat. “Kegiatan ini unik dan seru soalnya mahasiswa asing bisa ikut jualan dan lebih dekat dengan masyarakat yang jadi tempat observasi, juga mengetahui budaya masyarakat di sini,” jelas mahasiswa Akuntasi tersebut. Selanjutnya, pada tahapan Ideation dan Prototyping mahasiswa akan kembali ke kampus dan merancang ide dan menciptakan alat yang dapat menuntaskan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pada proses ini mahasiswa akan mulai berdiskusi secara intensif bersama kelompok masing-masing. Salah satu kelompok bernama Tim Bakso menciptakan alat bernama Express Bakso Machine. Alat ini diciptakan untuk menjawab keresahan para pedagang bakso yang mengaku tidak dapat memproduksi bakso dalam jumlah banyak dalam waktu singkat sedangkan permintaan konsumen sangat tinggi. Hesti Mirandah mahasiswa UMM yang juga merupakan salah satu anggota Tim Bakso menyampaikan, alat yang dibuat bersama mahasiswa SP ini sudah disetujui dan sesuai dengan kebutuhan pemilik usaha Bakso di Desa Temas. “Alat yang kita presentasikan ini sudah dilihat dan disetujui oleh pemilik usaha. Bahkan beliau sangat senang melihat alat yang kami buat ini,” jelas Hesti. Diakhir, sebelum melaksanakan Gallery Walk mahasiswa akan melaksanakan ¬Co-Creation yaitu kegiatan mempresentasikan ide atau alat yang sudah diciptakan ke masyarakat di desa observasi. Menurut Supriyatin Ketua PKK RT 01 Desa Temas program LEx adalah program yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di Temas. “Warga selalu nunggu kehadiran mahasiswa UMM dan Singapura itu untuk bisa menyumbangkan ide atas masalah usaha mereka,” tegas Supriyatin. Program Lex diadakan sekali dalam setiap semester. Pada Kamis (22/03) nanti, akan digelar Gallery Walk di Aula BAU UMM sebagai penutup acara dimana para peserta akan mempresentasikan hasil. (nisa/sil)
Unik, Ini Manuver UMM Suburkan Jiwa Entrepreunership Mahasiswa

SEBAGAI perguruan tinggi swasta di bawah naungan Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dituntut untuk dapat mandiri dalam operasional kampus. Karena hal itu lah UMM berinisiatif untuk membentuk unit-unit usaha yang nantinya akan ikut menyokong universitas dari segi pendanaan dan meringankan SPP mahasiswa. Saat ini ada 12 unit usaha yang sudah dimiliki oleh UMM dan terus dikembangkan. Uniknya, nuansa entrepreunership yang dibangun UMM untuk kemandirian lembaga juga ditularkan kepada mahasiswanya. Masih dalam misi UMM Pasti yang digelakkan Rektor UMM Fauzan yakni Pasti lulus 4 tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri kali ini UMM bermitra dengan mahasiswanya. Ya. Baru-baru ini, UMM secara profesional bermitra dengan mahasiswanya untuk mengembangkan salah satu unit usaha, UMM Inn. Pada Kamis (15/3) UMM Inn resmi melaunching Ruang 2.0 Coffee & Library di halaman depan hotel UMM Inn. Grand Opening kafe yang memiliki konsep library atau perpustakaan tersebut berlangsung meriah bersama penampilan band-band dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Band Mahasiswa (IKABAMA UMM). Langkah ini dinilai strategis, mengingat maraknya trend “ngopi” menggunakan manual brew (penyeduhan kopi secara manual) yang saat ini marak di Indonesia khususnya di Kota Malang. Wakil Rektor II UMM, Nazaruddin Malik memaparkan selain sebagai pengembangan unit usaha, terobosan ini juga menjadi bentuk dukungan UMM kepada mahasiswa yang berwirausaha. Dua orang owner dari Ruang 2.0 Coffee & Library merupakan mahasiswa UMM yang sukses mengembangkan cafe tersebut dari nol. “Hal ini kami lakukan karena UMM sangat mendukung dan siap membimbing mahasiswa untuk berwirausaha dan membesarkan usahanya,” tegas Nazaruddin. Owner dari Ruang 2.0 Coffee & Library, Andi Ardiansyah dan Egy Prawigit mengaku tidak menyangka dapat bekerjasama dengan kampus mereka sendiri. “Kami menawarkan konsep cafe dan perpustakaan karena kami mendukung gerakan literasi juga. Sangat tidak menyangka hal tersebut bisa menarik hati UMM, ini adalah salah satu pencapaian besar kami,” jelas Ardi, yang juga merupakan owner dari Ruang 1.0 Coffee yang berlokasi di Jl.Sidomakmur Dau – Malang. Rencananya Ruang 2.0 Coffee & Library akan beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 – 00.00 WIB. Selain pengembangan hotel UMM Inn yang melibatkan mahasiswa, nantinya UMM akan kembali membangun Taman Rekreasi Sengkaling dan membangun Youth Corner. Youth Corner ini yang nantinya akan berfungsi sebagai lokasi mahasiswa menjalankan wirausahanya, tentunya dengan biaya sewa yang gratis. (iel/sil)